resensi buku People of the BookJudul: People of the Book
Judul Asli: People of the Book
Penulis: Geraldine Brooks
Penerjemah: Femmy Syahrani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-1447-1
Tebal: 504 halaman
Tahun terbit: 2015
Cetakan: Kesatu
Genre: Fiksi Sejarah, Buku tentang Buku
Rating: 4/5

Buku langka, terlepas dari isi dan pemikirannya, menghubungkan kita dengan sejarah masa lampau, pun dengan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Sebuah buku, tanpa sepengetahuan kita secara kasat mata, barangkali saja sudah menyentuh entah berapa banyak tangan, dari yang menuliskannya, membacanya, menelaahnya, melindunginya, hingga yang menghancurkannya. Dari tangan ke tangan, dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, dari satu tempat ke tempat lainnya hingga saat ini, buku telah berbicara kepada kita, dalam diam dan hening, bahwa ia telah diwariskan sedemikian rupa untuk menyampaikan kisah-kisah di balik keberadaannya. Kisah yang barangkali mampu menyadarkan kita tentang suatu hal penting dalam hidup, apapun itu. Geraldine Brooks mengajarkan saya tentang hal ini lewat novelnya yang berjudul People of the Book.

Buku ini mengisahkan tentang seorang pakar buku langka yang bernama Hanna Heath dalam menangani konservasi Haggadah Sarajevo yang cukup kontroversial sejarahnya. Hanna, lewat keahliannya menganalisa, kemudian menemukan beberapa jejak masa lalu dari haggadah tersebut. Serpihan sayap serangga, sehelai bulu halus, bekas penjepit dan tanda mawar, noda dan garam, seolah semua itu ingin menyampaikan kisahnya masing-masing mengapa mereka ada di dalam haggadah itu dan sudah berapa jauh perjalanan serta kesulitan yang dialaminya.

Dari hasil penemuannya, Hanna kemudian mulai merangkai satu demi satu misteri buku tersebut; Seorang muslim Bosnia yang mempertaruhkan nyawanya dan keluarganya untuk menjaga buku itu di tahun-tahun ketika Nazi berkuasa; Seorang pastor Katolik dan rabi Yahudi yang mencoba menyelamatkan buku itu dari api pembakaran Inkuisisi gereja; Seorang penulis yang terpaksa meregang nyawa dan kehilangan keluarganya demi menambahkan teks pada buku itu; Misteri seorang musawwir yang melukis ilustrasi indah terlarang tersebut di Sevilla tahun 1480. Semua hipotesis ini membawa Hanna pada pencarian jati dirinya sendiri dan juga orang-orang yang ia cintai dan, pemalsuan karya seni, tentu saja.

“Kalian semua, dari dunia yang aman, dengan kantong udara mobil dan kemasan antirusak dan diet bebas lemak. Kalianlah yang percaya takhayul. Kalian meyakinkan diri bahwa kematian dapat dielakkan, dan kalian tersinggung saat menyadari keadaannya tidak begitu. Sepanjang perang berkecamuk di negara kami, kalian duduk di apartemen kecil yang nyaman dan menonton kami, berdarah-darah dalam berita televisi. Dan kalian berpikir, “Seram sekali!” lalu bangkit dan membuat secangkir lagi kopi mahal ….

Dalam hidup ini sering terjadi hal buruk. Beberapa hal yang sangat buruk menimpaku. Dan aku tidak berbeda dengan ribuan ayah lain di kota ini yang anaknya menderita. Aku menerima kenyataan itu. Tidak semua cerita berakhir bahagia .…” (halaman 59)

Sebenarnya apa yang membuat buku itu sangat dicari-cari dan dilindungi, sampai-sampai banyak nyawa telah terlibat? Perjalanan panjang apa yang telah dialami Haggadah Sarajevo ini hingga mampu selamat dan akhirnya bermuara di Museum Nasional Bosnia dan Herzegovina di Sarajevo saat ini? People of the Book akan mengajak kita pada petualangan yang sangat sulit untuk diacuhkan begitu saja tanpa menyesapi kisah-kisah di dalamnya.

