Blog

  • Rosie’s Walk oleh Patricia Hutchins – Menikmati Humor dari Buku Tanpa Kata Berbahasa Korea

    Rosie's Walk Bahasa Korea

    Judul buku: Picasso Fairy Tale 49 – Rosie’s Walk
    (dalam edisi terjemahan Korea 로시의 산책)
    Penulis: Patricia Hutchins
    Penerjemah: Kim Seok Gyu
    Penerbit: Montessori Korea
    Tahun Terbit: 1997
    Tebal: 36 halaman
    ISBN: 89-7098-178-0
    Genre: Buku Anak
    Rating: 5/5

    Agaknya pernyataan ‘Don’t judge the book by its cover‘ harus saya tepis ketika memutuskan untuk membeli buku-buku cerita anak berbahasa Korea beberapa tahun lalu di lapak buku bekas dalam jumlah yang banyak. Selain harganya yang murah, sampulnya yang berilustrasi cantik dan unik dengan warna-warni yang kontras adalah alasan utama yang membuat saya langsung jatuh cinta.

    Saya pasrah dengan isi ceritanya. Yang penting selama buku itu memiliki gambar, artinya buku itu bisa dibaca. Toh ada banyak wordless book yang beredar di pasaran untuk anak-anak dan sejauh ini tetap bisa dinikmati sesuai imajinasi pembaca.

    Nah, salah satu buku cerita yang saya beli itu adalah terjemahan dalam bahasa Korea dari buku perdananya Patricia Hutchins yang berjudul Rosie’s Walk. Buku tersebut pertama kali diterbitkan tahun 1968 oleh The Bodley Head dan Macmillan US yang berhasil meraih penghargaan di ajang Boston Globe-Horn Book Award Amerika Serikat.

    Selain itu, para pustakawan Amerika juga memasukkan Rosie’s Walk ke dalam daftar buku American Library Association (ALA) Notable dan banyak dijadikan koleksi di perpustakaan-perpustakaan.

    Rosie’s Walk bercerita tentang kisah seekor ayam betina yang diikuti oleh seekor serigala lapar dalam 27 halaman berilustrasi. Tentu saja seperti di banyak dongeng, serigala di kisah Rosie ini juga digambarkan sebagai tokoh jahat yang tujuan utamanya memakan tokoh utama. Dan lagi-lagi, pembaca umumnya sudah tahu bakal seperti apa akhir dari cerita dongeng tersebut.

    Namun, uniknya di buku Rosie’s Walk ini adalah kegelian yang dimunculkan penulis ketika menggambarkan proses Serigala yang ingin menangkap Rosie.

    Serigala ini mengikuti Rosie mulai dari Rosie keluar kandang sampai keluar halaman melewati banyak tempat dan, betapa tidak beruntungnya si Serigala, setiap kali ia hendak mencapai Rosie dan bersiap menerkamnya, selalu ada saja kejadian yang membuatnya gagal.

    Yang terbentur kayu lah, yang tercebur kolam lah, yang tertimpa karung tepung lah, sampai diikejar-kejar dan disengat lebah. Dan ironisnya, Rosie si ayam betina selalu saja beruntung dan tetap hidup, bahkan acuh tak acuh di depan.

    Dia bahkan tidak tahu-menahu bahwa di belakangnya ada serigala yang sedang berjuang keras menangkapnya. Ironis bagi serigala, tapi tetap saja menggelikan melihatnya.

    Tulisan di dalam buku ini sangat minim, lebih dominan di ilustrasinya. Rasanya sangat mudah diterjemahkan oleh anak-anak sesuai imajinasi mereka. Namun meskipun tergolong buku anak, tapi sebenarnya membaca buku ini bisa menghasilkan interpretasi yang berbeda bagi usia yang berbeda. Bagi saya, selain buku ini ceritanya lucu dan menarik, humor di buku ini juga bisa diartikan sebagai alegori terhadap banyak konsep dalam hubungan sosial kita.

    Contohnya bagaimana kita bersikap acuh terhadap omongan negatif orang lain, atau bagaimana kita tetap bangkit ketika ada pihak yang ingin membuat kita jatuh, atau bagaimana kita bersikap optimis ketika ada tantangan yang mengejar di belakang, serta pemaknaan lainnya yang terwakilkan oleh tokoh Serigala dan Rosie. Bisa jadi kita ini adalah Rosie-Rosie di dalam kehidupan nyata. Atau Serigala? Atau bahkan keduanya?

    Penulis yang juga populer dengan nama Pat Hutchins ini adalah seorang penulis sekaligus ilustrator asal Inggris yang telah menghasilkan sekitar 50 buku cerita anak dengan ilustrasi khas yang dibuatnya sendiri. Tak hanya buku cerita atau dongeng, novel anak pun termasuk karya yang juga ditulis olehnya. Oleh Montessori Korea, buku ini dijadikan bahan untuk pembelajaran anak-anak.

    Pat Hutchins menggunakan teknik menggambar dengan garis-garis sederhana di ilustrasinya, tetapi mengandung banyak pola yang berbeda. Ada titik, garis, panah, lingkaran, dan sebagainya. Warna yang digunakannya juga adalah warna-warna dasar merah, kuning dan hijau, tanpa warna biru sedikitpun. Sederhana sekali, tapi indah dan memberikan nuansa tenang. Terkesan seperti buku-buku cerita rakyat zaman dulu yang mengandung warna-warna linier yang sederhana. Saya suka sekali warna dan ilustrasinya.

    Awalnya saya tidak tahu arti dari judul buku ini karena ditulis total dalam bahasa Korea. Beruntung, ada fasilitas Google Translate di aplikasi Android. Saya cukup melakukan scan dengan kamera ke arah sampul bertuliskan judul buku dan aplikasi tersebut langsung merekam tulisan Hangul yang ada kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.

    Tetapi saat saya membuka halaman berikutnya, ternyata di sana terdapat lima baris kalimat berbahasa Inggris bertuliskan ‘Rosie’s Walk’ berikut keterangan penulis dan penerbit buku aslinya. Berbekal dari lima baris tersebutlah maka saya pun melakukan pencarian. Voila, saya menemukan banyak hal tentang buku ini dan jadilah resensi ini agak panjang.

    Sebuah wordless book dapat membuka imajinasi tanpa batas bagi siapa saja. Pun bahkan ketika buku tersebut tidak ditulis dalam bahasa ibu, namun dengan sedikit sentuhan kreativitas, pembaca bisa mengeksplorasi banyak hal. Biarkan gambar yang bercerita. Dan dari buku sejenis ini, saya melihat bukti bahwa dunia literasi bisa menjangkau pembaca meski tanpa kata dan suara.

  • Palestina yang Terlupakan oleh Khalid Basalamah

    Palestina yang Terlupakan

    Judul: Palestina yang Terlupakan
    Penulis: Khalid Basalamah
    Penerbit: Pustaka Ibnu Zaid
    ISBN: 978-602-51342-0-3
    Tahun terbit: 2018
    Cetakan: Kesatu
    Tebal: 86 hlm
    Genre: Agama Islam, Sejarah
    Rating: 4/5

    Berita-berita atau informasi yang banyak beredar di masyarakat, entah itu dari media cetak maupun elektronik, biasanya sangat berpotensi memunculkan sikap reaktif. Apakah itu reaksi positif, apakah itu negatif, asalkan informasi itu sensitif dan kontroversial, tak perlu menunggu waktu lama, sebentar saja pasti menjadi viral.

    Salah satu isu yang seringkali menjadi trending topic di dunia maya adalah isu Palestina, baik tentang konflik yang sedang terjadi maupun segala hal yang berkaitan dengannya.

    Dari isu-isu yang ada, kita bisa melihat bahwa betapa fluktuatifnya respon masyarakat kita. Ketika ada berita atau informasi terbaru tentang Palestina misalnya, masyarakat umumnya langsung memberikan respon yang beraneka ragam modelnya. Ada yang memberikan dukungan, ada yang biasa saja, ada yang mencibir, ada yang membenci, ada pula yang bergembira.

    Tak jarang pula terjadi perdebatan antara yang pro dan kontra, sebab isu Palestina memang isu panas yang sampai kapan pun akan terus bergulir. Namun, ketika selang beberapa hari berlalu sejak berita itu ramai dibicarakan, keramaian pro kontra tersebut turut hilang tanpa bekas.

    Jika ada berita atau informasi yang menjadi viral lagi, kehebohan itu kembali lagi seperti sedia kala, dan selanjutnya akan berlalu begitu saja. Apakah ini hanya euforia sesaat? Pun masyarakat seolah lupa bahwa nun jauh di belahan bumi sana, ada sebuah negeri yang diberkahi, yang penduduknya masih terus berjuang untuk kedaulatan tanahnya.

    Buku Palestina yang Terlupakan ini seolah hadir sebagai pengingat saya dan kita semua tentang keberadaan tanah yang diberkahi tersebut. Terlepas dari sedang marak atau tidaknya konflik yang berlangsung, sedang hangat atau tidaknya isu yang berkembang, buku ini mengingatkan kita kembali bahwa jangan sampai kita terlupakan dengan Palestina.

    Lupa akan keutamaan-keutamaannya, lupa akan alasan mengapa kita harus senantiasa mengingatnya, lupa akan pesan nabi Allah mengapa seorang muslim dianjurkan untuk mendatanginya walau hanya sekali seumur hidup, lupa mendoakannya, lupa membantunya, juga lupa akan banyak hal tentangnya. Ada berbagai jawaban dan alasan mengapa kita tidak boleh melupakan Palestina, dan bahasan ini disampaikan oleh Ustadz Khalid Basalamah dengan bahasa yang ringan di dalam buku ini.

    Khalid Basalamah adalah salah seorang asatidz yang mumpuni di Indonesia yang kajiannya juga banyak beredar di internet. Beliau menguasai banyak bidang ilmu seperti fikih, akidah, hadits, dan sebagainya. Gaya penyampaiannya yang ringkas dan renyah tapi padat sangat terlihat jelas di buku ini. Kalau saya boleh katakan, buku ini memang benar-benar to the point menyuguhkan Palestina apa adanya. Buku ini tidak mengupas tentang Palestina dari A sampai Z, melainkan berisi pembahasan mengapa Palestina tidak layak untuk dilupakan oleh seorang muslim.

    Ada bab mengenai keutamaan-keutamaan Palestina di dalam Al-Quran dan As-Sunnah, ada sejarah singkat tentang penduduknya, ada sejarah singkat tentang pembangunannya, juga tentang bagaimana akhirnya kaum Yahudi beramai-ramai memasukinya dan konflik apa sebenarnya yang terjadi di sana.

    Di dalamnya juga ada gambaran tentang kehidupan nyata masyarakatnya, termasuk kegiatan bercocok tanam, berdagang, juga kehidupan sosialnya. Ada tips singkat bagaimana cara ke sana bagi yang ingin berkunjung.

    Contoh isi halaman. Foto diambil dari penerbit.

