Judul: Hafalan Buyar Tanda Tak Pintar
Judul Asli: Al-Musyawwiq Ila Al-Qira’ah wa Thalab Al-‘Ilm
Penulis: Al Imam Abul Faraj Abdurrahman Ibnul Jauzi
Penerjemah: Irwan Raihan
Penerbit: Kuttab Publishing
ISBN: 978-602-8171-13-7
Tebal: 158 halaman
Tahun Terbit: Januari 2016
Genre: Agama Islam, Pendidikan Islam
Rating: 3/5
“Abu Dawud Ath-Thayalisi adalah orang yang banyak hafalannya. Dia seperti Abdurrahman bin Mahdi. Abu Dawud tertimpa penyakit kusta sedang Abdurrahman tertimpa penyakit lepra. Abu Dawud hafal empat puluh ribu hadits, sedang Abdurrahman hafal sepuluh ribu hadits.” (halaman 88)
Membaca petikan di atas barangkali membuat kita berdecak kagum mengetahui bahwa seorang pengidap kusta dan seorang pengidap lepra memiliki kemampuan hafalan yang tak biasa. Bayangkan empat puluh ribu hadits! Menghafal 40 hadits arba’in saja kita mungkin kewalahan, bagaimana pula dengan 40.000 hadits? Masya Allah. Dan itu baru dua orang di antara puluhan penghafal yang diceritakan di buku Hafalan Buyar Tanda Tak Pintar terbitan Kuttab Publishing ini. (more…)
Judul: Misteri Do’a-Do’a Malaikat
Judul Asli: من تصلي عليهم الملائكة ومن تلعنهم
Penulis: Dr. Fadhl Ilahi
Penerjemah: Beni Sarbeni, Lc
Penerbit: Media Tarbiyah
ISBN: 978-979-26-5805-7
Tebal: 144 halaman
Tahun Terbit: Januari 2012
Genre: Agama Islam, Aqidah
Rating: 4/5
Menelusuri alam malaikat memang selalu saja membuat kita takjub, terlebih betapa besar keutamaan dan kelebihan mereka yang patut kita ketahui. Setelah mengenal malaikat lewat bukunya Muhammad bin Abdul Wahhab al-Aqil yang berjudul Menyelisik Alam Malaikat dengan sangat lengkap, maka kita juga perlu menambah pengetahuan dan pemahaman yang lebih spesifik lagi tentang hal-hal yang berkaitan dengan malaikat dan keutamaannya untuk manusia. (more…)
Judul: Gila Baca ala Ulama
Judul Asli: Al-Musyawwiq Ila Al-Qira’ah wa Thalab Al-‘Ilm
Penulis: Ali bin Muhammad Al-‘Imran
Penerjemah: Arif Fauzi
Penerbit: Kuttab Publishing
ISBN: 978-602-8171-12-0
Tebal: 178 halaman
Tahun Terbit: Januari 2016
Genre: Agama Islam, Pendidikan Islam
Rating: 4/5
Ilmu itu bukanlah yang mengisi lemari buku
Ilmu adalah apa yang terkandung dalam hati
(halaman 132)
Mengenal tokoh-tokoh intelektual, sastrawan dan ilmuwan asal lokal maupun Barat yang memiliki kecintaan terhadap buku mungkin sudah cukup biasa bagi kita. Ada banyak informasi tentang mereka yang bertebaran di berbagai sumber dan membuat kita takjub. Kita menjadi sangat bersemangat ketika mengetahui tokoh yang satu memiliki ribuan buku di ruang bacanya atau tokoh yang lain tetap membaca dan menulis meskipun berada di dalam penjara.
Di buku Gila Baca Ala Ulama ini, kita akan lebih takjub lagi mengetahui betapa para ulama Islam begitu tinggi gairah dan kecintaannya terhadap buku dan ilmu. Tak hanya berhasil membaca ratusan ribu jilid buku, melainkan juga menulis dan menyalin ulang ratusan jilid buku dan mengajarkannya. Sebut saja Ibnul Jauzi yang telah membaca 200.000 jilid buku, Ibnu Taimiyyah yang tetap membaca meskipun dalam keadaan sakit berat, atau bahkan Hasan Al-Lu’luai, yang selama 40 tahun usia hidupnya, ia selalu tidur dengan buku tergeletak di atas dadanya. Terkadang tak hanya sekali dua kali para ulama tersebut membaca satu buku, melainkan berulang-ulang. (more…)
Judul: Si Penghuni Mars Judul Asli: The Martian Penulis: Andy Weir Penerjemah: Rosemary Kesauly Penerbit: Gramedia Pustaka Utama ISBN: 978-602-03-2439-5 Tebal: 528 halaman Tahun terbit: 2015 Cetakan: Kesatu Genre: Fiksi Sains Rating: 5/5
Saya mengenal dua Mark yang sama-sama berjuang untuk bertahan hidup. Bedanya, yang satu Mark Boyle si Moneyless Man, bertahan hidup tanpa uang di bumi, sedangkan Mark yang lain bertahan hidup di Mars, planet merah yang tak satupun terdapat tanda-tanda kehidupan.
Namanya Mark Watney. Tadinya Watney hanya menjalankan misi botaninya ke Mars. Serangkaian badai pasir menghambat diri dan teman-temannya sehingga mengharuskan sekelompok ilmuwan dan astronot ini untuk kembali ke pesawat ruang angkasa mereka.
Di tengah-tengah badai tersebut, Watney mengalami kecelakaan. Mengira dirinya sudah mati, teman-temannya terpaksa meninggalkan Watney. Untungnya Watney ternyata masih hidup dengan luka tancapan antena di perutnya.
Tapi, ia mungkin saja akan menjadi orang pertama yang akan mati di Mars sebab ia harus menghadapi beberapa masalah penting; Tak ada air, tak ada oksigen, tak ada makanan dan tak ada komunikasi.
Watney terpaksa memutar otak dan memaksimalkan kreativitas dan kemampuannya demi bertahan hidup di kondisi yang tidak ideal bagi manusia. Dengan aneka hitungan dan rumus, ia mulai memperkirakan berapa banyak makanan, air dan oksigen yang akan ia butuhkan.
Seperti halnya Boyle yang menanam sendiri makanannya, Watney juga memanfaatkan kotorannya untuk menanam kentang di Mars — Yah, barangkali jika suatu saat mereka berjumpa, mereka bisa saling menceritakan pengalamannya masing-masing 😀
“Toilet-toilet HAB sangat canggih. Tinja langsung disedot sampai kering, lalu disimpan dalam kantong-kantong tertutup untuk dibuang ke permukaan.” (halaman 26)
Watney juga harus memecahkan masalah air dan oksigen. Tak hanya itu, ia juga harus memikirkan bagaimana caranya berkomunikasi dengan bumi, sebab sebaik apapun usahanya menghasilkan sumber kehidupan, semua tak akan ada artinya jika ia tidak bisa kembali ke bumi.
