Tag: Mizan

  • The Shallows : Internet Mendangkalkan Cara Berpikir Kita? – oleh Nicholas Carr

    The Shallows : Internet Mendangkalkan Cara Berpikir Kita? - oleh Nicholas Carr

    Judul Buku: The Shallows
    Penulis: Nicholas Carr
    Penerjemah: Rudi Atmoko
    Penerbit: Mizan
    Tahun Terbit: Juli 2011
    Tebal: 280 halaman
    ISBN: 9789794336403
    Genre: Nonfiksi, Internet, Psikologi
    Rating: 4/5

    Perkembangan dunia internet memang sangat memudahkan urusan kita. Dari komunikasi hingga kegiatan komputasi, semua memungkinkan kita untuk bekerja secara efektif. Namun, apakah internet benar-benar tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kebiasaan berpikir kita?

    Saya sempat merasakan perbedaan yang sangat kontras antara saya yang dulu sebelum intens dengan internet dibandingkan saya yang sulit melepaskan diri dari internet. Kalau sebelumnya, saya betah berjam-jam membaca buku dengan duduk manis mengkaji dan menelaah satu demi satu buku, menghubungkan buku satu dengan yang lainnya.

    Ketika saya keranjingan internet sekitar tahun 2007 hingga 2008, aktivitas membaca buku saya menurun drastis. Saat itu saya merasa tidak nyaman berlama-lama membaca buku, cepat bosan. Pikiran saya ingin membuka internet saja. Sebentar-sebentar saya membuka browser di komputer atau laptop untuk mengecek email dan notifikasi media sosial. Sebentar-sebentar buka blog untuk mengecek trafik dan komentar yang masuk.

    Ketika koneksi internet putus, saya akan merasa sangat gelisah karena seperti tidak ada yang bisa saya lakukan. Iya, itu dulu, saat awal-awal internet berhasil menguasai diri saya, bukan sebaliknya. Mungkin Anda juga pernah? Bersyukur saya, masa-masa itu sudah lama terlewati.

    The Shallows karya Nicholas Carr tidak jauh-jauh dari topik seperti pengalaman saya di atas. Buku ini mengupas seberapa besar pengaruh internet pada diri kita, pada otak kita, dan pada kebiasaan-kebiasaan berpikir kita.

    Menurut penulis, yang juga seorang finalis Pulitzer Award 2011, dari banyak penelitian pakar terhadap aktivitas otak dan juga berbagai eksperimen para praktisi internet dan teknologi, internet secara tak kita sadari memiliki potensi mengubah cara berpikir kita, terutama berpikir secara mendalam.

    “Ketika kita online, kita memasuki sebuah lingkungan yang mendorong pembacaan sepintas, pemikiran terburu-buru dan terganggu, dan pembelajaran yang superfisial. Mungkin saja berpikir secara mendalam sambil berselancar di internet, sama seperti kita bisa berpikir dangkal ketika membaca buku, namun itu bukanlah jenis pemikiran yang didorong dan diharapkan oleh teknologi.” (halaman 121)

    Orang yang dalam sehari menghabiskan waktu lebih banyak di depan internet, menurut penelitian yang disebutkan di dalam buku ini, memiliki perubahan cara berpikir secara mendalam yang cukup drastis. Yang tadinya kebiasaan membaca buku dalam waktu lama dan konsentrasi tinggi mampu menumbuhkan cara berpikir secara mendalam, kini perlahan dan berkelanjutan tergantikan dengan kebiasaan membaca artikel di internet secara sepintas-sepintas.

    Banyaknya link terkait yang diselipkan di setiap artikel, yang mengarahkan pembaca kepada berbagai informasi lainnya, juga membuat aktivitas otak terbiasa dengan cara berpikir secara cepat dan instan.

    Jalur neuronal otak kita sangatlah lentur sehingga akan tumbuh terus dan menyesuaikan dirinya dengan perubahan-perubahan dari kebiasaan kita. Perubahan ini kemudian disusul juga dengan banyaknya ragam buku atau majalah yang ditata sedemikian rupa seperti tampilan web.

    Penyesuaian demi penyesuaian dilakukan, termasuk dengan munculnya berbagai perangkat e-reader yang menyuguhkan banyak fitur pendukung bagi para penggila baca. Orang-orang pun selanjutnya menggantungkan ingatannya lewat internet.

