Buku The Great of Two UmarsJudul: The Great of Two Umars
Penulis: Fuad Abdurrahman
Penerbit: Zaman
ISBN: 978-602-8417-43-3
Tebal: 134 hlm
Genre: Agama Islam, Kisah dan Hikmah
Rating: 4/5

Awalnya saya merasa enggan untuk membaca buku ini ketika diberi tawaran untuk membedahnya di sebuah komunitas pembaca muslimah. Alasannya sederhana saja. Pertama, karena saya menganggap sepele buku-buku sejenis, yakni buku sejarah atau biografi tokoh yang dikemas dalam buku tipis dan ringkas, bukan kitab-kitab tebal seperti umumnya buku sirah. Buku ringkas biasanya kurang utuh mengupas isi secara lengkap. Kedua, berhubung karena saya sudah pernah membaca buku lainnya tentang biografi dua Umar dari ulama masyhur, dalam pikiran saya ya isinya paling itu ke itu juga sehingga saya jadi malas untuk membaca tema sejenis. Buang-buang waktu, pikir saya.

Tetiba saya teringat penjelasan di buku Hilyah Thalibil ‘Ilmi tentang nasihat bagi seorang penuntut ilmu bahwa kita tidak boleh bersikap sombong ketika menuntut ilmu, merasa diri sudah berilmu setelah membaca sebuah kitab, bahkan menganggap remeh ilmu sekecil apapun. Subhaanallaah … Nasihat itu terlintas di kepala saya dan mendadak saya tersadar dan merasa malu. Astaghfirullaah … Semoga Allah mengampuni kesombongan saya pada saat itu. Pantaslah ya mengapa Allah tidak menyukai kesombongan karena kesombongan dapat menutup pintu-pintu kebaikan yang lain. Dan masya Allah, ternyata Allah memiliki cara-Nya sendiri untuk mendidik kita. Setelah membacanya, saya merasa beruntung karena saya bisa membuat catatan-catatan penting atas kelebihan dan kekurangan buku ini.

The Great of Two Umars karya Fuad Abdurrahman ini berisi kisah-kisah penuh hikmah dan keteladanan dari dua khalifah Islam yang memiliki nama sama, Umar bin Khathab dan Umar bin Abdul Aziz. Keduanya bukanlah tanpa hubungan keluarga. Umar bin Abdul Aziz (yang disebut Umar II oleh para ulama) adalah cicit Umar bin Khathab (yang disebut Umar I) dari cucu perempuannya yang bernama Ummu ‘Ashim binti ‘Ashim bin Umar bin Khathab.

Buku ini dibagi menjadi dua bagian utama. Bagian pertama merupakan bagian Umar bin Khathab, sedangkan bagian kedua berisi kisah Umar bin Abdul Aziz. Di setiap bagiannya, penulis membagi kisah-kisah mereka berdasarkan kategori tertentu, misalnya kehidupan sebelum menjadi khalifah, sifat-sifat utamanya, saat menjadi khalifah sampai ketika meninggal dunia. Dan di setiap kategorinya, penulis memaparkan kisah dua Umar secara kasus per kasus fragmen kehidupan masing-masing.

Dari kisah-kisah yang dituliskan, pembaca sedikit banyak akan mengenal lebih dekat sosok dua khalifah paling fenomenal ini; Bagaimana sifat rendah hatinya, ketegasannya, keadilannya, ketakwaan dan kepemimpinannya dalam masyarakat, serta beberapa kebijakan yang mereka ambil.

Mengapa dua Umar ini yang dibahas? Padahal ada beberapa khalifah lainnya yang juga memiliki karakter pemimpin yang tak kalah hebatnya. Menurut saya ini dikarenakan keduanya unik; namanya sama, memiliki hubungan darah, sama-sama menjadi khalifah, dan sama-sama melakukan reformasi dan inovasi ke arah kebaikan ketika menjadi khalifah dalam rentang waktu yang berbeda.

