Category: Buku tentang Buku

  • Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial oleh Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah

    Judul: Suara dari Marjin
    Penulis: Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah
    Penerbit: PT Remaja Rosdakarya
    Cetakan: I – Mei 2017
    ISBN: 978-602-446-048-8
    Tebal: 234 halaman
    Genre: Nonfiksi, Buku tentang Buku, Literasi
    Rating: 4/5

    Ketertarikan saya dengan buku bertema buku dan literasi menjadi motivasi utama saya ketika ditawari untuk mengulik buku bersampul kuning dengan ilustrasi pengeras suara yang unik ini. Awal membacanya, kening saya cukup berkerut karena banyaknya istilah ilmiah yang kurang familiar di telinga saya. Namun, semakin saya membacanya, semakin saya menikmati coretan dan gagasan di dalamnya.

    Sesuai judulnya, Suara dari Marjin berisi gagasan tentang literasi sebagai praktik sosial yang memuat pemaknaan baru dari kaum marjinal yang, mungkin selama ini, terlewatkan oleh kita.

    Buku ini ditulis oleh dua orang penulis bernama Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah sebagai bentuk yang lebih ringan dari adaptasi tesis atas penelitian mereka di bidang literasi. Sofie melakukan penelitian pada komunitas anak jalanan, sementara Pratiwi mengeksplorasi praktik literasi pada Buruh Migran Indonesia (BMI) Hong Kong.

    “Literasi sebagai praktik sosial mengakomodasi nilai moral, pengalaman budaya, dan kepentingan ideologis yang memengaruhi interaksi seseorang dengan teks.”

    Selama ini, umumnya orang menganggap bahwa kegiatan literasi seperti membaca dan menulis hanyalah terbatas untuk kalangan terdidik atau mereka yang mencicipi bangku pendidikan formal. Di dalam buku ini, Sofie dan Tiwik—begitu Pratiwi biasa dipanggil—justru ingin meruntuhkan mitos literasi tersebut dengan membuka mata masyarakat bahwa literasi juga bisa berkembang bagi kaum marjinal, meski dalam praktiknya memiliki konsep yang berbeda.

    Literasi pada lingkungan marjinal lebih menitik beratkan pada kultur budaya, konsep tradisional, dan tidak selalu bahwa literasi itu untuk modernitas. Dalam kajian literasi sebagai praktik sosial yang mereka lakukan, mereka menemukan satu benang merah dari kedua komunitas, yakni bahwa literasi juga dapat mengubah identitas seseorang.

    “Tulisan bukan sekadar representasi diri, namun ternyata juga mampu mengubah identitas seseorang.” (halaman 87)

    Literasi sebagai Corong

    Dari komunitas BMI Hong Kong, ada kisah Rere yang aktif menyebarkan gagasannya lewat blog bertajuk Babu Ngeblog, bahwa seorang pekerja rumah tangga juga bisa menulis dan memanfaatkan teknologi. Selain Rere, ada juga BMI yang menekuni Pustaka Koper karena menyebarkan virus membaca lewat buku-buku yang dijajakannya menggunakan koper bagi sesama BMI.

    Di kalangan anak jalanan, ada Idang yang ingin menjadi pelukis atau Elis yang ingin menjadi dokter lewat tulisan mereka tentang cita-cita, seolah sangat kontras dengan realita yang ada di depan mereka, menyuarakan apakah mungkin seorang anak jalanan yang tidak mengenyam pendidikan formal, pun memiliki uang yang cukup, bisa menjadi dokter?

    Bagi anak jalanan, konsep pendidikan formal seringkali kurang cocok dengan karakter dan lingkungan mereka. Barangkali suatu saat kelak, ada sekolah dan kurikulum khusus bagi anak jalanan yang dikeluarkan oleh pemerintah, sehingga mereka juga bisa mengikuti pendidikan formal seperti anak-anak lainnya.

