Category: Fiksi

  • The Pearl (Mutiara) oleh John Steinbeck

    Resensi The Pearl (Mutiara) oleh John Steinbeck

    Judul: Mutiara
    Penulis: John Steinbeck
    Penerjemah: Ary Kristanti
    Penerbit: Penerbit Liris
    Tahun terbit: 2013
    Tebal: 142 halaman
    ISBN: 978-602-1526-12-5
    Genre: Fiksi Sosial
    Rating: 4/5

    Di salah satu saluran televisi swasta Indonesia, ada sebuah program yang bernama “Uang Kaget” yang memungkinkan orang-orang dengan taraf kehidupan menengah ke bawah mendapatkan uang dalam jumlah besar untuk dihabiskan saat itu juga. Seumur-umur tidak pernah melihat bahkan memegang uang puluhan juta, tiba-tiba diharuskan menghabiskan uang tersebut hanya dalam hitungan jam, alhasil kebanyakan dari mereka seringnya memang terkaget-kaget sekaligus bingung bagaimana membelanjakan uang tersebut.

    Ada yang pikirannya hanya sampai pada batas yang ia mampu jangkau hingga akhirnya memutuskan untuk membeli barang-barang kebutuhan harian saja, ada yang membeli barang idamannya, namun tak sedikit pula yang memiliki cara berpikir jangka panjang dengan membeli barang yang bisa dijadikan investasi.

    Tabiat ekonomi masyarakat tidak jauh berbeda dengan gambaran yang diberikan di program televisi tersebut. Semakin tinggi pendatapan seseorang, maka semakin banyak kebutuhannya. Katakanlah orang yang penghasilannya sehari hanya 10 ribu, umumnya ia hanya sanggup membeli tempe sebagai lauk makan. Tapi ketika penghasilannya meningkat menjadi 100 ribu sehari, ia akan menginginkan lauk yang lebih enak dari tempe, ikan misalnya.

    Lantas jika ia akhirnya sanggup berpenghasilan satu juta per hari, maka ia akan dengan mudahnya membeli daging atau makan di restoran mahal, membeli barang-barang lainnya yang ia inginkan. Kadangkala semakin banyak harta kekayaan seseorang, semakin berpeluang keburukan mengintai. Uang bahkan bisa mengubah seseorang berbalik tiga ratus enam puluh derajat.

    Realita sosial ini diangkat Steinbeck dalam karya monumentalnya yang berjudul Mutiara dengan cukup humanis dalam sosok Kino. Kino adalah salah seorang kepala keluarga dengan istri dan satu anak di sebuah perkampungan suku Indian. Demi mengobati anaknya, Kino dan istrinya Juana mencari mutiara dengan maksud menjualnya untuk biaya dokter yang menolak mereka mentah-mentah karena alasan kemiskinan.

    Rupanya mujur bagi Kino, ia mendapatkan mutiara yang sangat besar dan sempurna. Mutiara terbesar yang pernah ditemukan di daerahnya. Kino membayangkan mutiara sebesar itu akan memberikan banyak pengharapan; Pakaian yang layak bagi Juana, kano untuk bekerja, juga pendidikan anaknya agar mereka bisa keluar dari keterpurukan.

    Tentu saja, bersamaan dengan kegembiraan itu, ada banyak tragedi mengintai kehidupan mereka. Mutiara itu membangunkan iblis di dalam diri banyak orang. Kini, Kino, Juana serta bayi di dalam gendongannya harus menghadapi perjalanan antara hidup dan mati. Mutiara itu membawa mereka pada perangkap demi perangkap, perampasan, juga pengejaran demi pengejaran.

    Sejauh ini Steinbeck tidak pernah mengecewakan saya. Novel-novel karyanya selalu berhasil membuat saya semakin jatuh cinta. Ciri khas Steinbeck sangat mudah dikenali dari karyanya. Ia cenderung mengangkat tema-tema sosial dengan selipan-selipan satire. Juga penokohannya yang terasa sangat utuh dan kuat. Sangat berkarakter.

    Meski tipis, karya-karyanya selalu saja membuat saya menahan nafas, merasakan sensasi ketegangan dalam narasinya yang detail, dan kemudian menarik nafas yang sangat panjang saat halaman terakhir berhasil saya selesaikan dengan pemaknaan yang mendalam. Berisi dan manis.

    Membaca novelnya ini membuat saya teringat dengan film layar lebar yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio berjudul Blood Diamond. Esensi kisah Leonardo DiCaprio dalam Blood Diamond dan Kino dalam novel Mutiara ini memiliki banyak kesamaan; sama-sama mengangkat isu diskriminasi sosial, realita korporasi, ironi suku minoritas dan daerah konflik, juga sifat dasar manusia yang mudah dipengaruhi.

    Tapi, dari novel Mutiara ini, kita tak hanya disuguhkan sekedar wacana sosial saja, melainkan kita akan mendapati sisi-sisi emosional dan karakter manusia yang lebih mendalam. Bahwa setiap kita sebetulnya memiliki satu benang merah, yakni sama-sama menginginkan yang terbaik untuk hidup kita.

    “Karena seperti kata pepatah bahwa manusia memang tak pernah puas, jika sudah diberi sesuatu pasti akan meminta yang lebih, dan sayangnya hal tersebut merupakan satu-satunya bakat terbesar manusia yang membuatnya menjadi makhluk yang lebih mulia daripada binatang, padahal binatang selalu merasa puas dengan yang mereka miliki.” (The Pearl – John Steinbeck)

  • Rosie’s Walk oleh Patricia Hutchins – Menikmati Humor dari Buku Tanpa Kata Berbahasa Korea

    Rosie's Walk Bahasa Korea

    Judul buku: Picasso Fairy Tale 49 – Rosie’s Walk
    (dalam edisi terjemahan Korea 로시의 산책)
    Penulis: Patricia Hutchins
    Penerjemah: Kim Seok Gyu
    Penerbit: Montessori Korea
    Tahun Terbit: 1997
    Tebal: 36 halaman
    ISBN: 89-7098-178-0
    Genre: Buku Anak
    Rating: 5/5

    Agaknya pernyataan ‘Don’t judge the book by its cover‘ harus saya tepis ketika memutuskan untuk membeli buku-buku cerita anak berbahasa Korea beberapa tahun lalu di lapak buku bekas dalam jumlah yang banyak. Selain harganya yang murah, sampulnya yang berilustrasi cantik dan unik dengan warna-warni yang kontras adalah alasan utama yang membuat saya langsung jatuh cinta.

    Saya pasrah dengan isi ceritanya. Yang penting selama buku itu memiliki gambar, artinya buku itu bisa dibaca. Toh ada banyak wordless book yang beredar di pasaran untuk anak-anak dan sejauh ini tetap bisa dinikmati sesuai imajinasi pembaca.

    Nah, salah satu buku cerita yang saya beli itu adalah terjemahan dalam bahasa Korea dari buku perdananya Patricia Hutchins yang berjudul Rosie’s Walk. Buku tersebut pertama kali diterbitkan tahun 1968 oleh The Bodley Head dan Macmillan US yang berhasil meraih penghargaan di ajang Boston Globe-Horn Book Award Amerika Serikat.

    Selain itu, para pustakawan Amerika juga memasukkan Rosie’s Walk ke dalam daftar buku American Library Association (ALA) Notable dan banyak dijadikan koleksi di perpustakaan-perpustakaan.

    Rosie’s Walk bercerita tentang kisah seekor ayam betina yang diikuti oleh seekor serigala lapar dalam 27 halaman berilustrasi. Tentu saja seperti di banyak dongeng, serigala di kisah Rosie ini juga digambarkan sebagai tokoh jahat yang tujuan utamanya memakan tokoh utama. Dan lagi-lagi, pembaca umumnya sudah tahu bakal seperti apa akhir dari cerita dongeng tersebut.

    Namun, uniknya di buku Rosie’s Walk ini adalah kegelian yang dimunculkan penulis ketika menggambarkan proses Serigala yang ingin menangkap Rosie.

    Serigala ini mengikuti Rosie mulai dari Rosie keluar kandang sampai keluar halaman melewati banyak tempat dan, betapa tidak beruntungnya si Serigala, setiap kali ia hendak mencapai Rosie dan bersiap menerkamnya, selalu ada saja kejadian yang membuatnya gagal.

    Yang terbentur kayu lah, yang tercebur kolam lah, yang tertimpa karung tepung lah, sampai diikejar-kejar dan disengat lebah. Dan ironisnya, Rosie si ayam betina selalu saja beruntung dan tetap hidup, bahkan acuh tak acuh di depan.

