Category: Resensi Buku

  • Sekolah Bajak Laut Kapten Janggut Api oleh Chae Strathie

    Judul: Sekolah Bajak Laut Kapten Janggut Api
    Judul Asli: Captain Firebeard’s School for Pirates
    Penulis: Chae Strathie
    Penerjemah: Ambhita Dhyaningrum
    Penerbit: Tiga Ananda
    ISBN: 978-602-366-259-3
    Tebal: 244 halaman
    Tahun Terbit: Maret 2017
    Cetakan: Pertama
    Genre: Fiksi Anak
    Rating: 4/5

    Kebanyakan kita pasti tahu kalau yang namanya bajak laut itu selalu identik dengan perompak dan orang jahat yang sering membuat masalah di lautan, ya ‘kan? Tapi, Chae Strathie menggambarkan sosok bajak laut sebagai sosok yang berbeda di dalam karyanya ini. Sosok yang gagah, pemberani, pahlawan dan idola bagi anak-anak lewat tokoh Kapten Janggut Api-nya.

    Adalah Kapten Janggut Api yang berbadan besar, berjanggut merah menyala seperti api dan selalu mengucapkan “Aaaarrrrr” sebagai ciri khas bajak laut. Ia mendirikan sekolah bajak laut yang keren berupa kapal besar bernama Rusty Barnacle yang bersandar di pelabuhan. Murid-murid di sekolahnya diajarkan cara berjalan, berbicara dan beraksi seperti bajak laut sejati.

    Tommy adalah salah satu murid tahun pertama di Rusty Barnacle. Bersama temannya Jo dan Milton, mereka dengan antusias mengikuti masa perkenalan murid baru di hari pertama sekolah. Masing-masing anak diberi nama khas bajak laut; Jo Pemberani, Milton si Kaki Jeli, dan Tom Jagoan. Mereka mempelajari sejarah bajak laut dari masa ke masa.

    Ada Kapten Janggut Batu di zaman manusia gua, ada Kapten Janggutus Maximus dari Romawi, ada Kapten Janggut Kapak dengan janggut berbentuk kapak dari Viking, dan banyak sekali bajak laut legendaris lainnya dengan janggut-janggut unik mereka yang belum pernah didengar oleh Tommy dan kawan-kawan.

    Suatu kali, Kapten Janggut Api mengajak murid-murid untuk melihat peta khas bajak laut. Peta itu menyimpan teka-teki dan misteri harta karun bajak laut di suatu pulau terpencil yang belum pernah seorang murid bajak laut pun mampu memecahkannya.

    Tommy, Jo dan Milton sangat penasaran dan tertarik untuk memecahkan teka-teki tersebut dan menemukan harta karun. Berkat kecerdasan Milton, ternyata memecahkan peta misterius itu tidak sesulit yang dibayangkan.

    Malamnya, Tommy, Jo dan Milton mengendap-endap untuk memasuki ruang kemudi sementara para guru bajak laut dan murid-murid lainnya sedang terlelap pulas. Tommy cs mulai menjalankan kemudi kapal Rusty Barnacle menuju pulau tengkorak tempat harta karun itu berada.

    Tak disangka, perjalanan mereka dihadang banyak tantangan menakutkan. Apa bisa mereka sampai ke pulau tengkorak? Apa mereka berhasil menemukan harta karun? Atau jangan-jangan kapal mereka justru terperangkap masuk pusaran raksasa dan membahayakan jiwa awak kapal? Ah, Rusty Barnacle memang dilingkupi misteri.

    Buku ini termasuk novel anak yang bisa dibaca oleh semua kalangan. Pembaca akan dimanjakan dengan ilustrasi tiga warnanya yang memesona. Membacanya terasa menyegarkan, ringan dan menggelitik. Selain ceritanya yang seru, ada banyak pesan moral yang disampaikan oleh penulis.

    Yah, walaupun menggunakan tokoh bajak laut, hihi. Tapi, saya suka sekali buku ini. Lucu dan unik!

  • Sifat Shalat Nabi oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

    Judul: Sifat Shalat Nabi
    Judul Asli: Sifatush Shalat
    Penulis: Syaikh Muhammad al-Utsaimin
    Penerjemah: Umar Mujtahid, Lc
    Penerbit: Ummul Qura
    ISBN: 978-602-7637-52-8
    Tebal: 296 halaman
    Tahun Terbit: Oktober 2016
    Genre: Agama Islam, Ibadah, Fikih
    Rating: 5/5

    Buku yang membahas cara shalat yang benar pasti sudah banyak sekali diterbitkan oleh berbagai penerbit dan beredar di tengah-tengah masyarakat. Pun sudah banyak pula yang mengulasnya, tentu dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

    Saya bahkan pernah mengulas sebuah buku sederhana namun padat makna 3,5 tahun lalu dengan judul Sifat Shalat Nabi karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani yang diterbitkan oleh Pustaka Ibnu Katsir, yang saya masukkan ke dalam salah satu buku-buku paling berpengaruh bagi hidup saya.

    Kali ini, saya ingin berbagi kegembiraan setelah memperoleh dan membaca buku dengan judul yang sama namun ditulis oleh penulis dan penerbit yang berbeda. Kegembiraan ini tidaklah sama dengan kegembiraan saya mendapatkan makanan enak atau materi berlimpah, melainkan kegembiraan karena mengetahui betapa khazanah ilmu keislaman semakin kaya dan kita sangat dimudahkan dalam mempelajari agama kita sendiri lewat buku-buku berkualitas.

    Buku ini, Sifat Shalat Nabi ﷺ , ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dan diterbitkan oleh Ummul Qura, salah satu lini penerbit Aqwam. Seperti kebanyakan buku dengan tema sejenis, buku ini juga mengupas tuntas tentang tata cara shalat yang dicontohkan Nabi Muhammad ﷺ dan hal-hal yang berkaitan dengannya.

    Dibagi menjadi 12 bab utama, pembaca akan menemukan ilmu yang bermanfaat tentang shalat, mulai dari makna dan keutamaan shalat, hukum-hukumnya, syarat dan sifat shalat sesuai riwayat dari Rasulullah ﷺ, hingga berbagai kaidah fikih seputar shalat yang umumnya kita jumpai dalam keseharian.

    Penulis menyadarkan kita lewat buku ini bahwa nabi mencontohkan banyak posisi atau tata cara shalat agar umatnya bisa menyuburkan sunnah dengan cara yang sama seperti yang dicontohkan. Hal ini membuka mata saya bahwa beberapa perbedaan gerakan shalat ternyata memang ada dicontohkan nabi, tentunya yang sesuai dalil shahih, dan seharusnya kesemuanya itu bisa kita praktikkan dalam keseharian.

    Di sinilah letak kunci menyuburkan sunnah yang dimaksud. Jadi bukan berarti kita hanya saklek melakukan cara shalat satu macam saja, melainkan apa yang dilakukan nabi pun hendaknya kita lakukan juga, baik dari segi bacaan maupun gerakannya. Selain itu, Syaikh Muhammad al-Utsaimin juga mengupas kasus-kasus yang sering kita jumpai dan menjadi pertanyaan sehari-hari.

    “Setelah tiga kali disuruh mengulangi shalatnya, shahabat Nabi itu pun meminta diajari oleh Nabi. Dengan lemah lembut, beliau pun mengajarkan, “Jika engkau hendak shalat maka sempurnakanlah wudhu, lalu menghadaplah ke kiblat, lalu bertakbirlah.” (HR. Bukhari)

    Lantas apa keistimewaan dan bedanya dengan buku bertema sama lainnya? Menurut saya, perbedaan inilah yang paling membuat saya terkesan dibandingkan buku tata cara shalat yang pernah saya baca sebelumnya.

    Sifat Shalat Nabi karya Syaikh Muhammad al-Utsaimin terbitan Ummul Qura ini disusun secara ringkas dan sistematis. Kita tidak akan menemukan banyaknya pembahasan tentang perbedaan fikih atau pendapat seputar shalat, yang seringkali membuat pembaca awam atau pemula bingung.

    Di buku ini dikupas pendapat jumhur ulama saja, dengan tidak juga meringkas seringkas-ringkasnya, sehingga pembaca dapat dengan mudah memahami secara utuh penjelasan topik yang dimaksud.


    Kredit foto: pustakahanan.id

    Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan foto gerakan shalat agar memudahkan pembaca melihat secara visual posisi-posisi shalat yang benar dan tidak salah penafsiran. Dari segi penataan isi, buku ini menyuguhkan tulisan yang cukup jelas, tidak terlalu rapat, dan tata letak yang lumayan bagus.

