Category: Nonfiksi

  • Boardbook Seri Sirah Nabi Muhammad SAW untuk Anak – GIP oleh Tartila Tartusi

    Judul: Seri Sirah Nabi Muhammad SAW
    Penulis: Tartila Tartusi
    Ilustrator: Setia Adhi
    Penerbit: Gema Insani Press
    ISBN: 978-602-250-130-5
    Tebal: 25 halaman
    Tahun Terbit: Juni 2014
    Cetakan: Pertama
    Genre: Agama Islam, Sirah, Buku Anak Muslim
    Rating: 4/5

    Saya tertarik membeli buku ini awalnya karena diskon besar yang dijanjikan pada jajaran buku obral di sebuah pameran buku, selain, tentu saja, karena bentuk fisik bukunya yang sangat bagus. Boardbook? Kapan lagi bisa didapat dengan harga murah?

    Dan, pada mulanya, saya juga mengira kalau buku ini berisi sejarah hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk anak-anak, yang mengisahkan kehidupan beliau sejak lahir hingga wafat. Nyatanya, perkiraan saya itu sangat jauh meleset.

    Seri Sirah Nabi Muhammad SAW untuk anak-anak terbitan Gema Insani Press ini ternyata hanya mengisahkan kehidupan masa kecil Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam saja sampai beliau diasuh oleh Halimah, sang ibu susuan, tidak sampai beliau dewasa, apalagi wafat.

    Lantas, apakah saya kemudian menyesalinya? Alhamdulillah, saya tidak menyesal membeli buku ini. Menurut saya, ada banyak keunikan yang dimiliki oleh buku ini.

    Buku ini ditulis dalam 10 jilid, yang tiap-tiap jilidnya memiliki fokus kisah sendiri-sendiri. Saya acungi jempol untuk penulisnya, Tartila Tartusi, yang berhasil menulis ulang kisah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan gayanya sendiri yang unik.

    Kisah yang panjang itu bisa disajikan dalam bentuk tulisan singkat dan padat mengandung rima, seperti syair, yang tidak mudah sebetulnya untuk disusun tanpa kehilangan alur dan inti penting dari kisah. Tulisan yang singkat namun padat makna tentunya akan memudahkan pembaca pemula dalam memahami jalan cerita, sehingga mereka tidak perlu kesulitan menalarkan kisah.

    Boardbook Seri Sirah Nabi Muhammad SAW untuk Anak Terbitan Gema Insani Press

    Saya tak menemukan banyak informasi tentang penulisnya, tapi salah satu karyanya yang lain adalah Ensiklopedi Anak Muslim yang juga diterbitkan oleh penerbit yang sama.

    Dibandingkan dengan karyanya tersebut, gaya bercerita di buku Seri Sirah Nabi Muhammad SAW untuk anak-anak ini memang sangat berbeda. Barangkali ini dikarenakan sasaran usia pembaca atau metode yang ingin digunakan sangat jauh berbeda.

    Di dalam pengantarnya, penulis menjelaskan bahwa tujuan dituliskannya kisah dengan gaya berrima adalah agar anak-anak maupun orangtua dapat membacanya dengan bernyanyi ala barzanji.

    Saya tidak tahu, apakah maksud penulis agar ceritanya dibaca dengan cara bernyanyi menggunakan gaya lantunan barzanji ataukah itu hanyalah analogi saja untuk memudahkan pembaca mengambil contoh. Sebab, jika yang dimaksud adalah yang pertama yakni harus menggunakan gaya barzanji, tentu ini bisa saja menimbulkan sedikit masalah.

    Seperti yang kita tahu, barzanji umumnya kita temukan di lembaga pendidikan seperti pesantren atau madrasah, yang biasa dilakukan terutama saat menyambut maulid nabi maupun di hari-hari tertentu.

    Tak banyak masyarakat umum yang tahu bagaimana melakukan barzanji, terutama yang tidak berlatar pesantren, sehingga memaksakan buku ini dibaca ala barzanji tentu kurang relevan. Lagi pula, ritual barzanji masih berpotensi menuai pro kontra, sebab sebagian jumhur ulama melarangnya, namun sebagian lainnya membolehkan.

    Meskipun membaca buku ini ala barzanji tidak ada hubungannya dengan ritual barzanji, tapi bagaimana mungkin memaksakan sesuatu dengan sesuatu yang masih menuai silang pendapat? Agak riskan saya pikir.

    Saya pribadi cenderung lebih suka mengambil anggapan kedua, yakni maksud penulis menggunakan istilah barzanji hanyalah sebagai analogi atau contoh, sehingga pembaca paham maksud dan tujuan penulis mengapa kisahnya ditulis dengan gaya berrima.

    Bisa saja buku ini dibaca dengan irama yang berbeda atau gaya bertutur tanpa irama sesuai keinginan pembaca. Saya lebih senang berlepas diri dari perdebatan pendapat tentang hukum fikih. Jadi, memilih anggapan kedua menurut saya lebih memungkinkan rasa aman dan nyaman bagi pembaca, selain juga lebih fleksibel karena pembaca bisa bebas berkreasi.

    Mengutip penuturan penulis di dalam pengantarnya,

    “Syair umumnya disukai anak-anak karena bahasanya berirama, ekspresif, dan menuntun imajinasi serta fantasi mereka.” (Pengantar Jilid 1)

    Anak-anak memang lebih suka belajar sambil bermain. Mendengarkan seseorang membacakan dongeng dengan gaya ekspresif tentu tidaklah jauh berbeda keasyikannya dengan membaca sambil berirama. Inilah yang saya tangkap maksud dari penulis hendak menawarkan cara membaca yang anti mainstream bagi anak-anak.

    Buku ini juga dibuat dalam bentuk ilustrasi penuh warna yang sangat cantik. Saya katakan cantik karena penggunaan warna-warninya yang indah, tajam dan kompleks. Meskipun karakter manusianya bukan faceless, namun bentuk ilustrasinya yang menarik membuat mata pembaca lebih segar dan tidak membosankan.

    Kertasnya keras dan glossy juga memudahkan pembaca pemula, sehingga tidak terlalu membuat orangtua khawatir buku menjadi cepat sobek atau kotor. Selain itu, penulis menceritakan ulang kisah di dalamnya berdasarkan sumber-sumber yang shahih.

    Pembaca bisa melihat referensi yang digunakan di lembar daftar pustaka dan mendapati kitab-kitab rujukan maupun sirah dari ulama-ulama terpercaya.

    Namun sangat disayangkan, saya merasa seri ini masih kurang lengkap karena jilid 10 selesai hanya sampai di masa kecil nabi bersama ibu susuannya hingga dikembalikan ke Mekah. Selanjutnya bagaimana kisah beliau sekembalinya ke Mekah hingga baligh tidak diceritakan di sini.

    Seharusnya buku ini bisa dilanjutkan sampai masa kanak-kanak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam selesai. Tapi, terlepas dari kekurangannya tersebut, menurut saya buku ini masih buku terbaik yang pernah saya temukan.