Di dalam pengantarnya penulis menjelaskan bahwa The Great of Two Umars hadir dari kerinduannya terhadap sosok pemimpin yang adil, bijaksana, memiliki karakter dan iman yang kuat, yang sangat sulit sekali ditemukan di masa sekarang ini. Ada banyak pemimpin yang bagus, tapi belum ada di masa sekarang ini yang bisa mendekati prestasi kepemimpinan kedua Umar ini. Dan inilah salah satu latar penulis membuat buku ini, agar orang-orang bisa mengenal sosok dua Umar yang hebat dan mengambil hikmah dari kehidupan mereka.

Pujian terhadap Buku

Ada beberapa poin dari buku ini yang menurut saya menjadi kelebihan.

1. Penulis mampu membuat satu buku ringkas berisi informasi yang padat dari dua sosok terkenal, yang sebetulnya, masing-masing kisah atau biografi mereka banyak dituliskan di dalam satu buku tebal terpisah.

2. Penulis mampu melakukan transfer konten sejarah kehidupan dua Umar dari buku-buku teks sejarah yang umumnya dianggap berat untuk dibaca oleh sebagian orang ke buku dengan bahasa yang lebih ringan penuturannya.

3. Buku ini ditulis dengan gaya penulisan narasi yang mudah dicerna oleh pembaca pada umumnya. Nggak njelimet dan ribet. Buku ini ditulis menggunakan bahasa penulis sendiri sehingga tidak terasa membosankan. Ini merupakan poin plusnya karena bisa menjadi alternatif bacaan sejarah bagi mereka-mereka yang kurang cocok dengan buku-buku berat dan tebal.

Kritik atas Buku

Saat membaca buku ini, ingatan saya terbang ke kisah dua sosok Umar yang saya kenal dari buku-buku dari penulis lain, terutama dari kalangan ulama-ulama yang masyhur. Ada sedikit perbedaan krusial yang saya temukan dan ini mau tak mau membuat saya membanding-bandingkan konten kisah antara kedua buku.

Saya bukanlah seorang pakar sejarah, bukan pula seorang pengamat sejarah. Rasanya kurang pantas bagi saya untuk mengkritik karya seseorang, terlebih saya bukan ahli. Tapi, sebagai wujud apresiasi subyektif saya terhadap sebuah buku yang dibaca, inilah menurut saya yang menjadi kelemahan atau kekurangan yang saya dapati setelah membaca buku The Great of Two Umars.

1. Ada beberapa kisah di dalam buku ini yang tidak sesuai dengan riwayat aslinya. Ada juga kisah yang disandarkan pada riwayat lemah maupun munkar atau palsu.

Sebagai contoh di bagian kisah Umar bin Khathab, ada kisah Umar bin Khathab yang menghukum putranya yang berzina hingga wafat. Riwayat dari kisah ini adalah riwayat palsu. Jika kita telusuri di beberapa buku sirah yang ditulis ulama-ulama masyhur dan bersumber dari sumber yang shahih, maka tidak ditemukan satu pun riwayat tentang kisah ini. Dan jika kita telusuri lebih lanjut, ada beberapa kajian yang mengulas tentang kepalsuan kisah ini. Wallahua’lam. Contoh lain adalah kisah antara Umar bin Khathab dan ‘Amr bin Al-‘Ash ketika memutuskan hukuman atas putra ‘Amr bin Al-‘Ash yang kurang sesuai dengan riwayat aslinya. Mungkin, di buku The Great of Two Umars ini, kisah-kisah tersebut oleh penulis dimaksudkan untuk menunjukkan sikap ketegasan Umar sebagai seorang khalifah, namun kisah-kisah ini sebetulnya cukup masyhur dan sering dijadikan dalih untuk mendiskreditkan sosok Umar dan sahabat Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam oleh sebagian kalangan.