    Apalagi sampulnya yang hardcover dan ketebalannya yang tidak terlalu tebal membuat kegiatan membaca semakin menyenangkan karena bisa dibawa-bawa dan dibaca kapan dan di mana saja tanpa khawatir rusak atau lusuh.

    Secara keseluruhan, saya paling suka dengan buku Sifat Shalat Nabi edisi ini. Padat, ringkas, praktis dan menyenangkan untuk dibaca. Bahkan menurut saya, buku ini memiliki potensi untuk dibaca berulang-ulang tanpa membosankan.

    Seperti yang diperintahkan nabi, bahwa kita hendaknya menyempurnakan shalat, maka buku ini bisa menjadi sarana efektif untuk kita belajar menyempurnakan amalan yang paling pertama dihisab kelak.

    Catatan:
    Bagi Anda yang berminat dengan buku ini juga dapat menghubungi toko buku rekanan kami di nomor Whatsapp 083130117884

  • The Life-Changing Magic of Tidying Up oleh Marie Kondo

    Judul: The Life-Changing Magic of Tidying Up
    Penulis: Marie Kondo
    Penerjemah: Reni Indardini
    Penerbit: Bentang
    ISBN: 978-602-291-244-6
    Tebal: 206 halaman
    Tahun Terbit: September 2016
    Cetakan: Kedua
    Genre: Nonfiksi, How to, Manajemen
    Rating: 5/5

    “Orang-orang yang telah berbenah secara menyeluruh dan sampai tuntas, sekaligus, mengalami perubahan hidup yang dramatis, tanpa kecuali.” (halaman 170)

    Kutipan ini terdengar bombastis, ya? Masa iya sih, hanya dengan berbenah, beres-beres, kehidupan seseorang bisa berubah secara dramatis? Apa ini tidak terlalu berlebihan? Sayangnya, anggapan berlebihan yang kita pikirkan itu terbantahkan oleh kenyataan bahwa betapa banyaknya orang yang telah mengalami perubahan positif dan drastis hanya karena berbenah.

    Mungkin kita dulu sering beres-beres rumah. Membongkar lemari, rak buku, kamar tidur, dapur hingga seluruh rumah kita benahi. Bisa jadi di antara kita banyak yang hobi berbenah dan menyimpan aneka buku dan tips beres-beres. Mulai dari majalah interior, aneka foto lemari penyimpanan unik yang kita simpan di akun media sosial kita, atau sekadar artikel-artikel cara berbenah efektif yang kita baca di internet.

    Nyatanya, setiap kali kita selesai berbenah, meskipun ada kepuasan melihat rumah kita sedikit tertata, tapi tak berapa lama kemudian rumah kita tetap kembali seperti semula; Berantakan, amburadul, tidak apik. Salahnya di mana, ya? Mengapa orang yang berbenah tidak juga mengalami perubahan yang signifikan? Mengapa pada akhirnya kita suka melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang?

    Jawaban pertanyaan ini kemudian dikupas tuntas oleh seorang ahli berbenah, Marie Kondo, di dalam bukunya yang berjudul The Life-Changing Magic of Tidying Up, yang memperkenalkan seni beberes ala Jepang paling efektif, KonMari.

    Buku nonfiksi ini tipis dan hanya terbagi menjadi lima bab utama, tetapi pembahasan di dalamnya akan membuat pikiran kita jauh lebih terbuka.

    Pada prinsipnya, metode KonMari sangat sederhana, yaitu membuang dan menentukan di mana harus menyimpan barang.

    Masalahnya, bagaimana menentukan barang mana yang perlu kita buang dan mana yang perlu disimpan? Apa parameter yang paling ampuh untuk digunakan agar barang-barang yang kita buang dan simpan tidak akan meninggalkan penyesalan di kemudian hari? Seperti apa sebaiknya kita merapikan pakaian, buku, pernak-pernik, atau seluruh jenis barang di rumah kita agar benar-benar rapi?

    Nah, metode KonMari ini akan memudahkan kita menentukan pilihan tersebut dengan cara yang berbeda dari tips berbenah lainnya yang pernah ada. Bahkan, KonMari akan memberitahukan kita bagaimana cara melipat pakaian, menyusun isi lemari, membuang kertas, sampai menyimpan barang-barang penuh kenangan dari masa lalu.

    “Dengan membereskan rumah, kita sekaligus membereskan urusan dan masa lalu kita.” (halaman xiv)

    Marie Kondo menggunakan pendekatan kebahagiaan di dalam metodenya. Di sinilah letak keajaiban berbenah dari metode KonMari. Di dalam buku ini, kita akan menemukan trik berbenah yang sangat unik, yang akan memberikan efek perasaan yang berbeda bagi siapa saja yang mencobanya. Ekstremnya, bagi mereka yang menerapkan metode KonMari, hidup jadi terasa lebih lapang dan menyenangkan.

    Menurut KonMari, ketika kita mengurangi jumlah barang yang kita miliki, kita akan sampai pada titik ketika kita merasa sudah pas. Cuma itu yang kita butuhkan supaya bahagia. Kita tidak perlu menyimpan barang yang tidak kita butuhkan.

    Dan seluruh barang yang kita simpan adalah yang membuat kita bahagia dan gembira, sehingga pikiran kita tidak lagi diganjal perasaan penuh atas barang-barang yang membuat semak rumah.

    Di sinilah letak keajaibannya yang membuat kita mengubah kebiasaan kita. Dengan menyimpan berdasarkan kategori dan pada tempatnya, kita bisa mengembalikan barang-barang yang sudah kita pakai ke tempatnya semula, sehingga rumah tidak kembali berantakan.

    Sebetulnya, maksud inti dari metode ini menurut saya hampir sama dengan yang diajarkan di dalam agama saya, Islam, bahwa kita dilarang melakukan perbuatan mubadzir.

    Milikilah barang sesuai fungsi kebutuhannya dan jangan menyimpan barang berlebihan yang tidak dipakai, sebab nanti di akhirat semua itu akan diminta pertanggung jawabannya.

    Lewat berbenah, kita akan semakin mengenal diri kita. Saat berbenah, kita akan melihat kembali barang-barang seperti apa yang kita simpan bertahun-tahun. Kita akan menyadari bahwa hal-hal yang kita sukai senantiasa tidak akan berubah seiring berjalannya waktu.

    Berbenah juga mengajarkan kita untuk mengikhlaskan dan belajar semakin bersyukur, bahwa selama ini, barang-barang yang kita miliki telah menyempurnakan tugasnya, menemani kebutuhan kita tanpa istirahat. Bahwa Yang Maha Kuasa telah memberikan begitu banyak nikmat berupa barang-barang, yang terkadang kita lupakan dan abaikan, teronggok di sudut ruangan.

    Berbenah mengingatkan kita untuk tidak menambah sesuatu yang sebenarnya tidak kita butuhkan dan hanya memiliki apa yang kita butuhkan dan membuat kita bahagia.

    Ada banyak keajaiban dan fakta-fakta seputar berbenah yang berhasil dikuak oleh metode KonMari, dan ini sangatlah mencengangkan. Hanya dari kegiatan yang menurut anggapan banyak orang adalah aktivitas biasa-biasa saja, kualitas hidup seseorang bisa berubah secara dramatis menjadi lebih teratur dan membahagiakan.

    Siapalah kiranya yang tak ingin memiliki hidup yang lebih bahagia? Tentu tak ada. Kita semua ingin bahagia dan menjalani hari-hari dengan perasaan lapang dan tenang. Melakukan aktivitas harian tanpa kegalauan. Berputar-putar di dalam rumah dengan kaki telanjang dan pikiran plong, tanpa harus khawatir rumah berantakan.

    Ah, betapa indahnya jika itu bisa terjadi. Bisa jadi, ya, bisa jadi, metode KonMari ini jodoh Anda dalam berbenah.

    “Kita tidak bisa mengubah kebiasaan jika cara pikir kita belum berubah.” (halaman 7)

  • Kehidupan Liar oleh Michel Tournier

    Judul : Kehidupan Liar
    Penulis : Michel Tournier
    Penerjemah : Ida Sundari Husen
    Jumlah halaman: 136 hlm
    Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
    Tahun terbit : November 2016
    ISBN : 978-602-424-142-1
    Genre: Fiksi Klasik
    Rating: 4/5

    Berbicara tentang sastra klasik tentu banyak pembaca sudah tak asing lagi dengan kisah Robinson Crusoe karya Daniel Defoe yang terkenal itu. Terdampar di sebuah pulau terpencil tak berpenghuni, menanti hari demi hari kapal penyelamat yang tak kunjung datang, hingga petualangan demi petualangan si tokoh utama disajikan dalam sebuah rangkaian sastra yang tak pernah mati sejak 1719.

