Category: Fiksi

  • The Martian Si Penghuni Mars oleh Andy Weir

    Judul: Si Penghuni Mars
    Judul Asli: The Martian
    Penulis: Andy Weir
    Penerjemah: Rosemary Kesauly
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    ISBN: 978-602-03-2439-5
    Tebal: 528 halaman
    Tahun terbit: 2015
    Cetakan: Kesatu
    Genre: Fiksi Sains
    Rating: 5/5

    Saya mengenal dua Mark yang sama-sama berjuang untuk bertahan hidup. Bedanya, yang satu Mark Boyle si Moneyless Man, bertahan hidup tanpa uang di bumi, sedangkan Mark yang lain bertahan hidup di Mars, planet merah yang tak satupun terdapat tanda-tanda kehidupan.

    Namanya Mark Watney. Tadinya Watney hanya menjalankan misi botaninya ke Mars. Serangkaian badai pasir menghambat diri dan teman-temannya sehingga mengharuskan sekelompok ilmuwan dan astronot ini untuk kembali ke pesawat ruang angkasa mereka.

    Di tengah-tengah badai tersebut, Watney mengalami kecelakaan. Mengira dirinya sudah mati, teman-temannya terpaksa meninggalkan Watney. Untungnya Watney ternyata masih hidup dengan luka tancapan antena di perutnya.

    Tapi, ia mungkin saja akan menjadi orang pertama yang akan mati di Mars sebab ia harus menghadapi beberapa masalah penting; Tak ada air, tak ada oksigen, tak ada makanan dan tak ada komunikasi.

    Watney terpaksa memutar otak dan memaksimalkan kreativitas dan kemampuannya demi bertahan hidup di kondisi yang tidak ideal bagi manusia. Dengan aneka hitungan dan rumus, ia mulai memperkirakan berapa banyak makanan, air dan oksigen yang akan ia butuhkan.

    Seperti halnya Boyle yang menanam sendiri makanannya, Watney juga memanfaatkan kotorannya untuk menanam kentang di Mars — Yah, barangkali jika suatu saat mereka berjumpa, mereka bisa saling menceritakan pengalamannya masing-masing 😀

    “Toilet-toilet HAB sangat canggih. Tinja langsung disedot sampai kering, lalu disimpan dalam kantong-kantong tertutup untuk dibuang ke permukaan.” (halaman 26)

    Watney juga harus memecahkan masalah air dan oksigen. Tak hanya itu, ia juga harus memikirkan bagaimana caranya berkomunikasi dengan bumi, sebab sebaik apapun usahanya menghasilkan sumber kehidupan, semua tak akan ada artinya jika ia tidak bisa kembali ke bumi.

    Ia pun harus memeras otak dan tenaganya untuk memikirkan bagaimana caranya untuk pergi ke lokasi misi Mars berikutnya yang cukup jauh, yang mungkin saja di sana ada alat komunikasi. Masalahnya, planet merah itu ternyata memiliki banyak rahasia dan kejutan yang tidak diperhitungkan oleh Watney ….

    Bagaimana ya nasib Mark Watney di planet tak berpenghuni itu? Bagaimana cara ia membuat air dan oksigen? Apa ia berhasil kembali ke bumi atau justru terperangkap di planet merah?

    ***

    The Martian karya Andy Weir adalah salah satu novel fiksi sains paling keren yang pernah saya baca. Saya sempat mengalami book hangover setelah menamatkannya. Membaca novel ini sama sekali tidak membosankan, justru kebalikannya; asyik, seru dan menyenangkan. Andy Weir cerdas sekali membuat novel ini begitu mengalir, ringan dan tidak monoton.

    Cerita tentang Mark Watney ditulis dengan gaya penulisan jurnal harian, berupa catatan-catatan sol Mark Watney selama di Mars. Sol adalah istilah untuk menyebutkan hari di Mars. Waktu satu hari di Mars lebih lama sedikit dibandingkan satu hari di bumi sehingga kita menyebutnya sol, bukan hari.

    Di dalam log catatannya itulah, pembaca akan mengetahui bagaimana perkembangan usaha Watney bertahan hidup, caranya ia menghasilkan oksigen, air dan makanan, juga termasuk curahan hati dan banyolan-banyolannya secara rinci.

    Membaca novel ini mengingatkan saya pada mata kuliah termodinamika, kimia dan fisika sewaktu kuliah dulu. Di dalamnya terdapat banyak istilah-istilah teknik, perumusan dan perhitungan kimia dan fisika, tetapi semua itu tidak terkesan berat karena novel ini diterjemahkan dengan bahasa yang mudah dicerna menggunakan logika umum.

    Kondisi Mars dan hal-hal yang dilakukan Watney dipaparkan dalam kacamata ilmiah sehingga sesuatu yang terkesan mustahil menjadi lebih masuk akal di tangan Andy Weir.

    Selain dipenuhi dengan istilah-istilah teknik dan astronomi, novel ini juga dikemas dengan humor-humor ringan yang lucu dan menggelikan. Karakter Watney di sini adalah orang yang serius tapi santai, suka bercanda dan tidak menganggap suatu masalah sebagai hal yang membuat stress meskipun sebenarnya dirinya pasti mengalami kebingungan yang sangat.

    Saya sendiri yang membacanya heran, kok ya sudah terancam nyawanya di Mars sana masih bisa rileks haha. Bisa-bisanya Andy Weir memadukan antara sci-fi yang umumnya serius dan berat dengan komedi yang ringan dan lucu. Sebuah perpaduan yang unik dan cerdas.

    Kalau pembaca agak kesulitan membayangkan secara visual aktivitas yang dilakukan oleh Watney secara rinci juga lingkungan sekitar Mars, barangkali ini akan sedikit kompleks. Syukurnya novel ini sudah diangkat ke layar lebar, jadi kita bisa melihat secara visual adegan yang digambarkan di dalam novel ini lewat filmnya.

    Bagi pembaca yang mungkin sering kecewa dengan film adaptasi dari buku, barangkali bisa mengecualikan The Martian, karena antara film dan bukunya, The Martian termasuk adaptasi yang sangat bagus. Yang pasti membaca bukunya lebih seru karena lebih detail.

    The Martian memberikan banyak pengetahuan baru bagi saya. Selain itu, tokoh-tokohnya mengajarkan satu hal yang penting, bahwa dalam kondisi sesulit dan sesempit apapun, manusia sejatinya hanya perlu terus berusaha dan tidak putus asa, meskipun terkesan mustahil. Dan manusia akan selalu saling tolong-menolong ketika mengetahui ada orang lain yang kesulitan.

    “Ancaman terbesar tentunya kehilangan harapan. Kalau Mark memutuskan dia tidak punya harapan untuk bertahan, dia akan berhenti berusaha.” (halaman 137)

    “Saat seorang pemanjat gunung tersesat di pegunungan, orang-orang akan berkoordinasi untuk melakukan pencarian. Saat ada kecelakaan kereta, orang-orang mengantre untuk menyumbangkan darah, Saat ada gempa bumi yang meratakan seluruh kota, orang-orang dari seluruh dunia akan mengirimkan bantuan darurat.

    Semua itu sifat fundamental manusia yang dapat ditemukan dalam budaya mana pun tanpa kecuali. Ya, tentu saja ada orang-orang brengsek yang tidak peduli, tapi mereka kalah jumlah dibanding orang-orang yang peduli. Dan karena itu, ada miliaran orang yang mendukungku.” (halaman 527)

    Barangkali bagi sebagian orang yang sudah membaca The Martian, ada satu hal yang cukup menonjol ditampilkan oleh Weir, yaitu masalah lakban, seolah-olah banyak hal bisa diselesaikan dengan lakban di Mars sana, LOL.