    Meskipun tipis dan bahasanya ringan, isi buku Palestina yang Terlupakan menurut saya cukup mewakili untuk sekadar mengingatkan kaum muslimin bahwa ada satu masjid di sana yang salat di dalamnya lebih utama daripada salat di seribu masjid, yang terdapat bekas naiknya nabi ketika peristiwa Isra’ Mi’raj, yang pernah menjadi kiblat pertama kaum muslimin, yang di atas tanahnya telah banyak tertumpah darah para nabi, sahabat, tabi’in dan orang-orang shalih, yang di sanalah nanti akan turun nabi Isa ‘Alaihissalam.

    Buku ini seolah pelengkap bagi berbagai buku yang membahas tentang Palestina dan penduduknya, juga pengingat bagi kita yang bisa jadi tidak terlalu memikirkannya.

    Saya takjub melihat kualitas kertas dalam buku ini. Dengan ketebalan 86 halaman, buku ini menggunakan kertas licin dan tebal serta full color, pun harganya sangat terjangkau bila dibandingkan buku-buku full color sejenis.

    Buku ini juga dilengkapi ilustrasi berwarna. Saya bertanya-tanya, apa penerbitnya tidak rugi? Masya Allah, semoga menjadi amal jariyah. Jadi, bagi yang tidak suka bacaan berat, buku ini menurut saya sangat cocok untuk dibaca.

    Catatan sponsor: Bagi yang berminat dengan buku ini, Anda bisa mendapatkannya di PromoBuku.com atau Whatsapp ke wa.me/6283130117884

  • The Great of Two Umars oleh Fuad Abdurrahman

    Buku The Great of Two Umars

    Judul: The Great of Two Umars
    Penulis: Fuad Abdurrahman
    Penerbit: Zaman
    ISBN: 978-602-8417-43-3
    Tebal: 134 hlm
    Genre: Agama Islam, Kisah dan Hikmah
    Rating: 4/5

    Awalnya saya merasa enggan untuk membaca buku ini ketika diberi tawaran untuk membedahnya di sebuah komunitas pembaca muslimah. Alasannya sederhana saja. Pertama, karena saya menganggap sepele buku-buku sejenis, yakni buku sejarah atau biografi tokoh yang dikemas dalam buku tipis dan ringkas, bukan kitab-kitab tebal seperti umumnya buku sirah.

    Buku ringkas biasanya kurang utuh mengupas isi secara lengkap. Kedua, berhubung karena saya sudah pernah membaca buku lainnya tentang biografi dua Umar dari ulama masyhur, dalam pikiran saya ya isinya paling itu ke itu juga sehingga saya jadi malas untuk membaca tema sejenis. Buang-buang waktu, pikir saya.

    Tetiba saya teringat penjelasan di buku Hilyah Thalibil ‘Ilmi tentang nasihat bagi seorang penuntut ilmu bahwa kita tidak boleh bersikap sombong ketika menuntut ilmu, merasa diri sudah berilmu setelah membaca sebuah kitab, bahkan menganggap remeh ilmu sekecil apapun.

    Subhaanallaah … Nasihat itu terlintas di kepala saya dan mendadak saya tersadar dan merasa malu. Astaghfirullaah … Semoga Allah mengampuni kesombongan saya pada saat itu.

    Pantaslah ya mengapa Allah tidak menyukai kesombongan karena kesombongan dapat menutup pintu-pintu kebaikan yang lain. Dan masya Allah, ternyata Allah memiliki cara-Nya sendiri untuk mendidik kita. Setelah membacanya, saya merasa beruntung karena saya bisa membuat catatan-catatan penting atas kelebihan dan kekurangan buku ini.

    The Great of Two Umars karya Fuad Abdurrahman ini berisi kisah-kisah penuh hikmah dan keteladanan dari dua khalifah Islam yang memiliki nama sama, Umar bin Khathab dan Umar bin Abdul Aziz. Keduanya bukanlah tanpa hubungan keluarga.

    Umar bin Abdul Aziz (yang disebut Umar II oleh para ulama) adalah cicit Umar bin Khathab (yang disebut Umar I) dari cucu perempuannya yang bernama Ummu ‘Ashim binti ‘Ashim bin Umar bin Khathab.

    Buku ini dibagi menjadi dua bagian utama. Bagian pertama merupakan bagian Umar bin Khathab, sedangkan bagian kedua berisi kisah Umar bin Abdul Aziz. Di setiap bagiannya, penulis membagi kisah-kisah mereka berdasarkan kategori tertentu, misalnya kehidupan sebelum menjadi khalifah, sifat-sifat utamanya, saat menjadi khalifah sampai ketika meninggal dunia.

    Dan di setiap kategorinya, penulis memaparkan kisah dua Umar secara kasus per kasus fragmen kehidupan masing-masing.

    Dari kisah-kisah yang dituliskan, pembaca sedikit banyak akan mengenal lebih dekat sosok dua khalifah paling fenomenal ini; Bagaimana sifat rendah hatinya, ketegasannya, keadilannya, ketakwaan dan kepemimpinannya dalam masyarakat, serta beberapa kebijakan yang mereka ambil.

    Mengapa dua Umar ini yang dibahas? Padahal ada beberapa khalifah lainnya yang juga memiliki karakter pemimpin yang tak kalah hebatnya. Menurut saya ini dikarenakan keduanya unik; namanya sama, memiliki hubungan darah, sama-sama menjadi khalifah, dan sama-sama melakukan reformasi dan inovasi ke arah kebaikan ketika menjadi khalifah dalam rentang waktu yang berbeda.

    Di dalam pengantarnya penulis menjelaskan bahwa The Great of Two Umars hadir dari kerinduannya terhadap sosok pemimpin yang adil, bijaksana, memiliki karakter dan iman yang kuat, yang sangat sulit sekali ditemukan di masa sekarang ini.

    Ada banyak pemimpin yang bagus, tapi belum ada di masa sekarang ini yang bisa mendekati prestasi kepemimpinan kedua Umar ini. Dan inilah salah satu latar penulis membuat buku ini, agar orang-orang bisa mengenal sosok dua Umar yang hebat dan mengambil hikmah dari kehidupan mereka.

    Pujian terhadap Buku

    Ada beberapa poin dari buku ini yang menurut saya menjadi kelebihan.

    1. Penulis mampu membuat satu buku ringkas berisi informasi yang padat dari dua sosok terkenal, yang sebetulnya, masing-masing kisah atau biografi mereka banyak dituliskan di dalam satu buku tebal terpisah.

    2. Penulis mampu melakukan transfer konten sejarah kehidupan dua Umar dari buku-buku teks sejarah yang umumnya dianggap berat untuk dibaca oleh sebagian orang ke buku dengan bahasa yang lebih ringan penuturannya.

    3. Buku ini ditulis dengan gaya penulisan narasi yang mudah dicerna oleh pembaca pada umumnya. Nggak njelimet dan ribet. Buku ini ditulis menggunakan bahasa penulis sendiri sehingga tidak terasa membosankan. Ini merupakan poin plusnya karena bisa menjadi alternatif bacaan sejarah bagi mereka-mereka yang kurang cocok dengan buku-buku berat dan tebal.

    Kritik atas Buku

    Saat membaca buku ini, ingatan saya terbang ke kisah dua sosok Umar yang saya kenal dari buku-buku dari penulis lain, terutama dari kalangan ulama-ulama yang masyhur. Ada sedikit perbedaan krusial yang saya temukan dan ini mau tak mau membuat saya membanding-bandingkan konten kisah antara kedua buku.

    Saya bukanlah seorang pakar sejarah, bukan pula seorang pengamat sejarah. Rasanya kurang pantas bagi saya untuk mengkritik karya seseorang, terlebih saya bukan ahli. Tapi, sebagai wujud apresiasi subyektif saya terhadap sebuah buku yang dibaca, inilah menurut saya yang menjadi kelemahan atau kekurangan yang saya dapati setelah membaca buku The Great of Two Umars.

    1. Ada beberapa kisah di dalam buku ini yang tidak sesuai dengan riwayat aslinya. Ada juga kisah yang disandarkan pada riwayat lemah maupun munkar atau palsu.

    Sebagai contoh di bagian kisah Umar bin Khathab, ada kisah Umar bin Khathab yang menghukum putranya yang berzina hingga wafat. Riwayat dari kisah ini adalah riwayat palsu.

    Jika kita telusuri di beberapa buku sirah yang ditulis ulama-ulama masyhur dan bersumber dari sumber yang shahih, maka tidak ditemukan satu pun riwayat tentang kisah ini. Dan jika kita telusuri lebih lanjut, ada beberapa kajian yang mengulas tentang kepalsuan kisah ini. Wallahua’lam.

    Contoh lain adalah kisah antara Umar bin Khathab dan ‘Amr bin Al-‘Ash ketika memutuskan hukuman atas putra ‘Amr bin Al-‘Ash yang kurang sesuai dengan riwayat aslinya.

    Mungkin, di buku The Great of Two Umars ini, kisah-kisah tersebut oleh penulis dimaksudkan untuk menunjukkan sikap ketegasan Umar sebagai seorang khalifah, namun kisah-kisah ini sebetulnya cukup masyhur dan sering dijadikan dalih untuk mendiskreditkan sosok Umar dan sahabat Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam oleh sebagian kalangan.

    Contoh kisah dengan riwayat lemah lainnya adalah di bagian Umar bin Abdul Aziz, yaitu kisah tentang Umar bin Abdul Aziz dan sikap Bani Umayah terhadap Ali bin Abi Thalib. Di dalam kisah ini diceritakan bahwa satu-satunya keturunan Bani Umayah yang tidak mencerca Ali adalah Umar bin Abdul Aziz. Implikasi dari pernyataan ini adalah bahwa seluruh keturunan Bani Umayah adalah pencerca Ali.

    Di dalam bukunya, Biografi Umar bin Abdul Aziz (Beirut Publishing), Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi menjelaskan tentang topik ini secara rinci bahwasanya pernyataan tersebut tidaklah benar dan riwayat tentang pencerca Ali ini lemah dan perawinya tidak dapat dipercaya. Jadi ada semacam distorsi sejarah di sini.

    Sebetulnya sangat disayangkan jika poin-poin di atas muncul di buku. Di lembar daftar pustaka, penulis mencantumkan beberapa buku atau kitab yang ditulis oleh ulama-ulama pakar sejarah terpercaya dan dikenal berhati-hati sebagai referensi yang valid, termasuk Ash-Shallabi di dalamnya. Namun, mengapa penulis masih memasukkan kisah-kisah yang riwayatnya lemah, munkar, atau yang tidak sesuai dengan riwayat aslinya?

    Mengapa topik tentang Umar bin Abdul Aziz ada yang bertentangan dengan penuturan Ash-Shallabi sendiri di dalam kitab yang dirujuk oleh penulis sendiri? Saya tidak tahu alasan penulis mencantumkan kisah-kisah tersebut. Apakah memang karena kekhilafan penulis yang mungkin kurang ketat dalam melakukan seleksi terhadap kisah-kisah masyhur tersebut? Wallahua’lam.

