Judul: Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat Judul Asli: The Subtle Art of Not Giving F*ck Penulis: Mark Manson Penerjemah: F. Wicaksono Penerbit: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo) Tahun Terbit: 2018, cetakat ke-3 ISBN: 978-602-452-698-6 Tebal: 246 halaman
Sekilas jika membaca judulnya, buku ini mungkin memberikan kesan tentang sikap ketidak pedulian seseorang karena frasa “Bodo Amat” yang tercantum di dalamnya.
Umumnya, ungkapan tersebut menunjukkan sikap acuh tak acuh bagi sebagian besar orang yang sering diucapkan ketika mereka merasa sudah tidak mau ambil pusing. “Ah, bodo amat lah!”
Judul yang unik memang kerap memancing rasa ingin tahu pembaca terhadap sebuah buku. Mark Manson berhasil melakukannya.
Judul asli buku ini sebelum diterjemahkan memang agak sedikit tabu. Namun, syukurlah, pemilihan judul edisi terjemahan oleh penerbit rasanya sudah dengan pertimbangan yang banyak meskipun tidak menggunakan makna asli yang sebenarnya.
Sampul berwarna oranye dengan desain sederhana bisa jadi membuat orang bertanya-tanya, seni bersikap bodo amat itu yang seperti apa, sih?
Berbeda dari ekspektasi sebagian pembaca, buku ini justru tidak membahas sikap cuek seperti ungkapan yang umum kita pakai. Masa bodoh yang dimaksud oleh Manson adalah sikap ketika seseorang merasa nyaman saat harus berbeda.
Menurut Manson, kehidupan yang baik bukanlah kehidupan di mana kita memedulikan banyak hal, tetapi tentang memedulikan hal yang sederhana, mana yang benar dan mendesak, mana yang lebih penting. Skala prioritas setiap orang jelas berbeda-beda, sehingga kita tidak mungkin bisa menggunakan standardisasi orang lain terhadap diri kita sendiri.
“Kebahagiaan itu masalah,” kata Manson. Menurutnya, kebahagiaan itu datang dari berhasilnya seseorang dalam memecahkan masalah. Menghindar dari masalah atau merasa tidak memiliki masalah justru akan membuat diri kita sengsara.
Kebahagiaan membutuhkan perjuangan. Kebahagiaan tumbuh dari masalah. Jadi, jika Anda ingin bahagia, berkubanglah dalam masalah, dan rela melakukan perjuangan yang melelahkan. Jika Anda berpikir bahwa kenikmatan itu kebahagiaan, Anda salah.
Apa yang menentukan kesuksesan Anda bukanlah, “Apa yang ingin Anda nikmati?” melainkan pertanyaan, “Rasa sakit apa yang ingin Anda tahan?”
Jalan setapak menuju kebahagiaan adalah jalan yang penuh dengan tangisan dan rasa malu.
Membaca buku ini mungkin saja memunculkan banyak sekali pertanyaan dan pro kontra bagi saya pribadi. Mason mengajak pembaca untuk jangan berusaha mati-matian, padahal di dalam Islam sendiri, kita dianjurkan untuk memiliki visi hidup dengan usaha maksimal. Perihal hasil, biarlah Allah yang menentukan.
Sedangkan menurut Manson, berlaku hukum kebalikan. Semakin kuat kita berusaha merasa baik setiap saat, kita akan merasa semakin tidak puas karena mengejar sesuatu hanya akan meneguhkan fakta bahwa, pertama-tama, kita tidak baik-baik saja. Pengalaman positif adalah sebuah pengalaman negatif, menerima pengalaman negatif adalah pengalaman positif.
Berbeda dengan kebanyakan buku pengembangan diri lainnya yang mengajak orang lain untuk mengejar kesuksesan berupa kebahagiaan hidup atau bahkan pencapaian-pencapaian dalam hidup, buku ini justru tidak mengajari kita tentang bagaimana cara mendapat atau mencapai sesuatu. Buku ini menuntun kita bagaimana cara berlapang dada dan membiarkan sesuatu pergi.
Kalau dikatakan buku ini anti mainstream, ya, ada benarnya.
“Kesadaran diri ibarat sesiung bawang. Punya banyak lapisan, dan semakin cepat Anda kupas lapisan demi lapisan, Anda akan semakin cepat mulai menangis tanpa disangka-sangka.” (halaman 82).
“Perkenalkan Gen Z. Yang terdepan sudah berusia dua puluh tahunan. Dengan jumlah sebesar 72,8 juta, Gen Z hadir di lingkungan kerja dan perusahaan, dan para pemimpin tidak bisa mengabaikan mereka. Jika tidak mengenal Gen Z, risikonya adalah kita akan memperlakukan mereka seperti generasi Millennial. Kesalahan besar, dan itu sudah kita lakukan sebelumnya.”
(David Stillman)
Keberadaan generasi Milenial saat ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan lagi. Memang, beberapa tahun lalu, kita sempat dikejutkan dengan gelombang Milenial yang banyak menyedot perhatian publik karena keunikan karakternya.
Kehadiran mereka di berbagai lini kehidupan sedikit banyak memberikan andil terhadap perubahan-perubahan hingga menggiring dunia menuju era disrupsi.
Sebenarnya, mulai dari Dr. Muhammad Faisal dengan buku Generasi Phi-nya hingga Yuswohady dengan karya best seller-nya Millennials Kill Everything, karakter dan pengaruh kaum Milenial terhadap keberlangsungan banyak aspek keseharian kita sudah cukup lengkap dibahas.
Namun sayangnya, boleh jadi kesadaran tentang era disrupsi ini agak sedikit terlambat bagi sebagian orang. Ada banyak perusahaan yang harus gulung tikar karena tidak menyadari bahwa, di sekitarnya, orang-orang mulai berubah.
Gaya hidup berubah. Cara-cara lama sudah tidak terlalu relevan lagi bagi generasi Milenial. Belum selesai dengan keterkejutan hadirnya generasi Milenial serta efek disrupsinya, ternyata kita sudah harus bersiap-siap menyambut sebuah generasi baru yang tak kalah uniknya dengan Milenial, yakni Generasi Z.
Siapa Generasi Z?
Generasi Z adalah label yang digunakan oleh David Stillman untuk menyebutkan nama generasi yang lahir dalam rentang tahun 1995-2012 dengan umumnya orangtua berasal dari generasi X.
David sebagai Generasi X dan anaknya, Jonah Stillman, yang berasal dari Generasi Z melakukan riset dan survey terhadap banyak anak generasi Z dan orangtua generasi X di Amerika untuk menyusun buku ini.
Menurutnya, penting memahami karakter dari setiap generasi karena akan berpengaruh sangat besar bagi proses kita menjalani kehidupan. Selera, kebiasaan, dan arah jalan hidup dari generasi Z terbentuk dari karakter generasinya secara umum.
Jika generasi Milenial kemudian berhasil menyebabkan disrupsi di banyak lini kehidupan, maka Generasi Z mungkin akan menimbulkan lompatan yang sangat jauh dibanding pendahulunya.
Ini akan memengaruhi geliat pendidikan, bisnis, dan ekonomi sebuah negara bahkan dunia.
Apakah bisnis toko online konvensional masih relevan untuk Generasi Z? Apakah proses perekrutan karyawan sebuah perusahaan masih membutuhkan wawancara dengan cara-cara lama?
Atau apakah konsep perguruan tinggi bagi Generasi Z masih relevan seperti yang ada saat ini?
Tak bisa kita pungkiri, keberadaan Generasi Z akan menyebabkan banyak perusahaan dan pemilik bisnis untuk berpikir ulang mengenai konsep bisnis yang akan mereka sesuaikan dengan karakter generasi ini.
Jika tidak, mereka harus bersiap-siap tertinggal, seperti Nokia yang tutup buku akibat gelombang Android yang tak terbendung.
Lantas seperti apa karakter atau sifat dari generasi ini? Pasangan ayah dan anak Stillman memaparkan hasil riset mereka di buku ini secara gamblang.
Karakter Generasi Z
Figital
Salah satu sifat paling utama dari Generasi Z adalah figital, yakni dunia di mana fisik dan digital sama linearnya, tidak ada batasan dan perbedaan.
Bagi generasi Z, dunia fisik adalah equivalen dengan digital, pun sebaliknya. Inilah alasan mengapa saat ini terjadi fenomena maraknya influencer yang mengangkat kehidupan sehari-harinya di dunia fisik ke ranah digital.
Atau ketika seorang pemimpin cukup melakukan rapat dengan karyawannya menggunakan aplikasi konferensi daring (dalam jaringan).
Realistis dan Kustomisasi
Kalau Milenial adalah generasi yang idealis, maka Generasi Z adalah mereka yang realistis. Generasi ini juga sangat menyukai kustomisasi atau penyesuaian identitas mereka.
Personal branding yang dibangun tak hanya sebatas branding standar yang pada umumnya dilakukan kebanyakan orang, melainkan lebih kompleks daripada itu.
Mau jabatan seperti apa, kuliah yang bagaimana, pekerjaan seperti apa, mereka ingin menentukan sendiri keinginan mereka secara lugas.
FOMO
Fear of Missing Out (FOMO) atau takut melewatkan sesuatu adalah sifat lain dari Gen Z. Mereka akan senantiasa terkoneksi dengan informasi dan teman sehingga tidak tertinggal berita-berita terbaru.
Weconomist
Dalam aspek ekonomi, Milenial memang sudah mulai mengusung sifat weconomist. Contohnya penggunaan ojek online atau fasilitas-faslitas dengan konsep ekonomi berbagi lainnya. Namun bagi Generasi Z, sifat weconomist ini melebihi kebiasaan pendahulunya.
Tidak hanya sebatas keseharian, tetapi juga di dunia kerja tempat mereka akan memilih pekerjaan. Kontribusi sebuah perusahaan terhadap masyarakat akan memengaruhi keputusan para Gen Z ini bekerja.
