Para produsen buku bajakan zaman sekarang semakin pintar mengemas buku dagangannya. Kalau dulu, kita akan dengan mudah mengenali mana buku bajakan dan mana yang bukan karena kualitas sampulnya yang sangat jauh berbeda langsung terlihat jelas. Namun sekarang, sampul buku bajakan sudah sangat bagus sejalan dengan teknologi dan pengetahuan orang-orang yang semakin meningkat, hampir persis seperti aslinya, baik dari segi pewarnaan maupun kualitas fotokopi. Ditambah lagi plastik segel yang mengemas buku bajakan dengan sangat rapi persis seperti di toko buku. Hal ini cukup menyulitkan konsumen untuk mengenali sebuah buku bajakan.

Meskipun begitu, tak ada gading yang tak retak. Kita tetap bisa mengenali buku bajakan dengan berusaha melihat ciri-ciri seperti poin-poin berikut ini:

Buku Populer
Yang sering dibajak biasanya buku-buku laris dan populer (best seller), baik lokal maupun terjemahan, seperti buku-buku Andrea Hirata, Oky Setiana Dewi, Yusuf Mansur, Tere Liye, Agatha Christie, Maze Runner, Teenlit, dsb. Banyak sekali variasinya saat ini.

Sampul Cacat
Periksa sampulnya. Buku bajakan biasanya dibuat melalui fotokopi. Sampul fotokopi ini umumnya memiliki kualitas di bawah sampul cetak. Jadi, periksa apakah ilustrasi atau tulisan pada sampulnya berbayang, ada sedikit blur atau samar, warnanya terlalu tebal, terlalu kontras, dan cacat atau keanehan lainnya. Umumnya juga sampul akan terasa tidak licin karena kertas yang digunakan berbeda. Mungkin bagi pemula awalnya cukup sulit membedakan ini, tetapi akan semakin kita pahami sejalan seringnya kita bergaul dengan buku-buku.

 

Contoh sampul buku bajakan yang warna dan tulisannya cacat.

 

Contoh sampul buku bajakan yang kualitasnya cukup bagus.

 

Jilid Tak Rapi
Periksa lem jilidnya. Buku bajakan biasanya menggunakan lem yang minim agar biaya produksi lebih murah sehingga hasil jilidannya terlihat sedikit kurang kokoh. Terkadang ada yang dijilid menggunakan steples dan ditutupi dengan lem yang minim. Punggung buku juga sering tidak rapi seperti hasil lemnya bergelombang, bergelembung, dan lain sebagainya.

 

Contoh jilid buku bajakan. Lemnya seadanya.

 

Ini jilid buku asli. Cukup bagus, ‘kan? Bedakan dengan yang bajakan.

 

Bagian dalam jilidan buku bajakan, kurang kokoh.

 

Kualitas Kertas, Tulisan dan Tata Letak Jelek
Periksa halaman dalamnya. Kualitas buku bajakan jauh di bawah kualitas buku original yang dicetak. Umumnya kertas yang digunakan adalah kertas ubi untuk menggantikan kertas jenis bookpaper kuning dari buku aslinya. Ada juga yang menggunakan kertas HVS berwarna putih. Dari segi isi, biasanya kita akan menemukan tata letak yang miring-miring atau warna font yang tidak merata dan kabur. Ini biasanya diakibatkan kualitas fotokopi yang kurang bagus. Bisa juga margin yang tidak sama rata.

 

Contoh halaman buku bajakan. Tata letaknya miring, tidak lurus, juga warnanya sedikit pudar. Ini menggunakan kertas ubi.

 

Contoh halaman dalam buku bajakan yang kualitasnya cukup bagus dan menggunakan kertas HVS.

 

Harga Terlalu Murah
Buku bajakan biasanya dijual separuh harga dari aslinya. Poin ini bisa juga dijadikan pertimbangan untuk menganalisa buku bajakan.

Tapi, jangan salah juga. Di lapak buku bekas dan murah, banyak juga buku asli yang dijual dengan harga jatuh bebas. Biasanya ini buku-buku hasil cuci gudang penerbit yang memang sudah masuk obralan. Jadi tak selalu buku murah itu bajakan. Saya pribadi selalu membeli buku murah separuh harga tapi asli. Ya di lapak-lapak buku bekas juga, banyak tersedia. Jadi balik ke poin sebelumnya saja untuk mengecek keaslian buku.

***

Selain poin-poin di atas, intuisi juga berperan penting dalam memilih buku. Jadi, sering-seringlah ke lapak buku bekas. Nanti kamu dengan sendirinya akan bisa membedakan mana buku asli dan mana buku bajakan seiring jam terbang perburuan buku yang semakin tinggi. *halah

Selamat berburu buku! Jangan lewatkan tips membeli buku di halaman ini.