Contoh kisah dengan riwayat lemah lainnya adalah di bagian Umar bin Abdul Aziz, yaitu kisah tentang Umar bin Abdul Aziz dan sikap Bani Umayah terhadap Ali bin Abi Thalib. Di dalam kisah ini diceritakan bahwa satu-satunya keturunan Bani Umayah yang tidak mencerca Ali adalah Umar bin Abdul Aziz. Implikasi dari pernyataan ini adalah bahwa seluruh keturunan Bani Umayah adalah pencerca Ali. Di dalam bukunya, Biografi Umar bin Abdul Aziz (Beirut Publishing), Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi menjelaskan tentang topik ini secara rinci bahwasanya pernyataan tersebut tidaklah benar dan riwayat tentang pencerca Ali ini lemah dan perawinya tidak dapat dipercaya. Jadi ada semacam distorsi sejarah di sini.

Sebetulnya sangat disayangkan jika poin-poin di atas muncul di buku. Di lembar daftar pustaka, penulis mencantumkan beberapa buku atau kitab yang ditulis oleh ulama-ulama pakar sejarah terpercaya dan dikenal berhati-hati sebagai referensi yang valid, termasuk Ash-Shallabi di dalamnya. Namun, mengapa penulis masih memasukkan kisah-kisah yang riwayatnya lemah, munkar, atau yang tidak sesuai dengan riwayat aslinya? Mengapa topik tentang Umar bin Abdul Aziz ada yang bertentangan dengan penuturan Ash-Shallabi sendiri di dalam kitab yang dirujuk oleh penulis sendiri? Saya tidak tahu alasan penulis mencantumkan kisah-kisah tersebut. Apakah memang karena kekhilafan penulis yang mungkin kurang ketat dalam melakukan seleksi terhadap kisah-kisah masyhur tersebut? Wallahua’lam.

2. Meskipun sebelumnya saya sebut sebagai satu kelebihan buku ini, gaya penulisan narasi yang diterapkan untuk biografi atau shiroh sahabat/shahabiyah rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wasallam, menurut saya, sekaligus juga memiliki beberapa titik lemah.

Pertama, berbicara tentang kisah sahabat rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tentu kita tidak mungkin berlepas diri dari hadits atau riwayat yang jelas sanadnya. Maka, mengonversi redaksi sebuah hadits atau riwayat menjadi narasi sesuai gaya penulisan seorang penulis haruslah dilakukan secara sangat hati-hati, karena perbedaan kalimat yang kurang tepat dapat menyebabkan perbedaan makna yang cukup jauh, yang alih-alih bisa memberikan perbedaan persepsi bagi pembaca atas kisah yang sebenarnya. Dan inilah yang saya dapati di beberapa kisah di dalam buku ini.

Kedua, menuliskannya secara narasi—termasuk di dalamnya dialog-dialog yang terjadi antara tokoh-tokoh yang disebutkan—terkadang tidak terlepas dari bagaimana karakter penokohannya. Mungkin penulis ingin membuat adegan atau kisahnya lebih dramatis sehingga pembaca lebih tertarik, maka penulis kemudian menentukan karakter yang sesuai dengan penggambaran tokoh. Implikasinya, penulis akhirnya membuka pintu asumsi bagi dirinya sendiri tentang bagaimana sikap atau kata-kata yang tepat dari si tokoh. Jika kita berbicara tentang sebuah buku fiksi, tentu asumsi-asumsi ini bisa dibenarkan. Tetapi, ketika kita berbicara dalam konteks kisah sejarah atau apalah istilahnya buku yang berdasarkan fakta dan rekam sejarah, terlebih lagi yang berkaitan dengan keabsahannya, maka menurut saya, seharusnya kita tidak membuka pintu asumsi terlalu luas dalam hal ini.