***
Ada tujuh sifat utama yang dibahas David dan Jonah Stillman di dalam buku Generasi Z ini yang akan membuka mata kita tentang bagaimana karakter sebuah generasi akan memberikan pengaruh besar bagi perubahan dunia.
Pada dasarnya, sifat-sifat ini muncul akibat dari kondisi yang terjadi pada lingkungan dan masyarakat di mana Gen Z tumbuh dan berkembang. Pola asuh orangtua Gen X, masa resesi, perang, kesulitan hidup, juga terjangan teknologi yang tanpa batas akhirnya membentuk karakter generasi secara kolektif.
Sudut Pandang
Buku ini barangkali cukup berhasil menggambarkan keberadaan Generasi Z di tengah-tengah kita. Hanya saja, Stillman menggunakan kondisi dan lingkungan di Amerika sebagai dasar pijakan risetnya, sehingga ada sebagian aspek dari buku ini belum sesuai dengan kondisi kita di Indonesia.
Sebut sajalah tentang tingkat pendidikan dan pemahaman penggunaan teknologi masyarakat kita. Jika dibandingkan dengan Amerika, tentu masih sangat jauh berbeda.
Meskipun demikian, tetap saja buku yang ditulis berdasarkan pengalaman langsung penulisnya akan memiliki nilai yang lebih baik sebagai sebuah rujukan.
Memahami bagaimana Generasi Z berpikir dan bertindak akan menghantarkan banyak pihak melakukan perubahan dan penyesuaian. Disrupsi adalah sebuah variabel dalam bisnis.
Seperti di dalam buku Who Moved My Cheese karya Spencer Johnson, variabel-variabel perubahan tentunya akan memengaruhi sebuah perusahaan mengambil keputusan.
“Jika kita melihat bagaimana generasi mendidik anak, terdapa suatu pola. Suatu generasi akan bereaksi terhadap cara generasi sebelumnya mendidik atau cara mereka sendiri dibesarkan. Mereka akan menerapkan “praktik terbaik” yang sama, tapi tentu saja meyakini bahwa ada suatu cara yang lebih baik.” (halaman 10)
Milenial dan Generasi Z adalah dua generasi yang perlu kita pahami karakternya satu sama lain. Dengan saling memahami, kedua generasi ini bisa bersinergi secara maksimal di kehidupan.
Tak perlu muncul konflik di dunia kerja. Tak perlu saling menyalahkan karakter masing-masing di dunia pendidikan dan sosial. Bagi para orang tua, memahami karakter generasi ini akan memudahkan pola pengasuhan mereka.
Terlepas dari lingkup geografi pembahasannya, secara umum, buku ini adalah salah satu buku terbaik tentang Generasi Z yang patut kita baca.
Halo, Gen Z! Perkenalkan, Aku seorang Milenial. Senang berjumpa denganmu! 😊
Judul: Suara dari Marjin Penulis: Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah Penerbit: PT Remaja Rosdakarya Cetakan: I – Mei 2017 ISBN: 978-602-446-048-8 Tebal: 234 halaman Genre: Nonfiksi, Buku tentang Buku, Literasi Rating: 4/5
Ketertarikan saya dengan buku bertema buku dan literasi menjadi motivasi utama saya ketika ditawari untuk mengulik buku bersampul kuning dengan ilustrasi pengeras suara yang unik ini. Awal membacanya, kening saya cukup berkerut karena banyaknya istilah ilmiah yang kurang familiar di telinga saya. Namun, semakin saya membacanya, semakin saya menikmati coretan dan gagasan di dalamnya.
Sesuai judulnya, Suara dari Marjin berisi gagasan tentang literasi sebagai praktik sosial yang memuat pemaknaan baru dari kaum marjinal yang, mungkin selama ini, terlewatkan oleh kita.
Buku ini ditulis oleh dua orang penulis bernama Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah sebagai bentuk yang lebih ringan dari adaptasi tesis atas penelitian mereka di bidang literasi. Sofie melakukan penelitian pada komunitas anak jalanan, sementara Pratiwi mengeksplorasi praktik literasi pada Buruh Migran Indonesia (BMI) Hong Kong.
“Literasi sebagai praktik sosial mengakomodasi nilai moral, pengalaman budaya, dan kepentingan ideologis yang memengaruhi interaksi seseorang dengan teks.”
Selama ini, umumnya orang menganggap bahwa kegiatan literasi seperti membaca dan menulis hanyalah terbatas untuk kalangan terdidik atau mereka yang mencicipi bangku pendidikan formal. Di dalam buku ini, Sofie dan Tiwik—begitu Pratiwi biasa dipanggil—justru ingin meruntuhkan mitos literasi tersebut dengan membuka mata masyarakat bahwa literasi juga bisa berkembang bagi kaum marjinal, meski dalam praktiknya memiliki konsep yang berbeda.
Literasi pada lingkungan marjinal lebih menitik beratkan pada kultur budaya, konsep tradisional, dan tidak selalu bahwa literasi itu untuk modernitas. Dalam kajian literasi sebagai praktik sosial yang mereka lakukan, mereka menemukan satu benang merah dari kedua komunitas, yakni bahwa literasi juga dapat mengubah identitas seseorang.
“Tulisan bukan sekadar representasi diri, namun ternyata juga mampu mengubah identitas seseorang.” (halaman 87)
Literasi sebagai Corong
Dari komunitas BMI Hong Kong, ada kisah Rere yang aktif menyebarkan gagasannya lewat blog bertajuk Babu Ngeblog, bahwa seorang pekerja rumah tangga juga bisa menulis dan memanfaatkan teknologi. Selain Rere, ada juga BMI yang menekuni Pustaka Koper karena menyebarkan virus membaca lewat buku-buku yang dijajakannya menggunakan koper bagi sesama BMI.
Di kalangan anak jalanan, ada Idang yang ingin menjadi pelukis atau Elis yang ingin menjadi dokter lewat tulisan mereka tentang cita-cita, seolah sangat kontras dengan realita yang ada di depan mereka, menyuarakan apakah mungkin seorang anak jalanan yang tidak mengenyam pendidikan formal, pun memiliki uang yang cukup, bisa menjadi dokter?
Bagi anak jalanan, konsep pendidikan formal seringkali kurang cocok dengan karakter dan lingkungan mereka. Barangkali suatu saat kelak, ada sekolah dan kurikulum khusus bagi anak jalanan yang dikeluarkan oleh pemerintah, sehingga mereka juga bisa mengikuti pendidikan formal seperti anak-anak lainnya.
Bagi para BMI dan anak jalanan ini, literasi menjadi sebuah media perlawanan untuk menaikkan derajat sosial seseorang. Mereka ingin dunia mengetahui bahwa kaum marjinal juga bisa produktif, punya mimpi-mimpi yang tinggi dan tidak selayaknya selalu direndahkan. Di tangan mereka, literasi berfungsi memberikan kewenangan untuk menjadi aktor utama bagi kehidupannya, sehingga mereka berani bersuara untuk dirinya sendiri dan komunitasnya.
Dok. Pribadi
Kajian Literasi Baru
Sebetulnya, gagasan yang diangkat di dalam buku Suara dari Marjin ini bukanlah sesuatu yang baru. Literasi sebagai praktik sosial, setahu saya, sudah sejak lama dilakukan oleh masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari. Contohnya saja geliat literasi yang dilakukan oleh taman baca masyarakat atau komunitas literasi yang kerap merancang kegiatan-kegiatan membaca dan menulis bagi anggotanya. Mereka masuk ke kampung-kampung atau daerah pemukiman yang kurang akses terhadap buku bacaan, termasuk ke wilayah-wilayah yang hanya bisa diakses oleh perahu atau kapal.
Juga tentang konsep literasi yang mampu mengubah identitas seseorang atau yang kemudian menjadi corong dalam menyuarakan pendapat dan pemikiran telah lama ada dalam praktiknya. Di zaman penjajahan Indonesia dahulu, praktik literasi sudah lama menjadi media perlawanan menghadapi penjajah, hingga kemudian terbitlah masa Sumpah Pemuda yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai periode baru kejayaan pemuda Indonesia yang berawal dari kegiatan literasi.
Setelah Indonesia merdeka, literasi dalam praktik sosial juga kerap dilakukan oleh partai-partai yang ada pada masa itu. Dengan menulis dan menerbitkan berbagai buku, selebaran, juga koran-koran berita, kelompok-kelompok ini kemudian mampu menggiring opini publik untuk melakukan perubahan sosial.
Dalam Islam sendiri, praktik literasi juga bukanlah sesuatu yang baru. Literasi juga menjadi senjata yang sangat ampuh dalam mengusung nilai-nilai Islam di kehidupan sosial.
Selain itu, kegiatan literasi dari kalangan ibu rumah tangga juga sudah banyak dilakukan. Istilah emak-emak menulis, yang notabene berprofesi sebagai ibu rumah tangga penuh, yang bagi sebagian kalangan posisi ini termasuk dipandang sebelah mata karena dianggap profesi yang kurang bergengsi, hanya tahu seputar urusan dapur dan kasur, sudah begitu familiar di Indonesia.
Mereka yang hanya berkutat pada pengurusan rumah tangga sudah memiliki banyak artefak literasi, yang kemudian menjadi ibu rumah tangga kreatif yang cukup popular dan memiliki personal branding yang tidak bisa dianggap biasa, membenturkan opini bahwa ibu rumah tangga tidak tahu apa-apa dibandingkan mereka yang berkarir di dunia kerja. Semuanya berangkat dari literasi. Bukankah ini termasuk praktik sosial?
Meski gagasan literasi sebagai praktik sosial bukanlah sesuatu yang baru, tetapi penelitian yang dilakukan kedua penulis ternyata lebih khusus yakni menggunakan teori Kajian Literasi Baru (New Literacy Studies) dengan pendekatan etnografik, bahwa literasi menjadi bagian dari interaksi keseharian yang melibatkan perilaku dan nilai dari orang-orang yang terlibat. Ini yang barangkali menjadi sesuatu yang beda dari pembahasan tentang literasi pada umumnya ada di masyarakat.