Ia pun harus memeras otak dan tenaganya untuk memikirkan bagaimana caranya untuk pergi ke lokasi misi Mars berikutnya yang cukup jauh, yang mungkin saja di sana ada alat komunikasi. Masalahnya, planet merah itu ternyata memiliki banyak rahasia dan kejutan yang tidak diperhitungkan oleh Watney ….
Bagaimana ya nasib Mark Watney di planet tak berpenghuni itu? Bagaimana cara ia membuat air dan oksigen? Apa ia berhasil kembali ke bumi atau justru terperangkap di planet merah?
***
The Martian karya Andy Weir adalah salah satu novel fiksi sains paling keren yang pernah saya baca. Saya sempat mengalami book hangover setelah menamatkannya. Membaca novel ini sama sekali tidak membosankan, justru kebalikannya; asyik, seru dan menyenangkan. Andy Weir cerdas sekali membuat novel ini begitu mengalir, ringan dan tidak monoton.
Cerita tentang Mark Watney ditulis dengan gaya penulisan jurnal harian, berupa catatan-catatan sol Mark Watney selama di Mars. Sol adalah istilah untuk menyebutkan hari di Mars. Waktu satu hari di Mars lebih lama sedikit dibandingkan satu hari di bumi sehingga kita menyebutnya sol, bukan hari.
Di dalam log catatannya itulah, pembaca akan mengetahui bagaimana perkembangan usaha Watney bertahan hidup, caranya ia menghasilkan oksigen, air dan makanan, juga termasuk curahan hati dan banyolan-banyolannya secara rinci.
Membaca novel ini mengingatkan saya pada mata kuliah termodinamika, kimia dan fisika sewaktu kuliah dulu. Di dalamnya terdapat banyak istilah-istilah teknik, perumusan dan perhitungan kimia dan fisika, tetapi semua itu tidak terkesan berat karena novel ini diterjemahkan dengan bahasa yang mudah dicerna menggunakan logika umum.
Kondisi Mars dan hal-hal yang dilakukan Watney dipaparkan dalam kacamata ilmiah sehingga sesuatu yang terkesan mustahil menjadi lebih masuk akal di tangan Andy Weir.
Selain dipenuhi dengan istilah-istilah teknik dan astronomi, novel ini juga dikemas dengan humor-humor ringan yang lucu dan menggelikan. Karakter Watney di sini adalah orang yang serius tapi santai, suka bercanda dan tidak menganggap suatu masalah sebagai hal yang membuat stress meskipun sebenarnya dirinya pasti mengalami kebingungan yang sangat.
Saya sendiri yang membacanya heran, kok ya sudah terancam nyawanya di Mars sana masih bisa rileks haha. Bisa-bisanya Andy Weir memadukan antara sci-fi yang umumnya serius dan berat dengan komedi yang ringan dan lucu. Sebuah perpaduan yang unik dan cerdas.
Kalau pembaca agak kesulitan membayangkan secara visual aktivitas yang dilakukan oleh Watney secara rinci juga lingkungan sekitar Mars, barangkali ini akan sedikit kompleks. Syukurnya novel ini sudah diangkat ke layar lebar, jadi kita bisa melihat secara visual adegan yang digambarkan di dalam novel ini lewat filmnya.
Bagi pembaca yang mungkin sering kecewa dengan film adaptasi dari buku, barangkali bisa mengecualikan The Martian, karena antara film dan bukunya, The Martian termasuk adaptasi yang sangat bagus. Yang pasti membaca bukunya lebih seru karena lebih detail.
The Martian memberikan banyak pengetahuan baru bagi saya. Selain itu, tokoh-tokohnya mengajarkan satu hal yang penting, bahwa dalam kondisi sesulit dan sesempit apapun, manusia sejatinya hanya perlu terus berusaha dan tidak putus asa, meskipun terkesan mustahil. Dan manusia akan selalu saling tolong-menolong ketika mengetahui ada orang lain yang kesulitan.
“Ancaman terbesar tentunya kehilangan harapan. Kalau Mark memutuskan dia tidak punya harapan untuk bertahan, dia akan berhenti berusaha.” (halaman 137)
“Saat seorang pemanjat gunung tersesat di pegunungan, orang-orang akan berkoordinasi untuk melakukan pencarian. Saat ada kecelakaan kereta, orang-orang mengantre untuk menyumbangkan darah, Saat ada gempa bumi yang meratakan seluruh kota, orang-orang dari seluruh dunia akan mengirimkan bantuan darurat.
Semua itu sifat fundamental manusia yang dapat ditemukan dalam budaya mana pun tanpa kecuali. Ya, tentu saja ada orang-orang brengsek yang tidak peduli, tapi mereka kalah jumlah dibanding orang-orang yang peduli. Dan karena itu, ada miliaran orang yang mendukungku.” (halaman 527)
Barangkali bagi sebagian orang yang sudah membaca The Martian, ada satu hal yang cukup menonjol ditampilkan oleh Weir, yaitu masalah lakban, seolah-olah banyak hal bisa diselesaikan dengan lakban di Mars sana, LOL.
Yah, pada kenyataannya, lakban memang memiliki banyak sekali fungsi. Tapi, menurut saya, ada banyak pelajaran selain soal lakban yang bisa dipetik pembaca dari karya Weir ini.
Bahwa novel ini sebenarnya bisa menjadi alternatif awalan bagi mereka yang tidak suka membaca buku sains karena sains digambarkan dengan cara yang mengasyikkan oleh Weir.
Ini bisa memberikan motivasi bagi para remaja atau orang dewasa untuk mulai menyukai ilmu pengetahuan. Sebenarnya berbagai aktivitas sehari-hari kita tidaklah jauh dari sains. Sains-sains sederhana yang mudah dipraktikkan sejatinya memiliki prinsip yang sama dalam penerapan yang lebih kompleks.
Mungkin saat sekolah dulu kita terlalu paranoid dengan rumus fisika dan reaksi kimia yang rumit. Padahal, dalam kondisi-kondisi tertentu, terkadang rumusan atau reaksi tersebut bisa berguna di saat genting jika kita memahaminya.
Selain itu, gambaran tentang aktivitas tata surya dan upaya meneliti Mars sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh para ilmuwan dan astronot, tetapi selama ini mungkin hanya dipahami sepintas lalu oleh sebagian besar manusia.
Lewat novel ini, sedikit banyak pembaca jadi tahu bagaimana gambaran di Mars sana. Meskipun fiktif, tetapi beberapa aspek ilmiah buku ini tetaplah disesuaikan dengan fakta. Ini kita bisa lihat dari latar penulisnya sendiri yang dibesarkan di lingkungan engineer.
