topeng kacaJudul: Topeng Kaca
Penulis: Suzue Miuchi
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Dimensi (PxL): 17 x 11,5 cm
Genre: Manga/Komik Jepang

Sewaktu keluarga kami pindah dari Jambi ke Medan, di saat saya kelas 5 SD, aktivitas membaca dan interaksi saya dengan dunia buku sempat terhenti untuk waktu yang cukup lama. Kalau sebelumnya kami rutin membeli buku atau ke perpustakaan, sejak pindah ke Medan kegiatan itu tidak kami lakukan lagi karena mamak sakit dalam waktu yang cukup panjang. Keluarga kami diberi ujian yang cukup berat oleh Allaah ta’ala saat itu, terutama mamak dan ayah. Mamak divonis mengidap penyakit Skizofrenia Paranoid tingkat awal. Hanya sampai kelas 6 SD saja saya masih bisa sesekali membaca buku selain buku pelajaran, itu pun berbekal sisa-sisa buku yang kami bawa dari Jambi.

Selanjutnya, sampai saya duduk di kelas 3 SMP, saya tidak pernah lagi bersentuhan dengan dunia buku karena berbagai kendala; mengurus rumah dan adik-adik, mengurus mamak yang masih sakit, fokus ke sekolah, dan ‘teralihkan’ dari buku. Yup, saya sempat ‘teralihkan’ dari buku karena hal-hal lain yang lebih banyak menguras pikiran dan perhatian. Selain masa-masa itu merupakan masa pancaroba dunia remaja saya yang menyebabkan rutinitas saya berubah, masa-masa itu juga merupakan masa terberat dalam keluarga kami, terutama bagi saya sebagai anak pertama. Keadaan menuntut saya menjadi dewasa lebih awal dari usia remaja saya. Saya akhirnya teralihkan dari membeli buku dan kegilaan pada buku, kecuali membaca majalah dan sekali dua ke perpustakaan daerah untuk mencari bahan tugas.

Setelah duduk di bangku SMA, kondisi mamak saya sudah banyak berubah, sudah lebih sehat. Masa-masa berat sudah lewat. Saya juga berkenalan dengan banyak teman di sekolah. Salah satu teman sekelas kemudian mengenalkan saya pada sebuah rental buku, yang lokasinya tidak jauh dari rumah kami. Di sana ada banyak komik dan novel bagus. Komik yang paling menarik perhatian saya waktu itu adalah Topeng Kaca, sebab dulu saya punya beberapa volume komik Topeng Kaca di Jambi, tapi karena sempat teralihkan dari buku, saya tidak pernah lagi mengikuti volume lanjutannya. Komik itu adalah salah satu komik favorit saya. Melihat deretan Topeng Kaca di rental buku itu kemudian membangkitkan rasa antusias saya.

Saya menyewa komik Topeng Kaca di sana dan melahapnya sampai habis. Entah berapa rupiah uang jajan yang saya habiskan untuk menyewa komik itu. Saya diberi uang jajan 10.000 per hari. Pada masa itu, jumlah segitu sudah sangat besar. Saya bisa bayar ongkos pulang-pergi, makan nasi atau lontong, jajan kue dan sebagainya. Demi bisa menyewa buku, saya bela-belain menghemat jajan di sekolah dengan membawa bekal snack, makan siang dan minuman, sebab di rumah kami ada banyak roti atau camilan. Cara itu berhasil dan lumayan menghemat banyak rupiah ^^

***

Komik ini berkisah tentang perjalanan Maya Kitajima dan Ayumi Himekawa di dunia seni peran. Maya, yang sejak kecil sudah tergila-gila dengan drama, hanyalah anak seorang pelayan restoran. Ia sangat ceroboh dan tidak bisa apa-apa. Yang ia bisa hanyak akting. Sedangkan Ayumi merupakan putri seorang aktris dan sutradara ternama, yang sejak kecil sudah berkecimpung di dunia seni peran. Maya selalu merasa dirinya tidak berbakat meskipun ia ingin sekali menjadi pemain teater atau drama. Suatu ketika, tanpa disadari Maya, bakat alaminya memerankan peran apa saja dilihat oleh Bu Mayuko, mantan aktris papan atas dan satu-satunya pemilik hak pementasan Bidadari Merah yang terkenal itu.

Maya akhirnya sekolah di salah satu sekolah akting milik Mayuko. Mayuko mengajarinya banyak hal tentang seni peran dan perlahan-lahan Maya mendapatkan pengalaman yang cukup banyak di dunia teater. Suatu hari Maya dipertemukan dengan Ayumi, yang kemudian menciptakan persaingan di antara mereka untuk memperebutkan peran Bidadari Merah.

