Blog

  • #HUT5BBI: Top 5 Blog Buku Member BBI

    Hut5BBI

    Hampir jam 11 malam, tadinya mau tidur langsung, tapi saya teringat dengan BBI yang sebentar lagi akan bertambah umurnya menjadi 5 tahun. Wah, sudah mau masuk TK! Eh? 😀 Seperti biasa, setiap HUT, BBI selalu mengadakan event yang cukup seru untuk member-membernya, dan hari ini adalah hari pertama rangkaian event tersebut. Awalnya hampir tidak jadi ikut, tapi rasa-rasanya kok ya kurang pas kalau saya tidak ikut berpartisipasi. Di antara kesibukan yang tak jelas *uhuk*, saya memutuskan untuk posting di akhir waktu malam ini 😛 (more…)

  • Hector and the Search for Happiness by François Lelord

    Judul: Hector and the Search for Happiness
    Penulis: François Lelord
    Penerjemah: Gusti Nyoman Ayu Sukerti
    Penerbit: Noura Books
    ISBN: 978-602-385-002-0
    Tebal: 264 hlm
    Tahun terbit: November 2015
    Cetakan: Pertama
    Genre: Fiksi Inspirasional, Fiksi Terjemahan
    Rating: 3/5

    Ada seseorang yang secara materi hidupnya sangat berkecukupan, bahkan bisa dibilang mewah, tapi ternyata menurutnya ia belum bahagia. Ada pula seseorang yang meski dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya, tetapi ternyata ia merasa sendirian dan tidak bahagia.

    Mungkin kita sering mendengar atau melihat kasus-kasus seperti ini di sekitar kita. Mengetahui ini, ternyata perasaan bahagia setiap orang acap kali berbeda parameternya. Lalu, sebenarnya apa yang membuat kita bahagia? Atau kita mungkin sedang bertanya pada diri sendiri saat ini, “Apakah saya sudah merasa bahagia?”

    Pertanyaan: Apakah kebahagiaan hanyalah sebuah reaksi kimia di dalam otak? (halaman 145)

    Apa yang dilakukan Hector di novel Hector and the Search for Happiness ini mungkin secara tak langsung cukup mewakili rasa penasaran sebagian manusia tentang kebahagiaan.

    Sebagai seorang psikiater, Hector sering kali harus mendengarkan keluhan-keluhan pasiennya yang rata-rata berputar pada dua masalah; bahagia atau tidak bahagia.

    Dalam kasusnya sendiri, Hector merasa kurang puas dengan dirinya. Oleh karena itulah, Hector melakukan perjalanan ke berbagai negara di dunia ini untuk mencari tahu dan berusaha memahami apa saja sebenarnya yang membuat orang merasa bahagia atau tidak bahagia.

    Harapannya, ia bisa membantu dirinya dan orang-orang di sekitarnya memecahkan masalah yang sedang mereka hadapi. Ia mengunjungi Cina, Afrika, Amerika Serikat, dan negara lainnya, bertemu banyak orang—kenalan baru maupun teman lamanya—, dan mencatat hasil pengamatannya di sebuah buku catatan. Apa saja jawaban yang berhasil ia temukan tentang kebahagiaan?

    Hector dan The Alchemist

    Gaya penceritaan hasil terjemahan di novel ini cukup ringan dan mengalir. Saya bisa menikmati alur ceritanya dengan sangat baik. François Lelord menggambarkan karakter Hector sebagai orang yang muda, cerdas, profesional, baik hati, dan sangat tertarik dengan diri manusia.

    Yah, meskipun ada satu sisi Hector yang juga tidak saya suka. Karakter dirinya yang mudah terlibat affair dengan wanita yang ditemui di satu dua negara yang dikunjunginya. Apa itu cara membuatnya bahagia? Kebahagiaan semu mungkin, ya?

