Tag: PT Gramedia Pustaka Utama

  • The Book of Mirrors oleh E.O. Chirovici

    Judul : Cermin Muslihat
    Judul Asli: The Book of Mirrors
    Penulis : E.O. Chirovici
    Penerjemah : Dina Begum
    Jumlah halaman: 328 hlm
    Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
    Tahun terbit : 2017
    ISBN : 978-602-03-5127-8
    Genre: Thriller, Fiksi Misteri, Fiksi Psikologi
    Rating: 3/5

    “Ingatan bisa membunuh.” Pernyataan yang ada di sampul belakang novel bergenre thriller ini tentunya bukan tanpa alasan disematkan di sana. Realitanya, terkadang memang ingatan bisa mengarahkan seseorang untuk melakukan tindakan-tindakan ekstrem.

    Ingatan tentang perlakuan bullying atau kekejaman seseorang, ingatan tentang kehidupan yang serba sulit hingga nyaris membuat seseorang putus asa, atau beragam rasa lainnya yang muncul karena ingatan terhadap sesuatu seringkali berpotensi membuat orang lupa diri.

    Dan, akibat ingatan seseorang pulalah, si tokoh utama dalam novel kita ini harus menanggung beban jiwa selama berpuluh tahun lamanya hingga menghembuskan nafas terakhirnya.

    Peter Katz, seorang agen yang bekerja di penerbitan, menerima sebuah email yang tidak biasa dari Richard Flynn, orang yang pernah menjadi tersangka pembunuhan Profesor Wieder yaitu salah satu profesor kawakan di bidang ilmu psikiatri di Princeton.

    Di dalam emailnya tersebut, Flynn memberikan naskah memoar yang memuat kisahnya 27 tahun yang lalu. Kisah ketika masa-masa dirinya bekerja pada Profesor, bertemu dengan wanita yang disayanginya, juga antusias dirinya terhadap pekerjaan yang dijalani.

    Flynn sejak muda ingin sekali bisa menerbitkan buku. Tapi, yang menjadi inti dari naskahnya itu sebetulnya adalah identitas tiga orang penting yang berada di rumah Profesor saat malam pembunuhan yang detailnya luput dari penyelidikan polisi saat itu, yaitu; Richard Flynn, Laura Baines, dan Derek Simmons.

    Flynn memulai kisahnya dari perkenalannya dengan Laura Baines yang kemudian menjadikannya akrab dengan Profesor Wieder. Flynn bekerja di perpustakaan pribadi Profesor sebagai tenaga lepas guna mengisi waktu sampingannya ketika kuliah. Ia sangat menyukai kesibukan barunya itu. Sesekali Flynn dan Profesor berdiskusi tentang psikologi atau sekadar minum bersama. Terkadang mereka beradu argumen tentang sesuatu.

    Profesor berencana akan menerbitkan sebuah buku yang fenomenal dan Laura membantunya dalam hal ini. Namun sayang, pada suatu malam, terjadi pertengkaran mulut antara Flynn dan Profesor. Flynn kemudian meninggalkan rumah Profesor dan pulang ke kontrakannya.

    Keesokan harinya, Profesor ditemukan tewas oleh Derek Simmons, orang yang memiliki kelainan psikis yang ditolong oleh Profesor dan menjadi asisten bersih-bersih di rumahnya. Kejadian itu menggemparkan Princeton. Karena Flynn berada di waktu yang tidak tepat, ia pun menjadi tersangka dari kasus itu.

    Menghadapi tuduhan sebagai tersangka pembunuhan, ditambah beban perasaan yang hebat karena menyadari bahwa Laura telah menipunya dan meninggalkannya tanpa kabar, Flynn seolah berada pada masa tergelapnya. Di kemudian hari, berita menyebutkan bahwa pelaku pembunuhan Profesor telah ditangkap. Flynn bebas dari tuduhan.

    Di dalam naskahnya, Flynn memaparkan fakta-fakta lain yang tidak terungkap saat penyelidikan, juga hipotesanya terhadap siapa pelaku pembunuhan yang sebenarnya. Sayangnya, naskah Flynn yang diterima oleh Peter Katz hanyalah bagian pertama dari naskah utuh. Sebelum Katz menerima bagian kedua naskah tersebut, Flynn lebih dulu meninggal dunia dikarenakan sakit.

    Berbekal naskah yang belum jadi tersebut sebagai acuan dasar penyelidikannya, Katz bersama partnernya John Keller kemudian mulai menjumpai satu demi satu nama-nama yang disebutkan di naskah, termasuk detektif yang melakukan penyelidikan kasus tersebut 27 tahun yang lalu.

    Berbagai fakta baru bermunculan dan beberapa keganjilan dan kecurigaan mengarahkan perjalanan mereka kepada dua nama potensial yang salah satunya adalah pelaku pembunuhan yang sebenarnya.

    Siapa sebenarnya pembunuh yang dimaksud? Dan pada akhirnya, hipotesa Richard Flynn di dalam naskahnya runtuh seketika karena satu fakta kecil yang tertutupi.

    Cukup menarik membaca novel ini, karena saya merasa digiring pada karakter tiap tokoh hingga kita merasa bahwa dialah pelakunya. Tetapi kemudian, fakta-fakta yang berbeda juga menggiring kita untuk berpikir bahwa nama lainnya juga memiliki kemungkinan yang sama besarnya sebagai pelaku pembunuhan.

    Saya sampai tidak sabar untuk terus membaca kisahnya sampai akhir dan menemukan siapa pelakunya. Dan yang pasti, saya merasa kasihan terhadap Flynn yang pergi membawa semua kemarahan dan kesedihannya dan naskah yang tidak akan pernah terbit.