Bagi saya yang memang orang teknik, meskipun sudah tidak berkutat dengan hal-hal seputar teknik secara khusus, membaca The Martian seolah mengulang kembali kenangan dan kecintaan terhadap sains. Sains itu asyik dan menyenangkan jika kita mau berteman dengannya 🙂
Judul: Blindness Judul Asli: Ensaio Sobre A Cegueira Penulis: Jose Saramago Penerjemah: Tim Matahari Penerbit: Matahari ISBN: 9786023720453 Tebal: 488 halaman Tahun terbit: November 2015 Cetakan: Kesatu Genre: Distopia, Fiksi Sains Rating: 4/5
“Kalaupun tidak dapat hidup sepenuhnya seperti layaknya manusia, setidaknya marilah kita berusaha sekuatnya agar tak hidup sepenuhnya seperti binatang.” (halaman 174)
Siapapun tak ingin menjadi buta. Tetapi, andaikan seseorang buta sekali pun, masih ada orang-orang terdekat di sekitarnya yang akan membantu. Menuntunkan jalan, menghindarkan dari potensi bahaya, atau menjelaskan keadaan sekitar adalah hal yang lazim dilakukan oleh mereka yang normal kepada penderita kebutaan.
Selain itu, masih ada orang-orang di pemerintahan yang menyediakan air bersih untuk minum, listrik, pengelolaan sampah, dan kebutuhan lainnya yang seringkali kita anggap biasa-biasa saja ternyata merupakan hal yang krusial.
“Barangkali hanya di dunia orang buta segala sesuatu akan jadi seperti apa adanya.” (halaman 188)
Bagaimana jika kebutaan adalah penyakit menular dan menjadi wabah? Siapa saja akan mengalami kebutaan dan menyebar ke ujung dunia. Bahkan para pengelola negara sekali pun akan mengalami kebutaan.
Jika sudah begini, tak akan ada yang mengambil sampah kita setiap pagi sehingga membuat timbunan sampah kotor menumpuk. Tak ada yang akan mengolah air bersih, penerangan —yah, untuk apa lagi penerangan jika tidak bisa dilihat—, juga makanan. Seluruhnya buta.
Manusia akan mulai berubah ke sifat dasarnya sebagai makhluk hidup, yakni bertahan hidup dengan segala cara. Ekstremnya, jika harus membunuh demi mendapatkan makanan, itu pun akan dilakukan oleh manusia. Jika tak bisa mencapai WC, membuang kotoran di jalanan pun sah-sah saja.
Nyaris hampir tak ada bedanya dengan hewan. Semua menjadi kacau-balau. Dan, inilah yang terjadi di sebuah negara tak bernama dalam karya Jose Saramago yang berjudul Blindness.
Kekacauan Demi Kekacauan
Dimulai dari seorang pengemudi yang mendadak buta di tengah jalan, penyakit tersebut kemudian menular ke orang kedua, ketiga, dan seterusnya sampai kepada dokter mata yang memeriksa penyakit tersebut.
Orang-orang mulai mendadak buta tanpa sebab. Ketakutan kemudian mencekam seluruh isi kota. Pemerintah mulai melakukan karantina bagi para penderita kebutaan.
Sayangnya, orang buta semakin bertambah dibandingkan jumlah yang tidak buta. Gedung karantina semakin disesaki orang-orang. Para tentara penjaga, pimpinan mereka, pimpinan dari pimpinan mereka pun turut mengalami kebutaan. Tak ada lagi pasokan makanan, minuman dan obat-obatan.
Ditambah lagi sebagian penghuninya mulai berulah menunjukkan taring demi mendapatkan kebutuhan dasar. Pembunuhan dan pemerkosaan tak terhindarkan. Mayat mulai bergelimpangan. Kotoran manusia berserakan di mana-mana. Keadaan di gedung karantina akhirnya semakin kacau. Barangkali itulah neraka dunia menurut mereka.
Di tengah-tengah kondisi ini, sekelompok orang bekerjasama demi bertahan hidup; seorang dokter mata dan istrinya, gadis berkacamata hitam, lelaki tua bertampal mata hitam, bocah juling, serta lelaki buta pertama dan istrinya.
Untungnya, istri dokter tidak mengalami kebutaan. Entah apa penyebabnya, tidak ada yang tahu, hanya dia yang tidak buta. Sampai akhirnya gedung karantina itu terbakar.
Berhasilkah kelompok ini keluar? Bagaimana selanjutnya nasib mereka di tengah-tengah ganasnya manusia yang saling sikut untuk bertahan hidup? Apakah kebutaan ini bisa sembuh? Ataukah istri dokter akan mengalami kebutaan juga? Lalu, apa penyebab kebutaan mendadak itu?
Ada banyak sekali pertanyaan yang membutuhkan jawaban ketika saya mulai membaca sepertiga buku ini. Buku ini sangat keren.
“Katakan kepada orang buta, kau bebas. Bukalah pintu yang memisahkannya dari dunia. Pergilah, kau bebas. Kita bilang kepadanya sekali lagi, dan ia tidak juga pergi, tetap mematung di tengah jalan sana. Dia dan yang lainnya, mereka ketakutan. Mereka tak tahu harus pergi ke mana.
Faktanya memang lain antara tinggal di sebuah labirin rasional yang, per definisi, adalah rumah sakit jiwa, dan nekat hengkang, tanpa ada tangan atau seutas tali anjing yang memandu, ke labirin edan kota. Di sana ingatan takkan berguna, karena cuma mampu memanggil kembali citra tentang tempat-tempat, namun bukan jalur-jalur yang memungkinkan kita mencapainya.”
(halaman 319)
Blindness merupakan sebuah distopia yang idenya sangat unik dan menarik. Ketika menamatkan buku ini, saya sempat terdiam beberapa saat, merenungkan kembali makna dari cerita yang disuguhkan Saramago. Mengerikan!
Iya, mengerikan, karena setelah membacanya, saya tidak berani membayangkan jika apa yang dialami dokter mata dan teman-temannya itu terjadi juga pada diri kita. Ya Allah, semoga saja tidak.
Kritik Sosial
Membaca novel ini membuat saya menyadari banyak hal. Bahwa ide-ide dan kritik sosial yang disisipkan Saramago benar adanya.
Pertama, manusia saat ini sudah sangat terlena dari kenyamanan hidup tanpa memedulikan keberadaan orang lain yang turut andil di dalam kehidupan kita yang nyaman itu. Kita lupa bahwa untuk mengalirkan air bersih ke kran-kran di rumah kita harus ada orang yang menyaringnya agar bersih dan membuka atau menutup kran distribusi.
