Tag: Gema Insani Press

  • Boardbook Seri Sirah Nabi Muhammad SAW untuk Anak – GIP oleh Tartila Tartusi

    Judul: Seri Sirah Nabi Muhammad SAW
    Penulis: Tartila Tartusi
    Ilustrator: Setia Adhi
    Penerbit: Gema Insani Press
    ISBN: 978-602-250-130-5
    Tebal: 25 halaman
    Tahun Terbit: Juni 2014
    Cetakan: Pertama
    Genre: Agama Islam, Sirah, Buku Anak Muslim
    Rating: 4/5

    Saya tertarik membeli buku ini awalnya karena diskon besar yang dijanjikan pada jajaran buku obral di sebuah pameran buku, selain, tentu saja, karena bentuk fisik bukunya yang sangat bagus. Boardbook? Kapan lagi bisa didapat dengan harga murah?

    Dan, pada mulanya, saya juga mengira kalau buku ini berisi sejarah hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk anak-anak, yang mengisahkan kehidupan beliau sejak lahir hingga wafat. Nyatanya, perkiraan saya itu sangat jauh meleset.

    Seri Sirah Nabi Muhammad SAW untuk anak-anak terbitan Gema Insani Press ini ternyata hanya mengisahkan kehidupan masa kecil Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam saja sampai beliau diasuh oleh Halimah, sang ibu susuan, tidak sampai beliau dewasa, apalagi wafat.

    Lantas, apakah saya kemudian menyesalinya? Alhamdulillah, saya tidak menyesal membeli buku ini. Menurut saya, ada banyak keunikan yang dimiliki oleh buku ini.

    Buku ini ditulis dalam 10 jilid, yang tiap-tiap jilidnya memiliki fokus kisah sendiri-sendiri. Saya acungi jempol untuk penulisnya, Tartila Tartusi, yang berhasil menulis ulang kisah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan gayanya sendiri yang unik.

    Kisah yang panjang itu bisa disajikan dalam bentuk tulisan singkat dan padat mengandung rima, seperti syair, yang tidak mudah sebetulnya untuk disusun tanpa kehilangan alur dan inti penting dari kisah. Tulisan yang singkat namun padat makna tentunya akan memudahkan pembaca pemula dalam memahami jalan cerita, sehingga mereka tidak perlu kesulitan menalarkan kisah.

    Boardbook Seri Sirah Nabi Muhammad SAW untuk Anak Terbitan Gema Insani Press

    Saya tak menemukan banyak informasi tentang penulisnya, tapi salah satu karyanya yang lain adalah Ensiklopedi Anak Muslim yang juga diterbitkan oleh penerbit yang sama.

    Dibandingkan dengan karyanya tersebut, gaya bercerita di buku Seri Sirah Nabi Muhammad SAW untuk anak-anak ini memang sangat berbeda. Barangkali ini dikarenakan sasaran usia pembaca atau metode yang ingin digunakan sangat jauh berbeda.

    Di dalam pengantarnya, penulis menjelaskan bahwa tujuan dituliskannya kisah dengan gaya berrima adalah agar anak-anak maupun orangtua dapat membacanya dengan bernyanyi ala barzanji.

    Saya tidak tahu, apakah maksud penulis agar ceritanya dibaca dengan cara bernyanyi menggunakan gaya lantunan barzanji ataukah itu hanyalah analogi saja untuk memudahkan pembaca mengambil contoh. Sebab, jika yang dimaksud adalah yang pertama yakni harus menggunakan gaya barzanji, tentu ini bisa saja menimbulkan sedikit masalah.

    Seperti yang kita tahu, barzanji umumnya kita temukan di lembaga pendidikan seperti pesantren atau madrasah, yang biasa dilakukan terutama saat menyambut maulid nabi maupun di hari-hari tertentu.

    Tak banyak masyarakat umum yang tahu bagaimana melakukan barzanji, terutama yang tidak berlatar pesantren, sehingga memaksakan buku ini dibaca ala barzanji tentu kurang relevan. Lagi pula, ritual barzanji masih berpotensi menuai pro kontra, sebab sebagian jumhur ulama melarangnya, namun sebagian lainnya membolehkan.

    Meskipun membaca buku ini ala barzanji tidak ada hubungannya dengan ritual barzanji, tapi bagaimana mungkin memaksakan sesuatu dengan sesuatu yang masih menuai silang pendapat? Agak riskan saya pikir.