    Kisah klasik ini terinspirasi dari pengalaman nyata seorang berkebangsaan Skotlandia bernama Alexandre Selcraig yang terdampar di Pulau Mas a Tierra tahun 1703. Selcraig saat itu mampu bertahan selama bertahun-tahun di pulau terisolasi di lautan Pasifik sebelum akhirnya berhasil diselamatkan oleh sebuah kapal Inggris.

    Karya Daniel Defoe ini ternyata meraih sukses besar sehingga muncul kemudian karya-karya penulis lainnya dengan versi dan sudut pandang yang berbeda-beda.

    Sebut saja versi Jules Verne dengan judul L’llemyterieuse atau Pulau Misterius yang diterbitkan tahun 1874. Jika Daniel Defoe lebih menonjolkan sisi petualangan Robinson di dalam karyanya, maka Jules Verne lebih mengunggulkan penemuan-penemuan ilmiah para tokoh yang terdampar demi bertahan hidup.

    Di tahun 1971, muncul versi lainnya tentang kisah Robinson Crusoe dengan judul asli Vendredi ou la Vie sauvage, atau di edisi terjemahan KPG ini berjudul Kehidupan Liar, yang ditulis oleh seorang penulis asal Prancis bernama Michel Tournier.

    Versi Tournier ini cukup menarik karena, selain menonjolkan tokoh Vendredi sebagai salah satu tokoh utama, Tournier juga menggambarkan secara lebih rinci bagaimana proses perkembangan kejiwaan Robinson ketika terdampar dan harus bertahan hidup berpuluh tahun di pulau tak berpenghuni.

    Sebelum bertemu Vendredi, Robinson tinggal sendirian di pulau yang ia namai Speranza itu. Ia berhasil menyelamatkan apa saja yang bisa diselamatkan dari kapalnya yang karam. Ia memulai kehidupannya di pulau sepi itu dalam kondisi jiwa yang labil.

    Bayangkan saja jika kita terdampar sendirian di sebuah pulau, tak ada teman mengobrol, tak ada gadget, tak ada apapun yang menghubungkan kita dengan peradaban di luar sana. Tidak tahu harus melakukan apa di lingkungan yang sangat berbeda. Hanya sendirian ditemani ilalang dan suara embikan kambing.

    Keadaan ini sangat melenakan dan melelahkan. Seperti yang dialami Robinson ketika ia harus berkubang di dalam lumpur dan bermalas-malasan dengan berbagai cara, lambat laun ini mempengaruhi jiwanya.

    “Akhirnya Robinson menyadari bahwa berkubang dalam lumpur dan berbagai cara hidup bermalas-malasan yang sedang ditempuhnya secara berangsur-angsur membuatnya gila…. Dia harus bangkit, bekerja, menentukan nasibnya sendiri.” (halaman 20)

    Untungnya sebuah peristiwa menyadarkan Robinson bawah cara hidupnya itu tidaklah cocok untuk Speranza. Ia mulai menyusun pulaunya tersebut. Ia membangun benteng pertahanan, menetapkan sumber-sumber makanan, beternak, bercocok tanam, dan membuat peraturan-peraturan laiknya seorang gubernur sebuah kota yang dihuni berbagai hewan liar.

    Vendredi muncul kemudian karena secara tak disengaja diselamatkan oleh Robinson. Vendredi adalah seorang Indian lugu yang tinggal di pulau lain, yang di versi Tournier ini, dikisahkan terperangkap di pulau terpencil Robinson karena berusaha melarikan diri dari kematian.

    Ia hampir dimutilasi karena dianggap telah membawa keburukan dan kesialan bagi sukunya. Bertemu Vendredi merupakan angin segar bagi Robinson karena ia akhirnya memiliki teman. Ia menjadi pemimpinnya dan Vendredi menjadi rakyatnya, mengerjakan berbagai pekerjaan dan peraturan yang sudah dibuat oleh Robinson.

    Betapa puluhan tahun telah berlalu dan terasa sangat panjang bagi Robinson dan Vendredi. Tetapi dua sejoli ini selalu saja memiliki cara yang unik untuk bertahan agar tetap waras di tengah-tengah pulau terpencil itu. Bagaimana akhir kisah dua tokoh kita ini dan apa saja yang mereka lakukan di pulau itu? Seperti apa perkembangan kejiwaan Robinson selama di sana?

    Apakah akhirnya Robinson dan Vendredi berhasil melepaskan diri dari pulau tersebut? Ada banyak versi dari kisah Robinson yang pernah ditulis dengan akhir yang berbeda-beda pula, dan Kehidupan Liar adalah salah satu yang ending-nya tidak terduga.

    Membaca Kehidupan Liar di mana Tournier berusaha mengeksplorasi sisi psikologi Robinson dan Vendredi ini memang cukup unik. Kita akan memahami betapa untuk tetap waras itu membutuhkan usaha yang luar biasa.

    Rutinitas yang monoton, lingkungan dan suasana yang selalu sama setiap harinya, sedikit berbicara, tekanan untuk bertahan hidup di situasi sulit, luapan jiwa yang tertahan, emosi dan amarah yang tidak tersalurkan, semuanya berpotensi membuat seseorang kehilangan akal sehatnya.

    Lewat karyanya ini, Tournier mencoba menampilkan tahap demi tahap perkembangan jiwa sang tokoh utama dalam menghadapi semua situasi tersebut. Dan kita sebagai pembaca akan sangat merasakan betapa nyatanya kondisi yang digambarkan di dalam novel ini. Kita merasa bercermin pada perkembangan kejiwaan kita sendiri yang saat ini sedang kita jalani.

    Sejatinya, kondisi kejiwaan seseorang sebagian besar hampir tidaklah jauh berbeda satu sama lain. Hanya situasi yang menjadikannya berbeda. Kita akan menyadari bahwa kita memang membutuhkan sesuatu sebagai pegangan untuk tetap waras.

    Entah itu teman kita, keluarga, hewan peliharaan, pekerjaan, atau apa saja yang akan menyibukkan pikiran dan fisik kita, mengalihkan konsentrasi kita dari hal-hal yang tidak berguna dan membuat pikiran kosong ke sesuatu yang lebih bermanfaat dan menjaga kita tetap berakal sehat.

    Umumnya keyakinan spiritual adalah pegangan yang paling kuat dijadikan sebagai motivasi hidup, motivasi agar tetap berpikir jernih.

    Orang tak butuh tempat terpencil seperti Robinson untuk menjadi gila. Di tengah-tengah keramaian, gaya hidup, atau hiruk-pikuk gemerlapnya kota besar, orang bisa dengan mudah menjadi gila.

    Hanya mereka-mereka yang memiliki motivasi kuat yang bisa bertahan dan berjuang, sebab mereka tahu bahwa ada hal yang lebih patut diperjuangkan ketimbang menyerah, berputus asa pada keadaan dan menjadi gila.

    Jika saat ini istilah fan fiction cukup populer di tengah-tengah geliat sastra, barangkali bisalah kita katakan bahwa buku Kehidupan Liar karya Michel Tournier ini merupakan salah satu fan fiction yang sangat menarik dan cerdas dari sebuah karya klasik Robinson Crusoe. Dan mungkin, Anda akan tergelak dengan kekonyolan-kekonyolan yang diciptakan Tournier.

  • Rijsttafel oleh Fadly Rahman

    Judul : Rijsttafel
    Penulis : Fadly Rahman
    Jumlah halaman: 152 hlm
    Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
    Tahun terbit : 3 Nopember 2016
    ISBN : 978-602-03-3603-9
    Genre: Nonfiksi, Sejarah, Kuliner
    Rating: 4/5

    Siapa yang menyangka bahwa masakan seperti semur dan perkedel yang sering digadang-gadang masyarakat awam kita sebagai masakan tradisional Indonesia ternyata bukanlah masakan asli negara ini? Dan siapa pula yang mengetahui kapan dan bagaimana gaya makan secara prasmanan bisa menjadi budaya makan kita saat ini hingga ke hotel-hotel berbintang?

    Padahal, makan bersama di tikar secara lesehan, berhadapan dengan hidangan nasi, ikan, dan sambal seadanya, menggunakan lima jari, adalah budaya asli bangsa Indonesia sejak zaman dahulu hingga saat ini.

    Akan tetapi, kedatangan para penjajah ke Indonesia di masa kolonial lantas sedikit demi sedikit memberikan warna baru bagi budaya asli tersebut. Orang-orang Belanda yang kemudian datang ke tanah koloni dan menetap berupaya membuat diri mereka senyaman mungkin beradaptasi dengan kondisi Indonesia, termasuk soal makanan.

