Opini Bareng BBI: Saat Buku Membuatmu Geregetan

moralityAbsen di event Opini Bareng BBI bulan Februari dan Maret, di bulan ini saya tidak ingin absen lagi. Tema di bulan April adalah hubungan dengan pembaca. Kali ini saya terpancing dengan pertanyaan BBI ini dan ingin membahasnya lebih jauh, “Apakah kamu pernah mendapati buku yang pesan moralnya sama sekali bertentangan dengan pendapatmu?”

Yup, pernah. Pembaca lain pun saya yakin pasti pernah juga ‘kan? Entah sudah berapa kali saya mendapati buku, yang saat dibaca, ternyata pesan moralnya bertentangan dengan pendapat saya pribadi. Entah itu berkaitan dengan prinsip, keyakinan atau hati nurani, yang jelas saat membacanya saya merasa geregetan karena tidak setuju dengan buku tersebut. (more…)

Opini Bareng BBI: Jangan Menilai Buku dari Luarnya Saja

dont-judge-a-book-by-its-coverDon’t judge a book by its cover. Idiom ini mungkin sudah terlalu sering kita dengar dan pahami maknanya. Bahwa sebagai seorang pembaca, sudah barang tentu menilai buku itu haruslah secara obyektif. Jika menilai sesuatu dari luarnya saja, kita cenderung menjadi subyektif dan tidak tahu secara utuh mana yang bagus dan mana yang tidak—menurut penilaian kita pribadi—dari sebuah buku.

Saya termasuk tipikal pembaca yang selektif, yang lebih banyak memilih buku-buku yang sesuai dengan selera dan ‘aman’ bagi pikiran saya. Saya sulit untuk berpindah selera. Karena hal ini pula maka saya agak membatasi diri dengan genre romance, fantasi dan horor. Alasannya? Pertama, genre romance kebanyakan bercerita tentang pacaran dan kisah seseorang yang jatuh cinta, mengejar cinta, putus cinta, cinta diam-diam, dan sejenisnya. Bagi saya, pengulangan tema seperti itu cukup membuat saya malas untuk meliriknya. Klise. Tema-tema ini umumnya terdapat pada buku-buku teenlit atau juga di genre young adult. Selain itu, genre romance umumnya mengandung adegan-adegan erotis atau vulgar. Ini yang paling membuat saya sangat sangat tidak nyaman jika membacanya. (more…)

Pin It on Pinterest