inferno dan brownJudul: Inferno
Penulis: Dan Brown
Alih Bahasa: Ingrid Dwijani Nimpoeno dan Berliani Mantili Nugrahani
Penerbit: Bentang
ISBN: 978-602-7888-54-8
Tebal: 644 hlm
Tahun terbit: September 2013
Cetakan: pertama
Genre: Thriller
Rating: 4/5

“Umat manusia, jika tak terkendali, berfungsi seperti wabah, seperti kanker … jumlah kita meningkat pada setiap generasi hingga kenyamanan duniawi yang pernah menyehatkan hidup dan persaudaraan kita menyusut sampai habis … mengungkapkan monster-monster di dalam diri kita … yang bertempur hingga mati untuk memberi makan keturunan kita” (halaman 205)

Kata-kata itulah yang keluar dari mulut seorang ilmuwan fanatik. Ia terobsesi untuk melakukan tindakan ekstrem berdasarkan puisi Inferno karya Dante Alighieri. Sebelum bunuh diri, ia meninggalkan ciptaan genetisnya di suatu tempat untuk mengancam kelangsungan hidup umat manusia. Robert Langdon, yang memegang stempel kuno berisi kode rahasia lokasi benda berbahaya itu, harus berpacu dengan waktu untuk memecahkan teka-teki misterius Dante yang sudah dimodifikasi sang ilmuwan. Sayangnya, Profesor Langdon kehilangan ingatan jangka pendeknya. Ia terbangun di sebuah rumah sakit, di tengah malam buta dan, betapa terkejutnya Robert saat mengetahui bahwa ia kini berada di Florence. Ia bahkan tidak ingat bagaimana dan mengapa ia sampai di sana. Lalu tiba-tiba kekacauan terjadi. Seseorang datang untuk membunuhnya. Dokter yang merawatnya tertembak mati, tepat di depan matanya.

Robert berhasil meloloskan diri berkat bantuan Sienna Brooks, seorang dokter muda dan cerdas yang juga ikut membantu merawatnya. Bersama Sienna dalam pelarian, Robert menyadari walau samar-samar bahwa ia harus memecahkan kode itu. Bayang-bayang seorang wanita berambut perak berlatar sungai darah dan mayat yang bergelimpangan terus terlintas di mimpi dan ingatan Robert. Siapa perempuan itu? Mengapa ia selalu hadir dalam pikirannya? Mendadak mereka kemudian dikejutkan oleh tentara berseragam hitam-hitam yang juga berusaha menangkap dan menembaki mereka.

Apa sebenarnya yang terjadi? Siapa tentara berseragam hitam itu? Di mana ciptaan ilmuwan genetika itu disembunyikan? Belum lagi semua pertanyaan itu terjawab, Robert dan Sienna mau tak mau harus terus melanjutkan pencarian mereka mengikuti petunjuk Dante dan topeng kematian, dari Italia hingga Turki. Mereka tidak ingin bertaruh dan gagal. Jika benar benda itu adalah virus, maka dunia benar-benar terancam bahaya. Dengan terus diintai dan diikuti oleh kejaran tentara berseragam hitam dan, tentu saja, seseorang yang hendak membunuh Robert di rumah sakit, Robert dan Sienna mengalami hari yang mencengangkan. Bagaimana akhir pencarian mereka? Berhasilkah mereka mencegah benda yang diduga virus itu menyebar?

Benar-benar penuh kejutan! Saya sama sekali tidak bisa menebak jalan ceritanya dan bahkan sempat tertipu. Meskipun beberapa hal bisa dengan mudah saya terka-terka, namun tetap saja Dan Brown berhasil menipu saya di Inferno ini.

Kelebihan novel Inferno ini ada pada plot cerita yang melompat-lompat. Terkadang kita dibawa ke masa lalu dalam bentuk ingatan, lalu ke masa kini dan sesekali ke masa depan, membayangkan apa jadinya dunia ini nanti. Namun, perubahan plot itu terasa sangat halus sekali, hampir tidak ada perbedaan mencolok antar plotnya. Dan Brown membuat ceritanya begitu mengalir. Selain itu, nilai sejarah, seni dan filosofi novel ini pun begitu kental. Ada banyak informasi berharga yang bisa diperoleh di dalamnya, seperti tempat-tempat bersejarah, kisah-kisah masa lampau, juga pandangan manusia terhadap kondisi dunia ini.

Salah satu pesan yang melintas di benak saya selepas membaca novel ini adalah ucapan sang ilmuwan, “Umat manusia, jika tak terkendali, berfungsi seperti wabah, seperti kanker.” Bisa jadi dia benar, bisa juga tidak. Kata ‘terkendali’ agaknya perlu dikaji lebih luas. Saya setuju, jika manusia tidak mampu mengendalikan dirinya, hawa nafsunya, budaya konsumtifnya, moralnya, tentu saja jumlah yang banyak ini hanya akan mendatangkan kekacauan. Namun jika manusia mampu mengendalikan diri, menjaga keseimbangan alam, saya rasa apa yang dicemaskan banyak orang mungkin bisa diminimalisir. Alam punya caranya tersendiri untuk bertahan.