    Buku anak yang berkisah tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sangatlah banyak di pasaran, namun yang fokusnya hanya pada masa kecil beliau, saya kira masihlah sangat terbatas. Bahkan mungkin hampir tidak ada.

    Dan Seri Sirah Nabi Muhammad SAW terbitan GIP ini adalah satu-satunya yang baru saya temukan sejauh ini yang membahas masa kecil beliau. Mudah-mudahan penulisnya memiliki rezeki kesehatan dan kelapangan waktu sehingga suatu saat akan ada kelanjutan dari 10 serinya.

    NB: Bagi yang berminat dengan buku ini bisa juga menghubungi saya di nomor WA 083130117884

  • Seri Ushul Tsalatsah for Kids – Mengenal Allah oleh Arnida Sharah Auli

    Judul: Mengenal Allah
    Penulis: Arnida Sharah Auli
    Ilustrator: DK Wardhani dan Tiffa N. Tanuwigena
    Penerbit: Ahlan Pustaka Umat
    ISBN: 978-602-61452-0-8
    Tebal: 25 halaman
    Tahun Terbit: September 2017
    Cetakan: Kedua
    Genre: Agama Islam, Aqidah, Buku Anak Muslim
    Rating: 5/5

    Saya masih ingat, ketika saya selesai membaca buku Ulasan Tuntas tentang 3 Prinsip Pokok karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, saya berharap di dalam hati, andaikan saja ada versi buku anak-anaknya yang mengupas tentang ushul tsalatsah, tentu akan sangat bermanfaat untuk pembaca anak-anak.

    Dan, alhamdulillaah, harapan saya tersebut ternyata Allah ta’ala penuhi dua tahun kemudian di buku Mengenal Allah terbitan Ahlan Pustaka Umat ini.

    Mengapa pembahasan tema ushul tsalatsah ini sangat penting? Kita pasti sudah paham bahwa risalah yang dibawa seluruh nabi dan rasul adalah tauhid, yakni meng-Esa-kan Allah, dan ini termasuk aspek dasar aqidah seorang muslim. Tiga prinsip pokok ajaran Islam yang termaktub di dalam ushul tsalatsah merupakan poin utama yang akan dipertanggungjawabkan pertama kali di alam kubur nanti.

    Lalu mengapa buku anak? Seseorang yang dewasa tidaklah langsung dewasa, melainkan pasti melewati fase anak-anak.

    Terkadang ketika orangtua ditanya anaknya, “Ma, Allah ada di mana?”

    Dengan polosnya sang ibu menjawab, “Allah ada di mana-mana.”

    Pemahaman seperti ini tentu tidaklah tepat dan tidak sesuai dengan petunjuk Allah dan nabi-Nya. Maka menjadi teramat penting bagi anak untuk membentuk pemahaman akidah yang lurus sejak dini, sebab nantinya pemahaman inilah yang akan menjadi pondasi utama anak-anak dalam kehidupan.

    Ada banyak kasus penyimpangan akidah terjadi disebabkan oleh ketidakpahaman seseorang dan sulitnya mengubah paradigma berpikir. Kesalahan-kesalahan dalam akidah ini jika sudah terlalu berakar di tengah masyarakat akan sangat tidak mudah untuk memperbaikinya. Oleh karena itu, memahamkan akidah sejak dini kepada anak-anak menjadi salah satu tujuan dasar pendidikan Islam.

    Buku Mengenal Allah mengajarkan anak tentang siapa dan di mana Allah, apa saja sifat-Nya, dan materi yang berkaitan agar anak-anak bisa mengenal penciptanya.

    Buku setebal 25 halaman yang ditulis oleh Arnida Sharah Auli ini dikemas dengan ilustrasi berwarna yang sangat menawan dari goresan tangan DK. Wardhani dan Tiffa N. Tanuwigena. Saya cukup familiar dengan nama DK. Wardhani karena buku-buku karya ilustrasi beliau sudah banyak beredar.

    Yang saya suka dari buku ini adalah ilustrasinya yang penuh warna dan dilukis tangan oleh ilustratornya, bukan vektor grafis, jadi benar-benar orisinil dan sangat indah. Karakter yang digambar juga faceless, tanpa wajah, sehingga lebih menghindarkan kita dari hal-hal yang kurang disepakati.

    Materi yang disampaikan di dalam buku ini bersumber dari referensi yang shahih dan sudah diperiksa pula oleh Ustadz Muhtarom Abu Abdil Aziz selaku orang yang memiliki kapasitas ilmu yang mumpuni, sehingga orangtua pun tidak perlu khawatir dengan validitas ilmu yang disampaikan di dalamnya.

    isi dalam buku Mengenal Allah


    kredit foto: Ahlan Pustaka Umat

    Buku anak yang cantik ini ditulis dengan gaya penceritaan yang sederhana dan ringan sehingga akan mudah dipahami oleh anak-anak, in sya Allah.

    Selain itu, yang juga saya suka dari buku ini adalah ditambahkannya fitur muroja’ah, di mana orangtua dan anak diajak untuk mengikuti semacam permainan sederhana mencari berlian, yang nantinya akan ada surat dan ayat Al-Quran untuk rujukan anak-anak agar lebih mengenal Allah.

    Sayangnya, fitur muroja’ah yang terdapat di setiap halamannya, menurut saya, ditampilkan dengan visual yang sangat kecil sehingga sedikit kurang nyaman untuk saya lihat. Maklum, faktor umur juga berpengaruh. Apakah memang sengaja dibuat sedemikian rupa sebagai bentuk permainan untuk ‘mencari sesuatu’ ataukah agar pembaca bisa lebih jeli.

    Saya tidak tahu pasti apa alasan penerbit membuat tata letak muroja’ahnya seperti itu. Jika bukan karena alasan tersebut, saya berharap fitur muroja’ah yang ada di tiap halamannya mungkin bisa dibuat dalam bentuk visual yang lebih besar dan jelas. Seperti semacam kolom atau kotak khusus barangkali, sehingga anak-anak yang sudah bisa membaca pun bisa dengan mudah menelusurinya.

    Selain buku ini cantik, isinya berkualitas dan bisa dipercaya, para orangtua juga bisa mengadopsi bahan materi di dalamnya untuk mengembangkan materi pendidikan anak di rumah, misalnya dengan membuat permainan yang sesuai tema atau bahkan mengeksplorasi poin-poin di dalamnya untuk dikembangkan menjadi kurikulum belajar di rumah. Masya Allah.

    Saya suka buku terbitan Ahlan Pustaka Umat ini. Meskipun penerbit ini terbilang baru di belantara penerbitan buku di Indonesia, tapi saya optimis, penerbit ini mampu menjadi salah satu trend setter bacaan Islam yang berkualitas dan terpercaya, bersanding dengan penerbit-penerbit Islam lainnya.

