Author: lensabuku

  • Ketika Reading Slump Menghampirimu

    Saya tidak tahu apa padanan kata yang tepat di dalam Bahasa Indonesia untuk menyebutkan istilah reading slump. Jadi, saya akan tetap menggunakan istilah tersebut dalam bahasa Inggris.

    Reading slump pada intinya bisa diartikan sebagai keadaan di mana seseorang sedang tidak bisa atau tidak ingin membaca satu buku pun. Ini sebuah mimpi buruk bagi para pecinta buku.

    “Not being able to pick up a book and read because you just can’t, you just can’t read.” – urbandictionary.com

    Yup. Tak bisa membaca. Begitu saja. Tak ada alasan. Tak ada halangan. Tiba-tiba saja engkau hanya bisa menatap jajaran buku-buku di rak tanpa rasa antusias atau motivasi untuk mengambil dan membacanya. Tiba-tiba saja engkau tak bisa menangkap satu huruf pun dari buku yang sedang ada di tanganmu untuk dibaca. Pokoknya, tiba-tiba saja kita kehilangan selera untuk membaca.

    Saat ini, itulah yang sedang saya hadapi. Sudah hampir tiga minggu saya terhenti membaca. Barangkali karena lelah dengan berbagai kesibukan atau sedang kurang konsentrasi. Entahlah.

    Saya sendiri sangat mencemaskan keadaan ini. Saya pikir ini hanya perasaan biasa saja. Biasalah, mungkin sedang jenuh atau sibuk sehingga tidak sempat untuk membaca.

    Tetapi setiap kali saya menyentuh buku untuk dibaca, satu dua halaman tak pernah sampai dilewati, lalu saya lanjutkan dengan tidur dan beristirahat. Karena itu pulalah, hingga saat ini belum ada buku yang selesai saya baca dan ulas. Ujung-ujungnya tentu saja blog ini jadi korban. Jarang diperbaharui 😀

    Untuk mengatasi hal ini, saya mencari-cari infonya di internet. Dari hasil-hasil penelusuran, saya menemukan beberapa tips untuk mengatasi reading slump. Beberapa di antaranya sudah saya padukan dan terapkan. Lumayan berhasil lah menyembuhkan sedikit penyakit reading slump saya ini.

    Menyusun Ulang Rak Buku

    Ini adalah poin yang paling banyak direkomendasikan. Untuk mengatur ulang mood kita, menyusun, membersihkan, atau mengatur ulang timbunan buku kita ternyata cukup ampuh untuk menyegarkan badan dan pikiran. Poin ini belum saya coba. Capek booo’ 😛 Belum ada tenaga, he he 😀

    Baca Buku Favorit

    Tak dipungkiri, membaca buku genre favorit kita mungkin bisa mengembalikan selera membaca. Nah, cara ini sudah saya coba, tetapi hanya berhasil menyembuhkan sedikit saja reading slump saya.

    Membaca Genre Lain

    Mencoba genre lain yang bukan selera kita barangkali bisa menjadi semacam katalisator untuk mengembalikan bacaan kita ke track-nya. Ibarat makanan, kalau kita biasa suka makanan asin, ketika mencoba makanan manis, kita akan merindukan kembali makanan asin kita. Seperti itu pula dengan buku, barangkali.

    Baca Buku Tipis
    Membaca buku yang tipis atau habis dibaca sekali duduk juga bisa membangkitkan kembali selera membaca kita.

    Berkunjung ke Blog Buku Teman
    Cara ini lumayan menambah motivasi untuk update blog atau mendapatkan info buku-buku bagus yang diresensi teman sesama blogger buku.

    Bertemu dengan Teman Pecinta Buku
    Yah, cara ini cukup efektif bagi saya. Bertemu dengan teman-teman yang juga penyuka buku cukup ampuh untuk menyegarkan kembali ingatan kita akan buku, sebab di pertemuan ini biasanya yang dibahas seputar buku dan keseruan-keseruan lainnya berkaitan dengan buku. Istilahnya menggosip buku lah ya haha.

    Selain membahas tentang buku, ketemu teman-teman yang punya minat sama juga lumayan menambah motivasi dan semangat. Demi menyembuhkan reading slump saya, ternyata ada teman yang ingin meminjam buku komik Team Medical Dragon. Gayung bersambut, saya pun ketemuan dengan mak Putri di Gramed Gajah Mada, trus mampir ke PH makan siang hihi. Lumayan bikin mood balik lagi ^^

    Baca Bareng Teman
    Baca bareng seseorang mungkin bisa mengembalikan mood baca juga. Atau buat semacam challenge membaca bersama, seperti estafet baca atau readaton.

    Ke Acara-Acara Buku
    Mengunjungi acara-acara yang membahas buku juga bisa menjadi alternatif untuk menyembuhkan reading slump karena di sana kita akan bertemu dengan orang-orang dengan hobi yang sama dan mendengarkan diskusi atau bahasan seputar buku.

    Ke Toko Buku atau Perpustakaan
    Saya pergi ke toko buku untuk melihat-lihat info buku terbaru. Sepanjang perjalanan ke tobuk, saya membaca sebuah buku di dalam angkot. Sengaja saya menggunakan angkot supaya perjalanannya panjang, sehingga saya memiliki cukup waktu untuk membaca buku hehe 😀 Cara ini sangat efektif mengatasi reading slump.

    Take a Break
    Yah, kadang kala, memang kita perlu berhenti sejenak untuk mengambil nafas. Beristirahat dan menikmati hari tanpa memikirkan yang lain-lain untuk relaksasi. Tidur atau beristirahat dengan cara lainnya bisa jadi akan mengembalikan energi kita dari kelelahan. Jika tubuh fit, kegiatan membaca pun rasanya lebih maksimal.

    Saya sepertinya memang harus mengambil poin terakhir ini. Take a break, karena memang kondisi fisik dan pikiran saya perlu diistirahatkan sebentar. Semoga saya tidak terlalu lama tenggelam di dalam lumpur stagnansi membaca 🙂

  • Animal Farm oleh George Orwell

    Judul : Animal Farm
    Penulis: George Orwell
    Penerjemah: Bakdi Soemanto
    Jumlah halaman: iv + 144 hlm
    Penerbit: Bentang
    Cetakan: I
    Tahun terbit: Oktober 2016
    Edisi: II
    ISBN: 978-602-291-282-8
    Genre: Distopia
    Rating: 4/5

    Hampir sebagian besar manusia menyukai kebebasan. Hidup di luar tekanan, perintah, atau aturan. Bebas. Tidak terikat. Bisa melakukan apa saja yang ia suka. Pun sama halnya dengan para binatang di Peternakan Manor yang sudah sangat muak dengan kehidupan mereka di bawah tirani manusia.

    Mereka dieksploitasi telurnya, susunya, bulunya dan tenaganya untuk kepentingan manusia semata. Setelah itu? Habis manis sepah dibuang. Mereka akan berakhir di meja-meja makan manusia.

    Merasa terkekang, akhirnya pemberontakan terhadap manusia terjadi juga. Dengan segala daya dan upaya, para binatang yang terdiri dari babi, kuda, burung, angsa, ayam dan hewan lainnya ini berhasil menghadapi senjata dan kebrutalan manusia.

    Kocar-kacir tunggang-langgang si Jones tua pemilik peternakan dan anak buahnya itu terpaksa hengkang dari tanah miliknya sendiri. Dikalahkan binatang, tentu saja. Sekarang, peternakan itu menjadi milik binatang. Hore!

    Laiknya perputaran kekuasaan di manapun berada, kepemimpinan Jones tergantikan oleh dua babi cerdas bernama Snowball dan Napoleon.

    Binatangisme, begitulah prinsip dan ruh perjuangan para binatang ini. Sudah saatnya binatang berkuasa atas dirinya sendiri, bekerja sepenuh hati siang dan malam pun untuk dirinya sendiri.