Dengan mengkhususkan subyek penelitian pada kaum marjinal, ini kemudian menjadi sebuah keunikan tersendiri karena tak banyak yang menyadari bahwa kaum marjinal ternyata mendapatkan manfaat yang sangat besar dari praktik literasi.
Mungkin yang tampak muncul ke permukaan masih dari kalangan anak jalanan atau BMI ini saja. Siapa yang bisa menebak jika suatu saat nanti kaum buruh, petani, pedagang kecil, atau kalangan-kalangan yang selama ini merasa termarjinalkan bisa menyuarakan pemikirannya dan menggiring opini publik lewat literasi.
***
Rasanya saya tertinggal jauh dari para BMI Hong Kong yang sudah menerbitkan banyak buku. Mereka sangat produktif menulis di sela-sela pekerjaannya yang padat. Belum lagi yang menulis secara sembunyi-sembunyi dari majikannya. Saya merasa lebih kerdil.
Semoga siapapun yang mencintai dunia literasi bisa membaca buku ini untuk memberikan perspektif baru atas pemahaman literasi sebagai praktik sosial.
“Tidak mungkin memahami praktik literasi secara utuh tanpa mempertimbangkan kompleksitas kehidupan pelakunya.” (hlm 59)
Judul: Dari Puncak Khilafah Judul Asli: The Arabs, A History Penulis: Eugene Rogan Penerjemah: Fahmy Yamani Penerbit: Serambi Ilmu Semesta Tahun Terbit: November 2017 Tebal: 776 halaman ISBN: 978-602-290-080-1 Genre: Nonfiksi, Sejarah Rating: 4/5
Kalau Philip K. Hitti menulis sejarah Arab-Islam dari sejak masa pra-Islam hingga masa kekuasaan Utsmani di dalam buku History of the Arabs, maka buku Dari Puncak Khilafah ini bisa dibilang seolah melanjutkan sejarah Arab-Islam sejak masa Khilafah Utsmaniyah pasca era Muhammad Al-Fatih hingga Arab modern abad ke-21.
Kita tahu sendiri lah, ya, bahwa sejak peristiwa 11 September 2001, Islamphobia melanda dunia Barat sampai-sampai ada anggapan dari orang-orang Barat bahwa Arab dan Islam adalah ancaman bagi mereka.
Menurut Eugene Rogan berdasarkan paparannya di dalam pendahuluan, orang-orang Barat ini sebetulnya tidak memahami bahwa apa yang terjadi di dunia Arab sana adalah juga hasil akumulasi sejarah panjang yang di dalamnya terdapat andil tangan-tangan penguasa dunia Barat. Dengan dalih pembebasan, sejatinya penguasa dunia Barat telah melakukan pendudukan atas banyak bangsa.
Menurut penulis, orang Barat perlu lebih memperhatikan sejarah, bagaimana sejarah itu dialami dan dipahami oleh bangsa Arab itu sendiri, dari kaca mata orang Arab itu sendiri, sehingga kesalahan tidak terulang kembali. Inilah salah satu latar belakang mengapa Eugene Rogan menulis buku ini. Ia ingin agar Barat mulai memahami apa sesungguhnya akar persoalan yang terjadi di Arab.
Dari pemaparan Rogan di dalam buku setebal 776 halaman ini, pembaca dapat mengikuti perjalanan sejarah, bagaimana geliat politik dan kekuasaan pada masa kekhalifahan Utsmani beserta pengaruh para penguasaatau kekuatan lokal di berbagai wilayah kekuasaannya seperti Muhammad Ali Pasha, Khairuddin Barbarossa, dan tokoh lainnya. Rogan juga membagi secara umum periode peta perjalanan sejarah Arab-Islam menjadi empat, yakni:
Era Utsmaniyah, era penjajahan negara-negara Eropa, era Perang Dingin dan era sekarang yang didominasi Amerika Serikat dan globalisasi.
Era Utsmaniyah, yang dimulai dari masa Sultan Salim I, yakni era setelah Muhammad Al-Fatih berkuasa, hingga Sultan-Sultan berikutnya, termasuk konflik yang terjadi antara penguasa lokal dan kesultanan sebelumnya dalam perebutan wilayah kekuasaan, serta tarik-ulur kebijakan politik dan ekonomi.
Era penjajahan negara-negara Eropa, termasuk pula di periode ini Perang Dunia I yang melibatkan dua imperium besar yakni Inggris dan Prancis, serta Perang Dunia II yang melibatkan Jerman dan beberapa negara lainnya.
Era Perang Dingin, yang melibatkan dua negara adidaya, Amerika Serikat dan Uni Soviet, yang berefek pada pergolakan nasionalisme dunia Arab dan kekuatan Islam.
Era dominasi AS yang melibatkan banyak negara konflik seperti Irak, Lebanon, Suriah, Palestina, Israel, dan sebagianya.
Pujian Terhadap Buku
1. Buku ini ditulis dengan gaya penulisan yang lumayan ringan dan enak dibaca, serasa membaca fiksi. Jadi, meskipun tebal seperti bantal, buku ini menurut Saya tidak membosankan.
2. Buku dan penulisnya saya acungi dua jempol karena bisa menceritakan ulang sejarah Arab-Islam dengan kata-katanya sendiri dengan kronologi yang lumayan runut. Buku ini juga memiliki cakupan yang sangat banyak, baik dari rentang waktu yang sangat panjang di masa Utsmani abad ke-16 hingga zaman modern abad ke-21, juga cakupan geografi yang sangat luas menjangkau banyak bangsa, serta cakupan isu yang beragam mulai dari isu kekuasaan, keagamaan, nasionalisme, sekularisme dan isu-isu lainnya yang muncul dari perjalanan Arab-Islam yang berhasil diangkat dan dianalisa penulis secara apik.
3. Menurut Saya, penulis cukup adil dalam menuliskan sejarah Arab-Islam di buku ini. Umumnya para sejarawan Barat, Kristen, Yahudi, maupun sebagian sejarawan Arab sekuler memiliki perspektif yang buruk atas penulisan sejarah Khilafah Utsmani. Banyak informasi yang dibelokkan sehingga kesan negatif lebih dominan muncul ketika kita berbicara tentang kesultanan ini, terlepas dari realita kemerosotan Khilafah ini yang memang disebabkan oleh berbagai faktor internal dan eksternal.
Namun di buku ini, dengan bersumber dari informasi di Arab langsung dan disertai penjelasan para saksi mata, secara umum Saya melihat kalau penulis sudah berusaha adil dalam memaparkan sejarah. Penulis sepertinya berusaha menunjukkan bagaimana pergulatan dunia Arab-Islam dalam catatan sejarah apa adanya. Bagaimana dunia Arab jatuh dan bangkit, terseok-seok dalam carut-marut perpolitikan dunia, serta bagaimana kejayaan dunia Arab dalam membangun negaranya.
Yang menariknya, ternyata salah satu sumber referensi penulisan buku ini berasal dari sebuah buku harian seorang tukang cukur bernama Ahmad al-Budayri. Si tukang cukur ini sangat gemar mengobrol dan menuliskan berbagai informasi politik dan masyarakat Damaskus semasa hidupnya.
Kritik Terhadap Buku
Sebetulnya ini kurang tepat disebut kritik, tetapi cukup mengusik pikiran saya. Ada satu isu yang diangkat Rogan di buku ini dan cukup kontroversial yakni mengenai sepak terjang gerakan Wahabiyah di Arab.
Di buku ini, Rogan mungkin mengambil sumber yang menyebutkan bahwa gerakan Wahabi ini benar-benar mengganggu pada saat itu karena mudah sekali melakukan tindak kekerasan untuk menegakkan pemurnian akidah Islam. Intinya di buku ini ada secuil gambaran mengenai wahabi itu yang terkesan negatif dan merusak, terkesan brutal, tidak jauh berbeda dengan anggapan orang-orang kebanyakan di zaman sekarang. Ini menarik bagi saya.
Dari beberapa bahan yang pernah saya baca tentang Muhammad bin Abdulwahab, ada banyak informasi yang tidak tepat dalam menggambarkan pemikiran beliau, termasuk gerakan pembaharuan yang terjadi di Arab Saudi kala itu. Muhammad bin Abdulwahab sendiri tidak pernah menisbatkan dirinya kepada wahabi.
Dikarenakan gerakan pemurnian akidah beliau memberikan dampak sangat besar pada pergolakan politik di Arab, maka muncullah kemudian pembelokan informasi, tuduhan, dan fitnah atas Muhammad bin Abdulwahab beserta murid-muridnya pada saat itu. Ada semacam distorsi informasi dalam sejarah Islam pada topik ini.
Pemikiran seseorang bisa kita lihat secara tak langsung melalui karya tulisnya. Tulisan umumnya mencerminkan bagaimana penulisnya. Nah, kalau mau jujur, sederhananya, kita lihat saja bagaimana pemikiran Muhammad bin Abdulwahab dalam karya-karya tulis beliau. Saya memiliki beberapa judul buku, salah satunya Ushul Tsalatsah, yang syarahnya pernah saya resensi di sini.
Dari beberapa buku karya Muhammad bin Abdulwahab, saya mendapati bahwa beliau benar-benar sangat berhati-hati dalam masalah akidah. Beliau mendakwahkan umat untuk kembali mendekati Allah dengan cara yang benar serta meluruskan yang salah.
Ilmu yang ada di buku-buku Muhammad bin Abdulwahab juga sangatlah luas. Pemikiran beliau yang mengajak kepada kekerasan sulit saya temui. Jadi kurang logis rasanya jika ulama seperti ini kemudian dituding sebagai pendiri gerakan wahabi yang di mata umum cenderung negatif dan merusak.
