Judul: Islamic Parenting – Pendidikan Anak Metode Nabi
Judul Asli: Athfalul muslimin kaifa rabahumun nabiyyul amin
Penulis: Syaikh Jamal Abdurrahman
Penerjemah: Agus Suwandi
Jumlah halaman: 312 hlm
Penerbit: Aqwam
Tahun terbit: Maret 2017
Cetakan: Ketujuh belas
ISBN: 978-979-039-087-4
Genre: Nonfiksi, Pendidikan Islam
Rating: 4/5
Sampai sejauh ini, sejauh perjumpaan saya dengan buku, baik yang sudah saya baca maupun yang baru saya lihat-lihat sekilas isinya seputar pendidikan anak, memang dunia perbukuan Islam di Indonesia rasa-rasanya belum memiliki sebuah kitab pendidikan anak tersendiri. Yakni buku yang utuh dan komplit, yang bisa dijadikan semacam kiblat referensi pendidikan anak ala Islam oleh para orangtua maupun pendidik, mulai dari 0 tahun sampai lepas dari tanggungjawab asuhan orangtua dengan segala materi yang rinci hasil konversi dari al-quran, hadits dan kisah-kisah teladan yang shahih. (more…)
Judul: Palestina yang Terlupakan Penulis: Khalid Basalamah Penerbit: Pustaka Ibnu Zaid ISBN: 978-602-51342-0-3 Tahun terbit: 2018 Cetakan: Kesatu Tebal: 86 hlm Genre: Agama Islam, Sejarah Rating: 4/5
Berita-berita atau informasi yang banyak beredar di masyarakat, entah itu dari media cetak maupun elektronik, biasanya sangat berpotensi memunculkan sikap reaktif. Apakah itu reaksi positif, apakah itu negatif, asalkan informasi itu sensitif dan kontroversial, tak perlu menunggu waktu lama, sebentar saja pasti menjadi viral.
Salah satu isu yang seringkali menjadi trending topic di dunia maya adalah isu Palestina, baik tentang konflik yang sedang terjadi maupun segala hal yang berkaitan dengannya.
Dari isu-isu yang ada, kita bisa melihat bahwa betapa fluktuatifnya respon masyarakat kita. Ketika ada berita atau informasi terbaru tentang Palestina misalnya, masyarakat umumnya langsung memberikan respon yang beraneka ragam modelnya. Ada yang memberikan dukungan, ada yang biasa saja, ada yang mencibir, ada yang membenci, ada pula yang bergembira.
Tak jarang pula terjadi perdebatan antara yang pro dan kontra, sebab isu Palestina memang isu panas yang sampai kapan pun akan terus bergulir. Namun, ketika selang beberapa hari berlalu sejak berita itu ramai dibicarakan, keramaian pro kontra tersebut turut hilang tanpa bekas.
Jika ada berita atau informasi yang menjadi viral lagi, kehebohan itu kembali lagi seperti sedia kala, dan selanjutnya akan berlalu begitu saja. Apakah ini hanya euforia sesaat? Pun masyarakat seolah lupa bahwa nun jauh di belahan bumi sana, ada sebuah negeri yang diberkahi, yang penduduknya masih terus berjuang untuk kedaulatan tanahnya.
Buku Palestina yang Terlupakan ini seolah hadir sebagai pengingat saya dan kita semua tentang keberadaan tanah yang diberkahi tersebut. Terlepas dari sedang marak atau tidaknya konflik yang berlangsung, sedang hangat atau tidaknya isu yang berkembang, buku ini mengingatkan kita kembali bahwa jangan sampai kita terlupakan dengan Palestina.
Lupa akan keutamaan-keutamaannya, lupa akan alasan mengapa kita harus senantiasa mengingatnya, lupa akan pesan nabi Allah mengapa seorang muslim dianjurkan untuk mendatanginya walau hanya sekali seumur hidup, lupa mendoakannya, lupa membantunya, juga lupa akan banyak hal tentangnya. Ada berbagai jawaban dan alasan mengapa kita tidak boleh melupakan Palestina, dan bahasan ini disampaikan oleh Ustadz Khalid Basalamah dengan bahasa yang ringan di dalam buku ini.
Khalid Basalamah adalah salah seorang asatidz yang mumpuni di Indonesia yang kajiannya juga banyak beredar di internet. Beliau menguasai banyak bidang ilmu seperti fikih, akidah, hadits, dan sebagainya. Gaya penyampaiannya yang ringkas dan renyah tapi padat sangat terlihat jelas di buku ini. Kalau saya boleh katakan, buku ini memang benar-benar to the point menyuguhkan Palestina apa adanya. Buku ini tidak mengupas tentang Palestina dari A sampai Z, melainkan berisi pembahasan mengapa Palestina tidak layak untuk dilupakan oleh seorang muslim.
Ada bab mengenai keutamaan-keutamaan Palestina di dalam Al-Quran dan As-Sunnah, ada sejarah singkat tentang penduduknya, ada sejarah singkat tentang pembangunannya, juga tentang bagaimana akhirnya kaum Yahudi beramai-ramai memasukinya dan konflik apa sebenarnya yang terjadi di sana.
Di dalamnya juga ada gambaran tentang kehidupan nyata masyarakatnya, termasuk kegiatan bercocok tanam, berdagang, juga kehidupan sosialnya. Ada tips singkat bagaimana cara ke sana bagi yang ingin berkunjung.
Contoh isi halaman. Foto diambil dari penerbit.
Meskipun tipis dan bahasanya ringan, isi buku Palestina yang Terlupakan menurut saya cukup mewakili untuk sekadar mengingatkan kaum muslimin bahwa ada satu masjid di sana yang salat di dalamnya lebih utama daripada salat di seribu masjid, yang terdapat bekas naiknya nabi ketika peristiwa Isra’ Mi’raj, yang pernah menjadi kiblat pertama kaum muslimin, yang di atas tanahnya telah banyak tertumpah darah para nabi, sahabat, tabi’in dan orang-orang shalih, yang di sanalah nanti akan turun nabi Isa ‘Alaihissalam.
Buku ini seolah pelengkap bagi berbagai buku yang membahas tentang Palestina dan penduduknya, juga pengingat bagi kita yang bisa jadi tidak terlalu memikirkannya.
Saya takjub melihat kualitas kertas dalam buku ini. Dengan ketebalan 86 halaman, buku ini menggunakan kertas licin dan tebal serta full color, pun harganya sangat terjangkau bila dibandingkan buku-buku full color sejenis.
Buku ini juga dilengkapi ilustrasi berwarna. Saya bertanya-tanya, apa penerbitnya tidak rugi? Masya Allah, semoga menjadi amal jariyah. Jadi, bagi yang tidak suka bacaan berat, buku ini menurut saya sangat cocok untuk dibaca.
Catatan sponsor: Bagi yang berminat dengan buku ini, Anda bisa mendapatkannya di PromoBuku.com atau Whatsapp ke wa.me/6283130117884
Judul: The Great of Two Umars Penulis: Fuad Abdurrahman Penerbit: Zaman ISBN: 978-602-8417-43-3 Tebal: 134 hlm Genre: Agama Islam, Kisah dan Hikmah Rating: 4/5
Awalnya saya merasa enggan untuk membaca buku ini ketika diberi tawaran untuk membedahnya di sebuah komunitas pembaca muslimah. Alasannya sederhana saja. Pertama, karena saya menganggap sepele buku-buku sejenis, yakni buku sejarah atau biografi tokoh yang dikemas dalam buku tipis dan ringkas, bukan kitab-kitab tebal seperti umumnya buku sirah.
Buku ringkas biasanya kurang utuh mengupas isi secara lengkap. Kedua, berhubung karena saya sudah pernah membaca buku lainnya tentang biografi dua Umar dari ulama masyhur, dalam pikiran saya ya isinya paling itu ke itu juga sehingga saya jadi malas untuk membaca tema sejenis. Buang-buang waktu, pikir saya.
Tetiba saya teringat penjelasan di buku Hilyah Thalibil ‘Ilmi tentang nasihat bagi seorang penuntut ilmu bahwa kita tidak boleh bersikap sombong ketika menuntut ilmu, merasa diri sudah berilmu setelah membaca sebuah kitab, bahkan menganggap remeh ilmu sekecil apapun.
Subhaanallaah … Nasihat itu terlintas di kepala saya dan mendadak saya tersadar dan merasa malu. Astaghfirullaah … Semoga Allah mengampuni kesombongan saya pada saat itu.