    Yah, pada kenyataannya, lakban memang memiliki banyak sekali fungsi. Tapi, menurut saya, ada banyak pelajaran selain soal lakban yang bisa dipetik pembaca dari karya Weir ini.

    Bahwa novel ini sebenarnya bisa menjadi alternatif awalan bagi mereka yang tidak suka membaca buku sains karena sains digambarkan dengan cara yang mengasyikkan oleh Weir.

    Ini bisa memberikan motivasi bagi para remaja atau orang dewasa untuk mulai menyukai ilmu pengetahuan. Sebenarnya berbagai aktivitas sehari-hari kita tidaklah jauh dari sains. Sains-sains sederhana yang mudah dipraktikkan sejatinya memiliki prinsip yang sama dalam penerapan yang lebih kompleks.

    Mungkin saat sekolah dulu kita terlalu paranoid dengan rumus fisika dan reaksi kimia yang rumit. Padahal, dalam kondisi-kondisi tertentu, terkadang rumusan atau reaksi tersebut bisa berguna di saat genting jika kita memahaminya.

    Selain itu, gambaran tentang aktivitas tata surya dan upaya meneliti Mars sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh para ilmuwan dan astronot, tetapi selama ini mungkin hanya dipahami sepintas lalu oleh sebagian besar manusia.

    Lewat novel ini, sedikit banyak pembaca jadi tahu bagaimana gambaran di Mars sana. Meskipun fiktif, tetapi beberapa aspek ilmiah buku ini tetaplah disesuaikan dengan fakta. Ini kita bisa lihat dari latar penulisnya sendiri yang dibesarkan di lingkungan engineer.

    Bagi saya yang memang orang teknik, meskipun sudah tidak berkutat dengan hal-hal seputar teknik secara khusus, membaca The Martian seolah mengulang kembali kenangan dan kecintaan terhadap sains. Sains itu asyik dan menyenangkan jika kita mau berteman dengannya 🙂

  • Blindness oleh Jose Saramago

    Judul: Blindness
    Judul Asli: Ensaio Sobre A Cegueira
    Penulis: Jose Saramago
    Penerjemah: Tim Matahari
    Penerbit: Matahari
    ISBN: 9786023720453
    Tebal: 488 halaman
    Tahun terbit: November 2015
    Cetakan: Kesatu
    Genre: Distopia, Fiksi Sains
    Rating: 4/5

    “Kalaupun tidak dapat hidup sepenuhnya seperti layaknya manusia, setidaknya marilah kita berusaha sekuatnya agar tak hidup sepenuhnya seperti binatang.” (halaman 174)

    Siapapun tak ingin menjadi buta. Tetapi, andaikan seseorang buta sekali pun, masih ada orang-orang terdekat di sekitarnya yang akan membantu. Menuntunkan jalan, menghindarkan dari potensi bahaya, atau menjelaskan keadaan sekitar adalah hal yang lazim dilakukan oleh mereka yang normal kepada penderita kebutaan.

    Selain itu, masih ada orang-orang di pemerintahan yang menyediakan air bersih untuk minum, listrik, pengelolaan sampah, dan kebutuhan lainnya yang seringkali kita anggap biasa-biasa saja ternyata merupakan hal yang krusial.

    “Barangkali hanya di dunia orang buta segala sesuatu akan jadi seperti apa adanya.” (halaman 188)

    Bagaimana jika kebutaan adalah penyakit menular dan menjadi wabah? Siapa saja akan mengalami kebutaan dan menyebar ke ujung dunia. Bahkan para pengelola negara sekali pun akan mengalami kebutaan.

    Jika sudah begini, tak akan ada yang mengambil sampah kita setiap pagi sehingga membuat timbunan sampah kotor menumpuk. Tak ada yang akan mengolah air bersih, penerangan —yah, untuk apa lagi penerangan jika tidak bisa dilihat—, juga makanan. Seluruhnya buta.

    Manusia akan mulai berubah ke sifat dasarnya sebagai makhluk hidup, yakni bertahan hidup dengan segala cara. Ekstremnya, jika harus membunuh demi mendapatkan makanan, itu pun akan dilakukan oleh manusia. Jika tak bisa mencapai WC, membuang kotoran di jalanan pun sah-sah saja.

    Nyaris hampir tak ada bedanya dengan hewan. Semua menjadi kacau-balau. Dan, inilah yang terjadi di sebuah negara tak bernama dalam karya Jose Saramago yang berjudul Blindness.

    Kekacauan Demi Kekacauan

    Dimulai dari seorang pengemudi yang mendadak buta di tengah jalan, penyakit tersebut kemudian menular ke orang kedua, ketiga, dan seterusnya sampai kepada dokter mata yang memeriksa penyakit tersebut.

    Orang-orang mulai mendadak buta tanpa sebab. Ketakutan kemudian mencekam seluruh isi kota. Pemerintah mulai melakukan karantina bagi para penderita kebutaan.

    Sayangnya, orang buta semakin bertambah dibandingkan jumlah yang tidak buta. Gedung karantina semakin disesaki orang-orang. Para tentara penjaga, pimpinan mereka, pimpinan dari pimpinan mereka pun turut mengalami kebutaan. Tak ada lagi pasokan makanan, minuman dan obat-obatan.

    Ditambah lagi sebagian penghuninya mulai berulah menunjukkan taring demi mendapatkan kebutuhan dasar. Pembunuhan dan pemerkosaan tak terhindarkan. Mayat mulai bergelimpangan. Kotoran manusia berserakan di mana-mana. Keadaan di gedung karantina akhirnya semakin kacau. Barangkali itulah neraka dunia menurut mereka.

    Di tengah-tengah kondisi ini, sekelompok orang bekerjasama demi bertahan hidup; seorang dokter mata dan istrinya, gadis berkacamata hitam, lelaki tua bertampal mata hitam, bocah juling, serta lelaki buta pertama dan istrinya.

    Untungnya, istri dokter tidak mengalami kebutaan. Entah apa penyebabnya, tidak ada yang tahu, hanya dia yang tidak buta. Sampai akhirnya gedung karantina itu terbakar.

    Berhasilkah kelompok ini keluar? Bagaimana selanjutnya nasib mereka di tengah-tengah ganasnya manusia yang saling sikut untuk bertahan hidup? Apakah kebutaan ini bisa sembuh? Ataukah istri dokter akan mengalami kebutaan juga? Lalu, apa penyebab kebutaan mendadak itu?

    Ada banyak sekali pertanyaan yang membutuhkan jawaban ketika saya mulai membaca sepertiga buku ini. Buku ini sangat keren.

    “Katakan kepada orang buta, kau bebas. Bukalah pintu yang memisahkannya dari dunia. Pergilah, kau bebas. Kita bilang kepadanya sekali lagi, dan ia tidak juga pergi, tetap mematung di tengah jalan sana. Dia dan yang lainnya, mereka ketakutan. Mereka tak tahu harus pergi ke mana.

    Faktanya memang lain antara tinggal di sebuah labirin rasional yang, per definisi, adalah rumah sakit jiwa, dan nekat hengkang, tanpa ada tangan atau seutas tali anjing yang memandu, ke labirin edan kota. Di sana ingatan takkan berguna, karena cuma mampu memanggil kembali citra tentang tempat-tempat, namun bukan jalur-jalur yang memungkinkan kita mencapainya.”