    Dibanding membongkar buku-buku tebal, orang-orang akan lebih memilih mengunggah hasil pindai buku ke dalam akun cloud-nya. Dibanding berlelah-lelah mengingat dan menghapal banyak informasi, orang-orang akan memilih menuliskannya di blog atau e-mail. Suatu saat jika diperlukan, mereka hanya perlu membuka internet.

    Dibanding membaca buku-buku referensi tebal, orang-orang hanya perlu sentuhan jari untuk mengambil sebanyak-banyaknya ilmu dari internet. Internet seolah menjadi jalan pintas dengan seabrek informasi yang mendunia.

    “Semakin sering kita menggunakan web, maka otak kita semakin terlalu menghadapi gangguan—memproses informasi dengan amat cepat dan amat efisien tapi tanpa perhatian yang terus-menerus. Hal itu menjelaskan mengapa banyak di antara kita yang sukar berkonsentrasi bahkan ketika tidak sedang di depan komputer. Otak kita pintar melupakan, tidak pintar mengingat. Mungkin ketergantungan kita yang semakin besar terhadap kandungan informasi web merupakan produk dari kumparan diri yang terus ada dan membesar.

    Ketika pemanfaatan web yang kita lakukan membuat kita lebih sulit memasukkan informasi ke dalam memori biologis kita, maka kita semakin dipaksa untuk lebih bersandar pada memori buatan yang luas dan mudah dicari di internet, sekalipun itu membuat kita menjadi pemikir yang dangkal.”

    (halaman 207)

    Apakah ini artinya internet membuat cara berpikir kita dangkal? Menurut saya, bisa jadi, tetapi tergantung seperti apa kita menggunakan internet. Buku yang telah diterjemahkan ke dalam 17 bahasa ini tidak menyuruh kita berhenti menggunakan internet. Buku ini tak juga menyuruh kita hanya membaca buku cetak.

    Dengan segala pemaparan penulis disertai pengalaman orang-orang atas penggunaan internet, juga penjabaran penulis tentang sejarah alat-alat berpikir dari mulai alfabet hingga komputer, saya mengambil satu kesimpulan penting, bahwa ketika internet digunakan dalam tataran sekunder, sedangkan primernya adalah membaca buku, maka internet bisa menjadi teman bagi cara berpikir mendalam kita. Tetapi jika sebaliknya, inilah yang terjadi kemudian, bahwa kita menjadi malas membaca bacaan yang panjang dan berujung pada kedangkalan berpikir.

    Seperti yang diajarkan nabi kita, bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak memberi kebaikan. Begitu juga dengan internet. Selain kemudahan dan kesenangan yang ditawarkannya, ketergantungan terhadap internet ternyata memiliki konsekuensi fisik dan kebiasaan hidup kita.

    Ketika cara berpikir secara mendalam kita lambat laun tergerus, yang tersisa hanyalah pola berpikir karbitan yang rapuh. Jadi, seimbanglah. Memperbanyak membaca buku, menurut Nicholas Carr, akan lebih membuat cara berpikirmu lebih mendalam dan kreatif.

  • Hector and the Search for Happiness by François Lelord

    Judul: Hector and the Search for Happiness
    Penulis: François Lelord
    Penerjemah: Gusti Nyoman Ayu Sukerti
    Penerbit: Noura Books
    ISBN: 978-602-385-002-0
    Tebal: 264 hlm
    Tahun terbit: November 2015
    Cetakan: Pertama
    Genre: Fiksi Inspirasional, Fiksi Terjemahan
    Rating: 3/5

    Ada seseorang yang secara materi hidupnya sangat berkecukupan, bahkan bisa dibilang mewah, tapi ternyata menurutnya ia belum bahagia. Ada pula seseorang yang meski dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya, tetapi ternyata ia merasa sendirian dan tidak bahagia.

    Mungkin kita sering mendengar atau melihat kasus-kasus seperti ini di sekitar kita. Mengetahui ini, ternyata perasaan bahagia setiap orang acap kali berbeda parameternya. Lalu, sebenarnya apa yang membuat kita bahagia? Atau kita mungkin sedang bertanya pada diri sendiri saat ini, “Apakah saya sudah merasa bahagia?”

    Pertanyaan: Apakah kebahagiaan hanyalah sebuah reaksi kimia di dalam otak? (halaman 145)

    Apa yang dilakukan Hector di novel Hector and the Search for Happiness ini mungkin secara tak langsung cukup mewakili rasa penasaran sebagian manusia tentang kebahagiaan.

    Sebagai seorang psikiater, Hector sering kali harus mendengarkan keluhan-keluhan pasiennya yang rata-rata berputar pada dua masalah; bahagia atau tidak bahagia.