Pantaslah ya mengapa Allah tidak menyukai kesombongan karena kesombongan dapat menutup pintu-pintu kebaikan yang lain. Dan masya Allah, ternyata Allah memiliki cara-Nya sendiri untuk mendidik kita. Setelah membacanya, saya merasa beruntung karena saya bisa membuat catatan-catatan penting atas kelebihan dan kekurangan buku ini.
The Great of Two Umars karya Fuad Abdurrahman ini berisi kisah-kisah penuh hikmah dan keteladanan dari dua khalifah Islam yang memiliki nama sama, Umar bin Khathab dan Umar bin Abdul Aziz. Keduanya bukanlah tanpa hubungan keluarga.
Umar bin Abdul Aziz (yang disebut Umar II oleh para ulama) adalah cicit Umar bin Khathab (yang disebut Umar I) dari cucu perempuannya yang bernama Ummu ‘Ashim binti ‘Ashim bin Umar bin Khathab.
Buku ini dibagi menjadi dua bagian utama. Bagian pertama merupakan bagian Umar bin Khathab, sedangkan bagian kedua berisi kisah Umar bin Abdul Aziz. Di setiap bagiannya, penulis membagi kisah-kisah mereka berdasarkan kategori tertentu, misalnya kehidupan sebelum menjadi khalifah, sifat-sifat utamanya, saat menjadi khalifah sampai ketika meninggal dunia.
Dan di setiap kategorinya, penulis memaparkan kisah dua Umar secara kasus per kasus fragmen kehidupan masing-masing.
Dari kisah-kisah yang dituliskan, pembaca sedikit banyak akan mengenal lebih dekat sosok dua khalifah paling fenomenal ini; Bagaimana sifat rendah hatinya, ketegasannya, keadilannya, ketakwaan dan kepemimpinannya dalam masyarakat, serta beberapa kebijakan yang mereka ambil.
Mengapa dua Umar ini yang dibahas? Padahal ada beberapa khalifah lainnya yang juga memiliki karakter pemimpin yang tak kalah hebatnya. Menurut saya ini dikarenakan keduanya unik; namanya sama, memiliki hubungan darah, sama-sama menjadi khalifah, dan sama-sama melakukan reformasi dan inovasi ke arah kebaikan ketika menjadi khalifah dalam rentang waktu yang berbeda.
Di dalam pengantarnya penulis menjelaskan bahwa The Great of Two Umars hadir dari kerinduannya terhadap sosok pemimpin yang adil, bijaksana, memiliki karakter dan iman yang kuat, yang sangat sulit sekali ditemukan di masa sekarang ini.
Ada banyak pemimpin yang bagus, tapi belum ada di masa sekarang ini yang bisa mendekati prestasi kepemimpinan kedua Umar ini. Dan inilah salah satu latar penulis membuat buku ini, agar orang-orang bisa mengenal sosok dua Umar yang hebat dan mengambil hikmah dari kehidupan mereka.
Pujian terhadap Buku
Ada beberapa poin dari buku ini yang menurut saya menjadi kelebihan.
1. Penulis mampu membuat satu buku ringkas berisi informasi yang padat dari dua sosok terkenal, yang sebetulnya, masing-masing kisah atau biografi mereka banyak dituliskan di dalam satu buku tebal terpisah.
2. Penulis mampu melakukan transfer konten sejarah kehidupan dua Umar dari buku-buku teks sejarah yang umumnya dianggap berat untuk dibaca oleh sebagian orang ke buku dengan bahasa yang lebih ringan penuturannya.
3. Buku ini ditulis dengan gaya penulisan narasi yang mudah dicerna oleh pembaca pada umumnya. Nggak njelimet dan ribet. Buku ini ditulis menggunakan bahasa penulis sendiri sehingga tidak terasa membosankan. Ini merupakan poin plusnya karena bisa menjadi alternatif bacaan sejarah bagi mereka-mereka yang kurang cocok dengan buku-buku berat dan tebal.
Kritik atas Buku
Saat membaca buku ini, ingatan saya terbang ke kisah dua sosok Umar yang saya kenal dari buku-buku dari penulis lain, terutama dari kalangan ulama-ulama yang masyhur. Ada sedikit perbedaan krusial yang saya temukan dan ini mau tak mau membuat saya membanding-bandingkan konten kisah antara kedua buku.
Saya bukanlah seorang pakar sejarah, bukan pula seorang pengamat sejarah. Rasanya kurang pantas bagi saya untuk mengkritik karya seseorang, terlebih saya bukan ahli. Tapi, sebagai wujud apresiasi subyektif saya terhadap sebuah buku yang dibaca, inilah menurut saya yang menjadi kelemahan atau kekurangan yang saya dapati setelah membaca buku The Great of Two Umars.
1. Ada beberapa kisah di dalam buku ini yang tidak sesuai dengan riwayat aslinya. Ada juga kisah yang disandarkan pada riwayat lemah maupun munkar atau palsu.
Sebagai contoh di bagian kisah Umar bin Khathab, ada kisah Umar bin Khathab yang menghukum putranya yang berzina hingga wafat. Riwayat dari kisah ini adalah riwayat palsu.
Jika kita telusuri di beberapa buku sirah yang ditulis ulama-ulama masyhur dan bersumber dari sumber yang shahih, maka tidak ditemukan satu pun riwayat tentang kisah ini. Dan jika kita telusuri lebih lanjut, ada beberapa kajian yang mengulas tentang kepalsuan kisah ini. Wallahua’lam.
Contoh lain adalah kisah antara Umar bin Khathab dan ‘Amr bin Al-‘Ash ketika memutuskan hukuman atas putra ‘Amr bin Al-‘Ash yang kurang sesuai dengan riwayat aslinya.
Mungkin, di buku The Great of Two Umars ini, kisah-kisah tersebut oleh penulis dimaksudkan untuk menunjukkan sikap ketegasan Umar sebagai seorang khalifah, namun kisah-kisah ini sebetulnya cukup masyhur dan sering dijadikan dalih untuk mendiskreditkan sosok Umar dan sahabat Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam oleh sebagian kalangan.
Contoh kisah dengan riwayat lemah lainnya adalah di bagian Umar bin Abdul Aziz, yaitu kisah tentang Umar bin Abdul Aziz dan sikap Bani Umayah terhadap Ali bin Abi Thalib. Di dalam kisah ini diceritakan bahwa satu-satunya keturunan Bani Umayah yang tidak mencerca Ali adalah Umar bin Abdul Aziz. Implikasi dari pernyataan ini adalah bahwa seluruh keturunan Bani Umayah adalah pencerca Ali.
Di dalam bukunya, Biografi Umar bin Abdul Aziz (Beirut Publishing), Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi menjelaskan tentang topik ini secara rinci bahwasanya pernyataan tersebut tidaklah benar dan riwayat tentang pencerca Ali ini lemah dan perawinya tidak dapat dipercaya. Jadi ada semacam distorsi sejarah di sini.
Sebetulnya sangat disayangkan jika poin-poin di atas muncul di buku. Di lembar daftar pustaka, penulis mencantumkan beberapa buku atau kitab yang ditulis oleh ulama-ulama pakar sejarah terpercaya dan dikenal berhati-hati sebagai referensi yang valid, termasuk Ash-Shallabi di dalamnya. Namun, mengapa penulis masih memasukkan kisah-kisah yang riwayatnya lemah, munkar, atau yang tidak sesuai dengan riwayat aslinya?
Mengapa topik tentang Umar bin Abdul Aziz ada yang bertentangan dengan penuturan Ash-Shallabi sendiri di dalam kitab yang dirujuk oleh penulis sendiri? Saya tidak tahu alasan penulis mencantumkan kisah-kisah tersebut. Apakah memang karena kekhilafan penulis yang mungkin kurang ketat dalam melakukan seleksi terhadap kisah-kisah masyhur tersebut? Wallahua’lam.
2. Meskipun sebelumnya saya sebut sebagai satu kelebihan buku ini, gaya penulisan narasi yang diterapkan untuk biografi atau shiroh sahabat/shahabiyah rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wasallam, menurut saya, sekaligus juga memiliki beberapa titik lemah.
Pertama, berbicara tentang kisah sahabat rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tentu kita tidak mungkin berlepas diri dari hadits atau riwayat yang jelas sanadnya. Maka, mengonversi redaksi sebuah hadits atau riwayat menjadi narasi sesuai gaya penulisan seorang penulis haruslah dilakukan secara sangat hati-hati.
Perbedaan kalimat yang kurang tepat dapat menyebabkan perbedaan makna yang cukup jauh, yang alih-alih bisa memberikan perbedaan persepsi bagi pembaca atas kisah yang sebenarnya. Dan inilah yang saya dapati di beberapa kisah di dalam buku ini.