    (halaman 319)

    Blindness merupakan sebuah distopia yang idenya sangat unik dan menarik. Ketika menamatkan buku ini, saya sempat terdiam beberapa saat, merenungkan kembali makna dari cerita yang disuguhkan Saramago. Mengerikan!

    Iya, mengerikan, karena setelah membacanya, saya tidak berani membayangkan jika apa yang dialami dokter mata dan teman-temannya itu terjadi juga pada diri kita. Ya Allah, semoga saja tidak.

    Kritik Sosial

    Membaca novel ini membuat saya menyadari banyak hal. Bahwa ide-ide dan kritik sosial yang disisipkan Saramago benar adanya.

    Pertama, manusia saat ini sudah sangat terlena dari kenyamanan hidup tanpa memedulikan keberadaan orang lain yang turut andil di dalam kehidupan kita yang nyaman itu. Kita lupa bahwa untuk mengalirkan air bersih ke kran-kran di rumah kita harus ada orang yang menyaringnya agar bersih dan membuka atau menutup kran distribusi.

    Sama halnya dengan pasokan listrik, harus ada orang yang mengelola jaringan-jaringan dan cadangan agar kita tetap bisa menikmati betapa nyamannya mandi dengan air hangat, betapa mudahnya memasak nasi dengan listrik, atau sekedar membaca di penerangan yang memadai. Semua itu membutuhkan mata dan keberadaan orang agar terwujud.

    Kedua, bahwa kebutaan fisik tidak seharusnya diikuti dengan kebutaan hati. Inilah yang membedakan manusia satu dengan lainnya, bahkan dengan hewan. Di tengah himpitan yang sangat berat, manusia akan tampil menjadi dirinya yang sebenarnya. Tanpa berpura-pura. Jika hati buta, apatah lagi yang bisa diharapkan?

    “… bahkan dalam kemalangan yang paling parah pun masih mungkin menemukan cukup kebaikan untuk sanggup menanggungkan segala kemalangan tersebut dengan sabar.” (halaman 223)

    “Sebab hati yang bersamanya kita hidup dan yang mengizinkan kita hidup sebagaimana adanya.”
    “Tanpa mata, hati akan jadi sesuatu yang lain. Kita tak tahu bagaimana, kita tak tahu apa itu, katamu kita mati karena kita buta.” (halaman 371)

    “Dalam diri kita ada sesuatu yang tak bernama. Sesuatu itulah diri kita yang sebenarnya.” (halaman 407)

    Selain pesan di atas, ada satu wacana yang cukup menggelitik. Di dunia kita saat ini, para produsen makanan instan membanjiri pasar dan supermarket dengan berbagai produk makanan olahannya. Makanan yang dikalengkan, yang diberi pengawet atau yang cepat saji barangkali akan memunculkan isu kesehatan yang cukup serius.

    Ada yang pro, ada yang kontra. Tapi, keadaan seperti di negara tak bernama itu akan menuntun kita berkesimpulan bahwa makanan terbaik saat itu adalah makanan kaleng dan siap saji karena jauh lebih mudah bagi negara yang seluruh rakyatnya mengalami kebutaan.

    “Namun kearifan popular cepat sekali menyebarkan ungkapan yang hingga batas tertentu tak terbantahkan, senada dengan ungkapan lain yang sudah jarang dipakai lagi, apa yang tak terlihat mata tidaklah menyedihkan hati. Sekarang orang sering bilang, mata yang tak melihat punya perut yang kuat, yang menjelaskan kenapa mereka memakan begitu banyak sampah.” (halaman 387)

    Blindness ditulis oleh penulis asal Portugal yang meraih penghargaan Nobel Prize in Literature tahun 1998. Jose Saramago adalah seorang ateis. Karyanya yang berjudul “The Gospel According to Jesus Christ and Cain” bahkan mendapat kritik dari pihak gereja karena mengandung satire dan kutipan alkitab untuk menggambarkan sosok Tuhan dengan cara yang tidak tepat.

    Ia juga pernah mengutuk Israel atas apa yang terjadi di Ramallah, Palestina. Novel-novelnya yang lain juga dikenal banyak mengandung kritik atas politik dan kemanusiaan.

    Terlepas dari kehidupan pribadi penulis, novel Blindness ini memang sangat keren. Empat bintang saya berikan ratingnya. Novel ini juga sudah diadaptasi ke layar lebar. Sayangnya, sekuel yang berjudul Seeing belum diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Semoga suatu saat bisa membaca sekuelnya juga.

    Peringatan: Beberapa adegan di buku ini mengandung kevulgaran yang membuat saya cukup tidak nyaman sehingga banyak yang saya skip.

  • The Worry Tree (Pohon Cemas) oleh Marianne Musgrove

    Judul: Pohon Cemas
    Judul Asli: The Worry Tree
    Penulis: Marianne Musgrove
    Penerjemah: Dini Andarnuswari
    Penerbit: Atria
    ISBN: 978-979-1411-56-1
    Tebal: 122 halaman
    Tahun terbit: November 2008
    Cetakan: Kesatu
    Genre: Fiksi Anak
    Rating: 3/5

    Setiap kali Juliet merasa cemas, kulitnya akan terasa gatal dan muncul ruam. Ia menjadi mudah suntuk dan merasa terbebani. Sayangnya akhir-akhir ini, ada banyak hal yang membuat Juliet cemas.

    Misalnya saja Oaf, adiknya yang suka iseng, sering sekali membuat ulah yang menyebalkan. Belum lagi orangtua Juliet yang sedang sering bertengkar dan neneknya yang mudah marah-marah. Juga teman-temannya, Gemma dan Lindsay, yang saling berebut persahabatan dengannya.

    Lengkaplah sudah masalah yang dihadapi Juliet. Ruam di kulitnya semakin sering saja muncul.

    Juliet kemudian menemukan sebuah gambar di balik wallpaper kamarnya. Sebatang pohon dan enam hewan yang bertengger di setiap cabangnya. Ternyata itu dulu gambar yang dipasang oleh neneknya sewaktu kecil. Wah, sudah lama sekali, ya!

    Nenek Juliet menyebutnya pohon cemas karena, setiap kali merasa cemas, neneknya akan ‘curhat’ kepada pohon cemas. Juliet pun akhirnya mengikuti cara neneknya untuk menjadikan pohon cemas dan hewan-hewan tersebut sebagai temannya.

    Suatu ketika, Dad dan Mum, orangtua Juliet, bertengkar hebat gara-gara Dad belum membereskan barang-barang bekas miliknya yang teronggok di lorong rumah. Barang-barang itu dulunya berada di kamar Juliet yang sebelumnya merupakan ruang kerja Dad.

    Selain itu, Oaf dan Juliet sedang heboh-hebohnya bertengkar, tidak mau menuruti perintah Mum. Pecahlah amarah Mum yang akhirnya merembet pada hal-hal lain. Juliet merasa ini semua salahnya. Bagaimana, ya, cara Juliet menyelesaikan masalah itu?

    Efek Psikologi bagi Anak

    Novel The Worry Tree alias Pohon Cemas ini memiliki banyak sekali pesan yang bisa dipetik oleh setiap keluarga, terutama tentang psikologi anak dan interaksi sosial antara anggota keluarga. Saya merasa mengupas substansinya lebih penting dibandingkan hanya ulasan biasa.

    Kalau melihat dari sisi tokoh utamanya, Juliet, seorang anak usia SD yang cukup kritis dan cerdas, kita bisa memahami bagaimana efek psikologis situasi rumah tangga terhadap anak-anak.

