Resensi Buku Hector and the Search of HappinessJudul: Hector and the Search for Happiness
Penulis: François Lelord
Penerjemah: Gusti Nyoman Ayu Sukerti
Penerbit: Noura Books
ISBN: 978-602-385-002-0
Tebal: 264 hlm
Tahun terbit: November 2015
Cetakan: Pertama
Genre: Fiksi Inspirasional, Fiksi Terjemahan
Rating: 3/5

Ada seseorang yang secara materi hidupnya sangat berkecukupan, bahkan bisa dibilang mewah, tapi ternyata menurutnya ia belum bahagia. Ada pula seseorang yang meski dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya, tetapi ternyata ia merasa sendirian dan tidak bahagia. Mungkin kita sering mendengar atau melihat kasus-kasus seperti ini di sekitar kita. Melihat ini, ternyata perasaan bahagia setiap orang acapkali berbeda parameternya. Lalu sebenarnya apa yang membuat kita bahagia? Atau kita mungkin sedang bertanya pada diri sendiri saat ini, “Apakah saya sudah merasa bahagia?”

Pertanyaan: Apakah kebahagiaan hanyalah sebuah reaksi kimia di dalam otak? (halaman 145)

Apa yang dilakukan Hector di novel Hector and the Search for Happiness ini mungkin secara tak langsung cukup mewakili rasa penasaran sebagian manusia tentang kebahagiaan. Sebagai seorang psikiater, Hector seringkali harus mendengarkan keluhan-keluhan pasiennya yang hampir rata-rata berputar pada dua masalah; bahagia atau tidak bahagia. Dan, dalam kasusnya sendiri, Hector merasa kurang puas dengan dirinya. Oleh karena itulah, Hector melakukan perjalanan ke berbagai negara di dunia ini untuk mencari tahu dan berusaha memahami apa saja sebenarnya yang membuat orang merasa bahagia atau tidak bahagia, sehingga ia bisa membantu dirinya dan orang-orang di sekitarnya memecahkan masalah yang sedang mereka hadapi. Ia mengunjungi Cina, Afrika, Amerika Serikat dan negara-negara lainnya, lalu bertemu banyak orang, kenalan baru maupun teman lamanya, dan mencatat hasil pengamatannya terhadap mereka di sebuah buku catatan. Apa saja jawaban yang berhasil ia temukan tentang kebahagiaan?

Gaya penceritaan hasil terjemahan di novel ini cukup ringan dan mengalir. Saya bisa menikmati alur ceritanya dengan sangat baik. François Lelord menggambarkan karakter Hector sebagai seseorang yang muda, cerdas, profesional, baik hati dan sangat tertarik dengan diri manusia. Yah, meskipun ada satu sisi Hector yang juga tidak saya suka, yaitu affair dirinya dengan wanita yang ia temui di satu dua negara yang dikunjungi. Apa itu cara membuatnya bahagia? Kebahagiaan semu dan sesaat mungkin iya.

Membaca novel ini mengingatkan saya pada sosok Santiago di novel The Alchemist karya Paulo Coelho. Sama halnya seperti Hector, Santiago pun melakukan perjalanan jauh untuk mengejar mimpinya mendapatkan harta karun. Nilai hidup yang ingin disampaikan kedua novel ini hampir sama substansinya.

Ada satu perkataan seorang biksu yang sangat saya sukai dan sejalan dengan apa yang diajarkan di dalam agama saya.

“Ada satu faktor penentu kebahagiaan yang hilang dari daftar Anda: cara orang memandang sesuatu. Singkat kata, orang yang menganggap gelasnya setengah penuh sudah pasti merasa lebih bahagia dibandingkan orang yang menganggap gelasnya setengah kosong.” (halaman 208)

Cara kita memandang sesuatu memang akan menentukan apakah kita merasa bahagia atau tidak. Kita bisa lihat di sekitar kita bahwa ada orang-orang yang kehidupannya sulit tetapi ia merasa selalu bahagia. Semua itu karena ia merasa bersyukur terhadap apa yang dimilikinya dan selalu memandang bahwa Tuhan telah memberikan jalan hidup masing-masing orang. Biasanya juga, orang-orang yang dekat dan taat kepada Yang Maha Pencipta cenderung lebih mudah merasa bahagia dibandingkan yang tidak. Mereka tentu saja memiliki pegangan yang kokoh, yang tidak ada sesuatu pun pantas menggantikannya. Seperti juga yang disebutkan di dalam kitab Al-Qur’an tentang jalan kebahagiaan,

“Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” (QS. Ar-Ra’d : 29)

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, …” (QS. Ibrahim: 7)

Hal lainnya yang menarik dari novel ini adalah cara penulis menyampaikan latar tempat dan negara yang dikunjungi Hector. François Lelord tidak secara gamblang menyebutkan nama negara apa yang dikunjungi Hector selain Cina, atau bahkan negara asal Hector sendiri, atau tempat-tempat yang didatanginya. Penulis hanya mendeskripsikan ciri-ciri khas negara atau tempat tersebut. Saya sendiri seringkali menebak-nebak negara atau tempat apa yang dimaksudkan. Kalau di atas tadi saya sebutkan Afrika dan Amerika Serikat, itu karena saya dapati di sampul belakang novel ini penyebutan negara tersebut. Kalau tidak disebutkan, mungkin saya kesulitan menebak negara-negara yang dikunjungi Hector atau negara asalnya sendiri. Menarik!

Selain inspiratif, novel ini juga sarat dengan ilmu psikologi. Ini tentu saja sangat berpengaruh dari latar pendidikan penulisnya, François Lelord, yang memang mendalami ilmu pengobatan dan psikologi. Di dalam novel ini juga ada diselipkan satu dua sindiran, opini atau wacana yang cukup kontroversial di masyarakat dunia yang bagi kita menjadi semacam selingan ringan tapi berbobot. Semoga buku serial Hector yang lainnya segera diterjemahkan juga.

Lantas muncul pertanyaan, “Seperti apa bahagia bagi saya?” Hmm … pertanyaannya dalam sedalam makna yang ingin disampaikan *ceileh*. Sebenarnya apa yang didapatkan Hector tentang sebab-sebab bahagia itu sudah pas. Tambahannya bagi saya, bahagia yang ingin saya capai itu tentunya yang sejalan dengan apa yang dimaui oleh Pencipta saya. Bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Bahagia di dunia ini bagi saya adalah bisa menjalani hari-hari dengan hati yang tenang dan lapang serta bersama-sama orang yang kita sayangi berlari menjemput ridho Allah Ta’ala supaya kita bisa beroleh bahagia juga di akhirat. Semoga, in sya Allah. Doakan ya, aamiin.