Kedua, menuliskannya secara narasi—termasuk di dalamnya dialog-dialog yang terjadi antara tokoh-tokoh yang disebutkan—terkadang tidak terlepas dari bagaimana karakter penokohannya. Mungkin penulis ingin membuat adegan atau kisahnya lebih dramatis sehingga pembaca lebih tertarik, maka penulis kemudian menentukan karakter yang sesuai dengan penggambaran tokoh.
Implikasinya, penulis akhirnya membuka pintu asumsi bagi dirinya sendiri tentang bagaimana sikap atau kata-kata yang tepat dari si tokoh. Jika kita berbicara tentang sebuah buku fiksi, tentu asumsi-asumsi ini bisa dibenarkan.
Tetapi, ketika kita berbicara dalam konteks kisah sejarah atau apalah istilahnya buku yang berdasarkan fakta dan rekam sejarah, terlebih lagi yang berkaitan dengan keabsahannya, maka menurut saya, seharusnya kita tidak membuka pintu asumsi terlalu luas dalam hal ini.
Sebagai contoh, jika penulis ingin menunjukkan sosok Umar bin Khathab yang tegas terhadap kezhaliman atau kemungkaran, maka wajar saja jika perkataan Umar di dalam dialog diasumsikan sedemikian rupa agar terlihat karakter tegasnya, tentunya tidak lari dari esensi ucapan beliau yang sebenarnya.
Hanya saja, yang saya dapati di buku ini justru apa yang disampaikan di dalam dialog narasinya terkadang tidak sama rasa dan maknanya dengan dialog yang terdapat pada riwayat aslinya, apalagi jika penulis melakukan improvisasi dalam dialog-dialog tersebut.
Misalnya ketika di buku ini Umar bin Khathab digambarkan sedang marah lalu mengucapkan kata “Kurang Ajar”, apakah memang demikian adanya di dialog aslinya yang berbahasa Arab?
Berhubung saya tidak paham bahasa Arab, saya jadi bertanya-tanya, ungkapan seperti ‘kurang ajar’ yang di masyarakat kita dianggap sebagai umpatan yang agak kasar, apakah ada di ungkapan Arab yang berkonotasi sejenis? Apakah Umar mengatakan itu di riwayat aslinya? Saya tidak tahu.
Tetapi dari kacamata awam, saya merasa Umar di fragmen itu terkesan negatif. Hal ini mungkin sekilas terlihat sepele, tapi tahukah kita kalau efek dari hal ini bisa saja lebih luas? Bahwa pembaca berpotensi memahami kalau sosok seorang Umar bin Khathab itu hobi mengumpat, padahal nyatanya tidak diriwayatkan demikian.
Sejujurnya, ketika membaca kisah-kisah di dalam The Great of Two Umars, terutama di bagian Umar bin Khathab pada bab-bab awal, saya merasakan sosok beliau digambarkan sebagai orang yang kasar sekasar-kasarnya. Sebentar-sebentar marah, ngamuk, seolah-olah tidak ada jeda.
Padahal, rasa ini sangatlah berbeda dengan sosok Umar bin Khathab yang saya baca kisahnya dari buku-buku referensi lain, yang diceritakan lewat penuturan redaksi-redaksi hadits nabi maupun riwayat para sahabat tentang beliau secara lengkap dan runut.
Di buku referensi tersebut, Umar memang karakternya sangat keras dan tegas. Namun kita masih bisa merasakan bahwa bersamaan dengan karakter keras dan tegasnya tersebut, terselip juga jeda atas pertimbangan atau kebijaksanaannya. Apakah ini karena faktor penulisan narasi? Wallahua’lam.
Kesan terhadap Buku
Ketika pertama kali melihat judul buku The Great of Two Umars, di dalam pikiran saya terlintas gambaran bahwa buku ini akan berisi telaah pembahasan tentang benang merah antara dua Umar sebagai khalifah. Apa yang membuat kedua khalifah ini istimewa?
Prestasi-prestasi dan gebarakan apa saja yang dilakukan oleh mereka sehingga menjadi sangat fenomenal? Bagaimana pandangan dan kebijakannya dalam bidang politik, ekonomi, pemerintahan dan peradilan? Apa ada korelasinya meski sudah berjarak waktu? Misalnya apakah ada estafet kebijakan yang dilanjutkan Umar bin Abdul Aziz dari pendahulunya Umar bin Khathab? Dan bagaimana kaitannya dengan zaman sekarang? Pemikiran-pemikiran semacam itu muncul di benak saya.
Tetapi setelah membacanya, hal itu ternyata tidak banyak saya temukan. Meski sudah saya balik-balik lembarannya sampai habis, buku ini menurut saya lebih cenderung mengulas kisah hikmah yang ada dari keduanya dalam sisi karakter. Padahal, Umar bin Khathab memiliki banyak sekali prestasi dan keistimewaan yang membuat kita berdecak kagum, yang Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sampai mendoakannya saat masih jahiliyah.
Pun begitu dengan Umar bin Abdul Aziz yang disebut sebagai pembaru pertama dalam Islam. Gebrakan-gebrakannya dalam dunia pendidikan, pemerintahan, ekonomi juga sangatlah gemilang mengikuti jejak kakek buyutnya. Memang ada diulas juga di buku ini tentang prestasi dan kebijakan dua Umar ini, namun tidak banyak.
Kesimpulan
Menurut saya, buku The Great of Two Umars ini memang lebih cocok buat pembaca yang tidak suka membaca buku bertipe serius atau berat dan tebal. Bagi yang lebih suka membaca kitab sejarah atau sirah tebal, buku ini mungkin kurang menggigit.
Secara keseluruhan, buku ini bagus, baik. Cukuplah untuk pembaca mengenal sosok Umar bin Khathab dan Umar bin Abdul Aziz sebagai awalan. Bahasa yang dipakai juga ringan dan nyaman.
Pemaparan penulis atas kisah-kisahnya juga cenderung mudah meresap buat pembaca, apalagi bagi yang mudah tersentuh atau termotivasi. Tapi barangkali juga lebih pas jika hanya dijadikan sebagai buku tambahan wawasan seputar kisah dan hikmah, bukan sebagai buku referensi sejarah tokoh atau sirah Islam.
Dan yang paling penting, pembaca hendaknya juga membekali diri dengan filter yang baik. Tidak serta-merta menelan mentah-mentah seluruh isinya, terutama pada bagian-bagian yang memang berpotensi menimbulkan kesalahan persepsi atau pemahaman.
Karena isi buku ini ada yang berdasarkan sumber yang shahih, dan ada pula yang mencatut sumber yang lemah, maka alangkah lebih baik lagi jika membaca buku ini dibarengi juga dengan membaca buku sirah yang ditulis oleh ulama-ulama masyhur dan shahih, agar pembaca bisa membuat catatan-catatan tersendiri dan punya perbandingan. Ini akan membuat kegiatan membaca kita menjadi lebih seru ketika menggali hal-hal baru.
Dari segala kelebihan dan kekurangannya, buku ini merupakan buah karya seseorang. Saya sangat mengapresiasi usaha penulis atas buku ini. Cukuplah kebaikan saja yang perlu kita ambil dari buku ini.
Sekilas tentang Prestasi Dua Umar
Berikut ini prestasi dan kebijakan dari sosok dua Umar yang saya rangkum dari referensi lain. Saya pikir pembaca yang belum mengenal beliau perlu mengetahui sekilas.