Sama halnya dengan pasokan listrik, harus ada orang yang mengelola jaringan-jaringan dan cadangan agar kita tetap bisa menikmati betapa nyamannya mandi dengan air hangat, betapa mudahnya memasak nasi dengan listrik, atau sekedar membaca di penerangan yang memadai. Semua itu membutuhkan mata dan keberadaan orang agar terwujud.
Kedua, bahwa kebutaan fisik tidak seharusnya diikuti dengan kebutaan hati. Inilah yang membedakan manusia satu dengan lainnya, bahkan dengan hewan. Di tengah himpitan yang sangat berat, manusia akan tampil menjadi dirinya yang sebenarnya. Tanpa berpura-pura. Jika hati buta, apatah lagi yang bisa diharapkan?
“… bahkan dalam kemalangan yang paling parah pun masih mungkin menemukan cukup kebaikan untuk sanggup menanggungkan segala kemalangan tersebut dengan sabar.” (halaman 223)
“Sebab hati yang bersamanya kita hidup dan yang mengizinkan kita hidup sebagaimana adanya.” “Tanpa mata, hati akan jadi sesuatu yang lain. Kita tak tahu bagaimana, kita tak tahu apa itu, katamu kita mati karena kita buta.” (halaman 371)
“Dalam diri kita ada sesuatu yang tak bernama. Sesuatu itulah diri kita yang sebenarnya.” (halaman 407)
Selain pesan di atas, ada satu wacana yang cukup menggelitik. Di dunia kita saat ini, para produsen makanan instan membanjiri pasar dan supermarket dengan berbagai produk makanan olahannya. Makanan yang dikalengkan, yang diberi pengawet atau yang cepat saji barangkali akan memunculkan isu kesehatan yang cukup serius.
Ada yang pro, ada yang kontra. Tapi, keadaan seperti di negara tak bernama itu akan menuntun kita berkesimpulan bahwa makanan terbaik saat itu adalah makanan kaleng dan siap saji karena jauh lebih mudah bagi negara yang seluruh rakyatnya mengalami kebutaan.
“Namun kearifan popular cepat sekali menyebarkan ungkapan yang hingga batas tertentu tak terbantahkan, senada dengan ungkapan lain yang sudah jarang dipakai lagi, apa yang tak terlihat mata tidaklah menyedihkan hati. Sekarang orang sering bilang, mata yang tak melihat punya perut yang kuat, yang menjelaskan kenapa mereka memakan begitu banyak sampah.” (halaman 387)
Blindness ditulis oleh penulis asal Portugal yang meraih penghargaan Nobel Prize in Literature tahun 1998. Jose Saramago adalah seorang ateis. Karyanya yang berjudul “The Gospel According to Jesus Christ and Cain” bahkan mendapat kritik dari pihak gereja karena mengandung satire dan kutipan alkitab untuk menggambarkan sosok Tuhan dengan cara yang tidak tepat.
Ia juga pernah mengutuk Israel atas apa yang terjadi di Ramallah, Palestina. Novel-novelnya yang lain juga dikenal banyak mengandung kritik atas politik dan kemanusiaan.
Terlepas dari kehidupan pribadi penulis, novel Blindness ini memang sangat keren. Empat bintang saya berikan ratingnya. Novel ini juga sudah diadaptasi ke layar lebar. Sayangnya, sekuel yang berjudul Seeing belum diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Semoga suatu saat bisa membaca sekuelnya juga.
Peringatan: Beberapa adegan di buku ini mengandung kevulgaran yang membuat saya cukup tidak nyaman sehingga banyak yang saya skip.
Judul: Beyond Sherlock Holmes Penulis: Muthia Esfand Penerbit: Visimedia ISBN: 978-979-065-216-3 Tebal: 158 halaman Tahun terbit: 2014 Cetakan: Pertama Genre: Nonfiksi Rating: 3/5
“Imajinasi seperti pedang bermata dua, yang bisa bermanfaat jika digunakan dengan bijak.” (Hercule Poirot)
Setiap penyuka cerita detektif tentu pernah mengalami rasa penasaran tentang bagaimana penulis kesukaan mereka bisa menulis karyanya dengan sangat meyakinkan. Kasus demi kasus dipecahkan dengan analisa dan pendekatan yang tepat.
Sebut saja Sir Arthur Conan Doyle dan Agatha Christie, dua dari penulis fiksi detektif dunia yang sangat terkenal. Membaca karya-karya mereka membuat kita bertanya-tanya, apakah mereka benar-benar memecahkan kasus juga di dunia nyata? Dari mana mereka mendapatkan inspirasi karya mereka?
Seperti yang dikatakan oleh Hercule Poirot, bahwa imajinasi bisa bermanfaat dan bisa tidak, maka sebuah fakta pun memiliki dua sisi mata pedang yang berbeda; bisa bermanfaat, bisa juga tidak.
Fakta bisa digunakan untuk sebuah karya yang membumi dan berguna bagi orang lain, atau secara ekstrem menjadikannya bagian dari kehidupan nyata, seperti yang dilakukan oleh beberapa penulis fiksi detektif dunia.
Bayangkan apa jadinya bila para penulis detektif tersebut benar-benar ikut memecahkan kasus hukum di dunia nyata. Apakah mereka akan sepiawai tokoh-tokoh fiksi mereka? Nah, di buku Beyond Sherlock Holmes karya Muthia Esfand inilah fakta-fakta tersebut dikupas.
Barangkali kita pernah mendengar kasus menghilangnya Agatha Christie selama 11 hari. Seolah cerita fiksi, kasus ini masih meninggalkan misteri yang tidak terpecahkan dan menyisakan spekulasi demi spekulasi dari orang-orang di sekitarnya. Atau Sir Arthur Conan Doyle, yang ternyata sangat antusias ketika dimintai bantuan dalam penyelidikan kasus pembunuhan di Queens Terrace.
Bertahun-tahun Doyle mengikuti perkembangan kasus tersebut tanpa hasil dan tetap menyuarakan analisa-analisanya. Ada 7 penulis detektif dunia yang dikupas di buku ini. Selain dua penulis di atas, ada juga Edgar Allan Poe, Dorothy L. Sayers, PD James, Patricia Cornwell dan Steve Hodel, yang kesemuanya memiliki andil dalam kasus-kasus di dunia nyata. Seperti apa sih kisah nyata mereka?
“Jadi, mengapa tidak memakai kacamata seorang penulis cerita detektif dalam menelusuri kebenarannya?” (halaman 87)
Muthia Esfand lagi-lagi berhasil memukau saya lewat Beyond Sherlock Holmes-nya. Seperti biasa, gayanya bercerita selalu asyik dan menyenangkan. Rangkaian katanya acapkali membuat saya tanpa terasa melahap lembar demi lembar karyanya sampai habis.
