Tag: DIVA Press

  • Perjumpaan dengan Pengkhianat oleh Isabel Allende, Gabriel Garcia Marquez, dan Penulis Amerika Latin Lainnya

    Judul : Perjumpaan dengan Pengkhianat
    Penulis : Penulis Amerika Latin
    Penerjemah : Tia Setiadi
    Jumlah halaman: 212 hlm
    Penerbit : Diva Press
    Tahun terbit : Januari 2017
    ISBN : 978-602-391-356-5
    Genre: Fiksi, Cerpen
    Rating: 3/5

    Bagaimana jadinya bila seorang tentara bertemu kembali dengan temannya yang pengkhianat setelah berpisah berpuluh tahun yang lalu di ruang persidangan? Barangkali ada banyak emosi dan rasa yang berkecamuk di dada, seperti yang dirasakan oleh si lelaki, tokoh utama kita di dalam cerpen yang menjadi judul buku sepilihan cerita pendek ini.

    Iya, sesuatu yang belum rampung dan menyisakan dendam acapkali bangkit menyeruak dari pikiran, menendang-nendang benak, menyulut kembali kebencian dan kemarahan. Begitulah yang dialami olehnya saat melihat, mengikuti dan mengejar lelaki bertongkat mantan pengkhianat bangsa di suatu tempat.

    Ingatannya terbang ke masa puluhan tahun silam ketika mereka berperang, berupaya bertahan dari pembantaian ratusan ribu tentara, juga saat mereka berkelahi dan berhadapan di depan pengadilan militer.

    Kini, mereka bertemu kembali, pada zaman yang berbeda. Bagaimana rasanya bertemu muka dengan seorang pengkhianat yang telah mengkhianatimu dan ratusan ribu rekanmu?

    Augusto Roa Bastos, seorang cerpenis asal Paraguay yang dikenal lewat karya fenomenalnya Yo el Supremo tentang pemimpin tangan besi Paraguay selama 26 tahun, mengawali buku ini lewat cerpen “Perjumpaan dengan Pengkhianat” dan berhasil memunculkan sensasi mengejutkan dan tak terduga pada karyanya.

    Seperti api yang disiramkan air, engkau tak bisa berkata-kata dengan alur yang diberikannya, ketika mengetahui bagaimana kelanjutan dari si lelaki yang bertemu dengan pengkhianat itu.

    Belum cukup dengan keterkejutan di cerpen pertama yang berbau politik, barangkali engkau pun akan bertanya-tanya tentang revolusi sosial yang dilakukan para tanaman pada cerpen “Mengapa Ilalang Berlubang” karya Gabriela Mistral, pengarang Amerika Latin pertama yang menerima Hadiah Nobel Kesusastraan, yang potret wajahnya tertera pada uang lima ribu peso Chile.

    Dalam kisahnya, sang ilalang yang menjadi pemimpin, bersama mawar, jagung dan tanaman lainnya berusaha bertumbuh setara, agar sama tingginya dengan puncak biru ekaliptus si pohon keras, apapun yang terjadi. Keangkuhan terkadang tak ambil peduli pada kemanfaatan.

    “Jadi begitulah, wahai Manusia. Cantiklah bunga violet karena kekecilannya dan pohon jeruk karena bentuknya yang lembut. Cantiklah segala sebagaimana Tuhan telah menciptakannya; ek yang mulia dan jelai yang rapuh.” (halaman 40)

    Seperti halnya sebuah alegori, pun kisah ilalang ini dirasa cukup mendalam pemaknaannya bagi manusia jika mereka mau menggali setiap inci hikmahnya. Ini hampir senada dengan pemaknaan hidup yang dilakukan oleh Juan Bosch dalam karyanya yang berjudul “Jiwa Indah Don Damian”, tentang sejumput jiwa yang berusaha melepas tentakel-tentakelnya dari pembuluh darah sang majikan, lantas keluar untuk melihat segala hal yang tidak bisa terlihat sebagaimana yang terlihat sebelumnya.

