kitab al-ilmiJudul: Kitab Al-Ilmi
Judul Asli: Kitabul Ilmi
Penulis: Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Alih Bahasa: Ummu Muhammad Husna
Penerbit: Gema Ilmu
ISBN: 978-979-25744-0-1
Tebal: 412 hlm
Genre: Agama Islam, Pendidikan Islam
Rating: 4/5

Menemukan informasi buku ini secara tak sengaja adalah berkah tersendiri bagi saya. Saya yakin, tak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua hal yang kita alami tentu sudah Allah kehendaki, termasuk ketika saya memperoleh informasi tentang buku ini. Saat itu, saya melihat sebuah foto yang diupload oleh teman Facebook saya. Sebenarnya fokus foto yang diupload tersebut adalah foto makanan, namun justru latar di belakangnya lah yang membuat saya tertarik, yang menampilkan foto sebagian dari sebuah buku. Hanya judulnya saja yang tampak jelas, Kitab Al-Ilmi. Saya pun lantas benar-benar penasaran, lalu mencari informasi di internet sekaligus toko online yang menjualnya. Alhamdulillah, dapat! Butuh waktu tiga hari bagi saya untuk membaca buku ini sampai selesai.

Kitab Al-Ilmi merupakan buku panduan bagi para penuntut ilmu. Lebih spesifiknya lagi yang dibahas di dalamnya adalah ilmu syar’i. Apa sih arti ilmu itu? Menurut buku ini, secara bahasa, ilmu adalah pengetahuan, lawan dari kebodohan (jahl). Sedangkan ilmu syar’i adalah segala sesuatu yang diturunkan Allah Ta’ala kepada Rasul-Nya berupa keterangan-keterangan dan petunjuk.

Nah, penuntut ilmu yang dimaksud oleh buku ini adalah mereka-mereka yang memang khusus belajar untuk menuntut ilmu syar’i, yang nantinya akan menjadi ahli ilmu atau cendekiawan Islam yang kompeten dalam menerjemahkan syariah dan ijtihad. Tapi, bagi pembaca yang awam alias bukan penuntut ilmu syar’i secara khusus, jangan merasa kecil hati dulu, sebab sebenarnya isi dari buku ini tetap sangat kita butuhkan sebagai panduan awal kita bila ingin belajar Islam atau ilmu syar’i secara lebih baik lagi. Bagaimanapun, ilmu syar’i sangat kita butuhkan untuk diri kita sendiri maupun keluarga kita sebagai panduan dalam beribadah, bermuamalah dan melangkah di dunia ini agar selamat di akhirat. Dengan membaca Kitab Al-Ilmi, setidaknya kita jadi mengetahui arahan-arahan yang benar dalam mempelajari ilmu syar’i, baik lewat buku maupun guru, sehingga kita tetap berada di jalur yang tepat.

“Barangsiapa yang diinginkan kebaikan baginya maka Allah pahamkan agama kepadanya.” (HR. Bukhari)

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Saya membaca Kitab Al-Ilmi sebagai orang awam karena memang saya masih awam dengan ilmu syar’i. Masih begitu banyak hal yang belum saya ketahui. Sengaja di awal saya berikan penjelasan di atas agar pembaca bisa menangkap manfaat dari penjabaran buku ini nantinya. Jadi, apa saja yang dibahas oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Kitab Al-Ilmi?

Pembahasan

Yang pertama adalah tentang keutamaan ilmu. Tak pelak lagi, ilmu syar’i sangatlah penting bagi seorang muslim dalam menjalani kehidupannya. Bagaimana aqidah yang benar, akhlak yang baik, hukum tentang yang halal dan haram, serta banyak lagi aspek lainnya, semuanya itu membutuhkan ilmu agar seorang muslim bisa melaksanakannya sesuai perintah Allah dan tuntunan Rasul-Nya. Seperti perkataan seorang ulama hadits terkemuka Al-Bukhari, “Al ‘Ilmu qoblal qouli wal ‘amali,” yang artinya ilmu sebelum berkata dan berbuat.

Ilmu merupakan warisan para nabi yang diteruskan dari generasi ke generasi oleh para penuntut ilmu sampai menjelang kiamat nanti. Ilmu itu juga kekal, sementara harta itu fana. Ilmu juga tidak membuat lelah ketika menjaganya seperti halnya harta yang membuat banyak orang cemas karena berpikir bagaimana menyimpan hartanya agar aman.

“Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia telah memperoleh keberuntungan yang banyak.” (HR. Abu Dawud)

Ini bukan berarti ilmu selain ilmu syar’i itu tidak penting. Selama ilmu tersebut memberi faedah/kemaslahatan bagi umat dan bermanfaat bagi kebaikan dirinya, serta digunakan untuk ketaatan kepada Allah dan menolong agama-Nya, maka mendalami ilmu lain menjadi fardu kifayah bagi sebagian muslim. Sementara ilmu syar’i, tiap-tiap diri akan selalu membutuhkannya.

