Antara Bacaan Anak dan Bimbingan OrangtuaSebagai orang yang belum memiliki anak, agaknya membicarakan topik seputar pendidikan atau bacaan anak dirasa kurang afdol bagi saya. Tetapi, sebagai penyuka genre buku anak, banyak membaca buku anak membuat saya merasa perlu untuk menuangkan pemikiran saya tentang hal-hal yang berkaitan dengan bacaan anak-anak.

Kita tidak bisa mengacuhkan bahwa orangtua merupakan faktor utama bagi pendidikan anak-anak sebelum mereka memasuki lingkungan luar. Apalagi kebanyakan anak zaman sekarang memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Anak-anak merupakan perekam ulung yang dengan mudah mengikuti apa saja yang ia lihat dan dengar, termasuk di dalamnya bacaan.

Kita tahulah bahwa sebagian besar orangtua di Indonesia memang merasa tidak terlalu penting bagi si anak untuk membaca buku. Dengan kata lain, mereka masih belum melek bacaan. Ada banyak faktor yang menyebabkan kondisi ini, misalnya faktor ekonomi, pendidikan, kurangnya informasi, dan sebagainya. Yang lebih membuat kita sedih adalah para orangtua yang sudah peduli dengan aktivitas membaca, namun tak banyak dari mereka yang memerhatikan apa yang dibaca anaknya. Umumnya kalau sudah melihat anaknya memegang buku dan membaca dengan tekun, para orangtua sudah merasa aman dan senang, bahwa ternyata anaknya rajin membaca dan belajar. Tak banyak yang mau memerhatikan atau menyeleksi bacaan anaknya secara selektif atau sekadar menemani anak mereka membaca sebuah buku.

“Any book that helps a child to form a habit of reading, to make reading one of his needs, is good for him.” — Maya Angelou

Kita tentu familiar dengan kutipan di atas. Memang benar, buku apa saja adalah bagus untuk membentuk kebiasaan membaca anak. Tetapi, menurut saya, selain kebiasaan membaca, para orangtua juga perlu memerhatikan kualitas bacaan si anak demi perkembangan moralnya. Tidak semua buku bisa sesuai untuk membentuk kebiasaan baik anak-anak. Nyatanya, cukup banyak buku anak zaman sekarang yang isinya tidak selalu cocok untuk anak-anak. Dan tidak selalu buku bergenre anak itu bisa dilepas ke anak seratus persen tanpa bimbingan orangtua. Seperti halnya film, buku atau bahan bacaan pun membutuhkan bimbingan. Maka memilih buku yang tepat untuk anak adalah hal mutlak yang harus dilakukan para orangtua. Berikut ini adalah beberapa isu menarik yang saya temui di buku anak dan menurut saya perlu menjadi perhatian orangtua terhadap bacaan anaknya.

Umpatan, olokan dan kata-kata kotor atau kasar

Di beberapa buku genre anak yang saya baca, terutama buku terjemahan, masih terdapat kata atau kalimat berupa umpatan seperti brengsek, keparat, dan lain-lain. Contohnya seperti di buku Mr. Fox yang Fantastis karya Roald Dahl yang mengandung kata-kata umpatan. Atau olokan dan ejekan seperti di buku The Suitcase Kid karya Jacqueline Wilson ketika Andy menjuluki ayah tirinya dengan sebutan Bill si Babun karena fisiknya yang tinggi besar. Hal-hal seperti ini memang terlihat sepele bagi pembaca dewasa karena tentunya orang dewasa sudah mampu membedakan mana kata-kata yang perlu diambil, mana yang tidak. Tetapi bagi anak-anak, olokan atau umpatan seperti ini akan mudah diserap dan tanpa sadar teraplikasikan di kehidupannya sehari-hari. Bimbingan orangtua saat membaca menjadi sebuah prioritas agar bisa menjelaskan bahwa kata-kata seperti itu tidak baik dan sebagainya.

Adegan atau gambar tidak senonoh

Gambar tidak senonoh? Iya, ada! Di beberapa buku anak saya temukan gambar atau adegan tidak senonoh seperti di buku cerita Garfield. Tahu si kucing gendut berbulu kuning itu ‘kan? Umumnya buku-buku Garfield versi standar itu bebas dari adegan tak senonoh. Hanya saja, versi buku Garfield ini ada banyak. Nah, di satu dua versi buku besar, ternyata isinya lebih cocok untuk pembaca dewasa karena berisi gambar-gambar yang kurang pantas seperti wanita berbikini yang bagian-bagian tubuh tertentunya lebih ditonjolkan, atau adegan ciuman si tokoh, atau adegan Garfield yang sedang melihat wanita seksi. Gambar seperti ini tentu tidak layak dikonsumsi anak-anak. Kita cenderung menyama ratakan buku-buku yang bersampul kartun otomatis sudah pasti buku anak, padahal belum tentu. Bagaimana jika anak Anda membaca buku seperti itu tanpa didampingi? Di sinilah peran orangtua sebagai penyeleksi buku memiliki andil besar. Jika di awal para orangtua terlewatkan untuk menyeleksi buku bagi anaknya, maka mendampingi mereka saat membaca merupakan kesempatan kedua bagi orangtua untuk mencegah hal-hal yang tidak diharapkan bagi perkembangan si anak.

