Pesona SurgaJudul: Pesona Surga
Judul Asli: Shifatul Jannah fil Qur-aanil Kariim
Penulis: Abdul Halim bin Muhammad Nashshar As-Salafi
Alih Bahasa: Fajar Kurnianto, S.Th.I
Penerbit: Pustaka Imam Asy-Syafi’i
ISBN: 978-602-9183-35-1
Tebal: 540 hlm
Tahun terbit: November 2011
Cetakan: Pertama
Genre: Agama Islam, Aqidah
Rating: 5/5

Jika sikap khauf (takut) bisa dimunculkan dengan mengenal neraka, maka untuk memunculkan sikap raja’ (harap) kita bisa pula dengan mengenal surga. Mengetahui tentang keadaan surga baik sifat, fisik dan kondisi di dalamnya akan menumbuhkan motivasi bagi setiap muslim untuk semakin bersemangat dalam menaati Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala telah menciptakan sebuah stimulus terbaik bagi orang-orang yang shalih, yakni berupa surga yang di dalamnya terdapat segala sesuatu yang tidak pernah terlihat mata, tidak pernah terdengar telinga, dan tidak pernah pula terlintas di benak manusia. Surga tidak akan pernah berubah seiring berjalannya waktu dan akan kekal dengan segala kenikmatan yang tidak sesuatu pun bisa menyerupainya.

Pengenalan terhadap surga haruslah berasal dari sumber yang terpercaya yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah karena surga merupakan sesuatu yang haq. Jika sebelumnya kita bisa mengenal neraka lewat buku Dahsyatnya Neraka, maka salah satu referensi paling lengkap dan terpercaya tentang surga dari A sampai Z di antara buku referensi lainnya yang pernah ada adalah buku Pesona Surga ini. Buku ini merupakan thesis dari penulisnya, Abdul Halim bin Muhammad Nashshar As-Salafi, yang disajikan dalam rangka meraih gelar magister. Beliau menyajikan buku ini dalam tiga bab, mulai dari sifat surga, kenikmatan-kenikmatan di dalamnya, sampai keadaan para penghuni surga yang ditulis dengan sangat sistematis. Lantas bagaimana surga itu?

Karakteristik Surga

Surga memiliki banyak nama dan makna yang kesemuanya dapat ditemukan di dalam Al-Qur’an. Sedangkan jumlahnya, berdasarkan ayat-ayat di surat Ar-Rahman, hadits shahih dan atsar-atsar yang ada, jumlah surga itu ada empat, bukan tujuh seperti yang selama ini umumnya kita ketahui. Tujuh surga yang selama ini kita ketahui itu adalah nama-nama untuk seluruh surga, bukan untuk membedakan antara surga yang satu dengan surga lainnya.

Dalam Shahiihul Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Dua surga yang bejana-bejananya dan apa-apa yang ada di dalamnya (terbuat) dari perak, dan dua surga yang bejana-bejananya dan apa-apa yang ada di dalamnya (terbuat) dari emas. Tidak ada (penghalang) di antara kaum (penghuni surga) dan melihat Rabb mereka kecuali selendang kesombongan pada wajah-Nya, di surga ‘Adn.”

Luas surga diumpamakan seluas langit dan bumi, meskipun hakikatnya luas surga itu tidak bisa disamakan dengan luas langit dan bumi. Di dalam beberapa hadits, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam juga mengumpamakan luas surga dengan gambaran yang berbeda.

Dari Sahal bin Sa’ad, dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pohon yang (jika) seorang pengendara berjalan di bawahnya selama seratus tahun, niscaya ia belum melampauinya.” (HR. Bukhari dan Muslim) – halaman 113

Jika neraka sifat tingkatannya adalah ad-dark (menurun ke bawah), maka surga memiliki tingkatan yang sifatnya naik ke atas (daraajah). Tingkatan surga berjumlah seratus dan yang paling tinggi adalah Firdaus. Setiap tingkatan memiliki keadaan yang berbeda-beda tergantung derajat ketakwaan orang-orang shalih penghuninya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia bercerita:
“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Di dalam surga terdapat seratus tingkatan, yang jarak antara setiap dua tingkatannya sejauh seratus tahun perjalanan.” (HR. Tirmidzi)

Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala tidak menyebutkan secara khusus nama-nama sungai surga kecuali al-Kautsar, yakni sungai surga yang paling besar dan diperuntukkan bagi Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Tetapi berdasarkan jenisnya, sungai-sungai surga memiliki empat macam sungai yang sangat lezat, yaitu sungai yang isinya terdiri dari air, madu, susu dan khamr.