    Dia bahkan tidak tahu-menahu bahwa di belakangnya ada serigala yang sedang berjuang keras menangkapnya. Ironis bagi serigala, tapi tetap saja menggelikan melihatnya.

    Tulisan di dalam buku ini sangat minim, lebih dominan di ilustrasinya. Rasanya sangat mudah diterjemahkan oleh anak-anak sesuai imajinasi mereka. Namun meskipun tergolong buku anak, tapi sebenarnya membaca buku ini bisa menghasilkan interpretasi yang berbeda bagi usia yang berbeda. Bagi saya, selain buku ini ceritanya lucu dan menarik, humor di buku ini juga bisa diartikan sebagai alegori terhadap banyak konsep dalam hubungan sosial kita.

    Contohnya bagaimana kita bersikap acuh terhadap omongan negatif orang lain, atau bagaimana kita tetap bangkit ketika ada pihak yang ingin membuat kita jatuh, atau bagaimana kita bersikap optimis ketika ada tantangan yang mengejar di belakang, serta pemaknaan lainnya yang terwakilkan oleh tokoh Serigala dan Rosie. Bisa jadi kita ini adalah Rosie-Rosie di dalam kehidupan nyata. Atau Serigala? Atau bahkan keduanya?

    Penulis yang juga populer dengan nama Pat Hutchins ini adalah seorang penulis sekaligus ilustrator asal Inggris yang telah menghasilkan sekitar 50 buku cerita anak dengan ilustrasi khas yang dibuatnya sendiri. Tak hanya buku cerita atau dongeng, novel anak pun termasuk karya yang juga ditulis olehnya. Oleh Montessori Korea, buku ini dijadikan bahan untuk pembelajaran anak-anak.

    Pat Hutchins menggunakan teknik menggambar dengan garis-garis sederhana di ilustrasinya, tetapi mengandung banyak pola yang berbeda. Ada titik, garis, panah, lingkaran, dan sebagainya. Warna yang digunakannya juga adalah warna-warna dasar merah, kuning dan hijau, tanpa warna biru sedikitpun. Sederhana sekali, tapi indah dan memberikan nuansa tenang. Terkesan seperti buku-buku cerita rakyat zaman dulu yang mengandung warna-warna linier yang sederhana. Saya suka sekali warna dan ilustrasinya.

    Awalnya saya tidak tahu arti dari judul buku ini karena ditulis total dalam bahasa Korea. Beruntung, ada fasilitas Google Translate di aplikasi Android. Saya cukup melakukan scan dengan kamera ke arah sampul bertuliskan judul buku dan aplikasi tersebut langsung merekam tulisan Hangul yang ada kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.

    Tetapi saat saya membuka halaman berikutnya, ternyata di sana terdapat lima baris kalimat berbahasa Inggris bertuliskan ‘Rosie’s Walk’ berikut keterangan penulis dan penerbit buku aslinya. Berbekal dari lima baris tersebutlah maka saya pun melakukan pencarian. Voila, saya menemukan banyak hal tentang buku ini dan jadilah resensi ini agak panjang.

    Sebuah wordless book dapat membuka imajinasi tanpa batas bagi siapa saja. Pun bahkan ketika buku tersebut tidak ditulis dalam bahasa ibu, namun dengan sedikit sentuhan kreativitas, pembaca bisa mengeksplorasi banyak hal. Biarkan gambar yang bercerita. Dan dari buku sejenis ini, saya melihat bukti bahwa dunia literasi bisa menjangkau pembaca meski tanpa kata dan suara.

  • The Book of Mirrors oleh E.O. Chirovici

    Judul : Cermin Muslihat
    Judul Asli: The Book of Mirrors
    Penulis : E.O. Chirovici
    Penerjemah : Dina Begum
    Jumlah halaman: 328 hlm
    Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
    Tahun terbit : 2017
    ISBN : 978-602-03-5127-8
    Genre: Thriller, Fiksi Misteri, Fiksi Psikologi
    Rating: 3/5

    “Ingatan bisa membunuh.” Pernyataan yang ada di sampul belakang novel bergenre thriller ini tentunya bukan tanpa alasan disematkan di sana. Realitanya, terkadang memang ingatan bisa mengarahkan seseorang untuk melakukan tindakan-tindakan ekstrem.

    Ingatan tentang perlakuan bullying atau kekejaman seseorang, ingatan tentang kehidupan yang serba sulit hingga nyaris membuat seseorang putus asa, atau beragam rasa lainnya yang muncul karena ingatan terhadap sesuatu seringkali berpotensi membuat orang lupa diri.

    Dan, akibat ingatan seseorang pulalah, si tokoh utama dalam novel kita ini harus menanggung beban jiwa selama berpuluh tahun lamanya hingga menghembuskan nafas terakhirnya.

    Peter Katz, seorang agen yang bekerja di penerbitan, menerima sebuah email yang tidak biasa dari Richard Flynn, orang yang pernah menjadi tersangka pembunuhan Profesor Wieder yaitu salah satu profesor kawakan di bidang ilmu psikiatri di Princeton.

    Di dalam emailnya tersebut, Flynn memberikan naskah memoar yang memuat kisahnya 27 tahun yang lalu. Kisah ketika masa-masa dirinya bekerja pada Profesor, bertemu dengan wanita yang disayanginya, juga antusias dirinya terhadap pekerjaan yang dijalani.

    Flynn sejak muda ingin sekali bisa menerbitkan buku. Tapi, yang menjadi inti dari naskahnya itu sebetulnya adalah identitas tiga orang penting yang berada di rumah Profesor saat malam pembunuhan yang detailnya luput dari penyelidikan polisi saat itu, yaitu; Richard Flynn, Laura Baines, dan Derek Simmons.

    Flynn memulai kisahnya dari perkenalannya dengan Laura Baines yang kemudian menjadikannya akrab dengan Profesor Wieder. Flynn bekerja di perpustakaan pribadi Profesor sebagai tenaga lepas guna mengisi waktu sampingannya ketika kuliah. Ia sangat menyukai kesibukan barunya itu. Sesekali Flynn dan Profesor berdiskusi tentang psikologi atau sekadar minum bersama. Terkadang mereka beradu argumen tentang sesuatu.

    Profesor berencana akan menerbitkan sebuah buku yang fenomenal dan Laura membantunya dalam hal ini. Namun sayang, pada suatu malam, terjadi pertengkaran mulut antara Flynn dan Profesor. Flynn kemudian meninggalkan rumah Profesor dan pulang ke kontrakannya.

    Keesokan harinya, Profesor ditemukan tewas oleh Derek Simmons, orang yang memiliki kelainan psikis yang ditolong oleh Profesor dan menjadi asisten bersih-bersih di rumahnya. Kejadian itu menggemparkan Princeton. Karena Flynn berada di waktu yang tidak tepat, ia pun menjadi tersangka dari kasus itu.

    Menghadapi tuduhan sebagai tersangka pembunuhan, ditambah beban perasaan yang hebat karena menyadari bahwa Laura telah menipunya dan meninggalkannya tanpa kabar, Flynn seolah berada pada masa tergelapnya. Di kemudian hari, berita menyebutkan bahwa pelaku pembunuhan Profesor telah ditangkap. Flynn bebas dari tuduhan.

    Di dalam naskahnya, Flynn memaparkan fakta-fakta lain yang tidak terungkap saat penyelidikan, juga hipotesanya terhadap siapa pelaku pembunuhan yang sebenarnya. Sayangnya, naskah Flynn yang diterima oleh Peter Katz hanyalah bagian pertama dari naskah utuh. Sebelum Katz menerima bagian kedua naskah tersebut, Flynn lebih dulu meninggal dunia dikarenakan sakit.

    Berbekal naskah yang belum jadi tersebut sebagai acuan dasar penyelidikannya, Katz bersama partnernya John Keller kemudian mulai menjumpai satu demi satu nama-nama yang disebutkan di naskah, termasuk detektif yang melakukan penyelidikan kasus tersebut 27 tahun yang lalu.

    Berbagai fakta baru bermunculan dan beberapa keganjilan dan kecurigaan mengarahkan perjalanan mereka kepada dua nama potensial yang salah satunya adalah pelaku pembunuhan yang sebenarnya.

    Siapa sebenarnya pembunuh yang dimaksud? Dan pada akhirnya, hipotesa Richard Flynn di dalam naskahnya runtuh seketika karena satu fakta kecil yang tertutupi.

    Cukup menarik membaca novel ini, karena saya merasa digiring pada karakter tiap tokoh hingga kita merasa bahwa dialah pelakunya. Tetapi kemudian, fakta-fakta yang berbeda juga menggiring kita untuk berpikir bahwa nama lainnya juga memiliki kemungkinan yang sama besarnya sebagai pelaku pembunuhan.

