kredit: freepik.com

kredit: freepik.com

Kebanyakan orang umumnya menganggap bahwa buku anak ya untuk anak-anak, dibaca oleh anak-anak saja, sehingga ketika seseorang yang sudah dewasa membacanya cenderung dianggap kekanak-kanakan. Ini adalah stereotip yang terbentuk di masyarakat. Nyatanya, ada begitu banyak orang dewasa yang menyukai dan membaca buku anak, entah itu novel, novel grafis, komik atau jenis buku lainnya, termasuk saya.

Mengapa saya suka buku anak? Ada 5 alasan utama.

1. Membebaskan

Membaca buku anak itu membebaskan. Bebas dari berpikir rumit, bebas dari usia yang semakin bertambah, dan salah satu cara untuk mengistirahatkan diri dari aktivitas orang dewasa. Entah kenapa, setiap kali saya membaca novel anak, rasanya begitu ringan dan lapang. Plong. Menyenangkan. Kita seakan terbebas dari segala sesuatu yang mengikat kita di realita. Mungkin juga karena satu kaki saya masih berpijak di dunia anak-anak dan enggan beranjak dewasa sepenuhnya, sejujurnya 😀

2. Banyak Pesan Moral

Buku anak yang bagus, tak dinafikkan lagi, pasti akan mengandung nilai-nilai dan pesan moral kebaikan. Kalau ada buku anak yang mengajarkan kejelekan, menurut saya itu bukan buku anak, dibuang saja ke tong sampah #ekstrem 😀 Pesan moral ini belum tentu bisa kita tangkap 100% ketika kita membacanya saat masih kecil. Sebagian novel anak yang saya baca ketika kecil justru lebih bisa saya pahami ketika saya baca ulang setelah dewasa. Dan itu rasanya lebih menyenangkan.

3. Tipis dan Ringan

Umumnya buku anak itu tipis, bisa dibaca sekali duduk. Kalaupun ada yang tebal seperti beberapa novel anak, topiknya ringan dan tetap enjoyable. Dan topik-topik ini banyak yang seru, mengasyikkan dan membuat kita meletup-letup bersemangat.

4. Aman

Iya, rata-rata buku anak itu aman untuk semua usia. Saya tidak perlu khawatir menemukan adegan-adegan vulgar atau yang bikin kurang nyaman seperti pada sebagian buku-buku dewasa. Ini membuat kegiatan membaca jadi lebih menyenangkan hehe.

5. Bisa Diwariskan

Buku anak, sampai kapanpun, bisa diwariskan sampai ke anak cucu. Bisa untuk dibaca oleh anak-anak manapun yang mengenal buku kita. Bisa dibaca oleh orangtua manapun yang menemukannya, menceritakan ulang dan meneruskannya kembali ke anak cucu mereka. Betapa mengasyikkan!

***

Lima alasan utama inilah yang membuat saya sampai sekarang tetap menyukai buku anak. Saya mengoleksi banyak sekali fiksi dan nonfiksi untuk anak meskipun saya belum memiliki anak. Diantaranya seperti buku-bukunya Enid Blyton, Jacqueline Wilson, novel anak klasik, dongeng bergambar, kisah para nabi untuk anak, dan masih banyak lagi. Jika orang lain mengunjungi toko buku bersama anaknya untuk membelikan buku bagi mereka, saya justru betah di bagian rak buku anak karena untuk membeli buku saya pribadi 😛

Kalau ada yang bilang saya kekanak-kanakan karena membaca dan mengoleksi buku anak, tak apa, saya tidak peduli. Selama saya merasa gembira, mengapa harus pusing memikirkan perkataan orang lain? Nah, bagaimana dengan Anda, adakah alasan selain di atas?

Catatan: Tadinya mau mengulas buku anak untuk event posbar BBI April 2016 ini dengan tema #BBIChildrenBooks, tapi kelupaan, jadi tidak terkejar waktunya. Ya sudah, saya posting ini saja hehe.

Banner Posbar 2016

Pin It on Pinterest

Shares
Share This