    Semoga penulis, ilustrator, editor, penerbit, penjual dan pembaca buku ini mendapatkan keberkahan dan menjadikan buku ini sebagai amal jariyah. Aamiin.

  • Surat-Surat Nabi kepada Para Raja dan Panglima Perang oleh Syaikh Uhaimid Muhammad Al-Uqaili

    Judul buku: Surat-Surat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Para Raja dan Panglima Perang
    Judul asli: Al-Atsaru wad Dalaalaatu Lirasaailin Nabiy
    Penulis: Syaikh Uhaimid Muhammad Al-Uqaili
    Penerjemah: Wafi Marzuqi
    Penerbit: Pustaka Yassir
    ISBN: 978-602-8342-08-7
    Tahun terbit: 2011
    Jumlah halaman: 667 halaman
    Genre: Agama Islam, Sejarah Islam
    Rating: 5/5

    Dalam rantai sejarah, yang namanya distorsi akan selalu ada sejak dahulu sampai sekarang, apa pun bentuk dan asalnya. Pun begitu pula dengan gambaran Islam dari pihak-pihak tertentu yang acap kali memberikan stigma negatif, termasuk yang berkaitan dengan penyebarluasan Islam pada masa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Islam hanya disebarkan dengan pedang dan pertumpahan darah.

    Anggapan ini terkadang ditelan bulat-bulat oleh generasi selanjutnya tanpa mengetahui fakta sejarah yang utuh. Bahkan yang lebih ekstrem lagi, ada sebagian dari kita yang menjadi ragu atau bingung jika ditanya apakah benar rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebarkan Islam lewat cara-cara brutal dan perang demi perang? Na’udzubillaah.

    Alhamdulillah, terima kasih kepada Syaikh Uhaimid Muhammad Al-Uqaili yang telah menghimpun peninggalan arsip surat-surat bersejarah di masa nabi di dalam buku yang berjudul Surat-Surat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini.

    Kalau di resensi buku sebelumnya kita sudah mengenal para sekretaris nabi, kini lewat karya penulis ini, kita akan dengan mudah memahami geliat dakwah diplomasi nabi melalui surat-surat beliau.

    Buku setebal 667 halaman dengan sampul keras ini berisi surat-surat yang dikirimkan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para raja, panglima perang, juga kepala wilayah di berbagai belahan dunia. Mulai dari Semenanjung Jazirah Arab, Romawi, Persia, India, hingga ke negeri Cina.

    Surat-surat yang lahir dari ucapan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tulisan pena para sekretaris beliau telah berhasil sampai di tangan para pemimpin wilayah tersebut melalui duta-duta Islam yang handal.

    Terbagi menjadi lima bab, buku ini akan menunjukkan seperti apa surat-surat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para pemimpin wilayah secara rinci.

    Tidak hanya surat yang dikirimkan oleh nabi, melainkan balasan atau tanggapan atas surat tersebut dari para raja dan panglima juga dicantumkan di dalam buku ini secara sistematis dan kronologis seolah kita sedang membaca korespondensi yang dilakukan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Dari surat-surat tersebut, kita bisa melihat kebijaksanaan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sosok nabi yang mulia yang keistimewaannya juga diakui oleh banyak pemimpin wilayah yang menerima surat beliau.

    Surat-surat yang diulas di buku ini bersumber dari bukti otentik seperti manuskrip asli surat nabi yang masih ada peninggalannya, hadits dan riwayat shahih, risalah kitab para ulama shalafus shalih, dan sumber-sumber lainnya yang saling mendukung.

    Kerangka surat nabi senantiasa dimulai dengan basmalah, kemudian puji-pujian kepada Allah, dan pemberitahuan tentang rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan Allah.

    Selanjutnya, rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memberikan salam penghormatan yang bijaksana kepada orang yang dituju. Kemudian barulah masuk kepada inti surat yakni mengajak kepada tauhid. Tak lupa, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mendoakan para penerima surat dengan doa kebaikan dan hidayah.

    Hampir seluruh surat-surat nabi merupakan bentuk dakwah tauhid beliau kepada para pembesar negeri dengan harapan mereka mau menerima Islam beserta warganya. Ini dapat dilihat dari ajakan beliau kepada Islam dengan cara yang hikmah, serta senantiasa menghimbau para pemimpin wilayah untuk bersedia menerima Islam.

    Jika mereka menerimanya, maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan membela harta dan jiwa mereka. Jika menolak, maka mereka diminta untuk mengakui kekuasaan Islam dan membayar jizyah dan akan dilindungi warganya.

    Jika mereka tetap menolak tawaran tersebut, barulah kemudian perang tidak terhindarkan, tetap dengan memperhatikan adab-adab dalam berperang, di mana tidak boleh terjadi penyiksaan, pemotongan, membunuh wanita dan anak-anak, serta melakukan pengrusakan dan kezholiman.

    Di mana-mana, tidak ada perang yang sebelumnya didahului dengan nasihat bijaksana dan ajakan kasih sayang seperti yang dilakukan nabi. Perang adalah alat terakhir yang ditempuh oleh umat Islam ketika itu.

    Membaca buku ini seolah kita sedang menyaksikan babak demi babak geliat diplomasi rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Ada banyak efek kebaikan yang timbul dari surat-surat tersebut, terlebih lagi kepiawaian diplomasi dan kejernihan iman para duta Islam yang diutus nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan surat sekaligus mensyiarkan Islam menambah semakin cemerlangnya karakter nabi dan kecerdasan duta tersebut di mata para pembesar negara.

    Banyak yang kemudian menerima surat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diikuti penerimaan mereka terhadap Islam seperti gubernur Bahrain dan raja Najasyi, namun ada pula pemimpin yang sebenarnya ingin menerima tetapi tak berdaya di depan rakyatnya sehingga kemudian menolak tawaran nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti Heraclius penguasa Romawi.

    Selain surat-surat kepada para raja, diulas pula surat kepada panglima perang dan pemimpin wilayah Islam yang dipegang oleh para sahabat rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Tak ketinggalan surat-surat perjanjian seperti perjanjian Hudaibiyah dan lainnya, surat-surat pemberian tanah, atau surat-surat kepada orang-orang yang hatinya perlu diikat juga diulas oleh penulis di bagian bab keempat. Masya Allah, lengkap.

    “Di antara kebijaksanaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau memuliakan setiap orang mulia dari kaumnya dengan penghormatan yang sepadan dengannya, dan mengangkat orang yang paling besar atau paling mulia dari setiap kaum sebagai pemimpin. Hal itu demi mengharap keislamannya, juga demi memperhatikan kepantasan dalam memegang jabatan dan menakut-nakuti orang-orang rendahan untuk menjadi pemimpin.