Iya, gaya penulisannya selalu enak bagi saya. Selain gaya penceritaannya yang saya suka, buku ini juga memberikan banyak informasi baru bagi saya terkait kehidupan di balik fiksi para penulis detektif dunia. Menyuguhkan tak hanya fakta, Muthia Esfand juga menyediakan berbagai gambar dokumen yang berkaitan dengan kasus hukum yang sedang diikuti oleh penulis detektif tersebut.
Kekurangannya bagi saya hanya satu, kurang tebal dan kurang banyak, haha. Buku ini menyisakan pertanyaan dalam diri saya, “Apakah penulis detektif lainnya pun demikian?”
Yah, barangkali menjadi PR bagi pembaca fiksi detektif untuk mencari tahu fakta-fakta lainnya di balik kehidupan para penulis cerita detektif dunia, sebab inspirasi biasanya datang dari orang-orang atau keadaan di sekitar kita sendiri.
“Setelah berhasil meyakinkan pembaca dengan kasus-kasus fiktif dalam novel karangan mereka, kasus nyata yang tak terpecahkan menjadi semacam tantangan tersendiri untuk mereka pecahkan, …” (halaman 108-109)
Sebagai penyuka cerita detektif, barangkali hampir seperempat bagian rak buku fiksi saya diisi dengan genre detektif, kriminal, dan sejenisnya, dari yang ringan seperti Lima Sekawan-nya Enid Blyton, sampai dengan yang berat sekaliber John Grisham.
Bahkan, rak komik pun sebagian besar diisi cerita-cerita detektif seperti Detektif Conan, Kindaichi, Q.E.D, dan komik lainnya yang tak kalah menarik. Karena hal ini, banyak yang bertanya kepada saya apakah saya tidak bosan dengan cerita detektif yang sebegitu banyak?
Well, tentu saja tidak. Bagi saya, sesering apapun dibaca, cerita detektif akan tetap menyuguhkan teka-teki, misteri, dan rasa penasaran yang hanya akan terpuaskan ketika dibaca sampai habis. Dan buku Beyond Sherlock Holmes ini sangat layak dikoleksi oleh para penyuka fiksi detektif.
Judul: Pohon Cemas Judul Asli: The Worry Tree Penulis: Marianne Musgrove Penerjemah: Dini Andarnuswari Penerbit: Atria ISBN: 978-979-1411-56-1 Tebal: 122 halaman Tahun terbit: November 2008 Cetakan: Kesatu Genre: Fiksi Anak Rating: 3/5
Setiap kali Juliet merasa cemas, kulitnya akan terasa gatal dan muncul ruam. Ia menjadi mudah suntuk dan merasa terbebani. Sayangnya akhir-akhir ini, ada banyak hal yang membuat Juliet cemas.
Misalnya saja Oaf, adiknya yang suka iseng, sering sekali membuat ulah yang menyebalkan. Belum lagi orangtua Juliet yang sedang sering bertengkar dan neneknya yang mudah marah-marah. Juga teman-temannya, Gemma dan Lindsay, yang saling berebut persahabatan dengannya.
Lengkaplah sudah masalah yang dihadapi Juliet. Ruam di kulitnya semakin sering saja muncul.
Juliet kemudian menemukan sebuah gambar di balik wallpaper kamarnya. Sebatang pohon dan enam hewan yang bertengger di setiap cabangnya. Ternyata itu dulu gambar yang dipasang oleh neneknya sewaktu kecil. Wah, sudah lama sekali, ya!
Nenek Juliet menyebutnya pohon cemas karena, setiap kali merasa cemas, neneknya akan ‘curhat’ kepada pohon cemas. Juliet pun akhirnya mengikuti cara neneknya untuk menjadikan pohon cemas dan hewan-hewan tersebut sebagai temannya.
Suatu ketika, Dad dan Mum, orangtua Juliet, bertengkar hebat gara-gara Dad belum membereskan barang-barang bekas miliknya yang teronggok di lorong rumah. Barang-barang itu dulunya berada di kamar Juliet yang sebelumnya merupakan ruang kerja Dad.
Selain itu, Oaf dan Juliet sedang heboh-hebohnya bertengkar, tidak mau menuruti perintah Mum. Pecahlah amarah Mum yang akhirnya merembet pada hal-hal lain. Juliet merasa ini semua salahnya. Bagaimana, ya, cara Juliet menyelesaikan masalah itu?
Efek Psikologi bagi Anak
Novel The Worry Tree alias Pohon Cemas ini memiliki banyak sekali pesan yang bisa dipetik oleh setiap keluarga, terutama tentang psikologi anak dan interaksi sosial antara anggota keluarga. Saya merasa mengupas substansinya lebih penting dibandingkan hanya ulasan biasa.
Kalau melihat dari sisi tokoh utamanya, Juliet, seorang anak usia SD yang cukup kritis dan cerdas, kita bisa memahami bagaimana efek psikologis situasi rumah tangga terhadap anak-anak.
Ketika anak mendengar atau melihat orangtuanya bertengkar, meskipun bagi orang dewasa itu hanyalah perdebatan mulut semata, umumnya anak akan merasakan cemas dan khawatir bila kata-kata ‘cerai’, ‘perpisahan’ dan sejenisnya tercetus dari bibir orangtua mereka.
Contohnya seperti yang dialami Juliet. Ia sangat khawatir jika Dad dan Mum mulai mempersoalkan hal-hal yang tidak sejalan karena Juliet tahu akan ada pertengkaran setelah itu. Ini menjadi semacam momok bagi anak.
Selain itu, kita juga bisa belajar tentang sikap sebuah keluarga ketika menghadapi perubahan. Bahwa dibutuhkan pilihan-pilihan yang bijaksana untuk dijadikan solusi atas perubahan yang terjadi. Kalau di novel ini, perubahan yang mereka alami adalah masalah pergantian ruang kerja Dad menjadi kamar Juliet yang dadakan.
Juliet ingin sekali memiliki kamar sendiri, tidak tidur bersama Oaf yang usil lagi, tetapi solusi atas dampak dari perubahan itu haruslah tepat agar masalah-masalah tidak muncul setelahnya.
Contoh lainnya adalah masalah neneknya Juliet yang masih belum bisa menyesuaikan diri dengan keadaannya yang sudah tua. Di sinilah sebuah keluarga dituntut agar tanggap terhadap variabel perubahan. Hal-hal seperti perubahan ini tentu banyak kita alami di dunia nyata. Beda kasus pasti beda penanganannya.
Poin-poin tentang pelajaran untuk keluarga inilah yang menurut saya menjadi salah satu kelebihan dari novel The Worry Tree.