Umar bin Khathab
Dikenal dengan pemahaman yang mendalam, kemampuan untuk menyelesaikan masalah, dan kepiawaiannya dalam menarik kesimpulan sehingga menjadi pakar fikih
Melakukan perluasan wilayah Islam yang paling besar
Membuat sistem penanggalan Hijriah
Membuat sistem pengawasan harga dan pasar
Membangun sebuah lembaga fikih dan fatwa di Madinah
Pembangunan kota, jalan dan transportasi darat dan laut, termasuk lumbung-lumbung perbekalan untuk para musafir
Orang pertama yang membentuk Diwan di negara Islam. Diwan adalah catatan atau buku yang ditulis di dalamnya urusan-urusan negara. Semakin meluasnya daerah kekuasaan Islam pada masa itu, Umar membuat Diwan sebagai
Dll
Umar bin Abdul Aziz
Seorang pembaru pertama dalam Islam (mujaddid)
Meluruskan akidah sesuai akidah ahlus sunnah
Membukukan hadits
Menetapkan metode pembelajaran, cara pengajaran, prioritas dalam pendidikan anak
Sentralisasi dan desentralisasi pemerintahan
Manajemen waktu dalam segala aspek, baik pendidikan dan pemerintahan
Pembaruan musyawarah dalam memilih dirinya sebagai khalifah
Judul: Hilyah Thalibil ‘Ilmi – Perhiasan Penuntut Ilmu Judul Asli: Hilyah Thalibil ‘Ilmi Penulis: Bakr bin Abdullah Abuzaid Alih Bahasa: Harwin Murtadlo Penerbit: Al-Qowam ISBN: 978-602-8417-43-3 Tebal: 134 hlm Genre: Agama Islam, Pendidikan Islam Rating: 4/5
Ada sebuah perkataan bagus dari sahabat nabi Ali bin Abi Thalib ra yang diriwayatkan oleh Khathib Baghdadi, “Ilmu itu memanggil pemiliknya untuk beramal, jika ia memenuhi panggilannya. Jika tidak maka ilmu itu akan pergi.” Perkataan yang saya temukan di buku Hilyah Thalibil ‘Ilmi karangan Bakr bin Abdullah Abuzaid ini sangat membekas bagi saya pribadi.
Berapa banyak buku yang sudah saya baca dibanding yang saya serap ilmunya? Berapa banyak ilmu yang saya pelajari dibanding yang sudah saya amalkan? Berapa banyak buku yang sudah saya sia-siakan? Sudah benarkah cara saya dalam menuntut ilmu, terutama ilmu ad-diin, termasuk dari buku-buku yang dibaca? Pertanyaan-pertanyaan ini muncul setelah saya mulai membaca buku ini.
Hilyah Thalibil ‘Ilmi atau yang di dalam judul terjemahannya disebut Perhiasan Penuntut Ilmu adalah buku yang mengupas berbagai adab dan kesalahan yang ada pada diri seorang penuntut ilmu. Siapa saja yang disebut dengan penuntut ilmu?
Mereka adalah orang-orang yang menuntut ilmu, yang dalam konteks buku ini lebih ditekankan kepada ilmu syar’i atau ilmu ad-diin.
Namun, meskipun materi di dalam buku ini sebagiannya khusus diperuntukkan bagi para penuntut ilmu, namun sebetulnya di dalamnya juga memuat banyak hal yang perlu diketahui oleh setiap muslim, karena sejatinya setiap kita memiliki kewajiban yang sama dalam hal menuntut ilmu, minimal untuk pemahaman dan amal diri sendiri.
Buku setebal 134 halaman ini dibagi menjadi tujuh pasal utama. Pasal pertama hingga kelima membahas adab-adab bagi penuntut ilmu seperti adab terhadap diri sendiri, adab terhadap guru dan sahabat, juga adab dalam kehidupan ilmiah.
Kita akan memahami di bagian ini bahwa ketika menuntut ilmu atau mempelajari ilmu ad-diin, ada rambu-rambu tertentu yang harus kita perhatikan agar aktivitas kita tidak melenceng dari jalur yang Allah tetapkan, sehingga apa-apa yang kita pelajari akan lebih maksimal dan mudah-mudahan beroleh keberkahan.
Di lima bagian pertama, kita akan mengenal bagaimana sebenarnya sikap kita terhadap guru atau ulama, terhadap majelis ilmu, memahami bagaimana tahapan dalam menuntut ilmu, termasuk misalnya tahapan belajar dari buku dan seperti apa sebaiknya prioritas buku yang kita baca sebagai bagian dari tahapan belajar tadi.
Selain itu, pasal-pasal awal ini juga membahas adab-adab ketika berdiskusi, melontarkan pertanyaan, memperdalam pemahaman, metode dalam menuntut ilmu, juga bagaimana menjaga ilmu.
Saya merasa sangat tersindir ketika membaca buku ini karena banyak sekali materi di dalamnya yang seolah menguliti pribadi saya sejujur-jujurnya. Bahwa ketika belajar sendiri hanya dari buku saja, seseorang cenderung merasa dirinya lebih paham dan ahli.
Padahal, belajar hanya dari buku juga mengandung kelemahan dan ada banyak hal yang memerlukan penjelasan lebih detail yang itu hanya bisa kita peroleh dari seorang guru yang kapasitas keilmuannya lebih baik.
Jadi sebaiknya memang ketika mempelajari ilmu ad-diin, selain membaca buku, dibarengi dengan mendengarkan penjelasan para ulama atau guru akan lebih memberikan pemahaman yang utuh.
“Dahulu ilmu ini mulia, para tokoh saling mengajarkan ilmu di antara mereka. Ketika ia memasuki buku-buku maka ia mulai dimiliki oleh orang-orang yang bukan ahlinya.” (halaman 36)
Dengan bahasa yang mudah dipahami, ringkas dan sederhana, buku ini juga mengupas hal-hal terkait dengan amal terhadap ilmu yang dijelaskan pada pasal keenam. Kita diajak kembali pada kisah-kisah ulama dan kegilaannya terhadap buku, juga bagaimana menilai perpustakaan kita sendiri dan perlakuan kita terhadap buku.
Di pasal ketujuh, penulis menjelaskan larangan-larangan dalam menuntut ilmu, termasuk di dalamnya sikap pamer ilmu, pemikiran prematur, Israiliyat gaya baru, dan topik lainnya yang membatalkan perhiasan para penuntut ilmu.
Buku ini, meski lebih tipis dan singkat dari Kitab Al-‘Ilmi karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, yakni kitab pegangan awal bagi para thalibul ‘ilmi, tapi membacanya bagi saya lebih membekas dan berkesan karena segala hal yang dipaparkan di dalamnya benar-benar to the point dan menusuk hati saya.
Selepas membacanya saya jadi merenung, sekian banyak buku yang saya koleksi, sudahkah mereka bahu-membahu menyokong saya ke arah kebaikan akhirat? Akankah mereka menjadi saksi saya nanti untuk pemberat timbangan kebaikan ataukah justru sebaliknya?
Saya pun semakin termotivasi untuk melengkapi perpustakaan saya dengan kitab-kitab induk dan buku-buku yang ditulis dengan pemahaman yang mendalam. Tak bisa saya pungkiri juga, terkadang hati saya masih tarik ulur antara keinginan duniawi dan visi akhirat, namun buku ini semoga menjadi pengingat bahwa kita tidak lama hidup di dunia.
Dibanding sebuah resensi, rasanya ulasan saya kali ini lebih tepat disebut sebagai curahan hati saya. Tak apa, semoga tetap bermanfaat. Ada satu bait syair yang sangat bagus disuguhkan di bagian akhir buku ini dan saya suka sekali, semoga bisa menjadi penutup yang baik.
“Duhai, betapa ruginya, usia telah habis dan habis pula Waktu-waktunya di antara hinanya kelemahan dan kemalasan Orang-orang telah menempuh jalan keselamatan, telah pula Berjalan menuju tempat tujuan dengan pelan.” (halaman 112)
Judul: Seri Sirah Nabi Muhammad SAW Penulis: Tartila Tartusi Ilustrator: Setia Adhi Penerbit: Gema Insani Press ISBN: 978-602-250-130-5 Tebal: 25 halaman Tahun Terbit: Juni 2014 Cetakan: Pertama Genre: Agama Islam, Sirah, Buku Anak Muslim Rating: 4/5
Saya tertarik membeli buku ini awalnya karena diskon besar yang dijanjikan pada jajaran buku obral di sebuah pameran buku, selain, tentu saja, karena bentuk fisik bukunya yang sangat bagus. Boardbook? Kapan lagi bisa didapat dengan harga murah?
Dan, pada mulanya, saya juga mengira kalau buku ini berisi sejarah hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk anak-anak, yang mengisahkan kehidupan beliau sejak lahir hingga wafat. Nyatanya, perkiraan saya itu sangat jauh meleset.
Seri Sirah Nabi Muhammad SAW untuk anak-anak terbitan Gema Insani Press ini ternyata hanya mengisahkan kehidupan masa kecil Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam saja sampai beliau diasuh oleh Halimah, sang ibu susuan, tidak sampai beliau dewasa, apalagi wafat.
Lantas, apakah saya kemudian menyesalinya? Alhamdulillah, saya tidak menyesal membeli buku ini. Menurut saya, ada banyak keunikan yang dimiliki oleh buku ini.
Buku ini ditulis dalam 10 jilid, yang tiap-tiap jilidnya memiliki fokus kisah sendiri-sendiri. Saya acungi jempol untuk penulisnya, Tartila Tartusi, yang berhasil menulis ulang kisah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan gayanya sendiri yang unik.