    Apa sebenarnya yang terjadi dengan kuliner Indonesia pada masa itu? Untuk menjawab rasa penasaran ini, Fadly Rahman, seorang sejarawan yang fokus utamanya di bidang sejarah makanan, menghadirkan buku ini sebagai salah satu rujukan yang sangat bagus seputar sejarah kuliner Indonesia.

    Salah satu produk hasil adaptasi yang dilakukan di masa kolonial dan menjadi tema sentral pembahasan buku ini adalah Rijsttafel, yang sempat menjadi sangat popular di tahun 1870 hingga 1942.

    Rijsttafel adalah sebuah sajian makan nasi dengan hidangan lauk pendampingnya yang disajikan secara eksklusif. Budaya ini seperti budaya makan orang pribumi asli pada umumnya. Bedanya, tempat sajian berpindah dari lesehan ke sebuah meja makan dengan peralatan yang banyak dan mewah.

    Dari lauk seadanya menjadi hidangan mewah dan lauk-pauk yang sangat beragam. Lauk utama yang terdiri dari daging sapi, ayam atau ikan, sayur dan sup, beragam buah dan salad, hingga aneka sambal dihidangkan dengan sentuhan yang berbeda.

    Lewat Rijsttafel inilah kemudian masakan Indonesia pertama kalinya mulai dikemas dalam sajian ala Barat dan menjadi sebuah daya tarik wisata kuliner masa kolonial.

    Memang benar, Rijsttafel akhirnya mampu mengangkat masakan Indonesia dikenal luas di kalangan bangsa Eropa. Dan benar pula bahwa Rijsttafel berhasil menyatukan dua budaya kuliner yang berbeda menjadi satu kesatuan rasa yang indah.

    Infiltrasi kuliner yang positif ini bahkan menggiring banyak istri atau wanita terhormat dari Belanda untuk berusaha mempelajari masakan-masakan hidangan Rijsttafel demi beradaptasi dengan kondisi di Indonesia. Pun, generasi keturunan Indo-Belanda kemudian mulai menyusun buku-buku resep masakan dan panduan Rijsttafel bagi ibu rumah tangga demi memenuhi kebutuhan kaum wanita Belanda dan pribumi kala itu.

    Namun, tak bisa dipungkiri, bahwa bangsa Barat dan Eropa selalu ingin merasa lebih superior di tanah koloni. Di sinilah letak ironisnya budaya Rijsttafel yang juga dikupas di buku ini.

    Selain sejarah munculnya Rijsttafel, Fadly Rahman juga mengangkat isu-isu yang berkembang dari budaya makan tersebut. Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa semakin mewah dan beragam hidangan Rijsttafel beserta perangkatnya, semakin tampaklah ketinggian status sosial tuan rumah.

    Bagi keluarga bangsawan atau pejabat pribumi, budaya ini menjadi sebuah ajang menunjukkan status sosial agar bisa sejajar dengan orang-orang Belanda saat itu. Bagi para pejabat kolonial Belanda, Rijsttafel menjadi sarana untuk semakin mengukuhkan status sosial mereka yang lebih tinggi lagi.

    Di dalam Rijsttafel, anggota keluarga atau tamu yang makan akan mengambil posisi duduk di masing-masing kursi mengitari meja makan yang panjang dan lebar. Jika dilakukan dalam skala keluarga saja, Rijsttafel hanya akan dilayani oleh beberapa pelayan rumah si empunya.

    Tapi, apabila Rijsttafel dilaksanakan dalam tataran formal, bak di sebuah kerajaan, para anggota keluarga atau tamu ini masing-masing akan dilayani oleh banyak sekali pelayan dengan pakaian resminya, bahkan sampai berjumlah puluhan.

    Ada pelayan-pelayan yang bersiap siaga di dekat meja makan untuk menyiapkan peralatan makan dan minum. Ada pula pelayan yang akan sigap berjalan memutari meja dan kursi sambil membawa mangkuk kaca berisi lauk ketika para tamu memanggilnya dan ingin mencicipi makanan. Saat tak dibutuhkan, para pelayan yang terdiri dari orang pribumi ini akan dengan sabar berdiri, menanti hingga waktu sajian selesai. Sebagaimana perbudakan, seperti itulah ironisnya Rijsttafel bagi rakyat pribumi.

    Tapi, terlepas dari permasalahan status sosial itu, Rijsttafel memang merupakan satu dari sekian banyak babak sejarah penting Indonesia yang patut kita perhitungkan. Dari budaya Rijsttafel inilah kemudian hotel-hotel hebat masa kolonial Belanda membuka sayapnya ke dunia internasional dan menarik banyak sekali wisatawan.

    Bahkan, sampai detik ini pun, sisa-sisa budaya ini masih bisa kita temui di berbagai hotel berbintang dengan layanan buffet-nya, atau budaya prasmanan yang berkembang di masyarakat, juga restoran-restoran yang menyediakan sajian hidangan sejenis Rijsttafel, yang pada akhirnya bangsa ini menyadari bahwa masakan Indonesia, bila dikemas dengan baik, akan menjadi satu daya tarik tersendiri untuk menarik perhatian dunia.

    Tak banyak buku di era modern saat ini yang mengupas sejarah makanan dan budaya makan seperti yang dilakukan oleh Fadly Rahman. Ditulis secara rinci, dilengkapi dengan data dan bibliografi yang luas, bahkan ditambah dengan data aneka resep dan bahan yang digunakan pada budaya Rijsttafel ratusan tahun yang lalu menjadikannya kelebihan tersendiri yang patut kita acungi jempol.

    Maka, ketika saya menemukan buku ini di salah satu rak buku, dengan tampilan desain sampul yang cukup klasik dan menawan, saya tak mampu menolak daya pikatnya.

    Buku ini layak direkomendasikan kepada para pecinta sejarah dan kuliner. Perlulah sesekali bangsa ini menilik sejarah dari sisi yang lain selain pergumulan politik, sebab setiap babak sejarah sebenarnya saling terkait seperti mata rantai. Kau hapuskan yang satu, maka yang lain akan terputus kehilangan jejak. Betapa uniknya sejarah, seunik cita rasa kuliner Indonesia dari masa ke masa.

    *Resensi ini juga pernah dipublikasikan di Basabasi.co

  • Perjumpaan dengan Pengkhianat oleh Isabel Allende, Gabriel Garcia Marquez, dan Penulis Amerika Latin Lainnya

    Judul : Perjumpaan dengan Pengkhianat
    Penulis : Penulis Amerika Latin
    Penerjemah : Tia Setiadi
    Jumlah halaman: 212 hlm
    Penerbit : Diva Press
    Tahun terbit : Januari 2017
    ISBN : 978-602-391-356-5
    Genre: Fiksi, Cerpen
    Rating: 3/5

    Bagaimana jadinya bila seorang tentara bertemu kembali dengan temannya yang pengkhianat setelah berpisah berpuluh tahun yang lalu di ruang persidangan? Barangkali ada banyak emosi dan rasa yang berkecamuk di dada, seperti yang dirasakan oleh si lelaki, tokoh utama kita di dalam cerpen yang menjadi judul buku sepilihan cerita pendek ini.

    Iya, sesuatu yang belum rampung dan menyisakan dendam acapkali bangkit menyeruak dari pikiran, menendang-nendang benak, menyulut kembali kebencian dan kemarahan. Begitulah yang dialami olehnya saat melihat, mengikuti dan mengejar lelaki bertongkat mantan pengkhianat bangsa di suatu tempat.

    Ingatannya terbang ke masa puluhan tahun silam ketika mereka berperang, berupaya bertahan dari pembantaian ratusan ribu tentara, juga saat mereka berkelahi dan berhadapan di depan pengadilan militer.

    Kini, mereka bertemu kembali, pada zaman yang berbeda. Bagaimana rasanya bertemu muka dengan seorang pengkhianat yang telah mengkhianatimu dan ratusan ribu rekanmu?

    Augusto Roa Bastos, seorang cerpenis asal Paraguay yang dikenal lewat karya fenomenalnya Yo el Supremo tentang pemimpin tangan besi Paraguay selama 26 tahun, mengawali buku ini lewat cerpen “Perjumpaan dengan Pengkhianat” dan berhasil memunculkan sensasi mengejutkan dan tak terduga pada karyanya.

    Seperti api yang disiramkan air, engkau tak bisa berkata-kata dengan alur yang diberikannya, ketika mengetahui bagaimana kelanjutan dari si lelaki yang bertemu dengan pengkhianat itu.