    Dalam kasusnya sendiri, Hector merasa kurang puas dengan dirinya. Oleh karena itulah, Hector melakukan perjalanan ke berbagai negara di dunia ini untuk mencari tahu dan berusaha memahami apa saja sebenarnya yang membuat orang merasa bahagia atau tidak bahagia.

    Harapannya, ia bisa membantu dirinya dan orang-orang di sekitarnya memecahkan masalah yang sedang mereka hadapi. Ia mengunjungi Cina, Afrika, Amerika Serikat, dan negara lainnya, bertemu banyak orang—kenalan baru maupun teman lamanya—, dan mencatat hasil pengamatannya di sebuah buku catatan. Apa saja jawaban yang berhasil ia temukan tentang kebahagiaan?

    Hector dan The Alchemist

    Gaya penceritaan hasil terjemahan di novel ini cukup ringan dan mengalir. Saya bisa menikmati alur ceritanya dengan sangat baik. François Lelord menggambarkan karakter Hector sebagai orang yang muda, cerdas, profesional, baik hati, dan sangat tertarik dengan diri manusia.

    Yah, meskipun ada satu sisi Hector yang juga tidak saya suka. Karakter dirinya yang mudah terlibat affair dengan wanita yang ditemui di satu dua negara yang dikunjunginya. Apa itu cara membuatnya bahagia? Kebahagiaan semu mungkin, ya?

    Membaca novel ini mengingatkan saya pada sosok Santiago di novel The Alchemist karya Paulo Coelho. Sama halnya seperti Hector, Santiago pun melakukan perjalanan jauh untuk mengejar mimpinya mendapatkan harta karun. Menurut saya, nilai hidup yang ingin disampaikan kedua novel ini hampir sama substansinya.

    Ada satu perkataan seorang biksu yang sangat saya sukai dan sejalan dengan apa yang diajarkan di dalam agama saya.

    “Ada satu faktor penentu kebahagiaan yang hilang dari daftar Anda: cara orang memandang sesuatu. Singkat kata, orang yang menganggap gelasnya setengah penuh sudah pasti merasa lebih bahagia dibandingkan orang yang menganggap gelasnya setengah kosong.” (halaman 208)

    Cara kita memandang sesuatu memang akan menentukan apakah kita merasa bahagia atau tidak. Kita bisa lihat di sekitar kita bahwa ada orang-orang yang kehidupannya sulit tetapi ia merasa selalu bahagia. Semua itu karena ia merasa bersyukur terhadap apa yang dimilikinya dan selalu memandang bahwa Tuhan telah memberikan jalan hidup masing-masing orang.

    Biasanya, orang-orang yang dekat dan taat kepada Yang Maha Pencipta cenderung lebih mudah merasa bahagia dibandingkan yang tidak. Mereka tentu saja memiliki pegangan yang kokoh, yang tidak ada sesuatu pun pantas menggantikannya. Seperti juga yang disebutkan di dalam kitab Al-Qur’an tentang jalan kebahagiaan,

    “Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” (QS. Ar-Ra’d : 29)

    “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, …” (QS. Ibrahim: 7)

    Gaya Penggambaran Latar yang Unik

    Hal lainnya yang menarik dari novel ini adalah cara penulis menyampaikan latar tempat dan negara yang dikunjungi Hector. François Lelord tidak secara gamblang menyebutkan nama negara apa yang dikunjungi Hector selain Cina, atau bahkan negara asal Hector sendiri, atau tempat-tempat yang didatanginya.

    Penulis hanya mendeskripsikan ciri-ciri khas negara atau tempat tersebut. Saya sendiri sering kali menebak-nebak negara atau tempat apa yang dimaksudkan.

    Kalau di atas tadi saya sebutkan Afrika dan Amerika Serikat, itu karena saya dapati penyebutan negara tersebut di sampul belakang novel ini. Kalau tidak disebutkan, mungkin saya kesulitan menebak negara-negara yang dikunjungi Hector atau negara asalnya sendiri. Unik!

    Selain inspiratif, novel ini juga sarat dengan ilmu psikologi. Ini tentu saja sangat berpengaruh dari latar pendidikan penulisnya, François Lelord, yang memang mendalami ilmu pengobatan dan psikologi.

    Di dalam novel ini juga ada diselipkan satu dua sindiran, opini, dan wacana yang cukup kontroversial di masyarakat dunia yang bagi kita menjadi semacam selingan ringan tapi berbobot. Semoga buku serial Hector yang lainnya segera diterjemahkan juga.