    Saya pribadi cenderung lebih suka mengambil anggapan kedua, yakni maksud penulis menggunakan istilah barzanji hanyalah sebagai analogi atau contoh, sehingga pembaca paham maksud dan tujuan penulis mengapa kisahnya ditulis dengan gaya berrima.

    Bisa saja buku ini dibaca dengan irama yang berbeda atau gaya bertutur tanpa irama sesuai keinginan pembaca. Saya lebih senang berlepas diri dari perdebatan pendapat tentang hukum fikih. Jadi, memilih anggapan kedua menurut saya lebih memungkinkan rasa aman dan nyaman bagi pembaca, selain juga lebih fleksibel karena pembaca bisa bebas berkreasi.

    Mengutip penuturan penulis di dalam pengantarnya,

    “Syair umumnya disukai anak-anak karena bahasanya berirama, ekspresif, dan menuntun imajinasi serta fantasi mereka.” (Pengantar Jilid 1)

    Anak-anak memang lebih suka belajar sambil bermain. Mendengarkan seseorang membacakan dongeng dengan gaya ekspresif tentu tidaklah jauh berbeda keasyikannya dengan membaca sambil berirama. Inilah yang saya tangkap maksud dari penulis hendak menawarkan cara membaca yang anti mainstream bagi anak-anak.

    Buku ini juga dibuat dalam bentuk ilustrasi penuh warna yang sangat cantik. Saya katakan cantik karena penggunaan warna-warninya yang indah, tajam dan kompleks. Meskipun karakter manusianya bukan faceless, namun bentuk ilustrasinya yang menarik membuat mata pembaca lebih segar dan tidak membosankan.

    Kertasnya keras dan glossy juga memudahkan pembaca pemula, sehingga tidak terlalu membuat orangtua khawatir buku menjadi cepat sobek atau kotor. Selain itu, penulis menceritakan ulang kisah di dalamnya berdasarkan sumber-sumber yang shahih.

    Pembaca bisa melihat referensi yang digunakan di lembar daftar pustaka dan mendapati kitab-kitab rujukan maupun sirah dari ulama-ulama terpercaya.

    Namun sangat disayangkan, saya merasa seri ini masih kurang lengkap karena jilid 10 selesai hanya sampai di masa kecil nabi bersama ibu susuannya hingga dikembalikan ke Mekah. Selanjutnya bagaimana kisah beliau sekembalinya ke Mekah hingga baligh tidak diceritakan di sini.

    Seharusnya buku ini bisa dilanjutkan sampai masa kanak-kanak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam selesai. Tapi, terlepas dari kekurangannya tersebut, menurut saya buku ini masih buku terbaik yang pernah saya temukan.

    Buku anak yang berkisah tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sangatlah banyak di pasaran, namun yang fokusnya hanya pada masa kecil beliau, saya kira masihlah sangat terbatas. Bahkan mungkin hampir tidak ada.

    Dan Seri Sirah Nabi Muhammad SAW terbitan GIP ini adalah satu-satunya yang baru saya temukan sejauh ini yang membahas masa kecil beliau. Mudah-mudahan penulisnya memiliki rezeki kesehatan dan kelapangan waktu sehingga suatu saat akan ada kelanjutan dari 10 serinya.

    NB: Bagi yang berminat dengan buku ini bisa juga menghubungi saya di nomor WA 083130117884

  • 65 Sekretaris Nabi oleh Muhammad Musthafa A’zhami

    Judul: 65 Sekretaris Nabi
    Judul Asli: Kuttabun Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Penulis: Prof. Dr. Muhammad Musthafa A’zhami
    Penerjemah: Mahfuzh Hidayat Lukman
    Penerbit: Gema Insani
    ISBN: 978-979-077-080-5
    Tebal: 240 halaman
    Tahun Terbit: November 2008
    Genre: Agama Islam, Sejarah Islam, Biografi
    Rating: 4/5

    Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dikenal sebagai nabi yang ummi bukanlah tanpa alasan. Memang, pada masa pra-Islam, mayoritas orang Arab saat itu tidak bisa membaca dan menulis sehingga Allah ta’ala menyebutnya sebagai masyarakat yang ummi (ummiyyun) di dalam Al-Qur’an.

    Namun, pelabelan ummi ini bukan berarti masyarakat Arab secara generalis sama sekali tidak mengenal budaya baca tulis alias buta huruf. Di tengah-tengah masyarakat Arab pra-Islam, ada sebagian kalangan yang sudah mengenal huruf dan membudayakan kegiatan membaca dan menulis.