Kita sering membaca di dalam Al-Qur’an tentang mata air surga yang airnya memancar, kan? Itu adalah salah satu karakteristik mata air surga. Mata air di surga ada yang dicampur dengan kaafuur untuk menambah kelezatannya saat meminumnya. Ada mata air Salsabila yang aromanya sangat harum. Ada pula mata air tasnim dan mata air yang airnya memancar dan berlimpah. Inilah karakteristik mata air surga Allah Ta’ala.

Surga memiliki karakter pintu yang berkebalikan dengan neraka. Kalau pintu neraka akan selalu tertutup, maka pintu surga akan selalu terbuka. Jumlah pintu surga ada delapan, salah satunya bernama Ar-Rayyan dan Baabul Aiman. Pintu surga juga memiliki gerendel gembok yang bisa digerakkan.

Suatu saat ‘Utbah bin Ghazwan radhiyallahu ‘anhu berkhutbah. Setelah memuji Allah Ta’ala dan menyanjung-Nya, dia berkata (kepada orang-orang). Di antara pernyataan yang disampaikannya adalah:
“Telah disebutkan kepada kami bahwa jarak antara dua sisi pintu dari pintu-pintu surga itu sejauh 40 tahun perjalanan. Dan, akan tiba suatu hari yang saat itu ia penuh sesak dijejali (penghuninya).” (HR. Muslim) – halaman 114

Selain itu, di surga juga terdapat bangunan-bangunan tinggi (Ghuraf), tempat-tempat tinggal (Maskan), taman-taman (Raudhaat), dan penjaga-penjaga surga (Khazanah), yang kesemuanya digambarkan Allah Ta’ala dalam bentuk yang sangat indah dan luar biasa.

Kenikmatan-Kenikmatan Surga

Di surga terdapat berbagai macam kenikmatan yang tiada pernah sama dan dijumpai siapapun di dunia. Kenikmatan yang paling tinggi bagi penghuni surga adalah melihat Allah Ta’ala dan mengucapkan salam kepada-Nya (juga mendapat salam dari Allah Ta’ala). Kehidupan surga adalah kehidupan yang kekal dan tidak fana. Bagi para penghuninya, Allah Ta’ala menyediakan bejana-bejana berupa piring, gelas, dan cerek dari emas dan perak, pakaian-pakaian indah dari sutra, perhiasan-perhiasan dari mutiara, permadani, dipan dan ranjang, serta bidadari-bidadari yang cantik jelita, yang bening dan keindahannya bisa terlihat dari luar kulitnya. Masya Allah, tidak terbayangkan, ya?

Jika penghuni neraka diberi makanan dan minuman yang sangat mengerikan dan menjijikkan, maka penghuni surga memperoleh makanan dan minuman yang sangat lezat. Di surga terdapat segala jenis buah-buahan termasuk anggur, delima, kurma, pisang, labu dan lain-lain, juga berbagai jenis daging termasuk daging burung. Minumannya berupa air, susu, khamr dan madu. Selain itu, Allah Ta’ala juga menyediakan sapi putih jantan dan ziyaadah hut, yaitu daging kecil yang terdapat di dalam hati ikan paus. Di dunia, ziyaadah hut ini merupakan daging yang sangat lezat. Apatah lagi di surga yang kelezatannya tiada tandingan.

Sifat rizki dari Allah Ta’ala di surga adalah rizki yang mulia, rizki yang baik, dan sudah tertentu, baik dari segi rasa, jumlah, kematangan, keadaan dan lain sebagainya. Rizki berupa makanan dan minuman ini tidak ada habis-habisnya, tidak pernah busuk, ukurannya sangat besar, dan tidak perlu usaha untuk mendapatkannya. Kapanpun penghuni surga ingin makan atau minum, mereka tinggal mengatakannya, segalanya sudah tersedia. Masya Allah. Rasanya kalau kita membayangkannya di dunia ini seperti negeri dongeng, ya? Tapi itulah keindahan hakiki dari surga Allah Ta’ala. Perlu diingat, apa-apa yang ada di surga tidaklah sama dengan apa-apa yang ada di dunia meskipun memiliki nama yang sama. Persamaan nama hanya ditujukan Allah Ta’ala untuk memudahkan manusia memahami gambaran surga saja.

Keadaan Para Penghuni Surga

Di surga, setiap penghuninya memiliki usia yang muda dan sama, dengan paras yang cantik dan tampan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya rombongan pertama yang akan masuk surga adalah serupa dengan bulan pada malam purnama. Dan, orang-orang yang mengikuti mereka serupa dengan bintang yang bersinar sangat terang-benderang di langit. Mereka tidak buang air kecil, tidak buang air besar, tidak meludah, dan tidak beringus. Sisir-sisir mereka adalah emas, keringat mereka adalah kesturi, kayu di tungku perapian mereka adalah gaharu, dan istri-istri mereka adalah para bidadari. (Akhlak mereka) seperti akhlak satu orang laki-laki (sama baiknya). (Postur tubuh mereka) juga sama seperti postur ayah mereka, yakni Adam (yang tingginya) 60 dzira’ (hasta) di langit.” (HR. Muslim) – halaman 481