    2. Meskipun sebelumnya saya sebut sebagai satu kelebihan buku ini, gaya penulisan narasi yang diterapkan untuk biografi atau shiroh sahabat/shahabiyah rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wasallam, menurut saya, sekaligus juga memiliki beberapa titik lemah.

    Pertama, berbicara tentang kisah sahabat rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tentu kita tidak mungkin berlepas diri dari hadits atau riwayat yang jelas sanadnya. Maka, mengonversi redaksi sebuah hadits atau riwayat menjadi narasi sesuai gaya penulisan seorang penulis haruslah dilakukan secara sangat hati-hati.

    Perbedaan kalimat yang kurang tepat dapat menyebabkan perbedaan makna yang cukup jauh, yang alih-alih bisa memberikan perbedaan persepsi bagi pembaca atas kisah yang sebenarnya. Dan inilah yang saya dapati di beberapa kisah di dalam buku ini.

    Kedua, menuliskannya secara narasi—termasuk di dalamnya dialog-dialog yang terjadi antara tokoh-tokoh yang disebutkan—terkadang tidak terlepas dari bagaimana karakter penokohannya. Mungkin penulis ingin membuat adegan atau kisahnya lebih dramatis sehingga pembaca lebih tertarik, maka penulis kemudian menentukan karakter yang sesuai dengan penggambaran tokoh.

    Implikasinya, penulis akhirnya membuka pintu asumsi bagi dirinya sendiri tentang bagaimana sikap atau kata-kata yang tepat dari si tokoh. Jika kita berbicara tentang sebuah buku fiksi, tentu asumsi-asumsi ini bisa dibenarkan.

    Tetapi, ketika kita berbicara dalam konteks kisah sejarah atau apalah istilahnya buku yang berdasarkan fakta dan rekam sejarah, terlebih lagi yang berkaitan dengan keabsahannya, maka menurut saya, seharusnya kita tidak membuka pintu asumsi terlalu luas dalam hal ini.

    Sebagai contoh, jika penulis ingin menunjukkan sosok Umar bin Khathab yang tegas terhadap kezhaliman atau kemungkaran, maka wajar saja jika perkataan Umar di dalam dialog diasumsikan sedemikian rupa agar terlihat karakter tegasnya, tentunya tidak lari dari esensi ucapan beliau yang sebenarnya.

    Hanya saja, yang saya dapati di buku ini justru apa yang disampaikan di dalam dialog narasinya terkadang tidak sama rasa dan maknanya dengan dialog yang terdapat pada riwayat aslinya, apalagi jika penulis melakukan improvisasi dalam dialog-dialog tersebut.

    Misalnya ketika di buku ini Umar bin Khathab digambarkan sedang marah lalu mengucapkan kata “Kurang Ajar”, apakah memang demikian adanya di dialog aslinya yang berbahasa Arab?

    Berhubung saya tidak paham bahasa Arab, saya jadi bertanya-tanya, ungkapan seperti ‘kurang ajar’ yang di masyarakat kita dianggap sebagai umpatan yang agak kasar, apakah ada di ungkapan Arab yang berkonotasi sejenis? Apakah Umar mengatakan itu di riwayat aslinya? Saya tidak tahu.

    Tetapi dari kacamata awam, saya merasa Umar di fragmen itu terkesan negatif. Hal ini mungkin sekilas terlihat sepele, tapi tahukah kita kalau efek dari hal ini bisa saja lebih luas? Bahwa pembaca berpotensi memahami kalau sosok seorang Umar bin Khathab itu hobi mengumpat, padahal nyatanya tidak diriwayatkan demikian.

    Sejujurnya, ketika membaca kisah-kisah di dalam The Great of Two Umars, terutama di bagian Umar bin Khathab pada bab-bab awal, saya merasakan sosok beliau digambarkan sebagai orang yang kasar sekasar-kasarnya. Sebentar-sebentar marah, ngamuk, seolah-olah tidak ada jeda.

    Padahal, rasa ini sangatlah berbeda dengan sosok Umar bin Khathab yang saya baca kisahnya dari buku-buku referensi lain, yang diceritakan lewat penuturan redaksi-redaksi hadits nabi maupun riwayat para sahabat tentang beliau secara lengkap dan runut.

    Di buku referensi tersebut, Umar memang karakternya sangat keras dan tegas. Namun kita masih bisa merasakan bahwa bersamaan dengan karakter keras dan tegasnya tersebut, terselip juga jeda atas pertimbangan atau kebijaksanaannya. Apakah ini karena faktor penulisan narasi? Wallahua’lam.

    Kesan terhadap Buku

    Ketika pertama kali melihat judul buku The Great of Two Umars, di dalam pikiran saya terlintas gambaran bahwa buku ini akan berisi telaah pembahasan tentang benang merah antara dua Umar sebagai khalifah. Apa yang membuat kedua khalifah ini istimewa?

    Prestasi-prestasi dan gebarakan apa saja yang dilakukan oleh mereka sehingga menjadi sangat fenomenal? Bagaimana pandangan dan kebijakannya dalam bidang politik, ekonomi, pemerintahan dan peradilan? Apa ada korelasinya meski sudah berjarak waktu? Misalnya apakah ada estafet kebijakan yang dilanjutkan Umar bin Abdul Aziz dari pendahulunya Umar bin Khathab? Dan bagaimana kaitannya dengan zaman sekarang? Pemikiran-pemikiran semacam itu muncul di benak saya.

    Tetapi setelah membacanya, hal itu ternyata tidak banyak saya temukan. Meski sudah saya balik-balik lembarannya sampai habis, buku ini menurut saya lebih cenderung mengulas kisah hikmah yang ada dari keduanya dalam sisi karakter. Padahal, Umar bin Khathab memiliki banyak sekali prestasi dan keistimewaan yang membuat kita berdecak kagum, yang Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sampai mendoakannya saat masih jahiliyah.

    Pun begitu dengan Umar bin Abdul Aziz yang disebut sebagai pembaru pertama dalam Islam. Gebrakan-gebrakannya dalam dunia pendidikan, pemerintahan, ekonomi juga sangatlah gemilang mengikuti jejak kakek buyutnya. Memang ada diulas juga di buku ini tentang prestasi dan kebijakan dua Umar ini, namun tidak banyak.

    Kesimpulan

    Menurut saya, buku The Great of Two Umars ini memang lebih cocok buat pembaca yang tidak suka membaca buku bertipe serius atau berat dan tebal. Bagi yang lebih suka membaca kitab sejarah atau sirah tebal, buku ini mungkin kurang menggigit.

    Secara keseluruhan, buku ini bagus, baik. Cukuplah untuk pembaca mengenal sosok Umar bin Khathab dan Umar bin Abdul Aziz sebagai awalan. Bahasa yang dipakai juga ringan dan nyaman.

    Pemaparan penulis atas kisah-kisahnya juga cenderung mudah meresap buat pembaca, apalagi bagi yang mudah tersentuh atau termotivasi. Tapi barangkali juga lebih pas jika hanya dijadikan sebagai buku tambahan wawasan seputar kisah dan hikmah, bukan sebagai buku referensi sejarah tokoh atau sirah Islam.

    Dan yang paling penting, pembaca hendaknya juga membekali diri dengan filter yang baik. Tidak serta-merta menelan mentah-mentah seluruh isinya, terutama pada bagian-bagian yang memang berpotensi menimbulkan kesalahan persepsi atau pemahaman.

    Karena isi buku ini ada yang berdasarkan sumber yang shahih, dan ada pula yang mencatut sumber yang lemah, maka alangkah lebih baik lagi jika membaca buku ini dibarengi juga dengan membaca buku sirah yang ditulis oleh ulama-ulama masyhur dan shahih, agar pembaca bisa membuat catatan-catatan tersendiri dan punya perbandingan. Ini akan membuat kegiatan membaca kita menjadi lebih seru ketika menggali hal-hal baru.

    Dari segala kelebihan dan kekurangannya, buku ini merupakan buah karya seseorang. Saya sangat mengapresiasi usaha penulis atas buku ini. Cukuplah kebaikan saja yang perlu kita ambil dari buku ini.

    Sekilas tentang Prestasi Dua Umar

    Berikut ini prestasi dan kebijakan dari sosok dua Umar yang saya rangkum dari referensi lain. Saya pikir pembaca yang belum mengenal beliau perlu mengetahui sekilas.

    Umar bin Khathab

    • Dikenal dengan pemahaman yang mendalam, kemampuan untuk menyelesaikan masalah, dan kepiawaiannya dalam menarik kesimpulan sehingga menjadi pakar fikih
    • Melakukan perluasan wilayah Islam yang paling besar
    • Membuat sistem penanggalan Hijriah
    • Membuat sistem pengawasan harga dan pasar
    • Membangun sebuah lembaga fikih dan fatwa di Madinah
    • Pembangunan kota, jalan dan transportasi darat dan laut, termasuk lumbung-lumbung perbekalan untuk para musafir
    • Orang pertama yang membentuk Diwan di negara Islam. Diwan adalah catatan atau buku yang ditulis di dalamnya urusan-urusan negara. Semakin meluasnya daerah kekuasaan Islam pada masa itu, Umar membuat Diwan sebagai
    • Dll

    Umar bin Abdul Aziz

    • Seorang pembaru pertama dalam Islam (mujaddid)
    • Meluruskan akidah sesuai akidah ahlus sunnah
    • Membukukan hadits
    • Menetapkan metode pembelajaran, cara pengajaran, prioritas dalam pendidikan anak
    • Sentralisasi dan desentralisasi pemerintahan
    • Manajemen waktu dalam segala aspek, baik pendidikan dan pemerintahan
    • Pembaruan musyawarah dalam memilih dirinya sebagai khalifah
    • Memilih orang-orang yang amanah sesuai pos-posnya
    • Menghapuskan retribusi pasar
    • Dll
  • Penghancuran Buku dari Masa ke Masa oleh Fernando Báez

    Penghancuran Buku dari Masa ke Masa

    Judul: Penghancuran Buku dari Masa ke Masa
    Judul Asli: A Universal History of the Destruction of Books: From Ancient Sumer to Modern Iraq
    Penulis: Fernando Báez
    Penerjemah: Lita Soerdjadinata
    Jumlah halaman: 373 hlm
    Penerbit: Marjin Kiri
    Tahun terbit: Maret 2015
    Cetakan: Ketiga
    ISBN: 978-979126024-4
    Genre: Nonfiksi, Sejarah
    Rating: 5/5

    Pemusnahan buku sejatinya adalah pembunuhan atas ingatan. Buku, yang dari bentuk paling asalnya di zaman kuno hingga bentuk paling mutakhirnya di zaman modern, adalah rekaman jejak sejarah sekaligus mata rantai penghubung antara masa lampau, saat ini dan masa depan peradaban manusia.