Kisah yang panjang itu bisa disajikan dalam bentuk tulisan singkat dan padat mengandung rima, seperti syair, yang tidak mudah sebetulnya untuk disusun tanpa kehilangan alur dan inti penting dari kisah. Tulisan yang singkat namun padat makna tentunya akan memudahkan pembaca pemula dalam memahami jalan cerita, sehingga mereka tidak perlu kesulitan menalarkan kisah.
Saya tak menemukan banyak informasi tentang penulisnya, tapi salah satu karyanya yang lain adalah Ensiklopedi Anak Muslim yang juga diterbitkan oleh penerbit yang sama.
Dibandingkan dengan karyanya tersebut, gaya bercerita di buku Seri Sirah Nabi Muhammad SAW untuk anak-anak ini memang sangat berbeda. Barangkali ini dikarenakan sasaran usia pembaca atau metode yang ingin digunakan sangat jauh berbeda.
Di dalam pengantarnya, penulis menjelaskan bahwa tujuan dituliskannya kisah dengan gaya berrima adalah agar anak-anak maupun orangtua dapat membacanya dengan bernyanyi ala barzanji.
Saya tidak tahu, apakah maksud penulis agar ceritanya dibaca dengan cara bernyanyi menggunakan gaya lantunan barzanji ataukah itu hanyalah analogi saja untuk memudahkan pembaca mengambil contoh. Sebab, jika yang dimaksud adalah yang pertama yakni harus menggunakan gaya barzanji, tentu ini bisa saja menimbulkan sedikit masalah.
Seperti yang kita tahu, barzanji umumnya kita temukan di lembaga pendidikan seperti pesantren atau madrasah, yang biasa dilakukan terutama saat menyambut maulid nabi maupun di hari-hari tertentu.
Tak banyak masyarakat umum yang tahu bagaimana melakukan barzanji, terutama yang tidak berlatar pesantren, sehingga memaksakan buku ini dibaca ala barzanji tentu kurang relevan. Lagi pula, ritual barzanji masih berpotensi menuai pro kontra, sebab sebagian jumhur ulama melarangnya, namun sebagian lainnya membolehkan.
Meskipun membaca buku ini ala barzanji tidak ada hubungannya dengan ritual barzanji, tapi bagaimana mungkin memaksakan sesuatu dengan sesuatu yang masih menuai silang pendapat? Agak riskan saya pikir.
Saya pribadi cenderung lebih suka mengambil anggapan kedua, yakni maksud penulis menggunakan istilah barzanji hanyalah sebagai analogi atau contoh, sehingga pembaca paham maksud dan tujuan penulis mengapa kisahnya ditulis dengan gaya berrima.
Bisa saja buku ini dibaca dengan irama yang berbeda atau gaya bertutur tanpa irama sesuai keinginan pembaca. Saya lebih senang berlepas diri dari perdebatan pendapat tentang hukum fikih. Jadi, memilih anggapan kedua menurut saya lebih memungkinkan rasa aman dan nyaman bagi pembaca, selain juga lebih fleksibel karena pembaca bisa bebas berkreasi.
Mengutip penuturan penulis di dalam pengantarnya,
“Syair umumnya disukai anak-anak karena bahasanya berirama, ekspresif, dan menuntun imajinasi serta fantasi mereka.” (Pengantar Jilid 1)
Anak-anak memang lebih suka belajar sambil bermain. Mendengarkan seseorang membacakan dongeng dengan gaya ekspresif tentu tidaklah jauh berbeda keasyikannya dengan membaca sambil berirama. Inilah yang saya tangkap maksud dari penulis hendak menawarkan cara membaca yang anti mainstream bagi anak-anak.
Buku ini juga dibuat dalam bentuk ilustrasi penuh warna yang sangat cantik. Saya katakan cantik karena penggunaan warna-warninya yang indah, tajam dan kompleks. Meskipun karakter manusianya bukan faceless, namun bentuk ilustrasinya yang menarik membuat mata pembaca lebih segar dan tidak membosankan.
Kertasnya keras dan glossy juga memudahkan pembaca pemula, sehingga tidak terlalu membuat orangtua khawatir buku menjadi cepat sobek atau kotor. Selain itu, penulis menceritakan ulang kisah di dalamnya berdasarkan sumber-sumber yang shahih.
Pembaca bisa melihat referensi yang digunakan di lembar daftar pustaka dan mendapati kitab-kitab rujukan maupun sirah dari ulama-ulama terpercaya.
Namun sangat disayangkan, saya merasa seri ini masih kurang lengkap karena jilid 10 selesai hanya sampai di masa kecil nabi bersama ibu susuannya hingga dikembalikan ke Mekah. Selanjutnya bagaimana kisah beliau sekembalinya ke Mekah hingga baligh tidak diceritakan di sini.
Seharusnya buku ini bisa dilanjutkan sampai masa kanak-kanak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam selesai. Tapi, terlepas dari kekurangannya tersebut, menurut saya buku ini masih buku terbaik yang pernah saya temukan.
Buku anak yang berkisah tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sangatlah banyak di pasaran, namun yang fokusnya hanya pada masa kecil beliau, saya kira masihlah sangat terbatas. Bahkan mungkin hampir tidak ada.
Dan Seri Sirah Nabi Muhammad SAW terbitan GIP ini adalah satu-satunya yang baru saya temukan sejauh ini yang membahas masa kecil beliau. Mudah-mudahan penulisnya memiliki rezeki kesehatan dan kelapangan waktu sehingga suatu saat akan ada kelanjutan dari 10 serinya.
NB: Bagi yang berminat dengan buku ini bisa juga menghubungi saya di nomor WA 083130117884
Judul: Mengenal Allah Penulis: Arnida Sharah Auli Ilustrator: DK Wardhani dan Tiffa N. Tanuwigena Penerbit: Ahlan Pustaka Umat ISBN: 978-602-61452-0-8 Tebal: 25 halaman Tahun Terbit: September 2017 Cetakan: Kedua Genre: Agama Islam, Aqidah, Buku Anak Muslim Rating: 5/5
Saya masih ingat, ketika saya selesai membaca buku Ulasan Tuntas tentang 3 Prinsip Pokok karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, saya berharap di dalam hati, andaikan saja ada versi buku anak-anaknya yang mengupas tentang ushul tsalatsah, tentu akan sangat bermanfaat untuk pembaca anak-anak.
Dan, alhamdulillaah, harapan saya tersebut ternyata Allah ta’ala penuhi dua tahun kemudian di buku Mengenal Allah terbitan Ahlan Pustaka Umat ini.
Mengapa pembahasan tema ushul tsalatsah ini sangat penting? Kita pasti sudah paham bahwa risalah yang dibawa seluruh nabi dan rasul adalah tauhid, yakni meng-Esa-kan Allah, dan ini termasuk aspek dasar aqidah seorang muslim. Tiga prinsip pokok ajaran Islam yang termaktub di dalam ushul tsalatsah merupakan poin utama yang akan dipertanggungjawabkan pertama kali di alam kubur nanti.
Lalu mengapa buku anak? Seseorang yang dewasa tidaklah langsung dewasa, melainkan pasti melewati fase anak-anak.
Terkadang ketika orangtua ditanya anaknya, “Ma, Allah ada di mana?”
Dengan polosnya sang ibu menjawab, “Allah ada di mana-mana.”
Pemahaman seperti ini tentu tidaklah tepat dan tidak sesuai dengan petunjuk Allah dan nabi-Nya. Maka menjadi teramat penting bagi anak untuk membentuk pemahaman akidah yang lurus sejak dini, sebab nantinya pemahaman inilah yang akan menjadi pondasi utama anak-anak dalam kehidupan.
Ada banyak kasus penyimpangan akidah terjadi disebabkan oleh ketidakpahaman seseorang dan sulitnya mengubah paradigma berpikir. Kesalahan-kesalahan dalam akidah ini jika sudah terlalu berakar di tengah masyarakat akan sangat tidak mudah untuk memperbaikinya. Oleh karena itu, memahamkan akidah sejak dini kepada anak-anak menjadi salah satu tujuan dasar pendidikan Islam.
Buku Mengenal Allah mengajarkan anak tentang siapa dan di mana Allah, apa saja sifat-Nya, dan materi yang berkaitan agar anak-anak bisa mengenal penciptanya.
Buku setebal 25 halaman yang ditulis oleh Arnida Sharah Auli ini dikemas dengan ilustrasi berwarna yang sangat menawan dari goresan tangan DK. Wardhani dan Tiffa N. Tanuwigena. Saya cukup familiar dengan nama DK. Wardhani karena buku-buku karya ilustrasi beliau sudah banyak beredar.