Hanya saja, persentase tulisan Rogan mengenai topik ini bisa saya bilang sangatlah sedikit, tak lebih dari 1% barangkali? Tapi saya jadi bertanya-tanya, apakah isu wahabi ini memang sedemikian rusaknya sehingga orang mengenal informasi yang negatif saja? Mungkin untuk pembahasan ini barangkali bisa kita bahas lebih khusus di lain waktu dengan menggunakan referensi yang lebih baik.
***
Rogan adalah seorang profesor dan pakar di bidang sejarah Timur Tengah. Ini sangat terlihat jelas dari bukunya, bagaimana luar biasanya beliau memaparkan sejarah panjang dengan cukup mudah dipahami. Bukunya ini pun bahkan dinobatkan sebagai buku terbaik oleh The Economist dan The Financial Times dan telah diterjemahkan ke banyak bahasa di dunia.
Kalau menilik judulnya, Dari Puncak Khilafah, tadinya saya pikir penulis mau memaparkan bagaimana sejarah Arab-Islam, mulai dari kejayaan Khilafah Utsmaniyah di bidang pemerintahan, karya-karya peradaban, hingga kebijakan-kebijakan yang diambil seperti umumnya buku tentang Khilafah Utsmaniyah yang sudah banyak beredar.
Tetapi, ternyata buku ini lebih ke pemaparan kronologi perjalanan sejarah Arab-Islam apa adanya. Sangat minim pendapat penulis saya temui di dalamnya. Menurut Saya ini menjadi salah satu suguhan yang berbeda dan baru dalam kategori sejarah. Kita jadi lebih memahami bagaimana runut sejarah dunia Arab modern secara apa adanya.
Selesai membaca buku ini, saya menarik nafas panjang. Buku yang bagus. Saya menjadi lebih paham bagaimana sejarah Arab yang telah berlalu. Dibarengi dengan informasi-informasi yang sudah pernah saya dapati di buku-buku lainnya tentang sejarah bangsa Arab, bagi saya, buku ini menjadi salah satu buku pelengkap dari sekian banyak buku mengenai sejarah Arab yang pernah ditulis, yang keberadaannya tidak bisa saya acuhkan begitu saja. ^^
Judul: Islamic Parenting – Pendidikan Anak Metode Nabi
Judul Asli: Athfalul muslimin kaifa rabahumun nabiyyul amin
Penulis: Syaikh Jamal Abdurrahman
Penerjemah: Agus Suwandi
Jumlah halaman: 312 hlm
Penerbit: Aqwam
Tahun terbit: Maret 2017
Cetakan: Ketujuh belas
ISBN: 978-979-039-087-4
Genre: Nonfiksi, Pendidikan Islam
Rating: 4/5
Sampai sejauh ini, sejauh perjumpaan saya dengan buku, baik yang sudah saya baca maupun yang baru saya lihat-lihat sekilas isinya seputar pendidikan anak, memang dunia perbukuan Islam di Indonesia rasa-rasanya belum memiliki sebuah kitab pendidikan anak tersendiri. Yakni buku yang utuh dan komplit, yang bisa dijadikan semacam kiblat referensi pendidikan anak ala Islam oleh para orangtua maupun pendidik, mulai dari 0 tahun sampai lepas dari tanggungjawab asuhan orangtua dengan segala materi yang rinci hasil konversi dari al-quran, hadits dan kisah-kisah teladan yang shahih. (more…)
Judul Buku: The Shallows Penulis: Nicholas Carr Penerjemah: Rudi Atmoko Penerbit: Mizan Tahun Terbit: Juli 2011 Tebal: 280 halaman ISBN: 9789794336403 Genre: Nonfiksi, Internet, Psikologi Rating: 4/5
Perkembangan dunia internet memang sangat memudahkan urusan kita. Dari komunikasi hingga kegiatan komputasi, semua memungkinkan kita untuk bekerja secara efektif. Namun, apakah internet benar-benar tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kebiasaan berpikir kita?
Saya sempat merasakan perbedaan yang sangat kontras antara saya yang dulu sebelum intens dengan internet dibandingkan saya yang sulit melepaskan diri dari internet. Kalau sebelumnya, saya betah berjam-jam membaca buku dengan duduk manis mengkaji dan menelaah satu demi satu buku, menghubungkan buku satu dengan yang lainnya.
Ketika saya keranjingan internet sekitar tahun 2007 hingga 2008, aktivitas membaca buku saya menurun drastis. Saat itu saya merasa tidak nyaman berlama-lama membaca buku, cepat bosan. Pikiran saya ingin membuka internet saja. Sebentar-sebentar saya membuka browser di komputer atau laptop untuk mengecek email dan notifikasi media sosial. Sebentar-sebentar buka blog untuk mengecek trafik dan komentar yang masuk.
Ketika koneksi internet putus, saya akan merasa sangat gelisah karena seperti tidak ada yang bisa saya lakukan. Iya, itu dulu, saat awal-awal internet berhasil menguasai diri saya, bukan sebaliknya. Mungkin Anda juga pernah? Bersyukur saya, masa-masa itu sudah lama terlewati.
The Shallows karya Nicholas Carr tidak jauh-jauh dari topik seperti pengalaman saya di atas. Buku ini mengupas seberapa besar pengaruh internet pada diri kita, pada otak kita, dan pada kebiasaan-kebiasaan berpikir kita.
Menurut penulis, yang juga seorang finalis Pulitzer Award 2011, dari banyak penelitian pakar terhadap aktivitas otak dan juga berbagai eksperimen para praktisi internet dan teknologi, internet secara tak kita sadari memiliki potensi mengubah cara berpikir kita, terutama berpikir secara mendalam.
“Ketika kita online, kita memasuki sebuah lingkungan yang mendorong pembacaan sepintas, pemikiran terburu-buru dan terganggu, dan pembelajaran yang superfisial. Mungkin saja berpikir secara mendalam sambil berselancar di internet, sama seperti kita bisa berpikir dangkal ketika membaca buku, namun itu bukanlah jenis pemikiran yang didorong dan diharapkan oleh teknologi.” (halaman 121)
Orang yang dalam sehari menghabiskan waktu lebih banyak di depan internet, menurut penelitian yang disebutkan di dalam buku ini, memiliki perubahan cara berpikir secara mendalam yang cukup drastis. Yang tadinya kebiasaan membaca buku dalam waktu lama dan konsentrasi tinggi mampu menumbuhkan cara berpikir secara mendalam, kini perlahan dan berkelanjutan tergantikan dengan kebiasaan membaca artikel di internet secara sepintas-sepintas.
Banyaknya link terkait yang diselipkan di setiap artikel, yang mengarahkan pembaca kepada berbagai informasi lainnya, juga membuat aktivitas otak terbiasa dengan cara berpikir secara cepat dan instan.
Jalur neuronal otak kita sangatlah lentur sehingga akan tumbuh terus dan menyesuaikan dirinya dengan perubahan-perubahan dari kebiasaan kita. Perubahan ini kemudian disusul juga dengan banyaknya ragam buku atau majalah yang ditata sedemikian rupa seperti tampilan web.
Penyesuaian demi penyesuaian dilakukan, termasuk dengan munculnya berbagai perangkat e-reader yang menyuguhkan banyak fitur pendukung bagi para penggila baca. Orang-orang pun selanjutnya menggantungkan ingatannya lewat internet.
Dibanding membongkar buku-buku tebal, orang-orang akan lebih memilih mengunggah hasil pindai buku ke dalam akun cloud-nya. Dibanding berlelah-lelah mengingat dan menghapal banyak informasi, orang-orang akan memilih menuliskannya di blog atau e-mail. Suatu saat jika diperlukan, mereka hanya perlu membuka internet.
Dibanding membaca buku-buku referensi tebal, orang-orang hanya perlu sentuhan jari untuk mengambil sebanyak-banyaknya ilmu dari internet. Internet seolah menjadi jalan pintas dengan seabrek informasi yang mendunia.
“Semakin sering kita menggunakan web, maka otak kita semakin terlalu menghadapi gangguan—memproses informasi dengan amat cepat dan amat efisien tapi tanpa perhatian yang terus-menerus. Hal itu menjelaskan mengapa banyak di antara kita yang sukar berkonsentrasi bahkan ketika tidak sedang di depan komputer. Otak kita pintar melupakan, tidak pintar mengingat. Mungkin ketergantungan kita yang semakin besar terhadap kandungan informasi web merupakan produk dari kumparan diri yang terus ada dan membesar.
Ketika pemanfaatan web yang kita lakukan membuat kita lebih sulit memasukkan informasi ke dalam memori biologis kita, maka kita semakin dipaksa untuk lebih bersandar pada memori buatan yang luas dan mudah dicari di internet, sekalipun itu membuat kita menjadi pemikir yang dangkal.”
(halaman 207)
Apakah ini artinya internet membuat cara berpikir kita dangkal? Menurut saya, bisa jadi, tetapi tergantung seperti apa kita menggunakan internet. Buku yang telah diterjemahkan ke dalam 17 bahasa ini tidak menyuruh kita berhenti menggunakan internet. Buku ini tak juga menyuruh kita hanya membaca buku cetak.
Dengan segala pemaparan penulis disertai pengalaman orang-orang atas penggunaan internet, juga penjabaran penulis tentang sejarah alat-alat berpikir dari mulai alfabet hingga komputer, saya mengambil satu kesimpulan penting, bahwa ketika internet digunakan dalam tataran sekunder, sedangkan primernya adalah membaca buku, maka internet bisa menjadi teman bagi cara berpikir mendalam kita. Tetapi jika sebaliknya, inilah yang terjadi kemudian, bahwa kita menjadi malas membaca bacaan yang panjang dan berujung pada kedangkalan berpikir.
Seperti yang diajarkan nabi kita, bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak memberi kebaikan. Begitu juga dengan internet. Selain kemudahan dan kesenangan yang ditawarkannya, ketergantungan terhadap internet ternyata memiliki konsekuensi fisik dan kebiasaan hidup kita.