    Saya sampai tidak sabar untuk terus membaca kisahnya sampai akhir dan menemukan siapa pelakunya. Dan yang pasti, saya merasa kasihan terhadap Flynn yang pergi membawa semua kemarahan dan kesedihannya dan naskah yang tidak akan pernah terbit.

    The Book of Mirrors ini diterjemahkan oleh Dina Begum yang hasil terjemahannya sangatlah nyaman dibaca. Ditulis oleh Eugen Ovidiu Chirovici, seorang penulis asal Rumania yang juga menjalankan koran harian nasional dan channel berita televisi di Rumania, novel ini dibagi menjadi tiga bagian utama berdasarkan sudut pandang tiga tokoh; Peter Katz, John Keller, dan detektif yang menyelidiki kasus pembunuhan Wieder yaitu Roy Freeman.

    Meskipun demikian, tiap bagian terasa sekali perbedaan karakternya. Dan plot twist yang diselipkan penulis di novel ini juga membuatnya semakin menarik.

    Novel ini lumayan enak dibaca dan menarik, tetapi sayangnya bukanlah termasuk novel yang benar-benar luar biasa sekali seperti yang digadang-gadang di dalam blurb, menurut saya. Awalnya saya tertarik karena membaca blurbnya bahwa novel ini dikatakan sebagai fenomena global dan telah terjual di lebih dari 38 negara di dunia.

    Dan agak sedikit kurang greget saat membacanya sebagai genre novel thriller karena sedikitnya ketegangan atau aksi di dalamnya seperti thriller pada umumnya. Barangkali lebih tepat jika memasukkan novel ini ke dalam genre psikologi. Tapi secara keseluruhan, novel ini lumayan menarik.

    Satu hal yang saya pelajari dari novel ini, bahwa ingatan seseorang sejatinya tidak ada yang hilang. Kadang kita melupakan satu masa dalam hidup kita karena kita tidak ingin mengingatnya.

    Di lain waktu, ingatan itu akan muncul seiring situasi yang ada. Dan terkadang, kita mengingat dengan jelas masa kecil kita, padahal bisa jadi itu bukanlah ingatan kita seutuhnya, melainkan ada porsi hasil imajinasi dari gambaran yang disampaikan orang lain kepada kita tentang situasi kala itu.

    Di dalam dunia psikologi, hal-hal yang berkaitan dengan ingatan atau bagaimana pola ingatan kita dibentuk tentunya pastilah ada pembahasannya. Novel ini berangkat dari latar keilmuan psikologi tersebut. Di dalamnya, penulis menyelipkan tema-tema terkait ingatan atau faktor kejiwaan seseorang. Dan sangatlah unik mengetahui bahwa ingatan bisa mempermainkan kita.

    “Anda pikir Anda melupakan sesuatu—peristiwa, seseorang, situasi—dan mendadak Anda sadar ingatan itu selama ini terkurung di ruangan rahasia di otak Anda dan selalu ada di sana, seakan-akan baru kemarin terjadi.

    Rasanya seperti membuka lemari tua penuh sampah, dan yang harus dilakukan hanyalah menggeser satu kardus atau satu benda lalu seluruh isinya menghujanimu.” (halaman 12)

    Peringatan: novel ini mengandung beberapa adegan dewasa.

  • Sekolah Bajak Laut Kapten Janggut Api oleh Chae Strathie

    Judul: Sekolah Bajak Laut Kapten Janggut Api
    Judul Asli: Captain Firebeard’s School for Pirates
    Penulis: Chae Strathie
    Penerjemah: Ambhita Dhyaningrum
    Penerbit: Tiga Ananda
    ISBN: 978-602-366-259-3
    Tebal: 244 halaman
    Tahun Terbit: Maret 2017
    Cetakan: Pertama
    Genre: Fiksi Anak
    Rating: 4/5

    Kebanyakan kita pasti tahu kalau yang namanya bajak laut itu selalu identik dengan perompak dan orang jahat yang sering membuat masalah di lautan, ya ‘kan? Tapi, Chae Strathie menggambarkan sosok bajak laut sebagai sosok yang berbeda di dalam karyanya ini. Sosok yang gagah, pemberani, pahlawan dan idola bagi anak-anak lewat tokoh Kapten Janggut Api-nya.

    Adalah Kapten Janggut Api yang berbadan besar, berjanggut merah menyala seperti api dan selalu mengucapkan “Aaaarrrrr” sebagai ciri khas bajak laut. Ia mendirikan sekolah bajak laut yang keren berupa kapal besar bernama Rusty Barnacle yang bersandar di pelabuhan. Murid-murid di sekolahnya diajarkan cara berjalan, berbicara dan beraksi seperti bajak laut sejati.

    Tommy adalah salah satu murid tahun pertama di Rusty Barnacle. Bersama temannya Jo dan Milton, mereka dengan antusias mengikuti masa perkenalan murid baru di hari pertama sekolah. Masing-masing anak diberi nama khas bajak laut; Jo Pemberani, Milton si Kaki Jeli, dan Tom Jagoan. Mereka mempelajari sejarah bajak laut dari masa ke masa.

    Ada Kapten Janggut Batu di zaman manusia gua, ada Kapten Janggutus Maximus dari Romawi, ada Kapten Janggut Kapak dengan janggut berbentuk kapak dari Viking, dan banyak sekali bajak laut legendaris lainnya dengan janggut-janggut unik mereka yang belum pernah didengar oleh Tommy dan kawan-kawan.

    Suatu kali, Kapten Janggut Api mengajak murid-murid untuk melihat peta khas bajak laut. Peta itu menyimpan teka-teki dan misteri harta karun bajak laut di suatu pulau terpencil yang belum pernah seorang murid bajak laut pun mampu memecahkannya.

    Tommy, Jo dan Milton sangat penasaran dan tertarik untuk memecahkan teka-teki tersebut dan menemukan harta karun. Berkat kecerdasan Milton, ternyata memecahkan peta misterius itu tidak sesulit yang dibayangkan.

    Malamnya, Tommy, Jo dan Milton mengendap-endap untuk memasuki ruang kemudi sementara para guru bajak laut dan murid-murid lainnya sedang terlelap pulas. Tommy cs mulai menjalankan kemudi kapal Rusty Barnacle menuju pulau tengkorak tempat harta karun itu berada.

    Tak disangka, perjalanan mereka dihadang banyak tantangan menakutkan. Apa bisa mereka sampai ke pulau tengkorak? Apa mereka berhasil menemukan harta karun? Atau jangan-jangan kapal mereka justru terperangkap masuk pusaran raksasa dan membahayakan jiwa awak kapal? Ah, Rusty Barnacle memang dilingkupi misteri.

    Buku ini termasuk novel anak yang bisa dibaca oleh semua kalangan. Pembaca akan dimanjakan dengan ilustrasi tiga warnanya yang memesona. Membacanya terasa menyegarkan, ringan dan menggelitik. Selain ceritanya yang seru, ada banyak pesan moral yang disampaikan oleh penulis.

    Yah, walaupun menggunakan tokoh bajak laut, hihi. Tapi, saya suka sekali buku ini. Lucu dan unik!

  • Kehidupan Liar oleh Michel Tournier

    Judul : Kehidupan Liar
    Penulis : Michel Tournier
    Penerjemah : Ida Sundari Husen
    Jumlah halaman: 136 hlm
    Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
    Tahun terbit : November 2016
    ISBN : 978-602-424-142-1
    Genre: Fiksi Klasik
    Rating: 4/5

    Berbicara tentang sastra klasik tentu banyak pembaca sudah tak asing lagi dengan kisah Robinson Crusoe karya Daniel Defoe yang terkenal itu. Terdampar di sebuah pulau terpencil tak berpenghuni, menanti hari demi hari kapal penyelamat yang tak kunjung datang, hingga petualangan demi petualangan si tokoh utama disajikan dalam sebuah rangkaian sastra yang tak pernah mati sejak 1719.

    Kisah klasik ini terinspirasi dari pengalaman nyata seorang berkebangsaan Skotlandia bernama Alexandre Selcraig yang terdampar di Pulau Mas a Tierra tahun 1703. Selcraig saat itu mampu bertahan selama bertahun-tahun di pulau terisolasi di lautan Pasifik sebelum akhirnya berhasil diselamatkan oleh sebuah kapal Inggris.

    Karya Daniel Defoe ini ternyata meraih sukses besar sehingga muncul kemudian karya-karya penulis lainnya dengan versi dan sudut pandang yang berbeda-beda.