    Yang licik terlihat jujur. Yang rakus terlihat rendah hati. Jiwa akhirnya menjadi muak karenanya. Akankah ia kembali menancapkan tentakel itu ke pembuluh majikannya? Cerpen yang begitu sarat makna.

    Buku Perjumpaan dengan Pengkhianat ini adalah sekumpulan cerita pendek karya para penulis Amerika Latin yang sebagian besar namanya kurang familiar bagi saya. Ada yang saya kenali, seperti Gabriel Garcia Marquez atau Isabel Allende yang karya-karyanya sudah sangat dikenal, tetapi selebihnya adalah nama baru bagi saya.

    Padahal, sederetan cerpenis ini memiliki berbagai latar belakang politik, sosial, dan budaya yang cukup kompleks diikuti prestasi yang tak biasa di berbagai bidang.

    Sebut saja Juan Bosch, seorang cerpenis dan sejarawan. Ia juga presiden Republik Dominika pertama yang terpilih secara demokratis dalam waktu singkat. Atau Miguel Angel Asturias, seorang novelis dan jurnalis asal Guatemala sekaligus sebagai salah satu figur awal Bom Sastra Amerika Latin seperti halnya Julio Cortazar asal Argentina. Masih ada sederet nama lainnya di buku ini yang juga memiliki keistimewaannya masing-masing.

    Tak hanya bertema sosial dan kemanusiaan, tetapi perselingkuhan, buasnya dunia malam, tentang keluarga, kesedihan, atau kesendirian juga turut mewarnai sepilihan cerita pendek Amerika Latin yang berjumlah empat belas banyaknya, dan tentunya menjadi dinamika tersendiri agar para pembaca tidak bosan.

    Namun, di antara keempat belas cerpen tersebut, ada satu benang merah yang menjadi kesamaan mereka. Bahwa kisah-kisah tersebut memiliki ending yang tidak terduga. Setiap jawaban pertanyaanmu akan terjawab di akhir cerita, sekali lagi, secara tak terduga. Begitulah. Betapa pintarnya para penulis itu mengemas karya mereka.

    Keistimewaan lainnya yang terdapat di buku ini adalah kepiawaian Tia Setiadi dalam menerjemahkan cerpen-cerpen ini. Penggunaan diksi dan struktur kalimat, yang barangkali di bahasa aslinya memang sudah indah, terasa semakin indah dan nyastra karena sentuhan sang penerjemah. Ada banyak diksi unik bertebaran di buku ini dan menambah perbendaharaan kita.

    Akhirnya, membaca buku ini rasanya seperti menggali dunia baru Amerika Latin; dari Paraguay hingga negara Castro, Kuba; dari negara-negara penggila bola seperti Brazil dan Argentina hingga Meksiko di mana bisa engkau jumpai Taco dan Salsa dengan mudahnya; ada banyak rasa dan warna yang disuguhkan di sepilihan cerpen Amerika Latin ini.

    “Ke mana pun kau memandang di Luvina, yang kau lihat semata tempat yang menyedihkan. Aku ingin bilang itulah tempat bersarangnya kesedihan. Senyuman tak dikenal di sana seolah-olah wajah-wajah manusia telah dibekukan. Dan, kalau kau mau, kau bisa melihat kesedihan itu kapan pun.” (sepenggal kutipan dari cerpen “Luvina” karya Juan Rulfo, halaman 102)

  • Ketika Lampu Berwarna Merah oleh Hamsad Rangkuti

    Judul : Ketika Lampu Berwarna Merah
    Penulis : Hamsad Rangkuti
    Jumlah halaman : 228 hlm
    Penerbit : DIVA Press
    Cetakan : I, Mei 2016
    ISBN : 978-602-391-148-6
    Genre: Fiksi Sosial, Fiksi Lokal
    Rating: 3/5

    Jika engkau ingin melihat kaum ibu dengan gendongan balita dekil, lampu merah tempatnya. Kalau engkau hendak melihat kaum bapak berkaki pengkor atau bertangan sebelah, lampu merah juga tempatnya. Ingin melirik anak-anak mengamen dan menengadah tangan? Lampu merahlah tempatnya.