    Membaca novel ini mengingatkan saya pada sosok Santiago di novel The Alchemist karya Paulo Coelho. Sama halnya seperti Hector, Santiago pun melakukan perjalanan jauh untuk mengejar mimpinya mendapatkan harta karun. Menurut saya, nilai hidup yang ingin disampaikan kedua novel ini hampir sama substansinya.

    Ada satu perkataan seorang biksu yang sangat saya sukai dan sejalan dengan apa yang diajarkan di dalam agama saya.

    “Ada satu faktor penentu kebahagiaan yang hilang dari daftar Anda: cara orang memandang sesuatu. Singkat kata, orang yang menganggap gelasnya setengah penuh sudah pasti merasa lebih bahagia dibandingkan orang yang menganggap gelasnya setengah kosong.” (halaman 208)

    Cara kita memandang sesuatu memang akan menentukan apakah kita merasa bahagia atau tidak. Kita bisa lihat di sekitar kita bahwa ada orang-orang yang kehidupannya sulit tetapi ia merasa selalu bahagia. Semua itu karena ia merasa bersyukur terhadap apa yang dimilikinya dan selalu memandang bahwa Tuhan telah memberikan jalan hidup masing-masing orang.

    Biasanya, orang-orang yang dekat dan taat kepada Yang Maha Pencipta cenderung lebih mudah merasa bahagia dibandingkan yang tidak. Mereka tentu saja memiliki pegangan yang kokoh, yang tidak ada sesuatu pun pantas menggantikannya. Seperti juga yang disebutkan di dalam kitab Al-Qur’an tentang jalan kebahagiaan,

    “Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” (QS. Ar-Ra’d : 29)

    “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, …” (QS. Ibrahim: 7)

    Gaya Penggambaran Latar yang Unik

    Hal lainnya yang menarik dari novel ini adalah cara penulis menyampaikan latar tempat dan negara yang dikunjungi Hector. François Lelord tidak secara gamblang menyebutkan nama negara apa yang dikunjungi Hector selain Cina, atau bahkan negara asal Hector sendiri, atau tempat-tempat yang didatanginya.

    Penulis hanya mendeskripsikan ciri-ciri khas negara atau tempat tersebut. Saya sendiri sering kali menebak-nebak negara atau tempat apa yang dimaksudkan.

    Kalau di atas tadi saya sebutkan Afrika dan Amerika Serikat, itu karena saya dapati penyebutan negara tersebut di sampul belakang novel ini. Kalau tidak disebutkan, mungkin saya kesulitan menebak negara-negara yang dikunjungi Hector atau negara asalnya sendiri. Unik!

    Selain inspiratif, novel ini juga sarat dengan ilmu psikologi. Ini tentu saja sangat berpengaruh dari latar pendidikan penulisnya, François Lelord, yang memang mendalami ilmu pengobatan dan psikologi.

    Di dalam novel ini juga ada diselipkan satu dua sindiran, opini, dan wacana yang cukup kontroversial di masyarakat dunia yang bagi kita menjadi semacam selingan ringan tapi berbobot. Semoga buku serial Hector yang lainnya segera diterjemahkan juga.

    Seberapa Bahagia Kita?

    Lantas muncul pertanyaan, “Seperti apa bahagia bagi saya?” Hmm … pertanyaannya dalam, sedalam makna yang ingin disampaikan *ceileh*.

    Sebenarnya apa yang didapatkan Hector tentang sebab-sebab bahagia itu sudah pas. Tambahannya bagi saya, bahagia yang ingin saya capai itu tentunya yang sejalan dengan apa yang dimaui oleh Pencipta saya. Bahagia di dunia dan bahagia di akhirat.

    Bahagia di dunia ini bagi saya adalah bisa menjalani hari-hari dengan hati yang tenang dan lapang serta bersama-sama orang yang kita sayangi berlari menjemput ridho Allah Ta’ala. Tujuannya tentu saja supaya kita bisa beroleh bahagia juga di akhirat. Amin.