    Belum cukup dengan keterkejutan di cerpen pertama yang berbau politik, barangkali engkau pun akan bertanya-tanya tentang revolusi sosial yang dilakukan para tanaman pada cerpen “Mengapa Ilalang Berlubang” karya Gabriela Mistral, pengarang Amerika Latin pertama yang menerima Hadiah Nobel Kesusastraan, yang potret wajahnya tertera pada uang lima ribu peso Chile.

    Dalam kisahnya, sang ilalang yang menjadi pemimpin, bersama mawar, jagung dan tanaman lainnya berusaha bertumbuh setara, agar sama tingginya dengan puncak biru ekaliptus si pohon keras, apapun yang terjadi. Keangkuhan terkadang tak ambil peduli pada kemanfaatan.

    “Jadi begitulah, wahai Manusia. Cantiklah bunga violet karena kekecilannya dan pohon jeruk karena bentuknya yang lembut. Cantiklah segala sebagaimana Tuhan telah menciptakannya; ek yang mulia dan jelai yang rapuh.” (halaman 40)

    Seperti halnya sebuah alegori, pun kisah ilalang ini dirasa cukup mendalam pemaknaannya bagi manusia jika mereka mau menggali setiap inci hikmahnya. Ini hampir senada dengan pemaknaan hidup yang dilakukan oleh Juan Bosch dalam karyanya yang berjudul “Jiwa Indah Don Damian”, tentang sejumput jiwa yang berusaha melepas tentakel-tentakelnya dari pembuluh darah sang majikan, lantas keluar untuk melihat segala hal yang tidak bisa terlihat sebagaimana yang terlihat sebelumnya.

    Yang licik terlihat jujur. Yang rakus terlihat rendah hati. Jiwa akhirnya menjadi muak karenanya. Akankah ia kembali menancapkan tentakel itu ke pembuluh majikannya? Cerpen yang begitu sarat makna.

    Buku Perjumpaan dengan Pengkhianat ini adalah sekumpulan cerita pendek karya para penulis Amerika Latin yang sebagian besar namanya kurang familiar bagi saya. Ada yang saya kenali, seperti Gabriel Garcia Marquez atau Isabel Allende yang karya-karyanya sudah sangat dikenal, tetapi selebihnya adalah nama baru bagi saya.

    Padahal, sederetan cerpenis ini memiliki berbagai latar belakang politik, sosial, dan budaya yang cukup kompleks diikuti prestasi yang tak biasa di berbagai bidang.

    Sebut saja Juan Bosch, seorang cerpenis dan sejarawan. Ia juga presiden Republik Dominika pertama yang terpilih secara demokratis dalam waktu singkat. Atau Miguel Angel Asturias, seorang novelis dan jurnalis asal Guatemala sekaligus sebagai salah satu figur awal Bom Sastra Amerika Latin seperti halnya Julio Cortazar asal Argentina. Masih ada sederet nama lainnya di buku ini yang juga memiliki keistimewaannya masing-masing.

    Tak hanya bertema sosial dan kemanusiaan, tetapi perselingkuhan, buasnya dunia malam, tentang keluarga, kesedihan, atau kesendirian juga turut mewarnai sepilihan cerita pendek Amerika Latin yang berjumlah empat belas banyaknya, dan tentunya menjadi dinamika tersendiri agar para pembaca tidak bosan.

    Namun, di antara keempat belas cerpen tersebut, ada satu benang merah yang menjadi kesamaan mereka. Bahwa kisah-kisah tersebut memiliki ending yang tidak terduga. Setiap jawaban pertanyaanmu akan terjawab di akhir cerita, sekali lagi, secara tak terduga. Begitulah. Betapa pintarnya para penulis itu mengemas karya mereka.

    Keistimewaan lainnya yang terdapat di buku ini adalah kepiawaian Tia Setiadi dalam menerjemahkan cerpen-cerpen ini. Penggunaan diksi dan struktur kalimat, yang barangkali di bahasa aslinya memang sudah indah, terasa semakin indah dan nyastra karena sentuhan sang penerjemah. Ada banyak diksi unik bertebaran di buku ini dan menambah perbendaharaan kita.

    Akhirnya, membaca buku ini rasanya seperti menggali dunia baru Amerika Latin; dari Paraguay hingga negara Castro, Kuba; dari negara-negara penggila bola seperti Brazil dan Argentina hingga Meksiko di mana bisa engkau jumpai Taco dan Salsa dengan mudahnya; ada banyak rasa dan warna yang disuguhkan di sepilihan cerpen Amerika Latin ini.

    “Ke mana pun kau memandang di Luvina, yang kau lihat semata tempat yang menyedihkan. Aku ingin bilang itulah tempat bersarangnya kesedihan. Senyuman tak dikenal di sana seolah-olah wajah-wajah manusia telah dibekukan. Dan, kalau kau mau, kau bisa melihat kesedihan itu kapan pun.” (sepenggal kutipan dari cerpen “Luvina” karya Juan Rulfo, halaman 102)

  • Ketika Lampu Berwarna Merah oleh Hamsad Rangkuti

    Judul : Ketika Lampu Berwarna Merah
    Penulis : Hamsad Rangkuti
    Jumlah halaman : 228 hlm
    Penerbit : DIVA Press
    Cetakan : I, Mei 2016
    ISBN : 978-602-391-148-6
    Genre: Fiksi Sosial, Fiksi Lokal
    Rating: 3/5

    Jika engkau ingin melihat kaum ibu dengan gendongan balita dekil, lampu merah tempatnya. Kalau engkau hendak melihat kaum bapak berkaki pengkor atau bertangan sebelah, lampu merah juga tempatnya. Ingin melirik anak-anak mengamen dan menengadah tangan? Lampu merahlah tempatnya.

    Jangan engkau tanya seperti apa aroma tubuh dan tampilan mereka. Mungkin cukup untuk membuat para penumpang menahan nafas atau mengernyitkan dahi. Di satu sisi, lampu merah membuat dongkol para supir dan majikan yang ingin segera berleha di rumah mereka. Di sisi lain, persimpangan dan lampu merah menjadi panggung senyum bagi kaum gepeng mengais rezeki. Ironis memang.

    Tak sekali dua barangkali kita berjumpa dengan kaum gepeng ketika lampu lalu lintas berganti merah. Mulai dari yang berpura-pura pengkor sampai yang benar-benar pengkor, pun para pengamen yang bersuara bak Iwa K hingga yang cempreng menyakitkan telinga, seolah kita melihat babak demi babak drama negeri ini dari balik layar kaca mobil pribadi atau angkutan umum.

    Tapi, yah … hanya sebatas ketika lampu merah menyala. Setelah itu? Para pengemudi dan penumpang tentunya akan melanjutkan kembali pikiran mereka ke tempat lain, meninggalkan gembel dan pengemis yang entah bagaimana kelanjutan hidup mereka setelah lampu berwarna hijau.

    Sudah bukan rahasia lagi sebenarnya bagaimana kehidupan kaum gepeng di negeri ini. Hampir dari kita semua tahu bahwa hidup mereka jauh dari kata layak. Sekedar bisa memenuhi kebutuhan perut yang sejengkal itu saja mungkin sudah lebih dari cukup.

    Hendak bermimpi bersekolah tinggi atau bercita-cita memiliki ini itu? Yah, barangkali itu hanya menjadi sebatas mimpi. Hidup di lingkungan masyarakat pinggiran dan terbuang tak akan pernah terbayangkan oleh sebagian orang.

    Kehidupan di mana anak kecil dipaksa mencari uang untuk memberi makan entah siapa. Kehidupan di mana anak-anak perempuan harus berjuang melepaskan cengkeraman dan tatapan buas lelaki hidung belang beraroma bir. Lingkungan di mana para wanita tuna susila hidup menjajakan diri demi selembar dua puluh ribu rupiah. Ya Tuhan … tak terbayangkan betapa ngerinya.

    Tapi, Hamsad Rangkuti berhasil menampilkan babak-babak kehidupan kaum pinggiran di atas seolah nyata melalui novel Ketika Lampu Berwarna Merah.

    Adalah Kartijo yang ditinggalkan anak lelakinya, Basri, yang minggat dari rumah demi melihat Monas di Jakarta. Kartijo dan istrinya, Surtini, beserta orang-orang sekampung terpaksa harus pindah ke Sumatera mengikuti program transmigrasi, meninggalkan tanah kelahiran mereka di Wonogiri karena desanya akan dijadikan waduk. Hanya satu keinginan Surtini; menemukan anaknya.