    Ketika anak mendengar atau melihat orangtuanya bertengkar, meskipun bagi orang dewasa itu hanyalah perdebatan mulut semata, umumnya anak akan merasakan cemas dan khawatir bila kata-kata ‘cerai’, ‘perpisahan’ dan sejenisnya tercetus dari bibir orangtua mereka.

    Contohnya seperti yang dialami Juliet. Ia sangat khawatir jika Dad dan Mum mulai mempersoalkan hal-hal yang tidak sejalan karena Juliet tahu akan ada pertengkaran setelah itu. Ini menjadi semacam momok bagi anak.

    Selain itu, kita juga bisa belajar tentang sikap sebuah keluarga ketika menghadapi perubahan. Bahwa dibutuhkan pilihan-pilihan yang bijaksana untuk dijadikan solusi atas perubahan yang terjadi. Kalau di novel ini, perubahan yang mereka alami adalah masalah pergantian ruang kerja Dad menjadi kamar Juliet yang dadakan.

    Juliet ingin sekali memiliki kamar sendiri, tidak tidur bersama Oaf yang usil lagi, tetapi solusi atas dampak dari perubahan itu haruslah tepat agar masalah-masalah tidak muncul setelahnya.

    Contoh lainnya adalah masalah neneknya Juliet yang masih belum bisa menyesuaikan diri dengan keadaannya yang sudah tua. Di sinilah sebuah keluarga dituntut agar tanggap terhadap variabel perubahan. Hal-hal seperti perubahan ini tentu banyak kita alami di dunia nyata. Beda kasus pasti beda penanganannya.

    Poin-poin tentang pelajaran untuk keluarga inilah yang menurut saya menjadi salah satu kelebihan dari novel The Worry Tree.

    Titik Kritis Novel The Worry Tree

    Yang menjadi poin kritis saya atas buku ini adalah ide tentang pohon cemasnya yang dijadikan judul utama. Di novel ini diceritakan bahwa setiap kali Juliet merasa cemas, ia akan mencurahkan kecemasannya kepada pohon cemas, kemudian menceritakan uneg-unegnya kepada gambar hewan-hewan yang bertengger di pohon tersebut.

    Akibat dari aktivitas ini, Juliet merasa hewan-hewan di pohon cemas itu mengerti apa yang dirasakannya. Menurut saya, konsep pohon cemas ini berpotensi mengarahkan anak-anak berimajinasi yang berlebihan, dan sebaiknya tidak untuk ditiru. Mengapa?

    Anak-anak membutuhkan tempat atau media untuk mencurahkan keluh kesahnya, kecemasannya, uneg-uneg atau masalahnya. Dalam hal ini tentu saja alangkah lebih baik jika tempat atau media itu adalah orang-orang yang ada di sekitarnya, terutama orangtua.

    Orangtua ibarat pusat tata surya di dalam rumah. Merekalah titik pusat ke mana setiap anggota keluarga akan mengarah. Anak-anak yang menjadikan orangtuanya sebagai teman dan media untuk mencurahkan perasaannya akan memiliki hubungan yang sangat berkualitas. Bayangkan bila anak-anak Anda lebih dekat dengan pohon cemas ketimbang orangtua, apa jadinya?

    Secara karakter, hal ini juga rasanya kurang baik bagi perkembangan anak. Pohon tetaplah pohon. Gambar tetaplah gambar. Menjadikan gambar atau benda lainnya sebagai media curhat anak lambat laun akan mengarahkan anak kepada imajinasi tentang teman khayalan.

    Anak akan memiliki dunianya sendiri yang akan sulit dimasuki orangtua. Iya kalau hanya sebatas curhat belaka. Siapa yang bisa menjamin jika suatu saat kelak anak tidak akan meminta sesuatu melalui pohon cemas? Yang seperti ini, menurut buku Misteri Alam Ghaib, bisa menjadi celah yang rawan disusupi jin ataupun syaitan dan tentunya akan berdampak negatif bagi anak-anak.

    Jika tidak ada orangtua sebagai media karena alasan-alasan tertentu, anak juga bisa menjadikan teman-temannya atau orang-orang dewasa lainnya yang terdekat sebagai media bersosialisasi terkait masalah yang mereka hadapi.

    Contohnya seperti yang ada di novel The Worry Website karya Jacqueline Wilson, di mana setiap siswa bisa mencurahkan uneg-uneg atau masalahnya di sebuah situs yang dimediasi oleh orang dewasa.

    Masalah mereka bisa ditanggapi oleh teman-temannya tanpa perlu tahu siapa orangnya. Atau dalam bentuk buku harian dan semacamnya. Ada banyak model yang lebih baik sebagai pilihan.

    Jika yang lain pun tidak ada sebagai tempat meluapkan perasaan dan masalah, masih ada Allah yang bisa menjadi pilihan. Tentu akan lebih bagus lagi jika anak diperkenalkan konsep bahwa Allah adalah sebaik-baik tempat berkeluh kesah, mengadu dan memohon.

    Pastinya hal ini diajarkan sesuai dengan tingkat pemahaman anak, dengan bahasa anak-anak, agar mereka dapat memahaminya dengan mudah dan menyenangkan.

    Manajemen Masalah

    Selain poin-poin di atas, novel ini juga mengajarkan kepada orangtua untuk bisa memberikan pemahaman kepada anak terkait manajemen masalah. Bahwa tidak semua masalah itu harus dihadapi anak-anak dan menjadi beban mereka.

    Terkadang anak-anak akan merasa bahwa apa yang terjadi di sekitarnya itu membutuhkan mereka untuk ikut andil. Nyatanya ‘kan tidak. Sesuaikan porsinya. Makanya menjadi penting bagi orang dewasa untuk menahan diri ketika terjadi masalah agar tidak selalu diketahui oleh anak-anak.

    “Dia tak pernah berpikir ada hal-hal yang bukan menjadi masalahnya. Dia kira, semua hal adalah masalahnya, bahkan jika bukan dia yang menyebabkan masalah itu terjadi.” (halaman 103)

    Anak-anak juga perlu mengalami masalah sesuai porsinya agar ia mampu menghadapinya dengan kemampuan sendiri, tidak cengeng, tidak panik dan ketakutan. Hal ini akan menumbuhkan rasa kepercayaan dirinya.

    Jika anak selalu dilindungi dari masalah, selalu dibiarkan terhindar dari konflik, ini juga kurang baik untuk perkembangan mentalnya. Di sinilah pentingnya manajemen masalah bagi anak.

    Sementara semua orang mondar-mandir untuk mengambil lilin dan kue, Juliet menangkap sekilas bayangan dirinya sendiri dalam cermin: tak ada plester melekat di jadi-jarinya, tak ada ruam menyebar di wajahnya, dan tak ada garis V menetap di antara alisnya.

    Yang ada hanya seorang anak perempuan berpostur sedang dengan rambut cokelat sedang, kaki berukuran normal, dan senyum yang sangat lebar. “Aku adalah seseorang yang mampu,” katanya pada diri sendiri. “Aku adalah seseorang yang mampu menangani masalah apa pun.”

    (halaman 110)

    Sebenarnya masih banyak lagi hikmah lainnya yang bisa kita cuil dari buku ini. Yang saya paparkan di atas hanyalah sebagian saja yang menurut saya penting untuk diulas, terutama poin kritis yang saya tidak sependapat.

    Semoga ulasan saya ini tidak membosankan Anda dan tidak terlalu dianggap sebagai spoiler hehe.