“Keputusan masa lalu kita adalah arsitek masa kini kita.” (halaman 36)

Yang paling saya suka dari novel ini adalah hasil terjemahannya yang sangat enak dibaca. Begitu nyaman dan tidak kaku sama sekali, seakan novel ini ditulis oleh orang Indonesia saja. Dua jempol untuk penerjemah dan penyuntingnya. Pun begitu dengan desain sampulnya yang menawan, penuh kesan misterius.

Saat mengetahui terjemahan buku terbarunya Dan Brown ini sudah terbit, saya langsung merasa tertarik untuk memperolehnya. Dan Brown adalah salah satu penulis novel favorit saya sejak lama. Alasannya sederhana. Saya termasuk tipikal penyuka cerita yang penuh kejutan dan meletup-letup. Entah itu letupan ketegangan, kesedihan, empati, asalkan membuat saya terpesona, saya suka. Karya-karya Dan Brown, meskipun bagi sebagian orang dianggap klise, memiliki kesan action tersendiri dan memuat begitu banyak wawasan baru yang belum saya ketahui. Dan Brown, seperti yang sudah saya duga sebelumnya, kembali berhasil mengejutkan saya di novel Inferno-nya ini, bahkan lebih, jika dibandingkan dengan The Da Vinci Code atau Malaikat & Iblis, sebab di Inferno, ceritanya tidak mudah ditebak.

Hal yang kurang lengkap menurut saya hanyalah dokumentasinya. Sangat disayangkan ketika mengetahui novel ini tidak dilengkapi dengan foto-foto benda atau tempat yang ada di cerita, kecuali ilustrasi simbol-simbol yang disebutkan. Baiklah, tak apa. Mungkin harapan itu bisa terwujud bila penerbitnya mencetak edisi bergambar dan berwarna. Lebih memuaskan rasanya. *Padahal tadinya, sih, maksud saya supaya lebih hemat. Kalau ada edisi berwarnanya langsung, ‘kan, tak perlu lagi beli edisi biasa. Hihihi…modus 😛

Secara keseluruhan, saya tidak merasa rugi membeli edisi hardcover Inferno dengan mengeluarkan kocek yang lumayan. Rasanya setimpal. Bagaimana dengan Anda?

***

Beberapa poin menarik yang saya jumpai

  • Ungkapan hati Langdon terkait e-book saat harus mencari Canto 25 di naskah digital The Divine Comedy.”

    Aku harus berhenti menjadi maniak fanatik buku bersampul kulit, dia mengingatkan diri sendiri. E-book memang punya momennya sendiri.” (hal. 319)

  • Kilasan sejarah wabah hitam di Venesia, yang kemudian menerapkan dekrit agar setiap kapal yang masuk harus berlabuh di lepas pantai selama empat puluh hari sebelum diizinkan membongkar muatan.

    “Hingga hari ini, angka empat puluh–quaranta dalam bahasa Italia–berfungsi sebagai pengingat muram asal kata quarantine, karantina.” (hal. 423)

  • Tentang beberapa jenis virus.

    “Virus Ebola mengganggu kemampuan darah untuk mengentalkan diri, sehingga terjadi pendarahan di dalam tubuh yang tidak bisa dihentikan. Hantavirus memicu kegagalan fungsi paru-paru. Sekelompok virus yang dikenal dengan nama oncovirus menyebabkan kanker. Dan virus HIV menyerang sistem kekebalan, menyebabkan penyakit AIDS.” (hal. 601)

Istilah-istilah baru bagi saya

  • Eklektik (hal. 416)
    Dalam novel ini, kata eklektik mengacu pada konteks arsitektur. Mengutip dari Kompas.com,

    Gaya eklektik muncul pada awal abad ke-20. Pada masa itu, rumah adalah simbol kekayaan dan kemakmuran. Semakin mewah isi rumah, semakin tinggi derajat kebangsawanan seseorang untuk diakui.

    Secara estetika, gaya ini lebih berkaca pada gaya masa lampau ketimbang pada masa depan. Tak heran, di dalamnya terdapat berbagai unsur arsitektur seperti gothic, rococo, dan victorian.

    Namun, eklektik juga menjadi simbol romantisme dalam arsitektur karena di dalamnya terdapat beragam detail yang penuh cerita sejarah. Maksimalis, begitulah kata lain untuk eklektik.

  • Fasad (hal. 423)

Pin It on Pinterest

Shares
Share This