Tiya SamarpanJudul: Tiya – Sebuah Kisah Pencarian Makna Hidup
Judul Asli: Tiya – A Parrot’s Journey Home
Penulis: Samarpan
Alih Bahasa: Meidyna Arrisandi
Penerbit: Mizan
ISBN: 978-602-8811-14-9
Tebal: 194 hlm
Tahun terbit: November 2010
Cetakan: Pertama
Genre: Fabel
Rating: 3/5

Membaca fabel memang tak ada bosannya. Selalu saja ada hal-hal menarik yang bisa kita dapat dari kisah hewan-hewan tersebut. Sebuah analogi, anekdot, makna bahkan pesan moral akan banyak kita jumpai di setiap fabel yang pernah ditulis, termasuk kisah si burung beo yang bernama Tiya ini.

Tiya lahir dan besar di sebuah pohon beringin. Ia tak pernah meninggalkan rumahnya selain untuk mencari makan. Burung yang suka merenung ini sangat berbeda dengan teman-temannya. Kalau teman-temannya sudah pergi pagi-pagi sekali untuk mencari makan, si Tiya ini justru masih di sarangnya, merenung. Sampai-sampai temannya menganggap dirinya pemalas. Tiya memiliki cara pandang berbeda tentang hidup.

“Mengapa kita tidak memperlambat segalanya sedikit saja dan menikmati hidup? Terbang–hinggap–terbang. Makan–tidur–makan. Ini yang mereka sebut hidup? Seandainya mereka tahu bagaimana rasa hangatnya mentari yang menyinari bulu saat masih di tempat tidur, atau rasa sentuhan lembut angin di wajah saat mata terpejam, atau hanya merenungkan ini dan itu.” (halaman4)

Suatu ketika, ada suara tak dikenal yang menyuruh Tiya agar meninggalkan sarangnya untuk berpetualang. Nama pemilik suara itu Hans. Setelah melalui percakapan yang alot, akhirnya Tiya mengikuti saran Hans untuk pergi mencari petualangan baru dengan membawa harapan untuk sebuah perubahan yang lebih baik sesuai perkataan Hans.

Petualangan Tiya pun dimulai. Ia mengunjungi banyak tempat. Mulai dari daratan yang penghuninya burung yang berjalan dengan kaki, daratan yang isinya burung yang suka menangis, dan daratan-daratan lainnya yang penduduknya tak kalah anehnya. Karena si Tiya ini sangat cerewet dan selalu berkomentar pedas atas apa saja yang ia lihat dan alami, suka ikut campur urusan orang lain, dan suka tidak sabaran, maka ia kerap mendapatkan masalah di setiap daratan yang akhirnya merugikan dirinya sendiri. Hampir saja ia putus asa dan menyerah. Bagaimana nasib Tiya? Apakah ia berhasil kembali ke rumah Pohon Beringinnya? Bagaimana pribadi Tiya sekembali dari petualangannya? Melihat wataknya yang keras kepala, sepertinya meragukan mengharapkannya berubah, ya? Hmm, baca sendiri saja kelanjutannya ya! 🙂

Novel Tiya ini saya dapatkan dari hasil barter dengan Om Buku. Saya sangat menyukai buku fabel. Melihat sampulnya yang kuning dan cantik membuat saya sangat ingin membaca buku ini. Dari segi terjemahan, saya bisa acungi jempol untuk penerjemah dan penyuntingnya, sebab hasilnya sangat bagus, sangat enjoyable. Isinya juga banyak mengandung ungkapan bijak yang kadang-kadang membuat kita berkaca diri dengan karakter Tiya si beo cerewet. Contohnya seperti saat Tiya dipuji oleh Hans,

“Kita selalu melayang jika dipuji, apalagi jika pujian itu salah tempat. Pergolakan mental disebabkan oleh kata-kata pujian yang menggembungkan kepribadian melebihi proporsinya. Sama denganku. Aku merasa penting dan memutar kepalaku dengan bangga. Aku bahkan mungkin sudah mengangguk.” (halaman 15)

“Konsentrasi pada apa yang kau miliki tanpa mengkhawatirkan apa yang tidak kau miliki. Itulah jalan menuju kebahagiaan.” (halaman 11)

Ketika mulai membaca, saya tidak mendapatkan kesulitan yang berarti untuk memahami ceritanya, sampai pada bagian di mana Tiya mulai mendarat dari satu daratan ke daratan lainnya. Nah, di setiap daratan itulah yang saya mulai kesulitan memahami perjalanan dan pengalaman Tiya. Meskipun begitu, saya tetap ‘berjuang’ menyelesaikan bacaan saya, yang ujung-ujungnya juga tetap membuat saya agak bingung. Filosofinya lumayan berat bagi saya.

Saya rasa bagi mereka yang beragama Hindu atau mereka yang membaca kitab Weda, buku ini mungkin akan lebih mudah dipahami secara lebih detil, karena sepertinya filosofi di dalamnya sedikit banyak berhubungan dengan kitab tersebut. Setidaknya itu yang disampaikan di pengantar, dan mungkin juga karena pengaruh latar belakang penulisnya yang seorang rahib di India. Tapi, bagi yang tidak membaca Weda pun tetap bisa mengambil makna dari kisah Tiya, sebab buku ini sifatnya universal. Moral yang bisa dipetik dari kisah Tiya ini sangat bagus, yakni bahwa setiap orang pasti akan melalui proses yang bermacam-macam, ada pahit, ada manis. Dan di setiap proses itu, terkadang kita cenderung mengikuti hawa nafsu kita. Ya nafsu berbicara, berkomentar, marah, tak suka, dan sebagainya, yang sejatinya tidak perlu dikeluarkan kalau kita punya visi atau tujuan awal. Acuhkan saja semua hal yang buruk yang mungkin menghalangi sampainya kita di tujuan.

Manusia juga terkadang mengungkung dirinya dalam pikiran yang sempit, pikiran yang dia batasi sendiri. Padahal, setiap manusia diciptakan dengan keunikannya masing-masing, dengan keistimewaannya masing-masing, seperti yang disebutkan di dalam kitab Al-Qur’an bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Tidak ada yang biasa. Semua orang pasti luar biasa. Tinggal lagi, bagaimana seseorang itu mengeluarkan potensinya untuk sesuatu yang baik, itulah yang perlu dilakukan oleh setiap kita, seperti halnya si Tiya yang mulai ‘mencoba dan melakukan’. Seperti Tiya yang mulai mengurangi komentar pedasnya dan memperbanyak senyuman. Ia bergerak maju. Bagaimana dengan kita?

“Kita mendapatkan apa yang tidak kita inginkan, dan kita kehilangan apa yang kita inginkan. Kita di sini untuk menyadari bahwa kita lebih dari apa yang terlihat, jadi mari kita melangkah maju.” (halaman 67)

“Pengalaman memberi pengetahuan, dan pengetahuan adalah kekuatan. Kekuatan memberi rasa damai, dan aku merasa damai.” (halaman 135)

***

postingbarengBBI2014

Pin It on Pinterest

Shares
Share This