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Para penghuni surga masuk ke dalam surga dalam keadaan belum tumbuh rambut di badan, belum tumbuh kumis, matanya tercelak, dan berusia 30-an atau 33-an tahun.” (HR. Tirmidzi) – halaman 484

Keadaan ini sangat jauh berbeda dengan keadaan penghuni neraka yang tubuhnya akan membesar berlipat-lipat dengan rupa yang jelek. Subhanallah. Para penghuni surga juga dilayani oleh banyak pelayan yang disebut Wildaan tanpa putus. Di surga, para penghuninya senantiasa bertasbih dan bertakbir memuji Allah Ta’ala. Keadaan ini bukan sebagai bentuk kewajiban ibadah di surga, melainkan Allah Ta’ala telah memberikan mereka ilham bertasbih dan bertakbir sebagaimana manusia diberikan ilham bernafas di dunia.

Di surga terdapat tempat yang bernama al-A’raaf, yakni gundukan yang berada di antara surga dan neraka. Ini adalah dinding yang menjulang tinggi. Penghuni tempat ini adalah mereka-mereka yang kebaikan dan keburukannya seimbang. Mereka akan menjadi penghuni al-A’raaf sampai batas waktu yang dikehendaki Allah Ta’ala, dan akan masuk ke surga sesuai keridhaan Allah Ta’ala.

Kelebihan dan Kekurangan

Buku Pesona Surga ini, seperti yang saya sebutkan di atas, merupakan buku paling lengkap yang membahas tentang surga di antara buku-buku lainnya. Buku ini memiliki kelebihan berupa penulisan yang sistematis dan teratur. Penulisnya mengeluarkan usaha yang sangat maksimal untuk menulis karya ilmiah yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku ini. Beliau mengumpulkan seluruh ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits shahih yang berkaitan dengan surga sehingga pembaca bisa melihat dicantumkannya daftar surat dan ayat al-quran sesuai topik bab masing-masing. Selain itu, penulis juga mencantumkan catatan kaki yang sangat lengkap terkait biografi singkat tokoh dan penjelasan hadits yang disebutkan di dalam pembahasan.

Penjelasan tentang surga di dalam buku ini juga cukup ringkas, padat dan mudah dipahami oleh siapa saja. Bahkan, pembaca awam seperti saya pun akhirnya bisa mengetahui betapa bahasa Arab itu sungguh luar biasa. Kata-kata dengan makna yang sama tetapi tulisannya berbeda akan memiliki pengertian maksud dan tujuan yang berbeda pula. Di sinilah kelebihan lain yang dimiliki oleh buku ini. Kita jadi mengerti bahwa ternyata hukum nahwu shorof itu sangatlah penting untuk menelaah isi Al-Qur’an dan bahasa Arab.

Kelebihan lainnya ada pada bagian penutup, di mana penulis mencantumkan poin-poin penting yang menjadi ringkasan utama dari sasaran buku ini secara umum. Dengan membaca penutupnya, kita jadi lebih memahami mengapa kita seharusnya mempelajari tentang surga. Untuk kekurangan, menurut saya pribadi, alhamdulillah, tidak ada kekurangannya. Secara keseluruhan buku ini sangat bagus dan layak dimiliki oleh setiap keluar muslim di rumahnya.

Penjelasan yang saya tulis di atas hanyalah sebagian kecil saja dari penjelasan panjang tentang surga. Dengan membaca buku ini secara langsung dan tuntas tentu akan lebih baik. Membacanya mampu memunculkan buncahan rasa rindu dan harap untuk bisa selamat memasuki surga Allah Ta’ala, warisan yang Allah Ta’ala berikan bagi muslim yang shalih, masya Allah. Semoga kita senantiasa memohon agar Allah Ta’ala memberikan karunia dan keridhaan surga untuk kita di akhirat. Aamiin.

“Itulah surga yang Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa” (QS. Maryam: 63)

Takwa itu sendiri adalah buah dari keimanan yang benar dan keyakinan yang teguh, karena takwa merupakan aplikasi dari melaksanakan dan meninggalkan; yaitu melaksanakan segala perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya dalam kondisi suka maupun tidak suka, serta menjauhi segala yang diharamkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, berupa ‘aqidah yang bathil, perkataan yang keji, amal yang rusak, serta sifat yang buruk dan tercela. – halaman 526

==========
Dalam rangka pengembangan perpustakaan kami, kami juga membuka divisi usaha berupa toko buku online di Toko Buku Pustaka Hanan. Apabila rekan-rekan sedang mencari buku ini atau buku Islam lainnya, bisa menghubungi kami.

Pin It on Pinterest

Shares
Share This