    *Ulasan ini diikutsertakan pada Proyek Battle Challenge #31HariBerbagiBacaan

  • Dari Arsip Campur Aduk Mrs. Basil E. Frankweiler oleh E.L. Konigsburg

    Judul: Dari Arsip Campur Aduk Mrs. Basil E. Frankweiler
    Judul Asli: From the Mixed-up Files of Mrs. Basil E. Frankweiler
    Penulis: E.L. Konigsburg
    Penerjemah: Cuning K. Goenadhi
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    ISBN: 978-979-22-2773-4
    Tebal: 200 halaman
    Tahun terbit: April 2007
    Genre: Fiksi Anak
    Rating: 4/5

    Merasa dirinya selalu melakukan hal yang sama setiap harinya, monoton, dan diperlakukan tidak adil, Claudia memutuskan untuk kabur dari rumah. Ia ingin memberi pelajaran kepada orangtuanya. Tapi, bukan Claudia namanya kalau harus kabur tanpa rencana yang matang. Ia ingin kabur dengan nyaman.

    leh karena itu, ia memilih kabur ke Museum Seni Metropolitan, New York, yang memiliki tempat luas dan banyak area untuk dieksplorasi. Claudia menabung uangnya dan mengajak adiknya Jamie. Selain Jamie mudah diajak kerjasama, ia juga anak yang cerdik, terutama pelit, sehingga sudah pasti uang celengannya banyak.

    Mereka pun kabur sebelum jam pelajaran sekolah dasar dimulai. Seperti rencana mereka, dengan membawa kotak biola dan trompet yang diisi pakaian, mereka berpura-pura masuk ke museum sebagai pengunjung, lalu bersembunyi di sana sampai museum itu tutup.

    Menjelajahi ruang demi ruang, mempelajari sejarah demi sejarah seni, tidur di tempat tidur antik dari abad keenam belas, sampai mandi di kolam pancur, semua itu dilakukan oleh Claudia dan Jamie dengan sangat hati-hati tanpa melupakan kesenangan berpetualang.

    Masalahnya, Claudia tidak puas hanya sampai di situ saja. Mereka kemudian menemukan sebuah patung yang sangat indah. Claudia sampai terpukau melihatnya dan merasa ada sesuatu yang berbeda dengan patung itu. Menurut para ahli, tidak ada yang tahu siapa pemahatnya dan apakah patung tersebut asli atau palsu.

    Claudia merasa dirinya harus memecahkan misteri patung tersebut. Patung itu akan menunjukkan alasan penting mengapa ia melakukan semua ini dan tidak akan pulang sebelum ia menemukan apa hal penting itu. Patung apa, ya, sebenarnya itu? Dan siapa, sih, Mrs. Basil E. Frankweiler yang disebut-sebut di judul buku ini?

    “Rahasia adalah petualangan yang dibutuhkannya. Memiliki rahasia itu aman, dan membuatmu merasa berbeda. Merasa berbeda di dalam hati.”

    (halaman 171)

    Penerima Banyak Penghargaan

    Kisah “Dari Arsip Campur Aduk Mrs. Basil E. Frankweiler” ditulis oleh E.L. Konigsburg pertama kali tahun 1967. Sejak diterbitkannya, buku ini banyak disukai oleh pembaca dari segala usia.

    Uniknya, meskipun ditulis di tahun 1967, tetapi perasaan dan suasana yang kita rasakan ketika membaca buku ini hampir tidak ada bedanya dengan masa yang lebih modern.

    Saya hampir tidak menyadari perbedaan waktu yang cukup jauh tersebut. Padahal, kalau kita mau membandingkan latar di tahun 1967 tentu akan sangat jauh berbeda dengan tahun 2000 ke atas.

    Perbedaan itu tidak terlihat di karya penulis Amerika yang satu ini. Kalau boleh saya menyebutnya semacam karya yang evergreen, barangkali, relevan sampai kapan pun.

    Dari Arsip Campur Aduk Mrs. Basil E. Frankweiler memenangkan Newberry Award tahun 1968 untuk kategori American children’s literature. Buku ini juga masuk di dalam daftar Teachers’ Top 100 Books for Children berdasarkan polling tahun 2007 oleh Asosiasi Pendidikan Nasional Amerika Serikat.

    Selama bertahun-tahun, E.L. Konigsburg mendapatkan banyak kiriman surat dari para pembaca, terutama anak-anak, yang memberinya masukan, pertanyaan, dan juga permintaan untuk membuat sekuelnya.

    Tentu saja tidak akan ada sekuel dari buku ini karena penulis mengharapkan kisah Claudia dan Jamie akan bertahan sampai puluhan tahun yang akan datang.

    Edisi yang diterbitkan tahun 2007 ini merupakan edisi ulang tahun ke-35. Saya merasa bahagia membaca kisah kakak beradik Claudia dan Jamie di buku ini. Selain karena ringan, buku ini membahas tema tentang dunia arsip dan sejarah, yang tentu saja sangat berhubungan dengan bibliografi.

    Ceritanya juga ditulis dengan sangat rinci. Saya bisa merasakan petualangan dan debaran jantung mereka ketika harus bersembunyi di museum. Seru pastinya!

    Ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari karakter Claudia dan Jamie yang cukup bagus untuk bahan pembelajaran anak-anak. Bahwa seorang anak sekali pun membutuhkan sesuatu yang membuat mereka merasa dirinya istimewa dan layak dihargai.

    Dan bahwa berpetualang menemukan hal-hal baru adalah sesuatu yang perlu dipertimbangkan oleh orangtua untuk tumbuh kembang anak agar aktivitas mereka tidak monoton.

    *Ulasan ini diikutsertakan pada Proyek Battle Challenge #31HariBerbagiBacaan

  • #3 Junie B. Jones and Her Big Fat Mouth

    Judul: Junie B. Jones and Her Big Fat Mouth
    Penulis: Barbara Park
    Penerbit: Random House
    ISBN: 9780679844075
    Tebal: 74 halaman
    Tahun terbit: 1993
    Bahasa: Inggris
    Genre: Fiksi Anak
    Rating: 3/5

    Hari Senin adalah Job Day di sekolah Junie B. Jones. Anak-anak diwajibkan memakai pakaian atau kostum profesi sesuai cita-cita yang ingin digelutinya ketika besar nanti.

    Menjelang hari H, anak-anak ruangan sembilan, kelasnya Junie B., sudah mulai heboh membicarakan profesinya masing-masing. Malangnya Junie B., dia belum memiliki gambaran kalau besar nanti mau jadi apa.

    Salah satu temannya, Roger, ingin menjadi sipir penjara dengan kunci-kunci yang begitu banyak. Junie B. pun ikut-ikutan ingin jadi penjaga penjara.

    Temannya yang lain, William, ingin menjadi superhero. Tebak apa? Junie B. tak ingin ketinggalan mau jadi superhero juga. Teman-temannya kemudian mengolok-olok Junie B. karena ikut-ikutan. Sudah tentulah, ya, bukan Junie B. namanya kalau dia mengalah.

    “I am just being one job!” I said very angry. “It’s a special kind of job where you paint and you unlock stuff and you save people! So there! Ha-ha on you!”

    (halaman 25-26)

    Kostum apa yang akan ia pakai nanti di hari Senin? Junie B. Jones ingin jadi pelukis, penjaga kunci, dan menyelamatkan orang-orang, semua dalam satu pekerjaan. Hmmm … Kira-kira pekerjaan apa yaaa itu?

    Seri ketiga ini mengangkat tema profesi bagi anak. Biasanya anak-anak memiliki daya imajinasi yang sangat tinggi. Profesi yang dilihatnya di televisi atau lingkungannya akan dengan sangat mudah diserap dan ditiru.