    Jangan engkau tanya seperti apa aroma tubuh dan tampilan mereka. Mungkin cukup untuk membuat para penumpang menahan nafas atau mengernyitkan dahi. Di satu sisi, lampu merah membuat dongkol para supir dan majikan yang ingin segera berleha di rumah mereka. Di sisi lain, persimpangan dan lampu merah menjadi panggung senyum bagi kaum gepeng mengais rezeki. Ironis memang.

    Tak sekali dua barangkali kita berjumpa dengan kaum gepeng ketika lampu lalu lintas berganti merah. Mulai dari yang berpura-pura pengkor sampai yang benar-benar pengkor, pun para pengamen yang bersuara bak Iwa K hingga yang cempreng menyakitkan telinga, seolah kita melihat babak demi babak drama negeri ini dari balik layar kaca mobil pribadi atau angkutan umum.

    Tapi, yah … hanya sebatas ketika lampu merah menyala. Setelah itu? Para pengemudi dan penumpang tentunya akan melanjutkan kembali pikiran mereka ke tempat lain, meninggalkan gembel dan pengemis yang entah bagaimana kelanjutan hidup mereka setelah lampu berwarna hijau.

    Sudah bukan rahasia lagi sebenarnya bagaimana kehidupan kaum gepeng di negeri ini. Hampir dari kita semua tahu bahwa hidup mereka jauh dari kata layak. Sekedar bisa memenuhi kebutuhan perut yang sejengkal itu saja mungkin sudah lebih dari cukup.

    Hendak bermimpi bersekolah tinggi atau bercita-cita memiliki ini itu? Yah, barangkali itu hanya menjadi sebatas mimpi. Hidup di lingkungan masyarakat pinggiran dan terbuang tak akan pernah terbayangkan oleh sebagian orang.

    Kehidupan di mana anak kecil dipaksa mencari uang untuk memberi makan entah siapa. Kehidupan di mana anak-anak perempuan harus berjuang melepaskan cengkeraman dan tatapan buas lelaki hidung belang beraroma bir. Lingkungan di mana para wanita tuna susila hidup menjajakan diri demi selembar dua puluh ribu rupiah. Ya Tuhan … tak terbayangkan betapa ngerinya.

    Tapi, Hamsad Rangkuti berhasil menampilkan babak-babak kehidupan kaum pinggiran di atas seolah nyata melalui novel Ketika Lampu Berwarna Merah.

    Adalah Kartijo yang ditinggalkan anak lelakinya, Basri, yang minggat dari rumah demi melihat Monas di Jakarta. Kartijo dan istrinya, Surtini, beserta orang-orang sekampung terpaksa harus pindah ke Sumatera mengikuti program transmigrasi, meninggalkan tanah kelahiran mereka di Wonogiri karena desanya akan dijadikan waduk. Hanya satu keinginan Surtini; menemukan anaknya.

    Jadilah Kartijo, dengan waktu yang sangat mepet, mencari Basri ke Jakarta dan berjanji akan mengejar kapal yang akan mereka tumpangi ke Sumatera di Tanjung Priok. Sementara ayahnya sibuk mencari, sang anak ternyata harus bergulat dengan kehidupan Ibu Kota yang keras dan berbahaya bersama teman-temannya.

    Lewat Basri, Pipin si kaki pengkor yang ditinggal mati ibu bapaknya, Bustami si pemabuk, Sanip si tukang mayat, serta tokoh-tokoh lainnya dengan karakter yang cukup kuat, narasi Hamsad Rangkuti mampu menggiring degup jantung kita berdetak agak cepat merasakan ketegangan konflik para tokohnya.