Berbohong dan adegan kekerasan

Sebagian buku cerita anak juga ada yang adegannya mengandung unsur kekerasan yang kadang-kadang dijelaskan secara detail sehingga memberi kemungkinan ide bagi pembaca anak untuk meniru. Ada juga buku yang tanpa sadar mengajarkan anak-anak berbohong. Misalnya ketika si tokoh yang seorang anak kecil memecahkan gelas di dapur, lalu karena takut ketahuan, ia berbohong pada ibunya. Hal seperti ini sebenarnya tidak apa-apa jika kemudian alur ceritanya memberikan penjelasan juga bahwa perbuatan tersebut tidak benar. Sayangnya, di beberapa buku, hal seperti itu luput dari perhatian penulis. Kebohongan si tokoh hanya menjadi sebatas cerita saja tanpa ada pesan moral yang disampaikan baik langsung ataupun tidak langsung. Nah, di sinilah peran bimbingan orangtua juga berpengaruh untuk menjelaskan. Jika tidak, anak-anak akan menganggap bahwa berbohong adalah sesuatu yang biasa.

Dunia peri dan magis lainnya

Buku dongeng anak dengan topik fairy tale atau fantasi memang cukup banyak beredar. Dan bagi sebagian orang, topik ini bukanlah sesuatu yang perlu perhatian serius dan dianggap wajar-wajar saja. “Namanya juga dongeng,” mungkin begitulah kira-kira tanggapan kita. Tetapi, bagi orangtua yang ingin menerapkan konsep agama yang benar bagi anaknya, topik seperti ini tentu saja akan menjadi sebuah tantangan yang cukup serius. Imajinasi anak-anak itu luas. Apalagi anak-anak sangat mudah merekam dan meniru apa yang dibacanya. Misalnya saja cerita tentang dunia peri yang bisa mengabulkan segala permintaan sahabat manusianya. Jika tidak ada penjelasan atau bimbingan dari orangtua, anak-anak akan dengan mudah meminta atau berdoa kepada peri ketimbang kepada Tuhan yang menciptakannya. Saya yakin, agama apapun itu pasti tidak akan sepakat dengan konsep seperti ini. Setiap agama mengajarkan untuk meminta atau berdoa kepada Tuhannya, bukan kepada yang lain. Betul ‘kan?

Masih ada banyak lagi contoh kasus atau wacana di buku anak yang cukup rentan memengaruhi perkembangan jiwa anak. Beberapa contoh di atas hanyalah sebagian kecil saja di antaranya. Jika para orangtua jeli memilih buku bagi anaknya, saya yakin hal-hal seperti di atas bisa diatasi lebih awal.

Menemani anak membaca sebenarnya memiliki beberapa keuntungan. Pertama, orangtua jadi lebih dekat dengan anak mereka karena akan menjadi waktu emas bagi anak ketika orangtuanya sibuk kerja seharian. Kedua, orangtua bisa memberikan penjelasan tentang apa yang dibacanya sehingga si anak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kegiatan ini tentunya akan semakin memberikan informasi baru bagi orangtua tentang perkembangan anak. Anak-anak juga akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih bijaksana dan kaya pengetahuan, mampu membedakan antara benar dan salah. Tidakkah hal seperti ini membuat orangtua bahagia? Jadi, ayo, mulai sekarang, dampingi anak Anda membaca 🙂

“The more that you read, the more things you will know. The more you learn, the more places you’ll go.” — Dr. Seuss

——————–***——————–

Children & Young Adult’s Literature Talks Blog Tour

Kamis (2/4):

Jum’at (3/4):

Sabtu (4/4):

Minggu (5/4):

Senin (6/4):

Selasa (7/4):

Rabu (8/4):

  • Orinthia’s Bookshelf: As Real As It Can Be (YA)
  • Ketimbun Buku: [Children’s Famous Series] Miiko (CL)

Kamis (9/4):

  • Bacaan B. Zee: Let’s Talk About Children’s Classic (CL)

Jum’at (10/4):

  • Faraziyya’s Bookshelf: Mental Health Issue in Young Adults
  • Carpe Noctem: Learning to Cope With Family Problems from Jacqueline Wilson’s Books

Sabtu (11/4):

  • Book Admirer: Anak-anak Berkebutuhan Khusus dalam Literatur Anak (CL)

Minggu (12/4):

  • Through Tinted Glass: [Children’s Book Author] Shel Silverstein (CL)

Senin (13/4):

  • Books To Share: Navigating Newbery (CL)
  • Delina Books: Stereotip Tentang Remaja dalam Karya Fiksi (YA)

Pin It on Pinterest

Shares
Share This