Sejak pertama kali ia mendapatkan peran di panggung, Maya sudah memiliki penggemar rahasia, seorang Direktur muda Daito bernama Masumi Hayami yang sangat dingin dan kejam. Berkedok Mawar Jingga, Masumi kemudian secara diam-diam menyekolahkan Maya dan membuka peluang-peluang untuk Maya sampai ia berhasil memerankan banyak tokoh di berbagai panggung. Puncaknya adalah perlombaan Maya dan Ayumi dalam merebut peran Bidadari Merah. Bagaimana kelanjutan kisah ini?

Topeng Kaca merupakan karya seorang komikus Jepang, Suzue Miuchi, dengan judul asli Garasu no Kamen. Komik ini pertama kali diterbitkan tahun 1976 di Jepang, sedangkan di Indonesia, diterjemahkan oleh Elex Media dan diterbitkan pertama kali tahun 1993. Beberapa seri yang sudah terbit adalah Topeng Kaca, Syair Lidah Api, Sejuta Pelangi, Bayang-Bayang Jingga, Bidadari Merah, Dua Akoya, dan Bersatunya Dua Jiwa. Hingga saat ini, komik Topeng Kaca belum juga tamat dan masih terus berlanjut entah sampai kapan. Seri terakhirnya yang terbit bulan lalu adalah Bersatunya Dua Jiwa volume 3.

***

Apa yang menarik dari komik ini? Pertama, awal saya suka dengan Topeng Kaca adalah gambar sampulnya yang cantik-cantik. Sosok Maya dan Ayumi yang cantik membuat saya ingin membacanya. Tahu sendirilah kalau anak perempuan itu paling suka melihat sesuatu yang cantik, berwarna dan indah. Grafis tokoh komiknya juga tidak jelek.

Kedua, tema ceritanya menarik dan cukup kompleks. Meskipun hampir rata-rata tema komik di tahun 90-an dulu berkisar tentang ciri khas budaya Jepang, yaitu perjuangan hidup, tapi Topeng Kaca memiliki kesan tersendiri yang lain daripada yang lain. Komik ini bisa dibilang meninggalkan kesan yang lebih melekat dan mendalam sampai saya dewasa.

Ketiga, cara komikus menceritakan kisahnya benar-benar enak dan membuat kita semakin penasaran akan kelanjutannya. Mulai dari konflik-konflik yang diciptakan sampai karakter-karakter tokoh yang sangat kuat dan berbeda satu sama lain, tetap konsisten dan tidak berubah-ubah atau tertukar. Kita bisa merasakan pribadi tokoh-tokohnya seakan hidup dan nyata.

Keempat, ceritanya juga mengalir sesuai fasa-fasanya, tidak terburu-buru dan tidak bertele-tele. Pas. Belum pernah ada komik yang mampu membuat saya terkesan begitu mendalam selain Topeng Kaca. Mungkin karena rentang waktu terbit komik ini yang sudah sangat panjang, 20 tahun, yang ia hidup sejalan dengan usia dan fase-fase kehidupan kita.

koleksi topeng kaca

koleksi topeng kacaku

Seperti yang sudah saya tuliskan di atas, komik Topeng Kaca memiliki pengaruh yang cukup besar dalam hidup saya. Karena Topeng Kacalah saya akhirnya menemukan kembali ketertarikan saya terhadap buku. Topeng Kaca lantas menghubungkan saya dengan buku-buku yang lain di rental buku itu, seperti novel-novel anak dan petualangannya Enid Blyton, novel detektifnya Stefan Wolf, Alfred Hitchcock, juga komik-komik lain yang tak kalah bagusnya seperti Candy Candy, Mari Chan, Detektif Conan, dan sebagainya. Topeng Kaca membuat saya melek buku (lagi) dan membangkitkan semangat membaca saya yang sempat hilang selama 3 tahun lebih.

Bersyukur rasanya saat ini saya sudah memiliki pengganti lengkap Topeng Kaca yang juga pernah hilang dulu. Tinggal 2 volume saja yang belum ada dan itu pun saya yakin suatu saat bisa mendapatkannya.

Dalam rangka ikut event #5BukuDalamHidupku yang diadakan oleh Irwan Bajang

Dalam rangka ikut event #5BukuDalamHidupku yang diadakan oleh Irwan Bajang | Hari Kedua

Pin It on Pinterest

Shares
Share This