    Namun, sayang seribu sayang, kehidupan berdemokrasi para binatang ini tak bertahan lama. Bukankah dua kepala dalam satu tampuk kepemimpinan tidak akan mungkin bersatu?

    Menyingkirkan atau disingkirkan, itulah pilihan bagi kedua babi tersebut. Siapa yang cepat mengambil keputusan, maka dialah yang akan mendapatkan. Kehidupan peternakan yang tadinya sama rata dan sama rasa itu kini berbelok menjadi tirani.

    Benarlah apa yang dikatakan pepatah, “Menang jadi arang, kalah jadi abu.” Menang atau kalah, binatang-binatang ini tetap sama-sama menderita. Bedanya, kini penderitaan mereka disertai sedikit kebahagiaan hati bahwa hasil keringat yang mereka keluarkan adalah untuk diri mereka sendiri.

    Bagaimana nasib akhir Peternakan Binatang di bawah kepemimpinan Napoleon si babi tiran? Gebrakan politik apa saja yang ia lakukan? Apakah akan terjadi pemberontakan lanjutan atau tidak dan apa yang terjadi pada Snowball kemudian akan dijawab oleh Orwell dalam alegori politik ini dengan cara yang cukup menggelitik.

    Alegori Binatangisme

    Animal Farm diterbitkan pertama kali di Inggris tahun 1945, ketika Perang Dunia II terjadi. Orwell yang seorang sosialis demokratik menulis novel ini sebagai satire atas totaliterisme Uni Soviet di bawah kepemimpinan Stalin.

    Manuskrip novel ini awalnya ditulis tahun 1943-1944. Sebagian penerbit di Inggris dan Amerika menolak naskahnya karena khawatir membuat marah aliansi Inggris, Amerika Serikat dan Uni Soviet kala itu.

    Prinsip Binatangisme di dalam novel ini sebenarnya lebih bisa dikatakan sebuah alegoris dari prinsip Komunisme, di mana sebuah perubahan sosial hanya akan berhasil apabila kaum proletar, dalam hal ini para binatang, melakukan perjuangan lewat partai yang dicetuskan oleh sang pemimpin, Napoleon. Lewat partai ini, Napoleon dengan mudahnya menggiring pendapat para binatang sesuai kemauannya.

    Ada tujuh aturan yang dibuat dalam Binatangisme, yang pada awalnya ditujukan Snowball untuk mempersatukan para binatang dalam perlawanan terhadap manusia lewat pelarangan melakukan, menyerupai dan mengikuti cara dan gaya hidup manusia.

    Di kemudian hari, tujuh aturan ini diubah oleh Napoleon untuk mengakali para binatang. Pada bagian ini, saya melihat Orwell ingin menunjukkan betapa mudahnya prinsip politik diubah menjadi propaganda yang sangat halus untuk membodoh-bodohi atau mengakali binatang.

    Dengan kata lain, Orwell ingin menunjukkan betapa mudahnya propaganda totaliter dapat mengontrol pendapat orang-orang di negara demokratis, sehingga yang tadinya berpendapat A bisa berubah haluan menjadi B dengan cara yang paling halus sekalipun tanpa disadari.

    Bandit Kekuasaan

    Membaca Animal Farm membuat saya menarik sebuah refleksi bahwa novel ini akan sangat relevan sampai kapanpun, seperti halnya novel Orwell yang lain, 1984, karena isu yang diangkatnya akan selalu ada di tengah-tengah kehidupan kita.

    Seorang pemimpin yang otoriter, seorang tiran, akan dapat digulingkan oleh gerakan massa yang terkoordinir dan memiliki satu tujuan yang sama di bawah payung demokrasi. Selanjutnya sudah lumrah bahwa akan ada pemimpin baru yang menggantikannya dengan semangat baru, semangat perubahan, pada awalnya.

    Masalahnya, tampuk kekuasaan itu sungguh sangat menggoda iman, Tuan. Ia bisa memabukkan, seperti yang disebutkan di sampul belakang novel ini, membuai para pemiliknya untuk berubah haluan dengan sangat esktrem. Tampuk kekuasaan itu ibarat mata pedang, jika tak pandai-pandai menjaganya, ia bisa menghancurkanmu.

    Orang-orang inilah yang kemudian lebih tepat disebut bandit kekuasaan yang memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya. Umumnya, rakyatlah yang merasa dirugikan dan dieksploitasi untuk mengenyangkan perut mereka. Dan ini sudah banyak terjadi di dunia dalam rentang sejarah yang panjang.

    Kondisi ini tidak hanya terjadi dalam level negara, tetapi juga pada level sederhana organisasi di segala jajaran lini kehidupan kita. Di mana ada kepemimpinan, di situ ada peluang munculnya Napoleon-Napoleon baru.

    Bahkan, karakter Napoleon ini dapat dengan mudah kita temukan di dalam pribadi-pribadi di sekitar kita. Maka, menurut saya, Animal Farm akan menjadi sebuah karya yang evergreen dan sebuah referensi refleksi yang cukup menarik bagi siapa saja agar tetap mawas diri, bercermin dan bertanya dalam hati, “Apakah saya ingin menjadi Napoleon baru?”

    “Sekarang, Kamerad, apa sih, sifat kehidupan kita? Mari kita hadapi: hidup kita ini sengsara, penuh kerja keras, dan pendek. Kita lahir, kita diberi begitu banyak makanan, sehingga menjaga napas dalam tubuh kita, dan di antara kita yang mampu dipaksa kerja dengan seluruh kekuatan kita sampai atom terakhir kekuatan kita; dan segera setelah kegunaan kita berakhir, kita disembelih dengan cara yang keji.

    Tak seekor binatang pun di Inggris yang tahu arti hidup bahagia atau waktu senggang sesudah ia berusia satu tahun. Tidak ada satu ekor binatang pun di Inggris ini yang bebas. Hidup seekor binatang supersengsara dan penuh perbudakan: ini adalah kenyataan yang sebenar-benarnya.”

    (halaman 5)
  • People of the Book oleh Geraldine Brooks

    Judul: People of the Book
    Judul Asli: People of the Book
    Penulis: Geraldine Brooks
    Penerjemah: Femmy Syahrani
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    ISBN: 978-602-03-1447-1
    Tebal: 504 halaman
    Tahun terbit: 2015
    Cetakan: Kesatu
    Genre: Fiksi Sejarah, Buku tentang Buku
    Rating: 4/5

    Buku langka, terlepas dari isi dan pemikirannya, menghubungkan kita dengan sejarah masa lampau, pun dengan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Sebuah buku, tanpa sepengetahuan kita secara kasat mata, barangkali saja sudah menyentuh entah berapa banyak tangan, dari yang menuliskannya, membacanya, menelaahnya, melindunginya, hingga yang menghancurkannya.

    Dari tangan ke tangan, dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, dari satu tempat ke tempat lainnya hingga saat ini, buku telah berbicara kepada kita, dalam diam dan hening, bahwa ia telah diwariskan sedemikian rupa untuk menyampaikan kisah-kisah di balik keberadaannya.

    Kisah yang barangkali mampu menyadarkan kita tentang suatu hal penting dalam hidup, apapun itu. Geraldine Brooks mengajarkan saya tentang hal ini lewat novelnya yang berjudul People of the Book.

    Buku ini mengisahkan tentang seorang pakar buku langka yang bernama Hanna Heath dalam menangani konservasi Haggadah Sarajevo yang cukup kontroversial sejarahnya.

    Hanna, lewat keahliannya menganalisa, kemudian menemukan beberapa jejak masa lalu dari haggadah tersebut. Serpihan sayap serangga, sehelai bulu halus, bekas penjepit dan tanda mawar, noda dan garam, seolah semua itu ingin menyampaikan kisahnya masing-masing mengapa mereka ada di dalam haggadah itu dan sudah berapa jauh perjalanan serta kesulitan yang dialaminya.