    Ini merupakan keindahan pengaturan beliau. Karena, beliau tahu bahwa setiap kaum sangat menaati pembesarnya. Dengan menetapkan para pembesar pada setiap jabatannya masing-masing adalah untuk memperkokoh ikatan mereka dengan Islam.”

    halaman 613

    Buku Surat-Surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diterbitkan oleh Pustaka Yassir ini merupakan satu-satunya buku terjemahan yang pernah saya baca yang sangat lengkap memuat surat-surat rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Saya katakan sangat lengkap karena buku dengan tema sejenis yang pernah ada seperti Surat-Surat Nabi Muhammad karya Kholid Sayyid Ali terbitan Gema Insani Press tidak mencantumkan surat-surat balasan secara rinci, hanya surat singkat nabi.

    Contoh isi surat nabi kepada gubernur Bahrain

    Contoh sepenggal isi surat balasan gubernur Bahrain kepada nabi

    Daftar isi buku

    Penulis buku ini bahkan menambahkan poin-poin penting seperti dampak dan petunjuk informatif yang diperoleh dari surat-surat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bentuk penjelasan tambahan. Selain itu, surat-surat yang diulas disajikan secara kronologis sehingga terdapat pula beberapa informasi lain seperti kaitannya dengan turunnya surat atau ayat Al-Quran tertentu serta hadits-hadits yang mendukungnya.

    Ini tentunya akan sangat menambah wawasan, pemahaman dan keyakinan kita tentang sejarah dan kemuliaan Islam, termasuk betapa hebatnya sosok rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sayangnya, buku ini tidak dilengkapi dengan lampiran gambar surat yang masih ada bukti peninggalannya, meskipun sedikit, seperti yang ada di buku sejenis lainnya.

    ***

    Membaca buku Surat-Surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mudah-mudahan akan membuka mata kita bahwa surat-surat beliau sangat jelas mencerminkan kasih sayang, doa hidayah, nasihat, arahan beribadah dan berakhlak, kepercayaan diri bahwa Islam akan dapat menjangkau seluruh belahan bumi, kebijaksanaan, serta toleransi terhadap keyakinan agama lain, yang itu tidak semua pemimpin memilikinya.

    Mudah-mudahan dengan ulasan ini, meskipun singkat dan belum mampu mewakili secara utuh isi bukunya, kita semakin sayang dan bangga kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena perjuangan keras beliau bersama para sahabatlah kita hingga di bumi timur ini bisa merasakan nikmatnya berislam.

  • 65 Sekretaris Nabi oleh Muhammad Musthafa A’zhami

    Judul: 65 Sekretaris Nabi
    Judul Asli: Kuttabun Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Penulis: Prof. Dr. Muhammad Musthafa A’zhami
    Penerjemah: Mahfuzh Hidayat Lukman
    Penerbit: Gema Insani
    ISBN: 978-979-077-080-5
    Tebal: 240 halaman
    Tahun Terbit: November 2008
    Genre: Agama Islam, Sejarah Islam, Biografi
    Rating: 4/5

    Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dikenal sebagai nabi yang ummi bukanlah tanpa alasan. Memang, pada masa pra-Islam, mayoritas orang Arab saat itu tidak bisa membaca dan menulis sehingga Allah ta’ala menyebutnya sebagai masyarakat yang ummi (ummiyyun) di dalam Al-Qur’an.

    Namun, pelabelan ummi ini bukan berarti masyarakat Arab secara generalis sama sekali tidak mengenal budaya baca tulis alias buta huruf. Di tengah-tengah masyarakat Arab pra-Islam, ada sebagian kalangan yang sudah mengenal huruf dan membudayakan kegiatan membaca dan menulis.

    Mereka sudah terbiasa mendokumentasikan berbagai akad perjanjian, jual-beli, utang-piutang, maupun mengabadikan peristiwa yang terjadi kala itu melalui tulisan.

    Ketika Islam datang, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ummi tentu saja membutuhkan sahabat-sahabat yang mampu baca tulis untuk membantu beliau dalam dakwahnya, terlebih ketika pengaruh Islam semakin luas. Maka ketika masyarakat Arab tadi masuk Islam, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeleksi mereka-mereka yang mampu baca tulis untuk ditunjuk sebagai juru tulis atau sekretaris negara.

    Buku 65 Sekretaris Nabi yang berjudul asli Kuttabun Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini ditulis oleh Prof. Dr. Muhammad Musthafa A’zhami, seorang ahli hadits kontemporer yang dikenal luas lewat kajian kritisnya terhadap teori-teori dari para orientalis Islam.

    Penulis, yang salah satu karya monumentalnya sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul Hadits Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, menulis buku ini dengan merujuk pada manuskrip kitab karya al-Baqilani yang berjudul al-Intishar lil Qur’an sebagai sumber utama.

    Kitab al-Baqilani tersebut mengulas nama-nama sekretaris nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebagian besar sudah diulas oleh penulis lainnya dengan tambahan beberapa nama baru yang belum pernah diulas oleh penulis sebelumnya.

    Berdasarkan frekuensi menulis surat, sekretaris nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diklasifikasikan dalam tiga kelompok; sekretaris yang banyak menulis surat, yang sedikit menulis surat, dan yang namanya tercantum pada kitab-kitab lainnya tetapi tidak disebutkan secara eksplisit sebagai sekretaris.

    Nah, metode yang ditempuh penulis dalam menulis buku ini adalah dengan mengumpulkan semua nama yang disebut-sebut sebagai sekretaris nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa mempertimbangkan frekuensi penulisannya.

    Penulis juga menambahkan di dalam buku ini beberapa nama yang masih belum diyakini kevalidannya tetapi dicantumkan oleh para penulis kitab-kitab lainnya yang berkonsentrasi pada pembahasan seputar sekretaris nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu saja dengan tujuan untuk mengulas keabsahannya, sehingga pembaca dapat membedakan mana yang valid dan mana yang masih belum diyakini kebenarannya.

    Ada 65 orang sekretaris Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang biografinya diulas secara singkat oleh Prof. Dr. Muhammad Musthafa A’zhami. Buku ini dibagi menjadi tiga bagian pembahasan utama, di mana di bagian pertama, penulis mengulas tentang geliat administrasi dan kearsipan di masa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Pada masa itu, bangsa Arab Islam sudah mengenal konsep kesekretariatan yang disebut dengan istilah Diwan. Para sekretaris nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memiliki pembagian tugas masing-masing yang berbeda. Ada yang khusus mencatat Al-Qur’an, ada yang mencatat urusan kenegaraan seperti perjanjian, utang-piutang, dan akad lainnya, serta ada pula bagian penerjemah yang berurusan dengan bahasa asing.

    Bagian kedua buku ini membahas tentang sistematika penulisan surat seperti bentuk konsep surat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, penanggalan surat, dan beberapa hal terkait kerangka surat yang dibuat. Sedangkan di bagian ketiga, penulis mengulas biografi singkat 65 para sekretaris nabi yang disusun sesuai urutan huruf hijaiyah.

    Dapat dikatakan bahwa biografi yang diulas di buku ini teramat ringkas dan hanya berkaitan dengan geliat tokoh dalam hal surat-menyurat, itu pun tak banyak. Bahkan, beberapa tokoh hanya diulas sedikit saja dikarenakan tidak banyaknya sumber yang membahas kehidupan mereka.

