Judul Buku: Jelajah Daerah Bersama Bimbi Penulis: Farida Hanim Ilustrastor: Alissa Mumtaz Nameera Penerbit: BRIN Tebal: 29 halaman Tahun Terbit: Maret 2023 ISBN: 978-623-8052-59-2 (e-book) Peresensi: Evyta AR
Pernahkah Anda mencicipi masakan yang kaya rasa tetapi pas di lidah? Ada sedikit rasa manis, asin, gurih, dan asam yang tidak terlalu kuat. Ada aroma sedap keluar bersama kepulan asap yang menggugah selera. Rasanya puas sekali setelah menyelesaikan suapan terakhir. Anda akan merasa sangat bahagia.
Bayangkan jika pengalaman serupa terjadi untuk sebuah buku! Rasanya sangat menyenangkan, ya? Dan saya mendapatkan pengalaman tersebut dari buku anak karya penulis asal Surabaya yang berjudul Jelajah Daerah Bersama Bimbi. Buku anak yang kaya rasa dan lengkap. Membacanya membuat saya bahagia.
Buku Jelajah Daerah Bersama Bimbi merupakan nonfiksi naratif yang ditulis oleh Farida Hanim dan diilustrasikan oleh Alissa Mumtaz Nameera. Duo ibu dan anak ini mengisahkan salah satu tanaman yang paling banyak manfaatnya, yakni bambu. Dengan menggunakan tokoh Bimbi si bambu kecil, penulis mengajak kita untuk mengeksplorasi dunia bambu dengan cara mengasyikkan.
Buku anak dengan ketebalan 29 halaman ini bisa dikatakan sangat lengkap, serasa ensiklopedia. Dikemas dengan bahasa yang ringan dan ilustrasi yang cantik penuh warna-warni, tokoh Bimbi menjelajahi banyak daerah untuk mengenalkan kepada kita bentuknya, membedakan bagian-bagiannya, sampai memahami pemanfaatan tanaman bambu di berbagai penjuru daerah di Indonesia.
Contoh Halaman Isi Buku Jelajah Daerah Bersama Bimbi
Kita akan diajak jalan-jalan ke rumah bambu ala masyakarat Pulau Flores, lalu mencoba permainan tradisional di beberapa provinsi, dan memainkan alat musik dengan suara-suara unik. Selain itu, tokoh Bimbi akan menyuguhkan makanan lezat yang terbuat dari bambu dan juga mengajak kita mengenal saudara-saudaranya yang sangat banyak itu. Seru sekali!
Yang tak kalah menarik dari buku Jelajah Daerah Bersama Bimbi adalah kekayaan pengetahuan yang ada di dalamnya. Tidak hanya pengetahuan sosial dan seni budaya saja, penulis juga menyelipkan aspek sains, teknologi ramah lingkungan, ekonomi kreatif, dan geografi di dalam karyanya. Paket lengkap. Saya bisa merasakan keseriusan penulis dalam menggarap buku ini lewat daftar referensi yang digunakannya.
Buku ini diterbitkan oleh BRIN sebagai salah satu karya terpilih dalam program akuisisi pengetahuan lokal tahun 2023 di bawah lisensi Creative Commons. Artinya, kita bisa mengunduh dan membacanya secara gratis. Bukankah ini sangat memudahkan?
Jelajah Daerah Bersama Bimbi bagi saya seperti masakan yang komplet dan enak di lidah. Buku yang membuat saya bahagia dan membuka dunia baru. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda mau mencicipinya juga? Kalau iya, Anda dapat mengunduh bukunya di sini, ya!
Judul: Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat Judul Asli: The Subtle Art of Not Giving F*ck Penulis: Mark Manson Penerjemah: F. Wicaksono Penerbit: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo) Tahun Terbit: 2018, cetakat ke-3 ISBN: 978-602-452-698-6 Tebal: 246 halaman
Sekilas jika membaca judulnya, buku ini mungkin memberikan kesan tentang sikap ketidak pedulian seseorang karena frasa “Bodo Amat” yang tercantum di dalamnya.
Umumnya, ungkapan tersebut menunjukkan sikap acuh tak acuh bagi sebagian besar orang yang sering diucapkan ketika mereka merasa sudah tidak mau ambil pusing. “Ah, bodo amat lah!”
Judul yang unik memang kerap memancing rasa ingin tahu pembaca terhadap sebuah buku. Mark Manson berhasil melakukannya.
Judul asli buku ini sebelum diterjemahkan memang agak sedikit tabu. Namun, syukurlah, pemilihan judul edisi terjemahan oleh penerbit rasanya sudah dengan pertimbangan yang banyak meskipun tidak menggunakan makna asli yang sebenarnya.
Sampul berwarna oranye dengan desain sederhana bisa jadi membuat orang bertanya-tanya, seni bersikap bodo amat itu yang seperti apa, sih?
Berbeda dari ekspektasi sebagian pembaca, buku ini justru tidak membahas sikap cuek seperti ungkapan yang umum kita pakai. Masa bodoh yang dimaksud oleh Manson adalah sikap ketika seseorang merasa nyaman saat harus berbeda.
Menurut Manson, kehidupan yang baik bukanlah kehidupan di mana kita memedulikan banyak hal, tetapi tentang memedulikan hal yang sederhana, mana yang benar dan mendesak, mana yang lebih penting. Skala prioritas setiap orang jelas berbeda-beda, sehingga kita tidak mungkin bisa menggunakan standardisasi orang lain terhadap diri kita sendiri.
“Kebahagiaan itu masalah,” kata Manson. Menurutnya, kebahagiaan itu datang dari berhasilnya seseorang dalam memecahkan masalah. Menghindar dari masalah atau merasa tidak memiliki masalah justru akan membuat diri kita sengsara.
Kebahagiaan membutuhkan perjuangan. Kebahagiaan tumbuh dari masalah. Jadi, jika Anda ingin bahagia, berkubanglah dalam masalah, dan rela melakukan perjuangan yang melelahkan. Jika Anda berpikir bahwa kenikmatan itu kebahagiaan, Anda salah.
Apa yang menentukan kesuksesan Anda bukanlah, “Apa yang ingin Anda nikmati?” melainkan pertanyaan, “Rasa sakit apa yang ingin Anda tahan?”
Jalan setapak menuju kebahagiaan adalah jalan yang penuh dengan tangisan dan rasa malu.
Membaca buku ini mungkin saja memunculkan banyak sekali pertanyaan dan pro kontra bagi saya pribadi. Mason mengajak pembaca untuk jangan berusaha mati-matian, padahal di dalam Islam sendiri, kita dianjurkan untuk memiliki visi hidup dengan usaha maksimal. Perihal hasil, biarlah Allah yang menentukan.
Sedangkan menurut Manson, berlaku hukum kebalikan. Semakin kuat kita berusaha merasa baik setiap saat, kita akan merasa semakin tidak puas karena mengejar sesuatu hanya akan meneguhkan fakta bahwa, pertama-tama, kita tidak baik-baik saja. Pengalaman positif adalah sebuah pengalaman negatif, menerima pengalaman negatif adalah pengalaman positif.
Berbeda dengan kebanyakan buku pengembangan diri lainnya yang mengajak orang lain untuk mengejar kesuksesan berupa kebahagiaan hidup atau bahkan pencapaian-pencapaian dalam hidup, buku ini justru tidak mengajari kita tentang bagaimana cara mendapat atau mencapai sesuatu. Buku ini menuntun kita bagaimana cara berlapang dada dan membiarkan sesuatu pergi.
Kalau dikatakan buku ini anti mainstream, ya, ada benarnya.