    Betapa ironis mengetahui bahwa, sejak zaman kuno sampai saat ini, milyaran buku telah mengalami penghancuran yang bersifat permanen, baik yang disebabkan oleh tangan manusia maupun bencana alam, bahkan oleh musuh alami buku itu sendiri.

    “Kenangan kita tak ada lagi. Tempat lahir peradaban, tulisan, dan hukum, musnah terbakar. Sisanya tinggal abu.” Demikian kata seorang profesor sejarah abad pertengahan di Bagdad. (halaman 3)

    Jika terhadap manusia ada istilah genosida, maka librisida—atau yang oleh sebagian orang disebut dengan istilah bibliosida—adalah istilah yang tepat bagi pemusnahan buku, terutama yang dilakukan secara tersistem.

    Dan berbagai peristiwa librisida tersebut dirinci secara menakjubkan oleh penulis asal Venezuela ini, Fernando Báez, di dalam bukunya yang berjudul Penghancuran Buku dari Masa ke Masa.

    Báez membahas kajiannya ke dalam tiga pembagian waktu. Pertama, peristiwa yang terjadi di zaman dunia kuno, mulai dari hancurnya ribuan tablet di perpustakaan Babilonia, pembakaran papirus-papirus di Mesir, runtuhnya perpustakaan Alexandria, hingga pembunuhan kaum terpelajar disertai pembakaran buku di Cina. Masih ada banyak peristiwa librisida lainnya di zaman dunia kuno yang juga dirinci oleh penulis.

    Memasuki bagian kedua, penulis memaparkan rincian peristiwa penghancuran buku di masa-masa Byzantium hingga abad ke-19. Contohnya seperti penghancuran Al-Quran di masa perebutan Spanyol, pemberangusan para astrolog di Eropa, pembakaran buku oleh gereja, sampai sensor buku di Inggris dan kasus-kasus lainnya.

    Dan terakhir adalah librisida dari abad ke-20 hingga sekarang, termasuklah di dalamnya pemusnahan dan penjarahan besar-besaran Perpustakaan Nasional Irak saat invasi AS ketika terjadi penggulingan Saddam Hussein, yang merupakan kehilangan terbesar dalam sejarah abad ke-21.

    Berbagai dokumen bersejarah dari zaman Ottoman yang tidak ternilai harganya, arsip kerajaan kuno Irak, risalah-risalah Ibnu Rusyd, Al Kindi dan Al Farabi, naskah-naskah penting Ibnu Sina, Al-Quran dari abad ke-9, hingga jutaan koleksi, manuskrip dan mikrofilm buku elektronik lainnya musnah.

    Kehilangan ini bukan hanya tentang musnahnya buku-buku, melainkan pemusnahan kebudayaan dan peninggalan dari salah satu peradaban terbesar dalam sejarah umat manusia.

    Selain sejarah penghancuran buku di dunia dari masa ke masa, Báez juga menambahkan satu bagian khusus yang membahas penghancuran buku di dalam karya fiksi. Cukup unik. Ini akan menambah wawasan pembaca mengenai buku fiksi yang menyinggung tentang librisida.

    Hasil Kerja 12 Tahun

    Penghancuran Buku dari Masa ke Masa ini merupakan hasil kerja penelitian 12 tahun Báez. Ia menelusuri dan menganalisa berbagai dokumen dan arsip yang membahas tentang librisida dari zaman ke zaman, termasuk manuskrip-manuskrip kuno dan salinan kajian kuno.

    Berbagai sumber referensi penulisan bukunya ia peroleh dari banyak kalangan seperti para pustakawan, ahli sejarah, akademisi, kolektor buku langka, bahkan para penjual buku langka dari tiga benua.

    Tak tanggung-tanggung, ia bahkan melakukan audiensi dan diskusi, termasuk koreksi atas naskah bukunya kepada pihak-pihak ahli sehingga data dan penjelasannya akurat. Kelebihan lainnya dari buku ini adalah bahwa penulis cukup obyektif dan tidak berat sebelah dalam memaparkan sejarah.

    Sebelum melakukan riset yang mendalam terhadap sekian banyak literatur yang ia gunakan, penulis yang juga menjabat sebagai Kepala Perpustakaan Nasional Venezuela sekaligus penasehat UNESCO ini di tahun 2003 pernah berada di Irak dan menyaksikan langsung realita pembakaran buku dan perusakan museum saat itu.

    Keprihatinannya atas pemusnahan budaya suatu bangsa inilah yang mendorongnya untuk menulis kajian tentang bibliosida. Akibat kritik dan ulasannya tentang perang Irak yang berkaitan dengan kritik terhadap Amerika Serikat, Fernando Báez di-persona non-grata-kan oleh pemerintah AS.

    Bibliosida dalam Diri Kita

    Jika kita mencermati peristiwa demi peristiwa penghancuran buku yang ada di dunia, kita akan mendapati satu benang merah yang sama, bahwa para pelaku librisida bukanlah orang-orang bodoh tanpa ilmu. Justru kebanyakan dari mereka berasal dari kaum intelektual terdidik.

    Banyak faktor yang mendorong tindakan penghancuran buku tersebut. Di banyak tempat dan masa, umumnya librisida terjadi karena motif ideologis masing-masing; Seorang penguasa yang ingin melindungi pemikiran rakyatnya, faktor kebencian etnis, konten yang menentang penguasa, bahkan ada yang disebabkan persaingan ilmu pengetahuan dan alasan-alasan subyektif lainnya.

    Buku ini menurut saya termasuk yang terbaik dan paling lengkap dari kajian tema sejenis tentang penghancuran buku. Terus terang, buku ini sangat berkesan buat saya karena isinya benar-benar kompleks, tetapi ada lintasan pikiran yang cukup kontradiktif di kepala saya.

    Di satu sisi, saya sangat sepakat dengan ide dan kajian penulis, bahwa bibliosida adalah kekejaman atas buku yang harus kita hindari. Betapa seseorang telah menuangkan isi kepala, waktu dan tenaganya ketika menulis sebuah buku, bahkan ada yang membutuhkan waktu lama hingga menghabiskan seumur hidupnya. Terhadap buku hasil karya seperti itu, rasanya menyedihkan jika dimusnahkan.

    Saya menolak pemusnahan buku yang tanpa alasan kuat. Namun, di sisi lain, sejujurnya saya mungkin akan menjadi salah satu oknum bibliosida tersebut.

    Bagi saya pribadi, buku-buku yang isinya bisa bersifat merusak secara langsung—tentu saja parameter yang saya gunakan subyektif—dan selama buku itu bukan saya gunakan untuk proses pematangan pemikiran saya, maka barangkali buku itu akan saya “sembunyikan”.

    Bukankah menyembunyikan buku masih termasuk dalam term bibliosida? Menurut saya, setiap orang berpotensi menjadi bibliosida sekecil apapun itu.

    ***

    Pun walau begitu, buku ini adalah buku bertema tentang buku terbaik yang pernah saya baca dan sangat saya rekomendasikan bagi para pecinta buku.

    “Momen dalam berhadapan dengan sebuah buku adalah momen di mana politik kebudayaan itu diuji: apakah kebudayaan kita masih dikungkung oleh suatu kebencian fasistik ataukah makin cukup terbuka untuk maju.” (halaman xviii)

  • The Illustrated History of Torture from the Roman Empire to the War of Terror oleh Jack Vernon

    Judul: The Illustrated History of Torture from the Roman Empire to the War of Terror
    Penulis: Jack Vernon
    Penerbit: Carlton Books Limited
    Tahun terbit: 2011
    Tebal: 63 halaman
    ISBN: 9781847328380
    Genre: Nonfiksi, Sejarah
    Rating: 4/5

    Mendengar istilah penyiksaan umumnya membuat bulu kuduk kita merinding, membayangkan betapa mengerikannya sebuah siksaan, terlepas dari apa penyebabnya. Jangankan melihat visualnya di layar kaca, membaca gambaran adegannya di dalam sebagian buku-buku fiksi sejarah atau thriller saja terkadang memunculkan atmosfer kengerian bagi kita, si pembaca, konon lagi menyaksikannya secara langsung.

    George Ryley Scott mengemukakan di dalam bukunya yang berjudul The History of Torture Throughout the Ages bahwa tidak ada batasan baku dari istilah penyiksaan. Menurut sejarahnya, dahulu umumnya penyiksaan ditempuh sebagai metode dari sebuah hukuman.

    Secara defenitif, penyiksaan adalah bentuk kekejaman atau metode menyiksa yang disetujui oleh Negara dan dilaksanakan oleh pejabat yang ditunjuk melalui otoritas peradilan. Tentu saja timbul pro dan kontra atas isu penyiksaan ini dari zaman ke zaman.

    Dulu, penyiksaan yang mengerikan sekalipun dianggap benar karena digunakan peradilan untuk membuat seorang tersangka mengakui kesalahannya atau seorang saksi menceritakan kesaksiannya.

    Namun kemudian istilah penyiksaan ini bisa terlalu luas atau terlalu sempit. Terkadang penyiksaan yang terlalu sadis menjadi pembenaran ketika disebut hukuman. Dan sebaliknya, hukuman yang ringan pun dapat dianggap sebagai siksaan psikologis.

    Tapi, terlepas dari itu semua, penyiksaan umumnya diikuti oleh kematian atau setidaknya kekejaman, penderitaan dan rasa sakit.

    “The purpose of torture is not getting information. It’s spreading fear.” (Eduardo Galeano)

    Beranjak dari defenisi tersebut, buku ini, The Illustrated History of Torture – From the Roman Empire to the War on Terror, memuat berbagai jenis penyiksaan yang pernah ada di dunia, sejak masa Romawi kuno hingga era modern saat ini.

    Sejujurnya, saya cukup nekad dan memberanikan diri untuk membacanya karena saya sangat penasaran dengan isinya. Ketika membelinya dulu di ajang buku murah Big Bad Wolf, saya langsung tertarik dengan judul dan wujud fisiknya yang cukup unik.

    Saya pikir buku ini pasti bagus dan isinya penuh wawasan baru bagi saya. Dan syukurnya saya tidak kecewa. Buku singkat dan padat berbahasa Inggris ini cukup membuat saya terkesan.

    Ada lebih dari 25 jenis siksaan yang dijelaskan di buku berilustrasi yang ditulis oleh Jack Vernon ini. Lembar demi lembarnya berisi cuplikan aneka siksaan yang diterapkan di berbagai negara dan masa berikut dengan penjelasan berbagai latar belakang mengapa siksaan tersebut dilakukan. Mulai dari yang paling sederhana seperti pemukulan, hingga yang sangat sadis seperti mutilasi, dikuliti, direbus, dipanggang, disalib, atau digergaji.

    Selain siksaan-siksaan yang umum kita pernah tahu atau dengar, terdapat juga jenis siksaan yang tak lazim. Sebagai contoh, scaphism, yakni jenis siksaan kuno Persia di mana korban diikat di dalam perahu lalu ditutup dengan perahu yang lain, hanya menyisakan kepala dan kakinya saja di bagian luar. Korban kemudian diberi makan madu dan susu, juga dilumuri di sekujur tubuhnya madu dan susu.