    Meskipun 65 biografi di dalamnya diulas cukup singkat, tapi buku ini sebetulnya membuka perspektif baru bagi pembaca dalam mengenal tokoh yang dikenal maupun jarang dikenal orang banyak sebagai sekretaris nabi, yakni orang-orang berilmu dengan potensinya masing-masing.

    Sebut saja Ubay bin Ka’ab radhiyallahu’anhu yang menjadi sekretaris pertama dari kalangan Anshar, atau sekretaris paling terkenal bernama Hanzhalah ibnur Rabi’ radhiyallahu’anhu yang menyimpan stempel nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Ada juga Az-Zubair ibnul Awwam radhiyallahu’anhu yang mendata harta-harta sedekah atau Zaid bin Tsabit radhiyallahu’anhu yang memegang jabatan hakim (qadhi) sekaligus bertugas menuliskan wahyu Al-Qur’an dan surat-surat yang diperuntukkan kepada para raja. Masih banyak nama lainnya dengan keistimewaan tersendiri.

    Selain tiga pembahasan utama di atas, buku ini juga melampirkan sedikit foto-foto manuskrip surat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada beberapa orang yang masih ada jejak peninggalannya, serta gambar contoh inskripsi (tulisan) di masa Arab pra Islam, yang bisa menjadi khazanah tambahan bagi pembaca.

    Manuskrip Surat Nabi
    Contoh Halaman Lampiran Gambar

    Tidak banyak buku yang mengupas nama-nama sekretaris nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara khusus, apalagi buku terjemahan. Rasanya Saya belum pernah mendapati buku lainnya yang mengupas para sekretaris nabi selain karya Prof. Dr. Muhammad Musthafa A’zhami ini.

    Penulisan buku ini didasarkan pula pada manuskrip-manuskrip yang sudah berhasil ditemukan, termasuk yang belakangan, yang pada kitab-kitab sebelumnya tidak termaktub. Dan tidak menutup kemungkinan apabila nantinya ditemukan manuskrip lainnya yang mengemukakan nama-nama lain dari jajaran sekretaris nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Semoga buku ini bisa menambah pengetahuan pembaca tentang sejarah Islam, terutama terkait geliat kearsipan dan administrasi pada masa Arab setelah kedatangan Islam.

    Sebagai tambahan, Anda juga bisa membaca buku-buku berikut ini terkait surat, duta dan sekretaris nabi.

  • Sifat Shalat Nabi oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

    Judul: Sifat Shalat Nabi
    Judul Asli: Sifatush Shalat
    Penulis: Syaikh Muhammad al-Utsaimin
    Penerjemah: Umar Mujtahid, Lc
    Penerbit: Ummul Qura
    ISBN: 978-602-7637-52-8
    Tebal: 296 halaman
    Tahun Terbit: Oktober 2016
    Genre: Agama Islam, Ibadah, Fikih
    Rating: 5/5

    Buku yang membahas cara shalat yang benar pasti sudah banyak sekali diterbitkan oleh berbagai penerbit dan beredar di tengah-tengah masyarakat. Pun sudah banyak pula yang mengulasnya, tentu dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

    Saya bahkan pernah mengulas sebuah buku sederhana namun padat makna 3,5 tahun lalu dengan judul Sifat Shalat Nabi karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani yang diterbitkan oleh Pustaka Ibnu Katsir, yang saya masukkan ke dalam salah satu buku-buku paling berpengaruh bagi hidup saya.

    Kali ini, saya ingin berbagi kegembiraan setelah memperoleh dan membaca buku dengan judul yang sama namun ditulis oleh penulis dan penerbit yang berbeda. Kegembiraan ini tidaklah sama dengan kegembiraan saya mendapatkan makanan enak atau materi berlimpah, melainkan kegembiraan karena mengetahui betapa khazanah ilmu keislaman semakin kaya dan kita sangat dimudahkan dalam mempelajari agama kita sendiri lewat buku-buku berkualitas.

    Buku ini, Sifat Shalat Nabi ﷺ , ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dan diterbitkan oleh Ummul Qura, salah satu lini penerbit Aqwam. Seperti kebanyakan buku dengan tema sejenis, buku ini juga mengupas tuntas tentang tata cara shalat yang dicontohkan Nabi Muhammad ﷺ dan hal-hal yang berkaitan dengannya.

    Dibagi menjadi 12 bab utama, pembaca akan menemukan ilmu yang bermanfaat tentang shalat, mulai dari makna dan keutamaan shalat, hukum-hukumnya, syarat dan sifat shalat sesuai riwayat dari Rasulullah ﷺ, hingga berbagai kaidah fikih seputar shalat yang umumnya kita jumpai dalam keseharian.

    Penulis menyadarkan kita lewat buku ini bahwa nabi mencontohkan banyak posisi atau tata cara shalat agar umatnya bisa menyuburkan sunnah dengan cara yang sama seperti yang dicontohkan. Hal ini membuka mata saya bahwa beberapa perbedaan gerakan shalat ternyata memang ada dicontohkan nabi, tentunya yang sesuai dalil shahih, dan seharusnya kesemuanya itu bisa kita praktikkan dalam keseharian.

    Di sinilah letak kunci menyuburkan sunnah yang dimaksud. Jadi bukan berarti kita hanya saklek melakukan cara shalat satu macam saja, melainkan apa yang dilakukan nabi pun hendaknya kita lakukan juga, baik dari segi bacaan maupun gerakannya. Selain itu, Syaikh Muhammad al-Utsaimin juga mengupas kasus-kasus yang sering kita jumpai dan menjadi pertanyaan sehari-hari.

    “Setelah tiga kali disuruh mengulangi shalatnya, shahabat Nabi itu pun meminta diajari oleh Nabi. Dengan lemah lembut, beliau pun mengajarkan, “Jika engkau hendak shalat maka sempurnakanlah wudhu, lalu menghadaplah ke kiblat, lalu bertakbirlah.” (HR. Bukhari)

    Lantas apa keistimewaan dan bedanya dengan buku bertema sama lainnya? Menurut saya, perbedaan inilah yang paling membuat saya terkesan dibandingkan buku tata cara shalat yang pernah saya baca sebelumnya.

    Sifat Shalat Nabi karya Syaikh Muhammad al-Utsaimin terbitan Ummul Qura ini disusun secara ringkas dan sistematis. Kita tidak akan menemukan banyaknya pembahasan tentang perbedaan fikih atau pendapat seputar shalat, yang seringkali membuat pembaca awam atau pemula bingung.

    Di buku ini dikupas pendapat jumhur ulama saja, dengan tidak juga meringkas seringkas-ringkasnya, sehingga pembaca dapat dengan mudah memahami secara utuh penjelasan topik yang dimaksud.