    Sebut saja versi Jules Verne dengan judul L’llemyterieuse atau Pulau Misterius yang diterbitkan tahun 1874. Jika Daniel Defoe lebih menonjolkan sisi petualangan Robinson di dalam karyanya, maka Jules Verne lebih mengunggulkan penemuan-penemuan ilmiah para tokoh yang terdampar demi bertahan hidup.

    Di tahun 1971, muncul versi lainnya tentang kisah Robinson Crusoe dengan judul asli Vendredi ou la Vie sauvage, atau di edisi terjemahan KPG ini berjudul Kehidupan Liar, yang ditulis oleh seorang penulis asal Prancis bernama Michel Tournier.

    Versi Tournier ini cukup menarik karena, selain menonjolkan tokoh Vendredi sebagai salah satu tokoh utama, Tournier juga menggambarkan secara lebih rinci bagaimana proses perkembangan kejiwaan Robinson ketika terdampar dan harus bertahan hidup berpuluh tahun di pulau tak berpenghuni.

    Sebelum bertemu Vendredi, Robinson tinggal sendirian di pulau yang ia namai Speranza itu. Ia berhasil menyelamatkan apa saja yang bisa diselamatkan dari kapalnya yang karam. Ia memulai kehidupannya di pulau sepi itu dalam kondisi jiwa yang labil.

    Bayangkan saja jika kita terdampar sendirian di sebuah pulau, tak ada teman mengobrol, tak ada gadget, tak ada apapun yang menghubungkan kita dengan peradaban di luar sana. Tidak tahu harus melakukan apa di lingkungan yang sangat berbeda. Hanya sendirian ditemani ilalang dan suara embikan kambing.

    Keadaan ini sangat melenakan dan melelahkan. Seperti yang dialami Robinson ketika ia harus berkubang di dalam lumpur dan bermalas-malasan dengan berbagai cara, lambat laun ini mempengaruhi jiwanya.

    “Akhirnya Robinson menyadari bahwa berkubang dalam lumpur dan berbagai cara hidup bermalas-malasan yang sedang ditempuhnya secara berangsur-angsur membuatnya gila…. Dia harus bangkit, bekerja, menentukan nasibnya sendiri.” (halaman 20)

    Untungnya sebuah peristiwa menyadarkan Robinson bawah cara hidupnya itu tidaklah cocok untuk Speranza. Ia mulai menyusun pulaunya tersebut. Ia membangun benteng pertahanan, menetapkan sumber-sumber makanan, beternak, bercocok tanam, dan membuat peraturan-peraturan laiknya seorang gubernur sebuah kota yang dihuni berbagai hewan liar.

    Vendredi muncul kemudian karena secara tak disengaja diselamatkan oleh Robinson. Vendredi adalah seorang Indian lugu yang tinggal di pulau lain, yang di versi Tournier ini, dikisahkan terperangkap di pulau terpencil Robinson karena berusaha melarikan diri dari kematian.

    Ia hampir dimutilasi karena dianggap telah membawa keburukan dan kesialan bagi sukunya. Bertemu Vendredi merupakan angin segar bagi Robinson karena ia akhirnya memiliki teman. Ia menjadi pemimpinnya dan Vendredi menjadi rakyatnya, mengerjakan berbagai pekerjaan dan peraturan yang sudah dibuat oleh Robinson.

    Betapa puluhan tahun telah berlalu dan terasa sangat panjang bagi Robinson dan Vendredi. Tetapi dua sejoli ini selalu saja memiliki cara yang unik untuk bertahan agar tetap waras di tengah-tengah pulau terpencil itu. Bagaimana akhir kisah dua tokoh kita ini dan apa saja yang mereka lakukan di pulau itu? Seperti apa perkembangan kejiwaan Robinson selama di sana?

    Apakah akhirnya Robinson dan Vendredi berhasil melepaskan diri dari pulau tersebut? Ada banyak versi dari kisah Robinson yang pernah ditulis dengan akhir yang berbeda-beda pula, dan Kehidupan Liar adalah salah satu yang ending-nya tidak terduga.

    Membaca Kehidupan Liar di mana Tournier berusaha mengeksplorasi sisi psikologi Robinson dan Vendredi ini memang cukup unik. Kita akan memahami betapa untuk tetap waras itu membutuhkan usaha yang luar biasa.

    Rutinitas yang monoton, lingkungan dan suasana yang selalu sama setiap harinya, sedikit berbicara, tekanan untuk bertahan hidup di situasi sulit, luapan jiwa yang tertahan, emosi dan amarah yang tidak tersalurkan, semuanya berpotensi membuat seseorang kehilangan akal sehatnya.

    Lewat karyanya ini, Tournier mencoba menampilkan tahap demi tahap perkembangan jiwa sang tokoh utama dalam menghadapi semua situasi tersebut. Dan kita sebagai pembaca akan sangat merasakan betapa nyatanya kondisi yang digambarkan di dalam novel ini. Kita merasa bercermin pada perkembangan kejiwaan kita sendiri yang saat ini sedang kita jalani.

    Sejatinya, kondisi kejiwaan seseorang sebagian besar hampir tidaklah jauh berbeda satu sama lain. Hanya situasi yang menjadikannya berbeda. Kita akan menyadari bahwa kita memang membutuhkan sesuatu sebagai pegangan untuk tetap waras.

    Entah itu teman kita, keluarga, hewan peliharaan, pekerjaan, atau apa saja yang akan menyibukkan pikiran dan fisik kita, mengalihkan konsentrasi kita dari hal-hal yang tidak berguna dan membuat pikiran kosong ke sesuatu yang lebih bermanfaat dan menjaga kita tetap berakal sehat.

    Umumnya keyakinan spiritual adalah pegangan yang paling kuat dijadikan sebagai motivasi hidup, motivasi agar tetap berpikir jernih.

    Orang tak butuh tempat terpencil seperti Robinson untuk menjadi gila. Di tengah-tengah keramaian, gaya hidup, atau hiruk-pikuk gemerlapnya kota besar, orang bisa dengan mudah menjadi gila.

    Hanya mereka-mereka yang memiliki motivasi kuat yang bisa bertahan dan berjuang, sebab mereka tahu bahwa ada hal yang lebih patut diperjuangkan ketimbang menyerah, berputus asa pada keadaan dan menjadi gila.

    Jika saat ini istilah fan fiction cukup populer di tengah-tengah geliat sastra, barangkali bisalah kita katakan bahwa buku Kehidupan Liar karya Michel Tournier ini merupakan salah satu fan fiction yang sangat menarik dan cerdas dari sebuah karya klasik Robinson Crusoe. Dan mungkin, Anda akan tergelak dengan kekonyolan-kekonyolan yang diciptakan Tournier.

  • Perjumpaan dengan Pengkhianat oleh Isabel Allende, Gabriel Garcia Marquez, dan Penulis Amerika Latin Lainnya

    Judul : Perjumpaan dengan Pengkhianat
    Penulis : Penulis Amerika Latin
    Penerjemah : Tia Setiadi
    Jumlah halaman: 212 hlm
    Penerbit : Diva Press
    Tahun terbit : Januari 2017
    ISBN : 978-602-391-356-5
    Genre: Fiksi, Cerpen
    Rating: 3/5

    Bagaimana jadinya bila seorang tentara bertemu kembali dengan temannya yang pengkhianat setelah berpisah berpuluh tahun yang lalu di ruang persidangan? Barangkali ada banyak emosi dan rasa yang berkecamuk di dada, seperti yang dirasakan oleh si lelaki, tokoh utama kita di dalam cerpen yang menjadi judul buku sepilihan cerita pendek ini.

    Iya, sesuatu yang belum rampung dan menyisakan dendam acapkali bangkit menyeruak dari pikiran, menendang-nendang benak, menyulut kembali kebencian dan kemarahan. Begitulah yang dialami olehnya saat melihat, mengikuti dan mengejar lelaki bertongkat mantan pengkhianat bangsa di suatu tempat.

    Ingatannya terbang ke masa puluhan tahun silam ketika mereka berperang, berupaya bertahan dari pembantaian ratusan ribu tentara, juga saat mereka berkelahi dan berhadapan di depan pengadilan militer.

    Kini, mereka bertemu kembali, pada zaman yang berbeda. Bagaimana rasanya bertemu muka dengan seorang pengkhianat yang telah mengkhianatimu dan ratusan ribu rekanmu?

    Augusto Roa Bastos, seorang cerpenis asal Paraguay yang dikenal lewat karya fenomenalnya Yo el Supremo tentang pemimpin tangan besi Paraguay selama 26 tahun, mengawali buku ini lewat cerpen “Perjumpaan dengan Pengkhianat” dan berhasil memunculkan sensasi mengejutkan dan tak terduga pada karyanya.