    Dari hasil penemuannya, Hanna kemudian mulai merangkai satu demi satu misteri buku tersebut; Seorang muslim Bosnia yang mempertaruhkan nyawanya dan keluarganya untuk menjaga buku itu di tahun-tahun ketika Nazi berkuasa; Seorang pastor Katolik dan rabi Yahudi yang mencoba menyelamatkan buku itu dari api pembakaran Inkuisisi gereja; Seorang penulis yang terpaksa meregang nyawa dan kehilangan keluarganya demi menambahkan teks pada buku itu; Misteri seorang musawwir yang melukis ilustrasi indah terlarang tersebut di Sevilla tahun 1480.

    Semua hipotesis ini membawa Hanna pada pencarian jati dirinya sendiri dan juga orang-orang yang ia cintai dan, pemalsuan karya seni, tentu saja.

    “Kalian semua, dari dunia yang aman, dengan kantong udara mobil dan kemasan antirusak dan diet bebas lemak. Kalianlah yang percaya takhayul. Kalian meyakinkan diri bahwa kematian dapat dielakkan, dan kalian tersinggung saat menyadari keadaannya tidak begitu.

    Sepanjang perang berkecamuk di negara kami, kalian duduk di apartemen kecil yang nyaman dan menonton kami, berdarah-darah dalam berita televisi. Dan kalian berpikir, “Seram sekali!” lalu bangkit dan membuat secangkir lagi kopi mahal ….

    Dalam hidup ini sering terjadi hal buruk. Beberapa hal yang sangat buruk menimpaku. Dan aku tidak berbeda dengan ribuan ayah lain di kota ini yang anaknya menderita. Aku menerima kenyataan itu. Tidak semua cerita berakhir bahagia .…”

    (halaman 59)

    Sebenarnya apa yang membuat buku itu sangat dicari-cari dan dilindungi, sampai-sampai banyak nyawa telah terlibat? Perjalanan panjang apa yang telah dialami Haggadah Sarajevo ini hingga mampu selamat dan akhirnya bermuara di Museum Nasional Bosnia dan Herzegovina di Sarajevo saat ini?

    People of the Book akan mengajak kita pada petualangan yang sangat sulit untuk diacuhkan begitu saja tanpa menyesapi kisah-kisah di dalamnya.

    People of the Book terinspirasi dari sejarah Haggadah Sarajevo, yang merupakan sebuah manuskrip Ibrani misterius berisi tulisan tangan dengan ilustrasi indah tentang perayaan Paskah Yahudi. Meskipun beberapa fakta sejarah yang dicantumkan penulis dalam novel ini benar adanya, tetapi cerita maupun penokohan yang ada hanyalah fiktif belaka.

    Brooks menulis kisahnya dalam plot yang melompat-lompat. Alur cerita yang maju mundur secara bergantian sesuai dengan tahun atau masa artefak-artefak ditemukan di dalam buku dan masa sekarang di mana Hanna hidup membuat kita merasa dekat dengan sejarahnya itu sendiri. Hasil penerjemahan dan suntingan versi terjemahan ini juga menurut saya sangat bagus.

    Menurut sejarahnya, naskah Haggadah Sarajevo ditulis di lembaran kulit anak sapi yang sudah dikelantang dan diberi pewarnaan emas dan perak. Haggadah ini merupakan salah satu haggadah tertua dari Haggadah Yahudi Spanyol di dunia yang berasal dari Barcelona tahun 1350, dan salah satu buku Yahudi abad pertengahan berilustrasi paling awal yang pernah muncul.

    Dikatakan kontroversial karena buku ini melibatkan ilustrasi makhluk hidup, yang sejatinya menggambarnya adalah larangan bagi agama Yahudi dan Islam. Pun dengan kisah-kisah di dalam ilustrasinya yang juga kontroversial menurut Kristen Katolik karena berseberangan dengan alkitab Injil dan keputusan gereja pada masanya.

    Tak banyak yang bisa diketahui dari pembuatan buku ini, kecuali bahwa buku ini dibuat di Spanyol sekitar pertengahan abad ke-14, menjelang berakhirnya masa Convivencia, di mana saat itu, umat Yahudi, Kristen dan Islam hidup berdampingan secara damai.

    Kisah di buku ini indah. Menurut saya, People of the Book ingin menunjukkan bahwa atas nama pelestarian peradaban, termasuk benda-benda peninggalan sejarahnya, siapapun itu orangnya, apapun agamanya, kapan pun masa kehidupannya, selama ia mencintai sejarah dan ingin agar sejarah itu diketahui, hampir pasti akan mencoba melindunginya dan mewariskannya sampai generasi terakhir.

    Lewat analisa dan konservasi sebuah buku, kita bisa mendapatkan percikan informasi sejarah tentang lingkungan tempat buku itu berada, bagaimana orang-orang yang membawanya, peristiwa sejarah apa yang saat itu terjadi, pengaruh apa saja yang disebabkan oleh keberadaan buku tersebut, dan lain sebagainya.

    Seperti rantai yang saling terhubung, sejarah masa lampau dan masa kini pun terhubung sebagai sebuah rangkaian, begitu pula dengan sejarah yang akan terjadi di masa depan. Generasi berikutnya berhak tahu apa yang telah terjadi pada generasi-generasi sebelumnya untuk dijadikan pelajaran dan diambil hikmahnya.

    Terminologi ‘People of the Book‘ kalau saya baca defenisinya lebih kepada ahli kitab atau istilah untuk penganut agama yang dibawa oleh nabi Ibrahim alaihissalam, yang kemudian diteruskan oleh Musa alaihissalam dan Isa alaihissalam yakni Yahudi dan Nasrani, sebelum kedatangan Islam yang dibawa oleh Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam.

    Tetapi, bisa juga yang dimaksud dari judul novel ini adalah terminologi biasa, arti secara harfiahnya yaitu orang dari buku. Berhubung versi terjemahan novel ini tidak dijelaskan secara gamblang terminologi mana yang dimaksud oleh Brooks dalam judul karyanya, maka saya rasa semoga tak apa jika kita menafsirkan makna judul buku ini secara berbeda.

    People of the Book—orang-orang dari buku—pantas dijadikan sebagai judul. Bak suara dari masa lampau, sebuah buku ingin menyuarakan isi hatinya dan mengatakan, “Inilah yang terjadi padaku.”

  • Hafalan Buyar Tanda Tak Pintar oleh Ibnul Jauzi

    Hafalan Buyar Tanda Tak Pintar oleh Ibnul JauziJudul: Hafalan Buyar Tanda Tak Pintar
    Judul Asli: Al-Musyawwiq Ila Al-Qira’ah wa Thalab Al-‘Ilm
    Penulis: Al Imam Abul Faraj Abdurrahman Ibnul Jauzi
    Penerjemah: Irwan Raihan
    Penerbit: Kuttab Publishing
    ISBN: 978-602-8171-13-7
    Tebal: 158 halaman
    Tahun Terbit: Januari 2016
    Genre: Agama Islam, Pendidikan Islam
    Rating: 3/5

    “Abu Dawud Ath-Thayalisi adalah orang yang banyak hafalannya. Dia seperti Abdurrahman bin Mahdi. Abu Dawud tertimpa penyakit kusta sedang Abdurrahman tertimpa penyakit lepra. Abu Dawud hafal empat puluh ribu hadits, sedang Abdurrahman hafal sepuluh ribu hadits.” (halaman 88)

    Membaca petikan di atas barangkali membuat kita berdecak kagum mengetahui bahwa seorang pengidap kusta dan seorang pengidap lepra memiliki kemampuan hafalan yang tak biasa. Bayangkan empat puluh ribu hadits! Menghafal 40 hadits arba’in saja kita mungkin kewalahan, bagaimana pula dengan 40.000 hadits? Masya Allah. Dan itu baru dua orang di antara puluhan penghafal yang diceritakan di buku Hafalan Buyar Tanda Tak Pintar terbitan Kuttab Publishing ini. (more…)