Ketika cara berpikir secara mendalam kita lambat laun tergerus, yang tersisa hanyalah pola berpikir karbitan yang rapuh. Jadi, seimbanglah. Memperbanyak membaca buku, menurut Nicholas Carr, akan lebih membuat cara berpikirmu lebih mendalam dan kreatif.
Judul: Palestina yang Terlupakan Penulis: Khalid Basalamah Penerbit: Pustaka Ibnu Zaid ISBN: 978-602-51342-0-3 Tahun terbit: 2018 Cetakan: Kesatu Tebal: 86 hlm Genre: Agama Islam, Sejarah Rating: 4/5
Berita-berita atau informasi yang banyak beredar di masyarakat, entah itu dari media cetak maupun elektronik, biasanya sangat berpotensi memunculkan sikap reaktif. Apakah itu reaksi positif, apakah itu negatif, asalkan informasi itu sensitif dan kontroversial, tak perlu menunggu waktu lama, sebentar saja pasti menjadi viral.
Salah satu isu yang seringkali menjadi trending topic di dunia maya adalah isu Palestina, baik tentang konflik yang sedang terjadi maupun segala hal yang berkaitan dengannya.
Dari isu-isu yang ada, kita bisa melihat bahwa betapa fluktuatifnya respon masyarakat kita. Ketika ada berita atau informasi terbaru tentang Palestina misalnya, masyarakat umumnya langsung memberikan respon yang beraneka ragam modelnya. Ada yang memberikan dukungan, ada yang biasa saja, ada yang mencibir, ada yang membenci, ada pula yang bergembira.
Tak jarang pula terjadi perdebatan antara yang pro dan kontra, sebab isu Palestina memang isu panas yang sampai kapan pun akan terus bergulir. Namun, ketika selang beberapa hari berlalu sejak berita itu ramai dibicarakan, keramaian pro kontra tersebut turut hilang tanpa bekas.
Jika ada berita atau informasi yang menjadi viral lagi, kehebohan itu kembali lagi seperti sedia kala, dan selanjutnya akan berlalu begitu saja. Apakah ini hanya euforia sesaat? Pun masyarakat seolah lupa bahwa nun jauh di belahan bumi sana, ada sebuah negeri yang diberkahi, yang penduduknya masih terus berjuang untuk kedaulatan tanahnya.
Buku Palestina yang Terlupakan ini seolah hadir sebagai pengingat saya dan kita semua tentang keberadaan tanah yang diberkahi tersebut. Terlepas dari sedang marak atau tidaknya konflik yang berlangsung, sedang hangat atau tidaknya isu yang berkembang, buku ini mengingatkan kita kembali bahwa jangan sampai kita terlupakan dengan Palestina.
Lupa akan keutamaan-keutamaannya, lupa akan alasan mengapa kita harus senantiasa mengingatnya, lupa akan pesan nabi Allah mengapa seorang muslim dianjurkan untuk mendatanginya walau hanya sekali seumur hidup, lupa mendoakannya, lupa membantunya, juga lupa akan banyak hal tentangnya. Ada berbagai jawaban dan alasan mengapa kita tidak boleh melupakan Palestina, dan bahasan ini disampaikan oleh Ustadz Khalid Basalamah dengan bahasa yang ringan di dalam buku ini.
Khalid Basalamah adalah salah seorang asatidz yang mumpuni di Indonesia yang kajiannya juga banyak beredar di internet. Beliau menguasai banyak bidang ilmu seperti fikih, akidah, hadits, dan sebagainya. Gaya penyampaiannya yang ringkas dan renyah tapi padat sangat terlihat jelas di buku ini. Kalau saya boleh katakan, buku ini memang benar-benar to the point menyuguhkan Palestina apa adanya. Buku ini tidak mengupas tentang Palestina dari A sampai Z, melainkan berisi pembahasan mengapa Palestina tidak layak untuk dilupakan oleh seorang muslim.
Ada bab mengenai keutamaan-keutamaan Palestina di dalam Al-Quran dan As-Sunnah, ada sejarah singkat tentang penduduknya, ada sejarah singkat tentang pembangunannya, juga tentang bagaimana akhirnya kaum Yahudi beramai-ramai memasukinya dan konflik apa sebenarnya yang terjadi di sana.
Di dalamnya juga ada gambaran tentang kehidupan nyata masyarakatnya, termasuk kegiatan bercocok tanam, berdagang, juga kehidupan sosialnya. Ada tips singkat bagaimana cara ke sana bagi yang ingin berkunjung.
Contoh isi halaman. Foto diambil dari penerbit.
Meskipun tipis dan bahasanya ringan, isi buku Palestina yang Terlupakan menurut saya cukup mewakili untuk sekadar mengingatkan kaum muslimin bahwa ada satu masjid di sana yang salat di dalamnya lebih utama daripada salat di seribu masjid, yang terdapat bekas naiknya nabi ketika peristiwa Isra’ Mi’raj, yang pernah menjadi kiblat pertama kaum muslimin, yang di atas tanahnya telah banyak tertumpah darah para nabi, sahabat, tabi’in dan orang-orang shalih, yang di sanalah nanti akan turun nabi Isa ‘Alaihissalam.
Buku ini seolah pelengkap bagi berbagai buku yang membahas tentang Palestina dan penduduknya, juga pengingat bagi kita yang bisa jadi tidak terlalu memikirkannya.
Saya takjub melihat kualitas kertas dalam buku ini. Dengan ketebalan 86 halaman, buku ini menggunakan kertas licin dan tebal serta full color, pun harganya sangat terjangkau bila dibandingkan buku-buku full color sejenis.
Buku ini juga dilengkapi ilustrasi berwarna. Saya bertanya-tanya, apa penerbitnya tidak rugi? Masya Allah, semoga menjadi amal jariyah. Jadi, bagi yang tidak suka bacaan berat, buku ini menurut saya sangat cocok untuk dibaca.
Catatan sponsor: Bagi yang berminat dengan buku ini, Anda bisa mendapatkannya di PromoBuku.com atau Whatsapp ke wa.me/6283130117884
Judul: The Great of Two Umars Penulis: Fuad Abdurrahman Penerbit: Zaman ISBN: 978-602-8417-43-3 Tebal: 134 hlm Genre: Agama Islam, Kisah dan Hikmah Rating: 4/5
Awalnya saya merasa enggan untuk membaca buku ini ketika diberi tawaran untuk membedahnya di sebuah komunitas pembaca muslimah. Alasannya sederhana saja. Pertama, karena saya menganggap sepele buku-buku sejenis, yakni buku sejarah atau biografi tokoh yang dikemas dalam buku tipis dan ringkas, bukan kitab-kitab tebal seperti umumnya buku sirah.
Buku ringkas biasanya kurang utuh mengupas isi secara lengkap. Kedua, berhubung karena saya sudah pernah membaca buku lainnya tentang biografi dua Umar dari ulama masyhur, dalam pikiran saya ya isinya paling itu ke itu juga sehingga saya jadi malas untuk membaca tema sejenis. Buang-buang waktu, pikir saya.
Tetiba saya teringat penjelasan di buku Hilyah Thalibil ‘Ilmi tentang nasihat bagi seorang penuntut ilmu bahwa kita tidak boleh bersikap sombong ketika menuntut ilmu, merasa diri sudah berilmu setelah membaca sebuah kitab, bahkan menganggap remeh ilmu sekecil apapun.
Subhaanallaah … Nasihat itu terlintas di kepala saya dan mendadak saya tersadar dan merasa malu. Astaghfirullaah … Semoga Allah mengampuni kesombongan saya pada saat itu.
Pantaslah ya mengapa Allah tidak menyukai kesombongan karena kesombongan dapat menutup pintu-pintu kebaikan yang lain. Dan masya Allah, ternyata Allah memiliki cara-Nya sendiri untuk mendidik kita. Setelah membacanya, saya merasa beruntung karena saya bisa membuat catatan-catatan penting atas kelebihan dan kekurangan buku ini.
The Great of Two Umars karya Fuad Abdurrahman ini berisi kisah-kisah penuh hikmah dan keteladanan dari dua khalifah Islam yang memiliki nama sama, Umar bin Khathab dan Umar bin Abdul Aziz. Keduanya bukanlah tanpa hubungan keluarga.
Umar bin Abdul Aziz (yang disebut Umar II oleh para ulama) adalah cicit Umar bin Khathab (yang disebut Umar I) dari cucu perempuannya yang bernama Ummu ‘Ashim binti ‘Ashim bin Umar bin Khathab.
Buku ini dibagi menjadi dua bagian utama. Bagian pertama merupakan bagian Umar bin Khathab, sedangkan bagian kedua berisi kisah Umar bin Abdul Aziz. Di setiap bagiannya, penulis membagi kisah-kisah mereka berdasarkan kategori tertentu, misalnya kehidupan sebelum menjadi khalifah, sifat-sifat utamanya, saat menjadi khalifah sampai ketika meninggal dunia.
Dan di setiap kategorinya, penulis memaparkan kisah dua Umar secara kasus per kasus fragmen kehidupan masing-masing.
Dari kisah-kisah yang dituliskan, pembaca sedikit banyak akan mengenal lebih dekat sosok dua khalifah paling fenomenal ini; Bagaimana sifat rendah hatinya, ketegasannya, keadilannya, ketakwaan dan kepemimpinannya dalam masyarakat, serta beberapa kebijakan yang mereka ambil.
Mengapa dua Umar ini yang dibahas? Padahal ada beberapa khalifah lainnya yang juga memiliki karakter pemimpin yang tak kalah hebatnya. Menurut saya ini dikarenakan keduanya unik; namanya sama, memiliki hubungan darah, sama-sama menjadi khalifah, dan sama-sama melakukan reformasi dan inovasi ke arah kebaikan ketika menjadi khalifah dalam rentang waktu yang berbeda.