    Seperti api yang disiramkan air, engkau tak bisa berkata-kata dengan alur yang diberikannya, ketika mengetahui bagaimana kelanjutan dari si lelaki yang bertemu dengan pengkhianat itu.

    Belum cukup dengan keterkejutan di cerpen pertama yang berbau politik, barangkali engkau pun akan bertanya-tanya tentang revolusi sosial yang dilakukan para tanaman pada cerpen “Mengapa Ilalang Berlubang” karya Gabriela Mistral, pengarang Amerika Latin pertama yang menerima Hadiah Nobel Kesusastraan, yang potret wajahnya tertera pada uang lima ribu peso Chile.

    Dalam kisahnya, sang ilalang yang menjadi pemimpin, bersama mawar, jagung dan tanaman lainnya berusaha bertumbuh setara, agar sama tingginya dengan puncak biru ekaliptus si pohon keras, apapun yang terjadi. Keangkuhan terkadang tak ambil peduli pada kemanfaatan.

    “Jadi begitulah, wahai Manusia. Cantiklah bunga violet karena kekecilannya dan pohon jeruk karena bentuknya yang lembut. Cantiklah segala sebagaimana Tuhan telah menciptakannya; ek yang mulia dan jelai yang rapuh.” (halaman 40)

    Seperti halnya sebuah alegori, pun kisah ilalang ini dirasa cukup mendalam pemaknaannya bagi manusia jika mereka mau menggali setiap inci hikmahnya. Ini hampir senada dengan pemaknaan hidup yang dilakukan oleh Juan Bosch dalam karyanya yang berjudul “Jiwa Indah Don Damian”, tentang sejumput jiwa yang berusaha melepas tentakel-tentakelnya dari pembuluh darah sang majikan, lantas keluar untuk melihat segala hal yang tidak bisa terlihat sebagaimana yang terlihat sebelumnya.

    Yang licik terlihat jujur. Yang rakus terlihat rendah hati. Jiwa akhirnya menjadi muak karenanya. Akankah ia kembali menancapkan tentakel itu ke pembuluh majikannya? Cerpen yang begitu sarat makna.

    Buku Perjumpaan dengan Pengkhianat ini adalah sekumpulan cerita pendek karya para penulis Amerika Latin yang sebagian besar namanya kurang familiar bagi saya. Ada yang saya kenali, seperti Gabriel Garcia Marquez atau Isabel Allende yang karya-karyanya sudah sangat dikenal, tetapi selebihnya adalah nama baru bagi saya.

    Padahal, sederetan cerpenis ini memiliki berbagai latar belakang politik, sosial, dan budaya yang cukup kompleks diikuti prestasi yang tak biasa di berbagai bidang.

    Sebut saja Juan Bosch, seorang cerpenis dan sejarawan. Ia juga presiden Republik Dominika pertama yang terpilih secara demokratis dalam waktu singkat. Atau Miguel Angel Asturias, seorang novelis dan jurnalis asal Guatemala sekaligus sebagai salah satu figur awal Bom Sastra Amerika Latin seperti halnya Julio Cortazar asal Argentina. Masih ada sederet nama lainnya di buku ini yang juga memiliki keistimewaannya masing-masing.

    Tak hanya bertema sosial dan kemanusiaan, tetapi perselingkuhan, buasnya dunia malam, tentang keluarga, kesedihan, atau kesendirian juga turut mewarnai sepilihan cerita pendek Amerika Latin yang berjumlah empat belas banyaknya, dan tentunya menjadi dinamika tersendiri agar para pembaca tidak bosan.

    Namun, di antara keempat belas cerpen tersebut, ada satu benang merah yang menjadi kesamaan mereka. Bahwa kisah-kisah tersebut memiliki ending yang tidak terduga. Setiap jawaban pertanyaanmu akan terjawab di akhir cerita, sekali lagi, secara tak terduga. Begitulah. Betapa pintarnya para penulis itu mengemas karya mereka.

    Keistimewaan lainnya yang terdapat di buku ini adalah kepiawaian Tia Setiadi dalam menerjemahkan cerpen-cerpen ini. Penggunaan diksi dan struktur kalimat, yang barangkali di bahasa aslinya memang sudah indah, terasa semakin indah dan nyastra karena sentuhan sang penerjemah. Ada banyak diksi unik bertebaran di buku ini dan menambah perbendaharaan kita.

    Akhirnya, membaca buku ini rasanya seperti menggali dunia baru Amerika Latin; dari Paraguay hingga negara Castro, Kuba; dari negara-negara penggila bola seperti Brazil dan Argentina hingga Meksiko di mana bisa engkau jumpai Taco dan Salsa dengan mudahnya; ada banyak rasa dan warna yang disuguhkan di sepilihan cerpen Amerika Latin ini.

    “Ke mana pun kau memandang di Luvina, yang kau lihat semata tempat yang menyedihkan. Aku ingin bilang itulah tempat bersarangnya kesedihan. Senyuman tak dikenal di sana seolah-olah wajah-wajah manusia telah dibekukan. Dan, kalau kau mau, kau bisa melihat kesedihan itu kapan pun.” (sepenggal kutipan dari cerpen “Luvina” karya Juan Rulfo, halaman 102)

  • Ketika Lampu Berwarna Merah oleh Hamsad Rangkuti

    Judul : Ketika Lampu Berwarna Merah
    Penulis : Hamsad Rangkuti
    Jumlah halaman : 228 hlm
    Penerbit : DIVA Press
    Cetakan : I, Mei 2016
    ISBN : 978-602-391-148-6
    Genre: Fiksi Sosial, Fiksi Lokal
    Rating: 3/5

    Jika engkau ingin melihat kaum ibu dengan gendongan balita dekil, lampu merah tempatnya. Kalau engkau hendak melihat kaum bapak berkaki pengkor atau bertangan sebelah, lampu merah juga tempatnya. Ingin melirik anak-anak mengamen dan menengadah tangan? Lampu merahlah tempatnya.

    Jangan engkau tanya seperti apa aroma tubuh dan tampilan mereka. Mungkin cukup untuk membuat para penumpang menahan nafas atau mengernyitkan dahi. Di satu sisi, lampu merah membuat dongkol para supir dan majikan yang ingin segera berleha di rumah mereka. Di sisi lain, persimpangan dan lampu merah menjadi panggung senyum bagi kaum gepeng mengais rezeki. Ironis memang.

    Tak sekali dua barangkali kita berjumpa dengan kaum gepeng ketika lampu lalu lintas berganti merah. Mulai dari yang berpura-pura pengkor sampai yang benar-benar pengkor, pun para pengamen yang bersuara bak Iwa K hingga yang cempreng menyakitkan telinga, seolah kita melihat babak demi babak drama negeri ini dari balik layar kaca mobil pribadi atau angkutan umum.

    Tapi, yah … hanya sebatas ketika lampu merah menyala. Setelah itu? Para pengemudi dan penumpang tentunya akan melanjutkan kembali pikiran mereka ke tempat lain, meninggalkan gembel dan pengemis yang entah bagaimana kelanjutan hidup mereka setelah lampu berwarna hijau.

    Sudah bukan rahasia lagi sebenarnya bagaimana kehidupan kaum gepeng di negeri ini. Hampir dari kita semua tahu bahwa hidup mereka jauh dari kata layak. Sekedar bisa memenuhi kebutuhan perut yang sejengkal itu saja mungkin sudah lebih dari cukup.

    Hendak bermimpi bersekolah tinggi atau bercita-cita memiliki ini itu? Yah, barangkali itu hanya menjadi sebatas mimpi. Hidup di lingkungan masyarakat pinggiran dan terbuang tak akan pernah terbayangkan oleh sebagian orang.

    Kehidupan di mana anak kecil dipaksa mencari uang untuk memberi makan entah siapa. Kehidupan di mana anak-anak perempuan harus berjuang melepaskan cengkeraman dan tatapan buas lelaki hidung belang beraroma bir. Lingkungan di mana para wanita tuna susila hidup menjajakan diri demi selembar dua puluh ribu rupiah. Ya Tuhan … tak terbayangkan betapa ngerinya.

    Tapi, Hamsad Rangkuti berhasil menampilkan babak-babak kehidupan kaum pinggiran di atas seolah nyata melalui novel Ketika Lampu Berwarna Merah.

    Adalah Kartijo yang ditinggalkan anak lelakinya, Basri, yang minggat dari rumah demi melihat Monas di Jakarta. Kartijo dan istrinya, Surtini, beserta orang-orang sekampung terpaksa harus pindah ke Sumatera mengikuti program transmigrasi, meninggalkan tanah kelahiran mereka di Wonogiri karena desanya akan dijadikan waduk. Hanya satu keinginan Surtini; menemukan anaknya.