“Kesadaran diri ibarat sesiung bawang. Punya banyak lapisan, dan semakin cepat Anda kupas lapisan demi lapisan, Anda akan semakin cepat mulai menangis tanpa disangka-sangka.” (halaman 82).
“Perkenalkan Gen Z. Yang terdepan sudah berusia dua puluh tahunan. Dengan jumlah sebesar 72,8 juta, Gen Z hadir di lingkungan kerja dan perusahaan, dan para pemimpin tidak bisa mengabaikan mereka. Jika tidak mengenal Gen Z, risikonya adalah kita akan memperlakukan mereka seperti generasi Millennial. Kesalahan besar, dan itu sudah kita lakukan sebelumnya.”
(David Stillman)
Keberadaan generasi Milenial saat ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan lagi. Memang, beberapa tahun lalu, kita sempat dikejutkan dengan gelombang Milenial yang banyak menyedot perhatian publik karena keunikan karakternya.
Kehadiran mereka di berbagai lini kehidupan sedikit banyak memberikan andil terhadap perubahan-perubahan hingga menggiring dunia menuju era disrupsi.
Sebenarnya, mulai dari Dr. Muhammad Faisal dengan buku Generasi Phi-nya hingga Yuswohady dengan karya best seller-nya Millennials Kill Everything, karakter dan pengaruh kaum Milenial terhadap keberlangsungan banyak aspek keseharian kita sudah cukup lengkap dibahas.
Namun sayangnya, boleh jadi kesadaran tentang era disrupsi ini agak sedikit terlambat bagi sebagian orang. Ada banyak perusahaan yang harus gulung tikar karena tidak menyadari bahwa, di sekitarnya, orang-orang mulai berubah.
Gaya hidup berubah. Cara-cara lama sudah tidak terlalu relevan lagi bagi generasi Milenial. Belum selesai dengan keterkejutan hadirnya generasi Milenial serta efek disrupsinya, ternyata kita sudah harus bersiap-siap menyambut sebuah generasi baru yang tak kalah uniknya dengan Milenial, yakni Generasi Z.
Siapa Generasi Z?
Generasi Z adalah label yang digunakan oleh David Stillman untuk menyebutkan nama generasi yang lahir dalam rentang tahun 1995-2012 dengan umumnya orangtua berasal dari generasi X.
David sebagai Generasi X dan anaknya, Jonah Stillman, yang berasal dari Generasi Z melakukan riset dan survey terhadap banyak anak generasi Z dan orangtua generasi X di Amerika untuk menyusun buku ini.
Menurutnya, penting memahami karakter dari setiap generasi karena akan berpengaruh sangat besar bagi proses kita menjalani kehidupan. Selera, kebiasaan, dan arah jalan hidup dari generasi Z terbentuk dari karakter generasinya secara umum.
Jika generasi Milenial kemudian berhasil menyebabkan disrupsi di banyak lini kehidupan, maka Generasi Z mungkin akan menimbulkan lompatan yang sangat jauh dibanding pendahulunya.
Ini akan memengaruhi geliat pendidikan, bisnis, dan ekonomi sebuah negara bahkan dunia.
Apakah bisnis toko online konvensional masih relevan untuk Generasi Z? Apakah proses perekrutan karyawan sebuah perusahaan masih membutuhkan wawancara dengan cara-cara lama?
Atau apakah konsep perguruan tinggi bagi Generasi Z masih relevan seperti yang ada saat ini?
Tak bisa kita pungkiri, keberadaan Generasi Z akan menyebabkan banyak perusahaan dan pemilik bisnis untuk berpikir ulang mengenai konsep bisnis yang akan mereka sesuaikan dengan karakter generasi ini.
Jika tidak, mereka harus bersiap-siap tertinggal, seperti Nokia yang tutup buku akibat gelombang Android yang tak terbendung.
Lantas seperti apa karakter atau sifat dari generasi ini? Pasangan ayah dan anak Stillman memaparkan hasil riset mereka di buku ini secara gamblang.
Karakter Generasi Z
Figital
Salah satu sifat paling utama dari Generasi Z adalah figital, yakni dunia di mana fisik dan digital sama linearnya, tidak ada batasan dan perbedaan.
Bagi generasi Z, dunia fisik adalah equivalen dengan digital, pun sebaliknya. Inilah alasan mengapa saat ini terjadi fenomena maraknya influencer yang mengangkat kehidupan sehari-harinya di dunia fisik ke ranah digital.
Atau ketika seorang pemimpin cukup melakukan rapat dengan karyawannya menggunakan aplikasi konferensi daring (dalam jaringan).
Realistis dan Kustomisasi
Kalau Milenial adalah generasi yang idealis, maka Generasi Z adalah mereka yang realistis. Generasi ini juga sangat menyukai kustomisasi atau penyesuaian identitas mereka.
Personal branding yang dibangun tak hanya sebatas branding standar yang pada umumnya dilakukan kebanyakan orang, melainkan lebih kompleks daripada itu.
Mau jabatan seperti apa, kuliah yang bagaimana, pekerjaan seperti apa, mereka ingin menentukan sendiri keinginan mereka secara lugas.
FOMO
Fear of Missing Out (FOMO) atau takut melewatkan sesuatu adalah sifat lain dari Gen Z. Mereka akan senantiasa terkoneksi dengan informasi dan teman sehingga tidak tertinggal berita-berita terbaru.
Weconomist
Dalam aspek ekonomi, Milenial memang sudah mulai mengusung sifat weconomist. Contohnya penggunaan ojek online atau fasilitas-faslitas dengan konsep ekonomi berbagi lainnya. Namun bagi Generasi Z, sifat weconomist ini melebihi kebiasaan pendahulunya.
Tidak hanya sebatas keseharian, tetapi juga di dunia kerja tempat mereka akan memilih pekerjaan. Kontribusi sebuah perusahaan terhadap masyarakat akan memengaruhi keputusan para Gen Z ini bekerja.
***
Ada tujuh sifat utama yang dibahas David dan Jonah Stillman di dalam buku Generasi Z ini yang akan membuka mata kita tentang bagaimana karakter sebuah generasi akan memberikan pengaruh besar bagi perubahan dunia.
Pada dasarnya, sifat-sifat ini muncul akibat dari kondisi yang terjadi pada lingkungan dan masyarakat di mana Gen Z tumbuh dan berkembang. Pola asuh orangtua Gen X, masa resesi, perang, kesulitan hidup, juga terjangan teknologi yang tanpa batas akhirnya membentuk karakter generasi secara kolektif.
Sudut Pandang
Buku ini barangkali cukup berhasil menggambarkan keberadaan Generasi Z di tengah-tengah kita. Hanya saja, Stillman menggunakan kondisi dan lingkungan di Amerika sebagai dasar pijakan risetnya, sehingga ada sebagian aspek dari buku ini belum sesuai dengan kondisi kita di Indonesia.
Sebut sajalah tentang tingkat pendidikan dan pemahaman penggunaan teknologi masyarakat kita. Jika dibandingkan dengan Amerika, tentu masih sangat jauh berbeda.
Meskipun demikian, tetap saja buku yang ditulis berdasarkan pengalaman langsung penulisnya akan memiliki nilai yang lebih baik sebagai sebuah rujukan.
Memahami bagaimana Generasi Z berpikir dan bertindak akan menghantarkan banyak pihak melakukan perubahan dan penyesuaian. Disrupsi adalah sebuah variabel dalam bisnis.
Seperti di dalam buku Who Moved My Cheese karya Spencer Johnson, variabel-variabel perubahan tentunya akan memengaruhi sebuah perusahaan mengambil keputusan.