    Jadilah Kartijo, dengan waktu yang sangat mepet, mencari Basri ke Jakarta dan berjanji akan mengejar kapal yang akan mereka tumpangi ke Sumatera di Tanjung Priok. Sementara ayahnya sibuk mencari, sang anak ternyata harus bergulat dengan kehidupan Ibu Kota yang keras dan berbahaya bersama teman-temannya.

    Lewat Basri, Pipin si kaki pengkor yang ditinggal mati ibu bapaknya, Bustami si pemabuk, Sanip si tukang mayat, serta tokoh-tokoh lainnya dengan karakter yang cukup kuat, narasi Hamsad Rangkuti mampu menggiring degup jantung kita berdetak agak cepat merasakan ketegangan konflik para tokohnya.

    Membuat kita bertanya-tanya bagaimana akhir dari kisah kaum pinggiran ini. Rasanya hampir seperti gambaran realita negeri ini. Katanya di negeri ini, orang miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.

    Nyatanya, bagai pungguk merindukan bulan. Dengan realita yang ada di sekitar kita, Ketika Lampu Berwarna Merah seakan-akan menjadi sebuah sindiran bagi kita dan negeri ini, bahwa gepeng dan kaum terpinggirkan lainnya membutuhkan campur tangan pihak lain untuk membuka jalan yang lebih baik, membuka lembaran baru bagi mereka.

    Tanpa menceramahi, tanpa menggurui, Hamsad Rangkuti menawarkan makna tersirat lewat narasinya. Menurut saya ini menjadi salah satu kelebihan dari karyanya. Selain itu, Ketika Lampu Berwarna Merah dituturkan dengan penggambaran yang sangat detail sehingga saya cukup menikmati deskripsi-deskripsi di dalamnya tanpa terasa membosankan.

    Selain gambaran realita kaum yang terpinggirkan, Hamsad Rangkuti juga menunjukkan bahwa sepahit-pahitnya kehidupan yang dijalani, siapapun memiliki mimpi yang ingin diwujudkan, meski bagi orang lain mimpi itu terdengar sangat sederhana. Entah dengan cara apa, kaum gepeng tentu saja ingin mengubah nasibnya.

    Semangat itulah yang barangkali terus membawa mereka bergerak mengejar harapan dengan kaleng-kaleng mentega dan krecekan di tangan mereka, menyongsong lampu berwarna merah. Sekali lagi, sebungkus nasi sudah menunggu mereka di perempatan itu.

    Wajah-wajah pias berbalut dekil
    Berselimut debu
    Sesuap demi sesuap
    Nasi tanpa apa
    Pada balutan tulang
    Di rangkulan angin malam

    Laparnya tak kau rasa
    Dahaga pun tak terpuaskan

    Entah ….
    Sinismu terpancang
    Jijik, angkuh
    Katamu, mereka sampah
    Atau kitakah?

    (Balada Orang Pinggiran – Evyta AR)

  • Membeli Batang Pancing untuk Kakekku oleh Gao Xingjian

    Judul : Membeli Batang Pancing untuk Kakekku
    Penulis: Gao Xingjian
    Penerjemah: An Ismanto
    Jumlah halaman: 148 hlm
    Penerbit: Basabasi
    Cetakan: I
    Tahun terbit: November 2016
    ISBN: 978-602-391-318-3
    Genre: Cerpen
    Rating: 3/5

    Unik. Itulah kesan pertama yang berhasil disuguhkan Gao lewat cerpen-cerpennya. Jika umumnya sebuah fiksi menceritakan kisah si tokoh dengan sangat terperinci lewat karakter-karakternya yang kuat dan aktivitasnya yang detail sebagai unsur utama, sedangkan lingkungan di sekitarnya sebagai hal sekunder, maka di cerpen Gao berbeda.

    Gao justru menjadikan narasi latar tempat, waktu, lingkungan serta peristiwa sebagai unsur utama, bukan sekunder, yang kemudian memancing kita untuk memperhatikan dan turut mengamati. Ini kali pertama saya membaca jenis fiksi yang unik seperti coretan Gao.

    Coba bayangkan, ketika sebuah peristiwa kecelakaan, mulai dari keadaan jalan, orang-orang di sekitarnya, serta bagaimana kecelakaan itu terjadi, dinarasikan dengan sangat terperinci bak waktu yang dipecah menjadi jam, menit dan detik, ternyata sensasi yang dihasilkannya sungguh jauh berbeda.

    Sensasi yang bisa dirasakan pada cerpen “Kecelakaan” di mana pembaca menanti-nanti kelanjutan kisah tersebut tanpa peduli apa dan siapa. Hanya satu ide sentral yang ingin dikisahkan, yaitu kecelakaan di jalan raya pada pada waktu tertentu, tetapi Gao malah mengekspresikannya lewat narasi yang detail dan menarik.

    “Membeli Batang Pancing untuk Kakekku” adalah cerpen lain yang membuat saya terkesima. Tak heran jika cerpen ini yang kemudian menjadi judul buku sepilihan cerita pendek Gao Xingjian. Di cerpen ini, kita akan turut serta di dalam pikiran sang tokoh, yaitu Aku, yang kita tidak tahu siapa ia, di mana ia tinggal, dan bagaimana karakternya.

    Aku yang sudah dewasa ingin memberikan sebuah batang pancing dengan kili-kili untuk kakeknya yang suka memancing menggunakan batang bambu panjang. Sudah lama sekali sejak Aku kecil meninggalkan rumah kakek. Sekarang, ia ingin menemukan rumah lamanya itu, di mana kakek dan neneknya tinggal, di dekat sebuah jembatan dan danau.

    Jalanan sudah banyak berubah. Area yang dulunya hanya ada beberapa bangunan kini telah menjadi hutan antena dengan gedung-gedung yang padat bersisian. Aku menyusuri jalan demi jalan yang bisa ia ingat. Tak satupun tanda yang bisa mengarahkan dirinya ke rumah kakek.

    Padahal, batang pancing itu sudah lama ia simpan untuk hadiah kakeknya. Rasa putus asa, kerinduan, serta ingatan masa lalu yang menendang-nendang berkeluaran dari benak Aku. Di cerpen ini, saya bisa memahami perasaan Aku hanya dari kilasan-kilasan ingatan pikiran dan suara hatinya, lagi-lagi lewat penggambaran Gao yang unik.

    Imagery, atau pencitraan, umum dipakai dalam sebuah fiksi sebagai bahasa kiasan untuk menggambarkan atau mewakili peristiwa, tindakan, benda atau ide sebegitu rupa sehingga indra fisik kita bisa turut merasakan. Beberapa cerpen yang pernah saya baca biasanya juga dituturkan dengan narasi yang rinci.

    Namun, entah mengapa, gaya imagery Gao dalam mode bahasa naratifnya memang sangat unik dan jauh berbeda dari fiksi yang pernah saya baca. Seketika saya merasakan angin segar saat mulai membaca buku ini dan membatin, “Oh, ini tidak biasa. Ini berbeda.”

    Mencecap Evolusi Fiksi dari Cerpen-Cerpen Gao

    Barangkali Gao ingin menunjukkan bahwa penulisan fiksi itu terus berevolusi dengan caranya masing-masing sehingga layak disebut seni fiksi, seperti perkataannya yang saya kutip dari buku ini;

    “Penciptaan fiksi pertama-tama mensyaratkan pemilihan seorang narrator, sehingga apa yang akhirnya muncul adalah bahasa naratif, dan seni fiksi terletak pada bagaimana sebuah bahasa naratif yang sesuai dapat ditemukan, dan dengan demikian menggeser plot dan tokoh konvensional ke posisi sekunder. Kendati demikian, harus ada setidaknya satu tokoh, dan cara bertutur tokoh ini merupakan kunci penciptaan fiksi.” (halaman 120)

    Menurut Gao, seorang penulis perlu mencari bahasa individualnya masing-masing. Setiap karya fiksi memiliki irama dan bahasa yang berbeda, yang memiliki suara yang bisa didengar oleh penulis maupun pembacanya.

    Ya, fiksi itu bersuara. Mendeskripsikan seorang tokoh tidak cukup hanya dari gambaran fisiknya yang cacat atau cantik saja, melainkan juga menuntut fokus pikirannya dan pandangan batinnya sehingga kesadaran yang dalam bisa dihasilkan dalam sebuah karya fiksi.

    Inilah yang akan dinikmati oleh pembaca. Inilah yang kemudian membuat pembaca tergerak secara emosional. Dan menurut saya, apa yang dikemukakan Gao tersebut sangat masuk akal. Di dalam bukunya ini, kita bisa melihat gaya bahasa naratif Gao yang khas.