    Dibiarkan di ruangan terbuka seperti itu, berbagai serangga seperti lebah, semut, dan lalat mengerubunginya, menggigitnya. Ini berlangsung cukup lama sehingga luka yang dibiarkan membusuk, juga kotoran korban yang dibiarkan begitu saja akhirnya mengundang datangnya larva pembusuk dan menggerogoti tubuh korban. Korban kemudian dibiarkan menderita sampai mati. Mengerikan ya …

    Illustrated History of Torture page 1
    Illustrated History of Torture page 2

    Ada juga jenis siksaan tak lazim lainnya oleh bangsawan wanita Slovakia bernama Elizabeth Bathory, yang lebih dikenal dengan Iron Maiden, yang telah menyiksa dan membunuh banyak orang menggunakan sebuah tabung yang di dalamnya dilapisi banyak sekali duri atau pisau tajam.

    Tak luput siksaan yang dilakukan oleh Vlad Tepes, atau yang biasa kita kenal dengan Vlad Drakula, di mana korbannya ditusuk dengan sula dari tubuh bagian bawah hingga ke atas.

    Tidak hanya siksaan ratusan atau ribuan tahun yang lalu, terdapat pula jenis siksaan di masa perang dan era yang lebih modern, termasuk siksaan psikologis, obat-obatan kimia, listrik dan banyak lagi jenis siksaan lainnya yang tak kalah membuat pembaca bergidik.

    Tokoh-tokoh yang menjadi pencetus siksaan atau korban terkenal yang pernah disiksa dijelaskan juga di buku setebal 63 halaman ini.

    The Illustrated History of Torture begitu gelap. Tak cukup dengan deskripsi yang mengerikan, buku berisi lembaran kertas glossy tebal ini juga dilengkapi dengan amplop-amplop berisi salinan dokumen langka sebagai tambahan fakta, seperti salinan surat, fax, dan sebagainya, serta berbagai ilustrasi berwarna yang cukup membuat badan saya ngilu.

    Illustrated History of Torture page 3

    Saya tidak menemukan banyak informasi tentang penulis. Apakah penulis memiliki latar belakang kasus penyiksaan, atau seorang psikolog, atau yang lainnya, tak banyak saya temukan, sebab ada beberapa tokoh dengan nama sama yang saya temukan di internet. Tak satu pun penjelasan tentang penulis buku ini.

    Namun, dari apa yang saya lihat, penulis menyusun buku hebat ini berdasarkan berbagai data yang ia dapati dari sumber-sumber dan fakta sejarah yang ada.

    Tak luput ia juga memasukkan beberapa data yang bisa jadi belum jelas kebenarannya, semacam legenda atau kisah yang diceritakan turun-temurun, terutama pada bagian masa-masa kuno, dan itu bisa jadi juga ada benarnya. Secara keseluruhan, buku ini berisi wawasan baru bagi saya pribadi.

    Efek dan Dorongan Psikologis dalam Penyiksaan

    Buku ini tidak terlalu banyak memaparkan secara panjang lebar tentang faktor psikologi baik dari sisi si korban maupun penyiksanya. Bagaimana dampak dari penyiksaan tersebut terhadap pelakunya juga tidak dijabarkan. Pembaca hanya akan mengetahui berbagai siksaan yang ada, penyebab dan latar belakang mengapa siksaan tersebut diberikan.

    Ini memang cukup memberikan makna baru bagi kita. Siksaan bisa saja muncul karena pelanggaran aturan, bisa jadi juga karena pergolakan politik, pun karena balas dendam. Apa saja bisa menjadi alasan tercetusnya penyiksaan oleh seseorang kepada orang lain.

    Meskipun sisi psikologisnya tidak banyak dibahas di buku berilustrasi ini, saya akan mengutip sedikit pembahasan tentang hal tersebut dari bukunya Scott yang berjudul The History of Torture Throughout the Ages, yang banyak mengulas sisi psikologis dari sebuah penyiksaan.

    Menurut penjabaran Scott, bahwa penyiksaan individu muncul karena adanya dorongan kepuasan batin bagi si penyiksa atau pihak yang mendukung penyiksaan, terutama karena faktor membalaskan dendam atau menuntut keadilan atas tindakan si korban.

    Selain kepuasan, penyiksaan muncul dari adanya dorongan prestise seseorang dalam menunjukkan dominasi kekuasaannya atas orang lain. Penyiksaan juga mewakili ekspresi fisik atas kebencian seseorang.

    Penyiksaan di manapun itu dipraktikkan dan apapun objeknya bisa berkembang dan meluas. Umumnya, individu yang menjalani penyiksaan sebagai korban merupakan calon penyiksa potensial karena dampak psikologis yang dirasakannya berpotensi menyimpan bibit dendam dan kebencian.

    Maka tak heran jika kita sering mendengar seseorang menyiksa hewan sebagai pelampiasan hanya karena ia sebelumnya pernah mengalami penyiksaan oleh rekannya. Seorang penyiksa bisa saja mengembangkan aneka bentuk siksaan untuk memenuhi kepuasan batinnya.

    Ia akan mencoba dari satu metode ke metode yang lain sedemikian rupa sehingga proses penyiksaan semakin menunjukkan superioritasnya dan membuat korban semakin menderita.

    Dari banyak kasus, umumnya penyiksaan dilakukan oleh orang-orang yang memang latar belakangnya lekat dengan tindakan kekejaman. Jika bukan sebagai korban secara langsung, mereka adalah orang-orang yang di sekitarnya telah tumbuh subur tindakan kekejaman.

    ***

    Siksaan sejak ribuan tahun lalu telah memunculkan banyak pro dan kontra di kehidupan sosial manusia. Efek dari siksaan yang di luar akal kita terkadang tak cukup untuk menghentikan aktivitas ini bagi sebagian kalangan.

    Saya semakin menyadari, betapa hati manusia itu sebuah rahasia yang sangat dalam dan sesuatu yang hebat. Betapa secuil daging itu mampu menanggung beban kekejaman dan sensasi sadis ketika menyiksa orang lain.

    Dan dari apa yang digambarkan oleh buku The Illustrated History of Torture from the Roman Empire to the War of Terror ini, pembaca akan memahami satu hal penting, bahwa siksaan dan rasa sakit yang mengerikan bisa jadi lebih buruk daripada kematian itu sendiri.

    “When we torture people, even if we win the battle, we’ve already lost the war for hearts and minds. Especially our own.” (Dean Ornish)

  • Hilyah Thalibil ‘Ilmi oleh Bakr bin Abdullah Abuzaid

    Hilyah Thalibil Ilmi Perhiasan Penuntut Ilmu

    Judul: Hilyah Thalibil ‘Ilmi – Perhiasan Penuntut Ilmu
    Judul Asli: Hilyah Thalibil ‘Ilmi
    Penulis: Bakr bin Abdullah Abuzaid
    Alih Bahasa: Harwin Murtadlo
    Penerbit: Al-Qowam
    ISBN: 978-602-8417-43-3
    Tebal: 134 hlm
    Genre: Agama Islam, Pendidikan Islam
    Rating: 4/5

    Ada sebuah perkataan bagus dari sahabat nabi Ali bin Abi Thalib ra yang diriwayatkan oleh Khathib Baghdadi, “Ilmu itu memanggil pemiliknya untuk beramal, jika ia memenuhi panggilannya. Jika tidak maka ilmu itu akan pergi.” Perkataan yang saya temukan di buku Hilyah Thalibil ‘Ilmi karangan Bakr bin Abdullah Abuzaid ini sangat membekas bagi saya pribadi.

    Berapa banyak buku yang sudah saya baca dibanding yang saya serap ilmunya? Berapa banyak ilmu yang saya pelajari dibanding yang sudah saya amalkan? Berapa banyak buku yang sudah saya sia-siakan? Sudah benarkah cara saya dalam menuntut ilmu, terutama ilmu ad-diin, termasuk dari buku-buku yang dibaca? Pertanyaan-pertanyaan ini muncul setelah saya mulai membaca buku ini.

    Hilyah Thalibil ‘Ilmi atau yang di dalam judul terjemahannya disebut Perhiasan Penuntut Ilmu adalah buku yang mengupas berbagai adab dan kesalahan yang ada pada diri seorang penuntut ilmu. Siapa saja yang disebut dengan penuntut ilmu?

    Mereka adalah orang-orang yang menuntut ilmu, yang dalam konteks buku ini lebih ditekankan kepada ilmu syar’i atau ilmu ad-diin.

    Namun, meskipun materi di dalam buku ini sebagiannya khusus diperuntukkan bagi para penuntut ilmu, namun sebetulnya di dalamnya juga memuat banyak hal yang perlu diketahui oleh setiap muslim, karena sejatinya setiap kita memiliki kewajiban yang sama dalam hal menuntut ilmu, minimal untuk pemahaman dan amal diri sendiri.

    Buku setebal 134 halaman ini dibagi menjadi tujuh pasal utama. Pasal pertama hingga kelima membahas adab-adab bagi penuntut ilmu seperti adab terhadap diri sendiri, adab terhadap guru dan sahabat, juga adab dalam kehidupan ilmiah.

    Kita akan memahami di bagian ini bahwa ketika menuntut ilmu atau mempelajari ilmu ad-diin, ada rambu-rambu tertentu yang harus kita perhatikan agar aktivitas kita tidak melenceng dari jalur yang Allah tetapkan, sehingga apa-apa yang kita pelajari akan lebih maksimal dan mudah-mudahan beroleh keberkahan.

    Di lima bagian pertama, kita akan mengenal bagaimana sebenarnya sikap kita terhadap guru atau ulama, terhadap majelis ilmu, memahami bagaimana tahapan dalam menuntut ilmu, termasuk misalnya tahapan belajar dari buku dan seperti apa sebaiknya prioritas buku yang kita baca sebagai bagian dari tahapan belajar tadi.

    Selain itu, pasal-pasal awal ini juga membahas adab-adab ketika berdiskusi, melontarkan pertanyaan, memperdalam pemahaman, metode dalam menuntut ilmu, juga bagaimana menjaga ilmu.

    Saya merasa sangat tersindir ketika membaca buku ini karena banyak sekali materi di dalamnya yang seolah menguliti pribadi saya sejujur-jujurnya. Bahwa ketika belajar sendiri hanya dari buku saja, seseorang cenderung merasa dirinya lebih paham dan ahli.

    Padahal, belajar hanya dari buku juga mengandung kelemahan dan ada banyak hal yang memerlukan penjelasan lebih detail yang itu hanya bisa kita peroleh dari seorang guru yang kapasitas keilmuannya lebih baik.

    Jadi sebaiknya memang ketika mempelajari ilmu ad-diin, selain membaca buku, dibarengi dengan mendengarkan penjelasan para ulama atau guru akan lebih memberikan pemahaman yang utuh.