Titik Kritis Novel The Worry Tree
Yang menjadi poin kritis saya atas buku ini adalah ide tentang pohon cemasnya yang dijadikan judul utama. Di novel ini diceritakan bahwa setiap kali Juliet merasa cemas, ia akan mencurahkan kecemasannya kepada pohon cemas, kemudian menceritakan uneg-unegnya kepada gambar hewan-hewan yang bertengger di pohon tersebut.
Akibat dari aktivitas ini, Juliet merasa hewan-hewan di pohon cemas itu mengerti apa yang dirasakannya. Menurut saya, konsep pohon cemas ini berpotensi mengarahkan anak-anak berimajinasi yang berlebihan, dan sebaiknya tidak untuk ditiru. Mengapa?
Anak-anak membutuhkan tempat atau media untuk mencurahkan keluh kesahnya, kecemasannya, uneg-uneg atau masalahnya. Dalam hal ini tentu saja alangkah lebih baik jika tempat atau media itu adalah orang-orang yang ada di sekitarnya, terutama orangtua.
Orangtua ibarat pusat tata surya di dalam rumah. Merekalah titik pusat ke mana setiap anggota keluarga akan mengarah. Anak-anak yang menjadikan orangtuanya sebagai teman dan media untuk mencurahkan perasaannya akan memiliki hubungan yang sangat berkualitas. Bayangkan bila anak-anak Anda lebih dekat dengan pohon cemas ketimbang orangtua, apa jadinya?
Secara karakter, hal ini juga rasanya kurang baik bagi perkembangan anak. Pohon tetaplah pohon. Gambar tetaplah gambar. Menjadikan gambar atau benda lainnya sebagai media curhat anak lambat laun akan mengarahkan anak kepada imajinasi tentang teman khayalan.
Anak akan memiliki dunianya sendiri yang akan sulit dimasuki orangtua. Iya kalau hanya sebatas curhat belaka. Siapa yang bisa menjamin jika suatu saat kelak anak tidak akan meminta sesuatu melalui pohon cemas? Yang seperti ini, menurut buku Misteri Alam Ghaib, bisa menjadi celah yang rawan disusupi jin ataupun syaitan dan tentunya akan berdampak negatif bagi anak-anak.
Jika tidak ada orangtua sebagai media karena alasan-alasan tertentu, anak juga bisa menjadikan teman-temannya atau orang-orang dewasa lainnya yang terdekat sebagai media bersosialisasi terkait masalah yang mereka hadapi.
Contohnya seperti yang ada di novel The Worry Website karya Jacqueline Wilson, di mana setiap siswa bisa mencurahkan uneg-uneg atau masalahnya di sebuah situs yang dimediasi oleh orang dewasa.
Masalah mereka bisa ditanggapi oleh teman-temannya tanpa perlu tahu siapa orangnya. Atau dalam bentuk buku harian dan semacamnya. Ada banyak model yang lebih baik sebagai pilihan.
Jika yang lain pun tidak ada sebagai tempat meluapkan perasaan dan masalah, masih ada Allah yang bisa menjadi pilihan. Tentu akan lebih bagus lagi jika anak diperkenalkan konsep bahwa Allah adalah sebaik-baik tempat berkeluh kesah, mengadu dan memohon.
Pastinya hal ini diajarkan sesuai dengan tingkat pemahaman anak, dengan bahasa anak-anak, agar mereka dapat memahaminya dengan mudah dan menyenangkan.
Manajemen Masalah
Selain poin-poin di atas, novel ini juga mengajarkan kepada orangtua untuk bisa memberikan pemahaman kepada anak terkait manajemen masalah. Bahwa tidak semua masalah itu harus dihadapi anak-anak dan menjadi beban mereka.
Terkadang anak-anak akan merasa bahwa apa yang terjadi di sekitarnya itu membutuhkan mereka untuk ikut andil. Nyatanya ‘kan tidak. Sesuaikan porsinya. Makanya menjadi penting bagi orang dewasa untuk menahan diri ketika terjadi masalah agar tidak selalu diketahui oleh anak-anak.
“Dia tak pernah berpikir ada hal-hal yang bukan menjadi masalahnya. Dia kira, semua hal adalah masalahnya, bahkan jika bukan dia yang menyebabkan masalah itu terjadi.” (halaman 103)
Anak-anak juga perlu mengalami masalah sesuai porsinya agar ia mampu menghadapinya dengan kemampuan sendiri, tidak cengeng, tidak panik dan ketakutan. Hal ini akan menumbuhkan rasa kepercayaan dirinya.
Jika anak selalu dilindungi dari masalah, selalu dibiarkan terhindar dari konflik, ini juga kurang baik untuk perkembangan mentalnya. Di sinilah pentingnya manajemen masalah bagi anak.
Sementara semua orang mondar-mandir untuk mengambil lilin dan kue, Juliet menangkap sekilas bayangan dirinya sendiri dalam cermin: tak ada plester melekat di jadi-jarinya, tak ada ruam menyebar di wajahnya, dan tak ada garis V menetap di antara alisnya.
Yang ada hanya seorang anak perempuan berpostur sedang dengan rambut cokelat sedang, kaki berukuran normal, dan senyum yang sangat lebar. “Aku adalah seseorang yang mampu,” katanya pada diri sendiri. “Aku adalah seseorang yang mampu menangani masalah apa pun.”
(halaman 110)
Sebenarnya masih banyak lagi hikmah lainnya yang bisa kita cuil dari buku ini. Yang saya paparkan di atas hanyalah sebagian saja yang menurut saya penting untuk diulas, terutama poin kritis yang saya tidak sependapat.
Semoga ulasan saya ini tidak membosankan Anda dan tidak terlalu dianggap sebagai spoiler hehe.
Judul: Misteri Alam Ghaib Judul Asli: At-Tahdziru min asy-Syaithan Penulis: Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab al-Wushabiy al-‘Abdaliy Penerjemah: Abu Thahir Penerbit: Daar Ibnu ‘Abbas ISBN: 9789791244381 Tebal: 266 halaman Tahun Terbit: 1435 H / 2014 Genre: Agama Islam, Aqidah dan Tauhid Rating: 3/5
Allah Ta’ala di dalam Al-Qur’an telah menyebutkan secara gamblang dan sejelas-jelasnya bahwa syaithan adalah musuh bagi kita, musuh yang sangat nyata. Bahkan, ada banyak sekali hadits shahih rasulullah Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan tentang alam ghaib seputar jin dan syaithan sebagai dalil pendukung ayat-ayat Al-Qur’an yang bercerita tentang dunia jin dan syaithan.
Semua ini tentunya ditujukan kepada umat Islam untuk dipelajari dan dipahami agar kita bisa menjauhi apa-apa yang menjadikan kita sebagai sahabat syaithan, sebab kata Allah ta’ala di dalam kitab-Nya, bahwa sahabat atau pengikut syaithan itu tempatnya di neraka.