“Jika kita melihat bagaimana generasi mendidik anak, terdapa suatu pola. Suatu generasi akan bereaksi terhadap cara generasi sebelumnya mendidik atau cara mereka sendiri dibesarkan. Mereka akan menerapkan “praktik terbaik” yang sama, tapi tentu saja meyakini bahwa ada suatu cara yang lebih baik.” (halaman 10)
Milenial dan Generasi Z adalah dua generasi yang perlu kita pahami karakternya satu sama lain. Dengan saling memahami, kedua generasi ini bisa bersinergi secara maksimal di kehidupan.
Tak perlu muncul konflik di dunia kerja. Tak perlu saling menyalahkan karakter masing-masing di dunia pendidikan dan sosial. Bagi para orang tua, memahami karakter generasi ini akan memudahkan pola pengasuhan mereka.
Terlepas dari lingkup geografi pembahasannya, secara umum, buku ini adalah salah satu buku terbaik tentang Generasi Z yang patut kita baca.
Halo, Gen Z! Perkenalkan, Aku seorang Milenial. Senang berjumpa denganmu! 😊
Judul: Suara dari Marjin Penulis: Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah Penerbit: PT Remaja Rosdakarya Cetakan: I – Mei 2017 ISBN: 978-602-446-048-8 Tebal: 234 halaman Genre: Nonfiksi, Buku tentang Buku, Literasi Rating: 4/5
Ketertarikan saya dengan buku bertema buku dan literasi menjadi motivasi utama saya ketika ditawari untuk mengulik buku bersampul kuning dengan ilustrasi pengeras suara yang unik ini. Awal membacanya, kening saya cukup berkerut karena banyaknya istilah ilmiah yang kurang familiar di telinga saya. Namun, semakin saya membacanya, semakin saya menikmati coretan dan gagasan di dalamnya.
Sesuai judulnya, Suara dari Marjin berisi gagasan tentang literasi sebagai praktik sosial yang memuat pemaknaan baru dari kaum marjinal yang, mungkin selama ini, terlewatkan oleh kita.
Buku ini ditulis oleh dua orang penulis bernama Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah sebagai bentuk yang lebih ringan dari adaptasi tesis atas penelitian mereka di bidang literasi. Sofie melakukan penelitian pada komunitas anak jalanan, sementara Pratiwi mengeksplorasi praktik literasi pada Buruh Migran Indonesia (BMI) Hong Kong.
“Literasi sebagai praktik sosial mengakomodasi nilai moral, pengalaman budaya, dan kepentingan ideologis yang memengaruhi interaksi seseorang dengan teks.”
Selama ini, umumnya orang menganggap bahwa kegiatan literasi seperti membaca dan menulis hanyalah terbatas untuk kalangan terdidik atau mereka yang mencicipi bangku pendidikan formal. Di dalam buku ini, Sofie dan Tiwik—begitu Pratiwi biasa dipanggil—justru ingin meruntuhkan mitos literasi tersebut dengan membuka mata masyarakat bahwa literasi juga bisa berkembang bagi kaum marjinal, meski dalam praktiknya memiliki konsep yang berbeda.
Literasi pada lingkungan marjinal lebih menitik beratkan pada kultur budaya, konsep tradisional, dan tidak selalu bahwa literasi itu untuk modernitas. Dalam kajian literasi sebagai praktik sosial yang mereka lakukan, mereka menemukan satu benang merah dari kedua komunitas, yakni bahwa literasi juga dapat mengubah identitas seseorang.
“Tulisan bukan sekadar representasi diri, namun ternyata juga mampu mengubah identitas seseorang.” (halaman 87)
Literasi sebagai Corong
Dari komunitas BMI Hong Kong, ada kisah Rere yang aktif menyebarkan gagasannya lewat blog bertajuk Babu Ngeblog, bahwa seorang pekerja rumah tangga juga bisa menulis dan memanfaatkan teknologi. Selain Rere, ada juga BMI yang menekuni Pustaka Koper karena menyebarkan virus membaca lewat buku-buku yang dijajakannya menggunakan koper bagi sesama BMI.
Di kalangan anak jalanan, ada Idang yang ingin menjadi pelukis atau Elis yang ingin menjadi dokter lewat tulisan mereka tentang cita-cita, seolah sangat kontras dengan realita yang ada di depan mereka, menyuarakan apakah mungkin seorang anak jalanan yang tidak mengenyam pendidikan formal, pun memiliki uang yang cukup, bisa menjadi dokter?
Bagi anak jalanan, konsep pendidikan formal seringkali kurang cocok dengan karakter dan lingkungan mereka. Barangkali suatu saat kelak, ada sekolah dan kurikulum khusus bagi anak jalanan yang dikeluarkan oleh pemerintah, sehingga mereka juga bisa mengikuti pendidikan formal seperti anak-anak lainnya.
Bagi para BMI dan anak jalanan ini, literasi menjadi sebuah media perlawanan untuk menaikkan derajat sosial seseorang. Mereka ingin dunia mengetahui bahwa kaum marjinal juga bisa produktif, punya mimpi-mimpi yang tinggi dan tidak selayaknya selalu direndahkan. Di tangan mereka, literasi berfungsi memberikan kewenangan untuk menjadi aktor utama bagi kehidupannya, sehingga mereka berani bersuara untuk dirinya sendiri dan komunitasnya.
Dok. Pribadi
Kajian Literasi Baru
Sebetulnya, gagasan yang diangkat di dalam buku Suara dari Marjin ini bukanlah sesuatu yang baru. Literasi sebagai praktik sosial, setahu saya, sudah sejak lama dilakukan oleh masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari. Contohnya saja geliat literasi yang dilakukan oleh taman baca masyarakat atau komunitas literasi yang kerap merancang kegiatan-kegiatan membaca dan menulis bagi anggotanya. Mereka masuk ke kampung-kampung atau daerah pemukiman yang kurang akses terhadap buku bacaan, termasuk ke wilayah-wilayah yang hanya bisa diakses oleh perahu atau kapal.
Juga tentang konsep literasi yang mampu mengubah identitas seseorang atau yang kemudian menjadi corong dalam menyuarakan pendapat dan pemikiran telah lama ada dalam praktiknya. Di zaman penjajahan Indonesia dahulu, praktik literasi sudah lama menjadi media perlawanan menghadapi penjajah, hingga kemudian terbitlah masa Sumpah Pemuda yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai periode baru kejayaan pemuda Indonesia yang berawal dari kegiatan literasi.
Setelah Indonesia merdeka, literasi dalam praktik sosial juga kerap dilakukan oleh partai-partai yang ada pada masa itu. Dengan menulis dan menerbitkan berbagai buku, selebaran, juga koran-koran berita, kelompok-kelompok ini kemudian mampu menggiring opini publik untuk melakukan perubahan sosial.
Dalam Islam sendiri, praktik literasi juga bukanlah sesuatu yang baru. Literasi juga menjadi senjata yang sangat ampuh dalam mengusung nilai-nilai Islam di kehidupan sosial.
Selain itu, kegiatan literasi dari kalangan ibu rumah tangga juga sudah banyak dilakukan. Istilah emak-emak menulis, yang notabene berprofesi sebagai ibu rumah tangga penuh, yang bagi sebagian kalangan posisi ini termasuk dipandang sebelah mata karena dianggap profesi yang kurang bergengsi, hanya tahu seputar urusan dapur dan kasur, sudah begitu familiar di Indonesia.
Mereka yang hanya berkutat pada pengurusan rumah tangga sudah memiliki banyak artefak literasi, yang kemudian menjadi ibu rumah tangga kreatif yang cukup popular dan memiliki personal branding yang tidak bisa dianggap biasa, membenturkan opini bahwa ibu rumah tangga tidak tahu apa-apa dibandingkan mereka yang berkarir di dunia kerja. Semuanya berangkat dari literasi. Bukankah ini termasuk praktik sosial?