    Kredit foto: pustakahanan.id

    Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan foto gerakan shalat agar memudahkan pembaca melihat secara visual posisi-posisi shalat yang benar dan tidak salah penafsiran. Dari segi penataan isi, buku ini menyuguhkan tulisan yang cukup jelas, tidak terlalu rapat, dan tata letak yang lumayan bagus.

    Apalagi sampulnya yang hardcover dan ketebalannya yang tidak terlalu tebal membuat kegiatan membaca semakin menyenangkan karena bisa dibawa-bawa dan dibaca kapan dan di mana saja tanpa khawatir rusak atau lusuh.

    Secara keseluruhan, saya paling suka dengan buku Sifat Shalat Nabi edisi ini. Padat, ringkas, praktis dan menyenangkan untuk dibaca. Bahkan menurut saya, buku ini memiliki potensi untuk dibaca berulang-ulang tanpa membosankan.

    Seperti yang diperintahkan nabi, bahwa kita hendaknya menyempurnakan shalat, maka buku ini bisa menjadi sarana efektif untuk kita belajar menyempurnakan amalan yang paling pertama dihisab kelak.

    Catatan:
    Bagi Anda yang berminat dengan buku ini juga dapat menghubungi toko buku rekanan kami di nomor Whatsapp 083130117884

  • The Life-Changing Magic of Tidying Up oleh Marie Kondo

    Judul: The Life-Changing Magic of Tidying Up
    Penulis: Marie Kondo
    Penerjemah: Reni Indardini
    Penerbit: Bentang
    ISBN: 978-602-291-244-6
    Tebal: 206 halaman
    Tahun Terbit: September 2016
    Cetakan: Kedua
    Genre: Nonfiksi, How to, Manajemen
    Rating: 5/5

    “Orang-orang yang telah berbenah secara menyeluruh dan sampai tuntas, sekaligus, mengalami perubahan hidup yang dramatis, tanpa kecuali.” (halaman 170)

    Kutipan ini terdengar bombastis, ya? Masa iya sih, hanya dengan berbenah, beres-beres, kehidupan seseorang bisa berubah secara dramatis? Apa ini tidak terlalu berlebihan? Sayangnya, anggapan berlebihan yang kita pikirkan itu terbantahkan oleh kenyataan bahwa betapa banyaknya orang yang telah mengalami perubahan positif dan drastis hanya karena berbenah.

    Mungkin kita dulu sering beres-beres rumah. Membongkar lemari, rak buku, kamar tidur, dapur hingga seluruh rumah kita benahi. Bisa jadi di antara kita banyak yang hobi berbenah dan menyimpan aneka buku dan tips beres-beres. Mulai dari majalah interior, aneka foto lemari penyimpanan unik yang kita simpan di akun media sosial kita, atau sekadar artikel-artikel cara berbenah efektif yang kita baca di internet.

    Nyatanya, setiap kali kita selesai berbenah, meskipun ada kepuasan melihat rumah kita sedikit tertata, tapi tak berapa lama kemudian rumah kita tetap kembali seperti semula; Berantakan, amburadul, tidak apik. Salahnya di mana, ya? Mengapa orang yang berbenah tidak juga mengalami perubahan yang signifikan? Mengapa pada akhirnya kita suka melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang?

    Jawaban pertanyaan ini kemudian dikupas tuntas oleh seorang ahli berbenah, Marie Kondo, di dalam bukunya yang berjudul The Life-Changing Magic of Tidying Up, yang memperkenalkan seni beberes ala Jepang paling efektif, KonMari.

    Buku nonfiksi ini tipis dan hanya terbagi menjadi lima bab utama, tetapi pembahasan di dalamnya akan membuat pikiran kita jauh lebih terbuka.

    Pada prinsipnya, metode KonMari sangat sederhana, yaitu membuang dan menentukan di mana harus menyimpan barang.

    Masalahnya, bagaimana menentukan barang mana yang perlu kita buang dan mana yang perlu disimpan? Apa parameter yang paling ampuh untuk digunakan agar barang-barang yang kita buang dan simpan tidak akan meninggalkan penyesalan di kemudian hari? Seperti apa sebaiknya kita merapikan pakaian, buku, pernak-pernik, atau seluruh jenis barang di rumah kita agar benar-benar rapi?

    Nah, metode KonMari ini akan memudahkan kita menentukan pilihan tersebut dengan cara yang berbeda dari tips berbenah lainnya yang pernah ada. Bahkan, KonMari akan memberitahukan kita bagaimana cara melipat pakaian, menyusun isi lemari, membuang kertas, sampai menyimpan barang-barang penuh kenangan dari masa lalu.

    “Dengan membereskan rumah, kita sekaligus membereskan urusan dan masa lalu kita.” (halaman xiv)

    Marie Kondo menggunakan pendekatan kebahagiaan di dalam metodenya. Di sinilah letak keajaiban berbenah dari metode KonMari. Di dalam buku ini, kita akan menemukan trik berbenah yang sangat unik, yang akan memberikan efek perasaan yang berbeda bagi siapa saja yang mencobanya. Ekstremnya, bagi mereka yang menerapkan metode KonMari, hidup jadi terasa lebih lapang dan menyenangkan.

    Menurut KonMari, ketika kita mengurangi jumlah barang yang kita miliki, kita akan sampai pada titik ketika kita merasa sudah pas. Cuma itu yang kita butuhkan supaya bahagia. Kita tidak perlu menyimpan barang yang tidak kita butuhkan.

    Dan seluruh barang yang kita simpan adalah yang membuat kita bahagia dan gembira, sehingga pikiran kita tidak lagi diganjal perasaan penuh atas barang-barang yang membuat semak rumah.

    Di sinilah letak keajaibannya yang membuat kita mengubah kebiasaan kita. Dengan menyimpan berdasarkan kategori dan pada tempatnya, kita bisa mengembalikan barang-barang yang sudah kita pakai ke tempatnya semula, sehingga rumah tidak kembali berantakan.

    Sebetulnya, maksud inti dari metode ini menurut saya hampir sama dengan yang diajarkan di dalam agama saya, Islam, bahwa kita dilarang melakukan perbuatan mubadzir.

    Milikilah barang sesuai fungsi kebutuhannya dan jangan menyimpan barang berlebihan yang tidak dipakai, sebab nanti di akhirat semua itu akan diminta pertanggung jawabannya.

    Lewat berbenah, kita akan semakin mengenal diri kita. Saat berbenah, kita akan melihat kembali barang-barang seperti apa yang kita simpan bertahun-tahun. Kita akan menyadari bahwa hal-hal yang kita sukai senantiasa tidak akan berubah seiring berjalannya waktu.

    Berbenah juga mengajarkan kita untuk mengikhlaskan dan belajar semakin bersyukur, bahwa selama ini, barang-barang yang kita miliki telah menyempurnakan tugasnya, menemani kebutuhan kita tanpa istirahat. Bahwa Yang Maha Kuasa telah memberikan begitu banyak nikmat berupa barang-barang, yang terkadang kita lupakan dan abaikan, teronggok di sudut ruangan.