    Jadilah Kartijo, dengan waktu yang sangat mepet, mencari Basri ke Jakarta dan berjanji akan mengejar kapal yang akan mereka tumpangi ke Sumatera di Tanjung Priok. Sementara ayahnya sibuk mencari, sang anak ternyata harus bergulat dengan kehidupan Ibu Kota yang keras dan berbahaya bersama teman-temannya.

    Lewat Basri, Pipin si kaki pengkor yang ditinggal mati ibu bapaknya, Bustami si pemabuk, Sanip si tukang mayat, serta tokoh-tokoh lainnya dengan karakter yang cukup kuat, narasi Hamsad Rangkuti mampu menggiring degup jantung kita berdetak agak cepat merasakan ketegangan konflik para tokohnya.

    Membuat kita bertanya-tanya bagaimana akhir dari kisah kaum pinggiran ini. Rasanya hampir seperti gambaran realita negeri ini. Katanya di negeri ini, orang miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.

    Nyatanya, bagai pungguk merindukan bulan. Dengan realita yang ada di sekitar kita, Ketika Lampu Berwarna Merah seakan-akan menjadi sebuah sindiran bagi kita dan negeri ini, bahwa gepeng dan kaum terpinggirkan lainnya membutuhkan campur tangan pihak lain untuk membuka jalan yang lebih baik, membuka lembaran baru bagi mereka.

    Tanpa menceramahi, tanpa menggurui, Hamsad Rangkuti menawarkan makna tersirat lewat narasinya. Menurut saya ini menjadi salah satu kelebihan dari karyanya. Selain itu, Ketika Lampu Berwarna Merah dituturkan dengan penggambaran yang sangat detail sehingga saya cukup menikmati deskripsi-deskripsi di dalamnya tanpa terasa membosankan.

    Selain gambaran realita kaum yang terpinggirkan, Hamsad Rangkuti juga menunjukkan bahwa sepahit-pahitnya kehidupan yang dijalani, siapapun memiliki mimpi yang ingin diwujudkan, meski bagi orang lain mimpi itu terdengar sangat sederhana. Entah dengan cara apa, kaum gepeng tentu saja ingin mengubah nasibnya.

    Semangat itulah yang barangkali terus membawa mereka bergerak mengejar harapan dengan kaleng-kaleng mentega dan krecekan di tangan mereka, menyongsong lampu berwarna merah. Sekali lagi, sebungkus nasi sudah menunggu mereka di perempatan itu.

    Wajah-wajah pias berbalut dekil
    Berselimut debu
    Sesuap demi sesuap
    Nasi tanpa apa
    Pada balutan tulang
    Di rangkulan angin malam

    Laparnya tak kau rasa
    Dahaga pun tak terpuaskan

    Entah ….
    Sinismu terpancang
    Jijik, angkuh
    Katamu, mereka sampah
    Atau kitakah?

    (Balada Orang Pinggiran – Evyta AR)

  • Membeli Batang Pancing untuk Kakekku oleh Gao Xingjian

    Judul : Membeli Batang Pancing untuk Kakekku
    Penulis: Gao Xingjian
    Penerjemah: An Ismanto
    Jumlah halaman: 148 hlm
    Penerbit: Basabasi
    Cetakan: I
    Tahun terbit: November 2016
    ISBN: 978-602-391-318-3
    Genre: Cerpen
    Rating: 3/5

    Unik. Itulah kesan pertama yang berhasil disuguhkan Gao lewat cerpen-cerpennya. Jika umumnya sebuah fiksi menceritakan kisah si tokoh dengan sangat terperinci lewat karakter-karakternya yang kuat dan aktivitasnya yang detail sebagai unsur utama, sedangkan lingkungan di sekitarnya sebagai hal sekunder, maka di cerpen Gao berbeda.

    Gao justru menjadikan narasi latar tempat, waktu, lingkungan serta peristiwa sebagai unsur utama, bukan sekunder, yang kemudian memancing kita untuk memperhatikan dan turut mengamati. Ini kali pertama saya membaca jenis fiksi yang unik seperti coretan Gao.

    Coba bayangkan, ketika sebuah peristiwa kecelakaan, mulai dari keadaan jalan, orang-orang di sekitarnya, serta bagaimana kecelakaan itu terjadi, dinarasikan dengan sangat terperinci bak waktu yang dipecah menjadi jam, menit dan detik, ternyata sensasi yang dihasilkannya sungguh jauh berbeda.

    Sensasi yang bisa dirasakan pada cerpen “Kecelakaan” di mana pembaca menanti-nanti kelanjutan kisah tersebut tanpa peduli apa dan siapa. Hanya satu ide sentral yang ingin dikisahkan, yaitu kecelakaan di jalan raya pada pada waktu tertentu, tetapi Gao malah mengekspresikannya lewat narasi yang detail dan menarik.

    “Membeli Batang Pancing untuk Kakekku” adalah cerpen lain yang membuat saya terkesima. Tak heran jika cerpen ini yang kemudian menjadi judul buku sepilihan cerita pendek Gao Xingjian. Di cerpen ini, kita akan turut serta di dalam pikiran sang tokoh, yaitu Aku, yang kita tidak tahu siapa ia, di mana ia tinggal, dan bagaimana karakternya.

    Aku yang sudah dewasa ingin memberikan sebuah batang pancing dengan kili-kili untuk kakeknya yang suka memancing menggunakan batang bambu panjang. Sudah lama sekali sejak Aku kecil meninggalkan rumah kakek. Sekarang, ia ingin menemukan rumah lamanya itu, di mana kakek dan neneknya tinggal, di dekat sebuah jembatan dan danau.

    Jalanan sudah banyak berubah. Area yang dulunya hanya ada beberapa bangunan kini telah menjadi hutan antena dengan gedung-gedung yang padat bersisian. Aku menyusuri jalan demi jalan yang bisa ia ingat. Tak satupun tanda yang bisa mengarahkan dirinya ke rumah kakek.

    Padahal, batang pancing itu sudah lama ia simpan untuk hadiah kakeknya. Rasa putus asa, kerinduan, serta ingatan masa lalu yang menendang-nendang berkeluaran dari benak Aku. Di cerpen ini, saya bisa memahami perasaan Aku hanya dari kilasan-kilasan ingatan pikiran dan suara hatinya, lagi-lagi lewat penggambaran Gao yang unik.

    Imagery, atau pencitraan, umum dipakai dalam sebuah fiksi sebagai bahasa kiasan untuk menggambarkan atau mewakili peristiwa, tindakan, benda atau ide sebegitu rupa sehingga indra fisik kita bisa turut merasakan. Beberapa cerpen yang pernah saya baca biasanya juga dituturkan dengan narasi yang rinci.

    Namun, entah mengapa, gaya imagery Gao dalam mode bahasa naratifnya memang sangat unik dan jauh berbeda dari fiksi yang pernah saya baca. Seketika saya merasakan angin segar saat mulai membaca buku ini dan membatin, “Oh, ini tidak biasa. Ini berbeda.”

    Mencecap Evolusi Fiksi dari Cerpen-Cerpen Gao

    Barangkali Gao ingin menunjukkan bahwa penulisan fiksi itu terus berevolusi dengan caranya masing-masing sehingga layak disebut seni fiksi, seperti perkataannya yang saya kutip dari buku ini;

    “Penciptaan fiksi pertama-tama mensyaratkan pemilihan seorang narrator, sehingga apa yang akhirnya muncul adalah bahasa naratif, dan seni fiksi terletak pada bagaimana sebuah bahasa naratif yang sesuai dapat ditemukan, dan dengan demikian menggeser plot dan tokoh konvensional ke posisi sekunder. Kendati demikian, harus ada setidaknya satu tokoh, dan cara bertutur tokoh ini merupakan kunci penciptaan fiksi.” (halaman 120)

    Menurut Gao, seorang penulis perlu mencari bahasa individualnya masing-masing. Setiap karya fiksi memiliki irama dan bahasa yang berbeda, yang memiliki suara yang bisa didengar oleh penulis maupun pembacanya.

    Ya, fiksi itu bersuara. Mendeskripsikan seorang tokoh tidak cukup hanya dari gambaran fisiknya yang cacat atau cantik saja, melainkan juga menuntut fokus pikirannya dan pandangan batinnya sehingga kesadaran yang dalam bisa dihasilkan dalam sebuah karya fiksi.

    Inilah yang akan dinikmati oleh pembaca. Inilah yang kemudian membuat pembaca tergerak secara emosional. Dan menurut saya, apa yang dikemukakan Gao tersebut sangat masuk akal. Di dalam bukunya ini, kita bisa melihat gaya bahasa naratif Gao yang khas.