Di dalam pengantarnya penulis menjelaskan bahwa The Great of Two Umars hadir dari kerinduannya terhadap sosok pemimpin yang adil, bijaksana, memiliki karakter dan iman yang kuat, yang sangat sulit sekali ditemukan di masa sekarang ini.
Ada banyak pemimpin yang bagus, tapi belum ada di masa sekarang ini yang bisa mendekati prestasi kepemimpinan kedua Umar ini. Dan inilah salah satu latar penulis membuat buku ini, agar orang-orang bisa mengenal sosok dua Umar yang hebat dan mengambil hikmah dari kehidupan mereka.
Pujian terhadap Buku
Ada beberapa poin dari buku ini yang menurut saya menjadi kelebihan.
1. Penulis mampu membuat satu buku ringkas berisi informasi yang padat dari dua sosok terkenal, yang sebetulnya, masing-masing kisah atau biografi mereka banyak dituliskan di dalam satu buku tebal terpisah.
2. Penulis mampu melakukan transfer konten sejarah kehidupan dua Umar dari buku-buku teks sejarah yang umumnya dianggap berat untuk dibaca oleh sebagian orang ke buku dengan bahasa yang lebih ringan penuturannya.
3. Buku ini ditulis dengan gaya penulisan narasi yang mudah dicerna oleh pembaca pada umumnya. Nggak njelimet dan ribet. Buku ini ditulis menggunakan bahasa penulis sendiri sehingga tidak terasa membosankan. Ini merupakan poin plusnya karena bisa menjadi alternatif bacaan sejarah bagi mereka-mereka yang kurang cocok dengan buku-buku berat dan tebal.
Kritik atas Buku
Saat membaca buku ini, ingatan saya terbang ke kisah dua sosok Umar yang saya kenal dari buku-buku dari penulis lain, terutama dari kalangan ulama-ulama yang masyhur. Ada sedikit perbedaan krusial yang saya temukan dan ini mau tak mau membuat saya membanding-bandingkan konten kisah antara kedua buku.
Saya bukanlah seorang pakar sejarah, bukan pula seorang pengamat sejarah. Rasanya kurang pantas bagi saya untuk mengkritik karya seseorang, terlebih saya bukan ahli. Tapi, sebagai wujud apresiasi subyektif saya terhadap sebuah buku yang dibaca, inilah menurut saya yang menjadi kelemahan atau kekurangan yang saya dapati setelah membaca buku The Great of Two Umars.
1. Ada beberapa kisah di dalam buku ini yang tidak sesuai dengan riwayat aslinya. Ada juga kisah yang disandarkan pada riwayat lemah maupun munkar atau palsu.
Sebagai contoh di bagian kisah Umar bin Khathab, ada kisah Umar bin Khathab yang menghukum putranya yang berzina hingga wafat. Riwayat dari kisah ini adalah riwayat palsu.
Jika kita telusuri di beberapa buku sirah yang ditulis ulama-ulama masyhur dan bersumber dari sumber yang shahih, maka tidak ditemukan satu pun riwayat tentang kisah ini. Dan jika kita telusuri lebih lanjut, ada beberapa kajian yang mengulas tentang kepalsuan kisah ini. Wallahua’lam.
Contoh lain adalah kisah antara Umar bin Khathab dan ‘Amr bin Al-‘Ash ketika memutuskan hukuman atas putra ‘Amr bin Al-‘Ash yang kurang sesuai dengan riwayat aslinya.
Mungkin, di buku The Great of Two Umars ini, kisah-kisah tersebut oleh penulis dimaksudkan untuk menunjukkan sikap ketegasan Umar sebagai seorang khalifah, namun kisah-kisah ini sebetulnya cukup masyhur dan sering dijadikan dalih untuk mendiskreditkan sosok Umar dan sahabat Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam oleh sebagian kalangan.
Contoh kisah dengan riwayat lemah lainnya adalah di bagian Umar bin Abdul Aziz, yaitu kisah tentang Umar bin Abdul Aziz dan sikap Bani Umayah terhadap Ali bin Abi Thalib. Di dalam kisah ini diceritakan bahwa satu-satunya keturunan Bani Umayah yang tidak mencerca Ali adalah Umar bin Abdul Aziz. Implikasi dari pernyataan ini adalah bahwa seluruh keturunan Bani Umayah adalah pencerca Ali.
Di dalam bukunya, Biografi Umar bin Abdul Aziz (Beirut Publishing), Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi menjelaskan tentang topik ini secara rinci bahwasanya pernyataan tersebut tidaklah benar dan riwayat tentang pencerca Ali ini lemah dan perawinya tidak dapat dipercaya. Jadi ada semacam distorsi sejarah di sini.
Sebetulnya sangat disayangkan jika poin-poin di atas muncul di buku. Di lembar daftar pustaka, penulis mencantumkan beberapa buku atau kitab yang ditulis oleh ulama-ulama pakar sejarah terpercaya dan dikenal berhati-hati sebagai referensi yang valid, termasuk Ash-Shallabi di dalamnya. Namun, mengapa penulis masih memasukkan kisah-kisah yang riwayatnya lemah, munkar, atau yang tidak sesuai dengan riwayat aslinya?
Mengapa topik tentang Umar bin Abdul Aziz ada yang bertentangan dengan penuturan Ash-Shallabi sendiri di dalam kitab yang dirujuk oleh penulis sendiri? Saya tidak tahu alasan penulis mencantumkan kisah-kisah tersebut. Apakah memang karena kekhilafan penulis yang mungkin kurang ketat dalam melakukan seleksi terhadap kisah-kisah masyhur tersebut? Wallahua’lam.
2. Meskipun sebelumnya saya sebut sebagai satu kelebihan buku ini, gaya penulisan narasi yang diterapkan untuk biografi atau shiroh sahabat/shahabiyah rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wasallam, menurut saya, sekaligus juga memiliki beberapa titik lemah.
Pertama, berbicara tentang kisah sahabat rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tentu kita tidak mungkin berlepas diri dari hadits atau riwayat yang jelas sanadnya. Maka, mengonversi redaksi sebuah hadits atau riwayat menjadi narasi sesuai gaya penulisan seorang penulis haruslah dilakukan secara sangat hati-hati.
Perbedaan kalimat yang kurang tepat dapat menyebabkan perbedaan makna yang cukup jauh, yang alih-alih bisa memberikan perbedaan persepsi bagi pembaca atas kisah yang sebenarnya. Dan inilah yang saya dapati di beberapa kisah di dalam buku ini.
Kedua, menuliskannya secara narasi—termasuk di dalamnya dialog-dialog yang terjadi antara tokoh-tokoh yang disebutkan—terkadang tidak terlepas dari bagaimana karakter penokohannya. Mungkin penulis ingin membuat adegan atau kisahnya lebih dramatis sehingga pembaca lebih tertarik, maka penulis kemudian menentukan karakter yang sesuai dengan penggambaran tokoh.
Implikasinya, penulis akhirnya membuka pintu asumsi bagi dirinya sendiri tentang bagaimana sikap atau kata-kata yang tepat dari si tokoh. Jika kita berbicara tentang sebuah buku fiksi, tentu asumsi-asumsi ini bisa dibenarkan.
Tetapi, ketika kita berbicara dalam konteks kisah sejarah atau apalah istilahnya buku yang berdasarkan fakta dan rekam sejarah, terlebih lagi yang berkaitan dengan keabsahannya, maka menurut saya, seharusnya kita tidak membuka pintu asumsi terlalu luas dalam hal ini.
Sebagai contoh, jika penulis ingin menunjukkan sosok Umar bin Khathab yang tegas terhadap kezhaliman atau kemungkaran, maka wajar saja jika perkataan Umar di dalam dialog diasumsikan sedemikian rupa agar terlihat karakter tegasnya, tentunya tidak lari dari esensi ucapan beliau yang sebenarnya.
Hanya saja, yang saya dapati di buku ini justru apa yang disampaikan di dalam dialog narasinya terkadang tidak sama rasa dan maknanya dengan dialog yang terdapat pada riwayat aslinya, apalagi jika penulis melakukan improvisasi dalam dialog-dialog tersebut.
Misalnya ketika di buku ini Umar bin Khathab digambarkan sedang marah lalu mengucapkan kata “Kurang Ajar”, apakah memang demikian adanya di dialog aslinya yang berbahasa Arab?
Berhubung saya tidak paham bahasa Arab, saya jadi bertanya-tanya, ungkapan seperti ‘kurang ajar’ yang di masyarakat kita dianggap sebagai umpatan yang agak kasar, apakah ada di ungkapan Arab yang berkonotasi sejenis? Apakah Umar mengatakan itu di riwayat aslinya? Saya tidak tahu.
Tetapi dari kacamata awam, saya merasa Umar di fragmen itu terkesan negatif. Hal ini mungkin sekilas terlihat sepele, tapi tahukah kita kalau efek dari hal ini bisa saja lebih luas? Bahwa pembaca berpotensi memahami kalau sosok seorang Umar bin Khathab itu hobi mengumpat, padahal nyatanya tidak diriwayatkan demikian.
Sejujurnya, ketika membaca kisah-kisah di dalam The Great of Two Umars, terutama di bagian Umar bin Khathab pada bab-bab awal, saya merasakan sosok beliau digambarkan sebagai orang yang kasar sekasar-kasarnya. Sebentar-sebentar marah, ngamuk, seolah-olah tidak ada jeda.
Padahal, rasa ini sangatlah berbeda dengan sosok Umar bin Khathab yang saya baca kisahnya dari buku-buku referensi lain, yang diceritakan lewat penuturan redaksi-redaksi hadits nabi maupun riwayat para sahabat tentang beliau secara lengkap dan runut.
Di buku referensi tersebut, Umar memang karakternya sangat keras dan tegas. Namun kita masih bisa merasakan bahwa bersamaan dengan karakter keras dan tegasnya tersebut, terselip juga jeda atas pertimbangan atau kebijaksanaannya. Apakah ini karena faktor penulisan narasi? Wallahua’lam.