Meski gagasan literasi sebagai praktik sosial bukanlah sesuatu yang baru, tetapi penelitian yang dilakukan kedua penulis ternyata lebih khusus yakni menggunakan teori Kajian Literasi Baru (New Literacy Studies) dengan pendekatan etnografik, bahwa literasi menjadi bagian dari interaksi keseharian yang melibatkan perilaku dan nilai dari orang-orang yang terlibat. Ini yang barangkali menjadi sesuatu yang beda dari pembahasan tentang literasi pada umumnya ada di masyarakat.
Dengan mengkhususkan subyek penelitian pada kaum marjinal, ini kemudian menjadi sebuah keunikan tersendiri karena tak banyak yang menyadari bahwa kaum marjinal ternyata mendapatkan manfaat yang sangat besar dari praktik literasi.
Mungkin yang tampak muncul ke permukaan masih dari kalangan anak jalanan atau BMI ini saja. Siapa yang bisa menebak jika suatu saat nanti kaum buruh, petani, pedagang kecil, atau kalangan-kalangan yang selama ini merasa termarjinalkan bisa menyuarakan pemikirannya dan menggiring opini publik lewat literasi.
***
Rasanya saya tertinggal jauh dari para BMI Hong Kong yang sudah menerbitkan banyak buku. Mereka sangat produktif menulis di sela-sela pekerjaannya yang padat. Belum lagi yang menulis secara sembunyi-sembunyi dari majikannya. Saya merasa lebih kerdil.
Semoga siapapun yang mencintai dunia literasi bisa membaca buku ini untuk memberikan perspektif baru atas pemahaman literasi sebagai praktik sosial.
“Tidak mungkin memahami praktik literasi secara utuh tanpa mempertimbangkan kompleksitas kehidupan pelakunya.” (hlm 59)
Judul: Dari Puncak Khilafah Judul Asli: The Arabs, A History Penulis: Eugene Rogan Penerjemah: Fahmy Yamani Penerbit: Serambi Ilmu Semesta Tahun Terbit: November 2017 Tebal: 776 halaman ISBN: 978-602-290-080-1 Genre: Nonfiksi, Sejarah Rating: 4/5
Kalau Philip K. Hitti menulis sejarah Arab-Islam dari sejak masa pra-Islam hingga masa kekuasaan Utsmani di dalam buku History of the Arabs, maka buku Dari Puncak Khilafah ini bisa dibilang seolah melanjutkan sejarah Arab-Islam sejak masa Khilafah Utsmaniyah pasca era Muhammad Al-Fatih hingga Arab modern abad ke-21.
Kita tahu sendiri lah, ya, bahwa sejak peristiwa 11 September 2001, Islamphobia melanda dunia Barat sampai-sampai ada anggapan dari orang-orang Barat bahwa Arab dan Islam adalah ancaman bagi mereka.
Menurut Eugene Rogan berdasarkan paparannya di dalam pendahuluan, orang-orang Barat ini sebetulnya tidak memahami bahwa apa yang terjadi di dunia Arab sana adalah juga hasil akumulasi sejarah panjang yang di dalamnya terdapat andil tangan-tangan penguasa dunia Barat. Dengan dalih pembebasan, sejatinya penguasa dunia Barat telah melakukan pendudukan atas banyak bangsa.
Menurut penulis, orang Barat perlu lebih memperhatikan sejarah, bagaimana sejarah itu dialami dan dipahami oleh bangsa Arab itu sendiri, dari kaca mata orang Arab itu sendiri, sehingga kesalahan tidak terulang kembali. Inilah salah satu latar belakang mengapa Eugene Rogan menulis buku ini. Ia ingin agar Barat mulai memahami apa sesungguhnya akar persoalan yang terjadi di Arab.
Dari pemaparan Rogan di dalam buku setebal 776 halaman ini, pembaca dapat mengikuti perjalanan sejarah, bagaimana geliat politik dan kekuasaan pada masa kekhalifahan Utsmani beserta pengaruh para penguasaatau kekuatan lokal di berbagai wilayah kekuasaannya seperti Muhammad Ali Pasha, Khairuddin Barbarossa, dan tokoh lainnya. Rogan juga membagi secara umum periode peta perjalanan sejarah Arab-Islam menjadi empat, yakni:
Era Utsmaniyah, era penjajahan negara-negara Eropa, era Perang Dingin dan era sekarang yang didominasi Amerika Serikat dan globalisasi.
Era Utsmaniyah, yang dimulai dari masa Sultan Salim I, yakni era setelah Muhammad Al-Fatih berkuasa, hingga Sultan-Sultan berikutnya, termasuk konflik yang terjadi antara penguasa lokal dan kesultanan sebelumnya dalam perebutan wilayah kekuasaan, serta tarik-ulur kebijakan politik dan ekonomi.
Era penjajahan negara-negara Eropa, termasuk pula di periode ini Perang Dunia I yang melibatkan dua imperium besar yakni Inggris dan Prancis, serta Perang Dunia II yang melibatkan Jerman dan beberapa negara lainnya.
Era Perang Dingin, yang melibatkan dua negara adidaya, Amerika Serikat dan Uni Soviet, yang berefek pada pergolakan nasionalisme dunia Arab dan kekuatan Islam.
Era dominasi AS yang melibatkan banyak negara konflik seperti Irak, Lebanon, Suriah, Palestina, Israel, dan sebagianya.
Pujian Terhadap Buku
1. Buku ini ditulis dengan gaya penulisan yang lumayan ringan dan enak dibaca, serasa membaca fiksi. Jadi, meskipun tebal seperti bantal, buku ini menurut Saya tidak membosankan.
2. Buku dan penulisnya saya acungi dua jempol karena bisa menceritakan ulang sejarah Arab-Islam dengan kata-katanya sendiri dengan kronologi yang lumayan runut. Buku ini juga memiliki cakupan yang sangat banyak, baik dari rentang waktu yang sangat panjang di masa Utsmani abad ke-16 hingga zaman modern abad ke-21, juga cakupan geografi yang sangat luas menjangkau banyak bangsa, serta cakupan isu yang beragam mulai dari isu kekuasaan, keagamaan, nasionalisme, sekularisme dan isu-isu lainnya yang muncul dari perjalanan Arab-Islam yang berhasil diangkat dan dianalisa penulis secara apik.
3. Menurut Saya, penulis cukup adil dalam menuliskan sejarah Arab-Islam di buku ini. Umumnya para sejarawan Barat, Kristen, Yahudi, maupun sebagian sejarawan Arab sekuler memiliki perspektif yang buruk atas penulisan sejarah Khilafah Utsmani. Banyak informasi yang dibelokkan sehingga kesan negatif lebih dominan muncul ketika kita berbicara tentang kesultanan ini, terlepas dari realita kemerosotan Khilafah ini yang memang disebabkan oleh berbagai faktor internal dan eksternal.
Namun di buku ini, dengan bersumber dari informasi di Arab langsung dan disertai penjelasan para saksi mata, secara umum Saya melihat kalau penulis sudah berusaha adil dalam memaparkan sejarah. Penulis sepertinya berusaha menunjukkan bagaimana pergulatan dunia Arab-Islam dalam catatan sejarah apa adanya. Bagaimana dunia Arab jatuh dan bangkit, terseok-seok dalam carut-marut perpolitikan dunia, serta bagaimana kejayaan dunia Arab dalam membangun negaranya.