    Berbenah mengingatkan kita untuk tidak menambah sesuatu yang sebenarnya tidak kita butuhkan dan hanya memiliki apa yang kita butuhkan dan membuat kita bahagia.

    Ada banyak keajaiban dan fakta-fakta seputar berbenah yang berhasil dikuak oleh metode KonMari, dan ini sangatlah mencengangkan. Hanya dari kegiatan yang menurut anggapan banyak orang adalah aktivitas biasa-biasa saja, kualitas hidup seseorang bisa berubah secara dramatis menjadi lebih teratur dan membahagiakan.

    Siapalah kiranya yang tak ingin memiliki hidup yang lebih bahagia? Tentu tak ada. Kita semua ingin bahagia dan menjalani hari-hari dengan perasaan lapang dan tenang. Melakukan aktivitas harian tanpa kegalauan. Berputar-putar di dalam rumah dengan kaki telanjang dan pikiran plong, tanpa harus khawatir rumah berantakan.

    Ah, betapa indahnya jika itu bisa terjadi. Bisa jadi, ya, bisa jadi, metode KonMari ini jodoh Anda dalam berbenah.

    “Kita tidak bisa mengubah kebiasaan jika cara pikir kita belum berubah.” (halaman 7)

  • Rijsttafel oleh Fadly Rahman

    Judul : Rijsttafel
    Penulis : Fadly Rahman
    Jumlah halaman: 152 hlm
    Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
    Tahun terbit : 3 Nopember 2016
    ISBN : 978-602-03-3603-9
    Genre: Nonfiksi, Sejarah, Kuliner
    Rating: 4/5

    Siapa yang menyangka bahwa masakan seperti semur dan perkedel yang sering digadang-gadang masyarakat awam kita sebagai masakan tradisional Indonesia ternyata bukanlah masakan asli negara ini? Dan siapa pula yang mengetahui kapan dan bagaimana gaya makan secara prasmanan bisa menjadi budaya makan kita saat ini hingga ke hotel-hotel berbintang?

    Padahal, makan bersama di tikar secara lesehan, berhadapan dengan hidangan nasi, ikan, dan sambal seadanya, menggunakan lima jari, adalah budaya asli bangsa Indonesia sejak zaman dahulu hingga saat ini.

    Akan tetapi, kedatangan para penjajah ke Indonesia di masa kolonial lantas sedikit demi sedikit memberikan warna baru bagi budaya asli tersebut. Orang-orang Belanda yang kemudian datang ke tanah koloni dan menetap berupaya membuat diri mereka senyaman mungkin beradaptasi dengan kondisi Indonesia, termasuk soal makanan.

    Apa sebenarnya yang terjadi dengan kuliner Indonesia pada masa itu? Untuk menjawab rasa penasaran ini, Fadly Rahman, seorang sejarawan yang fokus utamanya di bidang sejarah makanan, menghadirkan buku ini sebagai salah satu rujukan yang sangat bagus seputar sejarah kuliner Indonesia.

    Salah satu produk hasil adaptasi yang dilakukan di masa kolonial dan menjadi tema sentral pembahasan buku ini adalah Rijsttafel, yang sempat menjadi sangat popular di tahun 1870 hingga 1942.

    Rijsttafel adalah sebuah sajian makan nasi dengan hidangan lauk pendampingnya yang disajikan secara eksklusif. Budaya ini seperti budaya makan orang pribumi asli pada umumnya. Bedanya, tempat sajian berpindah dari lesehan ke sebuah meja makan dengan peralatan yang banyak dan mewah.

    Dari lauk seadanya menjadi hidangan mewah dan lauk-pauk yang sangat beragam. Lauk utama yang terdiri dari daging sapi, ayam atau ikan, sayur dan sup, beragam buah dan salad, hingga aneka sambal dihidangkan dengan sentuhan yang berbeda.

    Lewat Rijsttafel inilah kemudian masakan Indonesia pertama kalinya mulai dikemas dalam sajian ala Barat dan menjadi sebuah daya tarik wisata kuliner masa kolonial.

    Memang benar, Rijsttafel akhirnya mampu mengangkat masakan Indonesia dikenal luas di kalangan bangsa Eropa. Dan benar pula bahwa Rijsttafel berhasil menyatukan dua budaya kuliner yang berbeda menjadi satu kesatuan rasa yang indah.

    Infiltrasi kuliner yang positif ini bahkan menggiring banyak istri atau wanita terhormat dari Belanda untuk berusaha mempelajari masakan-masakan hidangan Rijsttafel demi beradaptasi dengan kondisi di Indonesia. Pun, generasi keturunan Indo-Belanda kemudian mulai menyusun buku-buku resep masakan dan panduan Rijsttafel bagi ibu rumah tangga demi memenuhi kebutuhan kaum wanita Belanda dan pribumi kala itu.

    Namun, tak bisa dipungkiri, bahwa bangsa Barat dan Eropa selalu ingin merasa lebih superior di tanah koloni. Di sinilah letak ironisnya budaya Rijsttafel yang juga dikupas di buku ini.

    Selain sejarah munculnya Rijsttafel, Fadly Rahman juga mengangkat isu-isu yang berkembang dari budaya makan tersebut. Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa semakin mewah dan beragam hidangan Rijsttafel beserta perangkatnya, semakin tampaklah ketinggian status sosial tuan rumah.

    Bagi keluarga bangsawan atau pejabat pribumi, budaya ini menjadi sebuah ajang menunjukkan status sosial agar bisa sejajar dengan orang-orang Belanda saat itu. Bagi para pejabat kolonial Belanda, Rijsttafel menjadi sarana untuk semakin mengukuhkan status sosial mereka yang lebih tinggi lagi.

    Di dalam Rijsttafel, anggota keluarga atau tamu yang makan akan mengambil posisi duduk di masing-masing kursi mengitari meja makan yang panjang dan lebar. Jika dilakukan dalam skala keluarga saja, Rijsttafel hanya akan dilayani oleh beberapa pelayan rumah si empunya.

    Tapi, apabila Rijsttafel dilaksanakan dalam tataran formal, bak di sebuah kerajaan, para anggota keluarga atau tamu ini masing-masing akan dilayani oleh banyak sekali pelayan dengan pakaian resminya, bahkan sampai berjumlah puluhan.

    Ada pelayan-pelayan yang bersiap siaga di dekat meja makan untuk menyiapkan peralatan makan dan minum. Ada pula pelayan yang akan sigap berjalan memutari meja dan kursi sambil membawa mangkuk kaca berisi lauk ketika para tamu memanggilnya dan ingin mencicipi makanan. Saat tak dibutuhkan, para pelayan yang terdiri dari orang pribumi ini akan dengan sabar berdiri, menanti hingga waktu sajian selesai. Sebagaimana perbudakan, seperti itulah ironisnya Rijsttafel bagi rakyat pribumi.