    Bagi para BMI dan anak jalanan ini, literasi menjadi sebuah media perlawanan untuk menaikkan derajat sosial seseorang. Mereka ingin dunia mengetahui bahwa kaum marjinal juga bisa produktif, punya mimpi-mimpi yang tinggi dan tidak selayaknya selalu direndahkan. Di tangan mereka, literasi berfungsi memberikan kewenangan untuk menjadi aktor utama bagi kehidupannya, sehingga mereka berani bersuara untuk dirinya sendiri dan komunitasnya.

    Resensi Buku Suara dari Marjin Karya Sofie Dewayani
    Dok. Pribadi

    Kajian Literasi Baru

    Sebetulnya, gagasan yang diangkat di dalam buku Suara dari Marjin ini bukanlah sesuatu yang baru. Literasi sebagai praktik sosial, setahu saya, sudah sejak lama dilakukan oleh masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari. Contohnya saja geliat literasi yang dilakukan oleh taman baca masyarakat atau komunitas literasi yang kerap merancang kegiatan-kegiatan membaca dan menulis bagi anggotanya. Mereka masuk ke kampung-kampung atau daerah pemukiman yang kurang akses terhadap buku bacaan, termasuk ke wilayah-wilayah yang hanya bisa diakses oleh perahu atau kapal.

    Juga tentang konsep literasi yang mampu mengubah identitas seseorang atau yang kemudian menjadi corong dalam menyuarakan pendapat dan pemikiran telah lama ada dalam praktiknya. Di zaman penjajahan Indonesia dahulu, praktik literasi sudah lama menjadi media perlawanan menghadapi penjajah, hingga kemudian terbitlah masa Sumpah Pemuda yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai periode baru kejayaan pemuda Indonesia yang berawal dari kegiatan literasi.

    Setelah Indonesia merdeka, literasi dalam praktik sosial juga kerap dilakukan oleh partai-partai yang ada pada masa itu. Dengan menulis dan menerbitkan berbagai buku, selebaran, juga koran-koran berita, kelompok-kelompok ini kemudian mampu menggiring opini publik untuk melakukan perubahan sosial.

    Dalam Islam sendiri, praktik literasi juga bukanlah sesuatu yang baru. Literasi juga menjadi senjata yang sangat ampuh dalam mengusung nilai-nilai Islam di kehidupan sosial.

    Selain itu, kegiatan literasi dari kalangan ibu rumah tangga juga sudah banyak dilakukan. Istilah emak-emak menulis, yang notabene berprofesi sebagai ibu rumah tangga penuh, yang bagi sebagian kalangan posisi ini termasuk dipandang sebelah mata karena dianggap profesi yang kurang bergengsi, hanya tahu seputar urusan dapur dan kasur, sudah begitu familiar di Indonesia.

    Mereka yang hanya berkutat pada pengurusan rumah tangga sudah memiliki banyak artefak literasi, yang kemudian menjadi ibu rumah tangga kreatif yang cukup popular dan memiliki personal branding yang tidak bisa dianggap biasa, membenturkan opini bahwa ibu rumah tangga tidak tahu apa-apa dibandingkan mereka yang berkarir di dunia kerja. Semuanya berangkat dari literasi. Bukankah ini termasuk praktik sosial?

    Meski gagasan literasi sebagai praktik sosial bukanlah sesuatu yang baru, tetapi penelitian yang dilakukan kedua penulis ternyata lebih khusus yakni menggunakan teori Kajian Literasi Baru (New Literacy Studies) dengan pendekatan etnografik, bahwa literasi menjadi bagian dari interaksi keseharian yang melibatkan perilaku dan nilai dari orang-orang yang terlibat. Ini yang barangkali menjadi sesuatu yang beda dari pembahasan tentang literasi pada umumnya ada di masyarakat.

    Dengan mengkhususkan subyek penelitian pada kaum marjinal, ini kemudian menjadi sebuah keunikan tersendiri karena tak banyak yang menyadari bahwa kaum marjinal ternyata mendapatkan manfaat yang sangat besar dari praktik literasi.

    Mungkin yang tampak muncul ke permukaan masih dari kalangan anak jalanan atau BMI ini saja. Siapa yang bisa menebak jika suatu saat nanti kaum buruh, petani, pedagang kecil, atau kalangan-kalangan yang selama ini merasa termarjinalkan bisa menyuarakan pemikirannya dan menggiring opini publik lewat literasi.

