The Paradice JourneysJudul: The Paradise Journeys
Penulis: Muthia Esfand, Indriya R. Dani, Hensi Margaretta, Esti Hindrastuti, dan Akbar T. Kurniawan
Penyunting: Tree
Penerbit: QultumMedia
ISBN: 979-017-188-9
Tebal: 314 hlm
Tahun terbit: November 2011
Cetakan: Pertama
Genre: Perjalanan
Rating: 3/5

Rasanya sudah begitu banyak buku-buku seputar travelling dan semacamnya, mulai dari panduan berwisata hemat, tips mencari tempat makan yang halal, bahkan direktori tempat tujuan wisata di tiap negara yang bisa kita dapatkan dengan sangat lengkap dan mudah di toko buku. Tapi, tentu saja tak banyak dari buku-buku itu yang menyuguhkan esensi lain dari sekadar tips berwisata. Tentang makna dari sebuah perjalanan, misalnya. Lewat oase ukhuwah, latar sejarah kehidupan beragama, atau dinamika beribadah di daerah yang berbeda, seseorang sejatinya akan menemukan banyak sekali hikmah. Nah, Muthia Esfand bersama empat temannya kemudian mencoba menyuguhkan esensi yang berbeda itu di dalam buku ini.

The Paradise Journeys berisi 10 curhat perjalanan lima traveler muslim yang berbeda ke tempat-tempat yang berbeda pula. Mulai dari kisah penelusuran sejarah Islam di titik paling awal Indonesia oleh Muthia Esfand, dinamika keberagaman yang dirasakan oleh Akbar T. Kurniawan di daerah pelosok perbatasan Indonesia-Filipina, juga perjuangan para mahasiswa di Taiwan dalam menghidupkan denyut Islam yang dirasakan oleh Hensi Margaretta, perkembangan Islam di Amerika yang dilihat oleh Indriya R. Dani, hingga bagaimana Esti Hindrastuti merasakan Ramadhan di Singapura. Mereka mencoba mengajak pembaca untuk melihat sisi lain dari setiap daerah yang dikunjungi. Tak hanya sekadar menikmati tempat-tempat terkenal atau makanan-makanan khas, tetapi juga menemukan pemahaman yang lebih mendalam tentang kemanusiaan, persaudaraan serta semangat berislam.

Dari 10 kisah itu, saya sangat menikmati dua perjalanan Muthia Esfand di Vietnam dalam judul Ho Chi Minh City: Antara Trauma dan Bunga dan di Aceh dengan judul 29 Hari Keliling Sumatera. Selain karena belum pernah menginjakkan kaki di sana, tempat-tempat yang diceritakan juga sangat unik karena penulis menambahkan banyak informasi tentang tempat itu seperti sejarahnya, dinamika sosial masyarakat di sana, juga keindahan makna yang dibagikan oleh penulis hingga turut dirasakan oleh pembaca.

Selain itu, perjalanan Akbar T. Kurniawan ke pulau Marore dan Miangas dalam tulisannya yang berjudul Mengintip Eksotisme Pulau Terluar juga membuat saya melek. Saya baru tahu bahwa ada sebuah pulau terpencil di perbatasan Indonesia dan Filipina sana yang sulit sekali dijangkau transportasi. Bahwa ada sekelompok masyarakat yang kesulitan ekonomi dan kurang perhatian pemerintah di pulau terluar sana, hingga mau tak mau harus menggantungkan hidupnya pada perburuan dan penjualan ikan hiu yang dilindungi, juga harus menggunakan mata uang Filipina saat bertransaksi, dan terpaksa mengacuhkan mimpi untuk maju. Tetapi, di sana pula, kita akan menemukan indahnya rasa saling menghormati antar umat beragama tanpa harus mengganggu keyakinan masing-masing.

Kisah-kisah lainnya pun tak kalah bagus, yang hampir keseluruhan memberikan nilai baru bagi pembaca tentang hikmah melakukan perjalanan. Paling tidak, itu yang saya rasakan saat membaca buku ini. Mungkin karena memang saya belum pernah mengunjungi daerah yang diceritakan, sehingga itu menjadi hal baru bagi saya. Tips singkat berwisata yang diberikan juga sangat menarik, apalagi bagi mereka yang belum pernah ke sana.

Sayangnya, jumlah halaman yang sedikit untuk tiap judul sepertinya cukup membatasi penulis untuk mengeksplorasi lebih jauh esensi perjalanan yang dilakukan, sehingga rasanya ada yang kurang di beberapa tulisan. Rasanya ingin lebih lagi membaca dan mengetahui banyak hal dan makna yang bisa diambil dari perjalanan mereka selain dari apa yang sudah dituliskan. Menurut saya mungkin bisa lebih dari ini jika halamannya lebih banyak. Tapi, untuk sejenis buku antologi bersama seperti The Paradise Journeys ini, bagi saya sudah cukup untuk membuka mata dan hati saya tentang geliat Islam di daerah lain dan juga tentang makna hidup kita. Bagi para penikmat perjalanan, buku ini layak dibaca.

“Sejauh apa pun kita melangkah, kuasa dan keindahan Allah selalu dekat dengan hamba-Nya. Bagaimana pun lelahnya perjalanan yang kita lakukan, kewajiban beribadah tak sepantasnya kita lalaikan. Dan, seberagam apa pun orang-orang yang kita temui, selalu ada saudara dan teman yang akan membantu dengan ketulusan.” (sampul belakang buku)

Pin It on Pinterest

Shares
Share This