  • Tantangan Baca Buku tentang Buku

    Tantangan Baca Buku tentang Buku

    Bermula dari postingannya mas Tezar di forum BBI tentang ‘Buku tentang Buku’, saya jadi tergerak ingin membuat semacam proyek tantangan baca buku tentang buku. Tema buku tentang buku yang saya maksudkan di tantangan baca ini adalah buku yang topiknya membahas tentang dunia buku. Tujuan saya membuat proyek ini adalah untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang sejarah buku dan perkembangan dunia literasi, seberapa banyak buku yang membahas tentang buku, juga sekaligus menambah semangat untuk membaca dan belajar. (more…)

  • Aplikasi Moon+ Reader Pro untuk Membaca dan Mengelola Buku Elektronik

    Sudah beberapa bulan ini saya sedikit galau memutuskan apakah sudah waktunya saya membeli e-book reader berbasis e-ink atau belum. Selama ini saya hanya menggunakan tablet Android untuk membaca buku elektronik yang saya koleksi, yang kebanyakan berformat EPUB dan PDF. Kekurangannya, mata saya cepat lelah karena cahaya dari layar cukup kuat. Saya lupa dulu pakai aplikasi apa, yang pasti tidak ada fitur pilihan untuk perlindungan mata. Baterai tablet juga cepat habis jika saya pakai untuk membaca dalam waktu lama. Karena alasan inilah kegalauan saya untuk membeli e-reader bermula.

    Dua pilihan e-reader yang saya pertimbangkan adalah Kobo dan Kindle. Saya sudah cari-cari dan bandingkan informasi dan review teman-teman tentang kedua produk ini, tapi ternyata setelah saya pertimbangkan matang-matang, sepertinya kedua produk ini juga belum cocok untuk kebutuhan saya saat ini. (more…)

  • Pemenang Akhir Tahun Nonfiction Reading Challenge 2015

    Pemenang Akhir Tahun Nonfiction Reading Challenge 2015

    Alhamdulillah, akhirnya berkesempatan juga saya mengumumkan pemenang akhir tahun Nonfiction Reading Challenge 2015. Mohon maaf atas keterlambatan ini. Host-nya sok sibuk hehe 😛

    Dari list review yang masuk di database saya, ternyata hampir rata-rata reviewnya di semester kedua ini lebih banyak daripada semester satu sebelumnya. Salah satu yang membuat saya terlambat membuat postingan pengumuman ini adalah karena saya harus mengecek satu-satu link-link yang sudah disubmit. Khawatir ada yang khilaf atau terlewat seperti semester lalu. Sambil ngecek ya sambil baca juga tentunya 😀 Buku-buku yang direview bagus-bagus. Ada yang tebal, ada yang tipis. Variasinya juga banyak. Ada yang kategori agama, sejarah, bisnis, pendidikan, bahasa, komunikasi, politik, dan motivasi. Alhamdulillah. (more…)

  • Pennies for Books 2016

    Saya selalu bersemangat setiap kali menuliskan postingan event receh untuk buku ini, soalnya seru sih 😀 Tahun lalu, saya berhasil menyelesaikan proyek Receh untuk Buku 2015 yang diadakan oleh mbak Maya Floria dengan hasil sejumlah Rp. 216.000. Dibandingkan dengan hasil receh tahun 2014, memang tahun 2015 ini lebih sedikit, hampir separuhnya, tapi saya tetap senang ^^ Alhamdulillah.

    Hasil Receh untuk Buku 2015
    Hasil Receh untuk Buku 2015

    (more…)

  • Prioritas dalam Ilmu, Amal dan Dakwah oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awaisyah

    Prioritas dalam Ilmu, Amal dan DakwahJudul: Prioritas dalam Ilmu, Amal dan Dakwah
    Penulis: Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awaisyah
    Judul Asli: Awwaliyyaatul Ilmi wal Amali wad Da’wah
    Penerbit: Pustaka Imam Asy-Syafi’i
    ISBN: 978-602-8062-00-8
    Tebal: 177 hlm
    Tahun terbit: 2007
    Cetakan: Pertama
    Genre: Nonfiksi, Agama Islam, Ibadah, Adab dan Akhlak
    Rating: 4/5

    Ilmu, amal dan dakwah, manakah yang lebih prioritas bagi seorang muslim? Ilmukah? Dakwahkah? Ataukah amal yang lebih penting? Untuk menjawab pertanyaan ini, Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awaisyah menuliskan risalahnya dalam satu buku ringkas berjudul Prioritas dalam Ilmu, Amal dan Dakwah, yang dibagi menjadi 20 bab.