Yang menariknya, ternyata salah satu sumber referensi penulisan buku ini berasal dari sebuah buku harian seorang tukang cukur bernama Ahmad al-Budayri. Si tukang cukur ini sangat gemar mengobrol dan menuliskan berbagai informasi politik dan masyarakat Damaskus semasa hidupnya.
Kritik Terhadap Buku
Sebetulnya ini kurang tepat disebut kritik, tetapi cukup mengusik pikiran saya. Ada satu isu yang diangkat Rogan di buku ini dan cukup kontroversial yakni mengenai sepak terjang gerakan Wahabiyah di Arab.
Di buku ini, Rogan mungkin mengambil sumber yang menyebutkan bahwa gerakan Wahabi ini benar-benar mengganggu pada saat itu karena mudah sekali melakukan tindak kekerasan untuk menegakkan pemurnian akidah Islam. Intinya di buku ini ada secuil gambaran mengenai wahabi itu yang terkesan negatif dan merusak, terkesan brutal, tidak jauh berbeda dengan anggapan orang-orang kebanyakan di zaman sekarang. Ini menarik bagi saya.
Dari beberapa bahan yang pernah saya baca tentang Muhammad bin Abdulwahab, ada banyak informasi yang tidak tepat dalam menggambarkan pemikiran beliau, termasuk gerakan pembaharuan yang terjadi di Arab Saudi kala itu. Muhammad bin Abdulwahab sendiri tidak pernah menisbatkan dirinya kepada wahabi.
Dikarenakan gerakan pemurnian akidah beliau memberikan dampak sangat besar pada pergolakan politik di Arab, maka muncullah kemudian pembelokan informasi, tuduhan, dan fitnah atas Muhammad bin Abdulwahab beserta murid-muridnya pada saat itu. Ada semacam distorsi informasi dalam sejarah Islam pada topik ini.
Pemikiran seseorang bisa kita lihat secara tak langsung melalui karya tulisnya. Tulisan umumnya mencerminkan bagaimana penulisnya. Nah, kalau mau jujur, sederhananya, kita lihat saja bagaimana pemikiran Muhammad bin Abdulwahab dalam karya-karya tulis beliau. Saya memiliki beberapa judul buku, salah satunya Ushul Tsalatsah, yang syarahnya pernah saya resensi di sini.
Dari beberapa buku karya Muhammad bin Abdulwahab, saya mendapati bahwa beliau benar-benar sangat berhati-hati dalam masalah akidah. Beliau mendakwahkan umat untuk kembali mendekati Allah dengan cara yang benar serta meluruskan yang salah.
Ilmu yang ada di buku-buku Muhammad bin Abdulwahab juga sangatlah luas. Pemikiran beliau yang mengajak kepada kekerasan sulit saya temui. Jadi kurang logis rasanya jika ulama seperti ini kemudian dituding sebagai pendiri gerakan wahabi yang di mata umum cenderung negatif dan merusak.
Hanya saja, persentase tulisan Rogan mengenai topik ini bisa saya bilang sangatlah sedikit, tak lebih dari 1% barangkali? Tapi saya jadi bertanya-tanya, apakah isu wahabi ini memang sedemikian rusaknya sehingga orang mengenal informasi yang negatif saja? Mungkin untuk pembahasan ini barangkali bisa kita bahas lebih khusus di lain waktu dengan menggunakan referensi yang lebih baik.
***
Rogan adalah seorang profesor dan pakar di bidang sejarah Timur Tengah. Ini sangat terlihat jelas dari bukunya, bagaimana luar biasanya beliau memaparkan sejarah panjang dengan cukup mudah dipahami. Bukunya ini pun bahkan dinobatkan sebagai buku terbaik oleh The Economist dan The Financial Times dan telah diterjemahkan ke banyak bahasa di dunia.
Kalau menilik judulnya, Dari Puncak Khilafah, tadinya saya pikir penulis mau memaparkan bagaimana sejarah Arab-Islam, mulai dari kejayaan Khilafah Utsmaniyah di bidang pemerintahan, karya-karya peradaban, hingga kebijakan-kebijakan yang diambil seperti umumnya buku tentang Khilafah Utsmaniyah yang sudah banyak beredar.
Tetapi, ternyata buku ini lebih ke pemaparan kronologi perjalanan sejarah Arab-Islam apa adanya. Sangat minim pendapat penulis saya temui di dalamnya. Menurut Saya ini menjadi salah satu suguhan yang berbeda dan baru dalam kategori sejarah. Kita jadi lebih memahami bagaimana runut sejarah dunia Arab modern secara apa adanya.
Selesai membaca buku ini, saya menarik nafas panjang. Buku yang bagus. Saya menjadi lebih paham bagaimana sejarah Arab yang telah berlalu. Dibarengi dengan informasi-informasi yang sudah pernah saya dapati di buku-buku lainnya tentang sejarah bangsa Arab, bagi saya, buku ini menjadi salah satu buku pelengkap dari sekian banyak buku mengenai sejarah Arab yang pernah ditulis, yang keberadaannya tidak bisa saya acuhkan begitu saja. ^^
Judul: Islamic Parenting – Pendidikan Anak Metode Nabi
Judul Asli: Athfalul muslimin kaifa rabahumun nabiyyul amin
Penulis: Syaikh Jamal Abdurrahman
Penerjemah: Agus Suwandi
Jumlah halaman: 312 hlm
Penerbit: Aqwam
Tahun terbit: Maret 2017
Cetakan: Ketujuh belas
ISBN: 978-979-039-087-4
Genre: Nonfiksi, Pendidikan Islam
Rating: 4/5
Sampai sejauh ini, sejauh perjumpaan saya dengan buku, baik yang sudah saya baca maupun yang baru saya lihat-lihat sekilas isinya seputar pendidikan anak, memang dunia perbukuan Islam di Indonesia rasa-rasanya belum memiliki sebuah kitab pendidikan anak tersendiri. Yakni buku yang utuh dan komplit, yang bisa dijadikan semacam kiblat referensi pendidikan anak ala Islam oleh para orangtua maupun pendidik, mulai dari 0 tahun sampai lepas dari tanggungjawab asuhan orangtua dengan segala materi yang rinci hasil konversi dari al-quran, hadits dan kisah-kisah teladan yang shahih. (more…)
Judul Buku: The Shallows Penulis: Nicholas Carr Penerjemah: Rudi Atmoko Penerbit: Mizan Tahun Terbit: Juli 2011 Tebal: 280 halaman ISBN: 9789794336403 Genre: Nonfiksi, Internet, Psikologi Rating: 4/5
Perkembangan dunia internet memang sangat memudahkan urusan kita. Dari komunikasi hingga kegiatan komputasi, semua memungkinkan kita untuk bekerja secara efektif. Namun, apakah internet benar-benar tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kebiasaan berpikir kita?
Saya sempat merasakan perbedaan yang sangat kontras antara saya yang dulu sebelum intens dengan internet dibandingkan saya yang sulit melepaskan diri dari internet. Kalau sebelumnya, saya betah berjam-jam membaca buku dengan duduk manis mengkaji dan menelaah satu demi satu buku, menghubungkan buku satu dengan yang lainnya.
Ketika saya keranjingan internet sekitar tahun 2007 hingga 2008, aktivitas membaca buku saya menurun drastis. Saat itu saya merasa tidak nyaman berlama-lama membaca buku, cepat bosan. Pikiran saya ingin membuka internet saja. Sebentar-sebentar saya membuka browser di komputer atau laptop untuk mengecek email dan notifikasi media sosial. Sebentar-sebentar buka blog untuk mengecek trafik dan komentar yang masuk.
