Amalan-Penghibur-di-Alam-KuburJudul: Amalan Penghibur di Alam Kubur
Judul Asli: Jarayanu Al-Hasanati Ba’da Al-Mamati
Penulis: Syaikh Fahd bin Abdurrahman Asy-Syuwaib
Alih Bahasa: Ali Murtadho
Penerbit: Pustaka Imam Asy-Syafi’i
ISBN: 978-602-9183-57-3
Tebal: 94 hlm
Tahun terbit: 2014
Cetakan: Pertama
Genre: Agama Islam, Ibadah
Rating: 3/5

Tak ada yang paling diimpikan oleh setiap muslim selain kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Kedua hal ini pasti akan menjadi bait-bait harapan di setiap doa-doa kita, terlebih lagi kebahagiaan di akhirat. Siapa yang tak ingin kehidupan akhiratnya berakhir baik? Siapa yang tak ingin timbangan amal kebaikannya lebih berat daripada amal keburukannya? Semua kita pasti ingin. Sayangnya, sering kali kita lupa tentang itu semua ketika kita masih hidup di dunia ini. Kita sering lalai dan bersikap sepele atas sebuah amal. Kita acap kali menunda-nunda amal kebaikan meskipun kita mampu, dengan niat suatu waktu pasti akan kita lakukan. Hanya saja, kita tak pernah tahu kapan umur kita akan berakhir. Hanya Allah Ta’ala yang tahu itu. Bisa jadi suatu ketika, saat kita ingin sekali mengerjakan amal-amal shalih yang sudah lama kita tinggalkan, usia kita sudah tak lagi ada. Seiring dengan kematian kita, maka berhenti pula amal ibadah kita.

Itulah mengapa kita dianjurkan untuk bersegera dalam kebaikan. Bagi kita yang masih hidup, masih ada kesempatan untuk memperbaiki amal-amal kita, yaitu amalan yang akan menghibur kita di alam kubur nanti; amalan yang pahalanya akan terus mengalir meskipun kita sudah meninggal. Dan bagi mereka yang sudah meninggal, ternyata tetap ada amalan yang bisa dilakukan oleh mereka yang hidup dan ditinggalkan, yang dengan amalan itu akan menambah pahala bagi si mayit. Lantas apa saja amalan-amalan tersebut?

Buku Amalan Penghibur di Alam Kubur yang ditulis oleh Fahd bin Abdurrahman Asy-Syuwaib ini menjelaskan tentang itu semua secara ringkas, padat dan mudah dimengerti. Buku ini dibagi menjadi tiga bab. Yang pertama adalah bab tentang dalil seputar manfaat amal ibadah orang hidup bagi orang mati. Hal ini telah ditetapkan di dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah.

Hadits Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):
“Tatkala seorang manusia meninggal dunia, terputuslah amal shalihnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 3084)

Berdasarka hadits yang sangat terkenal ini, ditambah dengan beberapa hadits lainnya yang banyak menyebutkan contoh amal jariyah yang pahalanya akan terus mengalir meskipun seseorang telah meninggal dunia, maka pembaca akan menemukan penjelasannya yang lebih rinci di bab kedua buku ini.

Ada dua jenis amal ibadah bagi orang hidup yang manfaat dan pahalanya bisa sampai kepada mereka yang telah meninggal, yaitu amal ibadah badaniah dan amal ibadah maliah. Amal ibadah badaniah adalah yang dilakukan dalam bentuk fisik, contohnya seperti memandikan dan menshalatkan jenazahnya, berpuasa untuknya, mendoakannya, atau berhaji atas namanya. Sedangkan amal ibadah maliah adalah amal ibadah yang dilakukan dengan harta-benda. Ada 15 macam amal ibadah maliah yang disebutkan di bab kedua disertai dengan dalil-dalilnya yang shahih, antara lain:

  • Sedekah secara umum
  • Sedekah memberi minum. Contohnya membuat sumur atau mengalirkan air sungai untuk kebutuhan orang banyak.
  • Sedekah memberi makan, termasuk memberi makan orang yang berbuka puasa.
  • Memerdekakan budak
  • Melunasi utangnya
  • Mewakafkan tanah untuk dibangun panti asuhan, sekolah, atau rumah sakit.
  • Mewakafkan kebun dan sawah-ladang
  • Mewakafkan tunggangan, kuda, harta benda, emas dan perak.
  • Berkurban untuknya, tetapi ini memiliki dua syarat utama yang salah satunya harus ada, yaitu:
    1. Sewaktu masih hidup, seseorang berwasiat agar berkurban menggunakan harta pribadinya, atau
    2. Orang yang masih hidup melibatkan orang yang telah meninggal pada niat berkurbannya. Jadi bukan berniat atas nama orang yang sudah meninggal, melainkan mengikut sertakan namanya bersama dengan nama kita ketika berkurban.
  • Wakaf membantu pernikahan
  • Membangun masjid, termasuk membantu infaq dalam pembangunan masjid.
  • Mencetak mushaf dan buku (dalam hal ini buku agama yang bermanfaat bagi kaum muslimin)
  • Melaksanakan nazarnya
  • Mewakafkan pelayan untuk para jompo

Termasuk pula di dalam amalan ini: menanam pohon kurma (dan pohon lainnya yang menghasilkan), ribath (berjaga-jaga dari serangan musuh), dan mengajarkan al-Quran.

Selain amal ibadah yang pahalanya sampai kepada orang yang sudah meninggal, di bab ketiga buku ini juga dijelaskan tentang amalan yang pahalanya tidak akan sampai kepada mereka yang meninggal. Contohnya seperti membacakan al-Fatihah untuk roh si mayit, membacakan al-Qur’an di kuburan, menghadiahkan pahala dzikir setelah shalat Jum’at, dan lain sebagainya. Awalnya saya juga kaget begitu mengetahui bahwa membacakan al-Fatihah bagi mayit itu tidak ada tuntunannya dalam as-Sunnah dan tidak akan sampai ke si mayit. Padahal, amalan ini sering dilakukan oleh masyarakat muslim ketika penyelenggaraan jenazah. Penjelasan tentang ini memang tidak begitu rinci di buku ini. Bagi saya ini menjadi PR pribadi untuk mencari tahu lebih lanjut di buku Ensiklopedi Jenazah yang kebetulan baru saya beli bulan lalu. Semoga bisa lebih paham nantinya.

Selain itu, ada pula tambahan penjelasan seputar wakaf, wasiat dan ziarah kubur bagi wanita. Buku yang ringkas, namun penuh dengan hikmah dan ilmu yang bermanfaat. Masya Allah ….

Membaca buku ini membuat saya semakin sadar dan membuka mata bahwa betapa Allah Ta’ala sangat mempermudah agama ini. Dan betapa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sangat sayang kepada umatnya. Tak hanya bagi si hidup, tapi bagi mereka yang telah meninggal pun tak luput dari kasih sayang Allah dan Rasul-Nya, dan masih memiliki kesempatan mendapatkan pahala lewat mereka yang hidup.

Tentu saja, membaca ulasan singkat ini tidak akan cukup untuk memuaskan dahaga seseorang atas ilmu yang bermanfaat. Membaca bukunya secara lengkap tentu akan lebih baik lagi sehingga penjelasan-penjelasan yang ada bisa dicerna secara utuh, tidak sepotong-sepotong, guna menghindarkan diri dari kesalah pahaman dalam mencerna ilmu yang diberikan.

Satu hal yang perlu kita camkan dalam diri, mumpung kita masih hidup, mari kita semakin memperbanyak amal ibadah kita secara pribadi dan amalan yang pahalanya akan terus mengalir meskipun kita sudah meninggal nanti. Mempersiapkan bekal sejak dini pasti akan lebih baik, bukan? Dan bagi mereka yang sudah ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintainya, semoga buku ini bisa menjadi pengobat hati dan motivasi untuk beramal dan mengirimkan pahala bagi mereka yang disayangi.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasihati seseorang,

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, hidupmu sebelum datang matimu.”

(HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya 4: 341. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim namun keduanya tidak mengeluarkannya. Dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib mengatakan bahwa hadits ini shahih)

*ulasan ini disertakan dalam Indonesian Moeslim Reading Challenge (IMRC)

==========
Dalam rangka pengembangan perpustakaan kami, kami juga membuka divisi usaha berupa toko buku online di Toko Buku Pustaka Hanan. Apabila rekan-rekan sedang mencari buku ini atau buku Islam lainnya, bisa menghubungi kami.

Pin It on Pinterest

Shares
Share This