    Ada lima cerpen yang disuguhkan di dalam buku ini. “Seketika” adalah yang terpanjang dan paling detail, yang juga membuat saya terkesan selain dua judul yang saya sebutkan sebelumnya. Dan buku ini sangat layak untuk dibaca oleh para penyuka fiksi atau sastra.

    Ada banyak hal yang bisa digali dari coretan-coretan Gao. Bagaimana dirinya menuturkan narasi, magaimana ia sebagai narator menghidupkan tokoh cerpen lewat imagery lingkungan di sekitarnya, dan bagaimana ia sebagai seorang penulis menambatkan hati dan pikiran pembaca di dalam cerpen-cerpennya, sungguh, semua itu bagi saya adalah hal baru, tak seperti cerpen-cerpen konvensional—jika boleh saya sebut konvensional—lainnya.

    Saya bukan orang dengan basis ilmu sastra, apalagi ahli. Saya hanya penikmat buku. Tapi, saya sangat menyukai karya Gao di buku “Membeli Batang Pancing untuk Kakekku” ini. Dan barangkali, Anda pun akan terpancing untuk mencecap evolusi fiksi dari cerpen-cerpen Gao di buku ini.

  • Animal Farm oleh George Orwell

    Judul : Animal Farm
    Penulis: George Orwell
    Penerjemah: Bakdi Soemanto
    Jumlah halaman: iv + 144 hlm
    Penerbit: Bentang
    Cetakan: I
    Tahun terbit: Oktober 2016
    Edisi: II
    ISBN: 978-602-291-282-8
    Genre: Distopia
    Rating: 4/5

    Hampir sebagian besar manusia menyukai kebebasan. Hidup di luar tekanan, perintah, atau aturan. Bebas. Tidak terikat. Bisa melakukan apa saja yang ia suka. Pun sama halnya dengan para binatang di Peternakan Manor yang sudah sangat muak dengan kehidupan mereka di bawah tirani manusia.

    Mereka dieksploitasi telurnya, susunya, bulunya dan tenaganya untuk kepentingan manusia semata. Setelah itu? Habis manis sepah dibuang. Mereka akan berakhir di meja-meja makan manusia.

    Merasa terkekang, akhirnya pemberontakan terhadap manusia terjadi juga. Dengan segala daya dan upaya, para binatang yang terdiri dari babi, kuda, burung, angsa, ayam dan hewan lainnya ini berhasil menghadapi senjata dan kebrutalan manusia.

    Kocar-kacir tunggang-langgang si Jones tua pemilik peternakan dan anak buahnya itu terpaksa hengkang dari tanah miliknya sendiri. Dikalahkan binatang, tentu saja. Sekarang, peternakan itu menjadi milik binatang. Hore!

    Laiknya perputaran kekuasaan di manapun berada, kepemimpinan Jones tergantikan oleh dua babi cerdas bernama Snowball dan Napoleon.

    Binatangisme, begitulah prinsip dan ruh perjuangan para binatang ini. Sudah saatnya binatang berkuasa atas dirinya sendiri, bekerja sepenuh hati siang dan malam pun untuk dirinya sendiri.

    Namun, sayang seribu sayang, kehidupan berdemokrasi para binatang ini tak bertahan lama. Bukankah dua kepala dalam satu tampuk kepemimpinan tidak akan mungkin bersatu?

    Menyingkirkan atau disingkirkan, itulah pilihan bagi kedua babi tersebut. Siapa yang cepat mengambil keputusan, maka dialah yang akan mendapatkan. Kehidupan peternakan yang tadinya sama rata dan sama rasa itu kini berbelok menjadi tirani.

    Benarlah apa yang dikatakan pepatah, “Menang jadi arang, kalah jadi abu.” Menang atau kalah, binatang-binatang ini tetap sama-sama menderita. Bedanya, kini penderitaan mereka disertai sedikit kebahagiaan hati bahwa hasil keringat yang mereka keluarkan adalah untuk diri mereka sendiri.

    Bagaimana nasib akhir Peternakan Binatang di bawah kepemimpinan Napoleon si babi tiran? Gebrakan politik apa saja yang ia lakukan? Apakah akan terjadi pemberontakan lanjutan atau tidak dan apa yang terjadi pada Snowball kemudian akan dijawab oleh Orwell dalam alegori politik ini dengan cara yang cukup menggelitik.

    Alegori Binatangisme

    Animal Farm diterbitkan pertama kali di Inggris tahun 1945, ketika Perang Dunia II terjadi. Orwell yang seorang sosialis demokratik menulis novel ini sebagai satire atas totaliterisme Uni Soviet di bawah kepemimpinan Stalin.

    Manuskrip novel ini awalnya ditulis tahun 1943-1944. Sebagian penerbit di Inggris dan Amerika menolak naskahnya karena khawatir membuat marah aliansi Inggris, Amerika Serikat dan Uni Soviet kala itu.

    Prinsip Binatangisme di dalam novel ini sebenarnya lebih bisa dikatakan sebuah alegoris dari prinsip Komunisme, di mana sebuah perubahan sosial hanya akan berhasil apabila kaum proletar, dalam hal ini para binatang, melakukan perjuangan lewat partai yang dicetuskan oleh sang pemimpin, Napoleon. Lewat partai ini, Napoleon dengan mudahnya menggiring pendapat para binatang sesuai kemauannya.

    Ada tujuh aturan yang dibuat dalam Binatangisme, yang pada awalnya ditujukan Snowball untuk mempersatukan para binatang dalam perlawanan terhadap manusia lewat pelarangan melakukan, menyerupai dan mengikuti cara dan gaya hidup manusia.

    Di kemudian hari, tujuh aturan ini diubah oleh Napoleon untuk mengakali para binatang. Pada bagian ini, saya melihat Orwell ingin menunjukkan betapa mudahnya prinsip politik diubah menjadi propaganda yang sangat halus untuk membodoh-bodohi atau mengakali binatang.

    Dengan kata lain, Orwell ingin menunjukkan betapa mudahnya propaganda totaliter dapat mengontrol pendapat orang-orang di negara demokratis, sehingga yang tadinya berpendapat A bisa berubah haluan menjadi B dengan cara yang paling halus sekalipun tanpa disadari.

    Bandit Kekuasaan

    Membaca Animal Farm membuat saya menarik sebuah refleksi bahwa novel ini akan sangat relevan sampai kapanpun, seperti halnya novel Orwell yang lain, 1984, karena isu yang diangkatnya akan selalu ada di tengah-tengah kehidupan kita.

    Seorang pemimpin yang otoriter, seorang tiran, akan dapat digulingkan oleh gerakan massa yang terkoordinir dan memiliki satu tujuan yang sama di bawah payung demokrasi. Selanjutnya sudah lumrah bahwa akan ada pemimpin baru yang menggantikannya dengan semangat baru, semangat perubahan, pada awalnya.

    Masalahnya, tampuk kekuasaan itu sungguh sangat menggoda iman, Tuan. Ia bisa memabukkan, seperti yang disebutkan di sampul belakang novel ini, membuai para pemiliknya untuk berubah haluan dengan sangat esktrem. Tampuk kekuasaan itu ibarat mata pedang, jika tak pandai-pandai menjaganya, ia bisa menghancurkanmu.

    Orang-orang inilah yang kemudian lebih tepat disebut bandit kekuasaan yang memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya. Umumnya, rakyatlah yang merasa dirugikan dan dieksploitasi untuk mengenyangkan perut mereka. Dan ini sudah banyak terjadi di dunia dalam rentang sejarah yang panjang.

    Kondisi ini tidak hanya terjadi dalam level negara, tetapi juga pada level sederhana organisasi di segala jajaran lini kehidupan kita. Di mana ada kepemimpinan, di situ ada peluang munculnya Napoleon-Napoleon baru.

    Bahkan, karakter Napoleon ini dapat dengan mudah kita temukan di dalam pribadi-pribadi di sekitar kita. Maka, menurut saya, Animal Farm akan menjadi sebuah karya yang evergreen dan sebuah referensi refleksi yang cukup menarik bagi siapa saja agar tetap mawas diri, bercermin dan bertanya dalam hati, “Apakah saya ingin menjadi Napoleon baru?”

    “Sekarang, Kamerad, apa sih, sifat kehidupan kita? Mari kita hadapi: hidup kita ini sengsara, penuh kerja keras, dan pendek. Kita lahir, kita diberi begitu banyak makanan, sehingga menjaga napas dalam tubuh kita, dan di antara kita yang mampu dipaksa kerja dengan seluruh kekuatan kita sampai atom terakhir kekuatan kita; dan segera setelah kegunaan kita berakhir, kita disembelih dengan cara yang keji.