    The Book of Mirrors ini diterjemahkan oleh Dina Begum yang hasil terjemahannya sangatlah nyaman dibaca. Ditulis oleh Eugen Ovidiu Chirovici, seorang penulis asal Rumania yang juga menjalankan koran harian nasional dan channel berita televisi di Rumania, novel ini dibagi menjadi tiga bagian utama berdasarkan sudut pandang tiga tokoh; Peter Katz, John Keller, dan detektif yang menyelidiki kasus pembunuhan Wieder yaitu Roy Freeman.

    Meskipun demikian, tiap bagian terasa sekali perbedaan karakternya. Dan plot twist yang diselipkan penulis di novel ini juga membuatnya semakin menarik.

    Novel ini lumayan enak dibaca dan menarik, tetapi sayangnya bukanlah termasuk novel yang benar-benar luar biasa sekali seperti yang digadang-gadang di dalam blurb, menurut saya. Awalnya saya tertarik karena membaca blurbnya bahwa novel ini dikatakan sebagai fenomena global dan telah terjual di lebih dari 38 negara di dunia.

    Dan agak sedikit kurang greget saat membacanya sebagai genre novel thriller karena sedikitnya ketegangan atau aksi di dalamnya seperti thriller pada umumnya. Barangkali lebih tepat jika memasukkan novel ini ke dalam genre psikologi. Tapi secara keseluruhan, novel ini lumayan menarik.

    Satu hal yang saya pelajari dari novel ini, bahwa ingatan seseorang sejatinya tidak ada yang hilang. Kadang kita melupakan satu masa dalam hidup kita karena kita tidak ingin mengingatnya.

    Di lain waktu, ingatan itu akan muncul seiring situasi yang ada. Dan terkadang, kita mengingat dengan jelas masa kecil kita, padahal bisa jadi itu bukanlah ingatan kita seutuhnya, melainkan ada porsi hasil imajinasi dari gambaran yang disampaikan orang lain kepada kita tentang situasi kala itu.

    Di dalam dunia psikologi, hal-hal yang berkaitan dengan ingatan atau bagaimana pola ingatan kita dibentuk tentunya pastilah ada pembahasannya. Novel ini berangkat dari latar keilmuan psikologi tersebut. Di dalamnya, penulis menyelipkan tema-tema terkait ingatan atau faktor kejiwaan seseorang. Dan sangatlah unik mengetahui bahwa ingatan bisa mempermainkan kita.

    “Anda pikir Anda melupakan sesuatu—peristiwa, seseorang, situasi—dan mendadak Anda sadar ingatan itu selama ini terkurung di ruangan rahasia di otak Anda dan selalu ada di sana, seakan-akan baru kemarin terjadi.

    Rasanya seperti membuka lemari tua penuh sampah, dan yang harus dilakukan hanyalah menggeser satu kardus atau satu benda lalu seluruh isinya menghujanimu.” (halaman 12)

    Peringatan: novel ini mengandung beberapa adegan dewasa.

  • Rijsttafel oleh Fadly Rahman

    Judul : Rijsttafel
    Penulis : Fadly Rahman
    Jumlah halaman: 152 hlm
    Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
    Tahun terbit : 3 Nopember 2016
    ISBN : 978-602-03-3603-9
    Genre: Nonfiksi, Sejarah, Kuliner
    Rating: 4/5

    Siapa yang menyangka bahwa masakan seperti semur dan perkedel yang sering digadang-gadang masyarakat awam kita sebagai masakan tradisional Indonesia ternyata bukanlah masakan asli negara ini? Dan siapa pula yang mengetahui kapan dan bagaimana gaya makan secara prasmanan bisa menjadi budaya makan kita saat ini hingga ke hotel-hotel berbintang?

    Padahal, makan bersama di tikar secara lesehan, berhadapan dengan hidangan nasi, ikan, dan sambal seadanya, menggunakan lima jari, adalah budaya asli bangsa Indonesia sejak zaman dahulu hingga saat ini.

    Akan tetapi, kedatangan para penjajah ke Indonesia di masa kolonial lantas sedikit demi sedikit memberikan warna baru bagi budaya asli tersebut. Orang-orang Belanda yang kemudian datang ke tanah koloni dan menetap berupaya membuat diri mereka senyaman mungkin beradaptasi dengan kondisi Indonesia, termasuk soal makanan.

    Apa sebenarnya yang terjadi dengan kuliner Indonesia pada masa itu? Untuk menjawab rasa penasaran ini, Fadly Rahman, seorang sejarawan yang fokus utamanya di bidang sejarah makanan, menghadirkan buku ini sebagai salah satu rujukan yang sangat bagus seputar sejarah kuliner Indonesia.

    Salah satu produk hasil adaptasi yang dilakukan di masa kolonial dan menjadi tema sentral pembahasan buku ini adalah Rijsttafel, yang sempat menjadi sangat popular di tahun 1870 hingga 1942.

    Rijsttafel adalah sebuah sajian makan nasi dengan hidangan lauk pendampingnya yang disajikan secara eksklusif. Budaya ini seperti budaya makan orang pribumi asli pada umumnya. Bedanya, tempat sajian berpindah dari lesehan ke sebuah meja makan dengan peralatan yang banyak dan mewah.

    Dari lauk seadanya menjadi hidangan mewah dan lauk-pauk yang sangat beragam. Lauk utama yang terdiri dari daging sapi, ayam atau ikan, sayur dan sup, beragam buah dan salad, hingga aneka sambal dihidangkan dengan sentuhan yang berbeda.

    Lewat Rijsttafel inilah kemudian masakan Indonesia pertama kalinya mulai dikemas dalam sajian ala Barat dan menjadi sebuah daya tarik wisata kuliner masa kolonial.