Ketika koneksi internet putus, saya akan merasa sangat gelisah karena seperti tidak ada yang bisa saya lakukan. Iya, itu dulu, saat awal-awal internet berhasil menguasai diri saya, bukan sebaliknya. Mungkin Anda juga pernah? Bersyukur saya, masa-masa itu sudah lama terlewati.
The Shallows karya Nicholas Carr tidak jauh-jauh dari topik seperti pengalaman saya di atas. Buku ini mengupas seberapa besar pengaruh internet pada diri kita, pada otak kita, dan pada kebiasaan-kebiasaan berpikir kita.
Menurut penulis, yang juga seorang finalis Pulitzer Award 2011, dari banyak penelitian pakar terhadap aktivitas otak dan juga berbagai eksperimen para praktisi internet dan teknologi, internet secara tak kita sadari memiliki potensi mengubah cara berpikir kita, terutama berpikir secara mendalam.
“Ketika kita online, kita memasuki sebuah lingkungan yang mendorong pembacaan sepintas, pemikiran terburu-buru dan terganggu, dan pembelajaran yang superfisial. Mungkin saja berpikir secara mendalam sambil berselancar di internet, sama seperti kita bisa berpikir dangkal ketika membaca buku, namun itu bukanlah jenis pemikiran yang didorong dan diharapkan oleh teknologi.” (halaman 121)
Orang yang dalam sehari menghabiskan waktu lebih banyak di depan internet, menurut penelitian yang disebutkan di dalam buku ini, memiliki perubahan cara berpikir secara mendalam yang cukup drastis. Yang tadinya kebiasaan membaca buku dalam waktu lama dan konsentrasi tinggi mampu menumbuhkan cara berpikir secara mendalam, kini perlahan dan berkelanjutan tergantikan dengan kebiasaan membaca artikel di internet secara sepintas-sepintas.
Banyaknya link terkait yang diselipkan di setiap artikel, yang mengarahkan pembaca kepada berbagai informasi lainnya, juga membuat aktivitas otak terbiasa dengan cara berpikir secara cepat dan instan.
Jalur neuronal otak kita sangatlah lentur sehingga akan tumbuh terus dan menyesuaikan dirinya dengan perubahan-perubahan dari kebiasaan kita. Perubahan ini kemudian disusul juga dengan banyaknya ragam buku atau majalah yang ditata sedemikian rupa seperti tampilan web.
Penyesuaian demi penyesuaian dilakukan, termasuk dengan munculnya berbagai perangkat e-reader yang menyuguhkan banyak fitur pendukung bagi para penggila baca. Orang-orang pun selanjutnya menggantungkan ingatannya lewat internet.
Dibanding membongkar buku-buku tebal, orang-orang akan lebih memilih mengunggah hasil pindai buku ke dalam akun cloud-nya. Dibanding berlelah-lelah mengingat dan menghapal banyak informasi, orang-orang akan memilih menuliskannya di blog atau e-mail. Suatu saat jika diperlukan, mereka hanya perlu membuka internet.
Dibanding membaca buku-buku referensi tebal, orang-orang hanya perlu sentuhan jari untuk mengambil sebanyak-banyaknya ilmu dari internet. Internet seolah menjadi jalan pintas dengan seabrek informasi yang mendunia.
“Semakin sering kita menggunakan web, maka otak kita semakin terlalu menghadapi gangguan—memproses informasi dengan amat cepat dan amat efisien tapi tanpa perhatian yang terus-menerus. Hal itu menjelaskan mengapa banyak di antara kita yang sukar berkonsentrasi bahkan ketika tidak sedang di depan komputer. Otak kita pintar melupakan, tidak pintar mengingat. Mungkin ketergantungan kita yang semakin besar terhadap kandungan informasi web merupakan produk dari kumparan diri yang terus ada dan membesar.
Ketika pemanfaatan web yang kita lakukan membuat kita lebih sulit memasukkan informasi ke dalam memori biologis kita, maka kita semakin dipaksa untuk lebih bersandar pada memori buatan yang luas dan mudah dicari di internet, sekalipun itu membuat kita menjadi pemikir yang dangkal.”
(halaman 207)
Apakah ini artinya internet membuat cara berpikir kita dangkal? Menurut saya, bisa jadi, tetapi tergantung seperti apa kita menggunakan internet. Buku yang telah diterjemahkan ke dalam 17 bahasa ini tidak menyuruh kita berhenti menggunakan internet. Buku ini tak juga menyuruh kita hanya membaca buku cetak.
Dengan segala pemaparan penulis disertai pengalaman orang-orang atas penggunaan internet, juga penjabaran penulis tentang sejarah alat-alat berpikir dari mulai alfabet hingga komputer, saya mengambil satu kesimpulan penting, bahwa ketika internet digunakan dalam tataran sekunder, sedangkan primernya adalah membaca buku, maka internet bisa menjadi teman bagi cara berpikir mendalam kita. Tetapi jika sebaliknya, inilah yang terjadi kemudian, bahwa kita menjadi malas membaca bacaan yang panjang dan berujung pada kedangkalan berpikir.
Seperti yang diajarkan nabi kita, bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak memberi kebaikan. Begitu juga dengan internet. Selain kemudahan dan kesenangan yang ditawarkannya, ketergantungan terhadap internet ternyata memiliki konsekuensi fisik dan kebiasaan hidup kita.
Ketika cara berpikir secara mendalam kita lambat laun tergerus, yang tersisa hanyalah pola berpikir karbitan yang rapuh. Jadi, seimbanglah. Memperbanyak membaca buku, menurut Nicholas Carr, akan lebih membuat cara berpikirmu lebih mendalam dan kreatif.
Judul: Mutiara Penulis: John Steinbeck Penerjemah: Ary Kristanti Penerbit: Penerbit Liris Tahun terbit: 2013 Tebal: 142 halaman ISBN: 978-602-1526-12-5 Genre: Fiksi Sosial Rating: 4/5
Di salah satu saluran televisi swasta Indonesia, ada sebuah program yang bernama “Uang Kaget” yang memungkinkan orang-orang dengan taraf kehidupan menengah ke bawah mendapatkan uang dalam jumlah besar untuk dihabiskan saat itu juga. Seumur-umur tidak pernah melihat bahkan memegang uang puluhan juta, tiba-tiba diharuskan menghabiskan uang tersebut hanya dalam hitungan jam, alhasil kebanyakan dari mereka seringnya memang terkaget-kaget sekaligus bingung bagaimana membelanjakan uang tersebut.
Ada yang pikirannya hanya sampai pada batas yang ia mampu jangkau hingga akhirnya memutuskan untuk membeli barang-barang kebutuhan harian saja, ada yang membeli barang idamannya, namun tak sedikit pula yang memiliki cara berpikir jangka panjang dengan membeli barang yang bisa dijadikan investasi.
Tabiat ekonomi masyarakat tidak jauh berbeda dengan gambaran yang diberikan di program televisi tersebut. Semakin tinggi pendatapan seseorang, maka semakin banyak kebutuhannya. Katakanlah orang yang penghasilannya sehari hanya 10 ribu, umumnya ia hanya sanggup membeli tempe sebagai lauk makan. Tapi ketika penghasilannya meningkat menjadi 100 ribu sehari, ia akan menginginkan lauk yang lebih enak dari tempe, ikan misalnya.
Lantas jika ia akhirnya sanggup berpenghasilan satu juta per hari, maka ia akan dengan mudahnya membeli daging atau makan di restoran mahal, membeli barang-barang lainnya yang ia inginkan. Kadangkala semakin banyak harta kekayaan seseorang, semakin berpeluang keburukan mengintai. Uang bahkan bisa mengubah seseorang berbalik tiga ratus enam puluh derajat.