“Sesungguhnya syaithan adalah musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia musuh (kalian), sesungguhnya syaithan itu mengajak para pengikutnya agar menjadi penghuni neraka (sa’ir) yang menyala-nyala” (QS. Fathir : 6)
Masalahnya, dalil demi dalil tersebut mungkin bagi sebagian kita agak kesulitan untuk mencarinya karena keterbatasan ilmu. Umumnya sebagian kita saat ini, jika ingin belajar ilmu aqidah tentang alam ghaib atau mencari dalil terkait hal tersebut, kita cenderung mencarinya di internet. Lebih cepat dan mudah.
Meskipun begitu, ada banyak juga yang mencari informasi tersebut lewat buku-buku bertema tentang alam ghaib. Pertanyaannya adalah, “Apakah sumber internet dan buku yang kita pakai itu sudah shahih dan tepat?” Bisa iya, bisa tidak. Maka menjadi hal penting untuk mencari informasi atau belajar aqidah dari sumber-sumber yang shahih.
Nah, buku Misteri Alam Ghaib yang disusun oleh Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab al-Wushabiy al-‘Abdaliy ini bisa menjadi salah satu jawaban bagi kita. Buku ini merupakan satu dari sekian banyak referensi shahih bagi kaum muslimin yang ingin mempelajari ilmu seputar jin dan syaithan. Penulis membagi buku ini menjadi 14 bab. Mulai dari pengenalan terhadap apa itu jin dan syaithan, sifat-sifatnya, amalan-amalan syaithan, sampai kaitannya dengan manusia disusun secara lengkap dan runut oleh penulis.
Kelebihan buku ini selain hanya mencantumkan dalil-dalil shahih, juga terletak pada sistematika penyusunan dan pengelompokkan tema pembahasan sehingga pembaca akan sangat mudah mencari topik-topik tertentu dari daftar isi. Selain itu, penulis juga tidak hanya mengumpulkan berbagai ayat dan hadits yang menunjukkan segala informasi tentang jin dan syaithan, tetapi juga atsar dan faedah-faedah dari berbagai risalah yang juga diketahui berasal dari sumber yang shahih. Beberapa hadits dhaif yang banyak beredar di masyarakat juga dibahas di buku ini dengan tujuan agar umat Islam bisa menghindarinya.
Barangkali, satu-satunya kekurangan yang saya rasakan, menurut saya pribadi, adalah ketiadaan penjelasan tambahan dari dalil yang ada. Buku ini hanya mencantumkan kumpulan dalil terkait tema alam ghaib, tidak ada penjelasan lainnya, sehingga bagi kita yang pemula mungkin membutuhkan referensi tambahan atau guru untuk penjelasan yang lebih memadai agar tidak salah paham. Walaupun begitu, tidak semua dalil memerlukan penjelasan. Mayoritas dalil bisa kita pahami hanya dengan membaca redaksinya saja, sebab di dalamnya sudah tercakup penjelasan yang cukup memadai.
Saya pribadi menjadi lebih terbuka cakrawalanya tentang alam ghaib setelah membaca buku ini. Masih banyak hal-hal yang ternyata kita tidak tahu tetapi sering bersinggungan dengan kehidupan kita sehari-hari terkait alam ghaib ini. Mimpi, makan dan minum, buang air, berpakaian, serta berbagai aktivitas keseharian manusia tak luput dari jerat syaithan. Contohnya seperti penyakit infeksi lambung, seorang lelaki yang marah kepada istrinya, keragu-raguan manusia, lupa dan tidak konsentrasi, atau hal-hal lainnya ternyata berasal dari syaithan untuk menggiring kita agar salah jalan, agar tergoda, dan ujung-ujungnya menjadi teman mereka di neraka.
Bagi penuntut ilmu atau mereka yang membutuhkan referensi tentang alam ghaib, buku ini sangat saya rekomendasikan. Buku ini bisa menjadi semacam indeks untuk mencari ayat atau hadits seputar tema alam ghaib. Bagi pemula pun buku ini sangat bisa dijadikan sebagai bahan belajar karena isinya sangat lengkap dan bermanfaat untuk mengetahui apa yang boleh dan apa yang tidak boleh kita lakukan agar terhindar dari godaan dan gangguan syaithan. Semoga dengan membaca buku Mister Alam Ghaib ini, kita jadi lebih mawas diri dalam setiap langkah kehidupan kita. Aamiin.
salah satu halaman daftar isi buku Misteri Alam Ghaib (dok. pribadi)
*Ulasan ini diikutsertakan pada proyek battle challenge #31HariBerbagiBacaan
Judul: Dari Arsip Campur Aduk Mrs. Basil E. Frankweiler Judul Asli: From the Mixed-up Files of Mrs. Basil E. Frankweiler Penulis: E.L. Konigsburg Penerjemah: Cuning K. Goenadhi Penerbit: Gramedia Pustaka Utama ISBN: 978-979-22-2773-4 Tebal: 200 halaman Tahun terbit: April 2007 Genre: Fiksi Anak Rating: 4/5
Merasa dirinya selalu melakukan hal yang sama setiap harinya, monoton, dan diperlakukan tidak adil, Claudia memutuskan untuk kabur dari rumah. Ia ingin memberi pelajaran kepada orangtuanya. Tapi, bukan Claudia namanya kalau harus kabur tanpa rencana yang matang. Ia ingin kabur dengan nyaman.
leh karena itu, ia memilih kabur ke Museum Seni Metropolitan, New York, yang memiliki tempat luas dan banyak area untuk dieksplorasi. Claudia menabung uangnya dan mengajak adiknya Jamie. Selain Jamie mudah diajak kerjasama, ia juga anak yang cerdik, terutama pelit, sehingga sudah pasti uang celengannya banyak.
Mereka pun kabur sebelum jam pelajaran sekolah dasar dimulai. Seperti rencana mereka, dengan membawa kotak biola dan trompet yang diisi pakaian, mereka berpura-pura masuk ke museum sebagai pengunjung, lalu bersembunyi di sana sampai museum itu tutup.
Menjelajahi ruang demi ruang, mempelajari sejarah demi sejarah seni, tidur di tempat tidur antik dari abad keenam belas, sampai mandi di kolam pancur, semua itu dilakukan oleh Claudia dan Jamie dengan sangat hati-hati tanpa melupakan kesenangan berpetualang.
Masalahnya, Claudia tidak puas hanya sampai di situ saja. Mereka kemudian menemukan sebuah patung yang sangat indah. Claudia sampai terpukau melihatnya dan merasa ada sesuatu yang berbeda dengan patung itu. Menurut para ahli, tidak ada yang tahu siapa pemahatnya dan apakah patung tersebut asli atau palsu.