    Memang benar, Rijsttafel akhirnya mampu mengangkat masakan Indonesia dikenal luas di kalangan bangsa Eropa. Dan benar pula bahwa Rijsttafel berhasil menyatukan dua budaya kuliner yang berbeda menjadi satu kesatuan rasa yang indah.

    Infiltrasi kuliner yang positif ini bahkan menggiring banyak istri atau wanita terhormat dari Belanda untuk berusaha mempelajari masakan-masakan hidangan Rijsttafel demi beradaptasi dengan kondisi di Indonesia. Pun, generasi keturunan Indo-Belanda kemudian mulai menyusun buku-buku resep masakan dan panduan Rijsttafel bagi ibu rumah tangga demi memenuhi kebutuhan kaum wanita Belanda dan pribumi kala itu.

    Namun, tak bisa dipungkiri, bahwa bangsa Barat dan Eropa selalu ingin merasa lebih superior di tanah koloni. Di sinilah letak ironisnya budaya Rijsttafel yang juga dikupas di buku ini.

    Selain sejarah munculnya Rijsttafel, Fadly Rahman juga mengangkat isu-isu yang berkembang dari budaya makan tersebut. Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa semakin mewah dan beragam hidangan Rijsttafel beserta perangkatnya, semakin tampaklah ketinggian status sosial tuan rumah.

    Bagi keluarga bangsawan atau pejabat pribumi, budaya ini menjadi sebuah ajang menunjukkan status sosial agar bisa sejajar dengan orang-orang Belanda saat itu. Bagi para pejabat kolonial Belanda, Rijsttafel menjadi sarana untuk semakin mengukuhkan status sosial mereka yang lebih tinggi lagi.

    Di dalam Rijsttafel, anggota keluarga atau tamu yang makan akan mengambil posisi duduk di masing-masing kursi mengitari meja makan yang panjang dan lebar. Jika dilakukan dalam skala keluarga saja, Rijsttafel hanya akan dilayani oleh beberapa pelayan rumah si empunya.

    Tapi, apabila Rijsttafel dilaksanakan dalam tataran formal, bak di sebuah kerajaan, para anggota keluarga atau tamu ini masing-masing akan dilayani oleh banyak sekali pelayan dengan pakaian resminya, bahkan sampai berjumlah puluhan.

    Ada pelayan-pelayan yang bersiap siaga di dekat meja makan untuk menyiapkan peralatan makan dan minum. Ada pula pelayan yang akan sigap berjalan memutari meja dan kursi sambil membawa mangkuk kaca berisi lauk ketika para tamu memanggilnya dan ingin mencicipi makanan. Saat tak dibutuhkan, para pelayan yang terdiri dari orang pribumi ini akan dengan sabar berdiri, menanti hingga waktu sajian selesai. Sebagaimana perbudakan, seperti itulah ironisnya Rijsttafel bagi rakyat pribumi.

    Tapi, terlepas dari permasalahan status sosial itu, Rijsttafel memang merupakan satu dari sekian banyak babak sejarah penting Indonesia yang patut kita perhitungkan. Dari budaya Rijsttafel inilah kemudian hotel-hotel hebat masa kolonial Belanda membuka sayapnya ke dunia internasional dan menarik banyak sekali wisatawan.

    Bahkan, sampai detik ini pun, sisa-sisa budaya ini masih bisa kita temui di berbagai hotel berbintang dengan layanan buffet-nya, atau budaya prasmanan yang berkembang di masyarakat, juga restoran-restoran yang menyediakan sajian hidangan sejenis Rijsttafel, yang pada akhirnya bangsa ini menyadari bahwa masakan Indonesia, bila dikemas dengan baik, akan menjadi satu daya tarik tersendiri untuk menarik perhatian dunia.

    Tak banyak buku di era modern saat ini yang mengupas sejarah makanan dan budaya makan seperti yang dilakukan oleh Fadly Rahman. Ditulis secara rinci, dilengkapi dengan data dan bibliografi yang luas, bahkan ditambah dengan data aneka resep dan bahan yang digunakan pada budaya Rijsttafel ratusan tahun yang lalu menjadikannya kelebihan tersendiri yang patut kita acungi jempol.

    Maka, ketika saya menemukan buku ini di salah satu rak buku, dengan tampilan desain sampul yang cukup klasik dan menawan, saya tak mampu menolak daya pikatnya.

    Buku ini layak direkomendasikan kepada para pecinta sejarah dan kuliner. Perlulah sesekali bangsa ini menilik sejarah dari sisi yang lain selain pergumulan politik, sebab setiap babak sejarah sebenarnya saling terkait seperti mata rantai. Kau hapuskan yang satu, maka yang lain akan terputus kehilangan jejak. Betapa uniknya sejarah, seunik cita rasa kuliner Indonesia dari masa ke masa.

    *Resensi ini juga pernah dipublikasikan di Basabasi.co

  • People of the Book oleh Geraldine Brooks

    Judul: People of the Book
    Judul Asli: People of the Book
    Penulis: Geraldine Brooks
    Penerjemah: Femmy Syahrani
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    ISBN: 978-602-03-1447-1
    Tebal: 504 halaman
    Tahun terbit: 2015
    Cetakan: Kesatu
    Genre: Fiksi Sejarah, Buku tentang Buku
    Rating: 4/5

    Buku langka, terlepas dari isi dan pemikirannya, menghubungkan kita dengan sejarah masa lampau, pun dengan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Sebuah buku, tanpa sepengetahuan kita secara kasat mata, barangkali saja sudah menyentuh entah berapa banyak tangan, dari yang menuliskannya, membacanya, menelaahnya, melindunginya, hingga yang menghancurkannya.