  • Misteri Do’a-Do’a Malaikat oleh Dr. Fadhl Ilahi

    misteri-doa-doa-malaikatJudul: Misteri Do’a-Do’a Malaikat
    Judul Asli: من تصلي عليهم الملائكة ومن تلعنهم
    Penulis: Dr. Fadhl Ilahi
    Penerjemah: Beni Sarbeni, Lc
    Penerbit: Media Tarbiyah
    ISBN: 978-979-26-5805-7
    Tebal: 144 halaman
    Tahun Terbit: Januari 2012
    Genre: Agama Islam, Aqidah
    Rating: 4/5

    Menelusuri alam malaikat memang selalu saja membuat kita takjub, terlebih betapa besar keutamaan dan kelebihan mereka yang patut kita ketahui. Setelah mengenal malaikat lewat bukunya Muhammad bin Abdul Wahhab al-Aqil yang berjudul Menyelisik Alam Malaikat dengan sangat lengkap, maka kita juga perlu menambah pengetahuan dan pemahaman yang lebih spesifik lagi tentang hal-hal yang berkaitan dengan malaikat dan keutamaannya untuk manusia. (more…)

  • Gila Baca ala Ulama oleh Ali bin Muhammad Al-‘Imran

    gila-baca-ala-ulamaJudul: Gila Baca ala Ulama
    Judul Asli: Al-Musyawwiq Ila Al-Qira’ah wa Thalab Al-‘Ilm
    Penulis: Ali bin Muhammad Al-‘Imran
    Penerjemah: Arif Fauzi
    Penerbit: Kuttab Publishing
    ISBN: 978-602-8171-12-0
    Tebal: 178 halaman
    Tahun Terbit: Januari 2016
    Genre: Agama Islam, Pendidikan Islam
    Rating: 4/5

    Ilmu itu bukanlah yang mengisi lemari buku
    Ilmu adalah apa yang terkandung dalam hati
    (halaman 132)

    Mengenal tokoh-tokoh intelektual, sastrawan dan ilmuwan asal lokal maupun Barat yang memiliki kecintaan terhadap buku mungkin sudah cukup biasa bagi kita. Ada banyak informasi tentang mereka yang bertebaran di berbagai sumber dan membuat kita takjub. Kita menjadi sangat bersemangat ketika mengetahui tokoh yang satu memiliki ribuan buku di ruang bacanya atau tokoh yang lain tetap membaca dan menulis meskipun berada di dalam penjara.

    Di buku Gila Baca Ala Ulama ini, kita akan lebih takjub lagi mengetahui betapa para ulama Islam begitu tinggi gairah dan kecintaannya terhadap buku dan ilmu. Tak hanya berhasil membaca ratusan ribu jilid buku, melainkan juga menulis dan menyalin ulang ratusan jilid buku dan mengajarkannya. Sebut saja Ibnul Jauzi yang telah membaca 200.000 jilid buku, Ibnu Taimiyyah yang tetap membaca meskipun dalam keadaan sakit berat, atau bahkan Hasan Al-Lu’luai, yang selama 40 tahun usia hidupnya, ia selalu tidur dengan buku tergeletak di atas dadanya. Terkadang tak hanya sekali dua kali para ulama tersebut membaca satu buku, melainkan berulang-ulang. (more…)

  • The Martian Si Penghuni Mars oleh Andy Weir

    Judul: Si Penghuni Mars
    Judul Asli: The Martian
    Penulis: Andy Weir
    Penerjemah: Rosemary Kesauly
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    ISBN: 978-602-03-2439-5
    Tebal: 528 halaman
    Tahun terbit: 2015
    Cetakan: Kesatu
    Genre: Fiksi Sains
    Rating: 5/5

    Saya mengenal dua Mark yang sama-sama berjuang untuk bertahan hidup. Bedanya, yang satu Mark Boyle si Moneyless Man, bertahan hidup tanpa uang di bumi, sedangkan Mark yang lain bertahan hidup di Mars, planet merah yang tak satupun terdapat tanda-tanda kehidupan.

    Namanya Mark Watney. Tadinya Watney hanya menjalankan misi botaninya ke Mars. Serangkaian badai pasir menghambat diri dan teman-temannya sehingga mengharuskan sekelompok ilmuwan dan astronot ini untuk kembali ke pesawat ruang angkasa mereka.

    Di tengah-tengah badai tersebut, Watney mengalami kecelakaan. Mengira dirinya sudah mati, teman-temannya terpaksa meninggalkan Watney. Untungnya Watney ternyata masih hidup dengan luka tancapan antena di perutnya.

    Tapi, ia mungkin saja akan menjadi orang pertama yang akan mati di Mars sebab ia harus menghadapi beberapa masalah penting; Tak ada air, tak ada oksigen, tak ada makanan dan tak ada komunikasi.

    Watney terpaksa memutar otak dan memaksimalkan kreativitas dan kemampuannya demi bertahan hidup di kondisi yang tidak ideal bagi manusia. Dengan aneka hitungan dan rumus, ia mulai memperkirakan berapa banyak makanan, air dan oksigen yang akan ia butuhkan.

    Seperti halnya Boyle yang menanam sendiri makanannya, Watney juga memanfaatkan kotorannya untuk menanam kentang di Mars — Yah, barangkali jika suatu saat mereka berjumpa, mereka bisa saling menceritakan pengalamannya masing-masing 😀

    “Toilet-toilet HAB sangat canggih. Tinja langsung disedot sampai kering, lalu disimpan dalam kantong-kantong tertutup untuk dibuang ke permukaan.” (halaman 26)

    Watney juga harus memecahkan masalah air dan oksigen. Tak hanya itu, ia juga harus memikirkan bagaimana caranya berkomunikasi dengan bumi, sebab sebaik apapun usahanya menghasilkan sumber kehidupan, semua tak akan ada artinya jika ia tidak bisa kembali ke bumi.

    Ia pun harus memeras otak dan tenaganya untuk memikirkan bagaimana caranya untuk pergi ke lokasi misi Mars berikutnya yang cukup jauh, yang mungkin saja di sana ada alat komunikasi. Masalahnya, planet merah itu ternyata memiliki banyak rahasia dan kejutan yang tidak diperhitungkan oleh Watney ….

    Bagaimana ya nasib Mark Watney di planet tak berpenghuni itu? Bagaimana cara ia membuat air dan oksigen? Apa ia berhasil kembali ke bumi atau justru terperangkap di planet merah?

    ***

    The Martian karya Andy Weir adalah salah satu novel fiksi sains paling keren yang pernah saya baca. Saya sempat mengalami book hangover setelah menamatkannya. Membaca novel ini sama sekali tidak membosankan, justru kebalikannya; asyik, seru dan menyenangkan. Andy Weir cerdas sekali membuat novel ini begitu mengalir, ringan dan tidak monoton.

    Cerita tentang Mark Watney ditulis dengan gaya penulisan jurnal harian, berupa catatan-catatan sol Mark Watney selama di Mars. Sol adalah istilah untuk menyebutkan hari di Mars. Waktu satu hari di Mars lebih lama sedikit dibandingkan satu hari di bumi sehingga kita menyebutnya sol, bukan hari.

    Di dalam log catatannya itulah, pembaca akan mengetahui bagaimana perkembangan usaha Watney bertahan hidup, caranya ia menghasilkan oksigen, air dan makanan, juga termasuk curahan hati dan banyolan-banyolannya secara rinci.