    Ada lima cerpen yang disuguhkan di dalam buku ini. “Seketika” adalah yang terpanjang dan paling detail, yang juga membuat saya terkesan selain dua judul yang saya sebutkan sebelumnya. Dan buku ini sangat layak untuk dibaca oleh para penyuka fiksi atau sastra.

    Ada banyak hal yang bisa digali dari coretan-coretan Gao. Bagaimana dirinya menuturkan narasi, magaimana ia sebagai narator menghidupkan tokoh cerpen lewat imagery lingkungan di sekitarnya, dan bagaimana ia sebagai seorang penulis menambatkan hati dan pikiran pembaca di dalam cerpen-cerpennya, sungguh, semua itu bagi saya adalah hal baru, tak seperti cerpen-cerpen konvensional—jika boleh saya sebut konvensional—lainnya.

    Saya bukan orang dengan basis ilmu sastra, apalagi ahli. Saya hanya penikmat buku. Tapi, saya sangat menyukai karya Gao di buku “Membeli Batang Pancing untuk Kakekku” ini. Dan barangkali, Anda pun akan terpancing untuk mencecap evolusi fiksi dari cerpen-cerpen Gao di buku ini.

  • Animal Farm oleh George Orwell

    Judul : Animal Farm
    Penulis: George Orwell
    Penerjemah: Bakdi Soemanto
    Jumlah halaman: iv + 144 hlm
    Penerbit: Bentang
    Cetakan: I
    Tahun terbit: Oktober 2016
    Edisi: II
    ISBN: 978-602-291-282-8
    Genre: Distopia
    Rating: 4/5

    Hampir sebagian besar manusia menyukai kebebasan. Hidup di luar tekanan, perintah, atau aturan. Bebas. Tidak terikat. Bisa melakukan apa saja yang ia suka. Pun sama halnya dengan para binatang di Peternakan Manor yang sudah sangat muak dengan kehidupan mereka di bawah tirani manusia.

    Mereka dieksploitasi telurnya, susunya, bulunya dan tenaganya untuk kepentingan manusia semata. Setelah itu? Habis manis sepah dibuang. Mereka akan berakhir di meja-meja makan manusia.

    Merasa terkekang, akhirnya pemberontakan terhadap manusia terjadi juga. Dengan segala daya dan upaya, para binatang yang terdiri dari babi, kuda, burung, angsa, ayam dan hewan lainnya ini berhasil menghadapi senjata dan kebrutalan manusia.

    Kocar-kacir tunggang-langgang si Jones tua pemilik peternakan dan anak buahnya itu terpaksa hengkang dari tanah miliknya sendiri. Dikalahkan binatang, tentu saja. Sekarang, peternakan itu menjadi milik binatang. Hore!

    Laiknya perputaran kekuasaan di manapun berada, kepemimpinan Jones tergantikan oleh dua babi cerdas bernama Snowball dan Napoleon.

    Binatangisme, begitulah prinsip dan ruh perjuangan para binatang ini. Sudah saatnya binatang berkuasa atas dirinya sendiri, bekerja sepenuh hati siang dan malam pun untuk dirinya sendiri.

    Namun, sayang seribu sayang, kehidupan berdemokrasi para binatang ini tak bertahan lama. Bukankah dua kepala dalam satu tampuk kepemimpinan tidak akan mungkin bersatu?

    Menyingkirkan atau disingkirkan, itulah pilihan bagi kedua babi tersebut. Siapa yang cepat mengambil keputusan, maka dialah yang akan mendapatkan. Kehidupan peternakan yang tadinya sama rata dan sama rasa itu kini berbelok menjadi tirani.

    Benarlah apa yang dikatakan pepatah, “Menang jadi arang, kalah jadi abu.” Menang atau kalah, binatang-binatang ini tetap sama-sama menderita. Bedanya, kini penderitaan mereka disertai sedikit kebahagiaan hati bahwa hasil keringat yang mereka keluarkan adalah untuk diri mereka sendiri.

    Bagaimana nasib akhir Peternakan Binatang di bawah kepemimpinan Napoleon si babi tiran? Gebrakan politik apa saja yang ia lakukan? Apakah akan terjadi pemberontakan lanjutan atau tidak dan apa yang terjadi pada Snowball kemudian akan dijawab oleh Orwell dalam alegori politik ini dengan cara yang cukup menggelitik.

    Alegori Binatangisme

    Animal Farm diterbitkan pertama kali di Inggris tahun 1945, ketika Perang Dunia II terjadi. Orwell yang seorang sosialis demokratik menulis novel ini sebagai satire atas totaliterisme Uni Soviet di bawah kepemimpinan Stalin.

    Manuskrip novel ini awalnya ditulis tahun 1943-1944. Sebagian penerbit di Inggris dan Amerika menolak naskahnya karena khawatir membuat marah aliansi Inggris, Amerika Serikat dan Uni Soviet kala itu.

    Prinsip Binatangisme di dalam novel ini sebenarnya lebih bisa dikatakan sebuah alegoris dari prinsip Komunisme, di mana sebuah perubahan sosial hanya akan berhasil apabila kaum proletar, dalam hal ini para binatang, melakukan perjuangan lewat partai yang dicetuskan oleh sang pemimpin, Napoleon. Lewat partai ini, Napoleon dengan mudahnya menggiring pendapat para binatang sesuai kemauannya.

    Ada tujuh aturan yang dibuat dalam Binatangisme, yang pada awalnya ditujukan Snowball untuk mempersatukan para binatang dalam perlawanan terhadap manusia lewat pelarangan melakukan, menyerupai dan mengikuti cara dan gaya hidup manusia.

    Di kemudian hari, tujuh aturan ini diubah oleh Napoleon untuk mengakali para binatang. Pada bagian ini, saya melihat Orwell ingin menunjukkan betapa mudahnya prinsip politik diubah menjadi propaganda yang sangat halus untuk membodoh-bodohi atau mengakali binatang.

    Dengan kata lain, Orwell ingin menunjukkan betapa mudahnya propaganda totaliter dapat mengontrol pendapat orang-orang di negara demokratis, sehingga yang tadinya berpendapat A bisa berubah haluan menjadi B dengan cara yang paling halus sekalipun tanpa disadari.

    Bandit Kekuasaan

    Membaca Animal Farm membuat saya menarik sebuah refleksi bahwa novel ini akan sangat relevan sampai kapanpun, seperti halnya novel Orwell yang lain, 1984, karena isu yang diangkatnya akan selalu ada di tengah-tengah kehidupan kita.

    Seorang pemimpin yang otoriter, seorang tiran, akan dapat digulingkan oleh gerakan massa yang terkoordinir dan memiliki satu tujuan yang sama di bawah payung demokrasi. Selanjutnya sudah lumrah bahwa akan ada pemimpin baru yang menggantikannya dengan semangat baru, semangat perubahan, pada awalnya.

    Masalahnya, tampuk kekuasaan itu sungguh sangat menggoda iman, Tuan. Ia bisa memabukkan, seperti yang disebutkan di sampul belakang novel ini, membuai para pemiliknya untuk berubah haluan dengan sangat esktrem. Tampuk kekuasaan itu ibarat mata pedang, jika tak pandai-pandai menjaganya, ia bisa menghancurkanmu.

    Orang-orang inilah yang kemudian lebih tepat disebut bandit kekuasaan yang memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya. Umumnya, rakyatlah yang merasa dirugikan dan dieksploitasi untuk mengenyangkan perut mereka. Dan ini sudah banyak terjadi di dunia dalam rentang sejarah yang panjang.

    Kondisi ini tidak hanya terjadi dalam level negara, tetapi juga pada level sederhana organisasi di segala jajaran lini kehidupan kita. Di mana ada kepemimpinan, di situ ada peluang munculnya Napoleon-Napoleon baru.

    Bahkan, karakter Napoleon ini dapat dengan mudah kita temukan di dalam pribadi-pribadi di sekitar kita. Maka, menurut saya, Animal Farm akan menjadi sebuah karya yang evergreen dan sebuah referensi refleksi yang cukup menarik bagi siapa saja agar tetap mawas diri, bercermin dan bertanya dalam hati, “Apakah saya ingin menjadi Napoleon baru?”

    “Sekarang, Kamerad, apa sih, sifat kehidupan kita? Mari kita hadapi: hidup kita ini sengsara, penuh kerja keras, dan pendek. Kita lahir, kita diberi begitu banyak makanan, sehingga menjaga napas dalam tubuh kita, dan di antara kita yang mampu dipaksa kerja dengan seluruh kekuatan kita sampai atom terakhir kekuatan kita; dan segera setelah kegunaan kita berakhir, kita disembelih dengan cara yang keji.