    Dari tangan ke tangan, dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, dari satu tempat ke tempat lainnya hingga saat ini, buku telah berbicara kepada kita, dalam diam dan hening, bahwa ia telah diwariskan sedemikian rupa untuk menyampaikan kisah-kisah di balik keberadaannya.

    Kisah yang barangkali mampu menyadarkan kita tentang suatu hal penting dalam hidup, apapun itu. Geraldine Brooks mengajarkan saya tentang hal ini lewat novelnya yang berjudul People of the Book.

    Buku ini mengisahkan tentang seorang pakar buku langka yang bernama Hanna Heath dalam menangani konservasi Haggadah Sarajevo yang cukup kontroversial sejarahnya.

    Hanna, lewat keahliannya menganalisa, kemudian menemukan beberapa jejak masa lalu dari haggadah tersebut. Serpihan sayap serangga, sehelai bulu halus, bekas penjepit dan tanda mawar, noda dan garam, seolah semua itu ingin menyampaikan kisahnya masing-masing mengapa mereka ada di dalam haggadah itu dan sudah berapa jauh perjalanan serta kesulitan yang dialaminya.

    Dari hasil penemuannya, Hanna kemudian mulai merangkai satu demi satu misteri buku tersebut; Seorang muslim Bosnia yang mempertaruhkan nyawanya dan keluarganya untuk menjaga buku itu di tahun-tahun ketika Nazi berkuasa; Seorang pastor Katolik dan rabi Yahudi yang mencoba menyelamatkan buku itu dari api pembakaran Inkuisisi gereja; Seorang penulis yang terpaksa meregang nyawa dan kehilangan keluarganya demi menambahkan teks pada buku itu; Misteri seorang musawwir yang melukis ilustrasi indah terlarang tersebut di Sevilla tahun 1480.

    Semua hipotesis ini membawa Hanna pada pencarian jati dirinya sendiri dan juga orang-orang yang ia cintai dan, pemalsuan karya seni, tentu saja.

    “Kalian semua, dari dunia yang aman, dengan kantong udara mobil dan kemasan antirusak dan diet bebas lemak. Kalianlah yang percaya takhayul. Kalian meyakinkan diri bahwa kematian dapat dielakkan, dan kalian tersinggung saat menyadari keadaannya tidak begitu.

    Sepanjang perang berkecamuk di negara kami, kalian duduk di apartemen kecil yang nyaman dan menonton kami, berdarah-darah dalam berita televisi. Dan kalian berpikir, “Seram sekali!” lalu bangkit dan membuat secangkir lagi kopi mahal ….

    Dalam hidup ini sering terjadi hal buruk. Beberapa hal yang sangat buruk menimpaku. Dan aku tidak berbeda dengan ribuan ayah lain di kota ini yang anaknya menderita. Aku menerima kenyataan itu. Tidak semua cerita berakhir bahagia .…”

    (halaman 59)

    Sebenarnya apa yang membuat buku itu sangat dicari-cari dan dilindungi, sampai-sampai banyak nyawa telah terlibat? Perjalanan panjang apa yang telah dialami Haggadah Sarajevo ini hingga mampu selamat dan akhirnya bermuara di Museum Nasional Bosnia dan Herzegovina di Sarajevo saat ini?

    People of the Book akan mengajak kita pada petualangan yang sangat sulit untuk diacuhkan begitu saja tanpa menyesapi kisah-kisah di dalamnya.

    People of the Book terinspirasi dari sejarah Haggadah Sarajevo, yang merupakan sebuah manuskrip Ibrani misterius berisi tulisan tangan dengan ilustrasi indah tentang perayaan Paskah Yahudi. Meskipun beberapa fakta sejarah yang dicantumkan penulis dalam novel ini benar adanya, tetapi cerita maupun penokohan yang ada hanyalah fiktif belaka.

    Brooks menulis kisahnya dalam plot yang melompat-lompat. Alur cerita yang maju mundur secara bergantian sesuai dengan tahun atau masa artefak-artefak ditemukan di dalam buku dan masa sekarang di mana Hanna hidup membuat kita merasa dekat dengan sejarahnya itu sendiri. Hasil penerjemahan dan suntingan versi terjemahan ini juga menurut saya sangat bagus.

    Menurut sejarahnya, naskah Haggadah Sarajevo ditulis di lembaran kulit anak sapi yang sudah dikelantang dan diberi pewarnaan emas dan perak. Haggadah ini merupakan salah satu haggadah tertua dari Haggadah Yahudi Spanyol di dunia yang berasal dari Barcelona tahun 1350, dan salah satu buku Yahudi abad pertengahan berilustrasi paling awal yang pernah muncul.

    Dikatakan kontroversial karena buku ini melibatkan ilustrasi makhluk hidup, yang sejatinya menggambarnya adalah larangan bagi agama Yahudi dan Islam. Pun dengan kisah-kisah di dalam ilustrasinya yang juga kontroversial menurut Kristen Katolik karena berseberangan dengan alkitab Injil dan keputusan gereja pada masanya.

    Tak banyak yang bisa diketahui dari pembuatan buku ini, kecuali bahwa buku ini dibuat di Spanyol sekitar pertengahan abad ke-14, menjelang berakhirnya masa Convivencia, di mana saat itu, umat Yahudi, Kristen dan Islam hidup berdampingan secara damai.

    Kisah di buku ini indah. Menurut saya, People of the Book ingin menunjukkan bahwa atas nama pelestarian peradaban, termasuk benda-benda peninggalan sejarahnya, siapapun itu orangnya, apapun agamanya, kapan pun masa kehidupannya, selama ia mencintai sejarah dan ingin agar sejarah itu diketahui, hampir pasti akan mencoba melindunginya dan mewariskannya sampai generasi terakhir.