Kesan terhadap Buku
Ketika pertama kali melihat judul buku The Great of Two Umars, di dalam pikiran saya terlintas gambaran bahwa buku ini akan berisi telaah pembahasan tentang benang merah antara dua Umar sebagai khalifah. Apa yang membuat kedua khalifah ini istimewa?
Prestasi-prestasi dan gebarakan apa saja yang dilakukan oleh mereka sehingga menjadi sangat fenomenal? Bagaimana pandangan dan kebijakannya dalam bidang politik, ekonomi, pemerintahan dan peradilan? Apa ada korelasinya meski sudah berjarak waktu? Misalnya apakah ada estafet kebijakan yang dilanjutkan Umar bin Abdul Aziz dari pendahulunya Umar bin Khathab? Dan bagaimana kaitannya dengan zaman sekarang? Pemikiran-pemikiran semacam itu muncul di benak saya.
Tetapi setelah membacanya, hal itu ternyata tidak banyak saya temukan. Meski sudah saya balik-balik lembarannya sampai habis, buku ini menurut saya lebih cenderung mengulas kisah hikmah yang ada dari keduanya dalam sisi karakter. Padahal, Umar bin Khathab memiliki banyak sekali prestasi dan keistimewaan yang membuat kita berdecak kagum, yang Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sampai mendoakannya saat masih jahiliyah.
Pun begitu dengan Umar bin Abdul Aziz yang disebut sebagai pembaru pertama dalam Islam. Gebrakan-gebrakannya dalam dunia pendidikan, pemerintahan, ekonomi juga sangatlah gemilang mengikuti jejak kakek buyutnya. Memang ada diulas juga di buku ini tentang prestasi dan kebijakan dua Umar ini, namun tidak banyak.
Kesimpulan
Menurut saya, buku The Great of Two Umars ini memang lebih cocok buat pembaca yang tidak suka membaca buku bertipe serius atau berat dan tebal. Bagi yang lebih suka membaca kitab sejarah atau sirah tebal, buku ini mungkin kurang menggigit.
Secara keseluruhan, buku ini bagus, baik. Cukuplah untuk pembaca mengenal sosok Umar bin Khathab dan Umar bin Abdul Aziz sebagai awalan. Bahasa yang dipakai juga ringan dan nyaman.
Pemaparan penulis atas kisah-kisahnya juga cenderung mudah meresap buat pembaca, apalagi bagi yang mudah tersentuh atau termotivasi. Tapi barangkali juga lebih pas jika hanya dijadikan sebagai buku tambahan wawasan seputar kisah dan hikmah, bukan sebagai buku referensi sejarah tokoh atau sirah Islam.
Dan yang paling penting, pembaca hendaknya juga membekali diri dengan filter yang baik. Tidak serta-merta menelan mentah-mentah seluruh isinya, terutama pada bagian-bagian yang memang berpotensi menimbulkan kesalahan persepsi atau pemahaman.
Karena isi buku ini ada yang berdasarkan sumber yang shahih, dan ada pula yang mencatut sumber yang lemah, maka alangkah lebih baik lagi jika membaca buku ini dibarengi juga dengan membaca buku sirah yang ditulis oleh ulama-ulama masyhur dan shahih, agar pembaca bisa membuat catatan-catatan tersendiri dan punya perbandingan. Ini akan membuat kegiatan membaca kita menjadi lebih seru ketika menggali hal-hal baru.
Dari segala kelebihan dan kekurangannya, buku ini merupakan buah karya seseorang. Saya sangat mengapresiasi usaha penulis atas buku ini. Cukuplah kebaikan saja yang perlu kita ambil dari buku ini.
Sekilas tentang Prestasi Dua Umar
Berikut ini prestasi dan kebijakan dari sosok dua Umar yang saya rangkum dari referensi lain. Saya pikir pembaca yang belum mengenal beliau perlu mengetahui sekilas.
Umar bin Khathab
Dikenal dengan pemahaman yang mendalam, kemampuan untuk menyelesaikan masalah, dan kepiawaiannya dalam menarik kesimpulan sehingga menjadi pakar fikih
Melakukan perluasan wilayah Islam yang paling besar
Membuat sistem penanggalan Hijriah
Membuat sistem pengawasan harga dan pasar
Membangun sebuah lembaga fikih dan fatwa di Madinah
Pembangunan kota, jalan dan transportasi darat dan laut, termasuk lumbung-lumbung perbekalan untuk para musafir
Orang pertama yang membentuk Diwan di negara Islam. Diwan adalah catatan atau buku yang ditulis di dalamnya urusan-urusan negara. Semakin meluasnya daerah kekuasaan Islam pada masa itu, Umar membuat Diwan sebagai
Dll
Umar bin Abdul Aziz
Seorang pembaru pertama dalam Islam (mujaddid)
Meluruskan akidah sesuai akidah ahlus sunnah
Membukukan hadits
Menetapkan metode pembelajaran, cara pengajaran, prioritas dalam pendidikan anak
Sentralisasi dan desentralisasi pemerintahan
Manajemen waktu dalam segala aspek, baik pendidikan dan pemerintahan
Pembaruan musyawarah dalam memilih dirinya sebagai khalifah
Judul: Penghancuran Buku dari Masa ke Masa Judul Asli: A Universal History of the Destruction of Books: From Ancient Sumer to Modern Iraq Penulis: Fernando Báez Penerjemah: Lita Soerdjadinata Jumlah halaman: 373 hlm Penerbit: Marjin Kiri Tahun terbit: Maret 2015 Cetakan: Ketiga ISBN: 978-979126024-4 Genre: Nonfiksi, Sejarah Rating: 5/5
Pemusnahan buku sejatinya adalah pembunuhan atas ingatan. Buku, yang dari bentuk paling asalnya di zaman kuno hingga bentuk paling mutakhirnya di zaman modern, adalah rekaman jejak sejarah sekaligus mata rantai penghubung antara masa lampau, saat ini dan masa depan peradaban manusia.
Betapa ironis mengetahui bahwa, sejak zaman kuno sampai saat ini, milyaran buku telah mengalami penghancuran yang bersifat permanen, baik yang disebabkan oleh tangan manusia maupun bencana alam, bahkan oleh musuh alami buku itu sendiri.
“Kenangan kita tak ada lagi. Tempat lahir peradaban, tulisan, dan hukum, musnah terbakar. Sisanya tinggal abu.” Demikian kata seorang profesor sejarah abad pertengahan di Bagdad. (halaman 3)
Jika terhadap manusia ada istilah genosida, maka librisida—atau yang oleh sebagian orang disebut dengan istilah bibliosida—adalah istilah yang tepat bagi pemusnahan buku, terutama yang dilakukan secara tersistem.
Dan berbagai peristiwa librisida tersebut dirinci secara menakjubkan oleh penulis asal Venezuela ini, Fernando Báez, di dalam bukunya yang berjudul Penghancuran Buku dari Masa ke Masa.
Báez membahas kajiannya ke dalam tiga pembagian waktu. Pertama, peristiwa yang terjadi di zaman dunia kuno, mulai dari hancurnya ribuan tablet di perpustakaan Babilonia, pembakaran papirus-papirus di Mesir, runtuhnya perpustakaan Alexandria, hingga pembunuhan kaum terpelajar disertai pembakaran buku di Cina. Masih ada banyak peristiwa librisida lainnya di zaman dunia kuno yang juga dirinci oleh penulis.
Memasuki bagian kedua, penulis memaparkan rincian peristiwa penghancuran buku di masa-masa Byzantium hingga abad ke-19. Contohnya seperti penghancuran Al-Quran di masa perebutan Spanyol, pemberangusan para astrolog di Eropa, pembakaran buku oleh gereja, sampai sensor buku di Inggris dan kasus-kasus lainnya.
Dan terakhir adalah librisida dari abad ke-20 hingga sekarang, termasuklah di dalamnya pemusnahan dan penjarahan besar-besaran Perpustakaan Nasional Irak saat invasi AS ketika terjadi penggulingan Saddam Hussein, yang merupakan kehilangan terbesar dalam sejarah abad ke-21.
Berbagai dokumen bersejarah dari zaman Ottoman yang tidak ternilai harganya, arsip kerajaan kuno Irak, risalah-risalah Ibnu Rusyd, Al Kindi dan Al Farabi, naskah-naskah penting Ibnu Sina, Al-Quran dari abad ke-9, hingga jutaan koleksi, manuskrip dan mikrofilm buku elektronik lainnya musnah.
Kehilangan ini bukan hanya tentang musnahnya buku-buku, melainkan pemusnahan kebudayaan dan peninggalan dari salah satu peradaban terbesar dalam sejarah umat manusia.
Selain sejarah penghancuran buku di dunia dari masa ke masa, Báez juga menambahkan satu bagian khusus yang membahas penghancuran buku di dalam karya fiksi. Cukup unik. Ini akan menambah wawasan pembaca mengenai buku fiksi yang menyinggung tentang librisida.
Hasil Kerja 12 Tahun
Penghancuran Buku dari Masa ke Masa ini merupakan hasil kerja penelitian 12 tahun Báez. Ia menelusuri dan menganalisa berbagai dokumen dan arsip yang membahas tentang librisida dari zaman ke zaman, termasuk manuskrip-manuskrip kuno dan salinan kajian kuno.
Berbagai sumber referensi penulisan bukunya ia peroleh dari banyak kalangan seperti para pustakawan, ahli sejarah, akademisi, kolektor buku langka, bahkan para penjual buku langka dari tiga benua.
Tak tanggung-tanggung, ia bahkan melakukan audiensi dan diskusi, termasuk koreksi atas naskah bukunya kepada pihak-pihak ahli sehingga data dan penjelasannya akurat. Kelebihan lainnya dari buku ini adalah bahwa penulis cukup obyektif dan tidak berat sebelah dalam memaparkan sejarah.