    Seberapa Bahagia Kita?

    Lantas muncul pertanyaan, “Seperti apa bahagia bagi saya?” Hmm … pertanyaannya dalam, sedalam makna yang ingin disampaikan *ceileh*.

    Sebenarnya apa yang didapatkan Hector tentang sebab-sebab bahagia itu sudah pas. Tambahannya bagi saya, bahagia yang ingin saya capai itu tentunya yang sejalan dengan apa yang dimaui oleh Pencipta saya. Bahagia di dunia dan bahagia di akhirat.

    Bahagia di dunia ini bagi saya adalah bisa menjalani hari-hari dengan hati yang tenang dan lapang serta bersama-sama orang yang kita sayangi berlari menjemput ridho Allah Ta’ala. Tujuannya tentu saja supaya kita bisa beroleh bahagia juga di akhirat. Amin.

  • Steal Like an Artist oleh Austin Kleon

    Steal Like an ArtistJudul: Steal Like an Artist
    Judul Asli: Steal Like an Artist
    Penulis: Austin Kleon
    Alih Bahasa: Rini Nurul Badariah
    Penerbit: Noura Books
    ISBN: 978-602-1606-81-0
    Tebal: 150 hlm
    Tahun terbit: Juli 2014
    Cetakan: Kedua
    Genre: Nonfiksi, Inspirasional, Pengembangan Diri
    Rating: 4/5

    Bingung juga saya bagaimana sebaiknya mengulas buku ini. Hampir sebagian besar halamannya berisi hal-hal yang keren dan inspiratif. Ibaratnya kita sedang menyimak obrolan teman yang duduk di sebelah atau di depan kita. Ia berbicara tentang poin-poin penting, seru dan menarik secara ringkas dan lugas sambil sesekali membuat kita tersindir dan tersenyum. Sama seperti tulisan Austin Kleon di buku Steal Like an Artist ini. Persis. Tak perlu narasi yang bertele-tele dan diatur sedemikian rupa, atau paragraf panjang yang berulang, Kleon menulisnya seperti sedang berbicara pada pembaca dengan lembaran-lembaran penuh skema dan ilustrasi tangannya. (more…)

  • Leafie: Ayam Buruk Rupa dan Itik Kesayangannya oleh Hwang Sun-mi

    LeafieJudul: Leafie: Ayam Buruk Rupa dan Itik Kesayangannya
    Judul Asli: Madangeul Naon Amtak
    Penulis: Hwang Sun-mi
    Alih Bahasa: Dwita Rizki Nientyas
    Penerbit: Qanita
    ISBN: 978-603-9225-75-4
    Tebal: 224 hlm
    Tahun terbit: Februari 2013
    Cetakan: Pertama
    Genre: Fabel, Fiksi Inspirasional
    Rating: 4/5

    “Kenapa aku ada di dalam kandang, sementara ayam Betina itu ada di halaman?”

    Leafie adalah seekor ayam betina yang memiliki keinginan untuk bertelur, mengeraminya, dan memiliki anak ayamnya sendiri. Sayangnya ia adalah ayam petelur yang terkurung di kandang. Setiap pagi, telurnya selalu diambil majikannya untuk dimakan. Bagaimana mungkin Leafie menetaskan anak ayam? Ia begitu ingin hidup seperti keluarga ayam betina di rumah halaman, yang bermain-main bersama anak-anaknya dengan bebas. Tapi, memang sudah menjadi takdir Leafie untuk menjadi ayam petelur. Beban pikiran tersebut membuatnya tak makan berhari-hari dan menyebabkan telurnya tidak keluar. Saking lemahnya kondisi Leafie, majikannya mengira Leafie sekarat. Leafie pun akhirnya dibuang ke lubang pembuangan. (more…)

  • Moshidora: Seandainya Manajer Putri Tim Bisbol SMA Membaca Buku Manajemen Karya Drucker oleh Natsumi Iwasaki

    MoshidoraJudul: Moshidora: Seandainya Manajer Putri Tim Bisbol SMA Membaca Buku Manajemen Karya Drucker
    Judul Asli: Moshi Koko Yakyu No Joshi Manager Ga Drucker No “Management” Wo Yondara
    Penulis: Natsumi Iwasaki
    Alih Bahasa: Ellnovianty Nine dan Kanti
    Penerbit: Penerbit Qanita
    ISBN: 978-602-1637-30-2
    Tebal: 262 hlm
    Tahun terbit: Maret 2014
    Cetakan: Pertama
    Genre: Young Adult, Fiksi Manajemen
    Rating: 3/5