    Lewat analisa dan konservasi sebuah buku, kita bisa mendapatkan percikan informasi sejarah tentang lingkungan tempat buku itu berada, bagaimana orang-orang yang membawanya, peristiwa sejarah apa yang saat itu terjadi, pengaruh apa saja yang disebabkan oleh keberadaan buku tersebut, dan lain sebagainya.

    Seperti rantai yang saling terhubung, sejarah masa lampau dan masa kini pun terhubung sebagai sebuah rangkaian, begitu pula dengan sejarah yang akan terjadi di masa depan. Generasi berikutnya berhak tahu apa yang telah terjadi pada generasi-generasi sebelumnya untuk dijadikan pelajaran dan diambil hikmahnya.

    Terminologi ‘People of the Book‘ kalau saya baca defenisinya lebih kepada ahli kitab atau istilah untuk penganut agama yang dibawa oleh nabi Ibrahim alaihissalam, yang kemudian diteruskan oleh Musa alaihissalam dan Isa alaihissalam yakni Yahudi dan Nasrani, sebelum kedatangan Islam yang dibawa oleh Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam.

    Tetapi, bisa juga yang dimaksud dari judul novel ini adalah terminologi biasa, arti secara harfiahnya yaitu orang dari buku. Berhubung versi terjemahan novel ini tidak dijelaskan secara gamblang terminologi mana yang dimaksud oleh Brooks dalam judul karyanya, maka saya rasa semoga tak apa jika kita menafsirkan makna judul buku ini secara berbeda.

    People of the Book—orang-orang dari buku—pantas dijadikan sebagai judul. Bak suara dari masa lampau, sebuah buku ingin menyuarakan isi hatinya dan mengatakan, “Inilah yang terjadi padaku.”

  • The Martian Si Penghuni Mars oleh Andy Weir

    Judul: Si Penghuni Mars
    Judul Asli: The Martian
    Penulis: Andy Weir
    Penerjemah: Rosemary Kesauly
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    ISBN: 978-602-03-2439-5
    Tebal: 528 halaman
    Tahun terbit: 2015
    Cetakan: Kesatu
    Genre: Fiksi Sains
    Rating: 5/5

    Saya mengenal dua Mark yang sama-sama berjuang untuk bertahan hidup. Bedanya, yang satu Mark Boyle si Moneyless Man, bertahan hidup tanpa uang di bumi, sedangkan Mark yang lain bertahan hidup di Mars, planet merah yang tak satupun terdapat tanda-tanda kehidupan.

    Namanya Mark Watney. Tadinya Watney hanya menjalankan misi botaninya ke Mars. Serangkaian badai pasir menghambat diri dan teman-temannya sehingga mengharuskan sekelompok ilmuwan dan astronot ini untuk kembali ke pesawat ruang angkasa mereka.

    Di tengah-tengah badai tersebut, Watney mengalami kecelakaan. Mengira dirinya sudah mati, teman-temannya terpaksa meninggalkan Watney. Untungnya Watney ternyata masih hidup dengan luka tancapan antena di perutnya.

    Tapi, ia mungkin saja akan menjadi orang pertama yang akan mati di Mars sebab ia harus menghadapi beberapa masalah penting; Tak ada air, tak ada oksigen, tak ada makanan dan tak ada komunikasi.

    Watney terpaksa memutar otak dan memaksimalkan kreativitas dan kemampuannya demi bertahan hidup di kondisi yang tidak ideal bagi manusia. Dengan aneka hitungan dan rumus, ia mulai memperkirakan berapa banyak makanan, air dan oksigen yang akan ia butuhkan.

    Seperti halnya Boyle yang menanam sendiri makanannya, Watney juga memanfaatkan kotorannya untuk menanam kentang di Mars — Yah, barangkali jika suatu saat mereka berjumpa, mereka bisa saling menceritakan pengalamannya masing-masing 😀

    “Toilet-toilet HAB sangat canggih. Tinja langsung disedot sampai kering, lalu disimpan dalam kantong-kantong tertutup untuk dibuang ke permukaan.” (halaman 26)

    Watney juga harus memecahkan masalah air dan oksigen. Tak hanya itu, ia juga harus memikirkan bagaimana caranya berkomunikasi dengan bumi, sebab sebaik apapun usahanya menghasilkan sumber kehidupan, semua tak akan ada artinya jika ia tidak bisa kembali ke bumi.

    Ia pun harus memeras otak dan tenaganya untuk memikirkan bagaimana caranya untuk pergi ke lokasi misi Mars berikutnya yang cukup jauh, yang mungkin saja di sana ada alat komunikasi. Masalahnya, planet merah itu ternyata memiliki banyak rahasia dan kejutan yang tidak diperhitungkan oleh Watney ….

    Bagaimana ya nasib Mark Watney di planet tak berpenghuni itu? Bagaimana cara ia membuat air dan oksigen? Apa ia berhasil kembali ke bumi atau justru terperangkap di planet merah?

    ***

    The Martian karya Andy Weir adalah salah satu novel fiksi sains paling keren yang pernah saya baca. Saya sempat mengalami book hangover setelah menamatkannya. Membaca novel ini sama sekali tidak membosankan, justru kebalikannya; asyik, seru dan menyenangkan. Andy Weir cerdas sekali membuat novel ini begitu mengalir, ringan dan tidak monoton.

    Cerita tentang Mark Watney ditulis dengan gaya penulisan jurnal harian, berupa catatan-catatan sol Mark Watney selama di Mars. Sol adalah istilah untuk menyebutkan hari di Mars. Waktu satu hari di Mars lebih lama sedikit dibandingkan satu hari di bumi sehingga kita menyebutnya sol, bukan hari.