    Iya, kalau yang ia lihat profesi seperti dokter, polisi, guru dan sejenisnya. Bagaimana pula dengan acara-acara televisi yang berbau fantasi seperti superhero, bisa terbang, menolong orang, dan semacamnya, cenderung lebih mudah lagi untuk ditiru anak.

    Makanya tak heran kita sering melihat anak-anak yang punya cita-cita ingin menjadi Superman, Micky Mouse, Batman, dan lain-lain karena begitu kagumnya mereka terhadap karakter-karakter tersebut. Ini tentunya butuh kontrol orangtua dan guru untuk memberikan pemahaman yang baik.

    Seperti seri-seri sebelumnya, di seri ini pun saya menemukan banyak istilah-istilah kasar dan tidak sopan bagi anak-anak, yang menurut saya ini menjadi satu kekurangan. Dan lagi-lagi, saya tidak merekomendasikan ini untuk dibaca oleh anak-anak secara langsung.

    Lebih baik diceritakan kembali oleh orangtua sehingga anak-anak tidak perlu membaca atau mengetahui istilah-istilah kasar tersebut. Buku ini lebih cocok dibaca oleh orang dewasa. Atau setidaknya, jika untuk anak-anak, yang usianya sudah bisa membedakan benar dan salah.

    Tapi, dilihat dari segi cerita dan penggambaran karakter anak-anak yang polos, yang pada kenyataannya di sekolah sering terjadi hal-hal seperti ini, saya pribadi sangat suka dengan buku ini.

    Buku ini menampilkan isu di seputar anak-anak apa adanya. Ceritanya ringan, seru dan kocak membuat saya sesekali geli sekaligus gemas dengan karakter Junie B. Jones. Dan, bagi orangtua, ada banyak hal yang bisa dipelajari dari serial ini.

    Seri lainnya dari Juni B. Jones dapat dibaca di sini.

  • #2 Junie B. Jones and a Little Monkey Business – Idiom Bagi Anak

    Judul: Junie B. Jones and a Little Monkey Business
    Penulis: Barbara Park
    Penerbit: Random House
    ISBN: 978-0-679-83886-9
    Tebal: 74 halaman
    Tahun terbit: 1993
    Bahasa: Inggris
    Genre: Fiksi Anak
    Rating: 3/5

    Junie B. Jones kali ini berhadapan dengan urusan per-monyet-an. Apa? Monyet? Iya, monyet. Pasalnya, semua ini gara-gara grandma yang memanggil adik Junie B. yang baru lahir dengan sebutan Little Monkey. Maksud sang nenek adalah bayinya lucu, tapi Junie B. memahaminya sebagai monyet betulan.

    Kita tahu sendirilah, ya, kalau karakter Junie B. yang pantang tak top ini sudah pasti langsung heboh mengumumkan ke teman-temannya bahwa adiknya itu monyet kecil.

    Bisa ditebak apa yang terjadi? Kegaduhan apa yang dibuat oleh Junie B. Jones sampai-sampai membuatnya dipanggil oleh kepala sekolah? Apa Junie B. Jones akan mendapatkan hukuman?

    Belajar Idiom dari Seri Junie B. Jones

    Salah satu topik yang diangkat di novel seri kedua Junie B. Jones ini adalah pengaruh idiom bagi anak-anak.

    Idiom atau ungkapan sering kali belum bisa dimengerti anak-anak seperti halnya orang dewasa pahami. Sudah lazim anak-anak akan memahami dengan polos seperti apa adanya yang disampaikan. Kita bilang A, maka yang ditangkap oleh mereka juga A, bukan A+.

    “Sometimes adults say things that can be very confusing to children. Like what if you heard me talking about a lucky duck? You might think I was talking about a real live duck. But lucky duck just means a lucky person.” (halaman 63)

    Anak-anak adalah perekam ulung. Mereka sangat mudah meniru apa yang dilihat dari orang dewasa, terutama orang-orang terdekat atau di lingkungan sekitarnya.

    Keistimewaan ini, kalau tidak dipantau, akan berpotensi menimbulkan dampak negatif. Kita tak akan pernah tahu apa yang bisa mereka lakukan. Orang dewasa memang harus lebih berhati-hati ketika berbicara atau bersikap di depan anak-anak. Memilah-milah kata atau kalimat untuk disampaikan ke anak mungkin sebuah langkah preventif yang cukup bijaksana.

    Terkait idiom, dengan menjelaskan makna idiom yang sebenarnya, anak-anak pastinya akan mendapatkan pengetahuan baru yang membuat kosakata mereka lebih kaya. Jika tidak dijelaskan, siap-siap saja si anak mungkin akan menimbulkan hal-hal konyol seperti si Junie B. ini. Hi hi hi.

    Seperti buku pertamanya, kekurangan buku ini lebih kepada keterbukaan penulis dalam menggunakan kata-kata cemooh atau keluhan yang sebenarnya agak sedikit kasar dan kurang cocok dengan budaya ketimuran. Karakter tokoh utamanya, Junie B. Jones, yang blak-blakan, selebor, semaunya, dan sedikit kasar mewarnai hampir sebagian besar alur cerita.

    Saya berprasangka baik, mungkin maksud penulis agar ceritanya lebih natural dan menunjukkan dunia anak-anak apa adanya. Bisa jadi penggunaan kata-kata ejekan yang kurang pas itu memang untuk menjadikannya contoh pelajaran supaya tidak ditiru atau sebagai bahan diskusi saat belajar.

    Yang pasti buku ini sangat menarik untuk dibedah oleh para orangtua.

  • Hector and the Search for Happiness by François Lelord

    Judul: Hector and the Search for Happiness
    Penulis: François Lelord
    Penerjemah: Gusti Nyoman Ayu Sukerti
    Penerbit: Noura Books
    ISBN: 978-602-385-002-0
    Tebal: 264 hlm
    Tahun terbit: November 2015
    Cetakan: Pertama
    Genre: Fiksi Inspirasional, Fiksi Terjemahan
    Rating: 3/5

    Ada seseorang yang secara materi hidupnya sangat berkecukupan, bahkan bisa dibilang mewah, tapi ternyata menurutnya ia belum bahagia. Ada pula seseorang yang meski dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya, tetapi ternyata ia merasa sendirian dan tidak bahagia.

    Mungkin kita sering mendengar atau melihat kasus-kasus seperti ini di sekitar kita. Mengetahui ini, ternyata perasaan bahagia setiap orang acap kali berbeda parameternya. Lalu, sebenarnya apa yang membuat kita bahagia? Atau kita mungkin sedang bertanya pada diri sendiri saat ini, “Apakah saya sudah merasa bahagia?”

    Pertanyaan: Apakah kebahagiaan hanyalah sebuah reaksi kimia di dalam otak? (halaman 145)

    Apa yang dilakukan Hector di novel Hector and the Search for Happiness ini mungkin secara tak langsung cukup mewakili rasa penasaran sebagian manusia tentang kebahagiaan.

    Sebagai seorang psikiater, Hector sering kali harus mendengarkan keluhan-keluhan pasiennya yang rata-rata berputar pada dua masalah; bahagia atau tidak bahagia.

    Dalam kasusnya sendiri, Hector merasa kurang puas dengan dirinya. Oleh karena itulah, Hector melakukan perjalanan ke berbagai negara di dunia ini untuk mencari tahu dan berusaha memahami apa saja sebenarnya yang membuat orang merasa bahagia atau tidak bahagia.