Yang saya suka dari buku ini adalah ilustrasinya yang penuh warna dan dilukis tangan oleh ilustratornya, bukan vektor grafis, jadi benar-benar orisinil dan sangat indah. Karakter yang digambar juga faceless, tanpa wajah, sehingga lebih menghindarkan kita dari hal-hal yang kurang disepakati.
Materi yang disampaikan di dalam buku ini bersumber dari referensi yang shahih dan sudah diperiksa pula oleh Ustadz Muhtarom Abu Abdil Aziz selaku orang yang memiliki kapasitas ilmu yang mumpuni, sehingga orangtua pun tidak perlu khawatir dengan validitas ilmu yang disampaikan di dalamnya.
kredit foto: Ahlan Pustaka Umat
Buku anak yang cantik ini ditulis dengan gaya penceritaan yang sederhana dan ringan sehingga akan mudah dipahami oleh anak-anak, in sya Allah.
Selain itu, yang juga saya suka dari buku ini adalah ditambahkannya fitur muroja’ah, di mana orangtua dan anak diajak untuk mengikuti semacam permainan sederhana mencari berlian, yang nantinya akan ada surat dan ayat Al-Quran untuk rujukan anak-anak agar lebih mengenal Allah.
Sayangnya, fitur muroja’ah yang terdapat di setiap halamannya, menurut saya, ditampilkan dengan visual yang sangat kecil sehingga sedikit kurang nyaman untuk saya lihat. Maklum, faktor umur juga berpengaruh. Apakah memang sengaja dibuat sedemikian rupa sebagai bentuk permainan untuk ‘mencari sesuatu’ ataukah agar pembaca bisa lebih jeli.
Saya tidak tahu pasti apa alasan penerbit membuat tata letak muroja’ahnya seperti itu. Jika bukan karena alasan tersebut, saya berharap fitur muroja’ah yang ada di tiap halamannya mungkin bisa dibuat dalam bentuk visual yang lebih besar dan jelas. Seperti semacam kolom atau kotak khusus barangkali, sehingga anak-anak yang sudah bisa membaca pun bisa dengan mudah menelusurinya.
Selain buku ini cantik, isinya berkualitas dan bisa dipercaya, para orangtua juga bisa mengadopsi bahan materi di dalamnya untuk mengembangkan materi pendidikan anak di rumah, misalnya dengan membuat permainan yang sesuai tema atau bahkan mengeksplorasi poin-poin di dalamnya untuk dikembangkan menjadi kurikulum belajar di rumah. Masya Allah.
Saya suka buku terbitan Ahlan Pustaka Umat ini. Meskipun penerbit ini terbilang baru di belantara penerbitan buku di Indonesia, tapi saya optimis, penerbit ini mampu menjadi salah satu trend setter bacaan Islam yang berkualitas dan terpercaya, bersanding dengan penerbit-penerbit Islam lainnya.
Semoga penulis, ilustrator, editor, penerbit, penjual dan pembaca buku ini mendapatkan keberkahan dan menjadikan buku ini sebagai amal jariyah. Aamiin.
Judul buku: Surat-Surat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Para Raja dan Panglima Perang Judul asli: Al-Atsaru wad Dalaalaatu Lirasaailin Nabiy Penulis: Syaikh Uhaimid Muhammad Al-Uqaili Penerjemah: Wafi Marzuqi Penerbit: Pustaka Yassir ISBN: 978-602-8342-08-7 Tahun terbit: 2011 Jumlah halaman: 667 halaman Genre: Agama Islam, Sejarah Islam Rating: 5/5
Dalam rantai sejarah, yang namanya distorsi akan selalu ada sejak dahulu sampai sekarang, apa pun bentuk dan asalnya. Pun begitu pula dengan gambaran Islam dari pihak-pihak tertentu yang acap kali memberikan stigma negatif, termasuk yang berkaitan dengan penyebarluasan Islam pada masa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Islam hanya disebarkan dengan pedang dan pertumpahan darah.
Anggapan ini terkadang ditelan bulat-bulat oleh generasi selanjutnya tanpa mengetahui fakta sejarah yang utuh. Bahkan yang lebih ekstrem lagi, ada sebagian dari kita yang menjadi ragu atau bingung jika ditanya apakah benar rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebarkan Islam lewat cara-cara brutal dan perang demi perang? Na’udzubillaah.
Alhamdulillah, terima kasih kepada Syaikh Uhaimid Muhammad Al-Uqaili yang telah menghimpun peninggalan arsip surat-surat bersejarah di masa nabi di dalam buku yang berjudul Surat-Surat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini.
Kalau di resensi buku sebelumnya kita sudah mengenal para sekretaris nabi, kini lewat karya penulis ini, kita akan dengan mudah memahami geliat dakwah diplomasi nabi melalui surat-surat beliau.
Buku setebal 667 halaman dengan sampul keras ini berisi surat-surat yang dikirimkan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para raja, panglima perang, juga kepala wilayah di berbagai belahan dunia. Mulai dari Semenanjung Jazirah Arab, Romawi, Persia, India, hingga ke negeri Cina.
Surat-surat yang lahir dari ucapan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tulisan pena para sekretaris beliau telah berhasil sampai di tangan para pemimpin wilayah tersebut melalui duta-duta Islam yang handal.
Terbagi menjadi lima bab, buku ini akan menunjukkan seperti apa surat-surat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para pemimpin wilayah secara rinci.
Tidak hanya surat yang dikirimkan oleh nabi, melainkan balasan atau tanggapan atas surat tersebut dari para raja dan panglima juga dicantumkan di dalam buku ini secara sistematis dan kronologis seolah kita sedang membaca korespondensi yang dilakukan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari surat-surat tersebut, kita bisa melihat kebijaksanaan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sosok nabi yang mulia yang keistimewaannya juga diakui oleh banyak pemimpin wilayah yang menerima surat beliau.
Surat-surat yang diulas di buku ini bersumber dari bukti otentik seperti manuskrip asli surat nabi yang masih ada peninggalannya, hadits dan riwayat shahih, risalah kitab para ulama shalafus shalih, dan sumber-sumber lainnya yang saling mendukung.
Kerangka surat nabi senantiasa dimulai dengan basmalah, kemudian puji-pujian kepada Allah, dan pemberitahuan tentang rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan Allah.
Selanjutnya, rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memberikan salam penghormatan yang bijaksana kepada orang yang dituju. Kemudian barulah masuk kepada inti surat yakni mengajak kepada tauhid. Tak lupa, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mendoakan para penerima surat dengan doa kebaikan dan hidayah.
Hampir seluruh surat-surat nabi merupakan bentuk dakwah tauhid beliau kepada para pembesar negeri dengan harapan mereka mau menerima Islam beserta warganya. Ini dapat dilihat dari ajakan beliau kepada Islam dengan cara yang hikmah, serta senantiasa menghimbau para pemimpin wilayah untuk bersedia menerima Islam.
Jika mereka menerimanya, maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan membela harta dan jiwa mereka. Jika menolak, maka mereka diminta untuk mengakui kekuasaan Islam dan membayar jizyah dan akan dilindungi warganya.
Jika mereka tetap menolak tawaran tersebut, barulah kemudian perang tidak terhindarkan, tetap dengan memperhatikan adab-adab dalam berperang, di mana tidak boleh terjadi penyiksaan, pemotongan, membunuh wanita dan anak-anak, serta melakukan pengrusakan dan kezholiman.
Di mana-mana, tidak ada perang yang sebelumnya didahului dengan nasihat bijaksana dan ajakan kasih sayang seperti yang dilakukan nabi. Perang adalah alat terakhir yang ditempuh oleh umat Islam ketika itu.
Membaca buku ini seolah kita sedang menyaksikan babak demi babak geliat diplomasi rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Ada banyak efek kebaikan yang timbul dari surat-surat tersebut, terlebih lagi kepiawaian diplomasi dan kejernihan iman para duta Islam yang diutus nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan surat sekaligus mensyiarkan Islam menambah semakin cemerlangnya karakter nabi dan kecerdasan duta tersebut di mata para pembesar negara.
Banyak yang kemudian menerima surat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diikuti penerimaan mereka terhadap Islam seperti gubernur Bahrain dan raja Najasyi, namun ada pula pemimpin yang sebenarnya ingin menerima tetapi tak berdaya di depan rakyatnya sehingga kemudian menolak tawaran nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti Heraclius penguasa Romawi.