People of the Book terinspirasi dari sejarah Haggadah Sarajevo, yang merupakan sebuah manuskrip Ibrani misterius berisi tulisan tangan dengan ilustrasi indah tentang perayaan Paskah Yahudi. Meskipun beberapa fakta sejarah yang dicantumkan penulis dalam novel ini benar adanya, tetapi cerita maupun penokohan yang ada hanyalah fiktif belaka. Brooks menulis kisahnya dalam plot yang melompat-lompat. Alur cerita yang maju mundur secara bergantian sesuai dengan tahun atau masa artefak-artefak ditemukan di dalam buku dan masa sekarang di mana Hanna hidup membuat kita merasa dekat dengan sejarahnya itu sendiri. Hasil penerjemahan dan suntingan versi terjemahan ini juga menurut saya sangat bagus.

Menurut sejarahnya, naskah Haggadah Sarajevo ditulis di lembaran kulit anak sapi yang sudah dikelantang dan diberi pewarnaan emas dan perak. Haggadah ini merupakan salah satu haggadah tertua dari Haggadah Yahudi Spanyol di dunia yang berasal dari Barcelona tahun 1350, dan salah satu buku Yahudi abad pertengahan berilustrasi paling awal yang pernah muncul. Dikatakan kontroversial karena buku ini melibatkan ilustrasi makhluk hidup, yang sejatinya menggambarnya adalah larangan bagi agama Yahudi dan Islam. Pun dengan kisah-kisah di dalam ilustrasinya yang juga kontroversial menurut Kristen Katolik karena berseberangan dengan alkitab Injil dan keputusan gereja pada masanya.

Tak banyak yang bisa diketahui dari pembuatan buku ini, kecuali bahwa buku ini dibuat di Spanyol sekitar pertengahan abad ke-14, menjelang berakhirnya masa Convivencia, di mana saat itu, umat Yahudi, Kristen dan Islam hidup berdampingan secara damai.

dok. pribadi

dok. pribadi

Kisah di buku ini indah. Menurut saya, People of the Book ingin menunjukkan bahwa atas nama pelestarian peradaban, termasuk benda-benda peninggalan sejarahnya, siapapun itu orangnya, apapun agamanya, kapan pun masa kehidupannya, selama ia mencintai sejarah dan ingin agar sejarah itu diketahui, hampir pasti akan mencoba melindunginya dan mewariskannya sampai generasi terakhir. Karena, lewat analisa dan konservasi sebuah buku, kita bisa mendapatkan percikan informasi sejarah tentang lingkungan tempat buku itu berada, bagaimana orang-orang yang membawanya, peristiwa sejarah apa yang saat itu terjadi, pengaruh apa saja yang disebabkan oleh keberadaan buku tersebut, dan lain sebagainya. Seperti rantai yang saling terhubung, sejarah masa lampau dan masa kini pun terhubung sebagai sebuah rangkaian, begitu pula dengan sejarah yang akan terjadi di masa depan. Generasi berikutnya berhak tahu apa yang telah terjadi pada generasi-generasi sebelumnya untuk dijadikan pelajaran dan diambil hikmahnya.

Terminologi ‘People of the Book‘ kalau saya baca defenisinya lebih kepada ahli kitab atau istilah untuk penganut agama yang dibawa oleh nabi Ibrahim alaihissalam, yang kemudian diteruskan oleh Musa alaihissalam dan Isa alaihissalam yakni Yahudi dan Nasrani, sebelum kedatangan Islam yang dibawa oleh Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam. Tetapi, bisa juga yang dimaksud dari judul novel ini adalah terminologi biasa, arti secara harfiahnya yaitu orang dari buku. Berhubung versi terjemahan novel ini tidak dijelaskan secara gamblang terminologi mana yang dimaksud oleh Brooks dalam judul karyanya, maka saya rasa semoga tak apa jika kita menafsirkan makna judul buku ini secara berbeda.

People of the Book—orang-orang dari buku—pantas dijadikan sebagai judul. Bak suara dari masa lampau, sebuah buku ingin menyuarakan isi hatinya dan mengatakan, “Inilah yang terjadi padaku.”