Selain keutamaan ilmu, ada adab-adab yang harus diperhatikan ketika menuntut ilmu. Beberapa di antaranya adalah:

  • Ikhlas.
    Bahwa seseorang haruslah ikhlas ketika menuntut ilmu dan bertujuan untuk mengangkat kebodohan dirinya dan orang lain.
  • Membela syariah.
    Menuntut ilmu itu niatnya adalah untuk membela syariah karena kitab-kitab itu sendiri tidak mungkin melakukan pembelaan terhadap syariat. Jika ada seorang yang jahil berdiri di tengah-tengah kitab yang banyak tersebut dan mengatakan sesuatu yang salah dengan mengatasnamakan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, maka apa yang bisa dilakukan oleh kitab tersebut? Jadi haruslah ada para penuntut ilmu yang menyalurkan ilmu dari kitab-kitab tersebut kepada orang lain.
  • Berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta berlapang dada terhadap masalah khilaf (perbedaan pendapat).
    Wajib bagi kita untuk tidak mengambil perbedaan pendapat di antara ulama sebagai sebab perpecahan dan perselisihan, apalagi sampai menyebabkan diri menjadi bergolong-golongan. Ini sangatlah dilarang.
  • Beramal dengan ilmu.
    Ilmu haruslah berbuah amal karena dengan beramal menggunakan ilmu, amalan yang dilakukan menjadi benar, sebab amal yang diterima itu harus sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, begitu pula dengan segala kabar yang datang dari Allah dan Rasul-Nya.

    Wajib bagi kita untuk menerima setiap kabar yang datang dari Allah dan Rasul-Nya dari perkara-perkara yang ghaib dengan penerimaan yang baik dan ketundukan. (hal 49)

  • Menyebarkan ilmu tersebut kepada orang lain karena zakatnya ilmu adalah dengan menyebarkannya.
  • Tatsabbut dan tsabat dalam menuntut ilmu.
    Tatsabbut artinya mencari kebenaran terlebih dahulu apabila datang sebuah kabar atau ilmu dari seseorang yang mengatasnamakan ulama ini atau itu. Sedangkan tsabat artinya sabar, menetapi, tidak gelisah, dan tidak pula bosan. Contohnya tidak mengambil setiap kitab sekali cabutan atau setiap bidang ilmu sekali petik kemudian ditinggalkan. Juga termasuk di dalamnya tidak berganti-ganti guru. Berputus asa dalam mencari ilmu juga dilarang karena berputus asa itu menutup pintu kebaikan.

Ada banyak lagi adab-adab dalam menuntut ilmu. Dan yang paling penting untuk kita ingat bahwa Allah menginginkan kemudahan bagi hamba-Nya, bukan kesukaran.

“Sesungguhnya agama itu mudah.” (HR. Bukhari)

Selain dua pokok pembahasan tersebut, ada juga pembahasan tentang bagaimana memperoleh ilmu, yaitu lewat belajar dari kitab-kitab yang terpercaya yang ditulis para ulama yang terkenal dalam ilmunya, amanahnya dan keselamatan aqidahnya dari bid’ah dan khurafat, serta belajar secara langsung pada seorang guru yang terpercaya. Kelebihannya bila belajar dari guru, seseorang akan memiliki waktu yang lebih singkat, sedikit tanggungan biayanya dibandingkan harus membeli kitab-kitab, dan selain itu juga akan lebih dekat pada kebenaran, karena apabila ada hal yang tidak bisa dipahami, seorang guru akan memberikan penjelasan yang lebih ringkas.

contoh salah satu halaman yang berisi daftar buku rekomendasi

contoh salah satu halaman yang berisi daftar buku rekomendasi

Kitab Al-Ilmi juga membahas kesalahan-kesalahan yang biasa dilakukan oleh para penuntut ilmu. Selain itu, di dalam buku ini juga dirinci kitab-kitab apa saja yang sebaiknya dibaca menurut skala prioritas dan yang terpercaya, baik dari ilmu tafsir, sunnah, aqidah, shirah dan sebagainya. Ini tentu sangat bermanfaat sekali bagi kita, terutama saya pribadi, agar mengetahui referensi shahih mana yang sebaiknya dibaca lebih utama. Seperti yang dipesankan oleh Syaikh Utsaimin, bahwa sebaiknya kita tidak sibuk dengan kitab-kitab yang tebal sebagai permulaan. Memulai dengan ringkasan-ringkasan akan jauh lebih baik karena ilmu akan mudah merasuk ke dalam pikiran. Setelah itu barulah belajar yang lebih luas.

Selain memaparkan banyak sekali detail tentang ilmu, buku ini juga menyediakan beberapa kasus-kasus dan pertanyaan-pertanyaan yang dilayangkan para penuntut ilmu kepada Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin disertai dengan jawaban beliau.

Kelebihan dan Kekurangan

Sebuah buku pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, begitu juga dengan Kitab Al-Ilmi terbitan Gema Ilmu ini.