    Di dalam log catatannya itulah, pembaca akan mengetahui bagaimana perkembangan usaha Watney bertahan hidup, caranya ia menghasilkan oksigen, air dan makanan, juga termasuk curahan hati dan banyolan-banyolannya secara rinci.

    Membaca novel ini mengingatkan saya pada mata kuliah termodinamika, kimia dan fisika sewaktu kuliah dulu. Di dalamnya terdapat banyak istilah-istilah teknik, perumusan dan perhitungan kimia dan fisika, tetapi semua itu tidak terkesan berat karena novel ini diterjemahkan dengan bahasa yang mudah dicerna menggunakan logika umum.

    Kondisi Mars dan hal-hal yang dilakukan Watney dipaparkan dalam kacamata ilmiah sehingga sesuatu yang terkesan mustahil menjadi lebih masuk akal di tangan Andy Weir.

    Selain dipenuhi dengan istilah-istilah teknik dan astronomi, novel ini juga dikemas dengan humor-humor ringan yang lucu dan menggelikan. Karakter Watney di sini adalah orang yang serius tapi santai, suka bercanda dan tidak menganggap suatu masalah sebagai hal yang membuat stress meskipun sebenarnya dirinya pasti mengalami kebingungan yang sangat.

    Saya sendiri yang membacanya heran, kok ya sudah terancam nyawanya di Mars sana masih bisa rileks haha. Bisa-bisanya Andy Weir memadukan antara sci-fi yang umumnya serius dan berat dengan komedi yang ringan dan lucu. Sebuah perpaduan yang unik dan cerdas.

    Kalau pembaca agak kesulitan membayangkan secara visual aktivitas yang dilakukan oleh Watney secara rinci juga lingkungan sekitar Mars, barangkali ini akan sedikit kompleks. Syukurnya novel ini sudah diangkat ke layar lebar, jadi kita bisa melihat secara visual adegan yang digambarkan di dalam novel ini lewat filmnya.

    Bagi pembaca yang mungkin sering kecewa dengan film adaptasi dari buku, barangkali bisa mengecualikan The Martian, karena antara film dan bukunya, The Martian termasuk adaptasi yang sangat bagus. Yang pasti membaca bukunya lebih seru karena lebih detail.

    The Martian memberikan banyak pengetahuan baru bagi saya. Selain itu, tokoh-tokohnya mengajarkan satu hal yang penting, bahwa dalam kondisi sesulit dan sesempit apapun, manusia sejatinya hanya perlu terus berusaha dan tidak putus asa, meskipun terkesan mustahil. Dan manusia akan selalu saling tolong-menolong ketika mengetahui ada orang lain yang kesulitan.

    “Ancaman terbesar tentunya kehilangan harapan. Kalau Mark memutuskan dia tidak punya harapan untuk bertahan, dia akan berhenti berusaha.” (halaman 137)

    “Saat seorang pemanjat gunung tersesat di pegunungan, orang-orang akan berkoordinasi untuk melakukan pencarian. Saat ada kecelakaan kereta, orang-orang mengantre untuk menyumbangkan darah, Saat ada gempa bumi yang meratakan seluruh kota, orang-orang dari seluruh dunia akan mengirimkan bantuan darurat.

    Semua itu sifat fundamental manusia yang dapat ditemukan dalam budaya mana pun tanpa kecuali. Ya, tentu saja ada orang-orang brengsek yang tidak peduli, tapi mereka kalah jumlah dibanding orang-orang yang peduli. Dan karena itu, ada miliaran orang yang mendukungku.” (halaman 527)

    Barangkali bagi sebagian orang yang sudah membaca The Martian, ada satu hal yang cukup menonjol ditampilkan oleh Weir, yaitu masalah lakban, seolah-olah banyak hal bisa diselesaikan dengan lakban di Mars sana, LOL.

    Yah, pada kenyataannya, lakban memang memiliki banyak sekali fungsi. Tapi, menurut saya, ada banyak pelajaran selain soal lakban yang bisa dipetik pembaca dari karya Weir ini.

    Bahwa novel ini sebenarnya bisa menjadi alternatif awalan bagi mereka yang tidak suka membaca buku sains karena sains digambarkan dengan cara yang mengasyikkan oleh Weir.

    Ini bisa memberikan motivasi bagi para remaja atau orang dewasa untuk mulai menyukai ilmu pengetahuan. Sebenarnya berbagai aktivitas sehari-hari kita tidaklah jauh dari sains. Sains-sains sederhana yang mudah dipraktikkan sejatinya memiliki prinsip yang sama dalam penerapan yang lebih kompleks.

    Mungkin saat sekolah dulu kita terlalu paranoid dengan rumus fisika dan reaksi kimia yang rumit. Padahal, dalam kondisi-kondisi tertentu, terkadang rumusan atau reaksi tersebut bisa berguna di saat genting jika kita memahaminya.

    Selain itu, gambaran tentang aktivitas tata surya dan upaya meneliti Mars sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh para ilmuwan dan astronot, tetapi selama ini mungkin hanya dipahami sepintas lalu oleh sebagian besar manusia.

    Lewat novel ini, sedikit banyak pembaca jadi tahu bagaimana gambaran di Mars sana. Meskipun fiktif, tetapi beberapa aspek ilmiah buku ini tetaplah disesuaikan dengan fakta. Ini kita bisa lihat dari latar penulisnya sendiri yang dibesarkan di lingkungan engineer.