    “Dahulu ilmu ini mulia, para tokoh saling mengajarkan ilmu di antara mereka. Ketika ia memasuki buku-buku maka ia mulai dimiliki oleh orang-orang yang bukan ahlinya.” (halaman 36)

    Dengan bahasa yang mudah dipahami, ringkas dan sederhana, buku ini juga mengupas hal-hal terkait dengan amal terhadap ilmu yang dijelaskan pada pasal keenam. Kita diajak kembali pada kisah-kisah ulama dan kegilaannya terhadap buku, juga bagaimana menilai perpustakaan kita sendiri dan perlakuan kita terhadap buku.

    Di pasal ketujuh, penulis menjelaskan larangan-larangan dalam menuntut ilmu, termasuk di dalamnya sikap pamer ilmu, pemikiran prematur, Israiliyat gaya baru, dan topik lainnya yang membatalkan perhiasan para penuntut ilmu.

    Buku ini, meski lebih tipis dan singkat dari Kitab Al-‘Ilmi karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, yakni kitab pegangan awal bagi para thalibul ‘ilmi, tapi membacanya bagi saya lebih membekas dan berkesan karena segala hal yang dipaparkan di dalamnya benar-benar to the point dan menusuk hati saya.

    Selepas membacanya saya jadi merenung, sekian banyak buku yang saya koleksi, sudahkah mereka bahu-membahu menyokong saya ke arah kebaikan akhirat? Akankah mereka menjadi saksi saya nanti untuk pemberat timbangan kebaikan ataukah justru sebaliknya?

    Saya pun semakin termotivasi untuk melengkapi perpustakaan saya dengan kitab-kitab induk dan buku-buku yang ditulis dengan pemahaman yang mendalam. Tak bisa saya pungkiri juga, terkadang hati saya masih tarik ulur antara keinginan duniawi dan visi akhirat, namun buku ini semoga menjadi pengingat bahwa kita tidak lama hidup di dunia.

    Dibanding sebuah resensi, rasanya ulasan saya kali ini lebih tepat disebut sebagai curahan hati saya. Tak apa, semoga tetap bermanfaat. Ada satu bait syair yang sangat bagus disuguhkan di bagian akhir buku ini dan saya suka sekali, semoga bisa menjadi penutup yang baik.

    “Duhai, betapa ruginya, usia telah habis dan habis pula
    Waktu-waktunya di antara hinanya kelemahan dan kemalasan
    Orang-orang telah menempuh jalan keselamatan, telah pula
    Berjalan menuju tempat tujuan dengan pelan.” (halaman 112)

  • Boardbook Seri Sirah Nabi Muhammad SAW untuk Anak – GIP oleh Tartila Tartusi

    Judul: Seri Sirah Nabi Muhammad SAW
    Penulis: Tartila Tartusi
    Ilustrator: Setia Adhi
    Penerbit: Gema Insani Press
    ISBN: 978-602-250-130-5
    Tebal: 25 halaman
    Tahun Terbit: Juni 2014
    Cetakan: Pertama
    Genre: Agama Islam, Sirah, Buku Anak Muslim
    Rating: 4/5

    Saya tertarik membeli buku ini awalnya karena diskon besar yang dijanjikan pada jajaran buku obral di sebuah pameran buku, selain, tentu saja, karena bentuk fisik bukunya yang sangat bagus. Boardbook? Kapan lagi bisa didapat dengan harga murah?

    Dan, pada mulanya, saya juga mengira kalau buku ini berisi sejarah hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk anak-anak, yang mengisahkan kehidupan beliau sejak lahir hingga wafat. Nyatanya, perkiraan saya itu sangat jauh meleset.

    Seri Sirah Nabi Muhammad SAW untuk anak-anak terbitan Gema Insani Press ini ternyata hanya mengisahkan kehidupan masa kecil Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam saja sampai beliau diasuh oleh Halimah, sang ibu susuan, tidak sampai beliau dewasa, apalagi wafat.

    Lantas, apakah saya kemudian menyesalinya? Alhamdulillah, saya tidak menyesal membeli buku ini. Menurut saya, ada banyak keunikan yang dimiliki oleh buku ini.

    Buku ini ditulis dalam 10 jilid, yang tiap-tiap jilidnya memiliki fokus kisah sendiri-sendiri. Saya acungi jempol untuk penulisnya, Tartila Tartusi, yang berhasil menulis ulang kisah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan gayanya sendiri yang unik.

    Kisah yang panjang itu bisa disajikan dalam bentuk tulisan singkat dan padat mengandung rima, seperti syair, yang tidak mudah sebetulnya untuk disusun tanpa kehilangan alur dan inti penting dari kisah. Tulisan yang singkat namun padat makna tentunya akan memudahkan pembaca pemula dalam memahami jalan cerita, sehingga mereka tidak perlu kesulitan menalarkan kisah.

    Boardbook Seri Sirah Nabi Muhammad SAW untuk Anak Terbitan Gema Insani Press

    Saya tak menemukan banyak informasi tentang penulisnya, tapi salah satu karyanya yang lain adalah Ensiklopedi Anak Muslim yang juga diterbitkan oleh penerbit yang sama.

    Dibandingkan dengan karyanya tersebut, gaya bercerita di buku Seri Sirah Nabi Muhammad SAW untuk anak-anak ini memang sangat berbeda. Barangkali ini dikarenakan sasaran usia pembaca atau metode yang ingin digunakan sangat jauh berbeda.

    Di dalam pengantarnya, penulis menjelaskan bahwa tujuan dituliskannya kisah dengan gaya berrima adalah agar anak-anak maupun orangtua dapat membacanya dengan bernyanyi ala barzanji.

    Saya tidak tahu, apakah maksud penulis agar ceritanya dibaca dengan cara bernyanyi menggunakan gaya lantunan barzanji ataukah itu hanyalah analogi saja untuk memudahkan pembaca mengambil contoh. Sebab, jika yang dimaksud adalah yang pertama yakni harus menggunakan gaya barzanji, tentu ini bisa saja menimbulkan sedikit masalah.

    Seperti yang kita tahu, barzanji umumnya kita temukan di lembaga pendidikan seperti pesantren atau madrasah, yang biasa dilakukan terutama saat menyambut maulid nabi maupun di hari-hari tertentu.

    Tak banyak masyarakat umum yang tahu bagaimana melakukan barzanji, terutama yang tidak berlatar pesantren, sehingga memaksakan buku ini dibaca ala barzanji tentu kurang relevan. Lagi pula, ritual barzanji masih berpotensi menuai pro kontra, sebab sebagian jumhur ulama melarangnya, namun sebagian lainnya membolehkan.

    Meskipun membaca buku ini ala barzanji tidak ada hubungannya dengan ritual barzanji, tapi bagaimana mungkin memaksakan sesuatu dengan sesuatu yang masih menuai silang pendapat? Agak riskan saya pikir.

    Saya pribadi cenderung lebih suka mengambil anggapan kedua, yakni maksud penulis menggunakan istilah barzanji hanyalah sebagai analogi atau contoh, sehingga pembaca paham maksud dan tujuan penulis mengapa kisahnya ditulis dengan gaya berrima.

    Bisa saja buku ini dibaca dengan irama yang berbeda atau gaya bertutur tanpa irama sesuai keinginan pembaca. Saya lebih senang berlepas diri dari perdebatan pendapat tentang hukum fikih. Jadi, memilih anggapan kedua menurut saya lebih memungkinkan rasa aman dan nyaman bagi pembaca, selain juga lebih fleksibel karena pembaca bisa bebas berkreasi.

    Mengutip penuturan penulis di dalam pengantarnya,

    “Syair umumnya disukai anak-anak karena bahasanya berirama, ekspresif, dan menuntun imajinasi serta fantasi mereka.” (Pengantar Jilid 1)

    Anak-anak memang lebih suka belajar sambil bermain. Mendengarkan seseorang membacakan dongeng dengan gaya ekspresif tentu tidaklah jauh berbeda keasyikannya dengan membaca sambil berirama. Inilah yang saya tangkap maksud dari penulis hendak menawarkan cara membaca yang anti mainstream bagi anak-anak.

    Buku ini juga dibuat dalam bentuk ilustrasi penuh warna yang sangat cantik. Saya katakan cantik karena penggunaan warna-warninya yang indah, tajam dan kompleks. Meskipun karakter manusianya bukan faceless, namun bentuk ilustrasinya yang menarik membuat mata pembaca lebih segar dan tidak membosankan.

    Kertasnya keras dan glossy juga memudahkan pembaca pemula, sehingga tidak terlalu membuat orangtua khawatir buku menjadi cepat sobek atau kotor. Selain itu, penulis menceritakan ulang kisah di dalamnya berdasarkan sumber-sumber yang shahih.

    Pembaca bisa melihat referensi yang digunakan di lembar daftar pustaka dan mendapati kitab-kitab rujukan maupun sirah dari ulama-ulama terpercaya.

    Namun sangat disayangkan, saya merasa seri ini masih kurang lengkap karena jilid 10 selesai hanya sampai di masa kecil nabi bersama ibu susuannya hingga dikembalikan ke Mekah. Selanjutnya bagaimana kisah beliau sekembalinya ke Mekah hingga baligh tidak diceritakan di sini.

    Seharusnya buku ini bisa dilanjutkan sampai masa kanak-kanak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam selesai. Tapi, terlepas dari kekurangannya tersebut, menurut saya buku ini masih buku terbaik yang pernah saya temukan.

    Buku anak yang berkisah tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sangatlah banyak di pasaran, namun yang fokusnya hanya pada masa kecil beliau, saya kira masihlah sangat terbatas. Bahkan mungkin hampir tidak ada.

    Dan Seri Sirah Nabi Muhammad SAW terbitan GIP ini adalah satu-satunya yang baru saya temukan sejauh ini yang membahas masa kecil beliau. Mudah-mudahan penulisnya memiliki rezeki kesehatan dan kelapangan waktu sehingga suatu saat akan ada kelanjutan dari 10 serinya.

    NB: Bagi yang berminat dengan buku ini bisa juga menghubungi saya di nomor WA 083130117884

  • Seri Ushul Tsalatsah for Kids – Mengenal Allah oleh Arnida Sharah Auli

    Judul: Mengenal Allah
    Penulis: Arnida Sharah Auli
    Ilustrator: DK Wardhani dan Tiffa N. Tanuwigena
    Penerbit: Ahlan Pustaka Umat
    ISBN: 978-602-61452-0-8
    Tebal: 25 halaman
    Tahun Terbit: September 2017
    Cetakan: Kedua
    Genre: Agama Islam, Aqidah, Buku Anak Muslim
    Rating: 5/5

    Saya masih ingat, ketika saya selesai membaca buku Ulasan Tuntas tentang 3 Prinsip Pokok karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, saya berharap di dalam hati, andaikan saja ada versi buku anak-anaknya yang mengupas tentang ushul tsalatsah, tentu akan sangat bermanfaat untuk pembaca anak-anak.