    Bagaimana jadinya bila seorang siswi SMA membaca buku Manajemen karya Peter Drucker yang cukup kompleks itu? Tapi, itulah yang dilakukan oleh Minami. Minami Kawashima adalah seorang siswi kelas 2 SMA Hodokubo, Tokyo. Demi membantu temannya, Yuuki, yang sedang dirawat di RS, Minami yang benci bisbol rela menggantikan Yuuki sebagai manajer putri tim bisbol sekolahnya. Hanya saja, saat ia masuk, tim bisbol sekolah sedang mengalami kondisi yang tidak bagus. Para anggotanya sering bolos latihan. Hubungan antar anggota juga dingin, termasuk dengan pelatihnya. Selama 20 tahun lebih, SMA Hodo tidak pernah sekali pun berhasil masuk ke Koshien, yaitu salah satu pertandingan bisbol SMA tingkat nasional paling bergengsi di Tokyo. Hal ini memberi dampak yang cukup besar bagi kemunduran tim bisbol SMA Hodo. (more…)

  • The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared oleh Jonas Jonasson

    The 100 Year-Old-Man Who Climbed Out of  the Window and DisappearedJudul: The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared
    Judul Asli: The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared
    Penulis: Jonas Jonasson
    Alih Bahasa: Marcalais Fransisca
    Penerbit: Penerbit Bentang
    ISBN: 978-602-291-018-3
    Tebal: 508 hlm
    Tahun terbit: Juli 2014
    Cetakan: Kedua
    Genre: Fiksi Komedi, Satire
    Rating: 5/5

    Que Sera, Sera. Apa pun yang terjadi, terjadilah.”

    Benar-benar gila, lucu dan absurd! Itulah kesan saya selesai membaca novel ini. Hampir seluruh halaman dari novel ini membuat saya terkekeh geli. Pertama kali mengetahui informasi tentang buku ini adalah dari ulasan mbak Annisa Anggiana di blognya. Pada saat mbak Annisa mengulas novel ini tahun 2013, di Indonesia sendiri belum terbit edisi terjemahannya. Jadi yang diulas beliau adalah buku edisi Bahasa Inggris. Nah, saya sendiri membaca ulasan tersebut setahun kemudian, di tahun 2014. Saat itu pun buku ini belum diterjemahkan juga. Saya ingat, saat itu saya salah persepsi tentang novel ini. Saya lupa tepatnya mengapa saya salah persepsi. Entah karena membaca sesuatu di blog orang lain, atau mungkin karena salah mengartikan sinopsis dan ulasan berbahasa Inggris yang ada di internet (yah, maklum, kemampuan Bahasa Inggris saya pas-pasan, haha), sehingga anggapan saya tentang ‘menghilangnya’ tokoh yang diceritakan di dalam novel tersebut ada kaitannya dengan unsur magis, yang membuat saya menjadi kurang berminat. Ditambah lagi embel-embel bahwa si tokoh tersebut merubah sejarah dunia terkait bom atom dan lain sebagainya, semakin membuat saya berekspektasi bahwa cerita ini pastilah ada kaitannya dengan mesin waktu atau hal-hal fantasi seperti itu. (more…)

  • Tiya oleh Samarpan

    Tiya SamarpanJudul: Tiya – Sebuah Kisah Pencarian Makna Hidup
    Judul Asli: Tiya – A Parrot’s Journey Home
    Penulis: Samarpan
    Alih Bahasa: Meidyna Arrisandi
    Penerbit: Mizan
    ISBN: 978-602-8811-14-9
    Tebal: 194 hlm
    Tahun terbit: November 2010
    Cetakan: Pertama
    Genre: Fabel
    Rating: 3/5

    Membaca fabel memang tak ada bosannya. Selalu saja ada hal-hal menarik yang bisa kita dapat dari kisah hewan-hewan tersebut. Sebuah analogi, anekdot, makna bahkan pesan moral akan banyak kita jumpai di setiap fabel yang pernah ditulis, termasuk kisah si burung beo yang bernama Tiya ini.