Sebagai contoh, jika penulis ingin menunjukkan sosok Umar bin Khathab yang tegas terhadap kezhaliman atau kemungkaran, maka wajar saja jika perkataan Umar di dalam dialog diasumsikan sedemikian rupa agar terlihat karakter tegasnya, tentunya tidak lari dari esensi ucapan beliau yang sebenarnya. Hanya saja, yang saya dapati di buku ini justru apa yang disampaikan di dalam dialog narasinya terkadang tidak sama rasa dan maknanya dengan dialog yang terdapat pada riwayat aslinya, apalagi jika penulis melakukan improvisasi dalam dialog-dialog tersebut.

Misalnya ketika di buku ini Umar bin Khathab digambarkan sedang marah lalu mengucapkan kata “Kurang Ajar”, apakah memang demikian adanya di dialog aslinya yang berbahasa Arab? Berhubung saya tidak paham bahasa Arab, saya jadi bertanya-tanya, ungkapan seperti ‘kurang ajar’ yang di masyarakat kita dianggap sebagai umpatan yang agak kasar, apakah ada di ungkapan Arab yang berkonotasi sejenis? Apakah Umar mengatakan itu di riwayat aslinya? Saya tidak tahu. Tetapi dari kacamata awam, saya merasa Umar di fragmen itu terkesan negatif. Hal ini mungkin sekilas terlihat sepele, tapi tahukah kita kalau efek dari hal ini bisa saja lebih luas? Bahwa pembaca berpotensi memahami kalau sosok seorang Umar bin Khathab itu hobi mengumpat, padahal nyatanya tidak diriwayatkan demikian.

Sejujurnya, ketika membaca kisah-kisah di dalam The Great of Two Umars, terutama di bagian Umar bin Khathab pada bab-bab awal, saya merasakan sosok beliau digambarkan sebagai orang yang kasar sekasar-kasarnya. Sebentar-sebentar marah, ngamuk, seolah-olah tidak ada jeda. Padahal, rasa ini sangatlah berbeda dengan sosok Umar bin Khathab yang saya baca kisahnya dari buku-buku referensi lain, yang diceritakan lewat penuturan redaksi-redaksi hadits nabi maupun riwayat para sahabat tentang beliau secara lengkap dan runut. Di buku referensi tersebut, Umar memang karakternya sangat keras dan tegas. Namun kita masih bisa merasakan bahwa bersamaan dengan karakter keras dan tegasnya tersebut, terselip juga jeda atas pertimbangan atau kebijaksanaannya. Apakah ini karena faktor penulisan narasi? Wallahua’lam.

Kesan terhadap Buku

Ketika pertama kali melihat judul buku The Great of Two Umars, di dalam pikiran saya terlintas gambaran bahwa buku ini akan berisi telaah pembahasan tentang benang merah antara dua Umar sebagai khalifah. Apa yang membuat kedua khalifah ini istimewa? Prestasi-prestasi dan gebarakan apa saja yang dilakukan oleh mereka sehingga menjadi sangat fenomenal? Bagaimana pandangan dan kebijakannya dalam bidang politik, ekonomi, pemerintahan dan peradilan? Apa ada korelasinya meski sudah berjarak waktu? Misalnya apakah ada estafet kebijakan yang dilanjutkan Umar bin Abdul Aziz dari pendahulunya Umar bin Khathab? Dan bagaimana kaitannya dengan zaman sekarang? Pemikiran-pemikiran semacam itu muncul di benak saya.

Tetapi setelah membacanya, hal itu ternyata tidak banyak saya temukan. Meski sudah saya balik-balik lembarannya sampai habis, buku ini menurut saya lebih cenderung mengulas kisah hikmah yang ada dari keduanya dalam sisi karakter. Padahal, Umar bin Khathab memiliki banyak sekali prestasi dan keistimewaan yang membuat kita berdecak kagum, yang Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sampai mendoakannya saat masih jahiliyah. Pun begitu dengan Umar bin Abdul Aziz yang disebut sebagai pembaru pertama dalam Islam. Gebrakan-gebrakannya dalam dunia pendidikan, pemerintahan, ekonomi juga sangatlah gemilang mengikuti jejak kakek buyutnya. Memang ada diulas juga di buku ini tentang prestasi dan kebijakan dua Umar ini, namun tidak banyak.

