monsieur lecoqJudul: Monsieur Lecoq
Judul Asli: Monsieur Lecoq
Penulis: Emile Gaboriau
Alih Bahasa: Lylian
Penyunting: Muthia Esfand
Penerbit: Visimedia
ISBN: 979-065-143-0
Tebal: 524 hlm
Tahun terbit: Juni 2012
Cetakan: Pertama
Genre: Fiksi Detektif, Fiksi Misteri
Rating: 4/5

Terdengar suara jeritan dan tembakan dari salah satu pojok Poivriere di selatan Paris ketika Gevrol—si inspektur kepala pasukan—dan anak buahnya sedang bertugas patroli malam itu. Saat mereka mengikuti suara-suara itu, ternyata keributan tersebut berasal dari kedai minum Madame Chupin. Terlihat si janda Chupin terduduk ketakutan, dua mayat tergeletak, sesosok pria terluka parah, dan seorang pria yang sedang memegang senjata berdiri di balik meja. Pria itu mencoba melarikan diri dari pintu belakang. Namun sayang, salah seorang anak buah Gevrol berhasil menangkap pembunuh itu di bagian belakang rumah. Dialah Lecoq, yang sedari tadi mengintip lewat jendela kedai.

Pria yang terluka parah itu akhirnya meninggal. Dengan begitu, telah terjadi 3 pembunuhan malam itu. Tetapi, pria bersenjata tadi bersikeras mengatakan bahwa dirinya tidak bersalah. Ia hanya membela diri. Intuisi Lecoq mengatakan bahwa pria ini bukan dari kalangan sembarangan karena ia berusaha menyamarkan kulitnya yang putih dan terawat. Walaupun Gevrol menganggap sepele kasus ini, tapi tidak dengan Lecoq. Bersama rekannya sesama polisi bernama Bapak Absinthe, Lecoq menemukan banyak sekali jejak sepatu yang berbeda di sekitar TKP, juga sobekan mantel dan sebuah anting berlian. Ternyata, di tempat itu tadi juga ada dua orang perempuan dan seorang pria tak dikenal lainnya, mungkin kaki tangan si pembunuh?

Kasus ini semakin menarik bagi Lecoq. Ambisinya untuk memecahkan kasus tersebut menghasilkan cibiran dari mulut Gevrol yang merasa iri. Juga dari rekan-rekannya yang acap kali menertawakan imajinasi Lecoq karena menganggap hasil penyelidikan Lecoq hanyalah hayalannya belaka. Hanya Monsieur Segmuller yang sepemikiran dengan Lecoq. Monsieur Segmuller adalah hakim investigasi yang menggantikan M. d’Escorval, yang tiba-tiba mengundurkan diri dari investigasi kasus. Lecoq dan Segmuller melakukan investigasi menyeluruh yang seringnya mengalami jalan buntu. Namun Lecoq tidak putus asa. Ia kemudian melakukan penyamaran dan mengikuti si pembunuh yang melarikan diri dan berakhir di sebuah rumah megah milik seorang bangsawan. Ke mana pembunuh itu menghilang dan siapa dia sebenarnya masih menjadi misteri bagi Lecoq. Dan mengapa tiba-tiba d’Escorval mengundurkan diri? Apakah ada kaitannya dengan si pembunuh? Kasus ini tidak sesederhana anggapan orang-orang.

***

Novel Monsieur Lecoq diterbitkan pertama kali tahun 1868 di Prancis dan dianggap sebagai salah satu pionir genre novel detektif kala itu. Diramu oleh seorang penulis dengan kemampuan jurnalistik yang mumpuni, Emile Gaboriau, novel ini menjadi kental dengan detail materi dan menyuguhkan atmosfer dunia investigasi yang cukup kuat kepada pembaca. Setidaknya itulah yang saya rasakan. Hal ini tentu saja karena didukung oleh latar belakang Gaboriau yang pernah bekerja untuk seorang editor surat kabar dan penulis serial roman kriminal. Tugasnya saat itu adalah mengumpulkan materi dari pengadilan, penjara, atau kepolisian. Tentu saja ini menjadi sangat berpengaruh pada kepiawaiannya menulis novel genre detektif.

Lecoq adalah salah satu tokoh ciptaannya yang terinspirasi dari seorang polisi Prancis bernama Eugene Francois Vidocq, yaitu mantan pencuri ulung yang kemudian beralih menjadi detektif polisi. Karakter Monsieur Lecoq ini bahkan menginspirasi terciptanya tokoh fiksi detektif milik Sir Arthur Conan Doyle yang sangat kita kenal bernama Sherlock Holmes.