    Tiya lahir dan besar di sebuah pohon beringin. Ia tak pernah meninggalkan rumahnya selain untuk mencari makan. Burung yang suka merenung ini sangat berbeda dengan teman-temannya. Kalau teman-temannya sudah pergi pagi-pagi sekali untuk mencari makan, si Tiya ini justru masih di sarangnya, merenung. Sampai-sampai temannya menganggap dirinya pemalas. Tiya memiliki cara pandang berbeda tentang hidup. (more…)

  • Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken oleh Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup

    review buku perpustakaan ajaib bibbi bokkenJudul: Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
    Judul Asli: Bibbi Bokkens magische Bibliothek
    Penulis: Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup
    Alih Bahasa: Ridwana Saleh
    Penerbit: Mizan
    ISBN: 979-433-415-4
    Tebal: 296 hlm
    Tahun terbit: Mei 2006
    Cetakan: Ketiga
    Genre: Fiksi Anak, Buku tentang Buku, Fiksi Misteri
    Rating: 4/5

    Tak bisa dipungkiri bahwa perkembangan dunia literasi saat ini sangat pesat dan menyebar luas ke seluruh dunia, ke seluruh kalangan. Orang dengan mudahnya memperoleh bahan bacaan meskipun tak selalu banyak. Siapa saja bisa menulis tanpa kekangan dan bahkan menerbitkan bukunya sendiri. Berbeda dengan zaman dahulu kala, ketika literasi masih menjadi sesuatu yang langka dan eksklusif bagi para cendekiawan dan penuntut ilmu, bahkan terlarang! Perkembangan ini tentu sangat membanggakan. Meskipun gaya penulisan tiap zaman berbeda-beda dalam segala hal, namun setiap generasi punya keunikannya sendiri-sendiri. Itulah yang ingin ditunjukkan oleh dua penulis asal Norwegia ini. (more…)

  • 1984 oleh George Orwell

    1984Judul: 1984
    Judul Asli: Nineteen Eighty-Four
    Penulis: George Orwell
    Alih Bahasa: Landung Simatupang
    Penerbit: Bentang
    ISBN: 979-3062-33-9
    Tebal: 585 hlm
    Tahun terbit: Desember 2003
    Cetakan: Kedua
    Genre: Distopia, Satire
    Rating: 3/5

    Pernahkah Anda membayangkan setiap gerak-gerik dan ucapan Anda, bahkan bagaimana cara Anda berpikir, diawasi oleh pihak ketiga? Yang jika ada sedikit saja kesalahan atau sesuatu yang mencurigakan, Anda akan langsung ditangkap dan diuapkan (dilenyapkan, red). Tidak ada kebebasan. Anda tidak bisa melakukan apa yang Anda suka. Anda hanya boleh melakukan apa yang pihak ketiga itu perbolehkan. Lagaknya melebihi Tuhan! (more…)

  • Inferno oleh Dan Brown

    inferno dan brownJudul: Inferno
    Penulis: Dan Brown
    Alih Bahasa: Ingrid Dwijani Nimpoeno dan Berliani Mantili Nugrahani
    Penerbit: Bentang
    ISBN: 978-602-7888-54-8
    Tebal: 644 hlm
    Tahun terbit: September 2013
    Cetakan: pertama
    Genre: Thriller
    Rating: 4/5

    “Umat manusia, jika tak terkendali, berfungsi seperti wabah, seperti kanker … jumlah kita meningkat pada setiap generasi hingga kenyamanan duniawi yang pernah menyehatkan hidup dan persaudaraan kita menyusut sampai habis … mengungkapkan monster-monster di dalam diri kita … yang bertempur hingga mati untuk memberi makan keturunan kita” (halaman 205)

    Kata-kata itulah yang keluar dari mulut seorang ilmuwan fanatik. Ia terobsesi untuk melakukan tindakan ekstrem berdasarkan puisi Inferno karya Dante Alighieri. Sebelum bunuh diri, ia meninggalkan ciptaan genetisnya di suatu tempat untuk mengancam kelangsungan hidup umat manusia. Robert Langdon, yang memegang stempel kuno berisi kode rahasia lokasi benda berbahaya itu, harus berpacu dengan waktu untuk memecahkan teka-teki misterius Dante yang sudah dimodifikasi sang ilmuwan. Sayangnya, Profesor Langdon kehilangan ingatan jangka pendeknya. Ia terbangun di sebuah rumah sakit, di tengah malam buta dan, betapa terkejutnya Robert saat mengetahui bahwa ia kini berada di Florence. Ia bahkan tidak ingat bagaimana dan mengapa ia sampai di sana. Lalu tiba-tiba kekacauan terjadi. Seseorang datang untuk membunuhnya. Dokter yang merawatnya tertembak mati, tepat di depan matanya. (more…)