    Bagi saya yang memang orang teknik, meskipun sudah tidak berkutat dengan hal-hal seputar teknik secara khusus, membaca The Martian seolah mengulang kembali kenangan dan kecintaan terhadap sains. Sains itu asyik dan menyenangkan jika kita mau berteman dengannya 🙂

  • Dari Arsip Campur Aduk Mrs. Basil E. Frankweiler oleh E.L. Konigsburg

    Judul: Dari Arsip Campur Aduk Mrs. Basil E. Frankweiler
    Judul Asli: From the Mixed-up Files of Mrs. Basil E. Frankweiler
    Penulis: E.L. Konigsburg
    Penerjemah: Cuning K. Goenadhi
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    ISBN: 978-979-22-2773-4
    Tebal: 200 halaman
    Tahun terbit: April 2007
    Genre: Fiksi Anak
    Rating: 4/5

    Merasa dirinya selalu melakukan hal yang sama setiap harinya, monoton, dan diperlakukan tidak adil, Claudia memutuskan untuk kabur dari rumah. Ia ingin memberi pelajaran kepada orangtuanya. Tapi, bukan Claudia namanya kalau harus kabur tanpa rencana yang matang. Ia ingin kabur dengan nyaman.

    leh karena itu, ia memilih kabur ke Museum Seni Metropolitan, New York, yang memiliki tempat luas dan banyak area untuk dieksplorasi. Claudia menabung uangnya dan mengajak adiknya Jamie. Selain Jamie mudah diajak kerjasama, ia juga anak yang cerdik, terutama pelit, sehingga sudah pasti uang celengannya banyak.

    Mereka pun kabur sebelum jam pelajaran sekolah dasar dimulai. Seperti rencana mereka, dengan membawa kotak biola dan trompet yang diisi pakaian, mereka berpura-pura masuk ke museum sebagai pengunjung, lalu bersembunyi di sana sampai museum itu tutup.

    Menjelajahi ruang demi ruang, mempelajari sejarah demi sejarah seni, tidur di tempat tidur antik dari abad keenam belas, sampai mandi di kolam pancur, semua itu dilakukan oleh Claudia dan Jamie dengan sangat hati-hati tanpa melupakan kesenangan berpetualang.

    Masalahnya, Claudia tidak puas hanya sampai di situ saja. Mereka kemudian menemukan sebuah patung yang sangat indah. Claudia sampai terpukau melihatnya dan merasa ada sesuatu yang berbeda dengan patung itu. Menurut para ahli, tidak ada yang tahu siapa pemahatnya dan apakah patung tersebut asli atau palsu.

    Claudia merasa dirinya harus memecahkan misteri patung tersebut. Patung itu akan menunjukkan alasan penting mengapa ia melakukan semua ini dan tidak akan pulang sebelum ia menemukan apa hal penting itu. Patung apa, ya, sebenarnya itu? Dan siapa, sih, Mrs. Basil E. Frankweiler yang disebut-sebut di judul buku ini?

    “Rahasia adalah petualangan yang dibutuhkannya. Memiliki rahasia itu aman, dan membuatmu merasa berbeda. Merasa berbeda di dalam hati.”

    (halaman 171)

    Penerima Banyak Penghargaan

    Kisah “Dari Arsip Campur Aduk Mrs. Basil E. Frankweiler” ditulis oleh E.L. Konigsburg pertama kali tahun 1967. Sejak diterbitkannya, buku ini banyak disukai oleh pembaca dari segala usia.

    Uniknya, meskipun ditulis di tahun 1967, tetapi perasaan dan suasana yang kita rasakan ketika membaca buku ini hampir tidak ada bedanya dengan masa yang lebih modern.

    Saya hampir tidak menyadari perbedaan waktu yang cukup jauh tersebut. Padahal, kalau kita mau membandingkan latar di tahun 1967 tentu akan sangat jauh berbeda dengan tahun 2000 ke atas.

    Perbedaan itu tidak terlihat di karya penulis Amerika yang satu ini. Kalau boleh saya menyebutnya semacam karya yang evergreen, barangkali, relevan sampai kapan pun.

    Dari Arsip Campur Aduk Mrs. Basil E. Frankweiler memenangkan Newberry Award tahun 1968 untuk kategori American children’s literature. Buku ini juga masuk di dalam daftar Teachers’ Top 100 Books for Children berdasarkan polling tahun 2007 oleh Asosiasi Pendidikan Nasional Amerika Serikat.

    Selama bertahun-tahun, E.L. Konigsburg mendapatkan banyak kiriman surat dari para pembaca, terutama anak-anak, yang memberinya masukan, pertanyaan, dan juga permintaan untuk membuat sekuelnya.

    Tentu saja tidak akan ada sekuel dari buku ini karena penulis mengharapkan kisah Claudia dan Jamie akan bertahan sampai puluhan tahun yang akan datang.

    Edisi yang diterbitkan tahun 2007 ini merupakan edisi ulang tahun ke-35. Saya merasa bahagia membaca kisah kakak beradik Claudia dan Jamie di buku ini. Selain karena ringan, buku ini membahas tema tentang dunia arsip dan sejarah, yang tentu saja sangat berhubungan dengan bibliografi.

    Ceritanya juga ditulis dengan sangat rinci. Saya bisa merasakan petualangan dan debaran jantung mereka ketika harus bersembunyi di museum. Seru pastinya!

    Ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari karakter Claudia dan Jamie yang cukup bagus untuk bahan pembelajaran anak-anak. Bahwa seorang anak sekali pun membutuhkan sesuatu yang membuat mereka merasa dirinya istimewa dan layak dihargai.

    Dan bahwa berpetualang menemukan hal-hal baru adalah sesuatu yang perlu dipertimbangkan oleh orangtua untuk tumbuh kembang anak agar aktivitas mereka tidak monoton.