Di dalam dunia penelitian atau penyelidikan dikenal istilah metode deduksi, yaitu cara analisis dari kesimpulan umum yang kemudian diuraikan menjadi fakta-fakta untuk menjelaskan kesimpulan. Nah, Lecoq menggabungkan metode deduksi logis dan fakta ilmiah dalam memecahkan kasusnya di novel ini. Hal itu dapat pembaca lihat ketika Lecoq sudah memiliki teori awal tentang apa yang terjadi di TKP Madame Chupin, yang oleh Gevrol atau rekan-rekannya dianggap hayalan dan imajinasi Lecoq. Lalu berangkat dari teori itu, Lecoq mencari bukti-bukti dan fakta, serta memperkirakan langkah apa yang harus diambil berikutnya sebagai antisipasi hal-hal yang berkembang dalam kasus.

Tetapi, di dalam novel ini disinggung pula bagaimana Monsieur Tabaret, orang yang sangat cerdas dan cerdik yang dimintai nasihatnya oleh Lecoq, menguraikan sedikit metode induksi terkait siapa tokoh pembunuh yang sedang diincar Lecoq. Berkebalikan dengan deduksi, metode induksi menguraikan fakta-fakta terlebih dahulu, baru kemudian dirumuskan menjadi suatu kesimpulan. Seharusnya, dengan kombinasi kedua metode ini, Lecoq bisa mengetahui siapa orang yang dia kejar itu, bukan? Tapi sayangnya, Lecoq baru menyadari hal itu saat Tabaret menasihatinya.

Lewat novel ini, pembaca bisa belajar cara melakukan investigasi kecil-kecilan. Saya sendiri baru memahami teori metode deduksi dan induksi setelah membaca novel ini. Akhir kisah Monsieur Lecoq di buku ini membuat saya cukup gregetan karena terkesan tanggung dan semakin membuat penasaran terhadap motif si pelaku ketika terlibat dengan pembunuhan. Apa benar hanya karena membela diri? Membela diri dari apa? Apa buku ini ada kelanjutannya? Saya cukup menikmati sepak terjang Lecoq di novel ini dan berharap ada serial lanjutan lainnya yang tak kalah seru.

Selain terjemahannya yang sangat nyaman diikuti dan penataan isi yang menawan, novel ini juga memiliki satu kelebihan lain yaitu plot dan gaya penuturannya yang mengalir dan tidak kaku. Karakter-karakter tokoh di novel ini juga sangat kuat. contohnya si Lecoq yang sangat bangga pada kemampuannya menyelidiki sebuah kasus. Tetapi, di samping sikapnya yang terlalu percaya diri, Lecoq juga sangat cerdas dan pintar menyamar tanpa diketahui siapa pun. Ada juga May si tersangka pembunuhan yang tidak diketahui identitasnya itu, yang sangat lihai mengecoh hakim dan Lecoq. Ah, ada banyak karakter unik yang diciptakan Gaboriau.

Hanya satu hal yang agak mengganjal bagi saya, yakni desain sampulnya. Ilustrasi seorang lelaki (mungkin Lecoq) dan ribbon ‘keren’ di sampul buku ini agak janggal dan cukup mengganggu, sehingga kurang menyatu dengan latar bangunan di belakangnya yang sudah pas sekali dan memberi aksen klasik. Mungkin kalau grafis orangnya dihilangkan atau diganti dengan grafis pria yang lebih menyatu dengan latar, sampulnya jadi lebih sedap dipandang. Tapi, yah, selera orang berbeda-beda.

Kiprah detektif amatir dalam novel Monsieur Lecoq ini bukan hanya sangat menegangkan, tetapi juga seru dan mengasyikkan. Menurut saya, seseorang yang awam tentang dunia investigasi seperti saya, tetapi bisa ikut menjelajahi bagaimana investigasi dilakukan, bagaimana memandang fakta dan logika, bagaimana menerka-nerka hubungan antar tokoh dan kejadian, serta bagaimana mengambil kesimpulan dan ikut menelusuri investigasi bersama Lecoq, adalah salah satu indikasi keberhasilan novel ini. Bagi penyuka novel detektif, tampaknya akan menyukai Lecoq pula. Sangat menyenangkan berpetualang bersama Lecoq!

“Semakin cepat sebuah tindak kriminal ditelusuri, semakin mudah untuk menemukan pelakunya dan membuktikan kejahatannya. Semakin lama sebuah investigasi berjalan, semakin sulit untuk mendapatkan bukti yang konklusif.” (halaman 343)

Pin It on Pinterest

Shares
Share This