    Membaca novel ini mengingatkan saya pada mata kuliah termodinamika, kimia dan fisika sewaktu kuliah dulu. Di dalamnya terdapat banyak istilah-istilah teknik, perumusan dan perhitungan kimia dan fisika, tetapi semua itu tidak terkesan berat karena novel ini diterjemahkan dengan bahasa yang mudah dicerna menggunakan logika umum.

    Kondisi Mars dan hal-hal yang dilakukan Watney dipaparkan dalam kacamata ilmiah sehingga sesuatu yang terkesan mustahil menjadi lebih masuk akal di tangan Andy Weir.

    Selain dipenuhi dengan istilah-istilah teknik dan astronomi, novel ini juga dikemas dengan humor-humor ringan yang lucu dan menggelikan. Karakter Watney di sini adalah orang yang serius tapi santai, suka bercanda dan tidak menganggap suatu masalah sebagai hal yang membuat stress meskipun sebenarnya dirinya pasti mengalami kebingungan yang sangat.

    Saya sendiri yang membacanya heran, kok ya sudah terancam nyawanya di Mars sana masih bisa rileks haha. Bisa-bisanya Andy Weir memadukan antara sci-fi yang umumnya serius dan berat dengan komedi yang ringan dan lucu. Sebuah perpaduan yang unik dan cerdas.

    Kalau pembaca agak kesulitan membayangkan secara visual aktivitas yang dilakukan oleh Watney secara rinci juga lingkungan sekitar Mars, barangkali ini akan sedikit kompleks. Syukurnya novel ini sudah diangkat ke layar lebar, jadi kita bisa melihat secara visual adegan yang digambarkan di dalam novel ini lewat filmnya.

    Bagi pembaca yang mungkin sering kecewa dengan film adaptasi dari buku, barangkali bisa mengecualikan The Martian, karena antara film dan bukunya, The Martian termasuk adaptasi yang sangat bagus. Yang pasti membaca bukunya lebih seru karena lebih detail.

    The Martian memberikan banyak pengetahuan baru bagi saya. Selain itu, tokoh-tokohnya mengajarkan satu hal yang penting, bahwa dalam kondisi sesulit dan sesempit apapun, manusia sejatinya hanya perlu terus berusaha dan tidak putus asa, meskipun terkesan mustahil. Dan manusia akan selalu saling tolong-menolong ketika mengetahui ada orang lain yang kesulitan.

    “Ancaman terbesar tentunya kehilangan harapan. Kalau Mark memutuskan dia tidak punya harapan untuk bertahan, dia akan berhenti berusaha.” (halaman 137)

    “Saat seorang pemanjat gunung tersesat di pegunungan, orang-orang akan berkoordinasi untuk melakukan pencarian. Saat ada kecelakaan kereta, orang-orang mengantre untuk menyumbangkan darah, Saat ada gempa bumi yang meratakan seluruh kota, orang-orang dari seluruh dunia akan mengirimkan bantuan darurat.

    Semua itu sifat fundamental manusia yang dapat ditemukan dalam budaya mana pun tanpa kecuali. Ya, tentu saja ada orang-orang brengsek yang tidak peduli, tapi mereka kalah jumlah dibanding orang-orang yang peduli. Dan karena itu, ada miliaran orang yang mendukungku.” (halaman 527)

    Barangkali bagi sebagian orang yang sudah membaca The Martian, ada satu hal yang cukup menonjol ditampilkan oleh Weir, yaitu masalah lakban, seolah-olah banyak hal bisa diselesaikan dengan lakban di Mars sana, LOL.

    Yah, pada kenyataannya, lakban memang memiliki banyak sekali fungsi. Tapi, menurut saya, ada banyak pelajaran selain soal lakban yang bisa dipetik pembaca dari karya Weir ini.

    Bahwa novel ini sebenarnya bisa menjadi alternatif awalan bagi mereka yang tidak suka membaca buku sains karena sains digambarkan dengan cara yang mengasyikkan oleh Weir.

    Ini bisa memberikan motivasi bagi para remaja atau orang dewasa untuk mulai menyukai ilmu pengetahuan. Sebenarnya berbagai aktivitas sehari-hari kita tidaklah jauh dari sains. Sains-sains sederhana yang mudah dipraktikkan sejatinya memiliki prinsip yang sama dalam penerapan yang lebih kompleks.

    Mungkin saat sekolah dulu kita terlalu paranoid dengan rumus fisika dan reaksi kimia yang rumit. Padahal, dalam kondisi-kondisi tertentu, terkadang rumusan atau reaksi tersebut bisa berguna di saat genting jika kita memahaminya.

    Selain itu, gambaran tentang aktivitas tata surya dan upaya meneliti Mars sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh para ilmuwan dan astronot, tetapi selama ini mungkin hanya dipahami sepintas lalu oleh sebagian besar manusia.

    Lewat novel ini, sedikit banyak pembaca jadi tahu bagaimana gambaran di Mars sana. Meskipun fiktif, tetapi beberapa aspek ilmiah buku ini tetaplah disesuaikan dengan fakta. Ini kita bisa lihat dari latar penulisnya sendiri yang dibesarkan di lingkungan engineer.

    Bagi saya yang memang orang teknik, meskipun sudah tidak berkutat dengan hal-hal seputar teknik secara khusus, membaca The Martian seolah mengulang kembali kenangan dan kecintaan terhadap sains. Sains itu asyik dan menyenangkan jika kita mau berteman dengannya 🙂

  • Blindness oleh Jose Saramago

    Judul: Blindness
    Judul Asli: Ensaio Sobre A Cegueira
    Penulis: Jose Saramago
    Penerjemah: Tim Matahari
    Penerbit: Matahari
    ISBN: 9786023720453
    Tebal: 488 halaman
    Tahun terbit: November 2015
    Cetakan: Kesatu
    Genre: Distopia, Fiksi Sains
    Rating: 4/5

    “Kalaupun tidak dapat hidup sepenuhnya seperti layaknya manusia, setidaknya marilah kita berusaha sekuatnya agar tak hidup sepenuhnya seperti binatang.” (halaman 174)

    Siapapun tak ingin menjadi buta. Tetapi, andaikan seseorang buta sekali pun, masih ada orang-orang terdekat di sekitarnya yang akan membantu. Menuntunkan jalan, menghindarkan dari potensi bahaya, atau menjelaskan keadaan sekitar adalah hal yang lazim dilakukan oleh mereka yang normal kepada penderita kebutaan.

    Selain itu, masih ada orang-orang di pemerintahan yang menyediakan air bersih untuk minum, listrik, pengelolaan sampah, dan kebutuhan lainnya yang seringkali kita anggap biasa-biasa saja ternyata merupakan hal yang krusial.

    “Barangkali hanya di dunia orang buta segala sesuatu akan jadi seperti apa adanya.” (halaman 188)

    Bagaimana jika kebutaan adalah penyakit menular dan menjadi wabah? Siapa saja akan mengalami kebutaan dan menyebar ke ujung dunia. Bahkan para pengelola negara sekali pun akan mengalami kebutaan.

    Jika sudah begini, tak akan ada yang mengambil sampah kita setiap pagi sehingga membuat timbunan sampah kotor menumpuk. Tak ada yang akan mengolah air bersih, penerangan —yah, untuk apa lagi penerangan jika tidak bisa dilihat—, juga makanan. Seluruhnya buta.

    Manusia akan mulai berubah ke sifat dasarnya sebagai makhluk hidup, yakni bertahan hidup dengan segala cara. Ekstremnya, jika harus membunuh demi mendapatkan makanan, itu pun akan dilakukan oleh manusia. Jika tak bisa mencapai WC, membuang kotoran di jalanan pun sah-sah saja.

    Nyaris hampir tak ada bedanya dengan hewan. Semua menjadi kacau-balau. Dan, inilah yang terjadi di sebuah negara tak bernama dalam karya Jose Saramago yang berjudul Blindness.