    Harapannya, ia bisa membantu dirinya dan orang-orang di sekitarnya memecahkan masalah yang sedang mereka hadapi. Ia mengunjungi Cina, Afrika, Amerika Serikat, dan negara lainnya, bertemu banyak orang—kenalan baru maupun teman lamanya—, dan mencatat hasil pengamatannya di sebuah buku catatan. Apa saja jawaban yang berhasil ia temukan tentang kebahagiaan?

    Hector dan The Alchemist

    Gaya penceritaan hasil terjemahan di novel ini cukup ringan dan mengalir. Saya bisa menikmati alur ceritanya dengan sangat baik. François Lelord menggambarkan karakter Hector sebagai orang yang muda, cerdas, profesional, baik hati, dan sangat tertarik dengan diri manusia.

    Yah, meskipun ada satu sisi Hector yang juga tidak saya suka. Karakter dirinya yang mudah terlibat affair dengan wanita yang ditemui di satu dua negara yang dikunjunginya. Apa itu cara membuatnya bahagia? Kebahagiaan semu mungkin, ya?

    Membaca novel ini mengingatkan saya pada sosok Santiago di novel The Alchemist karya Paulo Coelho. Sama halnya seperti Hector, Santiago pun melakukan perjalanan jauh untuk mengejar mimpinya mendapatkan harta karun. Menurut saya, nilai hidup yang ingin disampaikan kedua novel ini hampir sama substansinya.

    Ada satu perkataan seorang biksu yang sangat saya sukai dan sejalan dengan apa yang diajarkan di dalam agama saya.

    “Ada satu faktor penentu kebahagiaan yang hilang dari daftar Anda: cara orang memandang sesuatu. Singkat kata, orang yang menganggap gelasnya setengah penuh sudah pasti merasa lebih bahagia dibandingkan orang yang menganggap gelasnya setengah kosong.” (halaman 208)

    Cara kita memandang sesuatu memang akan menentukan apakah kita merasa bahagia atau tidak. Kita bisa lihat di sekitar kita bahwa ada orang-orang yang kehidupannya sulit tetapi ia merasa selalu bahagia. Semua itu karena ia merasa bersyukur terhadap apa yang dimilikinya dan selalu memandang bahwa Tuhan telah memberikan jalan hidup masing-masing orang.

    Biasanya, orang-orang yang dekat dan taat kepada Yang Maha Pencipta cenderung lebih mudah merasa bahagia dibandingkan yang tidak. Mereka tentu saja memiliki pegangan yang kokoh, yang tidak ada sesuatu pun pantas menggantikannya. Seperti juga yang disebutkan di dalam kitab Al-Qur’an tentang jalan kebahagiaan,

    “Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” (QS. Ar-Ra’d : 29)

    “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, …” (QS. Ibrahim: 7)

    Gaya Penggambaran Latar yang Unik

    Hal lainnya yang menarik dari novel ini adalah cara penulis menyampaikan latar tempat dan negara yang dikunjungi Hector. François Lelord tidak secara gamblang menyebutkan nama negara apa yang dikunjungi Hector selain Cina, atau bahkan negara asal Hector sendiri, atau tempat-tempat yang didatanginya.

    Penulis hanya mendeskripsikan ciri-ciri khas negara atau tempat tersebut. Saya sendiri sering kali menebak-nebak negara atau tempat apa yang dimaksudkan.

    Kalau di atas tadi saya sebutkan Afrika dan Amerika Serikat, itu karena saya dapati penyebutan negara tersebut di sampul belakang novel ini. Kalau tidak disebutkan, mungkin saya kesulitan menebak negara-negara yang dikunjungi Hector atau negara asalnya sendiri. Unik!

    Selain inspiratif, novel ini juga sarat dengan ilmu psikologi. Ini tentu saja sangat berpengaruh dari latar pendidikan penulisnya, François Lelord, yang memang mendalami ilmu pengobatan dan psikologi.

    Di dalam novel ini juga ada diselipkan satu dua sindiran, opini, dan wacana yang cukup kontroversial di masyarakat dunia yang bagi kita menjadi semacam selingan ringan tapi berbobot. Semoga buku serial Hector yang lainnya segera diterjemahkan juga.

    Seberapa Bahagia Kita?

    Lantas muncul pertanyaan, “Seperti apa bahagia bagi saya?” Hmm … pertanyaannya dalam, sedalam makna yang ingin disampaikan *ceileh*.

    Sebenarnya apa yang didapatkan Hector tentang sebab-sebab bahagia itu sudah pas. Tambahannya bagi saya, bahagia yang ingin saya capai itu tentunya yang sejalan dengan apa yang dimaui oleh Pencipta saya. Bahagia di dunia dan bahagia di akhirat.

    Bahagia di dunia ini bagi saya adalah bisa menjalani hari-hari dengan hati yang tenang dan lapang serta bersama-sama orang yang kita sayangi berlari menjemput ridho Allah Ta’ala. Tujuannya tentu saja supaya kita bisa beroleh bahagia juga di akhirat. Amin.

  • The Great Gilly Hopkins oleh Katherine Paterson

    Judul: The Great Gilly Hopkins
    Penulis: Katherine Paterson
    Penerjemah: Sapardi Djoko Damono
    Penerbit: PT Elex Media Komputindo
    ISBN: 979-20-1769-0
    Tebal: 184 hlm
    Tahun terbit: 2000
    Cetakan: Pertama
    Genre: Fiksi Anak, Fiksi Terjemahan
    Rating: 3/5

    Galadriel Hopkins lebih sering dipanggil Gilly. Di usianya yang kesebelas tahun, Gilly sudah berkali-kali pindah sana-sini dikarenakan tingkahnya yang sangat sulit diatur. Meskipun ia memiliki seorang ibu, Courtney, tapi ibunya tidak tinggal bersama Gilly.

    Sejak kecil, Gilly menjadi tanggungjawab Dinas Sosial lewat perantara Nona Ellis. Ia pernah menjadi anak angkat beberapa keluarga, namun Gilly terlalu cerdik dibandingkan anak seusianya.

    Hanya satu keinginan terbesar Gilly, yaitu bertemu ibu kandungnya dan tinggal bersamanya. Karena itulah, Gilly sering sekali melakukan hal-hal yang membuat keluarga angkatnya tidak betah sehingga ia bisa keluar dari rumah mereka.

    Gilly pindah (lagi) ke rumah bu Trotter, seorang janda berbadan sangat besar dan buta huruf. Trotter memiliki anak asuh yang tinggal bersamanya. Namanya William Ernest (W.E) yang agak abnormal.

    Bersama tetangga mereka, pak Randolph, yang memiliki perpustakaan berisi buku yang sangat banyak, keluarga baru ini sering menghabiskan waktu bersama yang sebenarnya tidak terlalu disukai Gilly.

    Di sekolah, Gilly mendapat teman baru yang sedikit aneh dan guru yang agak unik bernama bu Harris. Ia juga masuk di kelas yang isinya siswa-siswa unik. Lengkaplah sudah kejengkelan Gilly. Pada dasarnya, ia tidak ingin menjalani kehidupan baru tersebut.

    Suatu ketika, seorang wanita tua yang mengaku sebagai neneknya Gilly datang ke rumah bu Trotter dan berniat ingin membawa Gilly pulang ke rumahnya. Bukannya senang, Gilly malah merasa sedih dan ketakutan.

    Apa sebenarnya yang akan terjadi pada Gilly? Apakah Gilly akan meninggalkan keluarga baru yang terlanjur disayanginya itu? Ataukah ia akan ikut dengan nenek? Yah, inilah jawaban yang harus pembaca cari dengan membaca novel seru ini.