    Tapi, terlepas dari permasalahan status sosial itu, Rijsttafel memang merupakan satu dari sekian banyak babak sejarah penting Indonesia yang patut kita perhitungkan. Dari budaya Rijsttafel inilah kemudian hotel-hotel hebat masa kolonial Belanda membuka sayapnya ke dunia internasional dan menarik banyak sekali wisatawan.

    Bahkan, sampai detik ini pun, sisa-sisa budaya ini masih bisa kita temui di berbagai hotel berbintang dengan layanan buffet-nya, atau budaya prasmanan yang berkembang di masyarakat, juga restoran-restoran yang menyediakan sajian hidangan sejenis Rijsttafel, yang pada akhirnya bangsa ini menyadari bahwa masakan Indonesia, bila dikemas dengan baik, akan menjadi satu daya tarik tersendiri untuk menarik perhatian dunia.

    Tak banyak buku di era modern saat ini yang mengupas sejarah makanan dan budaya makan seperti yang dilakukan oleh Fadly Rahman. Ditulis secara rinci, dilengkapi dengan data dan bibliografi yang luas, bahkan ditambah dengan data aneka resep dan bahan yang digunakan pada budaya Rijsttafel ratusan tahun yang lalu menjadikannya kelebihan tersendiri yang patut kita acungi jempol.

    Maka, ketika saya menemukan buku ini di salah satu rak buku, dengan tampilan desain sampul yang cukup klasik dan menawan, saya tak mampu menolak daya pikatnya.

    Buku ini layak direkomendasikan kepada para pecinta sejarah dan kuliner. Perlulah sesekali bangsa ini menilik sejarah dari sisi yang lain selain pergumulan politik, sebab setiap babak sejarah sebenarnya saling terkait seperti mata rantai. Kau hapuskan yang satu, maka yang lain akan terputus kehilangan jejak. Betapa uniknya sejarah, seunik cita rasa kuliner Indonesia dari masa ke masa.

    *Resensi ini juga pernah dipublikasikan di Basabasi.co

  • Hafalan Buyar Tanda Tak Pintar oleh Ibnul Jauzi

    Hafalan Buyar Tanda Tak Pintar oleh Ibnul JauziJudul: Hafalan Buyar Tanda Tak Pintar
    Judul Asli: Al-Musyawwiq Ila Al-Qira’ah wa Thalab Al-‘Ilm
    Penulis: Al Imam Abul Faraj Abdurrahman Ibnul Jauzi
    Penerjemah: Irwan Raihan
    Penerbit: Kuttab Publishing
    ISBN: 978-602-8171-13-7
    Tebal: 158 halaman
    Tahun Terbit: Januari 2016
    Genre: Agama Islam, Pendidikan Islam
    Rating: 3/5

    “Abu Dawud Ath-Thayalisi adalah orang yang banyak hafalannya. Dia seperti Abdurrahman bin Mahdi. Abu Dawud tertimpa penyakit kusta sedang Abdurrahman tertimpa penyakit lepra. Abu Dawud hafal empat puluh ribu hadits, sedang Abdurrahman hafal sepuluh ribu hadits.” (halaman 88)

    Membaca petikan di atas barangkali membuat kita berdecak kagum mengetahui bahwa seorang pengidap kusta dan seorang pengidap lepra memiliki kemampuan hafalan yang tak biasa. Bayangkan empat puluh ribu hadits! Menghafal 40 hadits arba’in saja kita mungkin kewalahan, bagaimana pula dengan 40.000 hadits? Masya Allah. Dan itu baru dua orang di antara puluhan penghafal yang diceritakan di buku Hafalan Buyar Tanda Tak Pintar terbitan Kuttab Publishing ini. (more…)

  • Misteri Do’a-Do’a Malaikat oleh Dr. Fadhl Ilahi

    misteri-doa-doa-malaikatJudul: Misteri Do’a-Do’a Malaikat
    Judul Asli: من تصلي عليهم الملائكة ومن تلعنهم
    Penulis: Dr. Fadhl Ilahi
    Penerjemah: Beni Sarbeni, Lc
    Penerbit: Media Tarbiyah
    ISBN: 978-979-26-5805-7
    Tebal: 144 halaman
    Tahun Terbit: Januari 2012
    Genre: Agama Islam, Aqidah
    Rating: 4/5

    Menelusuri alam malaikat memang selalu saja membuat kita takjub, terlebih betapa besar keutamaan dan kelebihan mereka yang patut kita ketahui. Setelah mengenal malaikat lewat bukunya Muhammad bin Abdul Wahhab al-Aqil yang berjudul Menyelisik Alam Malaikat dengan sangat lengkap, maka kita juga perlu menambah pengetahuan dan pemahaman yang lebih spesifik lagi tentang hal-hal yang berkaitan dengan malaikat dan keutamaannya untuk manusia. (more…)

  • Gila Baca ala Ulama oleh Ali bin Muhammad Al-‘Imran

    gila-baca-ala-ulamaJudul: Gila Baca ala Ulama
    Judul Asli: Al-Musyawwiq Ila Al-Qira’ah wa Thalab Al-‘Ilm
    Penulis: Ali bin Muhammad Al-‘Imran
    Penerjemah: Arif Fauzi
    Penerbit: Kuttab Publishing
    ISBN: 978-602-8171-12-0
    Tebal: 178 halaman
    Tahun Terbit: Januari 2016
    Genre: Agama Islam, Pendidikan Islam
    Rating: 4/5

    Ilmu itu bukanlah yang mengisi lemari buku
    Ilmu adalah apa yang terkandung dalam hati
    (halaman 132)

    Mengenal tokoh-tokoh intelektual, sastrawan dan ilmuwan asal lokal maupun Barat yang memiliki kecintaan terhadap buku mungkin sudah cukup biasa bagi kita. Ada banyak informasi tentang mereka yang bertebaran di berbagai sumber dan membuat kita takjub. Kita menjadi sangat bersemangat ketika mengetahui tokoh yang satu memiliki ribuan buku di ruang bacanya atau tokoh yang lain tetap membaca dan menulis meskipun berada di dalam penjara.

    Di buku Gila Baca Ala Ulama ini, kita akan lebih takjub lagi mengetahui betapa para ulama Islam begitu tinggi gairah dan kecintaannya terhadap buku dan ilmu. Tak hanya berhasil membaca ratusan ribu jilid buku, melainkan juga menulis dan menyalin ulang ratusan jilid buku dan mengajarkannya. Sebut saja Ibnul Jauzi yang telah membaca 200.000 jilid buku, Ibnu Taimiyyah yang tetap membaca meskipun dalam keadaan sakit berat, atau bahkan Hasan Al-Lu’luai, yang selama 40 tahun usia hidupnya, ia selalu tidur dengan buku tergeletak di atas dadanya. Terkadang tak hanya sekali dua kali para ulama tersebut membaca satu buku, melainkan berulang-ulang. (more…)