    Kekacauan Demi Kekacauan

    Dimulai dari seorang pengemudi yang mendadak buta di tengah jalan, penyakit tersebut kemudian menular ke orang kedua, ketiga, dan seterusnya sampai kepada dokter mata yang memeriksa penyakit tersebut.

    Orang-orang mulai mendadak buta tanpa sebab. Ketakutan kemudian mencekam seluruh isi kota. Pemerintah mulai melakukan karantina bagi para penderita kebutaan.

    Sayangnya, orang buta semakin bertambah dibandingkan jumlah yang tidak buta. Gedung karantina semakin disesaki orang-orang. Para tentara penjaga, pimpinan mereka, pimpinan dari pimpinan mereka pun turut mengalami kebutaan. Tak ada lagi pasokan makanan, minuman dan obat-obatan.

    Ditambah lagi sebagian penghuninya mulai berulah menunjukkan taring demi mendapatkan kebutuhan dasar. Pembunuhan dan pemerkosaan tak terhindarkan. Mayat mulai bergelimpangan. Kotoran manusia berserakan di mana-mana. Keadaan di gedung karantina akhirnya semakin kacau. Barangkali itulah neraka dunia menurut mereka.

    Di tengah-tengah kondisi ini, sekelompok orang bekerjasama demi bertahan hidup; seorang dokter mata dan istrinya, gadis berkacamata hitam, lelaki tua bertampal mata hitam, bocah juling, serta lelaki buta pertama dan istrinya.

    Untungnya, istri dokter tidak mengalami kebutaan. Entah apa penyebabnya, tidak ada yang tahu, hanya dia yang tidak buta. Sampai akhirnya gedung karantina itu terbakar.

    Berhasilkah kelompok ini keluar? Bagaimana selanjutnya nasib mereka di tengah-tengah ganasnya manusia yang saling sikut untuk bertahan hidup? Apakah kebutaan ini bisa sembuh? Ataukah istri dokter akan mengalami kebutaan juga? Lalu, apa penyebab kebutaan mendadak itu?

    Ada banyak sekali pertanyaan yang membutuhkan jawaban ketika saya mulai membaca sepertiga buku ini. Buku ini sangat keren.

    “Katakan kepada orang buta, kau bebas. Bukalah pintu yang memisahkannya dari dunia. Pergilah, kau bebas. Kita bilang kepadanya sekali lagi, dan ia tidak juga pergi, tetap mematung di tengah jalan sana. Dia dan yang lainnya, mereka ketakutan. Mereka tak tahu harus pergi ke mana.

    Faktanya memang lain antara tinggal di sebuah labirin rasional yang, per definisi, adalah rumah sakit jiwa, dan nekat hengkang, tanpa ada tangan atau seutas tali anjing yang memandu, ke labirin edan kota. Di sana ingatan takkan berguna, karena cuma mampu memanggil kembali citra tentang tempat-tempat, namun bukan jalur-jalur yang memungkinkan kita mencapainya.”

    (halaman 319)

    Blindness merupakan sebuah distopia yang idenya sangat unik dan menarik. Ketika menamatkan buku ini, saya sempat terdiam beberapa saat, merenungkan kembali makna dari cerita yang disuguhkan Saramago. Mengerikan!

    Iya, mengerikan, karena setelah membacanya, saya tidak berani membayangkan jika apa yang dialami dokter mata dan teman-temannya itu terjadi juga pada diri kita. Ya Allah, semoga saja tidak.

    Kritik Sosial

    Membaca novel ini membuat saya menyadari banyak hal. Bahwa ide-ide dan kritik sosial yang disisipkan Saramago benar adanya.

    Pertama, manusia saat ini sudah sangat terlena dari kenyamanan hidup tanpa memedulikan keberadaan orang lain yang turut andil di dalam kehidupan kita yang nyaman itu. Kita lupa bahwa untuk mengalirkan air bersih ke kran-kran di rumah kita harus ada orang yang menyaringnya agar bersih dan membuka atau menutup kran distribusi.

    Sama halnya dengan pasokan listrik, harus ada orang yang mengelola jaringan-jaringan dan cadangan agar kita tetap bisa menikmati betapa nyamannya mandi dengan air hangat, betapa mudahnya memasak nasi dengan listrik, atau sekedar membaca di penerangan yang memadai. Semua itu membutuhkan mata dan keberadaan orang agar terwujud.

    Kedua, bahwa kebutaan fisik tidak seharusnya diikuti dengan kebutaan hati. Inilah yang membedakan manusia satu dengan lainnya, bahkan dengan hewan. Di tengah himpitan yang sangat berat, manusia akan tampil menjadi dirinya yang sebenarnya. Tanpa berpura-pura. Jika hati buta, apatah lagi yang bisa diharapkan?

    “… bahkan dalam kemalangan yang paling parah pun masih mungkin menemukan cukup kebaikan untuk sanggup menanggungkan segala kemalangan tersebut dengan sabar.” (halaman 223)

    “Sebab hati yang bersamanya kita hidup dan yang mengizinkan kita hidup sebagaimana adanya.”
    “Tanpa mata, hati akan jadi sesuatu yang lain. Kita tak tahu bagaimana, kita tak tahu apa itu, katamu kita mati karena kita buta.” (halaman 371)

    “Dalam diri kita ada sesuatu yang tak bernama. Sesuatu itulah diri kita yang sebenarnya.” (halaman 407)

    Selain pesan di atas, ada satu wacana yang cukup menggelitik. Di dunia kita saat ini, para produsen makanan instan membanjiri pasar dan supermarket dengan berbagai produk makanan olahannya. Makanan yang dikalengkan, yang diberi pengawet atau yang cepat saji barangkali akan memunculkan isu kesehatan yang cukup serius.

    Ada yang pro, ada yang kontra. Tapi, keadaan seperti di negara tak bernama itu akan menuntun kita berkesimpulan bahwa makanan terbaik saat itu adalah makanan kaleng dan siap saji karena jauh lebih mudah bagi negara yang seluruh rakyatnya mengalami kebutaan.

    “Namun kearifan popular cepat sekali menyebarkan ungkapan yang hingga batas tertentu tak terbantahkan, senada dengan ungkapan lain yang sudah jarang dipakai lagi, apa yang tak terlihat mata tidaklah menyedihkan hati. Sekarang orang sering bilang, mata yang tak melihat punya perut yang kuat, yang menjelaskan kenapa mereka memakan begitu banyak sampah.” (halaman 387)

    Blindness ditulis oleh penulis asal Portugal yang meraih penghargaan Nobel Prize in Literature tahun 1998. Jose Saramago adalah seorang ateis. Karyanya yang berjudul “The Gospel According to Jesus Christ and Cain” bahkan mendapat kritik dari pihak gereja karena mengandung satire dan kutipan alkitab untuk menggambarkan sosok Tuhan dengan cara yang tidak tepat.

    Ia juga pernah mengutuk Israel atas apa yang terjadi di Ramallah, Palestina. Novel-novelnya yang lain juga dikenal banyak mengandung kritik atas politik dan kemanusiaan.

    Terlepas dari kehidupan pribadi penulis, novel Blindness ini memang sangat keren. Empat bintang saya berikan ratingnya. Novel ini juga sudah diadaptasi ke layar lebar. Sayangnya, sekuel yang berjudul Seeing belum diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Semoga suatu saat bisa membaca sekuelnya juga.

    Peringatan: Beberapa adegan di buku ini mengandung kevulgaran yang membuat saya cukup tidak nyaman sehingga banyak yang saya skip.