    Salah satu poin penting yang dibahas buku ini adalah perbandingan porsi antara menuntut ilmu agama yang dibutuhkan untuk melaksanakan ibadah haruslah lebih besar dibandingkan dengan porsi pekerjaan untuk mencari nafkah. Bekerja keras mencari nafkah yang halal untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mencegah kita dari meminta-minta juga adalah ibadah, tetapi bukan berarti pekerjaan itu menyita semua waktu kita sehingga lalai melaksanakan shalat, belajar ilmu agama, melakukan ibadah wajib dan sunnah lainnya, atau berdakwah mengajak orang lain kepada yang ma’ruf. Ada satu hadits nabi yang saya baca di buku ini dan sangat bagus nasihatnya, masya Allah …. (more…)

  • Around the World 2016

    Around The World 2016

    Challenge yang satu ini cukup seru. Saya ikut perdana tahun lalu dan sangat menyenangkan menandai peta kita sendiri. Dikarenakan tahun 2015 lalu saya cuma bisa menandai tempat di bagian Asia Timur, Asia Selatan dan sebagian Amerika saja, maka tahun ini saya mau ikut lagi. Target saya tahun ini harus bisa menambah tanda di benua Afrika, Asia Barat, dan Eropa lewat buku-buku yang saya baca. (more…)

  • The Great Gilly Hopkins oleh Katherine Paterson

    Judul: The Great Gilly Hopkins
    Penulis: Katherine Paterson
    Penerjemah: Sapardi Djoko Damono
    Penerbit: PT Elex Media Komputindo
    ISBN: 979-20-1769-0
    Tebal: 184 hlm
    Tahun terbit: 2000
    Cetakan: Pertama
    Genre: Fiksi Anak, Fiksi Terjemahan
    Rating: 3/5

    Galadriel Hopkins lebih sering dipanggil Gilly. Di usianya yang kesebelas tahun, Gilly sudah berkali-kali pindah sana-sini dikarenakan tingkahnya yang sangat sulit diatur. Meskipun ia memiliki seorang ibu, Courtney, tapi ibunya tidak tinggal bersama Gilly.

    Sejak kecil, Gilly menjadi tanggungjawab Dinas Sosial lewat perantara Nona Ellis. Ia pernah menjadi anak angkat beberapa keluarga, namun Gilly terlalu cerdik dibandingkan anak seusianya.

    Hanya satu keinginan terbesar Gilly, yaitu bertemu ibu kandungnya dan tinggal bersamanya. Karena itulah, Gilly sering sekali melakukan hal-hal yang membuat keluarga angkatnya tidak betah sehingga ia bisa keluar dari rumah mereka.

    Gilly pindah (lagi) ke rumah bu Trotter, seorang janda berbadan sangat besar dan buta huruf. Trotter memiliki anak asuh yang tinggal bersamanya. Namanya William Ernest (W.E) yang agak abnormal.

    Bersama tetangga mereka, pak Randolph, yang memiliki perpustakaan berisi buku yang sangat banyak, keluarga baru ini sering menghabiskan waktu bersama yang sebenarnya tidak terlalu disukai Gilly.

    Di sekolah, Gilly mendapat teman baru yang sedikit aneh dan guru yang agak unik bernama bu Harris. Ia juga masuk di kelas yang isinya siswa-siswa unik. Lengkaplah sudah kejengkelan Gilly. Pada dasarnya, ia tidak ingin menjalani kehidupan baru tersebut.