Selain surat-surat kepada para raja, diulas pula surat kepada panglima perang dan pemimpin wilayah Islam yang dipegang oleh para sahabat rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tak ketinggalan surat-surat perjanjian seperti perjanjian Hudaibiyah dan lainnya, surat-surat pemberian tanah, atau surat-surat kepada orang-orang yang hatinya perlu diikat juga diulas oleh penulis di bagian bab keempat. Masya Allah, lengkap.
“Di antara kebijaksanaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau memuliakan setiap orang mulia dari kaumnya dengan penghormatan yang sepadan dengannya, dan mengangkat orang yang paling besar atau paling mulia dari setiap kaum sebagai pemimpin. Hal itu demi mengharap keislamannya, juga demi memperhatikan kepantasan dalam memegang jabatan dan menakut-nakuti orang-orang rendahan untuk menjadi pemimpin.
Ini merupakan keindahan pengaturan beliau. Karena, beliau tahu bahwa setiap kaum sangat menaati pembesarnya. Dengan menetapkan para pembesar pada setiap jabatannya masing-masing adalah untuk memperkokoh ikatan mereka dengan Islam.”
halaman 613
Buku Surat-Surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diterbitkan oleh Pustaka Yassir ini merupakan satu-satunya buku terjemahan yang pernah saya baca yang sangat lengkap memuat surat-surat rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Saya katakan sangat lengkap karena buku dengan tema sejenis yang pernah ada seperti Surat-Surat Nabi Muhammad karya Kholid Sayyid Ali terbitan Gema Insani Press tidak mencantumkan surat-surat balasan secara rinci, hanya surat singkat nabi.
Contoh isi surat nabi kepada gubernur Bahrain
Contoh sepenggal isi surat balasan gubernur Bahrain kepada nabi
Daftar isi buku
Penulis buku ini bahkan menambahkan poin-poin penting seperti dampak dan petunjuk informatif yang diperoleh dari surat-surat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bentuk penjelasan tambahan. Selain itu, surat-surat yang diulas disajikan secara kronologis sehingga terdapat pula beberapa informasi lain seperti kaitannya dengan turunnya surat atau ayat Al-Quran tertentu serta hadits-hadits yang mendukungnya.
Ini tentunya akan sangat menambah wawasan, pemahaman dan keyakinan kita tentang sejarah dan kemuliaan Islam, termasuk betapa hebatnya sosok rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sayangnya, buku ini tidak dilengkapi dengan lampiran gambar surat yang masih ada bukti peninggalannya, meskipun sedikit, seperti yang ada di buku sejenis lainnya.
***
Membaca buku Surat-Surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mudah-mudahan akan membuka mata kita bahwa surat-surat beliau sangat jelas mencerminkan kasih sayang, doa hidayah, nasihat, arahan beribadah dan berakhlak, kepercayaan diri bahwa Islam akan dapat menjangkau seluruh belahan bumi, kebijaksanaan, serta toleransi terhadap keyakinan agama lain, yang itu tidak semua pemimpin memilikinya.
Mudah-mudahan dengan ulasan ini, meskipun singkat dan belum mampu mewakili secara utuh isi bukunya, kita semakin sayang dan bangga kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena perjuangan keras beliau bersama para sahabatlah kita hingga di bumi timur ini bisa merasakan nikmatnya berislam.
Judul: 65 Sekretaris Nabi Judul Asli: Kuttabun Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Penulis: Prof. Dr. Muhammad Musthafa A’zhami Penerjemah: Mahfuzh Hidayat Lukman Penerbit: Gema Insani ISBN: 978-979-077-080-5 Tebal: 240 halaman Tahun Terbit: November 2008 Genre: Agama Islam, Sejarah Islam, Biografi Rating: 4/5
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dikenal sebagai nabi yang ummi bukanlah tanpa alasan. Memang, pada masa pra-Islam, mayoritas orang Arab saat itu tidak bisa membaca dan menulis sehingga Allah ta’ala menyebutnya sebagai masyarakat yang ummi (ummiyyun) di dalam Al-Qur’an.
Namun, pelabelan ummi ini bukan berarti masyarakat Arab secara generalis sama sekali tidak mengenal budaya baca tulis alias buta huruf. Di tengah-tengah masyarakat Arab pra-Islam, ada sebagian kalangan yang sudah mengenal huruf dan membudayakan kegiatan membaca dan menulis.
Mereka sudah terbiasa mendokumentasikan berbagai akad perjanjian, jual-beli, utang-piutang, maupun mengabadikan peristiwa yang terjadi kala itu melalui tulisan.
Ketika Islam datang, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ummi tentu saja membutuhkan sahabat-sahabat yang mampu baca tulis untuk membantu beliau dalam dakwahnya, terlebih ketika pengaruh Islam semakin luas. Maka ketika masyarakat Arab tadi masuk Islam, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeleksi mereka-mereka yang mampu baca tulis untuk ditunjuk sebagai juru tulis atau sekretaris negara.
Buku 65 Sekretaris Nabi yang berjudul asli Kuttabun Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini ditulis oleh Prof. Dr. Muhammad Musthafa A’zhami, seorang ahli hadits kontemporer yang dikenal luas lewat kajian kritisnya terhadap teori-teori dari para orientalis Islam.
Penulis, yang salah satu karya monumentalnya sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul Hadits Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, menulis buku ini dengan merujuk pada manuskrip kitab karya al-Baqilani yang berjudul al-Intishar lil Qur’an sebagai sumber utama.
Kitab al-Baqilani tersebut mengulas nama-nama sekretaris nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebagian besar sudah diulas oleh penulis lainnya dengan tambahan beberapa nama baru yang belum pernah diulas oleh penulis sebelumnya.
Berdasarkan frekuensi menulis surat, sekretaris nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diklasifikasikan dalam tiga kelompok; sekretaris yang banyak menulis surat, yang sedikit menulis surat, dan yang namanya tercantum pada kitab-kitab lainnya tetapi tidak disebutkan secara eksplisit sebagai sekretaris.
Nah, metode yang ditempuh penulis dalam menulis buku ini adalah dengan mengumpulkan semua nama yang disebut-sebut sebagai sekretaris nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa mempertimbangkan frekuensi penulisannya.
Penulis juga menambahkan di dalam buku ini beberapa nama yang masih belum diyakini kevalidannya tetapi dicantumkan oleh para penulis kitab-kitab lainnya yang berkonsentrasi pada pembahasan seputar sekretaris nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu saja dengan tujuan untuk mengulas keabsahannya, sehingga pembaca dapat membedakan mana yang valid dan mana yang masih belum diyakini kebenarannya.
Ada 65 orang sekretaris Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang biografinya diulas secara singkat oleh Prof. Dr. Muhammad Musthafa A’zhami. Buku ini dibagi menjadi tiga bagian pembahasan utama, di mana di bagian pertama, penulis mengulas tentang geliat administrasi dan kearsipan di masa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Pada masa itu, bangsa Arab Islam sudah mengenal konsep kesekretariatan yang disebut dengan istilah Diwan. Para sekretaris nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memiliki pembagian tugas masing-masing yang berbeda. Ada yang khusus mencatat Al-Qur’an, ada yang mencatat urusan kenegaraan seperti perjanjian, utang-piutang, dan akad lainnya, serta ada pula bagian penerjemah yang berurusan dengan bahasa asing.
Bagian kedua buku ini membahas tentang sistematika penulisan surat seperti bentuk konsep surat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, penanggalan surat, dan beberapa hal terkait kerangka surat yang dibuat. Sedangkan di bagian ketiga, penulis mengulas biografi singkat 65 para sekretaris nabi yang disusun sesuai urutan huruf hijaiyah.
Dapat dikatakan bahwa biografi yang diulas di buku ini teramat ringkas dan hanya berkaitan dengan geliat tokoh dalam hal surat-menyurat, itu pun tak banyak. Bahkan, beberapa tokoh hanya diulas sedikit saja dikarenakan tidak banyaknya sumber yang membahas kehidupan mereka.
Meskipun 65 biografi di dalamnya diulas cukup singkat, tapi buku ini sebetulnya membuka perspektif baru bagi pembaca dalam mengenal tokoh yang dikenal maupun jarang dikenal orang banyak sebagai sekretaris nabi, yakni orang-orang berilmu dengan potensinya masing-masing.
Sebut saja Ubay bin Ka’ab radhiyallahu’anhu yang menjadi sekretaris pertama dari kalangan Anshar, atau sekretaris paling terkenal bernama Hanzhalah ibnur Rabi’ radhiyallahu’anhu yang menyimpan stempel nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ada juga Az-Zubair ibnul Awwam radhiyallahu’anhu yang mendata harta-harta sedekah atau Zaid bin Tsabit radhiyallahu’anhu yang memegang jabatan hakim (qadhi) sekaligus bertugas menuliskan wahyu Al-Qur’an dan surat-surat yang diperuntukkan kepada para raja. Masih banyak nama lainnya dengan keistimewaan tersendiri.