    Membuat kita bertanya-tanya bagaimana akhir dari kisah kaum pinggiran ini. Rasanya hampir seperti gambaran realita negeri ini. Katanya di negeri ini, orang miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.

    Nyatanya, bagai pungguk merindukan bulan. Dengan realita yang ada di sekitar kita, Ketika Lampu Berwarna Merah seakan-akan menjadi sebuah sindiran bagi kita dan negeri ini, bahwa gepeng dan kaum terpinggirkan lainnya membutuhkan campur tangan pihak lain untuk membuka jalan yang lebih baik, membuka lembaran baru bagi mereka.

    Tanpa menceramahi, tanpa menggurui, Hamsad Rangkuti menawarkan makna tersirat lewat narasinya. Menurut saya ini menjadi salah satu kelebihan dari karyanya. Selain itu, Ketika Lampu Berwarna Merah dituturkan dengan penggambaran yang sangat detail sehingga saya cukup menikmati deskripsi-deskripsi di dalamnya tanpa terasa membosankan.

    Selain gambaran realita kaum yang terpinggirkan, Hamsad Rangkuti juga menunjukkan bahwa sepahit-pahitnya kehidupan yang dijalani, siapapun memiliki mimpi yang ingin diwujudkan, meski bagi orang lain mimpi itu terdengar sangat sederhana. Entah dengan cara apa, kaum gepeng tentu saja ingin mengubah nasibnya.

    Semangat itulah yang barangkali terus membawa mereka bergerak mengejar harapan dengan kaleng-kaleng mentega dan krecekan di tangan mereka, menyongsong lampu berwarna merah. Sekali lagi, sebungkus nasi sudah menunggu mereka di perempatan itu.

    Wajah-wajah pias berbalut dekil
    Berselimut debu
    Sesuap demi sesuap
    Nasi tanpa apa
    Pada balutan tulang
    Di rangkulan angin malam

    Laparnya tak kau rasa
    Dahaga pun tak terpuaskan

    Entah ….
    Sinismu terpancang
    Jijik, angkuh
    Katamu, mereka sampah
    Atau kitakah?

    (Balada Orang Pinggiran – Evyta AR)

  • Globetrotter: Keliling Eropa 82 Hari oleh Arunia Syamsidar

    GlobetrotterJudul: Globetrotter: Keliling Eropa 82 Hari
    Penulis: Arunia Syamsidar
    Penerbit: DIVA Press
    ISBN: 978-602-255-135-5
    Tebal: 184 hlm
    Tahun terbit: Mei 2013
    Cetakan: Pertama
    Genre: Nonfiksi, Perjalanan
    Rating: 3/5

    Selama ini, yang saya pahami tentang bagaimana cara melakukan perjalanan wisata ke Eropa bagi orang biasa seperti saya adalah lewat biro travel dan paket wisata, menginap di hotel atau jenis penginapan lainnya, dan menyewa pemandu wisata, yang pastinya akan membutuhkan dana tak sedikit. Yap. Pola berpikir saya masih seperti pola pikir zaman dulu, ketika wisata ke luar negeri menjadi sesuatu yang mewah dan sulit dijangkau. Meskipun di era super digital seperti sekarang informasi traveling semakin mudah ditemukan, bahkan dengan berbagai paket promo wisata yang murah dari biro-biro perjalanan maupun maskapai penerbangan, namun tetap saja Eropa itu jauh, dan semua itu pasti membutuhkan dana yang mahal hanya untuk waktu perjalanan yang singkat. Bagaimana jika perjalanan itu dilakukan dalam bilangan bulan? Wah! Entah berapa euro yang harus saya keluarkan jika ingin melakukannya. Mungkin bisa mencapai ratusan juta jika dirupiahkan? (more…)