Sebelum melakukan riset yang mendalam terhadap sekian banyak literatur yang ia gunakan, penulis yang juga menjabat sebagai Kepala Perpustakaan Nasional Venezuela sekaligus penasehat UNESCO ini di tahun 2003 pernah berada di Irak dan menyaksikan langsung realita pembakaran buku dan perusakan museum saat itu.
Keprihatinannya atas pemusnahan budaya suatu bangsa inilah yang mendorongnya untuk menulis kajian tentang bibliosida. Akibat kritik dan ulasannya tentang perang Irak yang berkaitan dengan kritik terhadap Amerika Serikat, Fernando Báez di-persona non-grata-kan oleh pemerintah AS.
Bibliosida dalam Diri Kita
Jika kita mencermati peristiwa demi peristiwa penghancuran buku yang ada di dunia, kita akan mendapati satu benang merah yang sama, bahwa para pelaku librisida bukanlah orang-orang bodoh tanpa ilmu. Justru kebanyakan dari mereka berasal dari kaum intelektual terdidik.
Banyak faktor yang mendorong tindakan penghancuran buku tersebut. Di banyak tempat dan masa, umumnya librisida terjadi karena motif ideologis masing-masing; Seorang penguasa yang ingin melindungi pemikiran rakyatnya, faktor kebencian etnis, konten yang menentang penguasa, bahkan ada yang disebabkan persaingan ilmu pengetahuan dan alasan-alasan subyektif lainnya.
Buku ini menurut saya termasuk yang terbaik dan paling lengkap dari kajian tema sejenis tentang penghancuran buku. Terus terang, buku ini sangat berkesan buat saya karena isinya benar-benar kompleks, tetapi ada lintasan pikiran yang cukup kontradiktif di kepala saya.
Di satu sisi, saya sangat sepakat dengan ide dan kajian penulis, bahwa bibliosida adalah kekejaman atas buku yang harus kita hindari. Betapa seseorang telah menuangkan isi kepala, waktu dan tenaganya ketika menulis sebuah buku, bahkan ada yang membutuhkan waktu lama hingga menghabiskan seumur hidupnya. Terhadap buku hasil karya seperti itu, rasanya menyedihkan jika dimusnahkan.
Saya menolak pemusnahan buku yang tanpa alasan kuat. Namun, di sisi lain, sejujurnya saya mungkin akan menjadi salah satu oknum bibliosida tersebut.
Bagi saya pribadi, buku-buku yang isinya bisa bersifat merusak secara langsung—tentu saja parameter yang saya gunakan subyektif—dan selama buku itu bukan saya gunakan untuk proses pematangan pemikiran saya, maka barangkali buku itu akan saya “sembunyikan”.
Bukankah menyembunyikan buku masih termasuk dalam term bibliosida? Menurut saya, setiap orang berpotensi menjadi bibliosida sekecil apapun itu.
***
Pun walau begitu, buku ini adalah buku bertema tentang buku terbaik yang pernah saya baca dan sangat saya rekomendasikan bagi para pecinta buku.
“Momen dalam berhadapan dengan sebuah buku adalah momen di mana politik kebudayaan itu diuji: apakah kebudayaan kita masih dikungkung oleh suatu kebencian fasistik ataukah makin cukup terbuka untuk maju.” (halaman xviii)
Judul: Hilyah Thalibil ‘Ilmi – Perhiasan Penuntut Ilmu Judul Asli: Hilyah Thalibil ‘Ilmi Penulis: Bakr bin Abdullah Abuzaid Alih Bahasa: Harwin Murtadlo Penerbit: Al-Qowam ISBN: 978-602-8417-43-3 Tebal: 134 hlm Genre: Agama Islam, Pendidikan Islam Rating: 4/5
Ada sebuah perkataan bagus dari sahabat nabi Ali bin Abi Thalib ra yang diriwayatkan oleh Khathib Baghdadi, “Ilmu itu memanggil pemiliknya untuk beramal, jika ia memenuhi panggilannya. Jika tidak maka ilmu itu akan pergi.” Perkataan yang saya temukan di buku Hilyah Thalibil ‘Ilmi karangan Bakr bin Abdullah Abuzaid ini sangat membekas bagi saya pribadi.
Berapa banyak buku yang sudah saya baca dibanding yang saya serap ilmunya? Berapa banyak ilmu yang saya pelajari dibanding yang sudah saya amalkan? Berapa banyak buku yang sudah saya sia-siakan? Sudah benarkah cara saya dalam menuntut ilmu, terutama ilmu ad-diin, termasuk dari buku-buku yang dibaca? Pertanyaan-pertanyaan ini muncul setelah saya mulai membaca buku ini.
Hilyah Thalibil ‘Ilmi atau yang di dalam judul terjemahannya disebut Perhiasan Penuntut Ilmu adalah buku yang mengupas berbagai adab dan kesalahan yang ada pada diri seorang penuntut ilmu. Siapa saja yang disebut dengan penuntut ilmu?
Mereka adalah orang-orang yang menuntut ilmu, yang dalam konteks buku ini lebih ditekankan kepada ilmu syar’i atau ilmu ad-diin.
Namun, meskipun materi di dalam buku ini sebagiannya khusus diperuntukkan bagi para penuntut ilmu, namun sebetulnya di dalamnya juga memuat banyak hal yang perlu diketahui oleh setiap muslim, karena sejatinya setiap kita memiliki kewajiban yang sama dalam hal menuntut ilmu, minimal untuk pemahaman dan amal diri sendiri.
Buku setebal 134 halaman ini dibagi menjadi tujuh pasal utama. Pasal pertama hingga kelima membahas adab-adab bagi penuntut ilmu seperti adab terhadap diri sendiri, adab terhadap guru dan sahabat, juga adab dalam kehidupan ilmiah.
Kita akan memahami di bagian ini bahwa ketika menuntut ilmu atau mempelajari ilmu ad-diin, ada rambu-rambu tertentu yang harus kita perhatikan agar aktivitas kita tidak melenceng dari jalur yang Allah tetapkan, sehingga apa-apa yang kita pelajari akan lebih maksimal dan mudah-mudahan beroleh keberkahan.
Di lima bagian pertama, kita akan mengenal bagaimana sebenarnya sikap kita terhadap guru atau ulama, terhadap majelis ilmu, memahami bagaimana tahapan dalam menuntut ilmu, termasuk misalnya tahapan belajar dari buku dan seperti apa sebaiknya prioritas buku yang kita baca sebagai bagian dari tahapan belajar tadi.
Selain itu, pasal-pasal awal ini juga membahas adab-adab ketika berdiskusi, melontarkan pertanyaan, memperdalam pemahaman, metode dalam menuntut ilmu, juga bagaimana menjaga ilmu.
Saya merasa sangat tersindir ketika membaca buku ini karena banyak sekali materi di dalamnya yang seolah menguliti pribadi saya sejujur-jujurnya. Bahwa ketika belajar sendiri hanya dari buku saja, seseorang cenderung merasa dirinya lebih paham dan ahli.
Padahal, belajar hanya dari buku juga mengandung kelemahan dan ada banyak hal yang memerlukan penjelasan lebih detail yang itu hanya bisa kita peroleh dari seorang guru yang kapasitas keilmuannya lebih baik.
Jadi sebaiknya memang ketika mempelajari ilmu ad-diin, selain membaca buku, dibarengi dengan mendengarkan penjelasan para ulama atau guru akan lebih memberikan pemahaman yang utuh.
“Dahulu ilmu ini mulia, para tokoh saling mengajarkan ilmu di antara mereka. Ketika ia memasuki buku-buku maka ia mulai dimiliki oleh orang-orang yang bukan ahlinya.” (halaman 36)
Dengan bahasa yang mudah dipahami, ringkas dan sederhana, buku ini juga mengupas hal-hal terkait dengan amal terhadap ilmu yang dijelaskan pada pasal keenam. Kita diajak kembali pada kisah-kisah ulama dan kegilaannya terhadap buku, juga bagaimana menilai perpustakaan kita sendiri dan perlakuan kita terhadap buku.
Di pasal ketujuh, penulis menjelaskan larangan-larangan dalam menuntut ilmu, termasuk di dalamnya sikap pamer ilmu, pemikiran prematur, Israiliyat gaya baru, dan topik lainnya yang membatalkan perhiasan para penuntut ilmu.
Buku ini, meski lebih tipis dan singkat dari Kitab Al-‘Ilmi karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, yakni kitab pegangan awal bagi para thalibul ‘ilmi, tapi membacanya bagi saya lebih membekas dan berkesan karena segala hal yang dipaparkan di dalamnya benar-benar to the point dan menusuk hati saya.
Selepas membacanya saya jadi merenung, sekian banyak buku yang saya koleksi, sudahkah mereka bahu-membahu menyokong saya ke arah kebaikan akhirat? Akankah mereka menjadi saksi saya nanti untuk pemberat timbangan kebaikan ataukah justru sebaliknya?
Saya pun semakin termotivasi untuk melengkapi perpustakaan saya dengan kitab-kitab induk dan buku-buku yang ditulis dengan pemahaman yang mendalam. Tak bisa saya pungkiri juga, terkadang hati saya masih tarik ulur antara keinginan duniawi dan visi akhirat, namun buku ini semoga menjadi pengingat bahwa kita tidak lama hidup di dunia.
Dibanding sebuah resensi, rasanya ulasan saya kali ini lebih tepat disebut sebagai curahan hati saya. Tak apa, semoga tetap bermanfaat. Ada satu bait syair yang sangat bagus disuguhkan di bagian akhir buku ini dan saya suka sekali, semoga bisa menjadi penutup yang baik.
“Duhai, betapa ruginya, usia telah habis dan habis pula Waktu-waktunya di antara hinanya kelemahan dan kemalasan Orang-orang telah menempuh jalan keselamatan, telah pula Berjalan menuju tempat tujuan dengan pelan.” (halaman 112)