Selain tiga pembahasan utama di atas, buku ini juga melampirkan sedikit foto-foto manuskrip surat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada beberapa orang yang masih ada jejak peninggalannya, serta gambar contoh inskripsi (tulisan) di masa Arab pra Islam, yang bisa menjadi khazanah tambahan bagi pembaca.
Contoh Halaman Lampiran Gambar
Tidak banyak buku yang mengupas nama-nama sekretaris nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara khusus, apalagi buku terjemahan. Rasanya Saya belum pernah mendapati buku lainnya yang mengupas para sekretaris nabi selain karya Prof. Dr. Muhammad Musthafa A’zhami ini.
Penulisan buku ini didasarkan pula pada manuskrip-manuskrip yang sudah berhasil ditemukan, termasuk yang belakangan, yang pada kitab-kitab sebelumnya tidak termaktub. Dan tidak menutup kemungkinan apabila nantinya ditemukan manuskrip lainnya yang mengemukakan nama-nama lain dari jajaran sekretaris nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Semoga buku ini bisa menambah pengetahuan pembaca tentang sejarah Islam, terutama terkait geliat kearsipan dan administrasi pada masa Arab setelah kedatangan Islam.
Sebagai tambahan, Anda juga bisa membaca buku-buku berikut ini terkait surat, duta dan sekretaris nabi.
Judul: Sifat Shalat Nabi Judul Asli: Sifatush Shalat Penulis: Syaikh Muhammad al-Utsaimin Penerjemah: Umar Mujtahid, Lc Penerbit: Ummul Qura ISBN: 978-602-7637-52-8 Tebal: 296 halaman Tahun Terbit: Oktober 2016 Genre: Agama Islam, Ibadah, Fikih Rating: 5/5
Buku yang membahas cara shalat yang benar pasti sudah banyak sekali diterbitkan oleh berbagai penerbit dan beredar di tengah-tengah masyarakat. Pun sudah banyak pula yang mengulasnya, tentu dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Saya bahkan pernah mengulas sebuah buku sederhana namun padat makna 3,5 tahun lalu dengan judul Sifat Shalat Nabi karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani yang diterbitkan oleh Pustaka Ibnu Katsir, yang saya masukkan ke dalam salah satu buku-buku paling berpengaruh bagi hidup saya.
Kali ini, saya ingin berbagi kegembiraan setelah memperoleh dan membaca buku dengan judul yang sama namun ditulis oleh penulis dan penerbit yang berbeda. Kegembiraan ini tidaklah sama dengan kegembiraan saya mendapatkan makanan enak atau materi berlimpah, melainkan kegembiraan karena mengetahui betapa khazanah ilmu keislaman semakin kaya dan kita sangat dimudahkan dalam mempelajari agama kita sendiri lewat buku-buku berkualitas.
Buku ini, Sifat Shalat Nabi ﷺ , ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dan diterbitkan oleh Ummul Qura, salah satu lini penerbit Aqwam. Seperti kebanyakan buku dengan tema sejenis, buku ini juga mengupas tuntas tentang tata cara shalat yang dicontohkan Nabi Muhammad ﷺ dan hal-hal yang berkaitan dengannya.
Dibagi menjadi 12 bab utama, pembaca akan menemukan ilmu yang bermanfaat tentang shalat, mulai dari makna dan keutamaan shalat, hukum-hukumnya, syarat dan sifat shalat sesuai riwayat dari Rasulullah ﷺ, hingga berbagai kaidah fikih seputar shalat yang umumnya kita jumpai dalam keseharian.
Penulis menyadarkan kita lewat buku ini bahwa nabi mencontohkan banyak posisi atau tata cara shalat agar umatnya bisa menyuburkan sunnah dengan cara yang sama seperti yang dicontohkan. Hal ini membuka mata saya bahwa beberapa perbedaan gerakan shalat ternyata memang ada dicontohkan nabi, tentunya yang sesuai dalil shahih, dan seharusnya kesemuanya itu bisa kita praktikkan dalam keseharian.
Di sinilah letak kunci menyuburkan sunnah yang dimaksud. Jadi bukan berarti kita hanya saklek melakukan cara shalat satu macam saja, melainkan apa yang dilakukan nabi pun hendaknya kita lakukan juga, baik dari segi bacaan maupun gerakannya. Selain itu, Syaikh Muhammad al-Utsaimin juga mengupas kasus-kasus yang sering kita jumpai dan menjadi pertanyaan sehari-hari.
“Setelah tiga kali disuruh mengulangi shalatnya, shahabat Nabi itu pun meminta diajari oleh Nabi. Dengan lemah lembut, beliau pun mengajarkan, “Jika engkau hendak shalat maka sempurnakanlah wudhu, lalu menghadaplah ke kiblat, lalu bertakbirlah.” (HR. Bukhari)
Lantas apa keistimewaan dan bedanya dengan buku bertema sama lainnya? Menurut saya, perbedaan inilah yang paling membuat saya terkesan dibandingkan buku tata cara shalat yang pernah saya baca sebelumnya.
Sifat Shalat Nabi karya Syaikh Muhammad al-Utsaimin terbitan Ummul Qura ini disusun secara ringkas dan sistematis. Kita tidak akan menemukan banyaknya pembahasan tentang perbedaan fikih atau pendapat seputar shalat, yang seringkali membuat pembaca awam atau pemula bingung.
Di buku ini dikupas pendapat jumhur ulama saja, dengan tidak juga meringkas seringkas-ringkasnya, sehingga pembaca dapat dengan mudah memahami secara utuh penjelasan topik yang dimaksud.
Kredit foto: pustakahanan.id
Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan foto gerakan shalat agar memudahkan pembaca melihat secara visual posisi-posisi shalat yang benar dan tidak salah penafsiran. Dari segi penataan isi, buku ini menyuguhkan tulisan yang cukup jelas, tidak terlalu rapat, dan tata letak yang lumayan bagus.
Apalagi sampulnya yang hardcover dan ketebalannya yang tidak terlalu tebal membuat kegiatan membaca semakin menyenangkan karena bisa dibawa-bawa dan dibaca kapan dan di mana saja tanpa khawatir rusak atau lusuh.
Secara keseluruhan, saya paling suka dengan buku Sifat Shalat Nabi edisi ini. Padat, ringkas, praktis dan menyenangkan untuk dibaca. Bahkan menurut saya, buku ini memiliki potensi untuk dibaca berulang-ulang tanpa membosankan.
Seperti yang diperintahkan nabi, bahwa kita hendaknya menyempurnakan shalat, maka buku ini bisa menjadi sarana efektif untuk kita belajar menyempurnakan amalan yang paling pertama dihisab kelak.
Catatan: Bagi Anda yang berminat dengan buku ini juga dapat menghubungi toko buku rekanan kami di nomor Whatsapp 083130117884
Judul: Hafalan Buyar Tanda Tak Pintar
Judul Asli: Al-Musyawwiq Ila Al-Qira’ah wa Thalab Al-‘Ilm
Penulis: Al Imam Abul Faraj Abdurrahman Ibnul Jauzi
Penerjemah: Irwan Raihan
Penerbit: Kuttab Publishing
ISBN: 978-602-8171-13-7
Tebal: 158 halaman
Tahun Terbit: Januari 2016
Genre: Agama Islam, Pendidikan Islam
Rating: 3/5
“Abu Dawud Ath-Thayalisi adalah orang yang banyak hafalannya. Dia seperti Abdurrahman bin Mahdi. Abu Dawud tertimpa penyakit kusta sedang Abdurrahman tertimpa penyakit lepra. Abu Dawud hafal empat puluh ribu hadits, sedang Abdurrahman hafal sepuluh ribu hadits.” (halaman 88)
Membaca petikan di atas barangkali membuat kita berdecak kagum mengetahui bahwa seorang pengidap kusta dan seorang pengidap lepra memiliki kemampuan hafalan yang tak biasa. Bayangkan empat puluh ribu hadits! Menghafal 40 hadits arba’in saja kita mungkin kewalahan, bagaimana pula dengan 40.000 hadits? Masya Allah. Dan itu baru dua orang di antara puluhan penghafal yang diceritakan di buku Hafalan Buyar Tanda Tak Pintar terbitan Kuttab Publishing ini. (more…)