    Tak seekor binatang pun di Inggris yang tahu arti hidup bahagia atau waktu senggang sesudah ia berusia satu tahun. Tidak ada satu ekor binatang pun di Inggris ini yang bebas. Hidup seekor binatang supersengsara dan penuh perbudakan: ini adalah kenyataan yang sebenar-benarnya.”

    (halaman 5)
  • People of the Book oleh Geraldine Brooks

    Judul: People of the Book
    Judul Asli: People of the Book
    Penulis: Geraldine Brooks
    Penerjemah: Femmy Syahrani
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    ISBN: 978-602-03-1447-1
    Tebal: 504 halaman
    Tahun terbit: 2015
    Cetakan: Kesatu
    Genre: Fiksi Sejarah, Buku tentang Buku
    Rating: 4/5

    Buku langka, terlepas dari isi dan pemikirannya, menghubungkan kita dengan sejarah masa lampau, pun dengan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Sebuah buku, tanpa sepengetahuan kita secara kasat mata, barangkali saja sudah menyentuh entah berapa banyak tangan, dari yang menuliskannya, membacanya, menelaahnya, melindunginya, hingga yang menghancurkannya.

    Dari tangan ke tangan, dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, dari satu tempat ke tempat lainnya hingga saat ini, buku telah berbicara kepada kita, dalam diam dan hening, bahwa ia telah diwariskan sedemikian rupa untuk menyampaikan kisah-kisah di balik keberadaannya.

    Kisah yang barangkali mampu menyadarkan kita tentang suatu hal penting dalam hidup, apapun itu. Geraldine Brooks mengajarkan saya tentang hal ini lewat novelnya yang berjudul People of the Book.

    Buku ini mengisahkan tentang seorang pakar buku langka yang bernama Hanna Heath dalam menangani konservasi Haggadah Sarajevo yang cukup kontroversial sejarahnya.

    Hanna, lewat keahliannya menganalisa, kemudian menemukan beberapa jejak masa lalu dari haggadah tersebut. Serpihan sayap serangga, sehelai bulu halus, bekas penjepit dan tanda mawar, noda dan garam, seolah semua itu ingin menyampaikan kisahnya masing-masing mengapa mereka ada di dalam haggadah itu dan sudah berapa jauh perjalanan serta kesulitan yang dialaminya.

    Dari hasil penemuannya, Hanna kemudian mulai merangkai satu demi satu misteri buku tersebut; Seorang muslim Bosnia yang mempertaruhkan nyawanya dan keluarganya untuk menjaga buku itu di tahun-tahun ketika Nazi berkuasa; Seorang pastor Katolik dan rabi Yahudi yang mencoba menyelamatkan buku itu dari api pembakaran Inkuisisi gereja; Seorang penulis yang terpaksa meregang nyawa dan kehilangan keluarganya demi menambahkan teks pada buku itu; Misteri seorang musawwir yang melukis ilustrasi indah terlarang tersebut di Sevilla tahun 1480.

    Semua hipotesis ini membawa Hanna pada pencarian jati dirinya sendiri dan juga orang-orang yang ia cintai dan, pemalsuan karya seni, tentu saja.

    “Kalian semua, dari dunia yang aman, dengan kantong udara mobil dan kemasan antirusak dan diet bebas lemak. Kalianlah yang percaya takhayul. Kalian meyakinkan diri bahwa kematian dapat dielakkan, dan kalian tersinggung saat menyadari keadaannya tidak begitu.

    Sepanjang perang berkecamuk di negara kami, kalian duduk di apartemen kecil yang nyaman dan menonton kami, berdarah-darah dalam berita televisi. Dan kalian berpikir, “Seram sekali!” lalu bangkit dan membuat secangkir lagi kopi mahal ….

    Dalam hidup ini sering terjadi hal buruk. Beberapa hal yang sangat buruk menimpaku. Dan aku tidak berbeda dengan ribuan ayah lain di kota ini yang anaknya menderita. Aku menerima kenyataan itu. Tidak semua cerita berakhir bahagia .…”

    (halaman 59)

    Sebenarnya apa yang membuat buku itu sangat dicari-cari dan dilindungi, sampai-sampai banyak nyawa telah terlibat? Perjalanan panjang apa yang telah dialami Haggadah Sarajevo ini hingga mampu selamat dan akhirnya bermuara di Museum Nasional Bosnia dan Herzegovina di Sarajevo saat ini?

    People of the Book akan mengajak kita pada petualangan yang sangat sulit untuk diacuhkan begitu saja tanpa menyesapi kisah-kisah di dalamnya.

    People of the Book terinspirasi dari sejarah Haggadah Sarajevo, yang merupakan sebuah manuskrip Ibrani misterius berisi tulisan tangan dengan ilustrasi indah tentang perayaan Paskah Yahudi. Meskipun beberapa fakta sejarah yang dicantumkan penulis dalam novel ini benar adanya, tetapi cerita maupun penokohan yang ada hanyalah fiktif belaka.

    Brooks menulis kisahnya dalam plot yang melompat-lompat. Alur cerita yang maju mundur secara bergantian sesuai dengan tahun atau masa artefak-artefak ditemukan di dalam buku dan masa sekarang di mana Hanna hidup membuat kita merasa dekat dengan sejarahnya itu sendiri. Hasil penerjemahan dan suntingan versi terjemahan ini juga menurut saya sangat bagus.

    Menurut sejarahnya, naskah Haggadah Sarajevo ditulis di lembaran kulit anak sapi yang sudah dikelantang dan diberi pewarnaan emas dan perak. Haggadah ini merupakan salah satu haggadah tertua dari Haggadah Yahudi Spanyol di dunia yang berasal dari Barcelona tahun 1350, dan salah satu buku Yahudi abad pertengahan berilustrasi paling awal yang pernah muncul.

    Dikatakan kontroversial karena buku ini melibatkan ilustrasi makhluk hidup, yang sejatinya menggambarnya adalah larangan bagi agama Yahudi dan Islam. Pun dengan kisah-kisah di dalam ilustrasinya yang juga kontroversial menurut Kristen Katolik karena berseberangan dengan alkitab Injil dan keputusan gereja pada masanya.

    Tak banyak yang bisa diketahui dari pembuatan buku ini, kecuali bahwa buku ini dibuat di Spanyol sekitar pertengahan abad ke-14, menjelang berakhirnya masa Convivencia, di mana saat itu, umat Yahudi, Kristen dan Islam hidup berdampingan secara damai.

    Kisah di buku ini indah. Menurut saya, People of the Book ingin menunjukkan bahwa atas nama pelestarian peradaban, termasuk benda-benda peninggalan sejarahnya, siapapun itu orangnya, apapun agamanya, kapan pun masa kehidupannya, selama ia mencintai sejarah dan ingin agar sejarah itu diketahui, hampir pasti akan mencoba melindunginya dan mewariskannya sampai generasi terakhir.

    Lewat analisa dan konservasi sebuah buku, kita bisa mendapatkan percikan informasi sejarah tentang lingkungan tempat buku itu berada, bagaimana orang-orang yang membawanya, peristiwa sejarah apa yang saat itu terjadi, pengaruh apa saja yang disebabkan oleh keberadaan buku tersebut, dan lain sebagainya.

    Seperti rantai yang saling terhubung, sejarah masa lampau dan masa kini pun terhubung sebagai sebuah rangkaian, begitu pula dengan sejarah yang akan terjadi di masa depan. Generasi berikutnya berhak tahu apa yang telah terjadi pada generasi-generasi sebelumnya untuk dijadikan pelajaran dan diambil hikmahnya.

    Terminologi ‘People of the Book‘ kalau saya baca defenisinya lebih kepada ahli kitab atau istilah untuk penganut agama yang dibawa oleh nabi Ibrahim alaihissalam, yang kemudian diteruskan oleh Musa alaihissalam dan Isa alaihissalam yakni Yahudi dan Nasrani, sebelum kedatangan Islam yang dibawa oleh Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam.

    Tetapi, bisa juga yang dimaksud dari judul novel ini adalah terminologi biasa, arti secara harfiahnya yaitu orang dari buku. Berhubung versi terjemahan novel ini tidak dijelaskan secara gamblang terminologi mana yang dimaksud oleh Brooks dalam judul karyanya, maka saya rasa semoga tak apa jika kita menafsirkan makna judul buku ini secara berbeda.

    People of the Book—orang-orang dari buku—pantas dijadikan sebagai judul. Bak suara dari masa lampau, sebuah buku ingin menyuarakan isi hatinya dan mengatakan, “Inilah yang terjadi padaku.”