Dari segi tata aksara, jujur, saya merasakan hasil penyuntingannya kurang maksimal. Bukan bermaksud mengecilkan penyuntingnya, bukan. Saya faham bahwa menyusun aksara menjadi lebih nyaman dibaca itu tidaklah mudah. Hanya saja, ada banyak bagian yang tanda bacanya kurang tepat sehingga kurang bisa dinikmati ketika dibaca. Misalnya di suatu paragraf, yang seharusnya tanda titik, dibuat menjadi tanda koma. Di bagian lain, yang seharusnya diberi tanda koma, justru disambung begitu saja, sehingga rasanya saat membaca itu saya seperti ngos-ngosan karena mengikuti tanda baca tersebut. Iya, saya memang tipikal pembaca yang manut dengan apa yang dituliskan. Alur membaca saya akan sesuai dengan tanda baca yang diberikan. Menurut saya, ini menjadi satu kekurangan yang saya rasakan dari buku ini.

Tapi hal ini mungkin saja karena alasan ketepatan isi. Yah, kita tahulah, bahwa buku berbahasa asing itu ‘kan bukan sesuatu yang mudah untuk diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Kadang-kadang ada padanan kata yang tidak ada padanannya yang cocok di Bahasa Indonesia. Kadang ada kiasan-kiasan atau kosakata yang sulit dijelaskan dengan satu dua kata Bahasa Indonesia. Begitu juga halnya dengan Kitab Al-Ilmi berbahasa Arab ini, menurut saya, yang ditulis oleh seorang ulama yang kapasitas ilmunya memang ahli di bidangnya. Tentu saja buku ini berisi nukilan perkataan dan pemikiran ulama tersebut, sehingga penerjemah maupun penyunting sangat berhati-hati dalam menerjemahkannya, agar tidak ada satu pun kata atau kalimat yang salah persepsi nantinya bagi pembaca. Meskipun begitu, tentu akan lebih nikmat rasanya bila tata aksaranya bisa lebih baik lagi tanpa harus mengubah isi.

Selain kekurangan tadi, tentu saja Kitab Al-Ilmi memiliki banyak sekali kelebihan. Selain isinya yang sarat dengan ilmu yang bermanfaat, gaya penjelasan buku ini juga to the point. Pernah baca ‘kan buku yang dalam satu sampai dua halamannya itu memiliki penjabaran yang panjang, namun inti yang ingin disampaikan itu hanya satu kalimat? Terkesan berteleh-tele. Nah, di buku ini, kita tidak akan menjumpai hal tersebut karena setiap pokok pembahasan adalah penting, yang dijelaskan secara padat dan to the point, tidak berpanjang-panjangan. Memang ada yang panjang, tapi itu hanya penjabaran lebih detail tentang apa yang sedang dibahas. Inilah yang juga membuat saya bingung ketika akan menulis ulasan buku ini. Bagaimana saya harus merangkum inti dari Kitab Al-Ilmi sedangkan hampir dari seluruh isi bukunya mencakup hal-hal penting? Saya khawatir melakukan kesalahan jika harus meringkas-ringkas atau mengambil sepotong-sepotong dari kitab ini. Namun demikian, saya berusaha mencantumkan hal-hal yang sekiranya perlu disebutkan secara umum dan meminimalisir hal-hal yang bisa memicu kesalahpahaman pembaca.

Kesan

Akhir kata, membaca buku ini membuat saya merasa ditegur berulang-ulang, mengingat saya sering sekali membaca kitab-kitab ilmu syar’i secara berlompat-lompatan, sering merasa bosan, juga tidak memulai dengan cara yang benar. Saya mendapatkan banyak sekali pengetahuan baru tentang menuntut ilmu lewat buku ini. Bahwa ada rambu-rambu penting yang perlu kita perhatikan dalam menuntut ilmu agar ilmu itu menjadi barokah.

Barokah artinya kebaikan yang banyak dan tetap. Asal katanya adalah al-birkah, yang artinya menurut bahasa adalah tempat berkumpulnya air (semacam kolam). Ibarat sekumpulan air yang luas, airnya banyak dan tetap, tidak berkurang. Seperti itulah yang diharapkan dari ilmu yang barokah. Bahwa ilmu tersebut memberikan kebaikan yang banyak bagi para pencarinya dan akan tampak pengaruhnya di setiap lisannya, akhlaknya, ibadahnya, sikapnya dan muamalahnya pada manusia dan Allah Ta’ala, menjadikan dirinya pribadi yang lebih baik dan bertambah keimanannya. Masya Allah.

Menurut saya, siapa saja yang ingin memulai mempelajari Islam lebih baik lagi, Kitab Al-Ilmi adalah sebuah starting point yang sangat direkomendasikan untuk dibaca terlebih dahulu sebelum membaca buku-buku lainnya.

*Review ini diikut sertakan dalam Islamic Reading Challenge 2015

==========
Dalam rangka pengembangan perpustakaan kami, kami juga membuka divisi usaha berupa toko buku online di Toko Buku Pustaka Hanan. Apabila rekan-rekan sedang mencari buku ini atau buku Islam lainnya, bisa menghubungi kami.

Pin It on Pinterest

Shares
Share This