    Karakter Anak yang Aktif

    Karakter Gilly di novel ini digambarkan sebagai anak yang cerdas dan pemberani, tetapi sulit diatur. Ia memiliki kemauan keras untuk sesuatu yang benar-benar diinginkannya. Gilly juga sosok yang humoris dan aktif, tetapi ia juga suka mengomel di dalam hatinya jika menemukan hal-hal yang tidak ia sukai.

    Jauh di lubuk hatinya, sebenarnya Gilly adalah anak yang baik, hangat, dan penuh kasih sayang. Hanya saja, kesendiriannya dan perasaan ditinggalkan oleh ibunya yang tidak sesuai harapan membuka sisi memberontak dalam dirinya.

    Membaca novel ini cukup membangkitkan banyak perasaan dalam diri saya. Kadang-kadang saya tertawa membaca kejahilan yang dilakukan Gilly. Sesekali saya menangis karena fragmen sedih yang dimunculkan tokoh-tokohnya.

    Pernah juga saya merasa geregetan karena ulah si Gilly. Saya merasa simpati dan kasihan pada sosok Gilly. Duh! Campur aduk jadi satu deh mengikuti aktivitas-aktivitas seru Gilly.

    ***

    Novel ini diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono. Hasil terjemahannya cukup enak dibaca meskipun ada beberapa bagian yang agak sedikit kaku, barangkali?

    Hanya ada satu poin yang cukup mengganggu bagi saya pribadi, yaitu bertebarannya kata “br*ngsek” yang diucapkan oleh Gilly sebagai wujud kekesalan atau pemberontakannya. Menurut saya kata-kata ini agak sedikit kurang pas jika buku ini diperuntukkan sebagai bacaan anak-anak atau remaja.

    Tapi, yah, novel ini benar-benar menampilkan realita kehidupan seorang foster child apa adanya. Oh, iya, di buku ini, nama penulis yang dituliskan di sampulnya adalah Katherina, bukan Katherine. Mungkin sedikit kesalahan penulisan, ya?

    The Great Gilly Hopkins pertama kali diterbitkan tahun 1978. Novel ini berhasil menyabet National Book Award Winner tahun 1979 untuk kategori Children’s Literature. Selain itu, buku ini juga mendapat penghargaan dari Christopher Award (1979), Jane Addams Award (1979), dan Newbery Honor (1979).

    Katherine Paterson sendiri adalah seorang penulis kelahiran Cina-Amerika dan dikenal luas sebagai penulis novel anak maupun remaja. Dua judul buku lainnya yang juga cukup terkenal di Indonesia adalah “The Master Puppeteer” dan “Bridge to Terabithia“.

    Kabarnya, novel The Great Gilly Hopkins akan diangkat juga ke film layar lebar tahun 2016 ini.

  • The 26-Story Treehouse oleh Andy Griffiths dan Terry Denton

    Judul: The 26-Story Treehouse
    Penulis: Andy Griffiths
    Ilustrator: Terry Denton
    Penerbit: Square Fish
    ISBN: 978-1-250-07327-3
    Tebal: 362 hlm
    Tahun terbit: April 2015
    Bahasa: Inggris
    Genre: Fiksi Anak
    Rating: 4/5

    Sehabis membaca buku The 13-Story Treehouse dua bulan lalu, saya jadi jatuh cinta dengan Seri Treehouse ini. Oktober lalu, saya pun membeli seri keduanya yang berjudul The 26-Story Treehouse di Periplus Medan karena di B&B belum ada. Dan coba tebak! Saya makin jatuh cinta sama serial ini ^^

    Masih bersama Andy dan Terry, di buku The 26-Story Treehouse ini, ada penambahan 13 cerita baru dari 13 cerita sebelumnya di seri pertama. Rumah pohon mereka juga bertambah arenanya.

    Ada arena bumper car, arena skating dilengkapi lubang berisi buaya, arena gulat berlumpur, ruang anti gravitasi, ruang es krim dengan 78 rasa yang dilayani oleh robot, juga ada labirin yang sangat rumit, dan masih banyak arena lainnya.

    Di buku keduanya ini, Andy dan Terry bercerita tentang bagaimana mereka berdua awalnya bertemu di laut ketika Terry hanyut dengan celana gelembung daruratnya, hingga mereka membuat rumah pohon yang sangat besar. Juga ada kisah bagaimana mereka berdua bertemu sahabatnya, Jill, bersama hewan-hewan miliknya yang sangat banyak.

    Semua kisah mereka itu memiliki satu benang merah, yaitu bermula dari terdamparnya mereka di sebuah lautan dan ditemukan oleh Kapten Woodenhean, si bajak laut yang sangat jahat. Kapten Woodenhead menangkap mereka bertiga, termasuk seluruh hewan yang ditemukan Jill di tengah laut, dan menjadikan mereka budaknya

    *Lho, bagaimana sih ceritanya sampai hewan-hewan itu bertemu Jill di tengah laut? He he he … rahasia dong! Baca bukunya sendiri aja, ya! :P*

    gambaran ketika Jill dan hewan-hewannya berkumpul di tengah laut :D
    gambaran ketika Jill dan hewan-hewannya berkumpul di tengah laut 😀

    Sesuatu terjadi di tengah laut yang menyebabkan mereka terdampar di suatu pulau. Di sana, mereka menemukan sebatang pohon yang sangat besar. Mereka pun memutuskan untuk membuat rumah pohon karena kedengarannya sangat seru dan mengasyikkan.

    Tapi, ternyata petualangan mereka tidak berhenti sampai rumah pohonnya selesai. Si Kapten Woodenhead menebar teror di rumah pohon mereka. Duh! Teror apa sih yang dilakukan oleh si Kapten? Apa Andy, Terry, dan Jill mampu menyelamatkan rumah pohon mereka?

    Saya suka sekali buku keduanya ini karena lebih lucu dan polos dibanding yang pertama. Halaman-halamannya juga lebih banyak ilustrasi kerennya. Dan pastinya, kisah Andy dan Terry di buku kedua ini lebih tak masuk akal. Hi hi hi.

    Pokoknya cerita petualangan mereka sangat seru dan lucu deh. Tak sabar menunggu buku ketiganya masuk ke toko buku langganan saya ^^

  • The 13-Story Treehouse oleh Andy Griffiths dan Terry Denton

    The 13-Story TreehouseJudul: The 13-Story Treehouse
    Penulis: Andy Griffiths
    Ilustrator: Terry Denton
    Penerbit: Square Fish
    ISBN: 978-1-250-07065-4
    Tebal: 264 hlm
    Tahun terbit: April 2015
    Bahasa: Inggris
    Genre: Fiksi Anak
    Rating: 4/5

    Iseng-iseng lewat di Books & Beyond Plaza Medan Fair saat mencari info harga perlengkapan untuk sekolah baru, saya menemukan buku The 13-Story Treehouse ini di pojok salah satu rak. Sampulnya memikat hati saya karena cantik dan berbau rumah pohon. Apalagi setelah membaca sinopsisnya yang aduhai bikin penasaran 😀

    Karena tak sabar, saya langsung buka plastik segelnya dan membacanya sambil berjalan. Ceritanya lucu! Saya tidak bisa menahan senyum dan tawa saat membacanya. Tidak peduli dilihatin orang, saya terus ubek-ubek bukunya sampai di angkot. Apa sih yang bikin lucu itu? Itu tuh, gaya berceritanya Andy Griffiths dan karakter-karakter hidup yang membuat kita tergelak dengan kekonyolan dan kepolosan tingkahnya. Benar-benar asyik lho! (more…)