    Dan, alhamdulillaah, harapan saya tersebut ternyata Allah ta’ala penuhi dua tahun kemudian di buku Mengenal Allah terbitan Ahlan Pustaka Umat ini.

    Mengapa pembahasan tema ushul tsalatsah ini sangat penting? Kita pasti sudah paham bahwa risalah yang dibawa seluruh nabi dan rasul adalah tauhid, yakni meng-Esa-kan Allah, dan ini termasuk aspek dasar aqidah seorang muslim. Tiga prinsip pokok ajaran Islam yang termaktub di dalam ushul tsalatsah merupakan poin utama yang akan dipertanggungjawabkan pertama kali di alam kubur nanti.

    Lalu mengapa buku anak? Seseorang yang dewasa tidaklah langsung dewasa, melainkan pasti melewati fase anak-anak.

    Terkadang ketika orangtua ditanya anaknya, “Ma, Allah ada di mana?”

    Dengan polosnya sang ibu menjawab, “Allah ada di mana-mana.”

    Pemahaman seperti ini tentu tidaklah tepat dan tidak sesuai dengan petunjuk Allah dan nabi-Nya. Maka menjadi teramat penting bagi anak untuk membentuk pemahaman akidah yang lurus sejak dini, sebab nantinya pemahaman inilah yang akan menjadi pondasi utama anak-anak dalam kehidupan.

    Ada banyak kasus penyimpangan akidah terjadi disebabkan oleh ketidakpahaman seseorang dan sulitnya mengubah paradigma berpikir. Kesalahan-kesalahan dalam akidah ini jika sudah terlalu berakar di tengah masyarakat akan sangat tidak mudah untuk memperbaikinya. Oleh karena itu, memahamkan akidah sejak dini kepada anak-anak menjadi salah satu tujuan dasar pendidikan Islam.

    Buku Mengenal Allah mengajarkan anak tentang siapa dan di mana Allah, apa saja sifat-Nya, dan materi yang berkaitan agar anak-anak bisa mengenal penciptanya.

    Buku setebal 25 halaman yang ditulis oleh Arnida Sharah Auli ini dikemas dengan ilustrasi berwarna yang sangat menawan dari goresan tangan DK. Wardhani dan Tiffa N. Tanuwigena. Saya cukup familiar dengan nama DK. Wardhani karena buku-buku karya ilustrasi beliau sudah banyak beredar.

    Yang saya suka dari buku ini adalah ilustrasinya yang penuh warna dan dilukis tangan oleh ilustratornya, bukan vektor grafis, jadi benar-benar orisinil dan sangat indah. Karakter yang digambar juga faceless, tanpa wajah, sehingga lebih menghindarkan kita dari hal-hal yang kurang disepakati.

    Materi yang disampaikan di dalam buku ini bersumber dari referensi yang shahih dan sudah diperiksa pula oleh Ustadz Muhtarom Abu Abdil Aziz selaku orang yang memiliki kapasitas ilmu yang mumpuni, sehingga orangtua pun tidak perlu khawatir dengan validitas ilmu yang disampaikan di dalamnya.

    isi dalam buku Mengenal Allah


    kredit foto: Ahlan Pustaka Umat

    Buku anak yang cantik ini ditulis dengan gaya penceritaan yang sederhana dan ringan sehingga akan mudah dipahami oleh anak-anak, in sya Allah.

    Selain itu, yang juga saya suka dari buku ini adalah ditambahkannya fitur muroja’ah, di mana orangtua dan anak diajak untuk mengikuti semacam permainan sederhana mencari berlian, yang nantinya akan ada surat dan ayat Al-Quran untuk rujukan anak-anak agar lebih mengenal Allah.

    Sayangnya, fitur muroja’ah yang terdapat di setiap halamannya, menurut saya, ditampilkan dengan visual yang sangat kecil sehingga sedikit kurang nyaman untuk saya lihat. Maklum, faktor umur juga berpengaruh. Apakah memang sengaja dibuat sedemikian rupa sebagai bentuk permainan untuk ‘mencari sesuatu’ ataukah agar pembaca bisa lebih jeli.

    Saya tidak tahu pasti apa alasan penerbit membuat tata letak muroja’ahnya seperti itu. Jika bukan karena alasan tersebut, saya berharap fitur muroja’ah yang ada di tiap halamannya mungkin bisa dibuat dalam bentuk visual yang lebih besar dan jelas. Seperti semacam kolom atau kotak khusus barangkali, sehingga anak-anak yang sudah bisa membaca pun bisa dengan mudah menelusurinya.

    Selain buku ini cantik, isinya berkualitas dan bisa dipercaya, para orangtua juga bisa mengadopsi bahan materi di dalamnya untuk mengembangkan materi pendidikan anak di rumah, misalnya dengan membuat permainan yang sesuai tema atau bahkan mengeksplorasi poin-poin di dalamnya untuk dikembangkan menjadi kurikulum belajar di rumah. Masya Allah.

    Saya suka buku terbitan Ahlan Pustaka Umat ini. Meskipun penerbit ini terbilang baru di belantara penerbitan buku di Indonesia, tapi saya optimis, penerbit ini mampu menjadi salah satu trend setter bacaan Islam yang berkualitas dan terpercaya, bersanding dengan penerbit-penerbit Islam lainnya.

    Semoga penulis, ilustrator, editor, penerbit, penjual dan pembaca buku ini mendapatkan keberkahan dan menjadikan buku ini sebagai amal jariyah. Aamiin.

  • Foods that Harm, Foods that Heal oleh Reader’s Digest

    Judul: Foods that Harm, Foods that Heal
    Penulis : The Reader’s Digest Association, Inc
    Jumlah halaman: 420 hlm
    Penerbit : The Reader’s Digest Association, Inc
    Tahun terbit : 2013
    ISBN : 978-1-62145-007-8
    Genre: Nonfiksi, Kesehatan
    Rating: 5/5

    Kita mungkin sudah sangat familiar dengan berbagai metode diet penurun berat badan seperti diet rendah lemak, diet karbo, diet vegan, atau metode diet lainnya yang, bisa jadi, Kita pun pernah mengikutinya.

    Bagi mereka yang memiliki masalah berat badan berlebih, ragam metode diet ini sungguhlah sangat menggoda. Bahkan, tak jarang dari kita yang bertanya-tanya, “Saya sebaiknya mengikuti diet yang mana ya? Diet karbo atau lemak? Menjadi seorang vegetarian saja atau tidak?” Pertanyaan-pertanyaan seperti itu kerap membingungkan kita.

    Umumnya masyarakat masih menganggap bahwa diet makanan hanyalah berkutat pada tujuan penurunan berat badan saja. Padahal, pola makan atau diet makanan juga memberikan andil besar terhadap kondisi penyakit tertentu. Diet yang tepat dapat membantu terapi penyembuhan suatu penyakit.

    Kebalikannya, diet yang tidak tepat bisa mengakibatkan seseorang menderita efek samping berupa penyakit lainnya atau defisiensi zat-zat yang dibutuhkan tubuh.

    Selain paradigma tentang diet yang kurang tepat, ada banyak persepsi yang tidak pada tempatnya seputar makanan yang acap kali diterima mentah-mentah oleh masyarakat kita.

    Contohnya persepsi tentang karbohidrat, bahwa jika Anda menderita obesitas, maka kurangilah karbohidrat semaksimal mungkin. Kalau perlu cukuplah mengonsumsi sayuran, buah dan protein saja. Padahal, tubuh kita juga memerlukan karbohidrat, dan mengonsumsi protein hewani secara berlebihan juga dapat mengganggu fungsi ginjal.

    Hanya mengonsumsi sayuran dan buah saja secara asal-asalan tanpa melakukan substitusi fungsi protein hewani secara benar pun kuranglah tepat. Anggapan bahwa semua lemak itu buruk untuk kesehatan, bahwa semua yang manis-manis itu tidak baik untuk gula tubuh, dan bahwa segala sesuatu yang berbentuk sayuran dan buah itu selalu bagus untuk kesehatan adalah pemahaman yang sering membuat masyarakat kita salah kaprah.

    Di tengah-tengah anggapan lama seperti itu, buku Foods that Harm, Foods that Heal ini hadir dan mengubah cara pandang kita terhadap makanan dan efeknya pada tubuh.

    Dibagi menjadi 3 bagian utama, buku ini menjelaskan tentang apa yang seharusnya kita makan dan bagaimana caranya kita menggunakan bahan makanan untuk mencegah atau menyembuhkan penyakit maupun masalah kesehatan lainnya.

    Karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral yang seperti apa yang membahayakan tubuh atau menyembuhkan penyakit dan berdampak positif bagi tubuh? Apakah pestisida dan zat-zat aditif di dalam makanan benar-benar berbahaya? Bagaimana menyimpan, menyiapkan dan memasak bahan makanan yang baik untuk kesehatan? Haruskan kita memilih gaya hidup vegan, gluten-free atau dairy-free? Ini semua adalah sebagian topik yang dibahas di bagian pertama.

    Bagian kedua dari buku ini meliputi pembahasan tentang panduan bahan makanan yang membahayakan maupun menyembuhkan. Ditulis sesuai abjad dari A sampai Z, masing-masing bahan dikupas secara rinci tentang kandungannya, bagaimana bahan ini bisa membahayakan dan seperti apa potensi penyembuhannya.

    Termasuk juga manfaat dan risiko kesehatannya, cara mengonsumsinya yang tepat seperti apa, tips memilihnya ketika membeli, cara menyimpan dan mengolahnya secara benar bagaimana, serta hal lainnya yang berkaitan dengan bahan tersebut.

    Selain itu, di bagian ini juga dijelaskan bagaimana satu jenis bahan bisa saling bertentangan dengan bahan lainnya atau penyakit dan kondisi tertentu.

    Contohnya madu, bahwa ternyata madu mengandung kalori yang cukup tinggi, juga tidak cocok untuk bayi. Atau tomat yang dapat mengakibatkan naiknya asam lambung dan tidak cocok untuk pengidap GERD, tetapi sangat baik untuk penyakit jantung dan kanker. Ada lebih dari 170 makanan, mulai dari apel hingga zucini, yang dikupas di bagian ini.

    Belum cukup pembaca dibuat terpesona dengan berbagai informasi yang tidak selalu kita jumpai di internet maupun buku-buku kesehatan pada umumnya secara lengkap, di bagian ketiga buku ini dibahas pula tips pencegahan, penyembuhan atau penanganan terhadap berbagai kondisi kesehatan dengan makanan yang kita konsumsi.

    Bagian ini juga ditulis berdasarkan abjad A hingga Z lebih dari 100 penyakit dan kondisi yang dimaksud. Misalnya saja gangguan pencernaan lambung. Makanan yang kurang baik adalah yang berminyak dan berlemak, tetapi juga perlu membatasi diri dengan makanan yang mengandung asam, pedas, kafein, alkohol, coklat, cuka dan sejenisnya.