Realita sosial ini diangkat Steinbeck dalam karya monumentalnya yang berjudul Mutiara dengan cukup humanis dalam sosok Kino. Kino adalah salah seorang kepala keluarga dengan istri dan satu anak di sebuah perkampungan suku Indian. Demi mengobati anaknya, Kino dan istrinya Juana mencari mutiara dengan maksud menjualnya untuk biaya dokter yang menolak mereka mentah-mentah karena alasan kemiskinan.
Rupanya mujur bagi Kino, ia mendapatkan mutiara yang sangat besar dan sempurna. Mutiara terbesar yang pernah ditemukan di daerahnya. Kino membayangkan mutiara sebesar itu akan memberikan banyak pengharapan; Pakaian yang layak bagi Juana, kano untuk bekerja, juga pendidikan anaknya agar mereka bisa keluar dari keterpurukan.
Tentu saja, bersamaan dengan kegembiraan itu, ada banyak tragedi mengintai kehidupan mereka. Mutiara itu membangunkan iblis di dalam diri banyak orang. Kini, Kino, Juana serta bayi di dalam gendongannya harus menghadapi perjalanan antara hidup dan mati. Mutiara itu membawa mereka pada perangkap demi perangkap, perampasan, juga pengejaran demi pengejaran.
Sejauh ini Steinbeck tidak pernah mengecewakan saya. Novel-novel karyanya selalu berhasil membuat saya semakin jatuh cinta. Ciri khas Steinbeck sangat mudah dikenali dari karyanya. Ia cenderung mengangkat tema-tema sosial dengan selipan-selipan satire. Juga penokohannya yang terasa sangat utuh dan kuat. Sangat berkarakter.
Meski tipis, karya-karyanya selalu saja membuat saya menahan nafas, merasakan sensasi ketegangan dalam narasinya yang detail, dan kemudian menarik nafas yang sangat panjang saat halaman terakhir berhasil saya selesaikan dengan pemaknaan yang mendalam. Berisi dan manis.
Membaca novelnya ini membuat saya teringat dengan film layar lebar yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio berjudul Blood Diamond. Esensi kisah Leonardo DiCaprio dalam Blood Diamond dan Kino dalam novel Mutiara ini memiliki banyak kesamaan; sama-sama mengangkat isu diskriminasi sosial, realita korporasi, ironi suku minoritas dan daerah konflik, juga sifat dasar manusia yang mudah dipengaruhi.
Tapi, dari novel Mutiara ini, kita tak hanya disuguhkan sekedar wacana sosial saja, melainkan kita akan mendapati sisi-sisi emosional dan karakter manusia yang lebih mendalam. Bahwa setiap kita sebetulnya memiliki satu benang merah, yakni sama-sama menginginkan yang terbaik untuk hidup kita.
“Karena seperti kata pepatah bahwa manusia memang tak pernah puas, jika sudah diberi sesuatu pasti akan meminta yang lebih, dan sayangnya hal tersebut merupakan satu-satunya bakat terbesar manusia yang membuatnya menjadi makhluk yang lebih mulia daripada binatang, padahal binatang selalu merasa puas dengan yang mereka miliki.” (The Pearl – John Steinbeck)
Judul buku: Picasso Fairy Tale 49 – Rosie’s Walk (dalam edisi terjemahan Korea 로시의 산책) Penulis: Patricia Hutchins Penerjemah: Kim Seok Gyu Penerbit: Montessori Korea Tahun Terbit: 1997 Tebal: 36 halaman ISBN: 89-7098-178-0 Genre: Buku Anak Rating: 5/5
Agaknya pernyataan ‘Don’t judge the book by its cover‘ harus saya tepis ketika memutuskan untuk membeli buku-buku cerita anak berbahasa Korea beberapa tahun lalu di lapak buku bekas dalam jumlah yang banyak. Selain harganya yang murah, sampulnya yang berilustrasi cantik dan unik dengan warna-warni yang kontras adalah alasan utama yang membuat saya langsung jatuh cinta.
Saya pasrah dengan isi ceritanya. Yang penting selama buku itu memiliki gambar, artinya buku itu bisa dibaca. Toh ada banyak wordless book yang beredar di pasaran untuk anak-anak dan sejauh ini tetap bisa dinikmati sesuai imajinasi pembaca.
Nah, salah satu buku cerita yang saya beli itu adalah terjemahan dalam bahasa Korea dari buku perdananya Patricia Hutchins yang berjudul Rosie’s Walk. Buku tersebut pertama kali diterbitkan tahun 1968 oleh The Bodley Head dan Macmillan US yang berhasil meraih penghargaan di ajang Boston Globe-Horn Book Award Amerika Serikat.
Selain itu, para pustakawan Amerika juga memasukkan Rosie’s Walk ke dalam daftar buku American Library Association (ALA) Notable dan banyak dijadikan koleksi di perpustakaan-perpustakaan.
Rosie’s Walk bercerita tentang kisah seekor ayam betina yang diikuti oleh seekor serigala lapar dalam 27 halaman berilustrasi. Tentu saja seperti di banyak dongeng, serigala di kisah Rosie ini juga digambarkan sebagai tokoh jahat yang tujuan utamanya memakan tokoh utama. Dan lagi-lagi, pembaca umumnya sudah tahu bakal seperti apa akhir dari cerita dongeng tersebut.
Namun, uniknya di buku Rosie’s Walk ini adalah kegelian yang dimunculkan penulis ketika menggambarkan proses Serigala yang ingin menangkap Rosie.
Serigala ini mengikuti Rosie mulai dari Rosie keluar kandang sampai keluar halaman melewati banyak tempat dan, betapa tidak beruntungnya si Serigala, setiap kali ia hendak mencapai Rosie dan bersiap menerkamnya, selalu ada saja kejadian yang membuatnya gagal.
Yang terbentur kayu lah, yang tercebur kolam lah, yang tertimpa karung tepung lah, sampai diikejar-kejar dan disengat lebah. Dan ironisnya, Rosie si ayam betina selalu saja beruntung dan tetap hidup, bahkan acuh tak acuh di depan.
Dia bahkan tidak tahu-menahu bahwa di belakangnya ada serigala yang sedang berjuang keras menangkapnya. Ironis bagi serigala, tapi tetap saja menggelikan melihatnya.
Tulisan di dalam buku ini sangat minim, lebih dominan di ilustrasinya. Rasanya sangat mudah diterjemahkan oleh anak-anak sesuai imajinasi mereka. Namun meskipun tergolong buku anak, tapi sebenarnya membaca buku ini bisa menghasilkan interpretasi yang berbeda bagi usia yang berbeda. Bagi saya, selain buku ini ceritanya lucu dan menarik, humor di buku ini juga bisa diartikan sebagai alegori terhadap banyak konsep dalam hubungan sosial kita.
Contohnya bagaimana kita bersikap acuh terhadap omongan negatif orang lain, atau bagaimana kita tetap bangkit ketika ada pihak yang ingin membuat kita jatuh, atau bagaimana kita bersikap optimis ketika ada tantangan yang mengejar di belakang, serta pemaknaan lainnya yang terwakilkan oleh tokoh Serigala dan Rosie. Bisa jadi kita ini adalah Rosie-Rosie di dalam kehidupan nyata. Atau Serigala? Atau bahkan keduanya?
Penulis yang juga populer dengan nama Pat Hutchins ini adalah seorang penulis sekaligus ilustrator asal Inggris yang telah menghasilkan sekitar 50 buku cerita anak dengan ilustrasi khas yang dibuatnya sendiri. Tak hanya buku cerita atau dongeng, novel anak pun termasuk karya yang juga ditulis olehnya. Oleh Montessori Korea, buku ini dijadikan bahan untuk pembelajaran anak-anak.