 

Kesimpulan

Menurut saya, buku The Great of Two Umars ini memang lebih cocok buat pembaca yang tidak suka membaca buku bertipe serius atau berat dan tebal. Bagi yang lebih suka membaca kitab sejarah atau sirah tebal, buku ini mungkin kurang menggigit.

Secara keseluruhan, buku ini bagus, baik. Cukuplah untuk pembaca mengenal sosok Umar bin Khathab dan Umar bin Abdul Aziz sebagai awalan. Bahasa yang dipakai juga ringan dan nyaman. Pemaparan penulis atas kisah-kisahnya juga cenderung mudah meresap buat pembaca, apalagi bagi yang mudah tersentuh atau termotivasi. Tapi barangkali juga lebih pas jika hanya dijadikan sebagai buku tambahan wawasan seputar kisah dan hikmah, bukan sebagai buku referensi sejarah tokoh atau sirah Islam.

Dan yang paling penting, pembaca hendaknya juga membekali diri dengan filter yang baik. Tidak serta-merta menelan mentah-mentah seluruh isinya, terutama pada bagian-bagian yang memang berpotensi menimbulkan kesalahan persepsi atau pemahaman. Karena isi buku ini ada yang berdasarkan sumber yang shahih, dan ada pula yang mencatut sumber yang lemah, maka alangkah lebih baik lagi jika membaca buku ini dibarengi juga dengan membaca buku sirah yang ditulis oleh ulama-ulama masyhur dan shahih, agar pembaca bisa membuat catatan-catatan tersendiri dan punya perbandingan. Ini akan membuat kegiatan membaca kita menjadi lebih seru ketika menggali hal-hal baru.

Dari segala kelebihan dan kekurangannya, buku ini merupakan buah karya seseorang. Saya sangat mengapresiasi usaha penulis atas buku ini. Cukuplah kebaikan saja yang perlu kita ambil dari buku ini.

Sekilas tentang Prestasi Dua Umar

Berikut ini prestasi dan kebijakan dari sosok dua Umar yang saya rangkum dari referensi lain. Saya pikir pembaca yang belum mengenal beliau perlu mengetahui sekilas.

Umar bin Khathab

  • Dikenal dengan pemahaman yang mendalam, kemampuan untuk menyelesaikan masalah, dan kepiawaiannya dalam menarik kesimpulan sehingga menjadi pakar fikih
  • Melakukan perluasan wilayah Islam yang paling besar
  • Membuat sistem penanggalan Hijriah
  • Membuat sistem pengawasan harga dan pasar
  • Membangun sebuah lembaga fikih dan fatwa di Madinah
  • Pembangunan kota, jalan dan transportasi darat dan laut, termasuk lumbung-lumbung perbekalan untuk para musafir
  • Orang pertama yang membentuk Diwan di negara Islam. Diwan adalah catatan atau buku yang ditulis di dalamnya urusan-urusan negara. Semakin meluasnya daerah kekuasaan Islam pada masa itu, Umar membuat Diwan sebagai
  • Dll

Umar bin Abdul Aziz

  • Seorang pembaru pertama dalam Islam (mujaddid)
  • Meluruskan akidah sesuai akidah ahlus sunnah
  • Membukukan hadits
  • Menetapkan metode pembelajaran, cara pengajaran, prioritas dalam pendidikan anak
  • Sentralisasi dan desentralisasi pemerintahan
  • Manajemen waktu dalam segala aspek, baik pendidikan dan pemerintahan
  • Pembaruan musyawarah dalam memilih dirinya sebagai khalifah
  • Memilih orang-orang yang amanah sesuai pos-posnya
  • Menghapuskan retribusi pasar
  • Dll

Pin It on Pinterest

Shares
Share This