    *Ulasan ini diikutsertakan pada Proyek Battle Challenge #31HariBerbagiBacaan

  • Esio Trot: Aruk-Aruk oleh Roald Dahl

    Esio TrotJudul: Aruk-Aruk
    Judul Asli: Esio Trot
    Penulis: Roald Dahl
    Alih Bahasa: Poppy Damayanti Chusfani
    Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
    ISBN: 978-979-22-2091-9
    Tebal: 72 hlm
    Tahun terbit: Januari 2010
    Cetakan: Kedua
    Genre: Fiksi Anak
    Rating: 4/5

    Mr. Hoppy sangat menyukai Mrs. Silver, tetangga rumahnya yang berada di lantai bawah. Masalahnya, Mrs. Silver sudah memberikan perhatiannya hanya untuk Alfie, si kura-kura peliharaan kesayangannya, sehingga Mr. Hoppy sulit sekali mendapatkan perhatian wanita itu. Mrs. Silver ingin sekali Alfie tumbuh lebih besar dua kali lipat. Ia akan melakukan apa saja untuk itu, termasuk menjadi pelayan Mr. Hoppy seumur hidupnya kalau Mr. Hoppy berhasil membuat Alfie tumbuh lebih cepat.

    Aha! Mr. Hoppy tiba-tiba saja memiliki ide yang sangat cemerlang untuk membuat Alfie tumbuh menjadi kura-kura yang besar. Apa kalian tahu caranya? Idenya melibatnya ratusan kura-kura dari seluruh kota dan sebait kata-kata ajaib. Dan, tunggu! Untuk apa alat penangkap kura-kura itu? Oh, kalian tak akan menyangka apa yang akan dilakukan oleh Mr. Hoppy untuk wanita yang disukainya …. (more…)

  • The Suitcase Kid oleh Jacqueline Wilson

    The Suitcase KidJudul: Anak Tanpa Rumah
    Judul Asli: The Suitcase Kid
    Penulis: Jacqueline Wilson
    Alih Bahasa: Novia Stephani
    Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
    ISBN: 979-22-0365-6
    Tebal: 176 hlm
    Tahun terbit: Juni 2003
    Cetakan: Pertama
    Genre: Fiksi Anak
    Rating: 4/5

    Perpisahan orangtua kerap menimbulkan dampak bagi anak-anak. Entah itu perubahan secara psikis, kebiasaan rutin, atau bahkan impian yang selama ini melekat di benak anak. Anak-anak umumnya hanya ingin menjalani hari-hari seperti biasanya; teratur, menjalani masa-masa bahagia, ditemani kedua orangtua yang lengkap, saling menyayangi dan mengasihi, serta tinggal di rumahnya sendiri. Sayangnya, hal indah itu tidak terjadi pada diri Andy. (more…)

  • The Worry Website oleh Jacqueline Wilson

    Situs MasalahJudul: Situs Masalah
    Judul Asli: The Worry Website
    Penulis: Jacqueline Wilson
    Alih Bahasa: Poppy Damayanti Chusfani
    Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
    ISBN: 978-979-22-3277-6
    Tebal: 160 hlm
    Tahun terbit: Oktober 2007
    Cetakan: Pertama
    Genre: Fiksi Anak
    Rating: 3/5

    Bayangkan jika setiap kali kita mengalami suatu masalah, akan ada sebuah situs untuk kita menuliskan masalah-masalah tersebut. Kemudian, akan ada banyak orang yang memberi nasihat dan semua itu rahasia. Tak akan ada yang tahu identitas si penanya ataupun si komentator. Pasti asyik, bukan? Nah, inilah yang dilakukan Holly dan teman-temannya di sekolah dalam novel The Worry Website. (more…)

  • One Hundred Names oleh Cecelia Ahern

    One Hundred NamesJudul: One Hundred Names – Seratus Nama
    Judul Asli: One Hundred Names
    Penulis: Cecelia Ahern
    Alih Bahasa: Nurkinanti Laraskusuma
    Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
    ISBN: 978-602-03-1212-5
    Tebal: 464 hlm
    Tahun terbit: Januari 2015
    Cetakan: Pertama
    Genre: Fiksi Jurnalistik, Fiksi Dewasa, Fiksi Sosial
    Rating: 3,5/5

    Yang paling menarik perhatian saya awalnya dengan buku ini adalah sampul putihnya dengan torehan warna-warni di permukaan, yang setelah saya cermati dari dekat, ternyata merupakan gambar keramaian manusia. Cantik. Saya selalu suka sampul buku berwarna putih. Sampul tersebut saya lihat di album foto buku baru terbit pada halaman Facebook Gramedia. Kombinasi warna putih dan lainnya mengingatkan saya pada buku All Creatures Great and Small-nya James Herriot. Saya baca sinopsisnya, menarik. Saya baca-baca ulasan orang-orang tentang novel ini, semakin menarik. Akhirnya saya putuskan untuk mendapatkannya. (more…)

  • Mr. Fox yang Fantastis oleh Roald Dahl

    Mr Fox yang FantastisJudul: Mr. Fox yang Fantastis
    Judul Asli: Fantastic Mr Fox
    Penulis: Roald Dahl
    Alih Bahasa: Diniarty Pandia
    Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
    ISBN: 978-979-686-501-7
    Tebal: 96 hlm
    Tahun terbit: Januari 2010
    Cetakan: Kedua
    Genre: Fabel, Fiksi Anak
    Rating: 4/5

    Mengawali 2015 dengan bacaan ringan memang cukup ampuh untuk membangkitkan semangat baca. Makanya, saya pilih novelnya Roald Dahl yang satu ini, Mr. Fox yang Fantastis, sekaligus untuk bacaan reading challenge dari Komunitas Penimbun Buku dengan tema A Book that Became a Movie. Lumayan, tipis 😀 (more…)