    ***

    Rasanya saya tertinggal jauh dari para BMI Hong Kong yang sudah menerbitkan banyak buku. Mereka sangat produktif menulis di sela-sela pekerjaannya yang padat. Belum lagi yang menulis secara sembunyi-sembunyi dari majikannya. Saya merasa lebih kerdil.

    Semoga siapapun yang mencintai dunia literasi bisa membaca buku ini untuk memberikan perspektif baru atas pemahaman literasi sebagai praktik sosial.

    “Tidak mungkin memahami praktik literasi secara utuh tanpa mempertimbangkan kompleksitas kehidupan pelakunya.” (hlm 59)

  • The Shallows : Internet Mendangkalkan Cara Berpikir Kita? – oleh Nicholas Carr

    The Shallows : Internet Mendangkalkan Cara Berpikir Kita? - oleh Nicholas Carr

    Judul Buku: The Shallows
    Penulis: Nicholas Carr
    Penerjemah: Rudi Atmoko
    Penerbit: Mizan
    Tahun Terbit: Juli 2011
    Tebal: 280 halaman
    ISBN: 9789794336403
    Genre: Nonfiksi, Internet, Psikologi
    Rating: 4/5

    Perkembangan dunia internet memang sangat memudahkan urusan kita. Dari komunikasi hingga kegiatan komputasi, semua memungkinkan kita untuk bekerja secara efektif. Namun, apakah internet benar-benar tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kebiasaan berpikir kita?

    Saya sempat merasakan perbedaan yang sangat kontras antara saya yang dulu sebelum intens dengan internet dibandingkan saya yang sulit melepaskan diri dari internet. Kalau sebelumnya, saya betah berjam-jam membaca buku dengan duduk manis mengkaji dan menelaah satu demi satu buku, menghubungkan buku satu dengan yang lainnya.

    Ketika saya keranjingan internet sekitar tahun 2007 hingga 2008, aktivitas membaca buku saya menurun drastis. Saat itu saya merasa tidak nyaman berlama-lama membaca buku, cepat bosan. Pikiran saya ingin membuka internet saja. Sebentar-sebentar saya membuka browser di komputer atau laptop untuk mengecek email dan notifikasi media sosial. Sebentar-sebentar buka blog untuk mengecek trafik dan komentar yang masuk.

    Ketika koneksi internet putus, saya akan merasa sangat gelisah karena seperti tidak ada yang bisa saya lakukan. Iya, itu dulu, saat awal-awal internet berhasil menguasai diri saya, bukan sebaliknya. Mungkin Anda juga pernah? Bersyukur saya, masa-masa itu sudah lama terlewati.

    The Shallows karya Nicholas Carr tidak jauh-jauh dari topik seperti pengalaman saya di atas. Buku ini mengupas seberapa besar pengaruh internet pada diri kita, pada otak kita, dan pada kebiasaan-kebiasaan berpikir kita.

    Menurut penulis, yang juga seorang finalis Pulitzer Award 2011, dari banyak penelitian pakar terhadap aktivitas otak dan juga berbagai eksperimen para praktisi internet dan teknologi, internet secara tak kita sadari memiliki potensi mengubah cara berpikir kita, terutama berpikir secara mendalam.

    “Ketika kita online, kita memasuki sebuah lingkungan yang mendorong pembacaan sepintas, pemikiran terburu-buru dan terganggu, dan pembelajaran yang superfisial. Mungkin saja berpikir secara mendalam sambil berselancar di internet, sama seperti kita bisa berpikir dangkal ketika membaca buku, namun itu bukanlah jenis pemikiran yang didorong dan diharapkan oleh teknologi.” (halaman 121)

    Orang yang dalam sehari menghabiskan waktu lebih banyak di depan internet, menurut penelitian yang disebutkan di dalam buku ini, memiliki perubahan cara berpikir secara mendalam yang cukup drastis. Yang tadinya kebiasaan membaca buku dalam waktu lama dan konsentrasi tinggi mampu menumbuhkan cara berpikir secara mendalam, kini perlahan dan berkelanjutan tergantikan dengan kebiasaan membaca artikel di internet secara sepintas-sepintas.