    Tak seekor binatang pun di Inggris yang tahu arti hidup bahagia atau waktu senggang sesudah ia berusia satu tahun. Tidak ada satu ekor binatang pun di Inggris ini yang bebas. Hidup seekor binatang supersengsara dan penuh perbudakan: ini adalah kenyataan yang sebenar-benarnya.”

    (halaman 5)
  • People of the Book oleh Geraldine Brooks

    Judul: People of the Book
    Judul Asli: People of the Book
    Penulis: Geraldine Brooks
    Penerjemah: Femmy Syahrani
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    ISBN: 978-602-03-1447-1
    Tebal: 504 halaman
    Tahun terbit: 2015
    Cetakan: Kesatu
    Genre: Fiksi Sejarah, Buku tentang Buku
    Rating: 4/5

    Buku langka, terlepas dari isi dan pemikirannya, menghubungkan kita dengan sejarah masa lampau, pun dengan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Sebuah buku, tanpa sepengetahuan kita secara kasat mata, barangkali saja sudah menyentuh entah berapa banyak tangan, dari yang menuliskannya, membacanya, menelaahnya, melindunginya, hingga yang menghancurkannya.

    Dari tangan ke tangan, dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, dari satu tempat ke tempat lainnya hingga saat ini, buku telah berbicara kepada kita, dalam diam dan hening, bahwa ia telah diwariskan sedemikian rupa untuk menyampaikan kisah-kisah di balik keberadaannya.

    Kisah yang barangkali mampu menyadarkan kita tentang suatu hal penting dalam hidup, apapun itu. Geraldine Brooks mengajarkan saya tentang hal ini lewat novelnya yang berjudul People of the Book.

    Buku ini mengisahkan tentang seorang pakar buku langka yang bernama Hanna Heath dalam menangani konservasi Haggadah Sarajevo yang cukup kontroversial sejarahnya.

    Hanna, lewat keahliannya menganalisa, kemudian menemukan beberapa jejak masa lalu dari haggadah tersebut. Serpihan sayap serangga, sehelai bulu halus, bekas penjepit dan tanda mawar, noda dan garam, seolah semua itu ingin menyampaikan kisahnya masing-masing mengapa mereka ada di dalam haggadah itu dan sudah berapa jauh perjalanan serta kesulitan yang dialaminya.

    Dari hasil penemuannya, Hanna kemudian mulai merangkai satu demi satu misteri buku tersebut; Seorang muslim Bosnia yang mempertaruhkan nyawanya dan keluarganya untuk menjaga buku itu di tahun-tahun ketika Nazi berkuasa; Seorang pastor Katolik dan rabi Yahudi yang mencoba menyelamatkan buku itu dari api pembakaran Inkuisisi gereja; Seorang penulis yang terpaksa meregang nyawa dan kehilangan keluarganya demi menambahkan teks pada buku itu; Misteri seorang musawwir yang melukis ilustrasi indah terlarang tersebut di Sevilla tahun 1480.

    Semua hipotesis ini membawa Hanna pada pencarian jati dirinya sendiri dan juga orang-orang yang ia cintai dan, pemalsuan karya seni, tentu saja.

    “Kalian semua, dari dunia yang aman, dengan kantong udara mobil dan kemasan antirusak dan diet bebas lemak. Kalianlah yang percaya takhayul. Kalian meyakinkan diri bahwa kematian dapat dielakkan, dan kalian tersinggung saat menyadari keadaannya tidak begitu.

    Sepanjang perang berkecamuk di negara kami, kalian duduk di apartemen kecil yang nyaman dan menonton kami, berdarah-darah dalam berita televisi. Dan kalian berpikir, “Seram sekali!” lalu bangkit dan membuat secangkir lagi kopi mahal ….

    Dalam hidup ini sering terjadi hal buruk. Beberapa hal yang sangat buruk menimpaku. Dan aku tidak berbeda dengan ribuan ayah lain di kota ini yang anaknya menderita. Aku menerima kenyataan itu. Tidak semua cerita berakhir bahagia .…”

    (halaman 59)

    Sebenarnya apa yang membuat buku itu sangat dicari-cari dan dilindungi, sampai-sampai banyak nyawa telah terlibat? Perjalanan panjang apa yang telah dialami Haggadah Sarajevo ini hingga mampu selamat dan akhirnya bermuara di Museum Nasional Bosnia dan Herzegovina di Sarajevo saat ini?

    People of the Book akan mengajak kita pada petualangan yang sangat sulit untuk diacuhkan begitu saja tanpa menyesapi kisah-kisah di dalamnya.

    People of the Book terinspirasi dari sejarah Haggadah Sarajevo, yang merupakan sebuah manuskrip Ibrani misterius berisi tulisan tangan dengan ilustrasi indah tentang perayaan Paskah Yahudi. Meskipun beberapa fakta sejarah yang dicantumkan penulis dalam novel ini benar adanya, tetapi cerita maupun penokohan yang ada hanyalah fiktif belaka.

    Brooks menulis kisahnya dalam plot yang melompat-lompat. Alur cerita yang maju mundur secara bergantian sesuai dengan tahun atau masa artefak-artefak ditemukan di dalam buku dan masa sekarang di mana Hanna hidup membuat kita merasa dekat dengan sejarahnya itu sendiri. Hasil penerjemahan dan suntingan versi terjemahan ini juga menurut saya sangat bagus.

    Menurut sejarahnya, naskah Haggadah Sarajevo ditulis di lembaran kulit anak sapi yang sudah dikelantang dan diberi pewarnaan emas dan perak. Haggadah ini merupakan salah satu haggadah tertua dari Haggadah Yahudi Spanyol di dunia yang berasal dari Barcelona tahun 1350, dan salah satu buku Yahudi abad pertengahan berilustrasi paling awal yang pernah muncul.

    Dikatakan kontroversial karena buku ini melibatkan ilustrasi makhluk hidup, yang sejatinya menggambarnya adalah larangan bagi agama Yahudi dan Islam. Pun dengan kisah-kisah di dalam ilustrasinya yang juga kontroversial menurut Kristen Katolik karena berseberangan dengan alkitab Injil dan keputusan gereja pada masanya.

    Tak banyak yang bisa diketahui dari pembuatan buku ini, kecuali bahwa buku ini dibuat di Spanyol sekitar pertengahan abad ke-14, menjelang berakhirnya masa Convivencia, di mana saat itu, umat Yahudi, Kristen dan Islam hidup berdampingan secara damai.

    Kisah di buku ini indah. Menurut saya, People of the Book ingin menunjukkan bahwa atas nama pelestarian peradaban, termasuk benda-benda peninggalan sejarahnya, siapapun itu orangnya, apapun agamanya, kapan pun masa kehidupannya, selama ia mencintai sejarah dan ingin agar sejarah itu diketahui, hampir pasti akan mencoba melindunginya dan mewariskannya sampai generasi terakhir.

    Lewat analisa dan konservasi sebuah buku, kita bisa mendapatkan percikan informasi sejarah tentang lingkungan tempat buku itu berada, bagaimana orang-orang yang membawanya, peristiwa sejarah apa yang saat itu terjadi, pengaruh apa saja yang disebabkan oleh keberadaan buku tersebut, dan lain sebagainya.

    Seperti rantai yang saling terhubung, sejarah masa lampau dan masa kini pun terhubung sebagai sebuah rangkaian, begitu pula dengan sejarah yang akan terjadi di masa depan. Generasi berikutnya berhak tahu apa yang telah terjadi pada generasi-generasi sebelumnya untuk dijadikan pelajaran dan diambil hikmahnya.

    Terminologi ‘People of the Book‘ kalau saya baca defenisinya lebih kepada ahli kitab atau istilah untuk penganut agama yang dibawa oleh nabi Ibrahim alaihissalam, yang kemudian diteruskan oleh Musa alaihissalam dan Isa alaihissalam yakni Yahudi dan Nasrani, sebelum kedatangan Islam yang dibawa oleh Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam.

    Tetapi, bisa juga yang dimaksud dari judul novel ini adalah terminologi biasa, arti secara harfiahnya yaitu orang dari buku. Berhubung versi terjemahan novel ini tidak dijelaskan secara gamblang terminologi mana yang dimaksud oleh Brooks dalam judul karyanya, maka saya rasa semoga tak apa jika kita menafsirkan makna judul buku ini secara berbeda.

    People of the Book—orang-orang dari buku—pantas dijadikan sebagai judul. Bak suara dari masa lampau, sebuah buku ingin menyuarakan isi hatinya dan mengatakan, “Inilah yang terjadi padaku.”