Isra` Mi'rajJudul: Isra’ Mi’raj
Judul Asli: Al Isra’ wa Al Mi’raj
Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani dan Imam as-Suyuthi
Alih Bahasa: Arya Noor Amarsyah
Penerbit: Qisthi Press
ISBN: 978-979-1303-29-3
Tebal: 200 hlm
Tahun terbit: Juli 2010
Cetakan: Kedua belas
Genre: Agama Islam, Aqidah
Rating: 3/5

Ada banyak informasi yang beredar di kalangan umat Islam terkait peristiwa Isra’ Mi’raj yang dialami Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Ada yang beranggapan bahwa nabi mengalaminya saat tidur alias berupa mimpi. Ada pula yang beranggapan sebaliknya, bahwa nabi mengalaminya saat terjaga. Bahkan, ada juga yang beranggapan bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj terjadi pada hari yang berlainan. Sebenarnya mana yang lebih dekat kepada informasi yang shahih?

Anggapan tersebut memang muncul bukanlah tanpa dasar. Terkait Isra’ Mi’raj ini, memang ada banyak sekali pendapat para ulama berdasarkan hadits-hadits dan atsar yang ada, baik itu hadits shahih, hasan, maupun yang derajatnya di bawah itu seperti hadits dhaif dan gharib. Dan informasi-informasi tersebut bisa kita dapatkan dari buku Isra’ Mi’raj yang ditulis oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dan Imam as-Suyuthi ini.

Buku ini sebenarnya adalah terjemahan dua kitab klasik yang dijadikan satu, yang ditahqiq oleh Abu Abdullah al-Qadhi. Buku pertama adalah karya Imam as-Suyuthi yang berjudul al-Ayah al-Kubra fi Syarh Qishshah al-Isra’, sedangkan buku kedua adalah buku Syarh hadits karya Ibnu Hajar al-Asqalani sebagai pelengkap untuk penjelasan hadits-hadits pendukung. Buku ini dibagi menjadi dua bagian dan disertai lampiran berisi hadits-hadits terkait Isra’ Mi’raj.

Tentu kita sudah sangat familiar dengan hadits-hadits yang sangat panjang tentang peristiwa Isra’ Mi’raj. Di antara hadits-hadits tersebut, ada satu hadits shahih yang paling kuat dan bebas dari segala perselisihan, yaitu:

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya , dari sahabat Anas bin Malik :Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Didatangkan kepadaku Buraaq – yaitu yaitu hewan putih yang panjang, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dia meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya (maksudnya langkahnya sejauh pandangannya). Maka sayapun menungganginya sampai tiba di Baitul Maqdis, lalu saya mengikatnya di tempat yang digunakan untuk mengikat tunggangan para Nabi. Kemudian saya masuk ke masjid dan shalat 2 rakaat kemudian keluar . Kemudian datang kepadaku Jibril ‘alaihis salaam dengan membawa bejana berisi khamar dan bejana berisi air susu. Aku memilih bejana yang berisi air susu. Jibril kemudian berkata : “ Engkau telah memilih (yang sesuai) fitrah”.

Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit (pertama) dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Adam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian kami naik ke langit kedua, lalu Jibril ‘alaihis salaam meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi:“Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kedua) dan saya bertemu dengan Nabi ‘Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariya shallawatullahi ‘alaihimaa, Beliau berdua menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit ketiga dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketiga) dan saya bertemu dengan Yusuf ‘alaihis salaam yang beliau telah diberi separuh dari kebagusan(wajah). Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit keempat dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab: “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit keempat) dan saya bertemu dengan Idris alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Allah berfirman yang artinya : “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi” (Maryam:57).

Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit kelima dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kelima) dan saya bertemu dengan Harun ‘alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit keenam dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Musa. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit ketujuh dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab, “Muhammad” Dikatakan, “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab, “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketujuh) dan saya bertemu dengan Ibrahim. Beliau sedang menyandarkan punggunya ke Baitul Ma’muur. Setiap hari masuk ke Baitul Ma’muur tujuh puluh ribu malaikat yang tidak kembali lagi. Kemudian Ibrahim pergi bersamaku ke Sidratul Muntaha. Ternyata daun-daunnya seperti telinga-telinga gajah dan buahnya seperti tempayan besar. Tatkala dia diliputi oleh perintah Allah, diapun berubah sehingga tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang sanggup mengambarkan keindahannya

Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Allah mewajibkan kepadaku 50 shalat sehari semalam. Kemudian saya turun menemui Musa ’alaihis salam. Lalu dia bertanya: “Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas ummatmu?”. Saya menjawab: “50 shalat”. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya. Sesungguhnya saya telah menguji dan mencoba Bani Isra`il”. Beliau bersabda :“Maka sayapun kembali kepada Tuhanku seraya berkata: “Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk ummatku”. Maka dikurangi dariku 5 shalat. Kemudian saya kembali kepada Musa dan berkata: “Allah mengurangi untukku 5 shalat”. Dia berkata:“Sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka terus menerus saya pulang balik antara Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala dan Musa ‘alaihis salaam, sampai pada akhirnya Allah berfirman:“Wahai Muhammad, sesungguhnya ini adalah 5 shalat sehari semalam, setiap shalat (pahalanya) 10, maka semuanya 50 shalat. Barangsiapa yang meniatkan kejelekan lalu dia tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis (dosa baginya) sedikitpun. Jika dia mengerjakannya, maka ditulis(baginya) satu kejelekan”. Kemudian saya turun sampai saya bertemu dengan Musa’alaihis salaam seraya aku ceritakan hal ini kepadanya. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”, maka sayapun berkata: “Sungguh saya telah kembali kepada Tuhanku sampai sayapun malu kepada-Nya”. (H.R Muslim 162)

Buku ini memang tipis dan terkesan ringan, tetapi bagi orang awam seperti saya, membaca isinya memang agak cukup sulit dikarenakan cukup kompleksnya pembahasan hadits dan pendapat yang berbeda. Isi buku ini juga lebih banyak mengupas tentang hadits-hadits yang berkaitan dengan Isra’ Mi’raj dan berbagai perbedaan pendapat yang muncul terkait peristiwa besar ini. Terkadang ada hadits yang saling bertolak belakang, terkadang ada yang saling melengkapi. Menurut saya, buku Isra’ Mi’raj ini lebih cocok untuk mereka yang memiliki kapasitas ilmu agama yang lebih dibandingkan untuk orang awam seperti saya.

Meskipun demikian, buku ini bukan berarti tidak bagus. Awal niat saya ingin membaca buku ini adalah karena saya ingin mengetahui bagaimana sebenarnya informasi yang tepat, sebab setiap tahunnya selalu saja banyak perdebatan di kalangan umat Islam mengenai tanggal Isra’ Mi’raj, bagaimana proses Isra’ dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis, dan lain sebagainya. Tetapi setelah membacanya, alhamdulillah, saya mendapatkan banyak sekali hikmah dan pencerahan tentang sikap kita sebagai muslim terhadap peristiwa Isra’ Mi’raj ini. Benar memang bahwa tidak ada satu pun dalil pasti yang menjelaskan kapan atau tanggal dan bulan berapa secara pasti peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi. Juga tidak ada dalil khusus yang menjelaskan secara gamblang proses peristiwa ini, misalnya seperti apakah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melihat Allah Ta’ala secara langsung dengan mata beliau, atau apakah nabi-nabi yang ditemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berupa jasad utuh atau hanya ruhnya saja, dan hal-hal lainnya yang sering muncul menjadi tema sentral bagi sebagian kalangan.

Berdasarkan hadits panjang di atas, seorang muslim sejatinya sudah cukup bisa memahami dan meyakini bagaimana Isra’ Mi’raj itu tanpa perlu berselisih tentang hal-hal yang tidak dijelaskan secara detail dan valid seperti kapan waktunya, bagaimana proses detailnya, atau hal-hal lainnya yang merupakan perkara ghaib.

Di dalam buku ini disebutkan bahwa,

Dalam buku al-Mufahham, Qurthubi memilih untuk berhenti berdebat mengenai persoalan ini seraya menyatakan bahwa banyak muhaqqiq (peneliti hadits) juga bersikap sama. Dia menegaskan bahwa tidak ada dalil yang qath’i (pasti) dalam persoalan ini dan semua dalil yang disajikan oleh kedua kubu saling bertolak belakang dan sama-sama multitafsir.

Qurthubi berkata, “Masalah ini tidak termasuk kategori amal (syariat) yang cukup dilandasi dengan dalil-dalil yang bersifat zhanni (tidak pasti), melainkan termasuk kategori keyakinan (aqidah). Sementara kesimpulan yang berkaitan dengan akidah hanya boleh dilandasi oleh dalil-dalil yang qath’i (pasti) saja.” – halaman 168

Bagi seorang muslim, mengimani perkara yang ghaib merupakan salah satu dari rukun iman yang sangat penting. Kita hanya perlu menerima berita itu seperti apa adanya, tidak memikirkan terlalu jauh hal-hal yang tidak dijelaskan, dan mengimani kebenaran tersebut dengan sikap taat dan patuh, juga tidak menolaknya. Inilah sikap yang lebih utama.

Silakan dibaca juga artikel terkait Isra’ Mi’raj yang sangat bagus dan lengkap di website Muslim.or.id sebagai pelengkap ulasan saya atas buku Isra’ Mi’raj ini. Semoga Allah Ta’ala memberikan karunia kepada kita berupa ilmu yang bermanfaat dalam mempelajari aqidah diinul Islam ini dengan bersih dan benar.

==========
Dalam rangka pengembangan perpustakaan kami, kami juga membuka divisi usaha berupa toko buku online di Toko Buku Pustaka Hanan. Apabila rekan-rekan sedang mencari buku ini atau buku Islam lainnya, bisa menghubungi kami.

Pin It on Pinterest

Shares
Share This