    Banyaknya link terkait yang diselipkan di setiap artikel, yang mengarahkan pembaca kepada berbagai informasi lainnya, juga membuat aktivitas otak terbiasa dengan cara berpikir secara cepat dan instan.

    Jalur neuronal otak kita sangatlah lentur sehingga akan tumbuh terus dan menyesuaikan dirinya dengan perubahan-perubahan dari kebiasaan kita. Perubahan ini kemudian disusul juga dengan banyaknya ragam buku atau majalah yang ditata sedemikian rupa seperti tampilan web.

    Penyesuaian demi penyesuaian dilakukan, termasuk dengan munculnya berbagai perangkat e-reader yang menyuguhkan banyak fitur pendukung bagi para penggila baca. Orang-orang pun selanjutnya menggantungkan ingatannya lewat internet.

    Dibanding membongkar buku-buku tebal, orang-orang akan lebih memilih mengunggah hasil pindai buku ke dalam akun cloud-nya. Dibanding berlelah-lelah mengingat dan menghapal banyak informasi, orang-orang akan memilih menuliskannya di blog atau e-mail. Suatu saat jika diperlukan, mereka hanya perlu membuka internet.

    Dibanding membaca buku-buku referensi tebal, orang-orang hanya perlu sentuhan jari untuk mengambil sebanyak-banyaknya ilmu dari internet. Internet seolah menjadi jalan pintas dengan seabrek informasi yang mendunia.

    “Semakin sering kita menggunakan web, maka otak kita semakin terlalu menghadapi gangguan—memproses informasi dengan amat cepat dan amat efisien tapi tanpa perhatian yang terus-menerus. Hal itu menjelaskan mengapa banyak di antara kita yang sukar berkonsentrasi bahkan ketika tidak sedang di depan komputer. Otak kita pintar melupakan, tidak pintar mengingat. Mungkin ketergantungan kita yang semakin besar terhadap kandungan informasi web merupakan produk dari kumparan diri yang terus ada dan membesar.

    Ketika pemanfaatan web yang kita lakukan membuat kita lebih sulit memasukkan informasi ke dalam memori biologis kita, maka kita semakin dipaksa untuk lebih bersandar pada memori buatan yang luas dan mudah dicari di internet, sekalipun itu membuat kita menjadi pemikir yang dangkal.”

    (halaman 207)

    Apakah ini artinya internet membuat cara berpikir kita dangkal? Menurut saya, bisa jadi, tetapi tergantung seperti apa kita menggunakan internet. Buku yang telah diterjemahkan ke dalam 17 bahasa ini tidak menyuruh kita berhenti menggunakan internet. Buku ini tak juga menyuruh kita hanya membaca buku cetak.

    Dengan segala pemaparan penulis disertai pengalaman orang-orang atas penggunaan internet, juga penjabaran penulis tentang sejarah alat-alat berpikir dari mulai alfabet hingga komputer, saya mengambil satu kesimpulan penting, bahwa ketika internet digunakan dalam tataran sekunder, sedangkan primernya adalah membaca buku, maka internet bisa menjadi teman bagi cara berpikir mendalam kita. Tetapi jika sebaliknya, inilah yang terjadi kemudian, bahwa kita menjadi malas membaca bacaan yang panjang dan berujung pada kedangkalan berpikir.

    Seperti yang diajarkan nabi kita, bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak memberi kebaikan. Begitu juga dengan internet. Selain kemudahan dan kesenangan yang ditawarkannya, ketergantungan terhadap internet ternyata memiliki konsekuensi fisik dan kebiasaan hidup kita.

    Ketika cara berpikir secara mendalam kita lambat laun tergerus, yang tersisa hanyalah pola berpikir karbitan yang rapuh. Jadi, seimbanglah. Memperbanyak membaca buku, menurut Nicholas Carr, akan lebih membuat cara berpikirmu lebih mendalam dan kreatif.