    Mereka sudah terbiasa mendokumentasikan berbagai akad perjanjian, jual-beli, utang-piutang, maupun mengabadikan peristiwa yang terjadi kala itu melalui tulisan.

    Ketika Islam datang, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ummi tentu saja membutuhkan sahabat-sahabat yang mampu baca tulis untuk membantu beliau dalam dakwahnya, terlebih ketika pengaruh Islam semakin luas. Maka ketika masyarakat Arab tadi masuk Islam, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeleksi mereka-mereka yang mampu baca tulis untuk ditunjuk sebagai juru tulis atau sekretaris negara.

    Buku 65 Sekretaris Nabi yang berjudul asli Kuttabun Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini ditulis oleh Prof. Dr. Muhammad Musthafa A’zhami, seorang ahli hadits kontemporer yang dikenal luas lewat kajian kritisnya terhadap teori-teori dari para orientalis Islam.

    Penulis, yang salah satu karya monumentalnya sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul Hadits Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, menulis buku ini dengan merujuk pada manuskrip kitab karya al-Baqilani yang berjudul al-Intishar lil Qur’an sebagai sumber utama.

    Kitab al-Baqilani tersebut mengulas nama-nama sekretaris nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebagian besar sudah diulas oleh penulis lainnya dengan tambahan beberapa nama baru yang belum pernah diulas oleh penulis sebelumnya.

    Berdasarkan frekuensi menulis surat, sekretaris nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diklasifikasikan dalam tiga kelompok; sekretaris yang banyak menulis surat, yang sedikit menulis surat, dan yang namanya tercantum pada kitab-kitab lainnya tetapi tidak disebutkan secara eksplisit sebagai sekretaris.

    Nah, metode yang ditempuh penulis dalam menulis buku ini adalah dengan mengumpulkan semua nama yang disebut-sebut sebagai sekretaris nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa mempertimbangkan frekuensi penulisannya.

    Penulis juga menambahkan di dalam buku ini beberapa nama yang masih belum diyakini kevalidannya tetapi dicantumkan oleh para penulis kitab-kitab lainnya yang berkonsentrasi pada pembahasan seputar sekretaris nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu saja dengan tujuan untuk mengulas keabsahannya, sehingga pembaca dapat membedakan mana yang valid dan mana yang masih belum diyakini kebenarannya.

    Ada 65 orang sekretaris Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang biografinya diulas secara singkat oleh Prof. Dr. Muhammad Musthafa A’zhami. Buku ini dibagi menjadi tiga bagian pembahasan utama, di mana di bagian pertama, penulis mengulas tentang geliat administrasi dan kearsipan di masa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Pada masa itu, bangsa Arab Islam sudah mengenal konsep kesekretariatan yang disebut dengan istilah Diwan. Para sekretaris nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memiliki pembagian tugas masing-masing yang berbeda. Ada yang khusus mencatat Al-Qur’an, ada yang mencatat urusan kenegaraan seperti perjanjian, utang-piutang, dan akad lainnya, serta ada pula bagian penerjemah yang berurusan dengan bahasa asing.

    Bagian kedua buku ini membahas tentang sistematika penulisan surat seperti bentuk konsep surat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, penanggalan surat, dan beberapa hal terkait kerangka surat yang dibuat. Sedangkan di bagian ketiga, penulis mengulas biografi singkat 65 para sekretaris nabi yang disusun sesuai urutan huruf hijaiyah.

    Dapat dikatakan bahwa biografi yang diulas di buku ini teramat ringkas dan hanya berkaitan dengan geliat tokoh dalam hal surat-menyurat, itu pun tak banyak. Bahkan, beberapa tokoh hanya diulas sedikit saja dikarenakan tidak banyaknya sumber yang membahas kehidupan mereka.

    Meskipun 65 biografi di dalamnya diulas cukup singkat, tapi buku ini sebetulnya membuka perspektif baru bagi pembaca dalam mengenal tokoh yang dikenal maupun jarang dikenal orang banyak sebagai sekretaris nabi, yakni orang-orang berilmu dengan potensinya masing-masing.