    Suatu ketika, seorang wanita tua yang mengaku sebagai neneknya Gilly datang ke rumah bu Trotter dan berniat ingin membawa Gilly pulang ke rumahnya. Bukannya senang, Gilly malah merasa sedih dan ketakutan.

    Apa sebenarnya yang akan terjadi pada Gilly? Apakah Gilly akan meninggalkan keluarga baru yang terlanjur disayanginya itu? Ataukah ia akan ikut dengan nenek? Yah, inilah jawaban yang harus pembaca cari dengan membaca novel seru ini.

    Karakter Anak yang Aktif

    Karakter Gilly di novel ini digambarkan sebagai anak yang cerdas dan pemberani, tetapi sulit diatur. Ia memiliki kemauan keras untuk sesuatu yang benar-benar diinginkannya. Gilly juga sosok yang humoris dan aktif, tetapi ia juga suka mengomel di dalam hatinya jika menemukan hal-hal yang tidak ia sukai.

    Jauh di lubuk hatinya, sebenarnya Gilly adalah anak yang baik, hangat, dan penuh kasih sayang. Hanya saja, kesendiriannya dan perasaan ditinggalkan oleh ibunya yang tidak sesuai harapan membuka sisi memberontak dalam dirinya.

    Membaca novel ini cukup membangkitkan banyak perasaan dalam diri saya. Kadang-kadang saya tertawa membaca kejahilan yang dilakukan Gilly. Sesekali saya menangis karena fragmen sedih yang dimunculkan tokoh-tokohnya.

    Pernah juga saya merasa geregetan karena ulah si Gilly. Saya merasa simpati dan kasihan pada sosok Gilly. Duh! Campur aduk jadi satu deh mengikuti aktivitas-aktivitas seru Gilly.

    ***

    Novel ini diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono. Hasil terjemahannya cukup enak dibaca meskipun ada beberapa bagian yang agak sedikit kaku, barangkali?

    Hanya ada satu poin yang cukup mengganggu bagi saya pribadi, yaitu bertebarannya kata “br*ngsek” yang diucapkan oleh Gilly sebagai wujud kekesalan atau pemberontakannya. Menurut saya kata-kata ini agak sedikit kurang pas jika buku ini diperuntukkan sebagai bacaan anak-anak atau remaja.

    Tapi, yah, novel ini benar-benar menampilkan realita kehidupan seorang foster child apa adanya. Oh, iya, di buku ini, nama penulis yang dituliskan di sampulnya adalah Katherina, bukan Katherine. Mungkin sedikit kesalahan penulisan, ya?

    The Great Gilly Hopkins pertama kali diterbitkan tahun 1978. Novel ini berhasil menyabet National Book Award Winner tahun 1979 untuk kategori Children’s Literature. Selain itu, buku ini juga mendapat penghargaan dari Christopher Award (1979), Jane Addams Award (1979), dan Newbery Honor (1979).

    Katherine Paterson sendiri adalah seorang penulis kelahiran Cina-Amerika dan dikenal luas sebagai penulis novel anak maupun remaja. Dua judul buku lainnya yang juga cukup terkenal di Indonesia adalah “The Master Puppeteer” dan “Bridge to Terabithia“.

    Kabarnya, novel The Great Gilly Hopkins akan diangkat juga ke film layar lebar tahun 2016 ini.

  • Fantasy, Science Fiction, Dystopia Reading Challange 2016

    Fantasy, Science Fiction, Dystopia Reading Challenge 2016

    Tantangan lagi nih. Kali ini dari Raafi. Tantangannya adalah membaca dan mengulas buku-buku bergenre fantasy, science fiction, dan dystopia. Wih, tantangan yang cukup menantang! Secara buku-buku dari genre ini lumayan bikin kita serius nampang di depan bukunya 😀 Saya juga mau mengurangi timbunan baca dari genre ini berhubung punya juga beberapa bukunya di rak. (more…)