  • Beyond Sherlock Holmes oleh Muthia Esfand

    Judul: Beyond Sherlock Holmes
    Penulis: Muthia Esfand
    Penerbit: Visimedia
    ISBN: 978-979-065-216-3
    Tebal: 158 halaman
    Tahun terbit: 2014
    Cetakan: Pertama
    Genre: Nonfiksi
    Rating: 3/5

    “Imajinasi seperti pedang bermata dua, yang bisa bermanfaat jika digunakan dengan bijak.” (Hercule Poirot)

    Setiap penyuka cerita detektif tentu pernah mengalami rasa penasaran tentang bagaimana penulis kesukaan mereka bisa menulis karyanya dengan sangat meyakinkan. Kasus demi kasus dipecahkan dengan analisa dan pendekatan yang tepat.

    Sebut saja Sir Arthur Conan Doyle dan Agatha Christie, dua dari penulis fiksi detektif dunia yang sangat terkenal. Membaca karya-karya mereka membuat kita bertanya-tanya, apakah mereka benar-benar memecahkan kasus juga di dunia nyata? Dari mana mereka mendapatkan inspirasi karya mereka?

    Seperti yang dikatakan oleh Hercule Poirot, bahwa imajinasi bisa bermanfaat dan bisa tidak, maka sebuah fakta pun memiliki dua sisi mata pedang yang berbeda; bisa bermanfaat, bisa juga tidak.

    Fakta bisa digunakan untuk sebuah karya yang membumi dan berguna bagi orang lain, atau secara ekstrem menjadikannya bagian dari kehidupan nyata, seperti yang dilakukan oleh beberapa penulis fiksi detektif dunia.

    Bayangkan apa jadinya bila para penulis detektif tersebut benar-benar ikut memecahkan kasus hukum di dunia nyata. Apakah mereka akan sepiawai tokoh-tokoh fiksi mereka? Nah, di buku Beyond Sherlock Holmes karya Muthia Esfand inilah fakta-fakta tersebut dikupas.

    Barangkali kita pernah mendengar kasus menghilangnya Agatha Christie selama 11 hari. Seolah cerita fiksi, kasus ini masih meninggalkan misteri yang tidak terpecahkan dan menyisakan spekulasi demi spekulasi dari orang-orang di sekitarnya. Atau Sir Arthur Conan Doyle, yang ternyata sangat antusias ketika dimintai bantuan dalam penyelidikan kasus pembunuhan di Queens Terrace.

    Bertahun-tahun Doyle mengikuti perkembangan kasus tersebut tanpa hasil dan tetap menyuarakan analisa-analisanya. Ada 7 penulis detektif dunia yang dikupas di buku ini. Selain dua penulis di atas, ada juga Edgar Allan Poe, Dorothy L. Sayers, PD James, Patricia Cornwell dan Steve Hodel, yang kesemuanya memiliki andil dalam kasus-kasus di dunia nyata. Seperti apa sih kisah nyata mereka?

    “Jadi, mengapa tidak memakai kacamata seorang penulis cerita detektif dalam menelusuri kebenarannya?” (halaman 87)

    Muthia Esfand lagi-lagi berhasil memukau saya lewat Beyond Sherlock Holmes-nya. Seperti biasa, gayanya bercerita selalu asyik dan menyenangkan. Rangkaian katanya acapkali membuat saya tanpa terasa melahap lembar demi lembar karyanya sampai habis.

    Iya, gaya penulisannya selalu enak bagi saya. Selain gaya penceritaannya yang saya suka, buku ini juga memberikan banyak informasi baru bagi saya terkait kehidupan di balik fiksi para penulis detektif dunia. Menyuguhkan tak hanya fakta, Muthia Esfand juga menyediakan berbagai gambar dokumen yang berkaitan dengan kasus hukum yang sedang diikuti oleh penulis detektif tersebut.

    Kekurangannya bagi saya hanya satu, kurang tebal dan kurang banyak, haha. Buku ini menyisakan pertanyaan dalam diri saya, “Apakah penulis detektif lainnya pun demikian?”

    Yah, barangkali menjadi PR bagi pembaca fiksi detektif untuk mencari tahu fakta-fakta lainnya di balik kehidupan para penulis cerita detektif dunia, sebab inspirasi biasanya datang dari orang-orang atau keadaan di sekitar kita sendiri.

    “Setelah berhasil meyakinkan pembaca dengan kasus-kasus fiktif dalam novel karangan mereka, kasus nyata yang tak terpecahkan menjadi semacam tantangan tersendiri untuk mereka pecahkan, …” (halaman 108-109)

    Sebagai penyuka cerita detektif, barangkali hampir seperempat bagian rak buku fiksi saya diisi dengan genre detektif, kriminal, dan sejenisnya, dari yang ringan seperti Lima Sekawan-nya Enid Blyton, sampai dengan yang berat sekaliber John Grisham.

    Bahkan, rak komik pun sebagian besar diisi cerita-cerita detektif seperti Detektif Conan, Kindaichi, Q.E.D, dan komik lainnya yang tak kalah menarik. Karena hal ini, banyak yang bertanya kepada saya apakah saya tidak bosan dengan cerita detektif yang sebegitu banyak?

    Well, tentu saja tidak. Bagi saya, sesering apapun dibaca, cerita detektif akan tetap menyuguhkan teka-teki, misteri, dan rasa penasaran yang hanya akan terpuaskan ketika dibaca sampai habis. Dan buku Beyond Sherlock Holmes ini sangat layak dikoleksi oleh para penyuka fiksi detektif.

  • The Worry Tree (Pohon Cemas) oleh Marianne Musgrove

    Judul: Pohon Cemas
    Judul Asli: The Worry Tree
    Penulis: Marianne Musgrove
    Penerjemah: Dini Andarnuswari
    Penerbit: Atria
    ISBN: 978-979-1411-56-1
    Tebal: 122 halaman
    Tahun terbit: November 2008
    Cetakan: Kesatu
    Genre: Fiksi Anak
    Rating: 3/5

    Setiap kali Juliet merasa cemas, kulitnya akan terasa gatal dan muncul ruam. Ia menjadi mudah suntuk dan merasa terbebani. Sayangnya akhir-akhir ini, ada banyak hal yang membuat Juliet cemas.

    Misalnya saja Oaf, adiknya yang suka iseng, sering sekali membuat ulah yang menyebalkan. Belum lagi orangtua Juliet yang sedang sering bertengkar dan neneknya yang mudah marah-marah. Juga teman-temannya, Gemma dan Lindsay, yang saling berebut persahabatan dengannya.

    Lengkaplah sudah masalah yang dihadapi Juliet. Ruam di kulitnya semakin sering saja muncul.

    Juliet kemudian menemukan sebuah gambar di balik wallpaper kamarnya. Sebatang pohon dan enam hewan yang bertengger di setiap cabangnya. Ternyata itu dulu gambar yang dipasang oleh neneknya sewaktu kecil. Wah, sudah lama sekali, ya!

    Nenek Juliet menyebutnya pohon cemas karena, setiap kali merasa cemas, neneknya akan ‘curhat’ kepada pohon cemas. Juliet pun akhirnya mengikuti cara neneknya untuk menjadikan pohon cemas dan hewan-hewan tersebut sebagai temannya.

    Suatu ketika, Dad dan Mum, orangtua Juliet, bertengkar hebat gara-gara Dad belum membereskan barang-barang bekas miliknya yang teronggok di lorong rumah. Barang-barang itu dulunya berada di kamar Juliet yang sebelumnya merupakan ruang kerja Dad.

    Selain itu, Oaf dan Juliet sedang heboh-hebohnya bertengkar, tidak mau menuruti perintah Mum. Pecahlah amarah Mum yang akhirnya merembet pada hal-hal lain. Juliet merasa ini semua salahnya. Bagaimana, ya, cara Juliet menyelesaikan masalah itu?

    Efek Psikologi bagi Anak

    Novel The Worry Tree alias Pohon Cemas ini memiliki banyak sekali pesan yang bisa dipetik oleh setiap keluarga, terutama tentang psikologi anak dan interaksi sosial antara anggota keluarga. Saya merasa mengupas substansinya lebih penting dibandingkan hanya ulasan biasa.

