Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial oleh Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah

Judul: Suara dari Marjin
Penulis: Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah
Penerbit: PT Remaja Rosdakarya
Cetakan: I – Mei 2017
ISBN: 978-602-446-048-8
Tebal: 234 halaman
Genre: Nonfiksi, Buku tentang Buku, Literasi
Rating: 4/5

Ketertarikan saya dengan buku bertema buku dan literasi menjadi motivasi utama saya ketika ditawari untuk mengulik buku bersampul kuning dengan ilustrasi pengeras suara yang unik ini. Awal membacanya, kening saya cukup berkerut karena banyaknya istilah ilmiah yang kurang familiar di telinga saya. Namun, semakin saya membacanya, semakin saya menikmati coretan dan gagasan di dalamnya.

Sesuai judulnya, Suara dari Marjin berisi gagasan tentang literasi sebagai praktik sosial yang memuat pemaknaan baru dari kaum marjinal yang, mungkin selama ini, terlewatkan oleh kita. Buku ini ditulis oleh dua orang penulis bernama Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah sebagai bentuk yang lebih ringan dari adaptasi tesis atas penelitian mereka di bidang literasi. Sofie melakukan penelitian pada komunitas anak jalanan, sementara Pratiwi mengeksplorasi praktik literasi pada Buruh Migran Indonesia (BMI) Hong Kong. (more…)

The Shallows : Internet Mendangkalkan Cara Berpikir Kita? – oleh Nicholas Carr

Judul Buku: The Shallows
Penulis: Nicholas Carr
Penerjemah: Rudi Atmoko
Penerbit: Mizan
Tahun Terbit: Juli 2011
Tebal: 280 halaman
ISBN: 9789794336403
Genre: Nonfiksi, Internet, Psikologi
Rating: 4/5

Perkembangan dunia internet memang sangat memudahkan urusan kita. Dari komunikasi hingga kegiatan komputasi, semua memungkinkan kita untuk bekerja secara efektif. Namun, apakah internet benar-benar tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kebiasaan berpikir kita?

Saya sempat merasakan perbedaan yang sangat kontras antara saya yang dulu sebelum intens dengan internet dibandingkan saya yang sulit melepaskan diri dari internet. Kalau sebelumnya, saya betah berjam-jam membaca buku dengan duduk manis mengkaji dan menelaah satu demi satu buku, menghubungkan buku satu dengan yang lainnya. Ketika saya keranjingan internet sekitar tahun 2007 hingga 2008, aktivitas membaca buku saya menurun drastis. Saat itu saya merasa tidak nyaman berlama-lama membaca buku, cepat bosan. Pikiran saya ingin membuka internet saja. Sebentar-sebentar saya membuka browser di komputer atau laptop untuk mengecek email dan notifikasi media sosial. Sebentar-sebentar buka blog untuk mengecek trafik dan komentar yang masuk. Ketika koneksi internet putus, saya akan merasa sangat gelisah karena seperti tidak ada yang bisa saya lakukan. Iya, itu dulu, saat awal-awal internet berhasil menguasai diri saya, bukan sebaliknya. Mungkin Anda juga pernah? Bersyukur saya, masa-masa itu sudah lama terlewati. (more…)

Pin It on Pinterest