Pat Hutchins menggunakan teknik menggambar dengan garis-garis sederhana di ilustrasinya, tetapi mengandung banyak pola yang berbeda. Ada titik, garis, panah, lingkaran, dan sebagainya. Warna yang digunakannya juga adalah warna-warna dasar merah, kuning dan hijau, tanpa warna biru sedikitpun. Sederhana sekali, tapi indah dan memberikan nuansa tenang. Terkesan seperti buku-buku cerita rakyat zaman dulu yang mengandung warna-warna linier yang sederhana. Saya suka sekali warna dan ilustrasinya.
Awalnya saya tidak tahu arti dari judul buku ini karena ditulis total dalam bahasa Korea. Beruntung, ada fasilitas Google Translate di aplikasi Android. Saya cukup melakukan scan dengan kamera ke arah sampul bertuliskan judul buku dan aplikasi tersebut langsung merekam tulisan Hangul yang ada kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.
Tetapi saat saya membuka halaman berikutnya, ternyata di sana terdapat lima baris kalimat berbahasa Inggris bertuliskan ‘Rosie’s Walk’ berikut keterangan penulis dan penerbit buku aslinya. Berbekal dari lima baris tersebutlah maka saya pun melakukan pencarian. Voila, saya menemukan banyak hal tentang buku ini dan jadilah resensi ini agak panjang.
Sebuah wordless book dapat membuka imajinasi tanpa batas bagi siapa saja. Pun bahkan ketika buku tersebut tidak ditulis dalam bahasa ibu, namun dengan sedikit sentuhan kreativitas, pembaca bisa mengeksplorasi banyak hal. Biarkan gambar yang bercerita. Dan dari buku sejenis ini, saya melihat bukti bahwa dunia literasi bisa menjangkau pembaca meski tanpa kata dan suara.
Judul: Palestina yang Terlupakan Penulis: Khalid Basalamah Penerbit: Pustaka Ibnu Zaid ISBN: 978-602-51342-0-3 Tahun terbit: 2018 Cetakan: Kesatu Tebal: 86 hlm Genre: Agama Islam, Sejarah Rating: 4/5
Berita-berita atau informasi yang banyak beredar di masyarakat, entah itu dari media cetak maupun elektronik, biasanya sangat berpotensi memunculkan sikap reaktif. Apakah itu reaksi positif, apakah itu negatif, asalkan informasi itu sensitif dan kontroversial, tak perlu menunggu waktu lama, sebentar saja pasti menjadi viral.
Salah satu isu yang seringkali menjadi trending topic di dunia maya adalah isu Palestina, baik tentang konflik yang sedang terjadi maupun segala hal yang berkaitan dengannya.
Dari isu-isu yang ada, kita bisa melihat bahwa betapa fluktuatifnya respon masyarakat kita. Ketika ada berita atau informasi terbaru tentang Palestina misalnya, masyarakat umumnya langsung memberikan respon yang beraneka ragam modelnya. Ada yang memberikan dukungan, ada yang biasa saja, ada yang mencibir, ada yang membenci, ada pula yang bergembira.
Tak jarang pula terjadi perdebatan antara yang pro dan kontra, sebab isu Palestina memang isu panas yang sampai kapan pun akan terus bergulir. Namun, ketika selang beberapa hari berlalu sejak berita itu ramai dibicarakan, keramaian pro kontra tersebut turut hilang tanpa bekas.
Jika ada berita atau informasi yang menjadi viral lagi, kehebohan itu kembali lagi seperti sedia kala, dan selanjutnya akan berlalu begitu saja. Apakah ini hanya euforia sesaat? Pun masyarakat seolah lupa bahwa nun jauh di belahan bumi sana, ada sebuah negeri yang diberkahi, yang penduduknya masih terus berjuang untuk kedaulatan tanahnya.
Buku Palestina yang Terlupakan ini seolah hadir sebagai pengingat saya dan kita semua tentang keberadaan tanah yang diberkahi tersebut. Terlepas dari sedang marak atau tidaknya konflik yang berlangsung, sedang hangat atau tidaknya isu yang berkembang, buku ini mengingatkan kita kembali bahwa jangan sampai kita terlupakan dengan Palestina.
Lupa akan keutamaan-keutamaannya, lupa akan alasan mengapa kita harus senantiasa mengingatnya, lupa akan pesan nabi Allah mengapa seorang muslim dianjurkan untuk mendatanginya walau hanya sekali seumur hidup, lupa mendoakannya, lupa membantunya, juga lupa akan banyak hal tentangnya. Ada berbagai jawaban dan alasan mengapa kita tidak boleh melupakan Palestina, dan bahasan ini disampaikan oleh Ustadz Khalid Basalamah dengan bahasa yang ringan di dalam buku ini.
Khalid Basalamah adalah salah seorang asatidz yang mumpuni di Indonesia yang kajiannya juga banyak beredar di internet. Beliau menguasai banyak bidang ilmu seperti fikih, akidah, hadits, dan sebagainya. Gaya penyampaiannya yang ringkas dan renyah tapi padat sangat terlihat jelas di buku ini. Kalau saya boleh katakan, buku ini memang benar-benar to the point menyuguhkan Palestina apa adanya. Buku ini tidak mengupas tentang Palestina dari A sampai Z, melainkan berisi pembahasan mengapa Palestina tidak layak untuk dilupakan oleh seorang muslim.
Ada bab mengenai keutamaan-keutamaan Palestina di dalam Al-Quran dan As-Sunnah, ada sejarah singkat tentang penduduknya, ada sejarah singkat tentang pembangunannya, juga tentang bagaimana akhirnya kaum Yahudi beramai-ramai memasukinya dan konflik apa sebenarnya yang terjadi di sana.
Di dalamnya juga ada gambaran tentang kehidupan nyata masyarakatnya, termasuk kegiatan bercocok tanam, berdagang, juga kehidupan sosialnya. Ada tips singkat bagaimana cara ke sana bagi yang ingin berkunjung.
Contoh isi halaman. Foto diambil dari penerbit.
Meskipun tipis dan bahasanya ringan, isi buku Palestina yang Terlupakan menurut saya cukup mewakili untuk sekadar mengingatkan kaum muslimin bahwa ada satu masjid di sana yang salat di dalamnya lebih utama daripada salat di seribu masjid, yang terdapat bekas naiknya nabi ketika peristiwa Isra’ Mi’raj, yang pernah menjadi kiblat pertama kaum muslimin, yang di atas tanahnya telah banyak tertumpah darah para nabi, sahabat, tabi’in dan orang-orang shalih, yang di sanalah nanti akan turun nabi Isa ‘Alaihissalam.
Buku ini seolah pelengkap bagi berbagai buku yang membahas tentang Palestina dan penduduknya, juga pengingat bagi kita yang bisa jadi tidak terlalu memikirkannya.
Saya takjub melihat kualitas kertas dalam buku ini. Dengan ketebalan 86 halaman, buku ini menggunakan kertas licin dan tebal serta full color, pun harganya sangat terjangkau bila dibandingkan buku-buku full color sejenis.
Buku ini juga dilengkapi ilustrasi berwarna. Saya bertanya-tanya, apa penerbitnya tidak rugi? Masya Allah, semoga menjadi amal jariyah. Jadi, bagi yang tidak suka bacaan berat, buku ini menurut saya sangat cocok untuk dibaca.
Catatan sponsor: Bagi yang berminat dengan buku ini, Anda bisa mendapatkannya di PromoBuku.com atau Whatsapp ke wa.me/6283130117884