    Kalau melihat dari sisi tokoh utamanya, Juliet, seorang anak usia SD yang cukup kritis dan cerdas, kita bisa memahami bagaimana efek psikologis situasi rumah tangga terhadap anak-anak.

    Ketika anak mendengar atau melihat orangtuanya bertengkar, meskipun bagi orang dewasa itu hanyalah perdebatan mulut semata, umumnya anak akan merasakan cemas dan khawatir bila kata-kata ‘cerai’, ‘perpisahan’ dan sejenisnya tercetus dari bibir orangtua mereka.

    Contohnya seperti yang dialami Juliet. Ia sangat khawatir jika Dad dan Mum mulai mempersoalkan hal-hal yang tidak sejalan karena Juliet tahu akan ada pertengkaran setelah itu. Ini menjadi semacam momok bagi anak.

    Selain itu, kita juga bisa belajar tentang sikap sebuah keluarga ketika menghadapi perubahan. Bahwa dibutuhkan pilihan-pilihan yang bijaksana untuk dijadikan solusi atas perubahan yang terjadi. Kalau di novel ini, perubahan yang mereka alami adalah masalah pergantian ruang kerja Dad menjadi kamar Juliet yang dadakan.

    Juliet ingin sekali memiliki kamar sendiri, tidak tidur bersama Oaf yang usil lagi, tetapi solusi atas dampak dari perubahan itu haruslah tepat agar masalah-masalah tidak muncul setelahnya.

    Contoh lainnya adalah masalah neneknya Juliet yang masih belum bisa menyesuaikan diri dengan keadaannya yang sudah tua. Di sinilah sebuah keluarga dituntut agar tanggap terhadap variabel perubahan. Hal-hal seperti perubahan ini tentu banyak kita alami di dunia nyata. Beda kasus pasti beda penanganannya.

    Poin-poin tentang pelajaran untuk keluarga inilah yang menurut saya menjadi salah satu kelebihan dari novel The Worry Tree.

    Titik Kritis Novel The Worry Tree

    Yang menjadi poin kritis saya atas buku ini adalah ide tentang pohon cemasnya yang dijadikan judul utama. Di novel ini diceritakan bahwa setiap kali Juliet merasa cemas, ia akan mencurahkan kecemasannya kepada pohon cemas, kemudian menceritakan uneg-unegnya kepada gambar hewan-hewan yang bertengger di pohon tersebut.

    Akibat dari aktivitas ini, Juliet merasa hewan-hewan di pohon cemas itu mengerti apa yang dirasakannya. Menurut saya, konsep pohon cemas ini berpotensi mengarahkan anak-anak berimajinasi yang berlebihan, dan sebaiknya tidak untuk ditiru. Mengapa?

    Anak-anak membutuhkan tempat atau media untuk mencurahkan keluh kesahnya, kecemasannya, uneg-uneg atau masalahnya. Dalam hal ini tentu saja alangkah lebih baik jika tempat atau media itu adalah orang-orang yang ada di sekitarnya, terutama orangtua.

    Orangtua ibarat pusat tata surya di dalam rumah. Merekalah titik pusat ke mana setiap anggota keluarga akan mengarah. Anak-anak yang menjadikan orangtuanya sebagai teman dan media untuk mencurahkan perasaannya akan memiliki hubungan yang sangat berkualitas. Bayangkan bila anak-anak Anda lebih dekat dengan pohon cemas ketimbang orangtua, apa jadinya?

    Secara karakter, hal ini juga rasanya kurang baik bagi perkembangan anak. Pohon tetaplah pohon. Gambar tetaplah gambar. Menjadikan gambar atau benda lainnya sebagai media curhat anak lambat laun akan mengarahkan anak kepada imajinasi tentang teman khayalan.

    Anak akan memiliki dunianya sendiri yang akan sulit dimasuki orangtua. Iya kalau hanya sebatas curhat belaka. Siapa yang bisa menjamin jika suatu saat kelak anak tidak akan meminta sesuatu melalui pohon cemas? Yang seperti ini, menurut buku Misteri Alam Ghaib, bisa menjadi celah yang rawan disusupi jin ataupun syaitan dan tentunya akan berdampak negatif bagi anak-anak.

    Jika tidak ada orangtua sebagai media karena alasan-alasan tertentu, anak juga bisa menjadikan teman-temannya atau orang-orang dewasa lainnya yang terdekat sebagai media bersosialisasi terkait masalah yang mereka hadapi.

    Contohnya seperti yang ada di novel The Worry Website karya Jacqueline Wilson, di mana setiap siswa bisa mencurahkan uneg-uneg atau masalahnya di sebuah situs yang dimediasi oleh orang dewasa.

    Masalah mereka bisa ditanggapi oleh teman-temannya tanpa perlu tahu siapa orangnya. Atau dalam bentuk buku harian dan semacamnya. Ada banyak model yang lebih baik sebagai pilihan.

    Jika yang lain pun tidak ada sebagai tempat meluapkan perasaan dan masalah, masih ada Allah yang bisa menjadi pilihan. Tentu akan lebih bagus lagi jika anak diperkenalkan konsep bahwa Allah adalah sebaik-baik tempat berkeluh kesah, mengadu dan memohon.

    Pastinya hal ini diajarkan sesuai dengan tingkat pemahaman anak, dengan bahasa anak-anak, agar mereka dapat memahaminya dengan mudah dan menyenangkan.

    Manajemen Masalah

    Selain poin-poin di atas, novel ini juga mengajarkan kepada orangtua untuk bisa memberikan pemahaman kepada anak terkait manajemen masalah. Bahwa tidak semua masalah itu harus dihadapi anak-anak dan menjadi beban mereka.

    Terkadang anak-anak akan merasa bahwa apa yang terjadi di sekitarnya itu membutuhkan mereka untuk ikut andil. Nyatanya ‘kan tidak. Sesuaikan porsinya. Makanya menjadi penting bagi orang dewasa untuk menahan diri ketika terjadi masalah agar tidak selalu diketahui oleh anak-anak.

    “Dia tak pernah berpikir ada hal-hal yang bukan menjadi masalahnya. Dia kira, semua hal adalah masalahnya, bahkan jika bukan dia yang menyebabkan masalah itu terjadi.” (halaman 103)

    Anak-anak juga perlu mengalami masalah sesuai porsinya agar ia mampu menghadapinya dengan kemampuan sendiri, tidak cengeng, tidak panik dan ketakutan. Hal ini akan menumbuhkan rasa kepercayaan dirinya.

    Jika anak selalu dilindungi dari masalah, selalu dibiarkan terhindar dari konflik, ini juga kurang baik untuk perkembangan mentalnya. Di sinilah pentingnya manajemen masalah bagi anak.

    Sementara semua orang mondar-mandir untuk mengambil lilin dan kue, Juliet menangkap sekilas bayangan dirinya sendiri dalam cermin: tak ada plester melekat di jadi-jarinya, tak ada ruam menyebar di wajahnya, dan tak ada garis V menetap di antara alisnya.

    Yang ada hanya seorang anak perempuan berpostur sedang dengan rambut cokelat sedang, kaki berukuran normal, dan senyum yang sangat lebar. “Aku adalah seseorang yang mampu,” katanya pada diri sendiri. “Aku adalah seseorang yang mampu menangani masalah apa pun.”

    (halaman 110)

    Sebenarnya masih banyak lagi hikmah lainnya yang bisa kita cuil dari buku ini. Yang saya paparkan di atas hanyalah sebagian saja yang menurut saya penting untuk diulas, terutama poin kritis yang saya tidak sependapat.

    Semoga ulasan saya ini tidak membosankan Anda dan tidak terlalu dianggap sebagai spoiler hehe.

    *Ulasan ini diikutsertakan pada Proyek Battle Challenge #31HariBerbagiBacaan