    Mengonsumsi makanan dengan porsi kecil tetapi dengan interval sering akan lebih baik dibandingkan makan porsi besar dan banyak.

    Selain 3 bagian utama, Foods that Harm, Foods that Heal juga dilengkapi dengan beberapa topik tambahan sebagai fitur spesial di masing-masing bab, termasuk informasi tentang makanan dan kesehatan bagi ibu hamil, menyusui, dan anak-anak.

    Selain itu, di bagian akhir buku dilengkapi pula dengan jurnal makanan yang dapat diisi oleh pengguna sebagai media untuk mencatat makanan yang dikonsumsi, gejala yang dialami tubuh, obat yang digunakan, tingkat penyakit, stres maupun energi, juga aktivitas dan observasi kesehatan tubuh. Jurnal ini akan sangat bermanfaat untuk melakukan track terhadap apa yang kita konsumsi sehari-hari yang baik atau buruk bagi tubuh kita pribadi.

    Foods that Harm, Foods that Heal yang ada di tangan saya ini disusun oleh Reader’s Digest Association dalam edisi deluxe, bersampul keras dan menggunakan kertas glossy penuh warna dari 420 halamannya. Buku ini saya dapatkan dari event Big Bad Wolf (BBW) Surabaya tahun 2016 lalu.

    Saya sangat beruntung bisa mendapatkan buku ini dengan harga yang sangat miring. Buku ini berbahasa Inggris, tetapi cukup mudah dipahami dan nyaman dibaca. Sepertinya belum ada edisi terjemahannya yang Bahasa Indonesia. Meskipun begitu, saya tetap berharap ada edisi terjemahannya nanti sehingga para pembaca di Indonesia dapat merasakan manfaatnya lebih luas.

    Membaca buku ini membuat saya teringat pada hikmah yang bisa dipetik dari kebiasaan makan Rasulullah Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam yang lebih dekat dengan istilah Food Balancing, di mana beliau mengonsumsi bervariasi makanan secara berimbang, menyeimbangkan makanan yang satu dengan yang lainnya secara proporsional.

    Buku ini pun mengajarkan demikian. Bahwa makanan yang tepat dan berimbang dapat memberikan efek positif bagi tubuh. Bahwa apa yang kita makan akan menentukan sejauh mana kesehatan dan kekuatan fisik tubuh kita.

    Dan sebab-musabab datangnya penyakit juga notabene dipengaruhi oleh apa yang masuk ke tubuh kita, tentunya atas izin Allah. Dan apa yang kita makan juga berpotensi sebagai obat bagi kondisi kesehatan kita, pun atas izin Allah.

  • The Book of Mirrors oleh E.O. Chirovici

    Judul : Cermin Muslihat
    Judul Asli: The Book of Mirrors
    Penulis : E.O. Chirovici
    Penerjemah : Dina Begum
    Jumlah halaman: 328 hlm
    Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
    Tahun terbit : 2017
    ISBN : 978-602-03-5127-8
    Genre: Thriller, Fiksi Misteri, Fiksi Psikologi
    Rating: 3/5

    “Ingatan bisa membunuh.” Pernyataan yang ada di sampul belakang novel bergenre thriller ini tentunya bukan tanpa alasan disematkan di sana. Realitanya, terkadang memang ingatan bisa mengarahkan seseorang untuk melakukan tindakan-tindakan ekstrem.

    Ingatan tentang perlakuan bullying atau kekejaman seseorang, ingatan tentang kehidupan yang serba sulit hingga nyaris membuat seseorang putus asa, atau beragam rasa lainnya yang muncul karena ingatan terhadap sesuatu seringkali berpotensi membuat orang lupa diri.

    Dan, akibat ingatan seseorang pulalah, si tokoh utama dalam novel kita ini harus menanggung beban jiwa selama berpuluh tahun lamanya hingga menghembuskan nafas terakhirnya.

    Peter Katz, seorang agen yang bekerja di penerbitan, menerima sebuah email yang tidak biasa dari Richard Flynn, orang yang pernah menjadi tersangka pembunuhan Profesor Wieder yaitu salah satu profesor kawakan di bidang ilmu psikiatri di Princeton.

    Di dalam emailnya tersebut, Flynn memberikan naskah memoar yang memuat kisahnya 27 tahun yang lalu. Kisah ketika masa-masa dirinya bekerja pada Profesor, bertemu dengan wanita yang disayanginya, juga antusias dirinya terhadap pekerjaan yang dijalani.

    Flynn sejak muda ingin sekali bisa menerbitkan buku. Tapi, yang menjadi inti dari naskahnya itu sebetulnya adalah identitas tiga orang penting yang berada di rumah Profesor saat malam pembunuhan yang detailnya luput dari penyelidikan polisi saat itu, yaitu; Richard Flynn, Laura Baines, dan Derek Simmons.

    Flynn memulai kisahnya dari perkenalannya dengan Laura Baines yang kemudian menjadikannya akrab dengan Profesor Wieder. Flynn bekerja di perpustakaan pribadi Profesor sebagai tenaga lepas guna mengisi waktu sampingannya ketika kuliah. Ia sangat menyukai kesibukan barunya itu. Sesekali Flynn dan Profesor berdiskusi tentang psikologi atau sekadar minum bersama. Terkadang mereka beradu argumen tentang sesuatu.

    Profesor berencana akan menerbitkan sebuah buku yang fenomenal dan Laura membantunya dalam hal ini. Namun sayang, pada suatu malam, terjadi pertengkaran mulut antara Flynn dan Profesor. Flynn kemudian meninggalkan rumah Profesor dan pulang ke kontrakannya.

    Keesokan harinya, Profesor ditemukan tewas oleh Derek Simmons, orang yang memiliki kelainan psikis yang ditolong oleh Profesor dan menjadi asisten bersih-bersih di rumahnya. Kejadian itu menggemparkan Princeton. Karena Flynn berada di waktu yang tidak tepat, ia pun menjadi tersangka dari kasus itu.

    Menghadapi tuduhan sebagai tersangka pembunuhan, ditambah beban perasaan yang hebat karena menyadari bahwa Laura telah menipunya dan meninggalkannya tanpa kabar, Flynn seolah berada pada masa tergelapnya. Di kemudian hari, berita menyebutkan bahwa pelaku pembunuhan Profesor telah ditangkap. Flynn bebas dari tuduhan.

    Di dalam naskahnya, Flynn memaparkan fakta-fakta lain yang tidak terungkap saat penyelidikan, juga hipotesanya terhadap siapa pelaku pembunuhan yang sebenarnya. Sayangnya, naskah Flynn yang diterima oleh Peter Katz hanyalah bagian pertama dari naskah utuh. Sebelum Katz menerima bagian kedua naskah tersebut, Flynn lebih dulu meninggal dunia dikarenakan sakit.

    Berbekal naskah yang belum jadi tersebut sebagai acuan dasar penyelidikannya, Katz bersama partnernya John Keller kemudian mulai menjumpai satu demi satu nama-nama yang disebutkan di naskah, termasuk detektif yang melakukan penyelidikan kasus tersebut 27 tahun yang lalu.

    Berbagai fakta baru bermunculan dan beberapa keganjilan dan kecurigaan mengarahkan perjalanan mereka kepada dua nama potensial yang salah satunya adalah pelaku pembunuhan yang sebenarnya.

    Siapa sebenarnya pembunuh yang dimaksud? Dan pada akhirnya, hipotesa Richard Flynn di dalam naskahnya runtuh seketika karena satu fakta kecil yang tertutupi.

    Cukup menarik membaca novel ini, karena saya merasa digiring pada karakter tiap tokoh hingga kita merasa bahwa dialah pelakunya. Tetapi kemudian, fakta-fakta yang berbeda juga menggiring kita untuk berpikir bahwa nama lainnya juga memiliki kemungkinan yang sama besarnya sebagai pelaku pembunuhan.

    Saya sampai tidak sabar untuk terus membaca kisahnya sampai akhir dan menemukan siapa pelakunya. Dan yang pasti, saya merasa kasihan terhadap Flynn yang pergi membawa semua kemarahan dan kesedihannya dan naskah yang tidak akan pernah terbit.

    The Book of Mirrors ini diterjemahkan oleh Dina Begum yang hasil terjemahannya sangatlah nyaman dibaca. Ditulis oleh Eugen Ovidiu Chirovici, seorang penulis asal Rumania yang juga menjalankan koran harian nasional dan channel berita televisi di Rumania, novel ini dibagi menjadi tiga bagian utama berdasarkan sudut pandang tiga tokoh; Peter Katz, John Keller, dan detektif yang menyelidiki kasus pembunuhan Wieder yaitu Roy Freeman.

    Meskipun demikian, tiap bagian terasa sekali perbedaan karakternya. Dan plot twist yang diselipkan penulis di novel ini juga membuatnya semakin menarik.

    Novel ini lumayan enak dibaca dan menarik, tetapi sayangnya bukanlah termasuk novel yang benar-benar luar biasa sekali seperti yang digadang-gadang di dalam blurb, menurut saya. Awalnya saya tertarik karena membaca blurbnya bahwa novel ini dikatakan sebagai fenomena global dan telah terjual di lebih dari 38 negara di dunia.

    Dan agak sedikit kurang greget saat membacanya sebagai genre novel thriller karena sedikitnya ketegangan atau aksi di dalamnya seperti thriller pada umumnya. Barangkali lebih tepat jika memasukkan novel ini ke dalam genre psikologi. Tapi secara keseluruhan, novel ini lumayan menarik.

    Satu hal yang saya pelajari dari novel ini, bahwa ingatan seseorang sejatinya tidak ada yang hilang. Kadang kita melupakan satu masa dalam hidup kita karena kita tidak ingin mengingatnya.

    Di lain waktu, ingatan itu akan muncul seiring situasi yang ada. Dan terkadang, kita mengingat dengan jelas masa kecil kita, padahal bisa jadi itu bukanlah ingatan kita seutuhnya, melainkan ada porsi hasil imajinasi dari gambaran yang disampaikan orang lain kepada kita tentang situasi kala itu.

    Di dalam dunia psikologi, hal-hal yang berkaitan dengan ingatan atau bagaimana pola ingatan kita dibentuk tentunya pastilah ada pembahasannya. Novel ini berangkat dari latar keilmuan psikologi tersebut. Di dalamnya, penulis menyelipkan tema-tema terkait ingatan atau faktor kejiwaan seseorang. Dan sangatlah unik mengetahui bahwa ingatan bisa mempermainkan kita.

    “Anda pikir Anda melupakan sesuatu—peristiwa, seseorang, situasi—dan mendadak Anda sadar ingatan itu selama ini terkurung di ruangan rahasia di otak Anda dan selalu ada di sana, seakan-akan baru kemarin terjadi.

    Rasanya seperti membuka lemari tua penuh sampah, dan yang harus dilakukan hanyalah menggeser satu kardus atau satu benda lalu seluruh isinya menghujanimu.” (halaman 12)

    Peringatan: novel ini mengandung beberapa adegan dewasa.