Claudia merasa dirinya harus memecahkan misteri patung tersebut. Patung itu akan menunjukkan alasan penting mengapa ia melakukan semua ini dan tidak akan pulang sebelum ia menemukan apa hal penting itu. Patung apa, ya, sebenarnya itu? Dan siapa, sih, Mrs. Basil E. Frankweiler yang disebut-sebut di judul buku ini?
“Rahasia adalah petualangan yang dibutuhkannya. Memiliki rahasia itu aman, dan membuatmu merasa berbeda. Merasa berbeda di dalam hati.”
(halaman 171)
Penerima Banyak Penghargaan
Kisah “Dari Arsip Campur Aduk Mrs. Basil E. Frankweiler” ditulis oleh E.L. Konigsburg pertama kali tahun 1967. Sejak diterbitkannya, buku ini banyak disukai oleh pembaca dari segala usia.
Uniknya, meskipun ditulis di tahun 1967, tetapi perasaan dan suasana yang kita rasakan ketika membaca buku ini hampir tidak ada bedanya dengan masa yang lebih modern.
Saya hampir tidak menyadari perbedaan waktu yang cukup jauh tersebut. Padahal, kalau kita mau membandingkan latar di tahun 1967 tentu akan sangat jauh berbeda dengan tahun 2000 ke atas.
Perbedaan itu tidak terlihat di karya penulis Amerika yang satu ini. Kalau boleh saya menyebutnya semacam karya yang evergreen, barangkali, relevan sampai kapan pun.
Dari Arsip Campur Aduk Mrs. Basil E. Frankweiler memenangkan Newberry Award tahun 1968 untuk kategori American children’s literature. Buku ini juga masuk di dalam daftar Teachers’ Top 100 Books for Children berdasarkan polling tahun 2007 oleh Asosiasi Pendidikan Nasional Amerika Serikat.
Selama bertahun-tahun, E.L. Konigsburg mendapatkan banyak kiriman surat dari para pembaca, terutama anak-anak, yang memberinya masukan, pertanyaan, dan juga permintaan untuk membuat sekuelnya.
Tentu saja tidak akan ada sekuel dari buku ini karena penulis mengharapkan kisah Claudia dan Jamie akan bertahan sampai puluhan tahun yang akan datang.
Edisi yang diterbitkan tahun 2007 ini merupakan edisi ulang tahun ke-35. Saya merasa bahagia membaca kisah kakak beradik Claudia dan Jamie di buku ini. Selain karena ringan, buku ini membahas tema tentang dunia arsip dan sejarah, yang tentu saja sangat berhubungan dengan bibliografi.
Ceritanya juga ditulis dengan sangat rinci. Saya bisa merasakan petualangan dan debaran jantung mereka ketika harus bersembunyi di museum. Seru pastinya!
Ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari karakter Claudia dan Jamie yang cukup bagus untuk bahan pembelajaran anak-anak. Bahwa seorang anak sekali pun membutuhkan sesuatu yang membuat mereka merasa dirinya istimewa dan layak dihargai.
Dan bahwa berpetualang menemukan hal-hal baru adalah sesuatu yang perlu dipertimbangkan oleh orangtua untuk tumbuh kembang anak agar aktivitas mereka tidak monoton.
Judul: Junie B. Jones and Her Big Fat Mouth Penulis: Barbara Park Penerbit: Random House ISBN: 9780679844075 Tebal: 74 halaman Tahun terbit: 1993 Bahasa: Inggris Genre: Fiksi Anak Rating: 3/5
Hari Senin adalah Job Day di sekolah Junie B. Jones. Anak-anak diwajibkan memakai pakaian atau kostum profesi sesuai cita-cita yang ingin digelutinya ketika besar nanti.
Menjelang hari H, anak-anak ruangan sembilan, kelasnya Junie B., sudah mulai heboh membicarakan profesinya masing-masing. Malangnya Junie B., dia belum memiliki gambaran kalau besar nanti mau jadi apa.
Salah satu temannya, Roger, ingin menjadi sipir penjara dengan kunci-kunci yang begitu banyak. Junie B. pun ikut-ikutan ingin jadi penjaga penjara.
Temannya yang lain, William, ingin menjadi superhero. Tebak apa? Junie B. tak ingin ketinggalan mau jadi superhero juga. Teman-temannya kemudian mengolok-olok Junie B. karena ikut-ikutan. Sudah tentulah, ya, bukan Junie B. namanya kalau dia mengalah.
“I am just being one job!” I said very angry. “It’s a special kind of job where you paint and you unlock stuff and you save people! So there! Ha-ha on you!”
(halaman 25-26)
Kostum apa yang akan ia pakai nanti di hari Senin? Junie B. Jones ingin jadi pelukis, penjaga kunci, dan menyelamatkan orang-orang, semua dalam satu pekerjaan. Hmmm … Kira-kira pekerjaan apa yaaa itu?
Seri ketiga ini mengangkat tema profesi bagi anak. Biasanya anak-anak memiliki daya imajinasi yang sangat tinggi. Profesi yang dilihatnya di televisi atau lingkungannya akan dengan sangat mudah diserap dan ditiru.
Iya, kalau yang ia lihat profesi seperti dokter, polisi, guru dan sejenisnya. Bagaimana pula dengan acara-acara televisi yang berbau fantasi seperti superhero, bisa terbang, menolong orang, dan semacamnya, cenderung lebih mudah lagi untuk ditiru anak.
Makanya tak heran kita sering melihat anak-anak yang punya cita-cita ingin menjadi Superman, Micky Mouse, Batman, dan lain-lain karena begitu kagumnya mereka terhadap karakter-karakter tersebut. Ini tentunya butuh kontrol orangtua dan guru untuk memberikan pemahaman yang baik.
Seperti seri-seri sebelumnya, di seri ini pun saya menemukan banyak istilah-istilah kasar dan tidak sopan bagi anak-anak, yang menurut saya ini menjadi satu kekurangan. Dan lagi-lagi, saya tidak merekomendasikan ini untuk dibaca oleh anak-anak secara langsung.
Lebih baik diceritakan kembali oleh orangtua sehingga anak-anak tidak perlu membaca atau mengetahui istilah-istilah kasar tersebut. Buku ini lebih cocok dibaca oleh orang dewasa. Atau setidaknya, jika untuk anak-anak, yang usianya sudah bisa membedakan benar dan salah.
Tapi, dilihat dari segi cerita dan penggambaran karakter anak-anak yang polos, yang pada kenyataannya di sekolah sering terjadi hal-hal seperti ini, saya pribadi sangat suka dengan buku ini.
Buku ini menampilkan isu di seputar anak-anak apa adanya. Ceritanya ringan, seru dan kocak membuat saya sesekali geli sekaligus gemas dengan karakter Junie B. Jones. Dan, bagi orangtua, ada banyak hal yang bisa dipelajari dari serial ini.