    Sebut saja Ubay bin Ka’ab radhiyallahu’anhu yang menjadi sekretaris pertama dari kalangan Anshar, atau sekretaris paling terkenal bernama Hanzhalah ibnur Rabi’ radhiyallahu’anhu yang menyimpan stempel nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Ada juga Az-Zubair ibnul Awwam radhiyallahu’anhu yang mendata harta-harta sedekah atau Zaid bin Tsabit radhiyallahu’anhu yang memegang jabatan hakim (qadhi) sekaligus bertugas menuliskan wahyu Al-Qur’an dan surat-surat yang diperuntukkan kepada para raja. Masih banyak nama lainnya dengan keistimewaan tersendiri.

    Selain tiga pembahasan utama di atas, buku ini juga melampirkan sedikit foto-foto manuskrip surat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada beberapa orang yang masih ada jejak peninggalannya, serta gambar contoh inskripsi (tulisan) di masa Arab pra Islam, yang bisa menjadi khazanah tambahan bagi pembaca.

    Manuskrip Surat Nabi
    Contoh Halaman Lampiran Gambar

    Tidak banyak buku yang mengupas nama-nama sekretaris nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara khusus, apalagi buku terjemahan. Rasanya Saya belum pernah mendapati buku lainnya yang mengupas para sekretaris nabi selain karya Prof. Dr. Muhammad Musthafa A’zhami ini.

    Penulisan buku ini didasarkan pula pada manuskrip-manuskrip yang sudah berhasil ditemukan, termasuk yang belakangan, yang pada kitab-kitab sebelumnya tidak termaktub. Dan tidak menutup kemungkinan apabila nantinya ditemukan manuskrip lainnya yang mengemukakan nama-nama lain dari jajaran sekretaris nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Semoga buku ini bisa menambah pengetahuan pembaca tentang sejarah Islam, terutama terkait geliat kearsipan dan administrasi pada masa Arab setelah kedatangan Islam.

    Sebagai tambahan, Anda juga bisa membaca buku-buku berikut ini terkait surat, duta dan sekretaris nabi.

  • Meremehkan Janji oleh Muhammad Musa asy-Syarif

    meremehkanjanjiJudul: Meremehkan Janji
    Penulis: Muhammad Musa asy-Syarif
    Judul Asli: Zhaahirat at-Tahaawun bil-Mawaa’iid: al-Asbaab, al-musykilaat, al-‘ilaaj
    Penerjemah: Abdul Hayyie Al Kattani dan Taqiyuddin Muhammad
    Penerbit: Gema Insani Press
    ISBN : 979-561-865-2
    Tebal: 92 hlm
    Dimensi: 18 cm
    Tahun terbit: 2004
    Cetakan: Kedua, Mei 2006
    Genre: Agama Islam – Adab dan Akhlak
    Rating: 4/5

    Zaman sekarang, makna janji telah dipersempit secara tak langsung menjadi sesuatu yang dianggap sepele, bahkan cenderung hanya sebagai basa-basi penghias bibir bagi sebagian orang. Mereka sering menyia-nyiakan janji, dan parahnya lagi, mereka merasa tidak melakukan sebuah kesalahan atau merasa malu saat janji tersebut dilanggar atau tidak ditunaikan, bahkan seringnya menjadi kebiasaan buruk. Padahal, baik buruknya hubungan antar individu juga dipengaruhi oleh terpenuhi atau tidaknya sebuah janji. Hal ini sangat bertolak belakang dengan kondisi saat orang-orang sholeh dahulu begitu menghargai arti sebuah janji. Bagaimana sebenarnya perkara janji ini hingga disebut-sebut sebagai pengikat persatuan? (more…)

  • Surat-Surat Nabi Muhammad oleh Kholid Sayyid Ali

    buku surat-surat nabi muhammadJudul: Surat-Surat Nabi Muhammad
    Penulis: Kholid Sayyid Ali
    Judul asli: Rosaailun Nabi Saw. Ilal Muluuki Wal Umaro’ Wal Qoobaail
    Penerjemah: H.A. Aziz Salim Basyarahil
    Penerbit: Gema Insani Press
    ISBN: 979-561-134-8
    Tebal: 105 hal
    Dimensi: 12 x 18,5 cm
    Tahun terbit: Februari 1990
    Cetakan: ke I
    Genre: Agama Islam, Tarikh
    Rating: 3/5

    Sebagian besar masyarakat cenderung memahami bahwa Islam disebarluaskan dengan pedang dan perang, padahal informasi ini tidak sepenuhnya benar. Dalam menyebarluaskan diin Allaah yakni Islam, selain lewat dakwah personal, Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga melakukan hubungan diplomatik dengan pemimpin-pemimpin negeri, salah satunya lewat surat-menyurat. (more…)